The Pervert Glasses
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Angst, Friendship
WARNING!
TYPO, OOC, EYD hancur, banyak kata-kata yang kasar, Rate M (SemiLemon)
Sakura menghela nafas pelan, sedang mencoba mengusir rasa jengkel dari dalam dirinya. Sepasang tangan melingkar semakin erat dipinggangnya, mengingatkannya akan kehadiran orang lain di sampingnya.
"Ada apa?" tanya Sasuke datar.
"Kau tau alasannya." timpal Sakura masih dengan nada jengkel yang pekat. Sasuke tertawa, mengakibatkan tubuh mereka bergetar pelan. Gadis itu memicingkan matanya, lalu menoleh dengan cepat pada Sasuke. Tatapannya terlihat begitu mengancam hingga membuat pemuda itu menutup mulutnya rapat-rapat, tidak lagi mengeluarkan suara tawa.
"Kau tidak perlu khawatir. Tentang pertunangan itu, aku akan menyelesaikannya sesegera mungkin. Aku janji." ucap Sasuke tak lagi main-main.
"Kau tau kan, aku hanya tidak ingin—" Kata-kata Sakura langsung terhenti saat Sasuke melumat bibirnya tanpa peringatan lebih dulu, membuatnya terpaksa harus menelan kembali kata-kata yang siap ia lontarkan.
"Kau hanya tidak ingin kebahagiaan kita berakhir begitu cepat. Percayalah, aku juga ingin agar kebahagiaan kita tak berujung." Sasuke tersenyum manis. Ia mengecup ujung hidung Sakura, lalu mengecup bibir gadisnya sekilas dan kembali memberikan senyum manisnya yang mampu membuat gadis itu meleleh di cuaca sedingin ini. Ia mengangkat dagu Sakura, berniat kembali melumat bibir gadis yang ia cintai.
"Kami pulang!" teriak Nyonya dan Tuan Haruno berbarengan dari luar pintu. Dengan cepat Sakura mendorong Sasuke—tanpa ia sadari.
"Sakura, kami—loh, Sasuke? Apa yang sedang kau lakukan di lantai?" tanya Nyonya Haruno—Mebuki kebingungan. Sasuke hanya mendelik geram pada Sakura. Seharusnya gadis itu tak perlu mendorongnya begitu keras hingga bokongnya harus mencium lantai yang dingin. Dan sekarang, ia akan menyerahkan semuanya pada Sakura—untuk menjawab pertanyaan dari Nyonya Haruno.
"Dia… Uhmm.. Tadi.." Kata-kata yang tidak beraturan keluar dari mulut Sakura yang panik dan membuat Sasuke sedikit iba. Pemuda itu berdiri dan merapikan letak kacamatanya lalu mendekati Tuan Haruno—Kizashi yang membawa beberapa kantong belanjaan.
"Wah, apa yang kalian beli?" tanyanya berusaha mengubah topik pembicaraan, dan memang berhasil karena perhatian Mebuki langsung teralih. Dengan semangat yang menggebu-gebu Mebuki memamerkan hasil belanjaannya pada Sasuke sementara Kizashi hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil.
.
.
.
Sai menghentikan langkahnya saat ia melihat ada sesuatu yang janggal. Shikamaru sedang tersenyum bangga. Ia berjalan memasuki gerbang sekolah bersama Temari—dengan bergandengan tangan.
Sai tertawa geli, melihat kemesraan mereka. Naruto merangkul pundak Sai, ikut tersenyum geli melihat sahabat mereka.
"Apakah.." Neji bergabung dengan mereka lalu melirik tangan Shikamaru, "Ada sesuatu yang harus kita rayakan?"
"Tentu!" jawab Shikamaru sambil tersenyum. "Kami—" Shikamaru mengangkat tangan mereka dan senyumnya semakin bertambah lebar, "Pacaran lagi!"
"Selamat. Tapi kuharap, kali ini kalian tidak putus lagi." ucap Sai
"Karena kami tidak mau melihat Shikamaru menjadi gila. Lagi." timpal Naruto dengan cepat, setengah berbisik pada Temari yang tersenyum tipis.
"Tentu!" jawab Shikamaru dan Temari bersamaan yang mengundang gelak tawa ketiga sahabatnya.
"Pagi." sapa Sasuke datar sambil menggerutu pelan. Ia melewati teman-temannya begitu saja, terlihat tidak tertarik pada apa yang sedang mereka bahas.
"Teme, kenapa kau?" tanya Naruto bingung. Naruto melebarkan langkahnya untuk mengejar Sasuke, diikuti oleh teman-temannya yang lain.
"Aku sedang frustasi saat ini." gerutu Sasuke, sama sekali tidak memelankan langkahnya, membuat Naruto harus sedikit berlari untuk menyamai langkahnya dan kaki panjangnya.
"Yah, hal itu sudah terlihat jelas dari wajahmu. Lalu, alasannya?" tanya Sai tidak sabaran.
Sasuke tidak menjawab pertanyaan Sai saat ia membuka pintu ruang OSIS selebar mungkin dan sengaja tidak menutupnya karena ia tau teman-temannya masih mengekor di belakang.
Sasuke menghempaskan tubuhnya dengan kasar di sofa dan menghela nafas berat. Ia membuka kacamatanya, lalu melemparkannya begitu saja ke atas meja tanpa peduli apakah kacamatanya lecet atau bahkan hancur.
"Tentang pertunangan itu." Ia mulai bercerita setelah mendapati tatapan tajam ala Sai.
"Sudah seminggu dan ayah masih belum kembali ke Konoha. Padahal persiapan acara pertunangan itu terus berjalan. Kemarin, orang hotel mengabari kalau ballroom mereka bisa digunakan untuk menyelenggarakan acara hari minggu depan. Ini bisa membuatku gila! Aku bahkan tidak punya kesempatan untuk menjelaskan pada ayah bahwa aku tidak mungkin bertunangan dengan Sara."
"Kapan rencananya ayahmu akan kembali ke Konoha?" tanya Neji.
"Entahlah. Aku sudah mencoba menghubunginya, tapi gagal."
"Gawat, bagaimana kalau undangannya sudah dicetak dan disebar? Akan sulit untuk membatalkannya kalau sampai hal itu terjadi." gumam Naruto yang semakin membuat Sasuke gelisah.
"Terima kasih. Kau membuat Sasuke semakin galau." ucap Sai dengan nada sinis.
"Apa? Yang kukatakan memang benar kan?" elak Naruto.
"Kalau kau tidak bisa menghubungi ayahmu, mengapa tidak langsung kau temui saja?" Shikamaru memberikan pendapatnya yang membuat ruangan menjadi sunyi.
"Shikamaru, kau memang penyelamatku!" teriak Sasuke sambil memeluk merangkul Shikamaru dengan erat.
"Ough! Pantat ayam, kau meremukkan tulangku!" protes Shikamaru.
.
.
.
Sara menatap cangkir kopi dihadapan dengan tatapan kosong. Ia telah melakukan hal itu selama beberapa waktu. Bahkan kepulan asap dari dalam cangkir kini telah menguap ke udara.
Kursi dihadapannya ditarik dan Sakura duduk di sana. Meski terlihat agak canggung, Sakura mencoba untuk tersenyum sopan padanya. Sara pun demikian, ia mencoba untuk tersenyum pada gadis yang ada dihadapannya.
Setelah berdiam diri cukup lama, Sara memutuskan untuk menghubungi Sakura sepuluh menit lalu dan meminta gadis itu untuk datang menemuinya.
