The Pervert Glasses

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Angst, Friendship

WARNING!

TYPO, OOC, EYD hancur, banyak kata-kata yang kasar, Rate M (SemiLemon)

"Ouch!" Sakura meringis saat ujung pisau yang ia pegang lagi-lagi mengenai jari-jarinya entah untuk ke berapa kalinya. Ia mengibas-ngibaskan tangannya di udara lalu meniupkan lukanya sendiri sebelum ia membersihkannya. Ia pun kembali berkutat dengan kegiatan awalnya, mengiris daging.

Ia meminta bantuan ibunya untuk mengajarinya memasak, meski cuma satu hidangan saja. Sesekali, ia ingin menyiapkan makan malamnya dan Sasuke. Dan seperti ini lah jadinya sekarang. Meski jari-jari tangannya harus tergores beberapa kali, tapi ia merasa cukup puas karena masakannya terasa cukup lezat.

Ia menepukkan kedua tangannya dengan pelan sambil memandangi hasil masakannya yang sudah ia tata dengan rapi di atas meja dengan bangga. Gadis itu pun mengecek jam. Biasanya Sasuke sudah datang, tapi mungkin malam ini pemuda itu akan sedikit terlambat.

Ia duduk di meja makan dan tersenyum masih sambil menatap hasil karyanya. Sebentar lagi saat Sasuke datang, dia pasti akan terkejut dan memberikan pujian untuk gadis itu.

Satu jam berlalu, tapi pemuda itu masih saja belum datang. Ia pun mengeluarkan hp nya. Ingin sekali dia menghubunginya, menanyakan kenapa dia masih juga belum datang.

Gadis itu meletakkan hp nya diatas meja dengan kasar. Dia tidak bisa menelpon Sasuke hanya karena dia datang terlambat, ia pun harus bersabar menunggu sedikit lebih lama.

Sakura melirik jam dengan lelah. Sudah jam 9 lebih, masih mungkinkah Sasuke datang? Tapi pemuda itu tidak pernah seperti ini sebelumnya. Biasanya pemuda itu akan selalu mengabari Sakura jika dia tidak jadi datang seperti beberapa hari yang lalu saat pemuda itu harus menemani Tuan Uchiha mengikuti pesta ulangtahun perusahaan rekan kerjanya.

Ia pun memberanikan dirinya untuk menelpon Sasuke. Gadis itu menekan angka 1 cukup lama hingga tersambung ke nomor Sasuke.

"Hn." Gumam Sasuke dari seberang sana. Ia pun terlonjak pelan dan segera meluruskan duduknya meski ia tau pemuda itu tidak bisa melihatnya saat ini.

"Hmm, kau tidak datang malam ini?" Tanyanya dengan ragu. Sasuke tidak langsung menjawab dan hanya memberikan keheningan.

"Maaf, malam ini tidak bisa." Jawab Sasuke akhirnya.

"Ah, tidak apa-apa. Kau sedang sibuk sekarang?" ia berusaha membuat suaranya tetap terdengar ceria agar Sasuke tidak tau betapa kecewanya saat ini.

"Hn." Jawab Sasuke lagi. Gadis itu pun mengucapkan beberapa kata sebelum memutuskan saluran telpon.

"Hah! Makanannya sudah dingin." Gerutunya. Ia pun mengambil sumpit dan memulai makan malam yang sudah dingin seorang diri.

.

.

.

Sasuke merapikan rambutnya dan memastikan pakaiannya tidak kusut sebelum dia keluar dari kamarnya. ia melangkah mundur, melirik kunci mobilnya yang tergeletak begitu saja.

Pemuda itu terlihat ragu untuk mengambil kunci mobilnya, tapi dia tau dia akan terlambat sampai ke rumah Sakura kalau dia tidak membawa kendaraan sendiri. Dia harus 'berterima kasih' pada gurunya yang menahan dia hampir seharian di sekolah untuk mendiskusikan sesuatu yang benar-benar membosankan.

Ia memutuskan memang lebih baik kalau dia membawa mobilnya. Sesekali mengebut rasanya tidak terlalu buruk. Ia pun langsung menuruni anak tangga sambil berlari kecil.

Sasuke tersenyum lebar saat dia melihat lagi mobil kesayangannya. Dengan langkah ringan, ia mendekati mobilnya dan bersiap membuka mobil saat dia melihat dari sudut matanya ada seseorang berdiri tak jauh darinya.

Ia pun menoleh dengan cepat. Senyuman di wajahnya menghilang total. Langkah yang tadinya ringan kini terasa sangat berat, bahkan rasanya seperti sedang menginjak lem super yang merekatkan kedua kakinya di aspal yang ia pijaki saat ini.

"Sasuke-nii." Hanya itu yang dikatakan oleh orang itu tapi berhasil membuat dunia Sasuke jungkir balik. Ia tak bisa melihat pemandangannya disekitarnya, tak bisa juga mendengar gesekan daun yang tertiup angin atau apapun. Satu-satunya yang bisa ia lihat dan dengar hanyalah gadis yang berada dihadapannya saat ini.

"Aku sudah kembali." Lanjut gadis itu. Sasuke menelan air liurnya. Ia tidak tau harus berkata apa. Mendengar suara gadis itu benar-benar membuatnya terhipnotis.

"Aku Sara, nii-san tidak lupa kan?" Suara Sara terus terngiang di telinganya.

.

.

.
Baik Sasuke ataupun Sara tak bersuara selama lebih dari 10 menit setelah mereka sampai di pinggir sungai. Sasuke memandang lurus ke depan. Tangannya mencengkram stir mobilnya dengan erat. Ia bahkan belum mengucapkan sepatah katapun sejak kehadiran gadis itu.

