2 Years later.

Sunagakure, 06.00. Am

Gaara menatap sosok Kankurou tak percaya.

"Jadi, alasan Temari pergi dari sini adalah pria bernama Nara Shikamaru itu?,"

"Sejauh ini hanya informasi itu yang ku dapatkan Gaara," Kankurou meringis sebentar. "Bawahanku yang berada di Kumogakure yang mengatakannya,"

"Setelah menghilang selama delapan tahun hanya informasi itu yang kau dapat?,"

"Kau tak lupa 'kan kalau Temari juga punya 'penjaga' di belakangnya?," Kankurou membalas tak terima. "Mereka berempat juga kelompok elite seperti Shinsin Kira milikmu itu!,"

"Jangan samakan Shinsin Kira dengan mereka!,"

"Oh, tentu saja. Kau sangat mencintai kelompok sampah itu!,"

"Tutup mulutmu Kankurou!,"

"Geez!," Kankurou berdecak. "Jadi apa rencanamu?,"

Gaara hanya terdiam sembari menatapi bingkai foto yang terpajang di meja kerjanya—foto kakak sulungnya—Temari. "Aku akan mengirim mereka kesana,"

"Terserah sajalah," balas Kankurou kemudian. "Kau tak lupa kalau kau ada penerbangan ke Konoha pagi ini 'kan?,"

"Kau saja,"

"Ha?,"

"Kau saja yang pergi kesana,"

"Oh, astaga Gaara!," Kankurou memijarlt lehernya. "Jangan seenaknya!,"

"Aku akan melakukan pertemuan khusus hari ini, Kankurou,"

"Masalah apa lagi?,"

"Nps,"

"Kau bisa menyerahkannya pada Kimimarou!,"

"Aku akan melakukannya sendiri!," tandasnya tak terbantah.


Tsukyuu Floo Kitsune.

Devil!
Disclaimer : Masashi Kishimoto own all character of Naruto.

Genre : Romance, AU, Adventure, OOC, and OC.

Warning : Typo(s), Ooc, and Crack-pairing.

Special dedicated for :
White Azalea-senpai.

.

.

.

"Ada beberapa hal yang tak akan bisa kita pahami dengan logika.

Tentang bagaimana kehidupan tumbuh dari kehidupan,

Atau tentang bagaimana kematian merenggut kehidupan,

Atau lagi tentang bagaimana manusia yang berubah menjadi kematian itu sendiri,

Dan mengambil kehidupan manusia lainnya".

.

.

.

Chapter tiga : Sang pembawa kematian.

Bulan purnama menggantung utuh diatas langit saat bayangan siluet seseorang terlihat jatuh diatas tanah dari atap sebuah gedung lantai dua, dan disana terdapat sosok yang tengah menyamarkan diri dengan jubahnya, sosok tersebut terlihat duduk sembari menggoyangkan kedua kakinya bergantian. Iris matanya tampak menggamati sebuah bangunan yang tepat berada dihadapan gedung tersebut. Suara lolongan anjing menggema, saling bersahutan dan mengisi satu sama lain hingga terdengar seperti tangisan yang membuat tulang bergetar. Angin musim gugur menyambut dengan baik lolongan itu hingga membuat siapapun ingin segera meloloskan diri dari suasana jalanan Sunagakure dan meringkuk dibalik tempat tidurnya, namun sosok tersebut tetap pada posisinya sejak tadi.

Belasan menit kemudian target yang ia inginkan keluar dari dalam bangunan tersebut, sosok pria berumur sekitar 32 tahunan dengan langkah tergopoh-gopoh berjalan seorang diri. Wajahnya bersemu merah, menandakan ia habis menenggak beberapa gelas alkohol dari bangunan yang sering disebut bar oleh penikmatnya.

" Hhiickk...please don't ... hhhiiickkk...don't...go...hickkkk... go...pleasee...hiiiccckkk...stay...witthh...hiiccckkkk," racaunya sembari menyanyikan lagu asing dengan nada aneh.

KLIK

FOUND!

Traitor (*pengkhianat)

Target : Nakamura Arai (32th)

Gender : Male

Got it!

