The Pervert Glasses

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Angst, Friendship

WARNING!

TYPO, OOC, EYD hancur, banyak kata-kata yang kasar, Rate M (SemiLemon)

"Kau yakin kau baik-baik saja? Kau terlihat sangat pucat." Hinata memerhatikan wajah Sakura dengan seksama. Sahabatnya jelas tidak terlihat baik-baik saja tapi masih mengangguk dan tersenyum untuk meyakinkan dirinya baik-baik saja.

"Karena Sasuke?" Tukas Ino. Sakura mengangkat wajahnya dari makan siang yang sedang ia santap bersama teman-temannya di kantin.

"Bukan, bukan karena dia." Elak Sakura. Ino mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Hanya orang bodoh saja yang akan mempercayai kata-kata Sakura. mereka kenal betul dengan segala gerak-gerik Sakura.

"Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian? Kalian bertengkar?" Hinata bertanya dengan lembut. Sakura menatap kedua sahabatnya dengan ragu dan menggeleng. Ia tidak berbohong, mereka memang tidak bertengkar.

"Apa sekarang kau tidak mau menceritakan masalahmu pada kami? Sai juga, kupaksa seperti apapun, dia tetap menolak untuk menceritakan tentang hubungan Sara dan Sasuke padaku. Kau harusnya ceritakan pada kami, supaya kami tau apa yang sebenarnya terjadi dan bisa membantumu." Omel Ino panjang lebar sambil mengacung-acungkan sumpitnya ke hadapan Sakura.

"Aku sudah selesai makan. Aku mau kembali ke kelas." Sakura tersenyum tipis dan segara bangkit dari tempat duduknya.

"Aku juga." Sahut Hinata yang mengikuti langkah Sakura.

"Tunggu! Aku ikut!" Teriak Ino sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya untuk terakhir kali sebelum berlari mengejar Hinata dan Sakura yang sudah keluar dari kantin.

Ia merangkul pundak mereka berdua setelah berhasil menyamai langkah.

Dua orang siswi yang berjalan di arah yang berlawanan melirik ke arah Sakura sekilas lalu berbisik cukup kuat.

"Kalau Sasuke-senpai dan Sara akan segera bertunangan, bukankah itu berarti tidak ada hubungan apapun lagi antara Sakura-senpai dan Sasuke-senpai?" Bisik salah satu siswi.

"Mungkin saja. Awalnya aku keberatan sewaktu Sasuke-senpai mengakui bahwa dia pacaran dengan Sakura-senpai. Tapi untunglah, dia akan segera bertunangan dengan Sara."

Ino mendelik kedua siswi itu dengan tajam. Hampir saja ia menghampiri mereka dan menjambak rambut mereka sehelai demi sehelai kalau bukan karena Hinata menahannya. Hinata menarik ujung lengan baju Ino dan mengarahkan telunjuknya pada Sakura yang sudah berada beberapa langkah di depan mereka seolah dia tidak mendengar kata-kata barusan.

.

.

.

Sakura membuka kunci layar hp nya berkali-kali sambil mengemut lolipop kesukaannya. Keraguan terlihat jelas di wajahnya. Haruskah dia menghubungi Sasuke? Ia tidak akan siap jika mendapatkan penolakan dari Sasuke, tapi ia sungguh-sungguh ingin menghubungi pemuda itu.

"Kau pasti bisa." ia menyemangati dirinya sendiri dan menarik nafas dalam-dalam sebelum mengirimkan pesan singkat pada Sasuke.

To : Uchiha Sasuke

Mau makan bersama?

Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya untuk menghilangkan rasa gugupnya saat menunggu balasan dari Sasuke. Ia pun melompat kecil saat hp nya berbunyi.

From : Uchiha Sasuke

Tentu. Di kedai udon di dekat rumahmu?

Ia tersenyum lebar dan tak bisa menghentikan dirinya sendiri untuk tidak melompat kegirangan. Sepertinya pemuda itu tidak benar-benar berubah menjadi orang asing baginya.

.

.

.

To : Uchiha Sasuke

Mau makan bersama?

Sasuke tersenyum kecil melihat pesan dari Sakura. Apakah gadis ini merindukannya sekarang? Sejauh yang mampu ia ingat, ini kali pertama gadis itu mengiriminya pesan. Tidak bisa ia pungkiri, ia merasa sangat senang.

"Ada apa Sasuke-nii? Mengapa kau tersenyum selebar itu?" Sara meletakkan sebuah buku dan memicingkan matanya pada Sasuke.

Sasuke hanya melirik gadis itu sekilas lalu menggelengkan kepalanya.

"Sudah kau temukan buku yang kau cari?" Tanyanya sambil membalas pesan dari Sakura.

Sara menggelengkan kepalanya dan menggembungkan pipinya. "Tidak, aku tidak bisa menemukan bukunya."

"Kita bisa mencarinya lain kali, kan? Lebih baik kuantar kau pulang sekarang." Ajak Sasuke, dengan agak bersemangat.

"Ah, menyebalkan. Mengapa harus ada makan malam keluarga segala? Padahal aku masih ingin menghabiskan waktu bersamamu." Rengek Sara yang masih tidak bisa terima. Berkat ide dari Kabuto, orangtuanya setuju untuk mengadakan makan malam keluarga, hanya mereka berempat.

"Jangan begitu. Mereka sangat merindukanmu, itulah mengapa mereka mengadakan makan malam keluarga. Ayo, sebelum kau terlambat pulang dan Kakakmu menyalahkanku." Sasuke terkekeh pelan.

Sara bisa melihat perbedaan suasana hati Sasuke sejak dia mendapatkan pesan masuk di toko buku tadi. Pemuda itu terlihat lebih sumringah. Karena gadis bernama Haruno Sakura itukah? Ia sangat tidak ingin meninggalkan Sasuke, tapi dia tidak bisa melewatkan makan malam keluarga ini atau kakaknya akan mengamuk padanya.

Sasuke mengantar Sara pulang dan langsung melesat ke tempat yang dijanjikannya bersama Sakura. Ia tidak bisa berhenti tersenyum sepanjang perjalanan ke sana. Sebentar lagi dia akan bisa melihat gadis yang rasanya sudah sangat lama tidak ia temui.

Ia pun meminggirkan mobilnya dengan cepat saat ia melihat Sakura berdiri di depan kedai. Gadis itu mendekap tubuhnya sendiri dengan erat, sesekali mengusapkan telapak tangannya yang mulai membeku di lengannya sendiri. Sasuke berdecak pelan dan bergegas menghampiri Sakura.

