Tsukyuu Floo Kitsune Present
.
.
.
Devil!
Disclaimer : Masashi Kishimoto own all character of Naruto.
Genre : Romance, Sc-fi, AU, Adventure, OOC, and OC.
Warning : Typo(s), Ooc, and Crack-pairing.
Special dedicated for :
White Azalea-senpai.
.
.
.
Chapter 2 : Kembali dari kematian.
Tsukyuu Floo Kitsune
Shikamaru menatap jauh kedepan sana, ia mengernyit melihat jalanan setapak yang lebar terbuka dihadapannya, disisi–sisi jalan ada jejeran pohon sakura yang berbunga, satu per satu bunganya gugur dibawa angin, lalu kemudian mendapati seseorang yang berlari sembari mengulurkan tangannya padanya.
"Shikamaaruu!," teriak sosok itu sembari terus berlari dengan sekuat tenaga. Shikamaru bisa merasakan sakit didadanya. Entah kenapa ia yakin—sosok itu tak dapat ia jangkau.
Semakin sosok itu mencoba berlari mendekat, ia terlihat semakin menjauh dimata Shikamaru. Dan ketika Shikamaru hendak berlari padanya, ada tangan yang kini menahan pergerakkan Shikamaru dengan erat.
"Temari?," bisiknya memalingkan wajah dari sosok didepan sana. Dibelakangnya sosok tunangannua tersenyum lalu mengenggam erat jari jemari Shikamaru.
"Jangan berpaling, Shika,"
Shikamaru menganggukan kepalanya. Dan ketika ia kembali menoleh kedepan sana, tiba–tiba saja pohon–pohon sakura itu berubah menjadi akar sulur–sulur yang memanjang dan kemudian menjerat tubuh mungil itu.
"Tidakkk! Shikamaru! TOLONG SHIKA! SHIKAA! KUMOHON SHIKA,"
Detik itu ia tersadar siapa gadis tersebut. Itu gadis yang sangat ia kenali. Itu sahabatnya. Itu...Ino-nya. Ino. Ino.
"INO!,"
Kelam itu terbuka hanya untuk mendapati kekosongan pada ruangan yang kini ia tempati, tubuhnya dibanjiri peluh karna mimpi buruk tersebut. Sepuluh hari yang berlalu baginya seperti sepuluh tahun. Iris kelam itu menatap menerawang pada langit–langit kamar ruang kamarnya, langit diluar sana terlihat mendung. Hanya sedikit goresan fajar yang menjadi warna penghiasnya. Tapi itu lebih baik ketimbang ia yang sudah kehilangan seluruh warna dihidupnya.
Temari meninggalkannya.
Dan Ino pun sama.
"Yah, seandainya kau membawanya lebih cepat,"
Hanya ucapan itu saja sebelum akhinya ia berlalu dengan ada kata atau perbuatan yang lain dilakukan pria congkak yang ia temui di Rumah Sakit, meninggalkan Temari dalam pelukannya bahkan tak melakukan sedikitpun usaha untuk menolong kekasihnya. Orang–orang disana pun bukannya menolong malah saling berbisik dan bertanya,
Bertanya kenapa wanitanya memakai gaun pengantin?
Bertanya kenapa pergelangan tangannya terluka?
Bertanya kenapa sang pria terlihat kacau sekali?
Keparat!
Bukannya membantu, mereka malah saling berbisik dan membicarakan penderitaan orang lain.
"Temari! Temari! Temari!,"
Shikamaru menutup kelopak matanya hingga kepingan hitam itu kembali tersembunyi. Setetes airmata mengalir melewati pipinya, mengingat bagaimana suaranya yang mengiba memanggil nama tunangannya, Shikamaru merasakan tikaman menyakitkan pada hatinya.
Shikamaru tak tau dimana letak dosanya hingga ia selalu merasakan guncangan dihidupnya, kenapa Tuhan selalu merenggut orang–orang yang dikasihinya? Kenapa orangtuanya harus tewas terbakar didalam rumah sederhana milik mereka? Kenapa Temari harus tewas bunuh diri seperti itu? Dan lagi kenapa Ino harus ikut terenggut bersama mereka semua?
