The Pervert Glasses
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Angst, Friendship
WARNING!
TYPO, OOC, EYD hancur, banyak kata-kata yang kasar, Rate M (SemiLemon)
Hinata menundukkan wajahnya dalam-dalam. Sakura sudah mengetahui tentang pertunangannya dengan Naruto. Pasti sebentar lagi Ino akan tau dan ia berani jamin berita itu akan segera tersebar luas. Ia belum siap, tidak akan pernah siap untuk menyandang status sebagai tunangan Uzumaki Naruto.
Hinata mendongak saat seseorang tiba-tiba saja lewat di sampingnya. Ia mendengus kesal. Uzumaki Naruto berjalan melewatinya begitu saja bersama dengan seorang gadis yang ia yakin adalah teman sekelasnya.
"Ya Tuhan! Dia bertingkah seolah tidak terjadi sesuatu. Apa dia tidak tau kalau dia sudah membawa bencana untukku?" Rutuknya meski Naruto tak sedikitpun menoleh padanya.
"Hai, Hinata!" Sapa Ino yang langsung merangkul pundak Hinata. Hinata melirik ke arah sahabatnya dan melihat Sai berjalan disampingnya sambil menatapnya dan tersenyum tipis.
"Aku sudah dengar tentang kau dan Naruto." Kekeh Ino.
Benar, kan? Ino pasti tertawa terbahak-bahak ketika mendengar berita itu. Ia menghentakkan langkahnya dan berjalan dengan cepat. Ino menarik Sai untuk menyusul gadis itu.
"Hei, kenapa kau? Bukankah harusnya kau senang karena kau tidak punya pacar, melainkan langsung punya tunangan." Ejek Ino. Hinata mendelik kesal dan memberengut, membuat sahabatnya justru tertawa lebar.
"Sudahlah, jangan menertawakan temanmu terus." Ujar Sai datar.
"Uh, seperti kau tidak menertawakan Naruto saja." Balas Ino sengit.
Hinata membiarkan Ino dan Sai yang asyik berbincang berdua dan berjalan ke lokernya untuk mengambil barang-barangnya.
Hinata menoleh ke samping, melihat Naruto sedang berciuman dengan gadis yang tadi berjalan dengannya. Ia memutar bola matanya, merasa jijik dengan tingkah pemuda itu.
"Kau kenal dia?" Tanya gadis itu saat melihat Naruto menatap ke arah Hinata. Naruto hanya menatap Hinata dengan datar, lalu tersenyum dan menggeleng.
"Tidak. Aku tidak kenal dia." Jawabnya santai lalu merangkul gadis itu dan pergi entah ke mana. Hinata menghembuskan nafas kesal.
"Bukankah itu Naruto?" Tanya Ino yang akhirnya menyusul Hinata. Hinata tidak menjawab dan hanya membanting pintu lokernya dengan keras lalu melangkah pergi begitu saja.
"Naruto memang tidak pernah bisa berubah." Gerutu Sai, ikut prihatin. Tapi tidak, Hinata sama sekali tidak merasa cemburu. Dia hanya kesal, kenapa diantara berjuta-juta laki-laki di dunia ini, dia justru harus bertunangan dengan Uzumaki Naruto, laki-laki yang berada di deretan terbawa dalam daftar orang yang ingin ia kenal?
.
.
.
Hinata sibuk berkutat dengan tugas bahasanya sejak ia pulang sekolah dan baru menyelesaikannya sekarang. Ia meregangkan tangannya ke udara dan menguap lebar. Ia selalu lupa waktu kalau sedang mengerjakan tugasnya.
"Waaah, rajin sekali kau." Suara Naruto yang tiba-tiba saja terdengar membuatnya langsung menoleh ke belakang hingga nyaris terjatuh dari kursinya yang membuat Naruto tertawa geli.
"Apa yang kau lakukan di kamarku?" Tanyanya sambil memelototi pemuda itu yang sekarang dengan santainya berbaring diatas tempat tidur Hinata. Naruto mengeluarkan hp nya dan mengotak-atik entah apa tanpa menatap Hinata.
"Ibumu yang menyuruhku bermain di kamarmu. Jadi apa yang harus kita mainkan?" Tanya Naruto cuek.
"Kenapa kau datang ke rumahku? Bukankah kau tidak mengenalku?" Tanya Hinata sinis.
Pemuda itu menurunkan hp dari pandangannya dan menatap gadis itu sesaat lalu menyeringai.
"Kau cemburu karena kejadian di sekolah tadi? Aku hanya tidak mau mangsaku lari ketakutan kalau tau aku sudah bertunangan. Memangnya kau mau menggantikan dia menjadi mangsaku, huh?" Naruto mengangkat tubuhnya dan bertumpu pada sikunya.
"Aku tidak akan cemburu padamu. Dan pergi dari rumah—kamar—ku sekarang juga." Hinata menarik tangan Naruto dan bermaksud melemparnya keluar—kalau saja ia memang bisa.
Pemuda itu sama sekali bergeming di posisinya, diam-diam merasa geli dengan kekuatan Hinata yang tidak ada apa-apanya dibandingkan tenaganya sendiri. Sekali saja ia menarik gadis itu, ia yakin gadis itu akan terjatuh, dan ia memang melakukannya—menarik Hinata.
Hinata terkesiap pelan saat tubuhnya terjatuh ke depan. Ia memejamkan matanya, bersiap menerima rasa sakit yang akan didapatkannya, tapi dia tidak merasakan sakit sama sekali. Ia membuka matanya satu per satu dan melihat wajah Naruto yang sedang menyeringai lebar.
"Aku tidak akan pergi dari rumahmu sebelum jam—" Naruto menghentikan kata-katanya untuk melirik ke arah jam tangannya yang baru menunjukkan pukul 7.
"—10 malam."
Hinata mengerutkan keningnya. "Memangnya untuk apa kau ke sini? Astaga! Kau mau melakukan hal yang tidak-tidak padaku? Coba saja kalau kau berani, aku akan menendangmu!" Teriak Hinata.
Naruto menutup telinganya sendiri lalu memutar tubuh Hinata dengan cepat, mengubah posisi gadis itu menjadi dibawahnya.
"Hal yang tidak-tidak seperti apa, huh?" Goda Naruto.