"Kau harusnya menunggu di dalam." Omelnya. Sakura tidak membalas kata-kata Sasuke, hanya menatapnya dengan takjub. Sasuke benar-benar menepati janjinya. Ia sempat berpikir yang tidak-tidak, seperti Sasuke yang membatalkan janji begitu saja atau bahkan melupakan janji mereka. Untunglah, sepertinya pemuda itu tidak benar-benar berubah seperti apa yang dibayangkannya.

Sasuke menuangkan air hangat dan menyodorkannya pada Sakura setelah mereka masuk dan memesan makanan mereka.

"Hmm, bagaimana kabarmu?" Tanya Sakura. Mengapa ia menjadi canggung seperti ini? Bukankah biasanya ada banyak sekali hal yang bisa mereka bicarakan?

"Bagaimana bisa kau tidak tau kabarku, bukankah kau selalu memperhatikanku di sekolah?" Goda Sasuke. Sakura membelalakkan matanya dan memiringkan wajahnya. Sasuke menopang dagu dan terkekeh pelan tanpa sedetik pun pandangannya teralihkan dari wajah gadis itu.

"Ayolah, akui saja. Kau selalu memperhatikanku, bukan?" Sasuke menyeringai kecil. Sakura mendengus, kehabisan kata-kata. Ini memang Sasuke yang ia kenal, pemuda yang tingkat percaya dirinya diatas rata-rata.

Mereka mengucapkan terima kasih secara bersamaan setelah makanan yang mereka pesan disajikan.

"Waaah! Enak sekali!" Gumam Sakura di sela-sela mulutnya yang mengunyah mie dengan lahap.

"Lain kali akan kuajak kau ke tempat lain, udon mereka tidak kalah enak dari kedai ini."

"Benarkah?"

"Hn." Pemuda itu bergumam pelan dan mengangguk.

"Aku dan Sara mencicipinya kemarin, dan aku yakin kau pasti akan suka." Sasuke tak menyadari air muka Sakura yang berubah.

Gadis itu menghentikan kegiatannya dan menatap pemuda dihadapannya dengan tidak percaya. Barusan Sasuke menyebut nama Sara? Dihadapannya? Ia memberengutkan wajahnya lalu menyelesaikan makannya.

"Sudah selesai? Kuantar kau pulang." Ujar Sasuke yang bersiap untuk berdiri.

"Tunggu!" Sakura menahan tangan Sasuke dan menggigiti bibirnya dengan ragu.

"Bisakah kita berjalan kaki saja?"

Sasuke menaikkan alisnya. Bukankah lebih baik jika mereka mengendarai mobil? Tapi tetap saja ia mengangguk menyetujui permintaan Sakura. Dengan begini, dia bisa berada di samping gadis itu sedikit lebih lama lagi.

Mereka berjalan berdampingan dengan langkah-langkah kecil. Mereka berdua tidak ingin berjalan terburu-buru karena itu berarti mereka harus segera berpisah.

"Sara …" Ucap Sasuke pelan. Sakura menoleh ke arah pemuda itu dengan cepat. Apakah Sasuke salah menyebutkan nama?

"Kau tidak mau tau apa yang terjadi antara aku dan Sara dulu?" Lanjut Sasuke.

Sakura meluruskan pandangannya dengan cepat saat pemuda itu menoleh ke arahnya.

"Dia adalah gadis pertama yang membuat jantungku berdebar begitu cepat. Dia adalah gadis pertama yang bisa merubahku. Dia adalah gadis yang sangat penting." Lanjut Sasuke tanpa memedulikan kebisuan Sakura.

Sakura harus mengatupkan rahangnya dengan erat agar dia tidak berteriak dan memaki Sasuke saat ini juga.

"Oh, benarkah?" Balasnya sama sekali tidak tertarik dengan apa yang dikatakan Sasuke.

"Kau tau betapa leganya aku saat dia kembali? Kupikir dia tidak akan pernah kembali dan melihat perubahanku." Pemuda itu tersenyum kecil yang membuatnya semakin sebal.

"Tapi—"

"Terima kasih sudah mengantarku pulang. Selamat malam." Ia memotong kata-kata Sasuke dan membungkukkan badannya setelah mereka sampai. Ia langsung masuk ke dalam, menutup pintu rumahnya dengan agak keras tanpa menghiraukan pemuda itu.

"Menyebalkan. Tidak bisakah sekali saja dia tidak menyebut nama itu?" Gerutunya.

.

.

.

"Sakura, ada tamu untukmu." Panggil Nyonya Haruno dari lantai satu. Sakura mengernyit. Siapa yang mengunjunginya diakhir pekan seperti ini? Sasuke kah?

Ia yang sudah melupakan kekesalannya kemarin berlari agak tergesa-gesa.

"Oh, Nii-chan." Sapa Sakura saat dia melihat tamunya.

"Sepertinya kau tidak senang melihatku." Tebak Sasori. Sakura mengangkat tangannya dan menggerakkannya dengan cepat.

"Tidak, bagaimana mungkin aku tidak senang melihatmu. Tapi, apa yang membuat nii-chan datang?" Tanya Sakura heran.

"Ino menelponku semalam. Katanya mereka berencana untuk pergi ke Disneyland hari ini dan dia berbaik hati mengajakku untuk menemanimu. Jadi, bisa kita pergi sekarang?" Sasori menyodorkan tangannya ke arah Sakura yang terlihat sedang berpikir untuk menerima ajakannya atau tidak.

"Ayolah, aku sudah datang ke sini, kau tidak mungkin tega untuk menolakku, kan?" Sasori tersenyum manis.

"Baiklah, aku memang tidak bisa menolakmu." Sahut Sakura pasrah. Pemuda itu tertawa puas dan berpamitan pada Nyonya Haruno sebelum mereka berangkat ke Disneyland.

Dari kejauhan, Sakura sudah bisa mengenali Hinata dan Ino serta pasangan mereka di gerbang. Ada juga Neji yang tidak sekalipun berhenti menatap Shion yang sedang berbicara padanya sementara Shikamaru dan Temari terlihat bercanda gurau. Ia juga bisa melihat Sasuke di sana, dan tentu saja pemuda itu tidak sendirian. Siapa lagi yang bersamanya kalau bukan Sara? Memangnya perekat apa yang sebenarnya dipakai Sara hingga ia bisa terus menempeli Sasuke seperti itu?