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Sakura. Sara hanya terdiam. Ada banyak hal yang ingin ia sampaikan, tapi entah mengapa saat ini pikirannya menjadi kosong. Ia lupa apa yang ingin ia tanyakan, ia lupa apa yang ingin ia katakan.
"Nee-san pasti berpikir, bahwa aku adalah gadis yang tamak kan?" tanya Sara akhirnya.
"Sama seperti kopi yang ada dihadapanku saat ini. Awalnya, kopi ini begitu hangat dan enak, sayangnya aku tidak tau bagaimana cara menikmatinya. Setelah kopi mendingin, aku baru ingin meneguknya. Sayang, semuanya sudah terlambat karena rasa kopi ini sudah tak sama lagi ketika ia masih hangat." Ungkap Sara. Sakura ikut menatap secangkir kopi yang berada dalam genggaman tangan Sara. Ia rasa ia mengerti apa yang ingin gadis itu sampaikan padanya.
"Apa kau benar-benar ingin meminum kopi itu? Tidak pernahkah kau berpikir bahwa sesungguh kau hanya merasa kasihan pada secangkir kopi yang telah kau abaikan? Mungkin saja, ada secangkir kopi lain yang benar-benar kau inginkan." Sahut Sakura.
Sara mendongakkan kepalanya dan menatap Sakura yang balas menatapnya dengan sungguh-sungguh. Mungkinkah itu? Jika apa yang dikatakan oleh gadis itu adalah benar, maka ia adalah orang yang paling bodoh di dunia ini.
Awalnya, ia meninggalkan segala yang ia miliki dan memutuskan untuk hidup bersama Sasori. Lalu ia sadari, Sasuke masih terus melekat di benaknya—yang membuat ia berpikir bahwa ia menyukai Sasuke. Lalu bagaimana jika ternyata Sakura benar—bahwa ia hanya merasa iba pada Sasuke? Dan sekarang, ia kembali membuat keputusan bodoh dengan meninggalkan Sasori dan beralih pada Sasuke, karena Sasuke tak lagi melihat dirinya.
Sara menggunakan sisa-sisa keberaniannya dan tersenyum lebar pada Sakura—tersenyum tulus, "Tolong gantikan aku untuk menjaga Sasuke-nii. Meski sekarang aku sendiri merasa begitu ragu tentang perasaanku padanya, tapi dia tetaplah salah satu orang yang penting dalam kehidupanku."
Sara mengulurkan tangannya pada Sakura. Saat gadis itu menerima uluran tangannya, diam-diam kedua gadis itu tersenyum. Ini adalah awal yang baru bagi mereka—bagi persahabatan mereka.
.
.
.
"Tunggu dulu! Bisa kau ulangi sekali lagi kata-katamu barusan?" tanya Sakura tak percaya. Sasuke memutar bola matanya dan mendengus sebal.
"Kita akan ke terbang ke Iwa," Sasuke melirik jam tangannya lalu kembali melanjutkan kata-katanya, "Satu jam lagi."
"Apa? Kenapa aku harus pergi ke Iwa?" tanya Sakura, masih bersikap keras kapala.
"Tentu saja untuk menemui ayahku. Kita akan meminta restunya, lalu membatalkan pertunangan itu." jawab Sasuke mulai kehilangan kesabarannya. Ia menarik tangan gadis itu yang menolak mentah-mentah idenya untuk langsung ke Iwa dan bertatap muka dengan ayahnya.
"Tapi, tapi! Aku bahkan belum menyiapkan koperku!" protes Sakura saat pemuda itu menarik paksa dan mendorong ia masuk ke dalam mobilnya.
"Kau tidak memerlukan koper kalau kau pergi bersamaku." jawab Sasuke dengan santai.
Sakura melipat kedua tangannya dan terus memberengut sepanjang perjalanan ke bandara. Bukannya ia tidak ingin menemui Fugaku dan menyelesaikan masalah pertunangan seperti yang Sasuke katakan, tapi ia lebih memikirkan tentang reaksi Fugaku menanggapi hubungannya dan Sasuke. Bagaimana jika Fugaku menentang hubungan mereka—yang memiliki persentase lebih besar dibanding kemungkinan Fugaku menerima hubungan mereka dengan tangan terbuka.
Bukannya ingin bersikap berlebihan, tapi orang sekelas Fugaku biasanya lebih rewel dan memiliki banyak tuntutan dalam hidupnya—tak terkecuali tentang calon menantunya.
Begitu sampai di bandara, Sasuke menuntun Sakura menaiki pesawat pribadi miliknya yang mampu membuat Sakura menganga.
"Jidat!" sapa Ino dengan riang. Sai menundukkan wajahnya dan menggeleng pelan melihat gadisnya yang selalu berteriak di mana saja.
"Akhirnya kau datang." sapa Shikamaru dengan santai.
"Kenapa mereka semua bisa ada di sini?" tanya Sakura dengan raut kebingungan.
"Mereka bilang, kalian tidak bisa pergi bersenang-senang tanpa kami." Sasuke menirukan gaya bicara Naruto beberapa jam yang lalu saat ia memutuskan untuk mengunjungi Iwa.
"Apakah mereka tidak tau kalau kita sedang bersiap-siap untuk berperang?" gerutunya setelah ia duduk dengan nyaman di samping Sakura. Sakura terkekeh pelan, senang melihat tingkah pemuda itu yang kekanak-kanakan.
Selama perjalanan, Sakura nyaris melupakan ketegangannya tentang reaksi ayah Sasuke karena ia terlalu menikmati perjalanan ini, seperti ia sedang berlibur saja. Sayang cuaca yang tak bersahabat langsung menyambut kelima pasang kekasih itu begitu mereka menginjakkan kaki di Bandara Iwa.
"Kurasa kita harus segera ke hotel sebelum cuaca semakin memburuk." usul Neji.
"Benar, kita tidak bisa mengunjungi ayah Sasuke di tengah cuaca seperti ini." timpal Naruto menyutujui.
"Tidak." tolak Sasuke dengan cepat. Ia memalingkan wajahnya dan menatap Sakura dengan serius.
"Aku harus menemui ayah sekarang juga. Kami akan segera menyusul kalian di hotel." Ujarnya sambil menggenggam erat tangan Sakura yang tak kalah gugup.
"Baiklah, kami akan menunggu kabar baik dari kalian." ujar Sai. Meski ia tidak akan pernah berada di posisi Sasuke saat ini, tapi ia bisa mengerti perasaan sahabatnya yang pastinya sangat kacau saat ini. Bagaimana tidak? Ini menyangkut gadis yang ia cintai—masa depannya.
Dua mobil van yang telah disewa oleh Sasuke menyambut mereka, bersiap mengantar sepuluh orang itu untuk mencapai tempat tujuan mereka. Tak sedetik pun ia melepaskan tangan Sakura ketika mereka berada di dalam van. Tidak hanya memberikan kekuatan pada Sakura, ia sadari bahwa ia juga mendapatkan kekuatan dari gadisnya—kekuatan untuk menghadapi ayahnya sendiri.
"Apa yang kau lakukan di sini, Sasuke? Dan, Sakura juga?" Tanya Fugaku yang terkejut dengan kunjungan dadakan ini setelah Sasuke dan Sakura masuk ke dalam ruangannya.
Sasuke menelan air liurnya, keberaniannya agak menguap. Bukan karena ia takut untuk menentang keputusan ayahnya, tapi karena ia takut ia tidak akan bisa melindungi Sakura jika hal buruk terjadi.