Shikamaru bahkan tak tau siapa yang mengurus pemakaman Ino, ia bahkan tak bisa melihat sosok itu untuk yang terakhir kalinya. Kenapa Tuhan masih sangat kejam padanya?
Cklk.
Pintu kamar Shikamaru terbuka, menampilkan sosok pria bermata biru yang kini mengulas sebuah senyuman untuknya sembari membawa nampan berisikan semangkuk bubur dan air putih.
"Makan malam sudah siap!," serunya semnari terkekeh dan mulai berjalan mendekati kasur yang tengah ditempati sahabatnya.
Shikamaru hanya melirik tak berminat pada sosok cerah itu lalu kembali menatap langit–langh it kamarnya.
"Ayo bangun pemalas," ujarnya sembari meletakkan nampan tersebut diatas nakas.
"Tinggalkan saja aku, Naruto," Shikamaru menjawab dengan nada serak, namun tetap saja ada ketegasan terpancar disana. Namikaze Naruto hanya menatap sosok sahabatnya dengan iba.
"Uumm, O–Ok," ia menjawab dengan sedikit nada enggan "tapi izinkan aku kembali nanti sore ya?," tanya Naruto dengan nada menuntut.
Shikamaru hanya mendengus dan berbalik memunggungi Naruto. "Aku ingin sendiri," ucapnya kemudian. Naruto menggaruk tengkuknya.
"Ngg... kau tau? Tak seharusnya kau bersikap seperti ini Shikamaru," ujarnya dengan hati–hati, ia menatap punggung sahabatnya lama–lama. "tak akan ada yang berubah sekalipun kau menyiksa diri seperti ini,"
Hening. Shikamaru tak menanggapi ucapan Naruto.
"Tidak Temari," Naruto memenggal ucapannya hanya untuk mengamati reaksi Shikamaru, "ataupun Ino,"
Srak.
Shikamaru menghempaskan selimut yang sejak tadi ia pakai dan memaksakan diri bangun dari posisi tidurnya, kini ia terduduk diatas kasur sembari menatap sosok dihadapannya tajam.
"Kau yang tak pernah merasakan kehilangan lebih baik tutup saja mulut besarmu itu, Namikaze—san," desisnya sinis. Naruto tertegun tak percaya sembari menatap wajah rupawan dihadapannya. Shikamaru mungkin kadang bersikap skeptis padanya, tapi ia tak pernah sekalipun bersikap sinis pada Naruto.
"Shika—maru?," panggil Naruto terbata.
Shikamaru terlihat menekan emosinya. "Lebih baik kau keluar dari sini, tinggalkan aku sendiri atau aku akan berlaku buruk padamu!," bentaknya dengan nada tinggi.
Naruto melangkah mundur sedikit. "Gomen,"
Lalu iapun bergegas keluar dari kamar tersebut.
Shikamaru menggeram dan mengambil benda apa saja yang terjangkau ditangannya dan melemparkannya hingga berserakan dilantai, termasuk nampan yang baru saja tiba disana.
Padahal ia yang ditinggalkan oleh kematian, namun Shikamaru berharap kematian itu segera datang, atau lagi ia tengah menghadapi kematian paling menyakitkan yang pernah ada.
Karna sebagian dirinya telah dibawa oleh sang malaikat maut.
Tsukyuu Floo Kitsune
Dingin.
Gelap.
Dimana aku?
.
.
"Detak jantungnya kembali normal," Kimimarou menatap layar kecil yang menampilkan garis warna hijau yang berubah–ubah, ia menghela napas dan akhirnya menoleh kearah seorang pria berambut merah bata yang kini terduduk diatas sofa beludru disudut ruangan.
"Aku tahu," balasnya setengah berbisik.
"Kupikir kita sudah berlebihan Gaara—sama, tubuh gadis ini bereaksi buruk dengan NPS,"
"Aku tahu," ulang Gaara kemudian
"Sebenarnya apa yang tengah kau rencanakan Gaara?,"
Seketika Gaara menajamkan pandangannya, bukannya ia gila kehormatan atau apa, tapi mendengar cara bicara Kimimarou padanya sedikitnya membuat egonya tersentil. Nada suara Kimimarou sarat akan penekanan dan rasa ingin tahu, seperti tengah mengguruinya.