"Ah, Sakura! Untunglah Sasori-nii benar-benar bersedia menemanimu!" Pekik Ino yang langsung meninggalkan Sai untuk berlari ke arah sahabatnya itu.

"Ino, berhenti berteriak-teriak seolah kau sedang berada di hutan." Sai berkacak pinggang dan memicingkan matanya.

"Dan jangan pergi begitu saja saat aku sedang berbicara denganmu."

"Itu karena kau mengoceh tanpa henti. Aku lelah mendengar suaramu itu." Balas Ino ketus.

Sasori dan Sakura tertawa bersamaan saat melihat pasangan itu berdebat.

Pemandangan itu tak luput dari pengawasan Sasuke. Mengapa Sasori selalu berada dimanapun Sakura berada akhir-akhir ini? Apakah akhirnya Sasori memutuskan untuk mengejar gadis itu?

"Nii-san." Sara mengguncang lengan Sasuke dengan pelan.

"Kita juga harus masuk." Sara menunjuk ke arah 5 pasang lain yang sudah berjalan masuk. Pemuda itu mengangguk pelan tanpa mengalihkan perhatiannya dari satu pasangan tertentu.

Mereka menaiki beberapa wahana bersama-sama. Sakura mencoba sebisa mungkin untuk tidak menatap Sasuke. Untunglah Sasori orang yang sangat menyenangkan dan bisa mengalihkan perhatiannya.

Dia tidak bisa melihat pemuda itu bersama Sara. Dadanya terasa sesak dan ia kesulitan untuk bernafas. Mengapa hanya dia yang merasa seperti itu? Mengapa ia harus merasakannya padahal pemuda itu baik-baik saja dan justru terlihat senang bersama Sara?

"Hei, ayo naik bianglala!" Ajak Hinata. Naruto membeli tiket untuk mereka semua dan menyerahkannya pada petugas.

"Siapa yang akan naik lebih dulu?" Tanya Neji. Temari dan Shikamaru langsung mengacungkan jari mereka dan masuk ke bianglala.

"Selanjutnya?" Tanya Neji lagi sambil mengamati wajah mereka satu persatu.

"Sebaiknya kau saja, Sakura." Lanjut Neji. Sakura mengangguk dan masuk ke dalam bianglala.

Belum sempat ia memutar tubuhnya, dia merasakan seseorang mendorongnya hingga menabrak pelan dinding bianglala. Gadis itu memutar tubuhnya dan terkesiap saat melihat Sasuke berada dihadapannya dengan kedua tangannya bertumpu disampingnya untuk menjaga keseimbangannya.

"Oopps! Maaf, aku tidak sengaja mendorongmu, Sasuke." Sai menutupi mulutnya sendiri dan menahan tawanya agar tidak pecah. Hinata dan Ino saling berpandangan lalu mengangguk dan tersenyum kecil.

Inilah tujuan utama mereka datang ke Disneyland. Mereka tidak bisa lagi melihat keadaan Sasuke dan Sakura yang seperti ini. Mereka butuh tempat dan waktu untuk berbicara, tapi agak kesulitan menemukannya karena Sara sepertinya berada disamping Sasuke 24 jam.

"Nii-san…" Panggil Sara pelan. Ia melangkah maju tapi langsung dicegah oleh Sasori. Pintu bianglala Sasuke dan Sakura tertutup sementara pintu bianglala berikutnya terbuka.

"Kau bisa naik bersamaku, Sara-san." Ajak Sasori yang sejak awal memang sudah diberitaukan oleh Ino mengenai rencana mereka. Dan sepertinya hanya Sasuke, Sakura serta Sara saja yang tidak tau apa-apa.

.

.

.

Sakura duduk dihadapan Sasuke dan menundukkan wajahnya. Wajah pemuda itu yang tadinya berada begitu dekat dengannya masih saja berbekas dibenaknya. Bukankah Sasuke sudah sering melakukannya? Mengapa ia masih saja berdebar tidak karuan?

Sasuke melihat pemandangan diluar dengan tatapan bosan. Ada banyak hal yang dipikirkannya, dan semua itu adalah adegan kebersamaan Sasori dan Sakura sejak mereka sampai di Disneyland.

"Sakura, apa kau dan Sasori berhubungan? Secara serius?" Tanyanya yang sudah tidak bisa lagi menahan pertanyaan itu dibenaknya.

"Apa? Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?"

"Kau dan dia selalu bersama akhir-akhir ini." Balas Sasuke singkat.

"Kalau begitu, apakah kau dan Sara berpacaran? Karena kalian juga selalu bersama." Sakura balik bertanya.

"Bisakah kau tidak mengungkit Sara? Aku sedang membicarakan hubungan antara Sasori dan kau." Desis Sasuke yang tidak mengerti mengapa gadis itu justru balik bertanya. Sakura menggertakkan giginya dengan geram.

"Jangan menatapku seperti itu. Kau tidak berhak marah atas apapun yang terjadi antara aku dan Sasori-nii."

"Tapi aku sudah bilang padamu berkali-kali, kalau aku tidak suka melihatmu bersama Akasuna Sasori."

"Lalu apa pedulimu? Kau bukan siapa-siapaku, Uchiha Sasuke, jadi aku tidak perlu mendengarkan pendapatmu untuk bisa bergaul dengan siapaun. Kau tidak berhak mengaturku." Dari mana keberanian yang Sakura dapatkan untuk berkata seperti itu? Rasanya benar-benar tidak seperti seorang Haruno Sakura, tapi memang ia lah yang baru saja mengatakan hal itu.

Sasuke terdiam. Kata-kata Sakura mengenainya tepat sasaran.

"Bukankah gadis yang membuat hidupmu merana kini telah kembali? Jadi untuk apa kau masih memperhatikan 'mainan' mu ini? Kau cukup membuangnya dan pergi." Lanjut Sakura dengan tajam.

Tatapan pemuda itu berubah sendu. Memang benar apa yang dikatakan oleh Sakura. Ia senang sekali menjahili gadis itu sejak awal karena hanya Sakura lah satu-satunya gadis yang bisa membuat dia ceria kembali—sejak kepergian Sara. Memang awalnya baginya, Sakura tidak lebih dari mainan. Tapi seiring berjalannya waktu, semua itu berubah. Tidak bisakah gadis itu melihatnya?

Pintu bianglala kembali terbuka setelah mereka berputar satu lingkaran. Ia melangkah keluar dengan cepat tanpa memedulikan Sakura.