"Ayah, kami kemari untuk membicarakan tentang pertunangan itu." Sasuke memulai kata-katanya dengan mantap. Kening Fugaku mengernyit, merasa tertarik dengan kelanjutan kata-kata anaknya. Ia menggerakkan tangannya, mengisyaratkan kedua orang remaja itu untuk duduk di hadapannya. Sakura menundukkan kepalanya, tak berani menatap mata Fugaku—yang entah mengapa membuatnya merasa begitu terintimidasi.
"Ada apa dengan pertunangan itu? Apakah sesuatu telah terjadi pada proses persiapannya?" tanya Fugaku setenang mungkin.
"Aku…" Sasuke menghentikan kata-katanya selama beberapa detik untuk memperhatikan reaksi ayahnya yang dipenuhi oleh tanda tanya.
"Aku ingin membatalkan pertunangan itu."
"Membatalkannya?" tanya Fugaku tak percaya. Ia menatap Sakura—yang masih belum berani balas menatap—lalu Sasuke secara bergantian.
"Kalau boleh ku tau, apa alasan yang membuatmu ingin membatalkan pertunangan itu saat persiapannya sudah mencapai 50%? "
Lagi-lagi Sasuke terdiam. Ia takut jika ia katakan bahwa alasannya membatalkan pertunangan itu adalah karena Sakura, maka gadis yang ia cintai itu akan berada dalam kesulitan saat ayahnya menentang mereka.
"Sasuke, bisakah kau tinggalkan aku berdua saja dengan Sakura?" pinta Fugaku.
"Apa?" balas Sasuke dengan sangat cepat. Apa yang ingin dibicarakan oleh ayahnya berdua saja dengan Sakura? Mungkinkah ketakutannya benar-benar akan terjadi? Mungkinkah ayahnya akan tega memisahkan mereka berdua?
Belum sempat ia menolak permintaan ayahnya, Sakura memalingkan wajahnya dan mengangguk pelan padanya. Dengan langkah yang berat, ia keluar dari ruangan ayahnya, meninggalkan mereka berdua.
"Apakah telah terjadi sesuatu? Diantara kalian berdua?" tanya Fugaku pelan.
"Maafkan aku." Hanya jawaban singkat itulah yang mampu diberikan Sakura. Fugaku menghela nafas berat lalu menggelengkan kepalanya sambil bangkit dari sofa.
"Aku tidak peduli apa yang telah terjadi diantara kalian berdua, tapi pertunangan ini tidak akan pernah dibatalkan." Lanjutnya nyaris meninggikan nada suaranya.
"Tapi, kami—"
"Kalian harus menyelesaikan apapun yang terjadi diantara kalian sebelum hari pertunangannya. Apa kau mengerti?"
.
.
.
Sakura duduk di tepi kolam renang, kedua kakinya berayun santai membuat air kolam renang bergejolak pelan. Sasuke berdiri beberapa meter dibelakangnya. Ia terus memperhatikan gerak-gerik yang dilakukan oleh gadis itu. Sakura menarik nafas dalam dan menghembuskannya hingga kedua pundaknya merosot turun.
Sasuke begitu ragu. Ia tau sesuatu telah terjadi selama percakapan Sakura dan ayahnya siang tadi. Ia takut bahwa gadis itu terlalu rapuh untuk menerima penolakan ayahnya.
Ia berjalan mendekati Sakura nyaris tanpa suara. Ia duduk disamping gadis itu dalam diam, seolah dengan berdiam diri ia bisa membaca apa yang ada dipikiran gadisnya.
"Kenapa kau tidak memanggilku untuk menemanimu di sini?" tanyanya pelan.
Sakura memalingkan wajahnya pada Sasuke dengan cepat, barulah ia sadari keberadaan pemuda itu yang membuat jantungnya hampir melompat keluar. Ia kembali menatap gumpalan air yang menari-nari di ujung kakinya dan menghembuskan nafas pelan.
"Aku.." Sakura menghentikan kata-katanya, ia menggigiti bibir bawahnya selama sesaat,
"Aku sedang ingin sendirian. Ada terlalu banyak pikiran yang mengangguku dan aku ingin mendapatkan sedikit ketenangan."
"Kau selalu bisa berbagi denganku, kau tau bukan?" tukas Sasuke cepat. Ia tidak suka melihat Sakura terlalu larut dalam pikirannya sendiri—yang ia yakini pastilah tentang pertunangan itu.
Sakura memilih untuk diam.
"Apa yang sebenarnya ayah katakan tadi siang?" Sasuke kembali menanyakan ayahnya. Tapi sama seperti saat ini, gadis itu memilih untuk bungkam. Dan aksi bungkam Sakura itulah yang semakin membuat ia takut.
Lagi-lagi Sakura menutup mulutnya rapat-rapat. Rasa takut dalam diri Sasuke semakin menjadi-jadi. Ia begitu gelisah, tidak adanya rasa aman dalam dirinya nyaris membuatnya gila.
"Sasuke…" Panggil Sakura dengan suara yang sangat lemah. Sasuke langsung menatap Sakura dengan penuh harap, berharap gadis itu bersedia membeberkan semua yang telah ayahnya katakan padanya.
"Kau tau, terkadang, ada beberapa hal dalam kehidupan yang tidak sejalan dengan apa yang kita inginkan. Meski kita berusaha sekuat tenaga pun hal itu tak dapat berubah menjadi seperti apa yang kita harapkan." lanjut Sakura dengan cepat.
Jari-jari tangannya saling bertautan satu sama lain akibat rasa gugupnya. Kedua alis Sasuke saling bertautan. Ia tidak sungguh-sungguh mengerti hubungan antara pertanyaannya dan jawaban yang diberikan oleh Sakura. Sakura menelan air liurnya dan menoleh ke samping, namun tak berani menatap langsung sepasang mata milik pemuda itu.
"Kurasa, apapun yang kita lakukan, ayahmu tidak akan pernah merubah keputusannya. Kita—"
"Jadi maksudmu, kau ingin menyerah tentang hubungan kita?"
"Entahlah, hanya saja—"
"Aku kecewa padamu, Haruno Sakura." ujar Sasuke dengan ketus. Sakura menundukkan wajahnya. Ia tau itu. Ia tau pemuda itu pasti akan kecewa padanya.
"Tidak ada hal lain yang ingin kau katakan padaku?" tuntut Sasuke. Ia berdiam diri disana, menunggu permintaan maaf dari Sakura—permintaan maaf karena gadis itu menjadi begitu lemah.
Demi Tuhan! Sakura tidak seorang diri. Ia punya Sasuke. Ia juga memiliki kedua orang sahabat yang akan selalu berdiri disampingnya. Bahkan Konoha Boys pun tanpa ragu akan berdiri di barisan terdepan jika mereka memang berada dalam keadaan di mana mereka diharuskan memulai perang dengan Fugaku. Jadi mengapa ia bersikap cengeng seperti ini?
"Kupikir kau butuh waktu lebih untuk berpikir jernih." Terselip nada jengkel dalam suara Sasuke saat ia meninggalkan Sakura seorang diri di kolam renang, membiarkan gadis itu kembali pada dunia miliknya sendiri yang tak bisa ditembus oleh apapun.
Suara derap langkah Sasuke semakin lama semakin terdengar begitu jauh sebelum akhirnya pendengarannya tak lagi mampu mendengarkan derap langkah yang begitu berat. Kedua kakinya yang tadinya berayun santai di dalam kolam kini terangkat dan tertekuk di depan dada. Ia meletakkan dagunya diatas lutut sementara matanya terus menerawang jauh ke dasar kolam. Lagi-lagi pundaknya merosot turun setelah ia menarik nafas dalam.