Dan tidak. Gaara tidak menyukai seseorang yang mencoba mengguruinya.
Ia benci akan hal seperti itu. "Aku hanya ingin ia segera bangun,"
"Dan alasan apa yang kau punya untuk itu?," sergahnya, ia tak mau menyia–nyiakan nyawa seseorang hanya untuk perasaan sentimentil bernama cinta atau tetek bengek lainnya dengan menjadikannya kelinci percobaan.
"Aku ingin menjadikannya anggota keempat,"
Dahi Kimimarou mengernyit tak percaya. "Apa?," tanyanya kemudian.
"Kenapa?," balas Gaara merasa geram dengan ekspresi tak percaya di wajah pria bermata lavender tersebut.
"Tak ada,"
"Lalu kenapa kau menatapku seperti itu?,"
Kimimarou menghela napas dan terdiam sejenak, menimbang–nimbang perkataan yang akan ia ucapkan selajutnya.
"Sudah kubilang NPS belum sempurna 'kan?," tanyanya retoris.
Gaara terlihat menghela napasnya kasar. "Sudah kubilang aku akan menyempurnakannya 'kan?,"
"Hidup dan matinya seseorang tak dapat anda tentukan, Gaara—sama," Kimimarou berkata dengan nada tenang namun entah kenapa emosi Gaara malah tersulut karna ketenangan itu.
"Diam dan turuti saja perintahku!," ujarnya dengan nada meninggi.
"Sesuai perintahmu Gaara—sama," balas Kimimarou dengan nada skeptis. Ia berjalan mendekati meja kerjanya dan kini mulai menyibukkan diri dengan semua kertas–kertas putih disana. Gaara terlihat mengusap wajahnya kasar dan mendengungkan beberapa kalimat lirih yang hanya dapat ia dengar sendiri.
"Bertahanlah,"
pintanya dalam hening sembari menatap wajah yang terlelap damai tersebut.
Tsukyuu Floo Kitsune
Kimimarou melangkah melewati lorong–lorong gedung tersebut dengan lelah, ia berharap dapat segera tiba didalam yah katakanlah sebuah asrama, dengan bangunan yang terpisah dari labroratorium tempatnya bekerja.
Samar didengarnya suara ribut di depan Asramanya, dan itu makin membuat kadar lelahnya bertambah.
Ah tidak lagi.
Apa hanya ia yang merasa waras ditempat ini? Jawabannya iya, terlebih saat matanya mendapati dua wajah tak asing yang bertatap muka dengan gaya saling menantang.
"Aku benci berbasa–basi, jadi bisa kita lakukan ini secepatnya, bedebah?," pria berambut hitam kebiru–biruan bermata onyx itu menatap pria berambut Oranye kemerahan bermata rubby dihadapannya dengan pandangan mencemooh.
Demi tuhan, mereka berdua baru pulang dari misi tunggal, apa mereka tak lelah?
"Belagu sekali kau ini, keparat!,"
Biasanya Kimimarou akan melewati mereka, masuk ke kamarnya dan kemudian tidur sembari melepas lelah, tapi kali ini ia berbeda. Kimimarou lebih memilih berdiri mematung melihat dua orang rekan satu timnya yang sudah hampir tiga tahun bersama kembali berseteru setelah dua bulan saling tak bertemu.
Kedamaian yang mengisi relung dan benak Kimimarou pasti akan lenyap jika dua orang ini saling bersama. Tapi sungguh Kimimarou sangat lelah, sudah lebih dari seminggu berkutat dan terkurung dalam lab untuk meneliti NPS dan sekarang dihadapkan dengan perkelahian rutin tak penting antar keduanya.
"Berhenti," ujarnya dengan nada dingin.
Kedua iris berbeda warna itu serentak menoleh padanya.
"Light?," Pria bermata rubby dan berparas tampan itu memanggil Kimimarou dengam gelarnya.