"Tenang saja, aku tidak tertarik pada anak kecil sepertimu. Aku hanya perlu berada di sini sampai jam 10 supaya orangtua ku tidak menutup kartu kreditku. Mereka bahkan mengancam akan memutuskan semua fasilitasku kalau aku tidak mengunjungimu setiap hari."
"Apa? Jadi kau akan berada di rumahku setiap hari? Aku tidak mau! Tidak akan pernah!" Teriak Hinata lebih keras lagi.
"Hei, ssst." Gumam Naruto. Naruto mendekap mulut Hinata saat gadis itu akan berteriak lagi.
"Kau membuat gendang telingaku sakit." Gerutu Naruto yang tidak menyadari gadis itu tengah menatapnya.
Naruto akhirnya balas menatap Hinata. Ia melihat sepasang bola mata keperakan itu menatapnya dengan sorot yang tidak pernah bisa ia mengerti. Jelas sekali kalau gadis ini berbeda dengan semua gadis yang pernah ia permainkan.
Ia melepaskan tangannya dari mulut gadis itu, lalu mengelus bibir Hinata menggunakan ibu jarinya. Ia mendekatkan wajah mereka dengan matanya yang perlahan-lahan tertutup.
Anehnya, Hinata sendiri tidak bisa bergerak. Ia terlalu takut jika Naruto bisa mendengar detak jantungnya yang tidak karuan saat ini.
"Hinata-chan, kenapa kau berteriak-ter—Ooops!" Nyonya Hyuuga muncul diambang pintu dan langsung menutup mulutnya sendiri dan tersenyum penuh arti saat melihat apa sedang dilakukan kedua anak itu.
Mata Hinata membelalak lebar. Ia mendorong Naruto dengan cepat dan kuat hingga Naruto terduduk dilantai dengan suara berdebam yang keras.
"Ouccch!" Erang pemuda itu sambil memegang bokongnya yang kesakitan.
"I-ibu! Ini tidak seperti apa yang kau lihat." Hinata meletakkan kedua tangannya ke depan dan menggerak-gerakkannya dengan cepat.
"Auw, seharusnya kalian bisa mengunci pintu lain kali." Ibunya kembali tersenyum penuh arti dan mengedipkan sebelah matanya pada anaknya yang mendesah kesal. Ibunya menutup pintu dan keluar dari kamar Hinata tanpa mau mendengarkan penjelasan anaknya lagi.
Hinata menatap Naruto dengan tajam dan melemparkan bantal ke muka pemuda itu yang bisa menghindarinya dengan sempurna.
"Ini gara-gara kau!"
.
.
.
"Selamat ulang tahun Sakura!" Teriak Hinata dan Ino berbarengan begitu Sakura baru saja melangkah masuk ke kelasnya. Ia mengerjap selama beberapa saat sebelum sadar bahwa ini adalah hari ulangtahunnya.
Ino dan Hinata langsung menghujaninya dengan pelukan tanpa menunggu reaksi dari gadis itu.
"Jadi, hadiah spesial apa yang kau berikan padanya?" Tanya Sai pada Sasuke yang berdiri tepat dibelakang Sakura dan nyaris tidak terlihat oleh Ino dan Hinata.
"Benar, apa yang kau berikan pada Sakura?" Tanya Hinata penasaran. Sasuke hanya menggaruk-garuk tengkuknya, merasa serba salah untuk menjawab.
"Hmm, sebenarnya aku tidak memberikan apa-apa karena aku baru tau hari ini adalah hari ulang tahunnya satu menit yang lalu saat kalian memberikan ucapan padanya." Jawab Sasuke akhirnya.
"Astaga, jadi tidak ada hadiah spesial?" Tuntut Ino yang masih belum yakin. Sasuke menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Sudahlah, aku juga tidak perlu hadiah, memangnya aku masih anak kecil?" Sergah Sakura.
"Bagaimana kalau malam ini kita buat pesta kecil-kecilan di rumah Sakura?" Usul Sai. Ino langsung mengangguk dengan cepat.
"Benar! Kita bisa membuat hidangannya!" Ujar Ino dengan senang dan menepukkan tangannya dengan Sai.
"Tidak, aku yang akan menyiapkan makanannya, khusus untuk Sakura." Tukas Sasuke yang menatap Sakura dengan lembut membuat wajah gadis itu agak memerah.
"Ide yang bagus. Pulang sekolah nanti kita bisa membeli bahan-bahannya bersama. Siapa saja yang akan ikut?" Tanya Hinata bersemangat.
.
.
.
Hinata mendesah pelan lalu melipat kedua tangannya dengan kembali mendesah.
"Kenapa aku harus bersama denganmu, lagi?" Tanyanya sinis.
"Memangnya kau pikir aku senang bersama denganmu lagi?" Balas Naruto tak kalah sinis. Atas usul brilian dari Sai yang luar biasa, mereka berpencar menjadi 5 pasang, yang menurut Sai sangat tepat karena tiga pasang dari mereka adalah kekasih, sementara sepasang lainnya bertunangan dan sisa sepasang lagi tinggal menunggu waktu hingga mereka bisa bersama. Benar-benar brilian ide yang diberikan oleh Sai.
"Hei!" Naruto menarik kerah seragam Shikamaru, membuat pemuda berambut nanas itu berjalan mundur.
"Ada apa?" Tanya Shikamaru kesal.
"Ayo, kita tukar pasangan." Tawar Naruto. Shikamaru mengernyit dan langsung memelototinya.
"Maksud mu, aku denganmu, atau kamu dengan Temari?" Tanya Shikamaru. Baru saja Naruto membuka mulutnya untuk menjawab, Shikamaru langsung memotong kata-katanya.
"Tidak dan tidak. Aku tidak mau berbelanja bersamamu dan aku tidak akan membiarkanmu berduaan dengan Temari."
Naruto mendengus kesal sementara Shikamaru mengalihkan pandangannya pada Hinata yang berdiri di samping Naruto.
"Nona, berhati-hatilah dengan pemuda mesum satu ini." Shikamaru bersikap cool, yang bisa membuat hati para gadis meleleh sebelum dia berlari kecil sambil mendorong troli untuk mengejar Temari yang sudah berada cukup jauh darinya.