Syuutt.

Sosok itu melompat dengan anggu, dan dalam sekejap saja sudah berpijak diatas tanah dengan mudah, matanya memicing mengikuti pria itu yang sudah berbelok kesebuah gang sempit dan gelap, bibirnya mengulas senyum sinis dan iapun melangkah mengikuti punggung pria itu dengan langkah-langkah ringan yang begitu lembut. Setelah memeriksa keadaan sekitar yang dapat dipastikan aman, dengan segera sosok itu memperpendek jarak yang ada, kemudian sosok itu berseru dengan nada dingin.

" Nakamura Arai,"

Pria itu menoleh dan menjawabnya dengan nada lirih "...ya?,"

Bola mata pria itu terbelalak kaget melihat cahaya bersinar kemerahan dari sebuah benda yang berada ditangan sosok itu,

" Siii...hiiiccckkk...siapppaaa..kau.?,"

" Maut menyapamu, katanya," sosok itu tersenyum miring " Hallo,"

BLAR!

Lalu tubuh pria itu terpelanting kebelakang dan menubruk tumpukkan sampah disudut gang disertai rasa sakit yang langsung mendera badan pria tersebut tanpa ampun, kemudian sebuah lubang besarpun tercipta dibagian dadanya yang tampak koyak, ia meregang nyawa seketika. Sosok itu dengan tenang mengembalikan pistol blasternya pada sarung pistol yang tergantung dipinggang rampingnya.

Ia menekan layar jam tangan emas yang melingkar di pergelangan tangannya dan sebuah layar 3D pun muncul didepan matanya.

'Welcome Four, please choice youre mission'

Tendo Yahiko

Akamichi Michiyo

Sarutobi Watarai

Nakamura Arai

Himura Arano

Sosok itu menyingkap tudung jubahnya, hingga kini rambutnya bermandikan cahaya bulan.

" Nakamura Arai, Clear," jawabnya dengan ekspresi yang tak terdefinisikan.

Segera nama yang ia sebutkan terhapus secara otomatis dengan status yang bertuliskan complete.

' Thank You Four'

Pip

Layar itupun menghilang dalam sekejap dan sosok itu kembali melangkahkan kakinya untuk segera 'berburu' lagi.


Namanya Four, ia adalah satu bagian kecil dari banyaknya orang yang ada di tempat besar ini.

Mungkin, sebutannya adalah markas. Ia tak mau terlalu ambil pusing soal nama sekarang.

Karna hal tersebut baginya tidak penting, yang terpenting adalah pekerjaannya.

Kau bertanya jenis pekerjaan apa yang ia lakukan?

Membunuh.

Ia akan diberikan sederet nama–nama orang tak dikenal yang kemudian akan dia singkirkan dengan mudah. Ia tak tahu menahu soal masalalunya.

Siapa ia, siapa keluarganya, siapa dirinya yang sesunguhnya.

Ia tak tahu.

Hanya sebait nama yang nengikatkannya pada benang kehidupan.

Ino. Yamanaka Ino.

Namun sungguh apakah nama itu berarti untuknya?

Rasanya tidak.

Tapi ia tak mau ambil pusing soal itu semua.

Karna seseorang sepertinya tak membutuhkan sesuatu yang sentimentil seperti itu.


Trak!

"Kumohon! Kasihani aku! Hiks! Kumohon!," sosok wanita dewasa yang menggunakan gaun malam itu berlutut disudut ruangan kamar tersebut, ia makin mengiba pada gadis yang mengenakan jubah berwarna gelap yang tengah mengacungkan pistolnya tersebut. "Disini...," wanita itu memeluk perutnya sendiri. "Ada anakku," ia berujar dengan nada memohon. "Kumohon jangan bunuh kami...jangan," ia terisak makin hebat.

Ino hanya menatap sosok dihadapannya dengan tatapan datar, tak berekspresi sama sekali. Ia sudah melewati masa yang panjang, latihan yang melelahkan, dan ia pun selalu bertaruh dengan kematian. Itu sebabnya tak ada iba didalam hati yang kering mengerontang itu.