"Lebih baik kalian beristirahat,"
"Wah, wah" pria berambut hitam kebiru–biruan itu bertepuk tangan. "Tumben sekali Tuan Light yang agung menyempatkan diri menegur kami," ejeknya sembari membentuk sebuah senyuman asimetris. "sudah lewat sajalah, dan jangan ganggu kami,"
"Ucapanmu seolah–olah kalian hendak bercinta saja, Black," entah kenapa Kimimarou malah mengeluarkan kalimat candaan dengan nada datar, dan itu sukses membuat bola mata sewarna langit malam itu melebar. "Kau bilang apa, berengsek?," teriaknya.
Tsah. Baguslah, ada Bedebah, Keparat, dan Berengsek disini.
Batin Kimimarou sembari memutar bola matanya. "Lebih dari ini semua, ada hal penting yang ingin ku bicarakan," ujarnya dan melangkah masuk ke Asrama mereka.
"Kenapa kita harus mengikutimu?," sanggah pria berambut oranye–merah yang sejak tadi hanya bungkam.
Kimimarou menghentikan langkahnya sejenak dan berbalik dengan tatapan mencemooh khasnya "Oh, Oh, Oh, lihatlah nada bicaramu Phantom, kau mengucapkan 'kita' dengan nada intim dan seolah–olah aku menjadi penganggu dari acara mesra–mesraan kalian,"
Syut.
Bug!.
Sebuah batu cukup besar melayang mendekati kepala Kimimarou, tanpa repot Kimimarou menggeser sedikit kepalanya dan batu itupun mengenai tembok dibelakang sana.
"Tutup mulut busukmu itu!," teriak sosok yang dipanggil Black tersebut.
Kimimarou hanya memasang wajah face calmnya "baiklah," ujarnya sembari mengangkat bahu.
"Aku hanya ingin memberitahu soal anggota keempat,"
"Anggota keempat?," tanya Phantom lebih terdengar seperti mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Rasanya sudah lama sejak terakhir kali tak ada yang mengisi posisi itu.
"Tidak tertarik," balas Black kemudian.
"Siapa?," suara Phantom mencegah langkah Kimimarou.
Kimimarou menoleh sedikit dari atas bahunya. "Yamanaka Ino,"
Sosok yang disebut sebagai Phantom terlihat melebarkan iris sewarna merah darah miliknya. Ia melangkah mundur sedikit dan bertanya "dimana ia?,"
Kimimarou sedikitnya terkejut dengan reaksi yang ditunjukkan oleh pria itu. Bahunya terlihat menegang, dan raut wajahnya terlihat sedikit pucat.
"Di Lab," jawabnya.
Dan dengan itu Phantom segera berlari pergi tanpa bisa mencegah dirinya sendiri.
Yamanaka Ino! Yamanaka Ino!
Ino? Apa benar dia Ino?
Shit! Apa yang dilakukan bocah satu itu sampai bisa terjebak ditempat ini?
"Hei bedebah! Kau mau kemana?," Black ikut bergerak mengikuti langkah lebar Phantom.
"Berisik keparat!," teriaknya dan kembali mempercepat langkahnya.
Well—mari kita tinggalkan Phantom dan Black dengan segala kekonyolan mereka.
Karna kini Kimimarou bersyukur mereka tak jadi berkelahi didekatnya dan bisa tidur dengan nyaman berkat keduanya yang berlari ke Lab.
Eh? Ke Lab?
Laboratorium yang itu?
Laboratorium miliknya?
ASTAGA!
Mata Lavender itu melotot horror dan kemudian mengumpat.
"Bisa saja mereka berkelahi di lab 'kan?,"
Lalu iapun kembali menggerakan tungkainya menyusul dua manusia laknat yang ia kutuk tersebut.
"BRENGSEK! BERHENTI KALIAN!,"
.
.
.
Bip. Bip. Bip.
Sosok berambut oranye kemerahan itu terpaku menatapi sosok yang terbaring kaku dihadapannya, gadis itu masih sama cantiknya dengan sosok yang ada didalam ingatannya, hanya saja kini sedikit lebih kurus dan raut wajahnya sangat pucat.