"Jika Sara tidak kembali, apakah kau akan bersikap seperti ini padaku?" Tanya Sakura mantap. Ia memelankan langkahnya. Pertanyaan Sakura lagi-lagi menancap dihatinya.

Jika Sara tidak kembali, mungkinkah dia akan merasakan ada dinding pembatas diantara dia dan Sakura seperti saat ini? Ia menggelengkan kepalanya dengan pelan, mengusir semua pikiran-pikirannya yang kacau. Ia tidak bisa berpikir jernih saat ini. Tidak ada gunanya ia menjawab kalau jawaban yang akan diberikannya hanyalah luapan emosi belaka.

"Pernahkah kau bersikap tulus padaku sekali saja tanpa menggunakanku sebagai alat untuk melupakan Sara?" Sakura melangkah keluar dari bianglala. Ia bisa melihat Shikamaru dan Temari yang mematung ditempat mereka berdiri, terlihat serba salah.

Sasuke memutar tubuhnya untuk menghadap gadis itu dengan penuh amarah, "Berhenti membawa Sara dalam percakapan ini!" Sentaknya. Sakura terkesiap kaget saat pemuda itu meninggikan suaranya, tapi menolak untuk menunjukkan rasa takutnya. Sasuke mengatur nafasnya yang mulai tak beraturan, hal yang selalu terjadi setiap kali dia marah.

"Aku sudah muak dengan semua ini. Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi, jadi aku akan membuangmu sekarang. Kau puas?"

Sasuke membalikkan tubuhnya dengan cepat, kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda. Ia mengepalkan tangannya dengan erat saat airmatanya terancam tumpah. Mengapa hatinya terasa begitu sakit setelah dia mengatakan kalimatnya sendiri?

Shikamaru terkesiap pelan, sungguh-sungguh tidak menyangka Sasuke akan semarah itu. Terakhir kali Shikamaru melihat sisi emosional sahabatnya itu adalah saat Sara pergi. Mengapa sekarang Sasuke kembali bersikap emosional?

Terdengar bunyi berdebam pelan saat Sakura terjatuh dilantai. Lututnya yang sudah lemas sejak tadi tak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Tidak ada rasa sakit ditubuhnya saat ia terjatuh karena hatinya jauh lebih menderita atas jawaban Sasuke.

Neji dan Shion turun dari bianglala dan memandang Sakura dengan bingung. Sakura terisak pelan, bukannya berkurang, rasa sakitnya justru semakin bertambah.

Sasori membelalakkan matanya dan berlari dengan cepat untuk menghampiri Sakura. Ia mendekap gadis itu dengan erat, meminjamkan dadanya untuk tempat Sakura bersandar saat ini.

.

.

.

Sasuke mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak bisa berkonstrasi dalam melakukan hal apapun dan semuanya karena Sakura. Ia pikir, setelah gadis itu tidak menggubrisnya, semua akan kembali membaik. Ia pikir dia bisa kembali ke titik awal di mana tidak ada Sakura dalam kehidupannya, tapi mengapa ia tidak bisa?

Setiap kali ia melihat gadis itu dari kejauhan, dia ingin sekali memanggilnya. Setiap kali Sakura tersenyum pada orang lain, dia sangat berharap senyum itu diberikan untuknya. Setiap kali Sasori menjemputnya sepulang sekolah dan membuatnya tertawa, ia selalu mengumpat kesal.

Seharusnya dia yang berada di posisi Sasori saat ini. Ya, seharusnya… Tapi sayangnya, kata-kata yang ia ucapkan tidak bisa ia tarik kembali. Kata-kata itu sudah terlanjur menyakiti gadis itu dan tidak akan pernah bisa ia tarik kembali.

Hatinya selalu berdenyut perih setiap kali dia harus berpapasan dengan Sakura di koridor tapi bertingkah seolah mereka tidak saling mengenal. Gadis itupun bahkan enggan untuk sekedar meliriknya. Dan itu semua adalah hasil dari perbuatannya sendiri.

Ada sebuah lubang yang menganga dihatinya. Lubang yang bahkan tidak akan pernah tertutupi dengan kehadiran Sara sekalipun. Banyak penyesalan yang meliputi dirinya. Tidak seharusnya dia begitu emosi waktu itu. Dan memang ia lah yang selama ini bertingkah seperti orang brengsek, mempermainkan Sakura sesuka hatinya. Lalu ketika Sara kembali, dengan seenaknya ia mengesampingkan Sakura. Sungguh, tidak seharusnya dia seperti itu.

"Kau baik-baik saja?" Neji menepuk pundaknya dan menyodorkan segelas air hangat. Di sinilah ia sekarang, ditempat sahabat yang bisa memberikan banyak masukan untuknya.

"Tidak." Jawabnya dengan jujur.

"Aku benar-benar kacau sekarang."

Neji tersenyum tipis, ikut merasa prihatin dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu.

"Jangan menyesali apapun, tidak akan ada yang berubah hanya karena kau menyesal."

"Aku tau, tapi …" Sasuke menghentikan kata-katanya sendiri. Tidak tau malukah jika dia bilang dia ingin memiliki Sakura kembali?

"Jangan disesali, tapi perjuangkan lagi."

"Tidak semudah itu Neji." Sasuke mendesah pelan.

"Mengapa? Kau masih belum yakin siapa yang lebih kau cintai?" Neji memicingkan matanya.

"Bukan siapa yang lebih kucintai, karena gadis yang kucintai itu hanya satu. Seperti yang kau katakan, ketika melihat Sakura terluka, aku justru lebih terluka darinya." Ringis Sasuke.

"Nah, kalau begitu apalagi masalahnya?" Tanya Neji bingung.

"Itulah masalahnya, aku sudah menyakitinya. Dia tidak akan memaafkanku, tidak akan pernah."

"Kau bukan Sakura, jadi atas dasar apa kau begitu yakin dia tidak akan memaafkanmu? Sakura mungkin saja punya pemikiran yang lain, kan?" Desak Neji. Sasuke menatap sahabatnya dengan sungguh-sungguh. Benarkah itu?

.

.

.

Sakura duduk bersila diatas tempat tidurnya. Dia terus memaksa dirinya untuk tertawa dihadapan Hinata dan Ino, juga Sasori karena tidak ingin mereka khawatir. Tapi disaat sendirian seperti ini, ia tidak bisa menghentikan dirinya sendiri untuk tidak memikirkan Sasuke.