"Ayo, kita harus membeli bahan-bahannya. Jangan sampai kau mengacaukan pesta ulang tahun Sakura." Tukas Hinata pasrah.
"Apa? Aku mengacaukan pestanya? Hei!"
Hinata mencari bahan-bahan yang diperlukan sesuai dengan daftar yang diberikan oleh Sasuke sambil mendorong trolinya tanpa memedulikan Naruto yang terus menggerutu tidak jelas.
"Huh, apa bedanya kedua tepung ini?" Hinata memegang dua kantong tepung dengan merek yang sama tapi warna yang berbeda. Hinata memiringkan kepalanya dan mengerucutkan bibirnya, terlalu fokus pada pikirannya sendiri dan tidak menyadari Naruto yang memicingkan matanya.
Naruto melihat ke sekelilingnya, ada beberapa pemuda yang menatap Hinata sambil tersenyum—yang menurutnya—menjijikkan. Ia mendengus sebelum sebuah pemikiran menghampirinya, dia punmenyeringai puas. Ia mendekati Hinata, berdiri tepat di samping Hinata tanpa jarak sedikit pun.
"Ambil yang biru saja." Ujarnya lalu mengambil tepung dari tangan Hinata dan meletakkannya di dalam troli.
"Mau beli apa lagi?" Tanyanya sambil mendorong troli disamping Hinata. Gadis itu bergumam pelan lalu menuju rak selanjutnya sambil sesekali melihat secarik kertas berisi bahan yang harus ia beli.
Naruto menoleh ke belakang, melihat para pemuda yang tadi tertarik pada Hinata sekarang berwajah masam. Ia tersenyum penuh kemenangan dan mendorong trolinya dengan semangat.
.
.
.
"Aku yakin Sasuke dan Sakura belum pernah berciuman." Tukas Ino seadanya saat mereka sedang menyulap ruang nonton Sakura menjadi ruangan pesta sederhana. Sai menggeser sofa ke sudut ruangan dibantu oleh Neji agar tempat mereka duduk nanti jadi lebih luas.
"Tau dari mana? Jangan tertipu olehnya, Sasuke bahkan lebih liar dariku." Sergah Naruto yang sedang menempelkan beberapa hiasan kertas di dinding.
"Pfft! Mana mungkin." Ejek Hinata. Naruto memelototi gadis itu yang dengan cueknya memalingkan wajahnya.
"Hei, di mana kue ulangtahunnya?" Tanya Temari setelah dia dan Shikamaru baru saja keluar untuk membuang sampah.
"Benar, kue ulangtahunnya!" Teriak Ino dan Hinata bersamaan.
"Biar aku yang membelinya. Ayo, Shion." Neji tersenyum manis pada Shion saat gadis itu menggenggam tangan Neji yang terulur padanya.
"Hinata, bantu aku." Pinta Naruto setelah melihat gadis itu baru saja selesai dengan kegiatannya merapikan meja. Hinata menghampiri Naruto sambil menggerutu pelan. Ia memegang hiasan kertas di sisi lain sementara Naruto menempelkan sisi lainnya di tempat ia berdiri.
"Kyaa!" Pekik Hinata yang membuat semua orang yang berada di ruang nonton langsung menghampirinya.
"Kenapa?" Tanya Naruto panik. Hinata menyodorkan tangannya dan semua orang hanya bisa memandangnya dengan alis berkerut. Tidak ada yang aneh.
"Lemnya mengenai tanganku." Ujar gadis itu pelan. Naruto menghela nafas, dipikirnya Hinata melukai dirinya tanpa sengaja.
"Cepat cuci tanganmu sebelum lemnya mengering." Naruto menarik tangan Hinata ke dapur.
Sementara itu, Sakura terus memperhatikan Sasuke yang memasak dengan handal. Memang bukan kali pertamanya dia melihat pemuda itu memasak—karena memang akhir-akhir ini Sasuke selalu datang untuk makan malam di rumahnya sekaligus memasak untuknya. Tapi malam ini rasanya berbeda.
Sasuke membuatkan makanan Shabu-shabu untuknya. Ia menyodorkan sesendok kuah Shabu-shabu pada Sakura setelah meniupnya hingga dingin.
"Gimana?" Tanyanya. Sakura mengecap lidahnya dan mengacungkan kedua jempolnya. Ia tersenyum puas lalu mematikan kompor.
"Maaf ya, aku tidak memberikan hadiah apapun padamu." Ia bersandar di konter dapur dan memandang Sakura agak merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Kau kan baru tau kalau hari ini ulangatahunku." Sakura mengangkat pundaknya.
"Tapi kurasa aku punya hadiah untukmu. Kemarilah." Sasuke menggerakkan jari telunjuknya, mengisyaratkan gadis itu untuk mendekat. Ia menyeringai saat Sakura mendekatinya dengan penasaran. Dengan gerakan cepat, ia mendekap Sakura dan menyapukan bibirnya dengan pelan tapi liar.
"Apa lemnya sudah mulai mengering?" Tanya Naruto sambil terus memperhatikan telapak tangan Hinata. Hinata menggerak-gerakkan telapak tangannya lalu tersenyum tipis.
"Sepertinya iya. Astaga!" Teriak Hinata saat dia mendongak dan melihat Sasuke dan Sakura tengah berciuman mesra. Ia bahkan bisa melihat lidah kedua orang itu saling beradu dari posisinya berdiri saat ini. Naruto membelalakkan matanya dan dengan cepat menutupi pandangan Hinata dengan tangannya.
"Hei! Lakukan di kamar!" Omel Naruto sambil menarik Hinata menuju wastafel melewati kedua orang itu. Sakura hanya bisa tertunduk malu sementara Sasuke hanya memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan semburat merah di pipinya.
"Jadi, sekarang kau percaya kan kalau dia lebih liar dariku?" Bisik Naruto yang menyalakan kran air untuk Hinata. Gadis itu memiringkan kepalanya, berpikir sesaat.
"Tidak. Sepertinya kalian sama saja."
"Hei!" Protes Naruto.
"Naruto! Cepatlah bergabung, jangan berduaan terus!" Teriak Shikamaru dari ruang nonton.
"Kudengar Shino akan menyatakan perasaannya pada Hinata hari ini. Bagaimana menurutmu?