"Hei! Kau ingin lari ya!," Pria bermata hitam yang sejak tadi mengejarnya pun tiba diambang pintu, disusul Kimimarou yang tanpa basa–basi segera masuk keruangan itu.
"Kau tak bisa masuk seenaknya, Arashi!," bentak Kimimarou lalu menarik lengan pria yang dipanggilnya Arashi yang tak lain adalah Phantom tersebut.
Plak.
Arashi melepaskan cengkraman itu dan mengusapnya dengan gaya jijik—ia memang tak suka jika ada tangan lain yang menyentuh dirinya. Kimimarou memutar matanya bosan.
"Keluar!," tegasnya dan hanya diabaikan oleh Arashi.
"Kenapa dengannya?," Arashi menolehkan kepalanya pada sosok gadis itu lagi.
Kimimarou menggeram marah merasa diabaikan.
"Bukan urusanmu 'kan?," bantah Kimimarou dengan nada kesal.
"Kenapa dengannya, Light?,"
"Apa hubunganmu dengannya?," potong pria yang sejak tadi diam dipintu.
Arashi menolehkan kepalanya pada sosok yang disebut Black tersebut.
"Bukan urusanmu," balasnya dingin.
"Sialan!,"
"Berhenti Menma," peringat Kimimarou saat mendapati nada umpatan yang dikeluarkan sosok bernama Black tersebut mengarah pada tantangan duel untuk kesekian kalinya lagi.
Menma mendengus dan kemudian membalikan badannya, ia melangkah pergi meninggalkan dua orang pria yang kini kembali mengamati objek dihadapan mereka.
"Detak jantungnya sangat lemah, beberapa tulangnya juga patah, tapi Gaara memaksakan NPS padanya, aku khawatir kalau—kalau nyawanya tak tertolong,"
"Akan kubantu,"
Kimimarou menatap sosok disisinya dengan tatapan tak percaya.
"Apa?,"
"Akan kubantu," ulang Arashi sembari menatap Ino lekat—lekat "Ayo kita sempurnakan,"
"Apa hubunganmu dengannya, Phat?,"
Arashi terdiam sebentar dan kemudian menjawab "katakanlah, dia sosok yang harus kulindungi,"
Tsukyuu Floo Kitsune
"Aku rasa ini sudah cukup," Kimimarou menyimpan satu botol kaca bening yang diisi dengan cairan berwarna biru kental bertuliskan "NPS 00287" disebuah lemari pembeku.
"Ya, kurasa juga demikan," pria disisinya menjawab dengan nada lelah, ia menghempaskan tubuhnya keatas sofa yang ada diruang tersebut dan memandang kearah langit–langit. "sudah berapa lama sejak kita memulai ini semua?,"
"Entahlah, mungkin empat sampai lima bulan?,"
"Kenapa dia belum bangun juga?," tanya Arashi dengan nada rendah.
"Tsk. Kau pikir ini dunia perfilman jadi saat kau mengacungkan tangan maka apa yang kau inginkan segera terkabul?," sinis Kimimarou sembari ikut duduk diatas sofa yang menghadap ketempat tidur dimana sosok berambut pirang itu tengah terbaring.
"Dia bisa bertahan?," tanya Arashi kemudian.
"Aku juga tidak tahu,"
Lalu mereka kembali terdiam.
"Apa kau belum mau memberitahuku siapa gadis ini Phat?,"
"Kau perlu tahu?,"
"Hah, lupakan saja,"
Arashi tertawa kecil. "dia orang yang terlalu berharga untuk disia–siakan,"
"Kau menyukainya?,"
"Sangat kurasa,"
"Hell ya, kau beda sekali kalau berhadapan dengannya,"
"Benarkah?,"
Tanpa mereka sadari sosok berambut hitam kebiruan sudah berada diambang pintu sembari berdecih mendengar ucapan yang dilontarkan Arashi.
"Hei!," serunya dengan nada tinggi, Kimimarou dan Arashi segera menatapnya.
"Kau dicari Gaara," ujarnya sembari menunjuk wajah Arashi dengan telunjuknya.
"Siapa? Aku?," balas Arashi kemudian.
"Tentu saja kau Be. De. Bah.," ejanya dengan wajah menantang, Arashi memicingkan matanya.