Ckrek,

Ino menarik pelatuknya dan wanita itu makin menjerit dalam tangisannya. "Kau... apa kau tak memiliki keluarga? Apa kau tak tak sakitnya kehilangan seseorang?," tanyanya sembari memegangi perutnya dengan erat. "Aku memang punya banyak dosa, tapi... anak ini tidak," ia menangis terisak.

"Ia bahkan belum mempunyai sebuah nama! Apa kau tega padanya?! Kumohon! Akan ku lakukan apapun! Akan ku berikan apapun!," sosok itu meraung dengan isakan yang pilu.

Ini menurunkan pistol Glock—17 kesukaannya. Ia enggan menggunakan blaster miliknya karna saat ini ia harus berada disebuah kamar hotel bergengsi yang telah direservasi oleh wanita dihadapannya.

"Akamichi Michiyo,"

Sosok itu mengangkat wajahnya, ada binar harapan dimatanya karna berpikir sosok berjubah dihadapannya akan melelpaskannya.

DOR!

Letusan itu tercipta, menembus jantung wanita tersebut dengan mili detik yang terlampau cepat, membuat goresan cairan yang berjatuhan keluar, bola mata wanita dihadapannya melotot kaget, bibirnya menganga saat rasa sakit terasa menguliti organ—organnya.

"Ugh...Uhuk!," cairan berwarna pekat mengalir keluar dari bibirnya.

Ino merendahkan arah tembakannya kebawah.

DOR! DOR!

Kali ini dua timah ia sarangkan diperut sang wanita hingga darah melompat keluar dari dalam isi perutnya. Beruntung kamar ini kedap suara, jadi Ino tak perlu sibuk menggunakan pistok N—88 yang dibuat khusus tanpa suara rancangan terbaru para peneliti laboratorium.

"Suamimu memintaku membunuh anak selingkuhanmu," bisiknya, "sayang sekali kau malah mengemis untuk nyawanya,"

Iapun berbalik meninggalkan tubuh yang mendingin karna mulai berubah menjadi mayat, berdiri dibalkon sembari menatap purnama sempurna yang mulai condong ke barat, lalu ia melirik jam digital miliknya yang sudah menunjukan pukul empat dini hari.

Ia bahkan belum mempunyai sebuah nama!

Ino berdecih. "Apa pentingnya sebuah nama? Aku saja tak butuh hal seperti itu! Kenapa ia malah mengemis untuk hal sepele seperti itu?," sangkalnya sakartis.

"Benar, aku tak butuh!," katanya menutupi sesuatu. "Mereka juga tak butuh,"

.

.

.

Ia tak tahu berapa banyak nyawa yang sudah terenggut ditangannya, berapa banyak keuntungan yang sudah ia raup karnanya, sebenarnya bukan ia saja yang berada dalam organisasi ini.

Ada lebih dari tiga puluh orang berada dalam jaringan yang sama dengannya.

Namanya Shiretsuna.

Ia tak tahu berapa lama masa sudah terlewati sejak pria yang merupakan pimpinannya berkata ia menemukan sosoknya bergelimpangan darah dijalanan.

Ia berada dalam masa koma selama enam bulan dan kemudian dua bulan perawatan setelahnya, barulah setelah ia dinyatakan sehat, Ino menjalani sesi latihan.

Berlatih, berlatih, berlatih, dan kemudian, membunuh.

Hanya dua hal itu yang menghiasi hari–harinya, namun Ino tak keberatan, untuk satu dua alasan ada sesuatu didalam dirinya yang menginginkan kekuatan, agar ia tak menjadi sosok lemah yang disia–siakan dan untuk itulah Ino terus mengejar ketertinggalannya.

Shiretsuna dibentuk sejak lama, jauh sebelum Ino menyerahkan dirinya pada organisasi tersebut, namun eksistensi mereka tak pernah diketahui media ataupun pihak kepolisan yang bertugas melindungi Sunagakure. Kenapa? Karna orang yang bermain dibelakang mereka adalah para orang–orang hebat, berpangkat, dan tentunya memiliki banyak koneksi pemerintahan yang makin membuat nama mereka aman dari jarahan media massa.