Kata-kata pemuda itu benar-benar memberikan luka yang sangat mendalam baginya, tapi mengapa dia masih saja memikirkan Sasuke? ia berharap bahwa apa yang terjadi di Disneyland waktu itu hanyalah mimpi belaka agar dia tidak perlu sesakit ini. Tapi kenyataan memang tidak pernah menyenangkan.

Ia tidak menyangka bahwa dirinya, Haruno Sakura, akan jatuh cinta pada Sasuke— pemuda bermuka dua yang selalu saja menggodanya. Dan Tuhan benar-benar kejam. Mengapa disaat ia baru saja menyadari perasaannya, Sasuke justru sudah menghilang dari pandangannya?

Ia selalu menutup matanya setiap kali pemuda itu dan Sara muncul dihadapannya, tapi sampai kapan ia bisa melakukannya? Ia tidak bisa terus menutup mata untuk selamanya.

Jika diingatnya kembali, ada banyak kesempatan baginya untuk mempertahankan Sasuke tetap berada di sisinya.

Ia tertawa sinis pada dirinya sendiri. Tidak, tidak ada kesempatan seperti itu. Bukankah ia hanyalah mainannya saja? Jadi kesempatan apa yang sedang dibicarakannya? Suara tawanya berubah menjadi isakan tertahan saat tetes demi tetes airmatanya mulai turun. Mengapa rasanya begitu menyakitkan saat mengetahui orang yang disukainya tidak pernah melihat dia seperti dia melihatnya?

Nyonya Haruno masuk ke kamar Sakura saat mendengar suara isakan dan sangat terkejut saat dilihatnya Sakura tengah menangis.

"Ada apa sayang?" Tanya ibunya yang langsung menghampiri Sakura dan memeluk putrinya. Tangis Sakura semakin menjadi. Kehangatan yang diberikan oleh ibunya membuatnya tak kuasa untuk menahan emosinya lebih lama. Ia balas memeluk ibunya dengan erat, berharap kehangatan itu bisa melindunginya selamanya.

"Ssh, meski ibu tidak tau apa yang terjadi, tapi semuanya pasti akan segera membaik." Hibur Nyonya Haruno. Sakura mengangguk pelan, memahami niat baik ibunya.

.

.

.

"Woah, ternyata kalian memang sangat serasi." Puji seorang pria yang usianya berkisar pertengahan 50 pada Sasuke dan Sara. Sasuke hanya tersenyum sopan pada rekan bisnis ayahnya. Ia tau bahwa pria itu hanya sedang menjilatnya saja, tapi dia tidak ingin merusak nama baik ayahnya dengan bersikap tidak sopan, tidak disaat hari baik ini sedang berlangsung.

Sara hanya tersipu malu saat beberapa orang lainnya juga memuji mereka.

"Sasuke." Panggil sebuah suara. Baik Sara maupun Sasuke berbalik untuk mengetahui siapa si pemilik suara.

"Oh, otousan." Sapa Sasuke saat Tuan Haruno berdiri dihadapannya. Pandangannya teralih pada Sakura yang berdiri agak dibelakang Tuan Haruno, menatap ke arah lain—ke manapun asal bukan ke arahnya. Lagi, hatinya berdenyut perih.

Sakura tidak menyangka jika ibunya ternyata membawanya ke pesta ulangtahun Uchiha Corp. Kalau tau sejak awal, ia pasti akan menolak karena dia tau dia pasti akan bertemu dengan Sasuke—juga Sara.

Tuan Haruno bercakap-cakap dengan Sasuke sebentar lalu pergi untuk mengucapkan selamat pada ayah Sasuke. Sakura bersikeras ingin mengikuti kedua orangtuanya saat mereka memaksanya untuk tinggal dan mengobrol bersama Sasuke. Tidak ada yang bisa mereka obrolkan, hal itu justru akan membuat suasana diantara mereka semakin canggung.

Ia berdiri seorang diri disudut ruangan pesta yang terletak di ballroom salah satu hotel bintang lima. Ia terlihat sangat bosan, karena jelas tidak ada yang dia kenal di pesta ini.

Sasuke berada di sisi ruangan yang lain dari Sakura, tapi matanya tidak pernah berhenti memerhatikan gadis itu, takut kalau gadis itu akan menghilang.

"Nii-san, kau tidak mendengarkan kata-kataku lagi." Gerutu Sara. Sasuke dari tadi terus berada disampingnya, tapi tidak sekalipun pemida itu memerhatikan Sara. Sasuke menjulurkan kepalanya dibalik kerumunan para tamu saat Sakura berjalan keluar dari ruangan ballroom.

"Maaf, Sara, aku harus pergi sebentar."

"Tidak, kau tidak harus pergi." Sara menahan tangannya.

Ia tau apa yang mengganggu pikiran Sasuke belakangan ini, tapi lagi-lagi ia memilih untuk berpura-pura tidak mengetahuinya. Dia tidak ingin kehilangan Sasuke, tidak bisa.

"Maafkan aku." Ucap Sasuke memelas.

"Tidak. Bukankah selama ini nii-san selalu menungguku? Ini tidak mungkin. Tidak mungkin." Sara menggelengkan kepalanya dengan cepat. Rasa takut menjalarinya. Sasuke tak lagi menjadi miliknya. Dia telah kehilangan pemuda yang menjadi alasannya kembali.

"Sara, aku juga tidak pernah berharap semuanya akan berubah menjadi serumit ini. Tapi mengertilah, untuk saat ini—dan seterusnya—aku tidak bisa kehilangan Sakura. Aku sudah menyakitinya cukup banyak. Meski tidak bisa dimaafkan olehnya, aku tetap harus menyembuhkan luka yang telah kuberikan. Bagiku Sakura adalah segalanya. Maafkan aku, Sara."

Terlalu sulit bagi Sasuke untuk melihat gadis yang pernah berperan penting dalam hidupnya meneteskan airmata, tapi akan lebih sulit lagi bagi Sasuke jika Sakura tetap terluka seperti sekarang. Ia berjalan dengan perlahan hingga genggaman tangan Sara terlepas. Ia pun menatap Sara dengan tatapan menyesal, tapi toh ia tetap harus mengejar Sakura.

.

.

.

Sakura menatap ke sekeliling koridor dengan bingung. Aneh, ia yakin tadi ia melihat toilet di lantai ini.