Ia hanya mengangguk dengan ragu saat Sara bertanya apakah mereka bisa berbicara sebentar. Ia tidak tau harus ke mana, jadi dia melajukan mobilnya ke pinggir sungai yang terdekat dan sekarang mereka berdua duduk berdampingan dengan kesibukan pikiran mereka sendiri.

"Maaf karena waktu itu aku pergi begitu saja." Sara membuka pembicaraan lebih dulu. Sasuke mengatupkan rahangnya dengan erat, menghentikan dirinya sendiri sebelum ia menoleh pada gadis itu.

"Sepertinya aku benar-benar tidak bisa dimaafkan, ya? Tidak hanya Sasuke-nii, bahkan Kabuto-nii pun masih sangat marah padaku." Sara tertawa pahit.

"Kapan kau kembali ke Konoha?" Sasuke mengerahkan seluruh tenaganya untuk bisa mengeluarkan suara dan ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan. Gadis itu pun menoleh ke arah Sasuke, tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya karena pemuda itu akhirnya mau membuka mulut.

"Tadi siang. Dan aku langsung datang menemuimu setelah pulang ke rumah untuk memberesi barang-barangku."

"Kenapa kau tidak pernah memberikan kabar apapun? Apa kau tidak tau kalau aku …" Sasuke menghentikan kata-katanya. Nafasnya mulai terasa berat. Pemuda itu menoleh pada Sara setelah meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia mampu melanjutkan kata-katanya sambil menatap kedua mata gadis itu.

"… selalu menunggumu untuk kembali?"

Sara tersenyum. Ia sadar ia telah membuat Sasuke menderita, namun tak urung bibirnya tersenyum mendengar perkataan pemuda itu barusan. Ia bisa melihat kejujuran di mata Sasuke. pemuda dihadapannya ini memang benar-benar menunggunya.

"Aku tau. Maafkan aku. Kupikir aku tidak akan bisa menganggapmu lebih dari seorang kakak. Tapi sepertinya aku sudah sadar sekarang, meskipun aku tau sangat terlambat. Sasuke-nii, kau adalah orang yang sangat berarti untukku dan aku ternyata tidak bisa kehilanganmu."

Rasanya sudah cukup kejutan yang diberikan Sara dengan kemunculannya yang begitu tiba-tiba saat ini, tapi kenapa gadis itu justru harus berkata seperti itu?

Tidak taukah dia bisa saja meruntuhkan pertahanan diri Sasuke setiap detiknya? Kata-kata yang selalu diimpikan pemuda itu akan keluar dari mulut Sara sekarang benar-benar menjadi kenyataan. Gadis itu baru saja mengatakan ia tidak bisa tanpa Sasuke. Jantungnya berdetak keras. Sama seperti ketika dulu dia melihat gadis itu setiap hari. Ketika gadis itu bergelayut manja dan menariknya ke sana kemari seperti anak kecil.

Dering hp Sasuke membuyarkan kenangan masa lalu yang terbentuk di pikirannya. Ia menatap nama pemanggil dan nafasnya kembali terasa berat. Ia pun menekan tombol jawab dan menempelkan hp nya di telinga kanan.

"Hn." Gumamnya dengan datar.

"Hmm, kau tidak datang malam ini?" Suara Sakura terdengar ragu dari seberang telpon. Sasuke tidak langsung menjawab dan hanya memberikan keheningan. Ia sedang memikirkan jawabannya yang ia butuhkan dan otaknya bekerja dengan luar biasa terlambat malam ini.

"Maaf, malam ini tidak bisa." Hanya itu yang bisa ia berikan sebagai jawaban. Ia bisa saja memberikan alasan panjang lebar, tapi dia tidak ingin Sara bertanya atau mungkin berpikir macam-macam padanya nanti. Ia bahkan tidak bisa mengucapkan nama Sakura dihadapan Sara.

"Ah, tidak apa-apa. Kau sedang sibuk sekarang?" ia bisa mendengar nada kecewa dari suara Sakura. Tapi kenapa dia tidak bisa mengatur pikirannya dengan benar?

"Hn." Gumamnya lagi. Sakura mengucapkan beberapa kata sebelum memutuskan saluran telpon. Ia pun menyimpan kembali hp nya dan mendesah pelan. Dia bisa saja meninggalkan Sara, mengatakan padanya kalau dia sudah punya janji lain. Meski ia dan Sakura tidak membuat janji sebelumnya, tapi makan malam bersama sudah menjadi kebiasaan rutin mereka setiap malamnya semenjak ia tidak lagi tinggal di sana.

Dan sekarang, karena kepulangan Sara, ia bahkan melupakannya. Tidak sedikitpun dia teringat pada Sakura, tidak sampai nama Sakura muncul di layar hp nya.

"Siapa?" Tanya Sara hati-hati.

"Teman." Sasuke lagi-lagi menjawab dengan singkat dan membiarkan keheningan kembali meliputi mereka mereka.

"Bagaimana dengan pemuda itu? Bukankah kau pergi meninggalkan semua orang demi sosok misterius itu?" Suara Sasuke terdengar sinis. Tidak bisa dipungkiri, dia masih merasa terkhianati atas sikap Sara waktu itu.

Memang, tak pernah sekalipun mereka berdua menjalin hubungan serius karena meskipun Sara tau tentang perasaan Sasuke. Sasuke tidak pernah dengan resmi menyatakan suka dan meminta gadis itu menjadi pacarnya. Tapi tetap saja, tingkah Sara yang berniat pergi diam-diam membuat pemuda itu sangat terluka.