Ino tak yakin bisa menghitung dengan benar namun bisa dipastikan ini adalah tahun keduanya berpijak di lantai lorong dingin ini. Mengetukan sol sepatunya pada marmer dibawahnya.

Ini adalah markas utama mereka, disudut kota Sunagakure yang sebenarnya merupakan bagian terpisah dari Gedung utama Sabaku Group. Ada empat kabin yang melebar disana–sini di sayap gedung utama. Fungsi tiap kabin dipisahkan berdasarkan tingkatan. Semakin tinggi level kemampuanmu maka semakin hebat juga alat-alat yang disediakan untuk keperluan berlatih.

Gedung ini sendiri digunakan untuk melakukan pertemuan dan ruang–ruang lain untuk penelitian dan eksperimen, serta ruang penyiksaan. Orang–orang diluar sana hanya tau bahwa Sabaku Group adalah perusahaan raksasa yang bergerak dibidang finansial dan juga marketing.

Tak tahu menahu tentang kelompok elit yang tersembunyi dari jangkauan orang luar, ah, bahkan para karyawan yang bekerja didalam Sabaku Group saja tak tahu kelompok elit yang dibentuk oleh para generasi pemimpinnya, yang orang–orang tahu tempat ini adalah salah satu cabang dari Sabaku Group.

Tempat besar ini juga menyediakan asrama terpisah yang mengurungmu dari dunia luar, dan para anggotanya tidak memilih namun dipilih.

Tapi, ada beberapa kondisi khusus yang terjadi didalam kelompok itu.

Ia, contohnya yang kini berada dalam unit yang terpisah dari Shiretsuna yang bernama Shinsin kira sebagai anggota keempat, tiga lainnya adalah pria—yang hampir sebaya dengannya.

Apakah Shiretsuna dan Shinsin kira berbeda?

Tidak. Malah lebih parah.

Anggota Shinsin kira adalah kelompok pembunuh bayaran yang sangat elit, mereka diberi beberapa kewenangan khusus dan berhak mengeluarkan pendapat, bahkan mengambil misi dari luar yang sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan Shiretsuna. Mereka diberikan satu gedung khusus yang dibagi menjadi empat kamar, ruang dapur, dan laboratorium pribadi milik Kiminarou, serta satu kabin utama yang menjadi tempat mereka berlatih.

Mereka istimewa? Tentu saja, namun seistimewa apapun Ino merasakannya, ia tak lebih dari seorang makhluk keji yang harus memutuskan urat seseorang atau menembak jantung seseorang.

Ino hanyalah seorang mesin pembunuh, dan ia tak berdaya akan hal tersebut.


Ino tiba didepan ruangannya tepat pada pukul sepuluh pagi setelah semalaman menghabiskan waktu bermain di Otogakure yang sangat melelahkan. Ia menggesekan kartu anggotanya pada alat digital yang terbuat dari besi tersebut dengan malas-malasan, tak menunggu lama suara yang berasal dari alat tersebut terdengar dan ia pun mendorong pintu untuk segera masuk kedalam kamarnya, Ino mengernyitkan keningnya mengetahui lampu ruangan miliknya tak menyala. Ia membungkuk hendak melepas sepatunya saat suara pelatuk yang ditarik dari sebuah pistol berada tepat disampingnya.

Klik!

Diikuti dengan lampu ruangan yang kemudian menyala otomatis, sebuah benda asing menyentuh tengkorak kepala bagian belakangnya diiringi tawa kecil milik seseorang.

"Bang Four!,"

Tanpa sadar bola mata Ino melebar, tubuhnya membeku merasakan ujung moncong sebuah pistol menekan kulit kepalanya, Ino mengikuti instingnya menegakan badannya dengan tangan yang terangkat sebagi isyarat menyerah.

Sial!

Tsukyuu Floo Kitsune

Dua tahun bukanlah waktu yang lama, namun tak juga sebentar karna dalam dua tahun itu waktu yang berlalu mampu mengubah pribadi seseorang tanpa sadar.