"Hai, nona. Apa kau sendirian?" Tanya seorang pria tua yang menatapnya dengan pandangan menjijikkan. Sakura mengernyit. Pria tua ini sedang menggodanya? Astaga, tidak ingatkah pria tua ini pada anak dan istri yang menunggunya di rumah?

Ia mengabaikan pria itu dan terus berjalan, tapi pria itu tidak mau membiarkannya begitu saja.

"Lepaskan aku!" Pekiknya saat pria itu menarik tangannya.

"Nona, tidak sopan jika kau pergi begitu saja saat orang yang lebih tua sedang berbicara denganmu." Pria tua itu berdecak pelan.

"Tuan, jangan sentuh gadisku dengan tangan kotormu itu!" Suara Sasuke tiba-tiba saja terdengar.

"Satu lagi anak muda yang tidak punya sopan santun." Cetusnya.

Sasuke mempercepat langkahnya dan menarik tangan pria itu dari Sakura.

"Tuan, pergilah sebelum aku mulai melakukan kekerasan." Ia memperingati. Tapi pria itu tidak gentar dan justru mengangkat tangannya untuk memukulnya.

Dengan sigap ia mencengkram tangan pria itu dan menghempaskannya ke lantai. Ia meremas kepalan tangannya dan menatap pria itu dengan tajam, dan kali ini pria itu lari dengan cepat.

"Kau tidak apa-apa?" Ia berputar menghadap Sakura. Gadis itu hanya balas menatapnya tanpa menjawab. Ia tau, Sakura masih sangat terluka pada kata-katanya waktu itu. Dan untuk itulah dia memberanikan dirinya untuk menemui Sakura. Sakura memalingkan wajahnya dan menghirup nafas dalam-dalam. Ia tidak ingin menatap pemuda itu karena itu hanya membuatnya semakin menggila.

Sasuke bergumam pelan lalu menarik gadis itu memasuki lift yang berada beberapa langkah dari tempat mereka berdiri sekarang.

Sakura meronta pelan, tapi sama sekali tidak bisa melepaskan diri dari Sasuke.

Setelah pintu lift tertutup, Sasuke membuka mulutnya. "Sakura, aku—"

BAAAAAM!

Tiba-tiba saja lift berguncang pelan dan menimbulkan suara-suara gaduh. Refleks, Sasuke menarik Sakura ke dalam pelukannya, melingkarkan tangannya di kepala Sakura untuk melindungi gadis itu.

Ia melihat ke sekeliling, tapi tidak tau apa yang terjadi. Setelah suara-suara dan guncangan berhenti, lampu lift padam. Sakura memekik kencang saat penerangan di dalam lift menghilang.

Ia melepaskan Sakura setelah yakin tidak ada guncangan lagi. Ia pun menekan semua tombol lift, tapi tidak ada yang berfungsi. Sinyal hp pun tidak ada.

"Kita terjebak di sini sampai ada orang yang menyadari kita menghilang." Ucapnya pelan, entah didengar oleh Sakura atau tidak.

Sakura menghela nafas, memerosotkan tubuhnya sambil memeluk lutut dan bersandar di dinding lift. Sasuke pun mengikuti Sakura, duduk tepat di sampingnya.

Sakura memandang lurus ke depan. Meski kegelapan nyaris membuat ia tidak bisa melihat wajah Sasuke, tapi ia masih merasakan kehadirannya yang begitu dekat.

"Maaf…" Bisik Sasuke pelan. Sakura melirik sekilas, tapi buru-buru memandang lurus.

"Tentang waktu itu. Aku tidak bermaksud mengatakan hal seperti itu, aku hanya… Aku hanya terlalu emosi." Sasuke merasa malu pada dirinya sendiri. Karena egonya-lah dia menyakiti orang lain. Tidak, bukan orang lain, tapi orang yang sangat berharga baginya. Masih pantaskah dia mendapatkan kata maaf? Masih sudikah Sakura memberikan kata maaf?

Tubuh gadis itu menegang. Berapa banyak usaha yang dilakukannya untuk melupakan kejadian itu? Seberapa sering dia tersenyum ramah pada orang-orang disekitarnya untuk meyakinkan mereka bahwa dia baik-baik saja? Berapa banyak hal yang ia tertawakan dengan berlebihan untuk mengusir rasa sakitnya?

Terlalu banyak hal yang dia lakukan untuk melupakan kejadian itu, dan semua usaha itu membuatnya lelah. Lalu sekarang, Sasuke duduk di sampingnya, mengingatkan dia lagi pada kejadian itu. Bukankah itu berarti semua usahanya sia-sia saja?

"Sakura, kumohon maafkan aku.." Ucap Sasuke lirih. Apa yang harus dilakukannya agar gadis itu bersedia menjawabnya? Tidak, ia tidak berharap banyak dengan menginginkan Sakura segera memaafkannya. Setidaknya untuk saat ini, ia hanya ingin mendengar suara gadis itu, suara yang sangat dirindukannya.

"Sasuke-san.." Sakura akhirnya bersuara. Ia menoleh dengan cepat.

"Tidak ada yang terjadi diantara kita, bukan? Jadi mengapa kau terus meminta maaf?" Tukas gadis itu dingin.

"Mengapa kau menganggap tidak ada yang terjadi pada kita? Kau seharusnya marah padaku, tapi kau malah memilih untuk bersikap dingin seperti ini." Ia mendesah geram. Sakura yang berada dihadapannya berbeda jauh dengan Sakura yang ia kenal. Dan itu semua adalah akibat perbuatannya.

"Sasuke-san, tidak ada yang ingin kubahas denganmu." Tukas Sakura masih menggunakan nada yang sama dinginnya.

"Ah, aku mengerti sekarang. Bukankah bagimu, aku juga hanya sekedar alat untuk melupakan Sasori? Dan setelah Sasori kembali, kau juga ingin mencampakkanku?" Cemoohnya yang berhasil membuat darah Sakura mendidih.

"Apa? Dengar, Tuan Uchiha Sasuke! Jelas-jelas orang yang melakukan kesalahan adalah kau, mengapa kau justru menumpahkan kesalahanmu pada orang lain? Kau memang brengsek!" Sakura meluapkan emosinya. Sudah cukup. Rasa sakit yang diberikan oleh Sasuke sudah lebih dari cukup untuk membuatnya membenci pemuda itu, perlukah dia menambahkan alasan lain baginya untuk benar-benar membencinya?

Ia pun terisak pelan tanpa ia sadari dan merutuk dirinya sendiri. Mengapa ia begitu cengeng? Tidak cukupkah dia telah menangis beberapa hari ini? Mengapa dia harus menangis lagi dihadapan Sasuke?