"Kami hidup bersama dengan baik. Aku tidak menyesal pernah menyukainya dan pergi ke Suna agar bisa bersama-sama. Tapi harus kuakui, aku mulai menyesal karena meninggalkanmu. Kurasa, sebagian dari diriku tertinggal di tempat yang sangat jauh dan aku kembali untuk mengambil bagian lain dari diriku yang waktu itu kutinggalkan."

"Dan bagaimana kau bisa yakin kalau aku adalah bagian lain dari dirimu? Bagaimana kau bisa datang menemuiku dengan begitu percaya diri, berharap aku bisa menerimamu kembali dengan tangan terbuka?" Tukas Sasuke agak keras.

"Karena kau adalah milikku nii-san." Sara tersenyum. Meski hatinya merasa sangat panik saat ini, ia tau Sasuke tidak akan bisa menolak senyumannya.

Saat pemuda itu tak lagi mencercanya dengan kata-kata yang tajam, Sara mencondongkan tubuhnya, melingkarkan tangannya dileher Sasuke dan memeluknya dengan erat. Sasuke menggeram pelan dan menundukkan wajahnya hingga menyentuh pundak gadis itu.

"Aku masih marah padamu, sangat marah." Gumamnya.

Sara terkekeh pelan lalu mengeratkan pelukannya, "Aku tau. Dan aku akan menebusnya dengan selalu berada disisimu nii-san."

Sasuke tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Pemikiran tentang Sara yang selalu berada disisinya membuatnya merasa bahagia. Ia pun balas memeluk Sara.

Kali ini mereka kembali tidak bersuara, tapi tidak ada sedikitpun kecanggungan yang mengerumuni mereka.

.

.

.

"Wah, aku masih tidak bisa percaya kalau sekarang nii-san adalah ketua OSIS. Benarkah? Nii-san bahkan tidak pernah masuk kelas lebih dari dua kali dalam seminggu." Ejek Sara saat dia dan Sasuke berjalan berdampingan sepulang sekolah.

"Menurutmu kenapa aku bisa menjadi siswa teladan sekarang?" pemuda itu tersenyum tipis. Sara melingkarkan tangannya dilengan pemuda itu dengan erat.

"Arigatou." Ujar Sara singkat. Tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa Sasuke benar-benar rela berubah demi dirinya, meski harus ia akui kata-katanya saat di bandara waktu itu hanya untuk memukul mundur pemuda itu. Tapi siapa yang tau jika ternyata Sasuke memang benar-benar bisa berubah menjadi lebih baik, bahkan sangat baik.

"Bagaimana hari pertamamu di kelas tadi?" Tanya Sasuke.

"Sangat menyenangkan. Mereka semua sangat baik padaku." Jawabnya dengan bersemangat. Sasuke mengacak pelan rambutnya sebelum langkahnya terhenti tiba-tiba. Ia pun ikut menghentikan langkahnya dan mendongak untuk melihat orang yang berdiri dihadapan mereka.

Sakura menatap Sasuke dan Sara bergantian, lalu tangan Sara yang masih memeluk lengan pemuda itu yang bahkan tidak mencoba untuk melepaskannya.

"Sasuke-nii, kau kenal dia?" Tanya Sara setelah beberapa saat karena baik Sasuke maupun Sakura tidak bersuara. Tenggorokan Sasuke tercekat. Ia merasa berada di posisi di mana dia tidak bisa maju ataupun mundur. Ia pun memejamkan matanya dan mendesah pelan.

"Sakura." Panggilnya singkat.

"Hai, Aku Sara." Sapa Sara dengan ramah. Sakura membungkukkan badannya sedikit dan ikut memperkenalkan dirinya sendiri sementara pikirannya terus menyuarakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ia suarakan sendiri.

Siapa gadis ini? Kenapa dia tiba-tiba saja muncul dan berada begitu dekat dengan Sasuke? ia yakin, dengan sifat Sasuke, ia tak akan membiarkan orang asing menempelinya begitu saja. Mereka pasti sudah kenal sejak lama.

"Sakura, nanti aku akan menelponmu." Bisik Sasuke pelan saat pemuda itu dan Sara berjalan melewatinya. Sakura memerosotkan bahunya. Kenapa ia merasa takut? Sasuke yang baru saja berdiri dihadapannya seperti bukan Sasuke yang ia kenal selama ini. Sekuat apapun ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu tidak benar, ada sebagian kecil dalam dirinya yang tidak bisa menerima penyangkalannya.

"Siapa dia? Seorang teman lama? Kabuto! Dia pasti tau!" Sakura bergumam pada dirinya sendiri lalu berlari sambil mengeluarkan hp nya untuk menghubungi Kabuto.

.

.

.

Sakura terduduk lemas di sofa ruang nonton seorang diri. Dia tidak mau repot-repot memikirkan ke mana ibunya saat ia pulang dan mendapati rumah dalam keadaan kosong. Sudah berapa lama dia berdiam diri seperti itu? Ia sendiri bahkan tidak bisa mengingatnya lagi.

"gadis yang membuat Sasuke salah paham padaku adalah Sara, gadis yang dia cintai, adik perempuanku."

Sakura sudah mengusir suara Kabuto dari benaknya tapi tidak mampu. Sejak ia sampai di rumahnya, hanya kata-kata itu yang bisa ia dengar, lagi dan lagi.

Dadanya terasa sesak. Kenapa kenyataan itu bisa memberikan efek yang begitu luar biasa padanya? ia tak bisa lagi melihat ke sekelilingnya, semuanya terlihat gelap. Samar-samar ia mendengar suara dari televisi yang berhasil menariknya kembali ke alam sadar. Ia pun mendongak dengan malas ke layar televisi untuk melihat seorang reporter wanita berbicara dengan lugas.