Hinata dan Ino berpapasan dengan Sasuke. Saat mereka menyapanya, Sasuke hanya berlalu pergi. Raut wajahnya terlihat sangat mengerikan dan membuat kedua orang gadis itu memutuskan untuk menghiraukan pemuda itu dan kembali mencari keberadaan Sakura.
Hinata dan Ino saling berbagi pandangan ragu terhadap satu sama lain selama beberapa detik setelah mereka menangkap bayangan punggung Sakura di tepi kolam renang, lalu memutuskan untuk menghampiri sahabatnya itu. Sakura mendongakkan kepalanya saat seseorang menyentuh pundakknya—Hinata.
"Bersedia berbagi dengan kami?" tanya Ino berusaha agar suaranya terdengar normal, padahal gejolak emosinya telah teraduk-aduk saat melihat raut kesedihan diwajah Sakura.
Tanpa berkata apa-apa, Sakura memeluk kedua sahabatnya dengan sangat erat. Saat ini, tidak ada kata-kata apapun yang bisa menenangkan hatinya, kecuali kehadiran kedua sahabatnya ini.
.
.
.
Naruto mendorong tubuh Sai menggunakan kedua tangannya sementara Sai terus menggenggam sisi-sisi pintu dengan erat, menolak keinginan pemuda itu yang menyuruhnya masuk terlebih dahulu.
Entah kenapa, aura di dalam kamar hotel Sasuke terasa begitu menyeramkan dan Sai tidak ingin menjadi tumbal.
Neji mengintip dari balik bahu Naruto, mendorongnya agar ke samping dan melangkah masuk. Barulah Sai mengikuti langkah Neji yang menghampiri Sasuke, diikuti oleh Naruto dan Shikamaru.
"Bagaimana?" tanya Neji singkat karena ia yakin Sasuke pasti mengerti apa yang sedang ia tanyakan.
"Dia ingin menyerah." Sasuke tertawa sinis, tawa yang mencemooh.
"Setelah apa yang kami lalui, dengan gampangnya dia bilang dia ingin menyerah." lanjutnya.
Ketidakyakinannya pada kalimat Sakura sebelumnya sama sekali belum luntur. Berapa kalipun ia coba pikirkan, tetap saja tidak ada penjelasan yang masuk akal yang membuat gadis itu dengan begitu mudahnya mengakhiri semua ini, bahkan sebelum mereka sempat bertempur.
"Aku yakin dia punya alasan tersendiri." celetuk Naruto yang langsung menutup mulutnya rapat-rapat saat Sasuke mendelik tajam padanya.
"Kurasa Naruto benar. Apa kau sudah mendengarkan penjelasan dari Sakura?" tanya Neji lagi. Sasuke menggeleng dengan enggan mengingat ia tadi memotong kata-kata Sakura dan berlalu pergi begitu saja.
"Kau harus belajar untuk mendengar, Sasuke. Tidak ada ruginya kan kalau kau mendengarkan penjelasan Sakura sebentar saja? Dengan marah-marah seperti ini, masalah kalian tidak akan pernah ada titik terang." lanjut Neji.
"Aku takut." aku Sasuke tanpa ia sadari. Empat pasang mata disekitarnya langsung terfokus pada pengakuan pemuda itu selanjutnya.
"Ada terlalu banyak hal yang kutakutkan. Aku takut aku tak akan mampu menghentikan pertunangan ini. Aku takut bahwa aku akan kembali membuat Sakura menangis. Aku takut kami berdua tidak akan bisa bersama. Masih ada banyak lagi ketakutan lainnya yang bahkan tidak bisa aku ungkapkan."
"Itu adalah hal yang wajar." sahut Shikamaru. Ia tersenyum tipis, berharap itu bisa menjadi sedikit kekuatan bagi Sasuke.
"Semua orang memiliki ketakutan yang berbeda-beda. Tapi karena ada seseorang yang begitu berharga di dalam hati kita, maka ketakutan itu pasti akan memudar seiring berjalannya waktu."
Mungkin Shikamaru benar. Sasuke telah memiliki 'seseorang yang begitu berharga di dalam hatinya', dan mungkin ia memang harus berbicara dengan Sakura sekali lagi. Hanya dengan cara itu dia bisa mendapatkan kekuatan untuk terus bertahan, kekuatan untuk menang dari rasa takutnya.
.
.
.
Festival Takayama Matsuri—atau yang juga sering disebut Hachiman Matsuri pada perayaan musim gugurnya—di sebuah kuil di sebelah utara kota tua Iwa tahun ini tidak kalah ramai dari tahun-tahun sebelumnya. Perayaan festival yang diadakan dua kali dalam satu tahun telah ramai dipenuhi orang-orang yang sebagian besar merupakan warga Iwa sementara sebagian lainnya merupakan turis dari kota maupun negara lain.
"Kau harus lihat yatai—semacam stand, warung kaki lima—itu, mereka menghiasnya dengan sangat indah."
Samar-samar Sakura bisa mendengar suara percakapan Naruto dan Hinata yang berjalan di depan mereka. Ia mengernyitkan keningnya saat beberapa orang di belakangnya berjalan begitu tergesa-gesa dan mendorong tubuhnya.
"Hati-hati, jangan sampai tersesat." ucap Sasuke yang sama sekali tak bersuara dari tadi. Sakura menoleh ke arah Sasuke dan segera memalingkan wajahnya, masih merasa agak canggung untuk menatap pemuda disampingnya setelah perdebatan mereka yang tidak selesai di kolam renang tadi.
Sasuke mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Sakura dengan erat.
"Ada begitu banyak orang di sini, aku tidak akan sadar saat kau menghilang. Kecuali kalau aku menggenggam tanganmu seperti ini."
Ia merasa agak aneh. Mengapa ia harus menjelaskan alasan ia menggenggam tangan pacarnya sendiri? Sakura terus berjalan diam di sisi Sasuke, seolah tak terganggu oleh hiruk pikuk yang ada disekitar mereka. Jika waktu dapat berhenti berputar, ia bersedia terjebak di waktu ini.
Langkah mereka terhenti setelah melihat sebuah yatai yang terpanjang indah di jantung kuil. Sebuah boneka mekanik (karakuri ningyo) mulai menari-nari sederhana, namun mampu membuat para pendatang tersenyum. Sebuah senyum pun secara otomatis terbentuk di wajah Sakura. Sasuke ikut tersenyum saat melihat wajah gadisnya yang berseri-seri.
Sakura memalingkan wajahnya saat menyadari tatapan Sasuke. Dua pasang mata mereka saling terkunci satu sama lain. Senyuman di wajah Sasuke melebar dan Sakura tertawa. Untuk sesaat mereka melupakan ketegangan yang diantara mereka dan menikmati setiap detik yang mereka lalui dengan bahagia.
Masing-masing kelima pemuda itu telah berpencar, mengelilingi setiap sudut kuil bersama pasangan masing-masing.
Sasuke menarik Sakura dengan pelan, mengajaknya melihat keindahan kuil kecil nan tua yang sudah pernah ia kunjungi beberapa tahun lalu. Suara riuh dari luar gerbang kuil membuat Sakura menoleh penasaran. Ia menggerak-gerakkan kepalanya untuk dapat melihat dengan jelas pusat keramaian di sana, namun usahanya sia-sia. Ada terlalu banyak orang—ada terlalu banyak kepala—yang menghalangi pandangannya.
"Mau ke sana?" tanya Sasuke. Sakura mengangguk dengan cepat. Setelah dengan susah payah melewati barikade manusia di pintu gerbang, Sasuke berhasil membawa Sakura melewati kerumunan itu dan melihat beberapa orang telah bersiap untuk mengarak kuil kecil yang memang bisa dibawa-bawa ke jalanan.