"Kenapa? Kau tak suka?,"
Arashi hanya bisa mendengus kemudian berpamitan dengan Kimimarou, "tolong jaga dia dari makhluk keparat itu,"
Kimimarou hanya menganggukan kepalanya dan Arashipun melangkah pergi darisana sebelum beradu tatapan dengan Menma didepan daun pintu.
"Kau jadi pecundang eeh sekarang?," sinisnya sambil tersenyum mengejek.
Arashi hanya bisa memutar bola matanya dan berujar. "aku sedang dalam kondisi bad mood sekarang, kalau kau mengangguku, kemungkinanmu mati sangatlah tinggi," ujarnya sadis. Menma malah. mendengus.
"Oohhw~ aku takut~," katanya dengan nada sing a song.
Arashi segera berlalu dari sana sebelum benar–benar melayangkan tinjunya pada Menma. Bukannya apa, ia hanya tak sedang dalam kondisi prima untuk menghadapi bocah Uzumaki itu kecuali kalau Menma memang sudah tak sayang nyawa.
Menma baru akan beranjak pergi saat dilihatnya Kimimarou bangkit dan masuk kekamar mandi.
Sreet.
Senyum iblis Menma mengembang, ia merogoh saku celananya dan menemukan sebotol cairan berwarna hijau lumut disana. "eumm... kau tak keberatan kalau pergi dari sini lebih cepat 'kan Nona?," tanyanya dengan nada mendayu seorang iblis.
.
.
.
Arashi menatap pria berambut surai bata dihadapannya, "ada apa Gaara?,"
Gaara mengalihkan tatapannya pada Arashi. "Bagaimana keadaanya?," tanyanya dan berhasil membuat Arashi mengerutkan keningnya sebelum akhirnya tersadar siapa yang disebutkan oleh Gaara. "baik kurasa?," jawabnya tak yakin.
Gaara terlihat menimbang sesuatu. "bisakah kau ke Konoha minggu ini? Ada yang ingin kupastikan,"
"Tentu saja, memangnya apa yang harus kulakukan?,"
"Pastikan identitasnya untukku, termasuk latar belakang dan sebab kecelakaanitu terjadi,"
Arashi menatap wajah tampan dihadapannya, "sebenarnya ada apa antara kalian?,"
"Jangan sampai Kankurou mengetahui masalah ini," ujar Gaara dengan nada final, terlihat sekali ia tak mau menjawab pertanyaan Arashi, pria bermata rubby itu hanya mendengus tertahan saat sesuatu atau lebih tepatnya sebuah gelang besi ditangannya memancarkan sinar berwarna merah yang berkedip dua kali.
"Shit!," tanpa basa-basi ia segera berlari keluar dari sana, meninggalkan Gaara yang sama terkejut dengannya, setahunya gelang itu merupakan sensor yang diciptakan Kimimarou saat ia sedang merawat pasiennya. Jadi ketika ia harus meninggalkan pasien tersebut dan terjadi apa-apa pada pasien itu, Kimimarou bisa segera tau. Tapi, bukankah sekarang Arashi dan Kimimarou sedang merawat Ino?
"Apa terjadi sesuatu padanya?,"
"Pada siapa?," suara bass yang menegurnya itu membuat Gaara tersadar dari lamunannyaa, ia menatap sosok berambut coklat yang kini berdiri dihadapannya dengan tatapan arogannya. "kudengar kau menyimpan sampah baru, Gaara,"
"Selamat datang," ujar Gaara tak nyambung, "Kankurou,"
"Tsk," Kankurou berdecak dan melangkah menuju sofa beludru yang berada disudut ruangan. "jelaskan padaku Gaara,"
"Apa yang kau dapatkan di Iwagakure?," tanya Gaara kemudian, Kankurou sudah akan membantah sebelum akhirnya harus menelan suaranya sendiri.