"Menurutku mereka cocok. Bukankah Shino dan Hinata sama-sama anggota OSIS? Mereka terlihat serasi."
Naruto berpapasan dengan dua orang siswi yang asyik bergosip. Ia mendengus. Ternyata ada juga orang yang menyukai Hinata, huh?
"Kenapa kau? Raut wajahmu jelek sekali." Tegur Shikamaru. Naruto hanya terus berjalan tanpa mempedulikan sapaan dari maknae mereka. Pikirannya terlalu terfokus pada Hinata dan pemuda bernama Shino yang disebut-sebut oleh para siswi tadi.
Masih dengan raut wajah yang sama, ia berjalan tanpa sadar hingga kakinya mengarah ke halaman sekolah. Di sana, ia melihat Hinata bersama dengan seorang pemuda, Shino kah?
"Hyuuga Hinata, would you be my girlfriend?" Tanya pemuda itu tanpa mempedulikan aksinya yang menjadi pusat perhatian.
Naruto mendengus kesal. Kenapa pemuda itu berani sekali menyatakan perasaannya pada tunangannya? Oh ya, bagaimana dia bisa lupa kalau seisi sekolah belum tau tentang hal itu. Haruskah ia melakukan sesuatu untuk membuat seisi sekolah tau tentang hubungan mereka?
Ia tertawa pada dirinya sendiri. Apa gunanya? Hanya untuk membuat pemuda itu menjauh dari Hinata, haruskah ia memberitaukan semua gadis kalau dia sekarang sudah terikat? Ia menggelengkan kepalanya sendiri, jelas itu tidak mungkin.
"Apa? Hmm.. Aku…" Hinata menarik nafas dalam-dalam. Pernyataan yang tiba-tiba ini benar-benar membuatnya salah tingkah.
"Shino-san, kurasa aku—"
Naruto memutar tumitnya dengan cepat. Ada apa dengannya? Bukankah dia sudah bilang kalau dia tidak akan peduli? Tapi kenapa sekarang dia justru berjalan ke arah gadis itu?
Ia menarik tangan Hinata dan dengan cepat dan menempelkan bibir mereka hingga membuat gadis itu terbelalak. Ia menjauhkan dirinya dan menyeringai kecil lalu membalikkan tubuhnya menghadap Shino yang juga memiliki ekspresi wajah yang sama dengan Hinata.
"Sorry, but this girl is mine." Ia merangkul pundak Hinata tanpa mempedulikan tatapan maut dari si gadis itu sendiri. Shino menundukkan wajahnya lalu berjalan pergi dengan pundaknya yang merosot turun.
"Kau gila?" Omel Hinata setelah dia menyadari apa yang telah terjadi. Apa yang baru saja Naruto lakukan? Astaga, dia baru saja mencuri ciuman pertamanya.
Naruto hanya tersenyum polos lalu meletakkan kedua tangannya dipundak Hinata.
"Mulai sekarang, kau tidak boleh menerima pernyataan cinta dari siapapun." Tukasnya.
"Apa? Sejak awal aku tidak bermaksud untuk menerima pernyataan cintanya!" Omel Hinata lagi.
.
.
.
"Arigatou Gozaimasu." Ucap Hinata sambil membungkukkan badannya begitu dia keluar dari gedung kursusnya. Naruto yang sejak awal menyandar dengan malas di mobilnya segera meluruskan tubuhnya dan tersenyum manis pada Hinata yang memberengut.
"Sedang apa kau di sini?" Tanya Hinata tanpa berusaha untuk menutupi ketidaksenangan dari nada suaranya.
"Untuk menjemputmu, apalagi memangnya?" Jawab Naruto polos.
'Tidak perlu, terima kasih." Dengus Hinata. Ia berjalan melewati Naruto begitu saja. Ia masih ingat dengan rasa kesalnya yang seolah tidak pernah habis jika menyangkut Naruto.
Bagaimana bisa Naruto seenaknya saja memberitaukan status pertunangan mereka setelah dengan susah payah ia menutup mulut Ino? Dan sekarang setiap kali dia berkeliaran di sekolahnya sendiri, para gadis akan menatapnya dengan sinis.
Yah, nasibnya tidak seberuntung Sakura ataupun Ino yang hubungannya—meskipun sulit—tapi tetap diterima.
Tapi kalau menyangkut Uzumaki Naruto, pemuda MILIK seluruh gadis, siapa yang tidak akan merasa iri dan kesal karena sekarang pemuda itu terikat pada seorang gadis saja? Dan bisa kalian bayangkan seberapa bencinya mereka pada gadis yang beruntung itu?
"Tidak sopan kalau kau meninggalkan orang yang datang untuk menjemputmu begitu saja." Pemuda itu berlari kecil dan dengan mudah mengejar langkah Hinata.
"Kenapa kau masih mengikutiku? Pulang sana, aku tidak mau diantar dengan pemuda sepertimu." Tukas Hinata.
"Sikap seperti apa itu? Kau seharusnya bersikap lebih baik pada tunanganmu ini." Naruto menyeringai yang justru membuat Hinata semakin ingin memukul pemuda satu ini. Hinata melipat kedua tangannya, memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan lalu berjalan dengan cepat, sebisa mungkin tidak ingin menggubris pemuda itu.
"Hati-hati!" Teriak Naruto yang menyadarkan Hinata dari lamunannya. Ia menarik tubuh Hinata dengan cepat hingga gadis itu harus bergeser beberapa langkah. Hinata mengerjapkan matanya selama sesaat, masih belum mengerti benar apa yang terjadi. Barulah ia sadar sebuah mobil putih hampir saja menyerempetnya.
"Tsk, kau tidak terluka, bukan?" Naruto memutar-mutar tubuh Hinata untuk memastikan tidak ada segores pun luka yang di tubuh gadis itu.
"Bodoh! Jangan melamun saat kau sedang berjalan." Omel Naruto tidak karuan. Hinata hanya mengangguk pelan lalu kembali berjalan. Ia memutari Hinata, berjalan disisi luar Hinata untuk berjaga-jaga agar gadis itu tak melamun lagi membuatnya hampir diserempet.