"Katanya, kuil itu berisi dewa-dewa yang keluar hanya pada festival Takayama saja." jelas Sasuke. Sakura membulatkan mulutnya dan mengangguk pelan. Setelah persiapan selesai, arak-arak kuil kecil pun dimulai dan Sakura tak lagi bisa melihat kuil kecil yang telah dibawa jauh meninggalkan gerbang.
Sasuke dan Sakura berjalan dengan perlahan. Kedua tangan mereka masih terpaut erat dan bergoyang-goyang pelan diudara. Mereka telah kembali ke jantung kuil, melihat yatai untuk terakhir kalinya sebelum yatai tersebut disimpan dan dikeluarkan kembali pada festival hari kedua.
"Menyenangkan, bukan?" tanya Sasuke.
"Yah, sangat menyenangkan." jawab Sakura. Lagi-lagi mereka saling bertatapan dan tersenyum.
Suasana hening kembali menyelimuti mereka ditengah gegap gempita para turis. Ketenangan ikut menyelimuti Sasuke selama beberapa menit sebelum ia kembali teringat dengan perdebatan mereka terakhir kali. Ia melirik ke arah Sakura dan menatapnya dengan intens.
Oh, dia begitu mencintai gadis ini—lebih dari siapapun dan apapun. Bagaimana ia harus melanjutkan hari-harinya jika ia tak lagi bisa menggenggam tangannya seperti saat ini?
"Sakura, aku mencintaimu." aku Sasuke tanpa diduga. Langkah Sakura terhenti, mau tak mau membuatnya ikut menghentikan langkahnya. Senyuman di wajah Sakura menghilang dengan pasti.
Kedua bola matanya bergerak-gerak dengan gelisah karena pengakuan pemuda itu yang begitu tiba-tiba. Ia tau dengan benar bagaimana pemuda disampingnya ini sangat mencintainya. Ia pun merasakan hal yang sama. Hanya saja, jika Sakura diharuskan untuk mengakui perasaannya saat ini, ia tak bisa. Keadaannya akan menjadi lebih kacau jika Sasuke masih bersikap keras kepala.
Sakura melangkah mundur, membuat jarak yang cukup lebar antara dia dan Sasuke hingga tangan mereka yang tadinya bertautan kini terlepas. Sasuke mengerutkan keningnya. Mengapa tiba-tiba Sakura bertingkah seperti ini? Bukankah tadi mereka baik-baik saja—bahagia?
"Maafkan aku.." ucap Sakura lirih. Ia mendongak dan menatap langsung ke dalam mata Sasuke.
"Tapi kupikir tidak seharusnya kau membatalkan pertunangan itu."
"Jangan katakan tentang hal itu lagi." desis Sasuke dipenuhi rasa frustasi. Ia menyisirkan jari-jarinya yang panjang pada rambut pantat ayamnya dan menghela nafas.
"Kita masih bisa berjuang bersama-sama. Kenapa kau begitu ngotot untuk menyerah?"
"Aku—"
"Apa kau pernah mendengar kisah kelinci dan kura-kura? Kau tau mengapa orang-orang meremehkan kura-kura? Karena dia tidak mampu—di mata mereka. Tapi bukankah pada akhirnya kura-kura mengalahkan si kelinci? Itu bukan hal yang mustahil—sama seperti kita. Kura-kura menang bukan karena keajaiban, tapi karena ia tidak pernah menyerah."
"Tapi kurasa aku bukan kura-kura itu." elak Sakura.
"Kita bisa mencobanya, kita coba untuk meluluhkan hati ayah, bagaimana?" pinta Sasuke memelas. Ia bersedia melakukan apapun agar Sakura bersedia berjuang bersamanya meski hanya sesaat.
"Aku.. aku tidak bisa.." bisik Sakura.
"Lalu kau ingin kita berpisah? Tidak bisakah kau mencoba sekali saja?"
"Aku tidak ingin kita berpisah, tapi aku tidak berani untuk mencoba. Aku takut dengan hasil yang akan kita dapatkan."
"Apakah melakukan sesuatu untuk masa depan kita terasa begitu sulit bagimu?" Amarah Sasuke mulai menumpuk, tapi ia tekan amarahnya. Ia tidak ingin meledak dihadapan Sakura meski sekarang nada suaranya telah meninggi.
Sakura mengertakkan giginya dengan kuat dan menatap Sasuke dengan tajam. "Benar! Itu sangat sulit bagiku! Aku hanya menginginkan sebuah kehidupan yang sederhana, tidak penuh lika-liku yang membuatku sulit bernafas seperti ini!"
Sasuke menatap Sakura dengan tidak percaya. Hatinya tersakiti oleh setiap kata-kata yang dikeluarkan oleh gadis itu.
"Jadi kau menyesal karena mengenalku? Apa kau juga menyesal karena mencintaiku?" tanya Sasuke tajam.
"Bukan begitu.. Aku hanya.. " Sakura membuka mulutnya berkali-kali, mencoba mengucapkan kalimat selanjutnya, tapi tak ada rangkaian kata yang bisa ia untai lagi.
Sasuke tertawa sinis. Matanya memancarkan berbagai ekspresi yang membuat pandangannya terlihat dingin.
"Aku tau kau sangat menderita karena hal ini. Tapi aku juga, Haruno Sakura. Aku juga sangat menderita saat ini. Tidak bisakah kau melihatnya? Tapi aku tetap bertahan, kau tau kenapa? Karena aku tidak mau kehilanganmu." Sasuke menutup mulutnya serapat mungkin. Airmata mengalir dari pelupuk mata kanannya tanpa ia duga.
Sasuke memalingkan wajahnya begitu menyadari tetesan airmata telah membasahi pipinya. Disekanya sisa-sisa airmata menggunakan ibu jari secepat yang ia mampu. Ia tak ingin Sakura melihatnya begini lemah. Ia menarik nafas dalam beberapa kali untuk menenangkan dirinya sendiri sebelum kembali melanjutkan kata-katanya karena ia tau jika ia kembali bersuara, ia akan hancur detik itu juga ketika luapan emosinya memaksa bendungan airmatanya kembali menyeruak.
"Untuk terakhir kalinya aku bertanya. Bersediakah kau, Haruno Sakura, berjuang bersamaku?" tanya Sasuke. Lagi-lagi terselip nada memohon dibalik suaranya yang bergetar pelan.
Sakura hanya mampu balas menatap Sasuke, tak lebih dari itu. Sedetik kemudian tubuhnya ambruk. Ia terduduk di lantai yang kotor. Beberapa orang disekitar mereka akhirnya mulai menyadari pertengkaran yang terjadi namun memilih untuk tetap menonton dari jauh.
Bahu Sakura bergetar pelan. Gerakan kecil itu cukup untuk membuat Sasuke membenarkan asumsi yang selama ini bersarang di otaknya. Ia menengadahkan kepalanya, menatap langit malam yang semakin pekat melalui matanya yang berair. Ia mendesah keras dan kembali menatap gadis itu yang masih meringkuk dilantai.
"Aku mengerti, aku tau jawabanmu." gumamnya. Ia menatap Sakura sekali lagi dan membalikkan badannya. Ia melangkah lebar-lebar, ingin segera menghilang dari tempat ini.
"Sasuke!" teriak Sai dan langsung mengejar Sasuke. Neji dan Naruto ikut berlari di belakang Sai dengan cepat.
Sakura menahan butiran airmatanya yang siap tumpah kapan saja.