"Aku menemukan lima appartemen dan dua kondominium dengan namanya sebagai pemilik, lokasinya berbeda-beda dan saling berjauhan, tapi tak ada informasi yang tertinggal olehnya,"
"Lalu?,"
"Yang kutahu, Temari sudah tak disana sejak empat tahun lalu,"
Gaara menatap nanar keluar jendela. "apakah ia akan baik-baik saja?,"
"Ayolah Gaara! Temari itu bukan wanita lemah. Ia bisa melindungi dirinya sendiri, kau tak prlu mencemaskannya,"
"Hn, kau benar," mata turqouise itu menemukan langit yang ditutupi gelungan selimut awan disana.
Temari adalah gadis yang kuat, tidak seperti gadis itu.
Ino, apa kau bisa bertahan?
Tsukyuu Floo Kitsune
Tanpa Menma sadari hatinya bergetar halus melihat tubuh lemah dihadapannya mengejang, ia buru-buru melemparkan jarum suntik yang ia gunakan menyuntikkan cairan miliknya kekolong ranjang dan kemudian mengamati wajah pucat yang terlihat sekali tengah menahan sakit yang teramat sangat.
Bip. Bip. Bib. Bib.
Kurva yang menunjukan detak jantung sang gadis mulai naik turun tak teratur, membuat Menma panik dengan sendirinya.
"KIMIMAROU! KIMIMAROU!,"
BRAK!
Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan wajah cemas Kimimarou yang segera berlari menghampiri sang gadis. Ia habis membasuh wajahnya yang mengantuk tadi, namun ia langsung dikejutkan oleh sensor dari gelang yang ia pakai. "Apa yang terjadi?," ia segera memeriksa seluruh tubuh sang gadis, menekan beberapa titik nadi dan membolakan matanya. "A-aastaga,"
"Ada apa? Ada apa?," sergah Menma kemudian, padahal ia yang menyebabkan gadis itu seperti ini berapa saat lalu.
"Nps," sebut Kimimarou setengah sadar.
"KU TANYA ADA APA?," Menma malah berteriak padanya, membuat Kimimarou mengalihkan tatapan matanya pada Menma.
"NPS! CEPAT AMBILKAN AKU NPS!," seru Kimimarou meninggikan suaranya.
Menma segera berlari mencari benda yang dimaksud oleh Kimimarou dengan kelabakan, ia tak bermaksud membuat gadis itu mati, hanya akan membuatnya sedikit kejang awalnya tapi kenapa...
AAAGGHHHH! Menma menjambak rambutnya sendiri, "dimana? Dimana? Dimana? DIMANA?," ia berteriak kalap karna tak menemukan botol kecil tersebut sembari membongkar lemari–lemari yang ada.
Bruk.
Seseorang melewati Menma dan sempat mrnyenggol pundaknya hingga Menma nyaris terjengkang.
"Hei!," umpatnya saat menemukan Arashi begerak menghiraukannya, membuka lemari pendingin khusus yang ada dan akhirnya menemukan apa yang ia cari.
Arashi segera melangkah menuju kasur diikuti Menma dibelakang yang mulai mencoba menenangkan diri.
"Apa yang terjadi?,"
"Ada pembengkakan di pembuluh darahnya, kalau dibiarkan kau tau apa yang akan terjadi," Kimimarou mengambil botol itu dari tangan Arashi dan segera mengaplikasikannya pada jarum suntik yang baru ia ambil.
"Bagaimana bisa?,"
"Aku juga tidak tahu, mungkin ini efek dari Nps yang sebelumnya Phat,"
Kimimarou segera menyuntikan cairan itu ke selang infus Ino hingga habis, namun apa yang terjadi selanjutnya membuatnya terperangah. Cairan itu berubah warna menjadi kuning kemerahan dan terus melaju menembus kulit ari milik Ino dan kemudian menyebar melalui darah sang gadis membuatnya sedikit tenang, tubuhnya pun tak mengalami kejang seperti tadi, lalu Kimimarou segera tersadar.
"Ada...yang menyuntikan sesuatu padanya,"
Arashi mengernyitkan keningnya bingung. "Maksudmu?,"
Kimimarou menatap Arashi lekat–lekat. "Ada seseorang yang berusaha membunuh Ino,"
Rubby—nya membelalak sempurna, dan instingnya pun membuatnya segera menyambar kerag baju Menma dengan kasar. "Kau. 'Kan?," serunya.