"… Uchiha Fugaku secara tegas mengumumkan putranya sebagai pewaris resmi dari Uchiha Corp. Pernyataan ini secara tidak langsung juga menyatakan kebenaran tentang desas-desus yang beredar selama ini mengenai pertunangan Uchiha Sasuke—putra dari Uchiha Fugaku—yang akan digelar tak lama lagi. Banyak pihak yang menduga calon tunangannya adalah Yakushi Sara, putri tiri Tuan Yakushi yang selama ini memang menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan Uchiha Fugaku. Berdasarkan sumber informasi kami, beberapa hari yang lalu Yakushi Sara baru saja kembali dari Suna. Sampai berita ini diturunkan, masih belum ada pernyataan resmi mengenai calon besan Uchiha Fugaku."

Seolah ucapan Kabuto tidak cukup untuk melukainya, serentetan kalimat dari reporter di TV itu berhasil membuatnya menahan nafas. Kenapa semuanya tiba-tiba saja berubah dengan cepat? Rasanya seperti mimpi buruk bagi Sakura. Ia pun mengeluarkan hpnya, membuka kunci layar dan melihat tidak ada panggilan masuk sekalipun.

Bukankah Sasuke telah berjanji akan menelponnya? Benarkah pemuda itu masih menyukai Sara? Benarkah mereka akan bertunangan?

Sakura mengerang pelan, menengadahkan kepalanya untuk menatap langit-langit dan menahan agar airmatanya tidak meluap turun. Ia menggenggam hp nya semakin erat, dengan ragu ia menekan angka satu cukup lama hingga tersambung dengan nomor tujuannya.

"Halo." Jawab Sasuke buru-buru.

"Sasuke.. Apa kau—"

"Maaf Sakura, aku harus pergi sekarang. Aku akan menghubungimu lagi nanti." Pemuda itu mematikan sambungan telpon tanpa menunggu reaksi dari Sakura.

Ia membuka mulutnya dengan tidak percaya. Tidak pernah sekalipun Sasuke bersikap seperti ini padanya. Bahkan saat dia sedang menemani Tuan Uchiha untuk menghadiri pesta beberapa rekan bisnisnya, pemuda itu masih menyempatkan diri untuk mengobrol dengannya.

Ia kembali menatap layar televisi yang sekarang menampilkan gambar Sasuke dan Sara bersebelahan. Jadi, benarkah itu? Uchiha Sasuke akan segera menjadi tunangan Yakushi Sara.

.

.

.

Sasuke mematikan televisi yang baru saja menyiarkan kabar burung tentang pertunangannya. Lucu sekali. Ia sendiri belum mendengar ayahnya mengungkit tentang pertunangan, tapi kenapa berita itu justru menyebar luas dengan cepat seperti penyakit menular?

Ia menggelengkan kepalanya pelan lalu mengeluarkan hp nya hendak menelpon Sakura sesuai janjinya. Ayahnya tiba-tiba saja muncul dan menepuk pundaknya. Ia pun menoleh dengan cepat, melihat ayahnya tersenyum padanya.

"Ada apa ayah?" Tanyanya sambil memasukkan kembali hp nya.

"Sudah melihat berita itu?" Ayahnya mengedikkan kepalanya ke arah televisi yang sekarang berwarna hitam.

"Kau tidak keberatan, bukan?"

Sasuke terdiam di tempatnya. Apakah dia keberatan? Sejujurnya dia sama sekali tidak tau apa yang ia inginkan saat ini. Sara ataukah Sakura? Ayahnya kembali tersenyum tipis, mengartikan sikap diam Sasuke sebagai persetujuan.

"Kau tau, menurut ayah, kalian sangat serasi. Ayah tau kau tidak akan pernah mengecewakan ayahnya." Tuan Uchiha berjalan melewati Sasuke dan memasuki ruang kerjanya.

Sasuke tidak sadar berapa lama dia terpaku di sana hingga dering telpon menyadarkannya.

"Sara, ada apa?" Tanya Sasuke begitu dia mengangkat telponnya.

"Nii-san! Kau bisa datang sekarang?" Suara Sara terdengar panik. Dari latar belakangnya terdengar suara riuh, beberapa orang, bahkan mungkin puluhan berlomba-lomba menyuarakan pertanyaan yang berdengung ditelinga Sasuke.

"Sara, kau di mana? Apa yang terjadi?" Tanya pemuda itu sambil berlari kecil keluar dari rumah.

"Aku sedang makan malam di restoran dan tiba-tiba saja muncul wartawan entah dari mana yang mengacung-acungkan kamera padaku. Kau bisa menjemputku? Aku tidak bisa menghubungi Kabuto-nii, aku tidak tau harus meminta tolong pada siapa lagi." Kepanikan dari suara gadis itu sama sekali tidak berkurang. Ia pun segera membuka pintu mobilnya dan dengan cepat menghempaskan tubuhnya di kursi pengemudi.

"Aku akan segera ke sana. Jangan ke mana-mana sebelum aku sampai." Sasuke menyelipkan hp nya di telinga dan pundaknya sementara tangannya sibuk menyalakan mesin mobil.

Ia tidak bisa bersantai sedetik saja sementara dia tau Sara sedang menjadi bulan-bulanan para kuli tinta. Tentu saja. Siapa yang tidak ingin mengejar berita besar? Mereka semua pasti akan senang menjadikan berita pertunangan ini sebagai berita utama selama beberapa minggu.

Ia menyelipkan ibu jarinya dibibir dengan gugup saat mobilnya terhenti di persimpangan jalan ketika lampu merah menyala. Ia tidak boleh terlambat, tidak bisa. Hp nya kembali berdering, agak membuatnya kesal. Tidak taukah kalau dia sedang mengejar waktu?

"Halo?" Sapanya setelah mengangkat telponnya dengan terburu-buru, ia bahkan tak memperhatikan nama pemanggilnya.