Hinata mengusap-usap tengkuknya yang mulai membeku, agak menyesali kenapa dia bisa melupakan syal nya di loker sekolah. Naruto mendelik ke arah Hinata, menimbang-nimbang perlukah dia berbaik hati padanya? Tapi untuk apa? Bukankah gadis itu selalu ketus padanya?
Lagipula, kalau dia memberikan syalnya pada Hinata, bukankah dia sendiri yang akan kedinginan? Bukan salahnya kalau gadis itu menolak untuk menumpang mobilnya yang hangat dan justru membuat mereka berdua membeku di sepanjang jalanan seperti sekarang.
Ia mendelik ke arah Hinata sekali lagi, lalu mendengus kesal. Ia melepaskan lilitan syalnya dan dengan meletakkannya di leher gadis itu tanpa menoleh. Hinata mendongak ke arah Naruto dengan cepat saat dia merasakan sesuatu yang hangat menyentuh lehernya.
"Pakailah." Gumam Naruto tidak jelas. Hinata menatap pemuda itu dengan ragu. Sikap keras kepalanya membuat dia ingin sekali mengembalikan syal Naruto, tapi rasa dingin ternyata bisa mengalahkan sikap keras kepalanya kali ini.
Setelah berjalan selama sepuluh menit, akhirnya mereka sampai di rumah Hinata. Naruto mengantar Hinata hingga tepat ke depan pintu utama.
"Arigatou." Hinata berterima kasih dengan tulus sembari mengembalikan syal milik Naruto yang benar-benar membuatnya merasa hangat sepanjang jalan. Pemuda itu mengambil syalnya yang diulurkan Hinata dan bergeming ditempatnya, membuat Hinata ikut bergeming.
"Hmm, kau mau masuk dan menghangatkan tubuhmu sebentar?" Tanya Hinata akhirnya setelah keheningan yang mencekam mereka. Naruto buru-buru melangkah masuk ke dalam mendekap lengannya dengan erat.
"Huh, dingin sekali." Gerutu Naruto setelah dia duduk di ruang tamu Hinata. Hinata tersenyum kecil, ternyata laki-laki ini tidak seburuk yang ia duga.
"Apa kau juga akan menawariku secangkir cokelat hangat?" Tanyanya yang terlihat memelas. Hinata mengangguk dan berjalan ke dapur diikuti oleh pemuda itu. Sementara Hinata sibuk menyiapkan cokelat hangatnya, Naruto mengeluarkan hp nya untuk menghubungi supirnya.
"Paman, ambil mobilku yang ada di bengkel dan jemput aku di rumah Hinata." Pesan Naruto dengan cepat pada supirnya di seberang saluran telpon.
.
.
.
Naruto berjalan dengan santai ke meja bartender tempat Sai berada sekarang. Ia mengikuti arah pandangan Sai setelah dia duduk.
Tatapan tajam dari Sai serasa bisa mencabik-cabik kulit siapapun yang sedang ia lihat. Ia tergelak saat tau Shikamaru yang sedang berada dilantai dansa lah yang mendapat tatapan itu. Shikamaru tengah menari dengan liar sementara beberapa gadis yang berada di sekitarnya mulai mengerumuninya.
"Kenapa lagi dia?" Tanya Naruto santai sambil menyesap minumannya.
"Menurutmu karena apa? Sudah pasti karena Temari. Kenapa dua bocah itu tidak hidup dengan damai saja? Jelas-jelas Shikamaru masih—sangat—mencintainya, kenapa waktu itu dia memutuskan Temari? Kurasa terkadang aku tidak bisa mengerti jalan pikiran Shikamaru." Sai menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Well, tidak semua orang punya pemikiran yang lurus sepertimu, Sai." Ejek Naruto. Ia kembali meneguk minumannya beberapa kali sebelum dia memutuskan untuk bergabung dengan sahabatnya di lantai dansa.
"Sai." Panggil Ino. Kejengkelan di wajah Sai langsung menghilang begitu dia melihat gadisnya.
"Kupikir kau tidak jadi datang." Ucap Sai dengan penuh kelegaan.
"Maaf, tadi aku harus menyeret Hinata untuk menemaniku dulu." Ino menempatkan dirinya di tempat yang diduduki oleh Naruto tadi.
"Ternyata kedua orang itu benar-benar berjodoh." Sai tertawa kecil dan mengedikkan kepalanya ke arah Naruto yang sedang menari santai. Ino membuka mulutnya dan membentuk huruf O.
"Kurasa kita bisa meninggalkan mereka berdua dengan tenang." Lanjut Sai. Ino mengangkat pundaknya.
"Aku tidak terlalu yakin. Memangnya Hinata akan aman dengan Naruto? Apakah Naruto mabuk?" Tanya Ino bertubi-tubi karena mengkhawatirkan keselamatan temannya.
"Tenang saja, Naruto tidak akan mabuk meskipun dia menghabiskan seluruh persediaan alkohol di bar ku." Cemooh Sai.
Naruto tidak repot-repot menyapa Shikamaru karena dari gerak-geriknya, Naruto tau benar kalau sahabatnya itu sudah benar-benar mabuk dan tidak akan mengenalinya.
Ia menggerakkan tubuhnya dengan santai untuk menghilang semua rasa lelahnya sementara mata bergerak dengan lincah mencari mangsanya untuk malam ini. Apa artinya dia datang ke bar jika tidak bersenang-senang, huh?
Pemuda itu sedikit memiringkan kepalanya, dari kerumunan orang-orang di lantai dansa, dia bisa melihat sosok Hinata. Apakah dia sedang bermimpi? Ia mengucek matanya dengan cepat dan kembali menatap lurus ke depan. Benar, Hinata lah yang sedang dilihat oleh kedua matanya saat ini. Ia tersenyum lebar—tanpa ia sadari—lalu melambai dengan riang untuk menarik perhatian Hinata.
Hinata menoleh saat ia melihat sesuatu dilantai dansa yang sangat ramai. Ia melihat Naruto tengah melambai padanya dan tersenyum—sangat memesona—seperti orang bodoh. Gadis itu menatap Naruto dengan tatapan kesal yang sengaja ia buat padahal sekarang dia sedang menahan dirinya sendiri untuk tidak tersenyum pada pemuda bodoh itu.