"Apa maksudmu?," meskipun gugup, Menma tetap mencoba mengatur emosinya.
Brak!
Arashi melemparkan Menma ke meja kayu terdekat, menciptakan derit suara riuh dari barang–barang yang berjatuhan karna meja itu pun ikut terguling bersamanya.
"Shit!," umpat Menma saat merasakan darah mengalir dari pelipisnya yang terluka. "Apa—apaan kau?,"
Arashi menduduki perut Menma dan kembali mencengkram kerah bajunya tersebut.
"Kau yang apa—apaan bedebah?," serunya tak mau kalah.
Bugh!
Satu pukulan melayang ke wajah Menma.
"Kau yang melakukannya 'kan? Kau yang melakukannya!,"
Bugh!
Satu pukulan lagi terjadi.
"Memangnya dia salah apa?,"
Bugh!
"Keparat kau!,"
"Sialan!,"
Bugh!
"Cukup Arashi!," Kimimarou berteriak frustasi.
Bloody Hell, ada seseorang yang sedang sekarat dan akan menjemput ajal dan mereka malah berkelahi disini. Meskipun begitu, Kimimarou bersyukur karna Menma tak berusaha melawan Arashi. Kalau tidak bagaimana jadinya Laboratorium miliknya ini hah? Ah, yang ada semua penelitiannya akan ludes dijadikan tameng dan senjata oleh dua makhluk sialan itu. Namun Arashi tetap saja meninju wajah Menma berkali–kali, tak mengubris ucapan Kimimarou.
"Jawab! JAWAB!," teriaknya.
Bugh!
"Bedebah!,"
Bugh!
"Beraninya kau!,"
"Phantom!,"
"Ugh! Uhuk!," Menma merasakan darah keluar dari mulutnya.
"Mati kau! MATI!,"
Bugh!
Bugh!
"HEI CU—,"
Bbiiiiiippppppppp—
Kimimarou melotot kaget saat kurva itu membentuk garis datar yang sangat panjang. "ARASHI!," bentaknya dan tinju Arashi pun terhenti diudara.
Ia menoleh dan matanya terbelalak kaget, segera saja Arashi berdiri meninggalkan Menma yang meringis kesakitan dengan banyaknya lebam biru di wajahnya.
"I—Ino," sebutnya.
Kimimarou segera menekan titik nadinya sang gadis, dileher, pergelangan tangan, dan tak lupa jantungnya.
"Tidak! Tidak! Tidak!," Kimimarou segera mengecek alat defibillator tersebut dan tetap saja hanya garis lurus yang ada disana. Ia segera melepaskan jarum infus dan masker oksigen ditubuh Ino, tak lupa beberapa kabel yang menompang tubuh Ino sebelumnya. "Arashi, bantu aku menyiapkan tabung,"
Arashi menatap Kimimarou tak percaya. "Kau jangan gila!,"
"Tidak! Aku tidak gila! Yang gila adalah kau dan dia," ia menunjuk Menma. "Jadi segera lakukan apa yang kukatakan atau kita akan kehilangan dia sekarang,"
Arashi hanya bisa mengangguk.
"Kalau begitu ikut aku,"Kimimarou segera mengangkat tubuh Ino, dan berlari menuju sebuah pintu ganda yang lumayan besar diruangan tersebut diikuti Arashi yang juga berlari dengan cemasnya, Menma bangkit dari posisi tidurnya dan menatap dua punggung dihadapannya.
Kimimarou melangkahkan tungkainya dengan jantung yang berdebar cemas.
Jangan mati! Jangan!
Ulangnya berkali-kali dalam hati.
"Kumohon bertahanlah!,"
Kimimarou telah berhenti percaya dengan keberadaannya Tuhan.
Tapi hari ini saat ia berdiri tepat didepan pintu ganda tersebut, ia harus mengakui keberadaan Tuhan itu ada untuk mereka yang percaya. Karna detik itu juga sang jelaga memberikan warnanya pada dunia.
Ia kembali dari kematian.
.
.
.
Bersambung
Samarinda 23 Februari 2016.
Salam Kecup,
Tsukyuu Floo Kitsune.