"Sasuke.. Apa kau—" Suara Sakura terdengar di seberang telpon. Jangan tanyakan mengapa ia bisa tau, ia hanya terlalu mengenali suara gadis ini di manapun.

"Maaf Sakura, aku harus pergi sekarang. Aku akan menghubungimu lagi nanti." Ia pun mematikan telponnya dengan cepat saat lampu lalu lintas berubah hijau dan kembali melajukan mobilnya.

Ia merasa bersalah pada gadis itu. Jelas-jelas dia sendiri yang sudah berjanji akan menghubunginya, tapi dia tidak melakukannya. Dia tidak punya pilihan untuk saat ini, keadaan Sara jauh lebih mendesak dan dia tidak bisa mendahului Sakura.

.

.

.

Sakura mendesah pelan. Ia menendang kakinya diudara dengan pelan. Ia kesulitan tidur semalam dan itu sama sekali tidak membantu keadaannya saat ini. Kenapa Sasuke berubah begitu drastis dalam sekejap? Rasanya sangat mengerikan baginya. Sasuke yang biasanya selalu berada di sisinya, Sasuke yang selalu mengutamakannya sekarang sudah tidak ada lagi. Untuk selamanya kah?

"Jidat, kenapa kau? Pagi-pagi seperti ini sudah melamun." Tegur Ino saat Sakura kembali mendesah.

"Hmmm, tidak apa-apa." Elak Sakura. Ino menaikkan sebelah alisnya, jelas sekali tidak percaya dengan kata-kata sahabatnya itu.

"Oh! Hinata!" Teriak Ino dengan kencang saat ia melihat Hinata beberapa meter di depannya. Hinata dan Naruto yang awalnya sedang mengobrol sontak langsung menoleh ke sumber suara.

Hinata terkekeh pelan, kembali mengucapkan sesuatu pada pemuda itu yang ditanggapi dengan senyuman oleh Naruto sebelum ia menghampiri Ino. Naruto tak bergerak di tempatnya sampai Hinata menghampiri kedua sahabatnya. Hinata melirik ke arah Naruto yang melambai tipis lalu berjalan pergi.

"Waah, kau yakin itu Uzumaki Naruto si playboy? Kenapa aku merasa dia terlihat, hmm… sangat jinak?" Ejek Ino. Hinata memberengutkan wajahnya.

"Berhentilah membicarakan dia. Kau dan Sai juga tidak terlihat seperti kuncing dan anjing lagi." Balasnya tidak mau kalah.

"Kau lihat itu Sakura? Sekarang dia bahkan membela tunangannya." Ino setengah berteriak dengan nada yang dibuat-buat. Sakura terkekeh pelan. Kedua sahabatnya sekarang telah berubah, tidak banyak tapi cukup untuk dapat membuat mereka menyadari perubahannya.

"Oh! Sasuke-san!" Ucap Hinata sambil menunjuk ke seberang koridor. Sasuke menghentikan langkahnya saat mendengar namanya di sebut. Sara ikut menghentikan langkahnya, masih menggandeng tangan pemuda itu dengan manja.

Sasuke menatap Sakura cukup lama. Apa maksud dari tatapan pemuda itu? Sakura sama sekali tidak bisa membacanya.

Sara menarik tangan Sasuke, membuat perhatian pemuda itu kembali terarah padanya. Ia tersenyum manis—sesuatu yang Sakura tau tidak pernah ia berikan pada Sasuke—dan mengajak pemuda itu melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda.

Ino mendengus kesal dan melipat kedua tangannya di depan dada dengan kasar.

"Apa-apaan dia itu? Baru datang langsung menempel pada Sasuke?"

"Apa dia tidak tau kalau Sasuke-san dan kau pacaran?" Hinata menatap Sakura yang menundukkan wajahnya, tak berani menatap sahabatnya.

"Benar, apa gadis itu ingin mati, heh? Kenapa dia harus mengganggu pemuda yang sudah menyukai gadis lain?"

Sakura menundukkan wajahnya semakin dalam. Tidak, kedua sahabatnya salah. Mereka tidak pernah pacaran—tidak secara resmi. Sasuke tidak pernah mengatakan cinta ataupun memintanya untuk menjadi kekasihnya. Pemuda itu hanya selalu mengatakan 'Kau adalah milikku' padanya. Lalu bagaimana dengan Sasuke?

Ingin sekali ia tertawa kencang, tapi ia urungkan niatnya karena dia tidak mau dianggap gila oleh sahabat-sahabatnya. Bukankah semua hal yang indah hanya bersifat sementara? Kenapa ia menjadi tamak dan ingin terus merasakan kebahagiaannya saat bersama pemuda itu?

Mungkin bagi Sasuke, ia hanyalah mainan. Mungkin bagi Sasuke, ia hanyalah tempat untuk mencurahkan perhatiannya yang tidak bisa ia berikan pada Sara. Mungkin bagi Sasuke… Entahlah, ia tidak tau lagi apa kata-kata yang tepat. Tapi baginya, Sasuke adalah segala hal yang bisa membuatnya merasa tidak karuan. Apakah sekarang semuanya berakhir bahkan sebelum mereka memulainya?

.

.

.

Sasuke menghentakkan keyboardnya dengan geram. Ia mencoba untuk menyelesaikan laporan yang dimintai Kepala Sekolah tapi ia sama sekali tidak bisa mengetiknya dengan benar. Wajah Sakura terus menghantuinya. Tatapan itu, tatapan yang terlihat sendu dan menyayat hatinya. Kapan terakhir kali ia berbicara dengan gadis itu? Kapan terakhir kali dia melihat gadis itu tertawa?