"Ada apa dengan kalian?" omel Ino geram. Ia tak ingin melihat sahabatnya menjadi seperti ini.
.
.
.
Malam itu, ketika Sakura kembali ke hotel tempat mereka menginap, Shikamaru menghampiri dirinya dengan wajah tertunduk.
"Ia telah kembali ke Konoha." Begitu ujar Shikamaru yang langsung memerosotkan bahunya. Sakura tak memberikan jawaban apapun, ia hanya diam dan mengangguk tanda perlahan tanda mengerti.
.
.
.
Sasuke masih tidak habis pikir. Tega sekali Sakura menyerah segampang itu tentang kebahagiaan mereka. Gadis itu boleh saja menyerah, tapi ia masih belum ingin menyerah.
Jawaban Sakura boleh saja telah menyayat hatinya, tapi ia tidak bisa membenci gadis itu. Rasa cintanya terlalu besar, hingga rasa perih yang diakibatkan oleh Sakura pun tak mampu menutupi rasa cintanya.
Sasuke menatap bayangan dirinya di cermin sekali lagi sebelum ia berjalan ke arah pintu.
Baru saja pintu kamarnya terbuka, ia melihat ayahnya berdiri disana.
"Ayah." panggil Sasuke.
"Kau tidak bisa meninggalkan ruangan ini sampai acara pertunangan berlangsung."
"Aku tidak ingin bertunangan, aku tidak mencintai Sara, ayah." tolak Sasuke.
"Cinta? Kau ingin mengatakan bahwa kau mencintai Sakura? Lalu di mana dia saat pertunanganmu akan berlangsung beberapa jam lagi? Dia bahkan tidak berusaha untuk memohon padaku." kata Tuan Uchiha.
Sasuke menggertakkan giginya dengan penuh amarah. Ia pikir ayahnya adalah seorang Ayah yang bijaksana, tapi ternyata ayahnya adalah seorang diktator.
Ia menghiraukan ayahnya dan berjalan melewatinya, tapi seketika itu juga lima orang pria bertubuh kekar berpakaian rapi menghalangi jalannya.
"Menyingkir." Tukasnya tajam. Tapi para pengawal itu tak bergeming. Ia menghiraukan mereka dan terus berjalan. Salah satu dari pengawal itu menarik pundaknya, menahannya agar tidak melangkah lebih jauh.
Sasuke memutar bola matanya dan menarik tangan pria itu, membantingnya begitu kuat hingga menimbulkan bunyi gaduh. Seorang pengawal lainnya ikut membantu mencegahnya, tapi berakhir dengan satu tinjuan di pipinya. Dengan sigap, dua orang pengawal menahan masing-masing tangannya agar tak berontak lagi.
"Lepaskan aku, B*stard!" maki Sasuke.
"Jangan pernah berpikir kau bisa kabur." Itulah kata-kata terakhir ayahnya sebelum ia pergi meninggalkan ruangan Sasuke.
"Ayah!" teriak Sasuke dengan keras saat dua orang pengawal menarik paksanya hingga kembali masuk ke kamarnya. Pintu terkunci dan terdengar suara klik dari luar kamar. Ia menggedor pintu sekuat tenaga, tapi tak berhasil. Para pengawal itu sama sekali tidak memedulikannya.
Sasuke mengumpat kesal. Ia harus melarikan diri, harus. Pemuda itu memandang ke sekeliling, namun tak ada sedikit pun celah baginya untuk melarikan diri. Ia menghempaskan dirinya diatas sofa dan menatap sebuah tuxedo yang tergantung rapi di sudut kamar.
"Maaf ayah, tapi kau tidak memberikan pilihan lain padaku." Ujarnya pada dirinya sendiri.
Jika ayahnya bersikeras ingin ia menghadiri pesta pertunangan ini, maka akan ia lakukan. Dengan ataupun tanpa Sakura—ia tetap akan membatalkan pertunangan ini. Jika ayahnya tidak bisa melunak saat ia menggunakan ketulusan hatinya, maka jangan salahkan dia jika ia membuat ayahnya malu dengan membatalkan pertunangan ini dihadapan seluruh tamu undangannya—yang pasti merupakan orang-orang penting.
Sasuke mengenakan tuxedo miliknya dan duduk diam selama beberapa waktu. Ia merenungkan banyak hal. Seperti apa yang akan ia lakukan selanjutnya setelah ia membatalkan pertunangan ini. Ayahnya pasti akan mengamuk—ia yakin itu. Tapi hukuman macam apa yang akan diberikan ayahnya padanya?
Sasuke mendongak ketika pintu kamarnya berderit pelan. Neji berjalan dengan santai diikuti ketiga sahabatnya yang lain untuk menghampirinya.
Sasuke membalas senyuman tipis mereka dan mengisyaratkan mereka untuk duduk di mana saja sesuka mereka.
"Kami tidak bisa menghubungi Sakura—ouch!" tukas Naruto yang berubahan menjadi rintihan saat Sai menginjak kakinya sementara Shikamaru menyikut perut Naruto. Neji hanya melemparkan sebuah tatapan singkat.
"Apa rencanamu?" tanya Neji pelan.
"Aku berencana untuk membatalkan pertunangan ini."
"Well, memang itu rencananya sejak awal. Tapi tinggal beberapa menit lagi sebelum pertunanganmu berlangsung dan kau masih belum berhasil membujuk ayahmu. Kurasa kau harus memikirkan rencana lain." cerca Sai.
"Itulah rencana akhirku. Kalau ayah tidak mau mendengarkan permintaanku, maka akan kuhancurkan image-nya dihadapan banyak orang."
"Maksudmu…" Shikamaru menghentikan kata-katanya, takut salah menerka.
"Kau akan membatalkan pertunangan ini di depan para tamu?" Naruto melanjutkan kata-kata Shikamaru. Sasuke mengangguk pelan dengan rahang terkatup erat.
"INI GILA!" teriak Naruto frustasi.
"Kau tidak bisa melakukannya—Hei!" Lagi-lagi Naruto merintih saat tumit Sai kembali memberikan tekanan yang cukup keras pada jari-jari kakinya. Sai menatap Naruto dengan garang, tatapannya seolah mengancam agar pemuda itu tak lagi melanjutkan kata-katanya.
Sasuke mengernyit. Hanya perasaannya saja atau memang ada sesuatu yang sedang dirahasiakan mereka darinya?
"Kau tidak memikirkan reaksi apa yang akan diberikan oleh ayahmu?" tanya Neji setelah Sai dan Shikamaru berhasil memastikan bahwa Naruto tak akan bersuara lagi.
"Paling-paling dia akan mengusirku untuk sementara waktu." Sasuke tertawa renyah dan melanjutkan.
"Atau dia mungkin akan mencoret namaku dari daftar ahli warisnya—aku tidak keberatan. Selama aku tidak perlu menikah dengan orang yang tidak kucintai."
"Pikiranmu terlalu pendek. Kami bisa saja menampung dirimu kalau hal itu sampai terjadi—berapa lamapun kami tak akan keberatan untuk menampungmu. Tapi bagaimana kalau ayahmu justru menyulitkan Sakura?" Kali ini Shikamaru yang bersuara dengan tiba-tiba.
"Benar kata Shikamaru. Ayahmu tidak akan segampang itu membiarkan Sakura lolos." timpal Sai.
Sasuke berpikir ulang. Mungkinkah ayahnya akan setega itu? Ia meragukannya, ayahnya yang selama ini ia kenal adalah seorang Ayah yang hangat. Sejak kapan ayahnya berubah menjadi menyeramkan?