Sasuke menarik tangan Sakura dengan cepat dan mendekapnya erat.

"Lepaskan aku! Aku benci padamu!" Teriak Sakura disela-sela tangisnya. Ia tidak berkata apa-apa dan membiarkan Sakura memukuli tubuhnya hingga gadis itu puas sambil terus memakinya.

Inilah yang diinginkannya. Daripada Sakura diam, ia lebih suka jika gadis itu berteriak histeris dan memukulnya seperti ini. Ia yakin Sakura akan merasa jauh lebih baik.

"Maafkan, aku Sakura." Ia meminta maaf untuk kesekian kalinya. Meski ia tau itu tidak cukup, tapi hanya dari kata-kata itulah dia bisa menunjukkan ketulusannya pada Sakura.

Tubuh gadis itu masih berguncang karena tangisnya, tapi dia tak lagi memukul Sasuke.

"Aku menyesalinya. Aku menyesal karena telah memperlakukanmu dengan sangat buruk sejak kepulangan Sara. Tapi kau juga harus mengerti. Aku menunggu Sara sekian lama, dan saat dia kembali aku nyaris melupakan segala hal. Dia adalah gadis yang pertama kali membuatku jatuh cinta. Dia memiliki arti tersendiri bagiku. Aku tidak bisa begitu saja melupakan Sara." Bisik Sasuke lirih.

Sakura mendorong tubuh Sasuke, mencoba untuk melepaskan dirinya dari pelukan pemuda itu. Sasuke mengencangkan pelukannya, tidak membiarkan Sakura menjauh darinya—tidak akan pernah lagi.

"Tapi mengapa ketika aku mengatakan kata-kata yang sangat kejam padamu, aku justru ikut merasa terluka? Bahkan lebih buruk dari itu. Aku selalu tidak suka melihat kau tersenyum ramah pada orang lain, padahal kau mengabaikanku di sekolah. Aku tidak suka melihat Sasori yang membuatmu tertawa, karena seharusnya aku juga bisa melakukan hal yang sama untukmu." Ungkap Sasuke jujur.

"Mungkin ini terlambat, tapi aku tetap ingin mengatakannya padamu." Ia menarik tubuh gadis itu agak menjauh darinya. Meski cahaya di dalam lift sangat buruk, samar-samar ia masih melihat wajah Sakura yang basah oleh airmata. Ia menatap kedua bola mata Sakura yang juga balas menatapnya. Masih ada sorot kemarahan dan luka di mata gadis itu yang ditangkap dengan jelas oleh pandangannya.

"I love you, Haruno Sakura, so much." Aku Sasuke dengan suara lembut.

"Berhenti mempermainkanku… Apa tidak cukup kau melukaiku?" Air mata Sakura kembali tumpah. Perasaannya tidak karuan. Apakah ini mimpi? Apakah pemuda itu sedang membohonginya? Mengapa ia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja ia dengar? Bukankah hal ini terlalu indah untuk dijadikan sebagai kenyataan?

"Aku tidak bisa menyalahkanmu kalau kau memang tidak bisa mempercayaiku. Tapi aku serius. Bahkan aku tidak pernah mengatakan kata-kata itu pada Sara. Hanya untukmu, aku mengatakannya hanya untukmu seorang."

Untuk kali pertamanya, Sakura melihat kesungguhan dan ketulusan di mata Sasuke. Bisakah dia mempercayai Sasuke? bisakah dia mempercayai orang yang telah menyakitinya begitu dalam?

"Would you be my girl, Haruno Sakura?" Sasuke meraih tangan Sakura dan mengecup dengan lembut, membuat gadis itu lagi-lagi terpana.

"Bukankah kau menyukai Sara?" Tanya Sakura ragu.

"Tidak lagi. Semua yang kurasakan padanya sudah berubah karena kau." Sasuke tersenyum manis dan mengusapkan ibu jarinya di pipi gadis itu yang masih berlinang airmata.

"Bisakah aku mempercayaimu?" Sasuke tersenyum tipis dan mengangguk.

"Aku berjanji, tidak, aku bersumpah tidak akan membuatmu menangis lagi. Selamanya. Jadi, bersediakah kau mempercayaiku?" Ia menatap Sakura dengan cemas. Tidak ada jaminan bahwa gadis itu akan memberinya kesempatan, yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah berharap sebanyak yang ia mampu.

Senyum di wajah Sasuke merekah dan pundaknya terasa ringan setelah Sakura mengangguk pelan. Ia mendekatkan wajah mereka, berbisik "I love you" tepat dibibir Sakura sebelum melumatnya dengan lembut.

Inilah yang memang ia inginkan, berada di sisi Sakura, menjadi miliknya seorang. Mungkin apa yang ia rasakan pada Sara dulu memang lah cinta, tapi jelas cinta yang ia rasakan pada Sakura jauh berbeda dengan cinta yang ia rasakan untuk Sara.

"Apakah ada orang di dalam!?" Teriak seseorang dari luar lift yang membuat Sasuke dan Sakura menghentikan ciuman mereka.

"Ya, ada orang di dalam!" Sasuke balas berteriak. Ia kembali menatap Sakura yang menundukkan wajahnya dengan malu. Ia kembali tersenyum. Ternyata memang gadis itulah yang bisa membuatnya seperti ini, bukan Sara.

.

.

.

Sara berayun pelan di taman dekat rumahnya. Kata-kata Sasuke terus terngiang dan membuatnya ingin menangis. Mengapa dia selalu melakukan hal yang membuatnya menyesal?

Saat di Suna dulu, dia hidup dengan sangat bahagia bersama kekasihnya yang selalu memanjakan dia layaknya putri. Tapi akhirnya is merasakan ada yang kurang dari kebahagiaan itu. Dia menyesal telah meninggalkan Sasuke dan menyakitinya.

Setelah membuat keputusan yang tidak mudah dengan meninggalkan kekasihnya untuk kembali pada Sasuke, semua justru berakhir dengan tragis. Seharusnya dia tidak melakukan hal ini. Sekarang ia menyesal telah kembali ke Konoha.

Tidak hanya karena dia telah kehilangan dua orang yang berarti baginya—Sasuke dan mantan kekasihnya, tapi juga karena dia telah bersikap egois. Seharusnya sejak awal ia bisa melepaskan Sasuke saat dia tau pemuda itu dan Sakura berpacaran. Mengapa ia justru bersikap keras kepala dan mencoba peruntungannya?