Ia pun melepaskan kacamatanya, lalu meletakkannya dengan sembarangan diatas meja. ia mengusap wajahnya sendiri dengan kasar dan membenamkannya diatas meja.

"Sasuke" Panggil Shikamaru begitu dia masuk ke dalam ruangan OSIS. Sasuke mengangkat kepalanya dan melihat keempat sahabatnya masuk ke ruangan.

"Teme. Ada apa dengan kau dan Sakura?" Tukas Naruto begitu dia langsung menghampiri Sasuke. Sasuke hanya diam dan memandang keluar jendela. Perlukah sahabatnya yang satu ini menyebut nama Sakura? Seperti ia belum cukup pusing saja dibuatnya.

"Sara selalu menempelimu sejak dia kembali ke Konoha dan kau sama sekali tidak keberatan. Bagaimana dengan Sakura? Bukankah dia pacarmu?" Sai ikut mencerca Sasuke.

Sasuke mendengus kesal dan menatap kedua orang yang sekarang berdiri dihadapannya.

"Jangan ungkit masalah ini untuk sekarang, aku sudah cukup pusing, oke?" Sentaknya.

"Memangnya kalau kau pusing, masalah ini bisa langsung diselesaikan? Yang harus kau lakukan adalah melakukan sesuatu." Sai berkacak pinggang dan tersenyum sinis.

"Benar, kau tidak bisa memperlakukan Sakura seperti ini. Bukan hanya hubungan kalian saja yang dipertaruhkan. Apa kau tidak tau kalau Hinata dan Ino terus mengomeli kami sepanjang hari?" Tambah Naruto yang tidak memedulikan kekesalan Sasuke.

"Sudahlah aku yakin kalian tidak akan mau melihat Sasuke meledak kan?" Shikamaru mencoba menengahi. Naruto menggerutu tidak jelas sebelum mengikuti saran Shikamaru dan menghempaskan dirinya di samping sahabatnya.

"Neji, kalau menurutmu bagaimana?" Tanya Sai yang sedang menghampiri Neji dan duduk di sebelahnya. Neji melirik ke arah Sasuke yang sedang menatapnya dengan sungguh-sungguh.

Ia pun tersenyum kecil, "Aku tidak bisa menarikmu dari Sara dan mendorongmu pada Sakura. Kami semua tau sudah berapa lama kau menunggu Sara dan berubah demi dia. Tapi kami juga tau bagaimana Sakura sudah membuatmu bahagia akhir-akhir ini. Jika ada satu pertanyaan, siapa yang paling tidak ingin kau lukai?"

Sasuke membuka mulutnya untuk memberikan jawaban, tapi mulutnya hanya terbuka begitu saja tanpa jawaban yang mengalir keluar.

"Tidak perlu kau jawab, cukup kau saja yang tau. Aku hanya berharap kau memikirkan pertanyaan itu dengan baik. Siapa yang tidak ingin kau lukai? Siapa yang ketika terluka juga akan membuatmu terluka? Jangan sampai kau melukai orang itu, Sasuke." Lanjut Neji. Sasuke hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.

"Nara Shikamaru! Kau sudah gila!?" Teriak sebuah suara yang membuat seluruh anggota Konoha Boys tersentak kaget, apalagi yang namanya disebut.

"Ya Tuhan!" Shikamaru berdiri dengan panik dan berjalan tidak karuan ditempatnya.

"Katakanpadanyakalauakutidakadadisini!" Ucapnya dalam satu tarikan nafas yang sulit dimengerti. Ia memutari sofa dan berniat bersembunyi dibaliknya, tapi Temari sudah lebih dulu masuk ke ruang OSIS dan memergoki Shikamaru.

"Jangan coba-coba sembunyi. Kau harus menemaniku shopping hari ini, ingat?" Tanya Temari geram. Ia sudah mencari Shikamaru sejak bel pulang berbunyi, tapi Shikamaru justru tidak terlihat di manapun.

"Aku tidak mau! Aku tidak mau!" Rengek Shikamaru. "Shopping dengan wanita hanya membuatku pusing!"

"Tapi ibumu tidak keberatan kalau kau menemaniku berbelanja! Ayo kita pergi sekarang." Temari menarik lengan Shikamaru dan menyeretnya keluar.

"Arrgh! Tidak! Lepaskan!" Gerutu Shikamaru. Temari menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba saat berdiri di depan pintu. Ia memutar tubuhnya menghadap keempat sahabat Shikamaru yang masih melongo melihat kelakuan mereka berdua.

"Aku pinjam sebentar sahabatmu ini." Ucap Temari sambil tersenyum lebar dan kembali menyeret Shikamaru keluar.

Keempat anggota Konoha Boys saling bertatapan dan tertawa bersama. Tidak ada yang bisa menaklukan Shikamaru kecuali Temari.

"Kalau tidak ada hal yang mau dibahas lagi, aku harus pulang sekarang. Shion sedang berbelanja seorang diri dan kalian tau aku tidak pernah tenang. Sampai jumpa." Neji mengambil tasnya dan keluar dari ruang OSIS.

"Yah, aku juga harus mengantar Hinata ke tempat kursusnya. Bye~" Naruto melambaikan tangannya dengan bersemangat sebelum keluar. Sai menyeringai kecil.

"Benarkah dia adalah Uzumaki Naruto yang sudah kita kenal bertahun-tahun?" Ejek Sai.

"Kurasa Hinata sudah berhasil membersihkan isi kepalanya." Sasuke terkekeh pelan diikuti oleh Sai.

"Nii-san, kau sedang sibuk?" Sara menyembulkan kepalanya ke dalam ruang OSIS. Sai berhenti tertawa dan memalingkan wajahnya ke arah berlawanan. Ia tidak yakin ia bisa menyembunyikan ketidaksukaannya lebih lama lagi terhadap kehadiran Sara.