Tapi wajahnya benar-benar berubah kesal saat tiba-tiba saja dan entah muncul dari mana, dua orang wanita seksi mendekat Naruto. Masing-masing dari mereka menempeli Naruto dan meliuk-liukkan tubuh mereka.
Benar-benar menjijikkan. Dan yang membuat Hinata lebih jijik adalah karena Naruto terlihat menikmatinya. Pemuda itu menyeringai lebar, ikut menggerakkan tubuhnya untuk menyeimbangi gerakan kedua wanita itu.
"Apa-apaan dia? Waktu itu dia mengusir Shino-san dan sekarang dia justru bermain dengan gadis lain?" Gerutunya pada dirinya sendiri. Kekesalannya semakin bertambah saat
Naruto melihat ke arahnya, tanpa ekspresi bersalah dan justru menyeringai?
Ia menghela nafasnya dengan kuat. Sudah cukup. Gadis itu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan pergi.
Kerutan di kening Naruto terbentuk dengan sangat cepat sejak detik pertama Hinata beranjak dari tempat duduknya. Ia mendorong kedua orang wanita itu dan berlari mengejar Hinata sebelum gadis itu menghilang dari pandangannya.
"Kau mau ke mana?" Tanyanya setelah dia menahan pergelangan tangan Hinata.
"Apa pedulimu? Urusi saja para wanitamu itu." Sergah Hinata sambil menghentakkan tangannya dengan keras. Kenapa setiap kali berada di dekatnya, Hinata selalu punya keinginan untuk bertindak kasar?
Naruto memicingkan matanya, "Apa kesenangan yang kau dapatkan kalau kau datang ke bar dan tidak bermain?"
Hinata memalingkan wajahnya dan menarik nafas dalam-dalam.
Tiba-tiba saja Naruto memikirkan sesuatu dan membuat dia tersenyum lebar. "Kau tidak suka karena aku bermain dengan mereka?" Hinata menoleh ke arah Naruto.
"Kau tidak suka karena mereka menyentuhku?" Hinata membulatkan matanya lebar-lebar.
"Kau tidak suka karena aku mengabaikanmu?" Hinata menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Harusnya kau bilang kalau kau cemburu." Kekeh Naruto.
"Ce-cemburu? Tidak! Aku tidak cemburu!" Sergah Hinata secepat yang ia bisa.
"Pfft! Akui saja kalau kau memang cemburu. Itu hal yang wajar kok. Tapi aku ke sini untuk bersenang-senang, jadi mana mungkin aku tidak menari di sana? Atau …" Ia menatap menyeringai aneh yang membuat Hinata yakin ada hal aneh yang sedang dipikirkannya.
Belum sempat Hinata bereaksi, Naruto menarik tangan gadis itu dan mendorongnya ke tengah-tengah lantai dansa.
"Apa yang kau lakukan!?" Teriak Hinata dengan panik.
"Kalau kau tidak suka aku menari dengan mereka, maka temani aku menari." Jawab Naruto enteng.
"Apa? Ta—tapi aku…"
"Aku akan mengajarimu, jangan panik." Kata Naruto saat ia merasakan kepanikan yang melanda Hinata.
Ia mendaratkan kedua tangannya di pinggang ramping Hinata, memaksanya untuk bergerak mengikuti gerakannya. Hinata terus menundukkan kepalanya, tidak berani memandang langsung ke bola mata pemuda itu. Ia bisa merasakan hembusan nafas Naruto yang hangat dilehernya, entah apa yang sedang dilakukannya.
"Hyuuga Hinata…" Bisik Naruto agak serak.
"Y-ya?" Hinata menjawabnya dengan gugup. Fakta bahwa saat ini tubuh mereka saling menempel sama sekali tidak membantunya untuk santai.
"Tatap aku…" Bisik Naruto lagi masih terdengar serak. Hinata mendongakkan wajahnya dengan takut-takut. Sepasang tunangan itu menghentikan gerakan mereka dan membeku saat mereka saling bertatapan. Ia tidak tau apa yang terjadi, tapi dia berani bersumpah kalau wajah pemuda itu semakin mendekat ke arahnya. Ia memundurkan kepalanya perlahan.
Tatapan Naruto dari bibir Hinata teralih kembali ke mata gadis itu yang memancarkan kebingungan. Hinata tidak lagi bergerak menjauh saat mata mereka kembali bertemu. Ia melihat sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada di dalam sorot mata Naruto, kelembutan.
Dan dalam satu detik, pemuda itu langsung melumat bibir Hinata. Hinata memejamkan matanya. Jantungnya berdetak tak karuan. Dibandingkan dengan ciuman pertamanya yang dicuri Naruto di sekolah, ciuman kali ini terasa jauh berbeda.
Jika ciuman pertamanya tidak begitu meninggalkan kesan mendalam—kecuali kekesalannya pada Naruto, kali ini ia merasakan sesuatu. Ia bisa merasakan ada berjuta-juta warna yang meledak dalam pikirannya. Dan memang, tidak perlu diragukan lagi bagaimana rasanya saat Naruto melumat bibirnya dengan ahli. Naruto menggerakkan tangannya turun dan naik di punggung Hinata, ia merasa nyaman saat melakukannya.
"N—Naru—hmpfft!" Hinata membuka mulutnya untuk memprotes kelakuan tangan Naruto, tapi pemuda itu justru memanfaatkan kesempatan untuk menyelipkan lidahnya.
Naruto merasakan jantungnya berdebar dengan sangat cepat saat ia menyentuh lidah Hinata. Jelas ini bukan kali pertama ia melakukan french kiss, bahkan dia sudah sering melakukan yang lebih. Tapi baru sekarang ia berdebar karena sebuah ciuman. Ia tersenyum disela-sela ciumannya, perasaan seperti ini ternyata tidak buruk juga.
.
.
.
"Hinata sudah berangkat ke sekolah?" Ulang Naruto saat seorang pelayan memberitaukannya bahwa Hinata sudah pergi ke sekolah pagi-pagi sekali.
Apa yang membuatnya pergi ke sekolah secepat itu? Dengan perasaan kecewa, ia mengendarai mobilnya ke sekolah. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan gadis itu lagi karena kemarin setelah dia dan Hinata selesai berciuman, Ino tiba-tiba saja datang dan mengajak Hinata pulang bahkan sebelum ia sempat berkata apa-apa. Rupanya Ino masih tidak bisa membiarkan Hinata berduaan saja dengan serigala.