Tapi hal itu sudah terbukti! Sekarang ayahnya bertangan dingin! Ia bahkan tak lagi membuka telinganya untuk mendengarkan kata-katanya. Adakah sedikit celah baginya untuk melarikan diri?
.
.
.
Sasuke menautkan jari-jarinya dibalik punggung saat ayahnya sedang memberikan kata sambutan yang ramah pada para tamu. Ia tengah bertaruh—dengan dirinya sendiri. Jika Sakura datang ke pesta pertunangan ini maka ia akan benar-benar membatalkan pertunangan sepihak ini.
Ia yakin ia akan bisa melindungi Sakura—asalkan gadis itu bersedia mempercayakan hidupnya padanya, apapun bisa ia lakukan.
Namun, jika ternyata Sakura tidak datang, Sasuke tidak bisa melakukan apapun kecuali meneruskan pertunangannya—untuk saat ini. Mungkin ia bisa merubah pikiran ayahnya seiring berjalannya waktu.
Mata Sasuke memandang sekeliling ruangan berkali-kali untuk mencari sosok Sakura ditengah kerumunan. Ia terus berdoa, berharap gadis itu akan menampakkan dirinya.
Samar-samar ia bisa mendengar suara ayahnya yang menyilakan calon tunangannya untuk memasuki ballroom. Sasuke semakin gelisah. Meski ia telah kalah taruhan, hatinya masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia akan menjadi tunangan untuk wanita lain—Sara.
Sasuke memandang berkeliling sekali lagi dengan begitu cepat. Ia bisa menangkap bayangan wajah-wajah kelima sahabatnya yang tersenyum lebar—apakah ia tidak salah lihat?
Bagaimana bisa temannya begitu berbahagia disaat ia tengah sekarat? Tapi ia tak punya banyak waktu untuk kembali menoleh pada mereka dan memastikan bahwa penglihatannya salah. Ia harus segera menemukan sosok Sakura agar ia bisa terlepas dari pertunangan bodoh ini.
Mata Sasuke membulat saat penglihatannya menangkap sesosok gadis mungil disudut ruangan. Gadis itu balas menatapnya dengan sendu. Ia itu tersenyum tipis, merestui pemuda yang ia cintai untuk bersama dengan gadis lain.
Sasuke terlalu kaget dengan apa yang ia lihat hingga ia tak menyadari bahwa calon tunangannya telah berdiri disampingnya. Ia menoleh saat sepasang kaki terhenti dihadapannya. Mulutnya menganga lebar.
Ia kembali menoleh ke sudut ruangan dengan cepat. Tapi ia tak lagi bisa melihat wajah gadis itu. Gadis itu berjalan memunggunginya semakin menjauh. Bayangan punggungnya sarat dengan kesedihan. Sasuke baru bisa menatap calon tunangannya setelah sosok Sara menghilang dibalik pintu ballroom.
"Bisa kau jelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi, Haruno Sakura?" tanyanya akhirnya. Sakura memberikan senyum lebarnya—senyum penuh arti—pada pemuda itu.
FLASHBACK
"Sasuke, bisakah kau tinggalkan aku berdua saja dengan Sakura?" pinta Fugaku.
"Apa?" balas Sasuke dengan sangat cepat. Apa yang ingin dibicarakan oleh ayahnya berdua saja dengan Sakura?
Belum sempat Sasuke menolak permintaan ayahnya, Sakura memalingkan wajahnya dan mengangguk pelan padanya. Ia keuar dari ruangan ayahnya, meninggalkan mereka berdua.
"Apakah telah terjadi sesuatu? Diantara kalian berdua?" tanya Fugaku pelan.
"Maafkan aku." hanya jawaban singkat itulah yang mampu diberikan Sakura dengan wajah tertunduk. Fugaku menghela nafas berat lalu menggelengkan kepalanya sambil bangkit dari sofa.
"Aku tidak peduli apa yang telah terjadi diantara kalian berdua, tapi pertunangan ini tidak akan pernah dibatalkan." Lanjutnya nyaris meninggikan nada suaranya.
"Tapi, kami—"
"Kalian harus menyelesaikan apapun yang terjadi diantara kalian sebelum hari pertunangannya. Apa kau mengerti?" tegas Fugaku menahan kejengkelan dari nada suaranya.
"Maaf, tapi kami tidak bisa." tukas Sakura dengan segenap keberaniannya. Fugaku memicingkan matanya. Ia ingin menyela kata-kata Sakura, tapi ia bersedia mendengarkan sedikit lebih banyak penuturan yang akan diberikan gadis itu.
"Kami…." Sakura menghentikan kata-katanya selama sesaat. Ia harus mengumpulkan kembali keberanian dirinya yang nyaris menguap lagi.
"Kami saling mencintai—cinta kami tulus."
Sakura memejamkan matanya, menunggu Fugaku mencela cinta yang ia sebut. Saat tak ada tanggapan apapun yang diberikan oleh Fugaku, ia mendongak dan melihat ayah Sasuke balas menatapnya dengan bingung.
"Lalu, apa masalahnya?" tanya Fugaku.
"Itu—itu berarti Sasuke tidak bisa bertunangan dengan Sara." jawab Sakura ragu.
Tatapan bingung kembali diarahkan oleh Fugaku sebelum tawanya meledak dan memenuhi ruang kerjanya. Fugaku memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa sementara tangan lainnya mengusap sudut matanya yang berair.
"A—apakah aku mengatakan sesuatu yang salah—lucu?" tanya Sakura masih tak mengerti hal apa yang membuat Fugaku tergelak sedemikian rupa. Fugaku menangkat tangannya ke hadapan Sakura, mengisyaratkan agar gadis itu menunggu hingga ia bisa mengontrol dirinya lagi. Tawanya mulai menghilang, digantikan dengan suara tertahan.
"Kalian—kau dan Sasuke—lah yang lucu. Siapa yang bilang kalau aku akan menjodohkan Sasuke dan Sara?" Ia balik bertanya.
"Tapi… tapi.."
"Kau, Haruno Sakura. Kau lah calon tunangan Sasuke sejak awal." Sakura mendekap mulutnya sendiri agar ia tak menjerit saat itu juga. Siapa yang percaya bahwa keajaiban itu benar-benar ada?
"Tapi, mengapa aku? Kupikir—semua orang pikir—calon tunangan Sasuke adalah Sara." Ia masih belum bisa mempercayai keajaiban yang menghampirinya. Fugaku tersenyum hangat dan meraih tangan Sakura. Ia menggenggam tangan Sakura dengan lembut. Sentuhan Fugaku sama seperti sentuhan ayahnya, begitu hangat.
"Sejak awal, aku telah memperhatikanmu. Dan kupikir kau adalah gadis yang cocok untuk Sasuke. Aku tau kalau dulu Sasuke menyukai Sara. Aku juga menyukainya—dia gadis yang baik. Tapi entah mengapa, hatiku terus meronta. Ia bilang, Sara bukan menantu yang cocok untukku." Fugaku tertawa pelan dan melanjutkan kata-katanya.
"Memangnya kau pikir mengapa aku meminta Ayahmu untuk membiarkan Sasuke tinggal di sana? Karena aku ingin memberikan kesempatan pada kalian berdua—kesempatan untuk saling mengenal."
Sakura benar-benar tidak mampu mengatakan apapun saat ini. Ia terlalu takjub dengan keberuntungan yang ia miliki. Perbuatan apa yang telah ia lakukan hingga ia mendapatkan karma sebaik ini?
"Dan kudengar, karena kepulangan Sara, kau mengalami banyak hal yang menyakitkan." Fugaku terlihat merasa bersalah, meski jelas itu bukan kesalahannya.