Shikamaru adalah salah satunya, melalui hari satu demi satu dengan perlahan, ia menutup dirinya untuk siapapun yang mencoba masuk ke dalam hidupnya.

Shikamaru mengusap mata kirinya dengan pelan sembari tetap menjaga kakinya tetap stabil melangkah diatas trotoar, rasanya ia lebih memilih bergelung dibalik selimut hangatnya ketimbang berangkat ke tempat kerjanya dengan berjalan kaki dipertengahan musim gugur seperti ini, pun demikian demi menyambung hidup lebih lama lagi Shikamaru rela memaksakan diri untuk menjejakan kakinya dijalanan Konohagakure yang bahkan belum beraktivitas karna baru sedikit penduduknya yang menyibukkan diri sepagi ini layaknya Shikamaru. Sesekali pria itu menguap dengan malas sembari menikmati pemandangan atap bumi diatas sana.

"Langit musim gugur yang indah..." gumamnya sembari mengangkat telapak tangannya keatas, bermaksud menghalangi terpaan sinar matahari yang akan mengenai iris kelam milik Shikamaru saat ia mengangkat wajahnya menghadap matahari.

Kehangatan matahari pagi ini berhasil membuat perasaan Shikamaru gamang.

" Bagaimana kabar kalian ahn?," monolognya sembari menerawang jauh, ia tersesat didalam pikirannya sendiri.

" Hoi pemalas!,"

Sapaan riang itu berhasil membuat Shikamaru kembali pada dunia nyata, ia memalingkan wajahnya dan menemukan kepala berwarna pirang cerah seorang pria seusianya menyembul dari balik jendela mobil sport berwarna orange, anak kedua di keluarga Namikaze serta pemilik hampir 80% saham di perusahaan yang sekarang menaungi hidup seorang Nara Shikamaru dan secara otomatis adalah atasan Shikamaru, Namikaze Naruto. Pria berparas tampan itu melebarkan senyumnya.

" Kau tidak keberatan kuberi tumpangan 'kan?," tanyanya dengan ekspresi polos. Shikamaru menggaruk pipinya menggunakan ujung jari telunjuknya, menandakan ekspresi kebingungan yang sudah jadi ciri khasnya.

" Tentu saja," ujar Shikamaru dengan sengaja menggantung kalimatnya dan menambahkan kalimat selanjutnya didalam hati "sangat keberatan,"

" Lalu?," Naruto mengangkat kedua alisnya "kapan kau akan memindahkan bokong pemalasmu itu hah?," tanyanya sakartis

" Tsk," Shikamaru berdecak sebelum akhirnya melangkahkan kakinya juga memasuki mobil mewah itu dengan terburu-buru dan duduk manis di jok sebelah kemudi. Naruto segera menghidupkan mesin mobilnya, dalam sekejap saja mobil sport itu pun sudah meluncur mulus membelah jalan kota Konoha.

"Bagaimana harimu?,"

"Baik,"

"Baguslah," balas Naruto kemudian. "Sekarang sudah memasuki musim gugur, udaranya kurang baik,"

"Begitulah,"

"Oh ya, ini bulan september 'kan?,"

Pundak Shikamaru menegang untuk sesaat. "Bukankah sebentar lagi peringatan dua tahunnya Temari dan Ino?,"

"Diam Naruto!," bentak Shikamaru tak sadar. Naruto meringgis dan menggaruk tengkuknya.

"Aku tak bermaksud menyinggungmu, Maaf!,"

Shikamaru menghela napasnya lelah. "Sudahlah,"

Tsukyuu Floo Kitsune

" Uugghh... keterlaluan," keluhan itu meluncur dari mulut seorang pria bermata dan rambut yang berwarna hampir senada, biru gelap yang sekilas terlihat seperti warna hitam. Ia mengusap kepalanya yang terlihat lebam dan membengkak sembari meringis sakit.