Sekarang dia seorang diri. Tidak ada lagi kekasih yang selalu melindunginya, tidak ada juga Sasuke yang selalu memerhatikannya.

"Apa yang kau lakukan seorang diri semalam ini?" Tanya sebuah suara. Ia mendongak dan nyaris terjatuh dari ayunan yang ia duduki saat melihat sosok Sasori menjulang dihadapannya. Pemuda itu duduk di ayunan di sebelahnya dan memasukkan tangannya ke dalam saku blazernya dengan santai.

"Tidak baik jika seorang gadis berada di luar rumah semalam ini." Sasori mengalihkan pandangannya dari wajah Sara ke gaun yang dikenakannya.

"Apalagi menggunakan gaun seperti itu."

Sara hanya menunduk, menatap kakinya yang menendang batu-batu kerikil kecil lalu menghela nafas.

Pemuda itu menggelengkan kepalanya dan bangkit dari ayunan. Ia berjalan ke belakang Sara, melepaskan blazer putih miliknya dan meletakkannya di pundak gadis itu.

"Pulang lah sebelum malam semakin larut." Ia maju beberapa langkah meninggalkan Sara. Gadis itu menyentuh blazer Sasori yang membuatnya merasa hangat dan berdiri dari ayunan.

"Sasori-kun…" Panggil Sara pelan. Sasori menghentikan langkahnya. Sebuah sebutan yang sudah lama tidak ia dengar dari suara ini.

"Mengapa kau tidak bertanya apa yang terjadi? Mengapa kau tidak menertawakan aku yang terlihat sangat konyol karena berharap Sasuke masih menyukaiku?" Tanya Sara bingung. Sasori menarik nafas dalam-dalam lalu berbalik.

"Aku tidak akan menertawakanmu. Kau berjuang untuk orang yang kau cintai, jadi kenapa aku harus menertawakanmu?" Ia balik bertanya.

"Karena aku telah kehilangan segalanya. Sasuke-nii… Dan juga kau.." Ucap Sara lirih.

Tak bisa dipungkiri, hati Sasori terasa sakit melihat gadis yang pernah menjadi miliknya terlihat sangat menyedihkan. Tapi inilah hidup, tidak semua hal akan berlangsung tanpa masalah.

"Aku tau kau adalah gadis yang tegar." Balas Sasori sedatar mungkin.

Sara mengerjapkan matanya berkali-kali saat pandangannya mulai memudar. Sekelilingnya berputar dengan cepat sebelum ia kehilangan kesadarannya.

"SARA!" Teriak Sasori saat melihat tubuh gadis itu nyaris terhempas ke tanah sebelum ia berlari dengan cepat dan meraihnya.

Ia mengantar Sara kembali ke rumahnya lalu meletakkan tubuh rapuh gadis itu diatas tempat tidurnya yang ditunjukkan oleh Kabuto.

Ia mengelus wajah Sara dan menatapnya selama beberapa detik sebelum beranjak keluar.

"Permintaanku mungkin terdengar egois, tapi tidak bisakah kau menjaga adikku?" Tanya Kabuto begitu Sasori keluar dari kamar Sara.

"Aku tau, kau lah pria misterius yang membuat Sara pergi ke Suna. Jika hubungan kalian sempat goyah karena pihak luar, tidak bisakah kalian mencoba sekali lagi?" Lanjut Kabuto saat Sasori menatapnya dengan bingung.

"Apa?" Sasori memicingkan matanya, meragukan arti dibalik kata-kata pemuda itu.

"Bukankah kau dan Sara goyah karena orang lain? Dan bukankah sekarang orang lain itu sudah bersama-sama? Kenapa kalian tidak mencoba lagi dari awal?"

Sasori tertawa lemah dan menyisir rambut merahnya menggunakan jari tangan.

"Aku tidak bisa memulai semuanya dari awal lagi bersama Sara. Bukan karena aku tidak mencintainya lagi. Justru karena aku masih sangat mencintainya, aku tidak bisa muncul dihadapannya. Lebih baik Sara melupakan masa lalunya—tentang aku maupun Sasuke, karena dia pasti akan lebih terluka jika harus mengingat masa lalunya." Ia menoleh sekilas ke arah kamar Sara yang sekarang sudah tertutup rapat.

"Tolong jaga dia." Ia menundukkan kepalanya dan keluar dari kediaman Yakushi.

Kabuto menghela nafas pelan. Meski ia masih marah atas sikap egois Sara, tapi gadis itu tetaplah adiknya yang sangat berharga baginya. Dan sekarang, ia harus mempersiapkan dirinya untuk menghibur Sara.

TO BE CONTINUE . . .

A/N: Akhirnya chap 13 selasai. Oke, author ulas pertanyaan dari kalian. Disini awalnya si Pantat ayam memang PHP-in si jidat lebar tp endingnya bakal happy ending kok, kalian tau kan maksud author (endingnya happy ending sama author, author bakal kawin lari sama si pantat ayam) Ahahahaha. Oke next, Ini cerita memang milik Yuyu, dan ia adalah sepupu author -.-. Ia seorang kpop lovers sedangkan author penyuka anime. Ia sendiri yg mengusulkn author untuk mereplace ffnya ke versi anime. Maaf author belum sempat cerita ke kalian T.T (gampar readers). Next chap adalah chap yg terakhir jadi author harap kalian tidak sedih TT^TT. Thank's yg sudah mendukung fanfict ini, yg sudah mereview dll. Silahkan tinggalkan jejak dan tanyakan apa saja di kolom review ^.~

Thanks to:

Yoshimura Arai, respitasari, hanazono yuri, Drisana620, hanna, williewillydoo, Airata Amadisa, UchiHaruno Sya-Chan, chiu, Cherry Uchiha, asdfgh, Akira Fly, genie luciana, luhannieka, 1, elzakiyyah, Azizah929, Ciisiichuabbykireiina454, nurvieee-chan, Shizu F, Desta Soo, mikumi16, Ochie, carnations, Guest, Qren, Bebek goyeng, gita zahra, ongkitang, echaNM, nkaalya, Kiki Kim, desypramitha26, Sachika Arikazuto, Jamurlumutan462, zarachan, Annatasya Prameswari, xxx, lightflower22, Uchiha Pioo, dianarndraha, lililala249, .2002, login yuk, piguin, uchiha della, umaachiee, Guest

Salam kecup buat reviewer

Miko Yuuki