Suasana hatinya yang semula sangat baik perlahan-lahan menurun karena dia tidak bisa menemui Hinata sepanjang hari ini. Ke mana saja gadis itu? Ia tau sekolah mereka memang luas, tapi dia tidak percaya di sekolahnya yang luas itu dia tidak bisa berpapasan dengan Hinata sama sekali, apalagi setelah dia mengelilingi setiap sudut sekolah untuk mencari gadis itu.
"Kenapa wajahmu kusut sekali?" Tanya Shikamaru saat mereka berkumpul di rumah Neji sepulang sekolah.
"Benar, air mukamu terlihat jelek sejak pagi." Timpal Sasuke tanpa menatapnya.
"Bukankah semalam kau bersenang-senang dengan tunanganmu, huh?" Ejek Sai.
"Jangan ungkit tentang dia lagi, kau semakin membuatku sebal." Naruto menatap Sai dengan tajam. Neji mendongak dan langsung menghampiri Shion yang terlihat akan keluar.
"Mau ke mana?" Tanya Neji pada Shion.
"Aku mau membeli sesuatu di supermarket. Dan kau tidak perlu menemaniku." Tambah Shion dengan cepat karena dia tau Neji pasti akan menawarkan diri untuk menemaninya.
"Ugh!" Naruto mengerang membuat semua orang menatapnya, "Bisakah kalian tidak bermesraan di depanku?"
Neji tersenyum tipis, mengucapkan sesuatu pada Shion dengan sangat pelan lalu mengalihkan pandangannya ke Naruto setelah sosok Shion menghilang dari pandangan mereka.
"Kalau begitu kau tidak perlu datang ke rumahku." Tukas Neji singkat. Naruto memutar bola matanya. Kenapa semua orang terlihat sangat menikmati kisah asmara mereka? Sementara Naruto? Harus merasa kalut karena tidak bisa bertemu dengan Hinata seharian ini.
"AH!" Teriak Naruto, sekali lagi membuat dia menjadi pusat perhatian kali ini diikuti dengan raut sebal dari Sai dan Shikamaru.
"Sai! Bukankah Hinata dan Ino selalu ke suatu tempat sepulang sekolah? Kau tau di mana?" Naruto melompat turun dari sofa yang didudukinya dan menghampiri Sai secepat kilat, hampir saja membuat jantung Sai copot.
.
.
..
"Apa? Kenapa?" Ino menghentikan kata-katanya dalam jeda yang cukup lama lalu mengiyakan dan memutuskan saluran telponnya.
"Ada apa?" Tanya Hinata penasaran.
"Tidak ada apa-apa. Hmm. Hinata, aku ke toilet dulu ya." Ino berjalan agak canggung setelah Hinata mengiyakan.
Tunggu dulu! Kenapa Ino membawa tas nya? Dan kenapa Ino berjalan ke pintu toko, bukannya ke arah toilet? Ia pun mengerutkan keningnya.
Naruto masuk ke dalam toko es krim itu dan dengan cepat bisa melihat Hinata yang membelalak padanya.
"Ah, kebetulan sekali kita bertemu di sini." Ia berbohong dengan lancar. Padahal dia sengaja meminta Sai untuk menyuruh Ino pergi agar dia bisa berduaan dengan Hinata.
"Oh, aku baru saja mau pergi." Hinata mengambil tasnya dengan cepat dan berdiri, tapi pemuda itu menarik tangannya dan membuat gadis itu duduk kembali. Ia menelan air liurnya saat Naruto menatapnya dengan kesal.
"Kau sedang menghindariku?" Tanya Naruto tanpa basa-basi lagi.
"Ti—tidak." Kilahnya meski tidak terlalu meyakinkan.
"Apa lagi yang kulakukan hingga membuatmu marah?" Suara Naruto terdengar meninggi, ia tak bisa menyembunyikan kekesalannya dan agak membuat gadis itu takut.
"Aku tidak marah padamu. Aku juga tidak menghindarimu, jadi boleh aku pergi sekarang?"
Naruto menarik nafas dalam-dalam.
"Tidak perlu, aku yang akan pergi." Kata-kata Naruto terdengar sangat dingin. Pemuda itu mendorong kursinya dengan kasar dan keluar dari toko,diam-diam mengumpat kesal.
Hinata memerosotkan tubuhnya setelah Naruto keluar dari toko. Dia tidak bermaksud untuk membuatnya marah. Ia hanya tidak tau harus bersikap bagaimana setelah kejadian kemarin.
Untung saja Ino datang dan menariknya pulang kemarin, kalau tidak apa yang harus dilakukannya setelah Naruto menciumnya? Ia mengambil tasnya dan keluar dari toko dengan kepala tertunduk.
"Aku tau kau sedang menghindariku, tapi aku tidak tau alasannya, jadi katakanlah padaku." Ucap Naruto secara tiba-tiba yang membuatnya terlonjak kaget.
"Kupikir kau sudah pergi!" Ia mengarahkan jari telunjuknya pada pemuda itu yang berdiri di samping pintu toko.
"Memang. Tapi aku kembali lagi karena aku masih tidak bisa menerima sikapmu padaku." Gumam Naruto dengan cepat.
"Jadi, apa yang membuatmu menjauhiku?"
"Hmm, aku… aku…" Hinata menggerak-gerakkan matanya dengan cepat. Ia memikirkan berbagai macam alasan, tapi tidak ada yang rasional.
"Aku tau. Karena kau masih membenciku?" Terka Naruto. Tidak mendapatkan jawaban apapun dari Hinata membuat ia merasa terkaannya benar.
"Jadi begitu, di matamu, aku tetaplah seorang pemuda brengsek? Baiklah, aku mengerti. Selamat tinggal, Hyuuga Hinata." Ia melambaikan tangannya dan segera membalikkan badannya.
"Tunggu! Aku tidak membencimu!" Aku Hinata dengan cepat. Gadis itu menarik ujung kemeja Naruto, menahan agar pemuda itu tidak pergi lebih jauh lagi.
"Aku hanya.. aku hanya…"
Naruto mengacak rambutnya dengan gusar. Ia kembali menghadap Hinata dengan tatapan frustasi.