" Itu salahmu sendiri 'kan Black? Kau beruntung hanya bekas pukulan yang bersarang dikepalamu dibandingkan sebuah peluru," celetuk pria lainnya yang duduk berhadapan dengannya, sosoknya sangat kontras dengan pria yang disebutnya Black itu. Rambutnya berwarna putih tulang dengan iris matanya yang nyaris menyerupai warna bunga lavender, ia menatap malas sosok yang masih menggerutu tak jelas sembari mendelik tajam kearahnya tersebut." Kupikir kau tak keberatan dengan ideku tadi Light,"desisnya sinis.

" Memangnya aku bisa berkata apa? Kau selalu bertingkah bodoh jika berada dihadapannya Four, bukankah begitu Phat?," tanya pria berambut putih itu sembari melemparkan pandangannya pada sosok yang tengah berbaring disofa panjang yang terpisah dari keduanya.

Sosok yang dipanggil Phat atau lebih lengkapnya adalah Phantom tersebut hanya mengangkat bahu tak perduli sembari menggigit buah apel kesukaannya. Paras tampan dengan garis wajahnya yang tegas sangat mempesona, iris matanya sama persis dengan warna batu rubby – merah menyala, sama dengan warna rambutnya yang merupakan perpaduan antara Highlight Merah dan sedikit warna Orange terang.

Ketiganya tengah duduk berhadapan diatas sofa berwarna ungu muda yang terletak ditengah ruang besar tersebut.

" Kalian saja yang tidak memiliki sense of humor," elak pria berambut biru itu kesal.

" Sulit ku percaya kau adalah satu dari pembunuh hebat Shiretsuna," suara sopran itu menarik antensi ketiga pria itu, mereka menemukan sosok wanita berambut pirang yang kini muncul dengan sebuah nampan berisikan satu poci penuh Green tea dan empat buah gelas yang mengelilingi poci tersebut. Yamanaka Ino meletakkan nampan tersebut diatas meja kaca yang menjadi pusat dari keempat sofa apartemennya lalu dengan cekatan menuangkan teh itu kedalam gelas dan meletakkan gelas-gelas itu dijarak yang bisa dijangkau dengan mudah oleh pria-pria tersebut dengan hati-hati. Setelahnya barulah Ino menghempaskan tubuhnya disisi pria berambut putih sembari menyesap tehnya. Ketiga pria itupun melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Ino.

Apa itu sakit Menma-kun?," tanyanya sembari menyilangkan kaki kanannya diatas kaki kiri kemudian Ino meletakkan kedua tangannya diatas pahanya –bergaya sangat anggun setelah mengembalikan gelas berisikan teh itu diatas meja.

" Ya, sakit! Sangat sakit!," teriaknya kesal " Kenapa kau harus menendang dan memukulku seperti itu hah? Apa kau tau aku begitu merindukanmu selama beberapa minggu ini? Si Kankurou sialan itu mengirimku ke Iwagakure bersama Phat hanya untuk mengejar para ikan teri dan cecunguk yang bisa di bunuh dengan tu—tunggu ," seakan baru tersadar akan kata yang ditangkap oleh organ pendengarannya, sosok itu memandang Ino dengan horror. " ta—tadi kau memanggilku apa?,"

Pertanyannya itu berhasil membuat kedua pria lainnya tersentak menyadari hal ganjil yang baru saja terjadi lalu menoleh menatap Ino dengan pandangan tak terdefinisikan yang berbeda-beda. Pria yang dipanggil Phantom itupun sampai segera bangun dari posisi tidurnya.

" Menma-kun?," ulang Ino tanpa ekspresi.

" Menma-kun?," beo ketiga pria itu dengan nada yang hiperbola, bahkan nyaris seperti jeritan para wanita yang tengah bertemu teman lama.

Ino mengangkat sebelah alisnya " apa aku berbuat kesalahan? Apa ada yang salah memanggilmu dengan nama itu ahn Menma-kun," tanyanya sembari memandang pria berambut hitam itu lurus dann tajam " Kimimaro-kun?," kali ini pandangan Ino jatuh pada pria berambut putih tulang " Arashi-kun?," lalu terhenti pada sosok terakhir diruang itu.