"Ada apa?"

"Mau menemaniku makan es krim?" tanya Sara dengan tersenyum manis. Sasuke balas tersenyum dan mengangguk.

"Sasuke, jangan lupa dengan pertanyaan Neji tadi. Pikirkan jawabannya." Bisik Sai saat Sasuke melewatinya. Sasuke mendesah pelan dan mengangguk.

.

.

.

"Ya Tuhan!" Sakura memekik pelan begitu dia melihat sehelai saputangan putih tiba-tiba saja berada dihadapannya. Terdengar suara kekehan dari balik saputangan tersebut. Sakura memiringkan kepalanya dan melihat wajah Sasori.

"Nii-chan, kau mengagetkanku." Sakura menghela nafas pelan.

"Aku tidak mengagetkanmu, tapi kau yang melamun sepanjang jalan. Kenapa cemberut, huh? Gadis cantik sepertimu lebih cocok jika tersenyum." Sasori mengibaskan saputangannya ke udara lalu kembali memegangnya dihadapan gadis itu.

Ia menggerakkan tangannya dengan pelan sementara tangan lainnya mulai menurunkan saputangan dengan perlahan. Setangkai mawar merah muncul dari balik saputangan dan membuat Sakura tersenyum takjub.

"Woah!" gadis itu bertepuk tangan pelan.

"Seperti itu, kau lebih cantik jika tersenyum seperti itu." Ujarnya sambil menyodorkan setangkai mawar itu pada Sakura.

"Arigatou."

"Hmm." Sasori bergumam pelan lalu menggelengkan kepalanya.

"Sepertinya kau masih belum terlihat gembira. Kurasa aku tau hal lain yang bisa membuatmu lebih gembira." Ia menarik tangan gadis itu dan agak menyeretnya hingga masuk ke dalam

mobil.

"Nii-chan, Kita mau ke mana?" Tanya Sakura bingung.

"Ke suatu tempat yang bisa membuat tersenyum lebar." Jawabnya singkat.

Mereka sampai di tempat yang dikatakan Sasori, tidak terlalu lama karena jaraknya yang dekat dengan sekolah Sakura. Sakura turun dari mobil Sasori, kembali menutup pintu mobil sambil memperhatikan sebuah toko dihadapannya.

"Sasori-nii, kau masih ingat toko es krim kesukaanku?" Tanya Sakura tidak percaya.

"Tentu saja. Aku tidak melupakan semua hal tentang adikku yang manis ini." Sasori merangkul pundak Sakura dengan erat.

Sakura dan Sasori berbincang santai sambil melenggang masuk ke toko yang cukup ramai hari ini.

"Biar aku yang pesan saja, seperti biasa kan?" Tanya pemuda itu. Sakura mengangguk cepat.

"Oh! Kau yang kemarin kan!?" Terdengar sebuah suara dari balik punggung Sasori. Sakura memicingkan matanya dan melihat dua orang yang paling tidak ingin ia lihat berdiri di sana.

Pandangan mata Sasuke terus terarah ke punggung Sasori yang masih belum menatapnya. Sasori membalikkan tubuhnya dan menghadap ke dua orang itu.

"Hai Sasuke." Sapa Sasori santai, sama sekali tidak memedulikan tatapan tajam dari Sasuke. Sara semakin mengeratkan genggamannya dilengan Sasuke, kembali menyadarkan pemuda itu akan keberadaan gadis itu.

"Akasuna Sasori, salam kenal." Sasori memperkenalkan dirinya pada Sara. Ia tau apa yang sedang terjadi antara Sasuke dan Sakura, jadi dia tidak bisa membiarkan keadaan canggung seperti ini terus berlangsung. Setidaknya ia harus mencairkan suasana.

Sara melirik uluran tangan pemuda itu dengan ragu sebelum menyambutnya.

"Yakushi Sara." Jawab Sara singkat.

"Bisa membantuku untuk memesan. Sara-san?" Ajak Sasori. Mungkin ini satu-satunya cara yang bisa ia lakukan untuk memberikan waktu pada Sasuke dan Sakura. Mereka harus berbicara, kalau tidak masalah mereka tidak akan pernah selesai. Ia bersyukur dia sudah kembali ke Konoha sekarang. Kalau tidak siapa yang akan menghibur Sakura saat ini ketika pacarnya justru dikabarkan akan bertunangan dengan gadis lain?

Sekali lagi Sara melirik ragu. Ia mendongak dan melihat Sasuke mengangguk pelan. Ia pun menatap Sasuke dan Sakura secara bergantian sebelum dia mengikuti Sasori ke tempat pemesanan.

.

.

.

Sasuke menarik kursi dihadapan Sakura, duduk dengan diam setelahnya.

Sakura meremas kedua tangannya yang ia sembunyikan di bawah meja karena rasa gugup. Kapan terakhir kali dia berada sedekat ini dengan pemuda itu? Baru beberapa hari yang lalu tapi rasanya sudah berlalu lama sekali.

"Maaf, kemarin aku mematikan telponmu. Ada hal penting yang harus kuurus." Sasuke memulai pembicaraan. Ia menatap Sasuke tanpa berkedip.

Ia marah ketika mengingat kejadian itu lagi setelah Sasuke mengungkitnya. Ia ingin sekali memakinya saat ini. Tapi bagaimana kalau pemuda itu justru meninggalkannya? Ia pun menelan air liurnya. Untuk saat ini, ia tidak bisa bertindak sesukanya. Sedikit saja dia membuat kesalahan, Sasuke mungkin tidak akan pernah berpaling padanya lagi.

"Apa kau akan makan malam di rumahku malam ini?" Tanyanya yang menghiraukan permintaan maaf Sasuke.