"Kau tidak membenciku, tapi kau juga menghindariku. Kau benar-benar membuatku tidak mengerti."
"Berhentilah bertanya ini dan itu padaku, karena aku sendiri juga tidak mengerti." Erang Hinata. Wajahnya merona merah saat ia kembali mengingat ciuman mereka semalam. Naruto menyeringai pelan dengan apa yang ada dipikirannya saat ini.
"Jangan katakan kalau kau…" pemuda itu melangkah maju sementara Hinata membelalakkan matanya dan berjalan mundur.
Hinata menoleh ke samping sekilas saat punggungnya menabrak dinding toko. Seringaian pemuda itu bertambah lebar. Naruto meletakkan kedua tangannya di sisi gadis itu dan melangkah maju sedekat mungkin.
"Kau menyukaiku?" Tanya nya langsung.
Wajah Hinata semakin memerah. Gadis itu mengerjapkan matanya dengan cepat, tidak menyangka dengan pertanyaan yang tak terduga dari Naruto.
Apakah dia menyukai Naruto? Tidak. Dia hanya selalu berdebar setiap kali berada di dekat Naruto—seperti sekarang. Ia selalu mengulang kejadian-kejadian yang mereka alami di benaknya tanpa ia sadari dan tersenyum pada dirinya sendiri.
Terkadang ia akan merasa tidak sabar untuk menunggu matahari kembali terbit agar dia bisa segera ke sekolah dan melihat pemuda itu. Apakah dia mencintainya? Tidak, ia hanya tidak suka setiap kali Naruto dikerumuni para gadis yang jelas sekali tergila-gila padanya. Astaga, apakah dia mencintai orang yang paling ingin ia benci?
"Ti-tidak. Aku tidak menyukaimu." Elaknya.
"Jangan berbohong padaku." Bisik Naruto lembut. Tidak ada lagi kemarahan dalam dirinya. Hanya dengan pemikiran bahwa Hinata menyukainya saja sudah bisa menaikkan kembali suasana hatinya.
"Baiklah, kau tidak perlu menyukaiku, karena aku sudah menyukaimu dan tidak akan membiarkanmu pergi." Ucap Naruto tidak sabar. Ia tau seberapa keras kepalanya tunangan yang ada dihadapannya itu.
Pemuda itu tersenyum lembut, "Kupikir, jatuh cinta adalah hal yang mustahil—meskipun teman-temanku sedang jatuh cinta akhir-akhir ini. Cinta bagiku hanyalah hal yang konyol. Kenapa sesuatu yang tidak berbentuk seperti itu bisa menjungkirbalikkan dunia setiap orang? Tapi ternyata, cinta itu benar-benar ada. Meskipun kau tidak menyukaiku, I'm still in love with you. I'm yours, now and forever."
Ia mengecup bibir Hinata tanpa menunggu kata-kata dari gadis itu, karena melalui ciuman ini dia bisa mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Hinata bisa merasakan Naruto tersenyum tipis saat ia membalas ciuman pemuda itu.
Mungkin ini terdengar gila, tapi ia juga memiliki pemikiran yang sama dengan Naruto.
.
.
.
"Apa kau lihat bagaimana wajah ibu-ibu tadi? Itu benar-benar lucu!" Kidoumaru tertawa sambil memegangi perutnya mengingat kejadian yang baru saja mereka alami saat makan siang tadi.
"Harusnya tadi kita memotret ekspresi ibu-ibu itu!" Timpal Sakon.
"Berhentilah menertawakan mereka." Kabuto tertawa kecil, dia sendiri tidak bisa memungkiri bahwa kejadian itu memang lucu, tapi tidak seharusnya mereka masih menertawakan ibu-ibu itu sampai sekarang.
"Baiklah, baiklah, sampai jumpa besok." Kidoumaru menyeka ujung matanya yang mulai berair dan membelok di ujung jalan bersama Sakon, sementara Kabuto terus melangkah lurus menuju rumahnya. Langkah Kabuto melambat dan terhenti saat ia melihat seorang gadis yang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Kabuto-nii.." Panggil gadis itu.
"Nii-chan, kau tidak lupa padaku kan? Apa kau tidak merindukanku?" Tanya gadis itu agak merasa kecewa karena Kabuto tidak menyambutnya dengan senyuman.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Tanya Kabuto dengan dingin yang menghiraukan pertanyaan gadis itu. Gadis itu tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya.
"Apa lagi yang bisa kulakukan di sini? Tentu saja aku kembali ke rumahku sendiri. Nii-chan, kau tidak senang adik kesayanganmu ini telah kembali?"
"Kau sudah menemui Sasuke?" Lagi-lagi Kabuto menghiraukan pertanyaan adiknya. Senyuman di wajah gadis itu menipis saat nama Sasuke disebut.
"Aku akan menemuinya nanti. Aku juga sangat merindukannya."
"Kau tidak bisa datang dan pergi sesuka hatimu! Kau pergi begitu saja setelah mengacaukan kehidupan Sasuke dan sekarang kau kembali setelah Sasuke berhasil memungut puing-puing kehancuran yang kau sebabkan!? Kau sangat egois!" Sentak Kabuto. Ia melangkah masuk ke dalam rumah dan melewati adiknya begitu saja.
A/N: Minna-san gomesaiiiii, author telat banget updatenya. Author juga gak bisa meninggalkan tugas kuliah author begitu saja T^T. Di chap ini author menampilkan cerita khusus naruhina. Thank's yg sudah mendukung fanfict ini, yg sudah mereview dll. Silahkan tinggalkan jejak dan tanyakan apa saja di kolom review ^.~
Thanks to:
echaNM, elzakiyyah, Annis874, Rina Apple, UchiHaruno Sya-Chan, Weird-san, williewillydoo, mantika mochi, Mustika447, .925, Sipembaca, Kirara967, kasihrukmana2818, zarachan, mikumi16, jui chan, ongkitang, Arashasha, Shizuka Namikaze19, undhott, Kiki Kim, Little Ginger, UzumakiIsana, Guest, Mellan94, t-chan, Jamurlumutan462, lililala249, hanazono yuri, Uchiha Pioo, nurvieee-chan, SantiDwiMw, Desta Soo
Salam kecup buat reviewer
Miko Yuuki