Sakura menggigiti bibir bawahnya begitu ia kembali mengingat sakit hati yang pernah ia alami hingga membuat ia nyaris tak bersisa. Sakura mengangguk pelan sebagai jawaban untuk Fugaku.
"Perlu bantuanku untuk sedikit membalas perbuatan Sasuke? Dia juga harus merasakan penderitaanmu saat itu." Fugaku menaikkan alis kanannya.
END OF FLASHBACK
"Jadi.." Sasuke menghentikan kata-katanya untuk menatap ayahnya yang berdiri beberapa langkah darinya sedang menahan tawa. Ia kembali menatap Sakura dan menghela nafas.
"Jadi selama ini kalian telah merencanakannya? Untuk mempermainkanku?" Sakura hanya membalas pertanyaan Sasuke dengan sebuah senyuman karena sudah jelas jawabannya adalah ya.
"Kalian juga?" tanya Sasuke memicingkan matanya pada kelima sahabatnya
.
"Jawabannya adalah tidak dan ya." tukas Naruto.
"Tidak, kami tidak merencanakannya—karena ini semua murni ide ayahmu. Dan ya, kami ikut mempermainkanmu saat Sakura menceritakan semuanya ketika kau terburu-buru pulang ke Konoha seorang diri." jelas Sai lebih detail.
"Huft!" Sasuke meniupkan udara kosong dengan geram.
"Tidak bisa kupercaya! Apa kau tidak tau betapa takutnya aku ketika harus membayangkan kita berpisah?! Aku nyaris saja merealisasikan berjuta-juta ide gila dibenakku karena tidak ingin melepaskanmu. Aku—"
Sakura menarik kerah kemeja Sasuke, membuat tubuh pemuda itu condong ke depan. Ia menempelkan bibirnya pada Sasuke selama beberapa detik untuk menghentikan kata-kata pemuda yang ada di hadapannya.
"Jadi, kau masih ingin membatalkan pertunangan ini?" tanya Sakura pelan setelah ia memisahkan diri.
"Tentu saja tidak. Apakah kau perlu menanyakan hal itu lagi?" Sasuke menyeringai. Ia menarik pinggang Sakura dan mendekapnya dengan erat sambil melumat bibir Sakura. Ballroom dipenuhi dengan riuh tepuk tangan dari para tamu yang ikut berbahagia.
Sasuke merasa begitu ringan, seolah-olah berton-ton beban telah terangkat dari tubuhnya. Ia tidak keberatan jika harus mengalami begitu banyak sakit hati asalkan ia dan Sakura tak terpisahkan.
Sasuke menghentikan ciumannya. Ia sedikit mengangkat wajahnya, membiarkan kening mereka masih saling menempel.
"Aku mencintaimu, Haruno Sakura." Sasuke mengusapkan jari-jarinya yang panjang di pipi merona Sakura.
"Selamanya." lanjutnya sambil berbisik ditelinga Sakura.
Sakura melingkarkan lengannya di leher Sasuke dan langsung membenamkan wajahnya dibalik bahu bidang Sasuke. Ia terisak pelan.
Sakura terlalu bahagia saat ini. Ia masih belum bisa percaya bahwa hari ini bukanlah mimpi di siang bolong. Sasuke tertawa pelan dan balas memeluk Sakura.
Mencintai adalah hal yang mudah, yang sulit adalah bagaimana cara kita mempertahankannya. Terkadang dibutuhkan pengorbanan untuk mencintai namun semuanya akan terasa pantas ketika kau bisa meraih orang yang kau cintai.
OWARI (?)
Sara balas menatap Sasuke saat pandangan mereka bertemu. Ia tersenyum tipis, mencoba untuk menutupi kesedihannya. Ia menatap Sasuke untuk terakhir kalinya sebelum pemuda itu kembali menoleh pada Sakura yang sedang sekarang telah berdiri dihadapannya.
Sara tersenyum sekali lagi, kali ini pada dirinya sendiri dan berlalu pergi. Ia menutup pintu ballroom dan berjalan beberapa langkah namun segera terhenti. Ia berjongkok saat tenaganya melemas. Ia tak bisa beranjak. Hatinya terasa begitu hampa. Bukan sakit hati atau rasa sedih yang ia rasakan saat ini ketika melihat Sakura dan Sasuke bersama.
Namun sebuah perasaan di mana ia harus memberikan sesuatu yang awalnya menjadi miliknya—keegoisannya.
"Aku baik-baik saja…" ucap Sara lemah. Ia sedang meyakinkan dirinya sendiri, bahwa dia baik-baik saja. Apa yang ia rasakan saat ini belum seberapa. Perasaan tak menentunya saat ini tak sebanding dengan ketika ia mengatakan putus pada Sasori.
Sara mendongak saat sebuah putih disodorkan dihadapannya. Sasori berdiri dihadapannya dengan ekspresi yang tak bisa dibaca olehnya.
Ia menatap Sasori selama beberapa detik tanpa bergeming sedikitpun. Sasori memajukan tangannya, memaksa Sara untuk menerima saputangannya. Sara meraih saputangan itu dengan tangannya yang bergetar.
Pemuda itu menatap Sara selama beberapa detik dan berlalu melewatinya. Sara menajamkan pendengarannya. Ia mendengar pintu ballroom terbuka lalu tertutup dan mengasumsikan bahwa Sasori telah berada ditempat dimana ia tak bisa melihat kondisinya saat ini.
Sara meringkuk dan mencengkram saputangan milik Sasori dengan erat. Kekacauan dihatinya yang ditimbulkan oleh pertunangan Sasuke tak seberapa jika dibandingkan dengan rasa sakitnya saat ini ketika Sasori berlalu melewatinya begitu saja.
Sepasang tangan terulur ke depan, mendekapnya dengan erat membuat tangis gadis itu semakin menjadi. Ia tak peduli jika pakaiannya yang rapi harus ternodai oleh airmata Sara, yang ia inginkan hanyalah memberikan sebuah penghiburan untuknya.
Kabuto menggeleng pelan. Ia tak menyukai Sara yang ada dalam dekapannya saat ini—begitu rapuh. Tapi ia akan selalu memberikan uluran tangannya pada gadis itu tanpa syarat. Sama seperti saat ini, ketika adiknya tak berdaya menghadapi cinta dalam hidupnya.
Cinta itu benar, yang salah adalah kita yang tak mengerti apa itu cinta tapi memaksa untuk mencintai.
A/N: TAMAT, akhirnya ff ini selesai juga. Gak sia-sia author nyelesai'in chap ini dengan penuh perjuangan disaat author sedang sakit T.T. Thank's yg sudah mendukung fanfict ini, yg sudah mereview dll. Sampai jumpa di ff author lainnya. Bye bye ^.~
Thanks to:
UchiHaruno Sya-Chan, williewillydoo, Yoshimura Arai, Jamurlumutan462, genie luciana, Shizuka Namikaze19, Ciisiichuabbykireiina454, nurvieee-chan, Kiki Kim, Desta Soo, luhannieka, kana, gita zahra, asdfgh, Tomida, C. Prichilla, zarachan, uchiharu, echaNM, Mustika447, law03, Uchiha Pioo, elzakiyyah, widya-SSlovers22, t-chan, nkaalya, SantiDwiMw, AsahinaUchiHaruno, cherryana24, Alzena Ridasmara, chiow, Euri-chan, Tim Alpha, ongkitang, , nashilah, sdsddsdff, Diah cherry, song ha sub , Guest, rara, Lita UchiHaruno
Salam kecup buat reviewer
Miko Yuuki