"Tidak bisa." Jawab pemuda itu setelah beberapa detik.

"Kau tidak ingin bertanya tentang Sara?" Tanya Sasuke penasaran.

Sakura menggigiti bibir bawahnya. Kenapa Sasuke harus bertanya? Tidak bisakah dia bersikap seolah-olah tidak ada sesuatu yang aneh terjadi?

"Apakah kalian benar-benar bertunangan?" Hanya itu yang mampu ia tanyakan. Pemuda itu terlihat serba salah, jika dia menjawab dengan jujur, akankah Sakura terluka? Tapi jika dia berbohong, akankah Sakura lebih terluka lagi?

"Untuk saat ini, kabar itu hanya desas-desus."

"Untuk saat ini?" Ulang Sakura. Pemuda itu menganggukkan kepalanya dengan pelan dan menatap kedua bola mata Sakura.

.

.

.

Sasori berjalan dengan sangat pelan. Ia ingin mengulur waktu selama mungkin agar Sakura bisa berbicara banyak hal dengan Sasuke. Ia menoleh sekilas ke belakang. Sara berjalan tidak kalah pelan darinya, entah apa yang membuatnya seperti itu.

"Sara-san." Panggil Sasori tiba-tiba.

"Ya?" Sara mengerjap berkali-kali.

"Kau kenal dengan Sakura?" Ia memberikan isyarat pada Sara untuk melanjutkan langkahnya.

"Teman Sasuke-nii?" Sara memicingkan matanya, merasa heran kenapa pemuda itu menanyakan hal seperti itu. Sasori mengucapkan pesanannya dengan pesanan Sakura kepada seorang pria paruh baya yang berdiri di belakang konter.

"Pesananmu?" ia menoleh pada Sara. Gadis itu melihat-lihat daftar menu dan mengucapkan pesanannya juga. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menunggu hingga es krim mereka tersajikan.

"Mereka adalah berpacaran." Tukasnya saat mereka berjalan kembali ke meja mereka.

"…Sebelum kau kembali." Lanjutnya singkat.

Sara membelalakkan kedua matanya. Berpacaran? Sasuke memiliki kekasih? Kenapa tidak terpikirkan sebelumnya tentang kemungkinan ini? Tapi jika mereka memang sepasang kekasih, kenapa Sasuke justru menggubris Sara?

"Aku tidak berbohong, kalau itu yang kau pikirkan." Sergah Sasori seolah bisa membaca perdebatan diri Sara.

Sara menatap Sasuke dan Sakura yang berjarak beberapa meja dari tempatnya sekarang. Raut wajah pemuda itu terlihat sangat serius. Benarkah ini? Setelah ia jauh-jauh kembali demi Sasuke, hati pemuda itu justru sudah tak ada padanya?

.

.

.

"Untuk saat ini?" Ulang Sakura sekali lagi. Sasuke menghela nafas gusar.

"Aku tidak tau, Sakura. Ayahku tidak mengatakan hal itu dengan jelas, dia hanya mengungkit tentang pertunangan tanpa benar-benar menegaskannya."

Sakura membuka mulutnya, masih ingin mencari kepastian tentang Sasuke-Sara yang dielu-elukan media massa. Bagaimana perasaan pemuda itu terhadap Sara saat ini? Ia pun mengurungkan niatnya saat mendengar langkah kaki mendekati mereka.

"Nii-san, aku sudah membawakan es krim kesukaanmu." Sara duduk di samping Sasuke, seolah tak melihat keanehan pada kedua orang itu.

"Kalau begitu, kami permisi dulu ya." Sasori menarik tangan Sakura dengan pelan, membantu gadis itu berdiri. Sakura menatap Sasori dengan bingung, bukankah pemuda itu yang mengajaknya untuk ke sini?

Sasuke mengangkat kepalanya, kembali menatap Sasori dengan tajam saat pemuda itu menggenggam tangan Sakura.

"Bukankah tadi kau bilang ingin menikmatinya es krimmu di pinggir sungai?" Sasori menatap Sakura lekat-lekat, memberikan ajakan agar gadis itu mengikuti kata-katanya untuk mencegah Sakura meneteskan air matanya.

"O-oh." Jawab Sakura setelah mengerti maksud Sasori.

Sasori dan Sakura keluar dari toko es krim secepat yang mereka mampu. Pemuda itu membukakan pintu untuk Sakura, menunggunya hingga masuk lalu menutup pintu dan memutari mobilnya dengan cepat. Ia memasang sabuk pengamannya, ia pun menatap ke dalam toko es krim sekali lagi, melihat Sasuke dan Sara balas menatap ke arah mereka.

Sakura memalingkan wajahnya keluar jendela. Ia tak mampu jika harus menatap mata Sasuke. Segala macam emosinya campur aduk dan akan meledak jika ia melihat pemuda itu sedikit lebih lama lagi.

TO BE CONTINUE . . .

A/N: Author kasih bonus update 2 chap sebagai tanda permohonan author kepada kalian, Yeeyyyyyy, Bravvoo, Horeeee #Abaikan -.-. Terungkap juga dalang yg menjadi permasalahan fanfict ini... dalang penghalang bagi SasuSaku... dalang yang bikin kaki author gatal untuk menendang wajahnya... kekekekeke. Yapp, namanya Sara. Sekedar author ingatkan nama tokoh Sara muncul di Naruto Shippuden The Movie : The Lost Tower, itu lho yg jadi si Ratu Rōran. Thank's yg sudah mendukung fanfict ini, yg sudah mereview dll. Silahkan tinggalkan jejak dan tanyakan apa saja di kolom review ^.~

Salam kecup buat reviewer

Miko Yuuki