Ketiga pria itu terhempas kebelakang hingga punggung mereka membentur sandaran sofa dengan ekspresi aneh.

" Me—mengerikan," komentar Menma dengan nada lemas.

" Aku tak percaya ini," gumam Kimimaro wajahnya memucat. " padahal terakhir kami bertemu baru seminggu yang lalu dan saat itu ia masih baik-baik saja,"

" Apa kau sedang sakit, Four?," Arashi bertanya dengan hati-hati.

Untuk pertamakalinya saat melihat reaksi rekan-rekannya semangat Ino menyala disudut hatinya.

Sebuah nama itu memang tak berarti.

Karna arti nama itu lebih dari kata 'berarti' itu sendiri.

Nama mengungkapkan identitas dan jati diri seseorang.

Tapi, apa aku memerlukannya?

Ino menepukkan kedua tangannya meminta perhatian, ketiganya kembali memfokuskan diri menatap Ino.

" Lupakan saja, ada perlu apa kalian kemari?,"

" Oh Kami-sama, aku hampir lupa!," seru Menma "aku mendengar akan ada pertemuan mendadak dari VIP melalui sekertarisnya pagi ini yang tak sengaja bertemu di lantai satu, ia berkata akan menemuimu lalu aku menawarkan diri untuk melakukannya dan entah kenapa," Menma menatap sinis pada Kimimaro dan Arashi " dua sialan ini ikut juga,"

Kimimarou hanya mendengus dan Arashi memutar bola matanya.

" Dan ia meminta semua Slayer (Pembunuh) dan Hunter (Pemburu) datang ke markas Shiretsuna secepatnya," timpal Kimimaro.

" Lalu kenapa kita masih disini?," tanya Ino dengan pandangan berkilat tajam dan mereka semua terkesiap.

Damn!

Mereka saling pandang satu sama lain, berusaha mencari pelaku utama dari kemalangan yang akan diberikan Sabaku Gaara pada mereka nanti. Lalu, semua pandangan akhirnya jatuh pada Menma yang kini tersenyum innocent.

" Bintang utama memang harus datang belakangan 'kan?," tanyanya dengan ekspresi cool.

Ketiga rekannya mencelos mendengar tuturan tanpa dosa tersebut diiringi aura suram yang mendadak hadir dan bisa ditebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

" AAAARGGGGGHHHHH,"

Yah, mari kita berdoa agar tubuh Menma tidak tercerai berai saat itu juga.

Tsukyuu Floo Kitsune

Shikamaru kini tengah duduk sendirian dikafe perusahaan sambil menyeruput segelas kopi hitam, bersantai—menurutnya, sedangkan bagi karyawan lain ia tengah bermalas-malasan. Suasana damai dan tenang ini dimanfaatkan Shikamaru untuk merenungi dan merutuki sikap sensitif-nya yang makin berkembang akhir-akhir ini. Bahkan salah satu rekan se-profesinya –Inuzuka Kiba mengejeknya tengah berada di siklus PMS.

Yang benar saja.

Batinnya tak terima, dan puncaknya pagi tadi ia sudah membentak Boss-nya sendiri dengan bodohnya. Oh astaga Shikamaru, mungkin Kiba benar soal kau harus mengenakkan rok span saja ketimbang celana ke kantor.

" Hei Shika," seruan bernada riang itu segera membuat alarm dikepala Shikamaru berbunyi. Inuzuka Kiba, orang berisik nomor dua setelah Namikaze Naruto yang paling dihindarinya.

Kiba menempatkan diri dibangku yang berhadapan dengannya.

" Kau senggang?," tanyanya.

Shikamaru meringgis pelan " tadinya, tapi sekarang aku sibuk," ujarnya sembari berdiri merapikan bajunya dan melangkahkan kakinya meninggalkan pria berambut coklat itu.

" Tapi ada yang ingin ku diskusikan denganmu Shikamaru," tak mau ketinggalan, Kiba bergegas mengikuti langkah-langkah Shikamaru.

" Iie, aku tidak tertarik,"

" Ini fakta! Fakta! Aku bisa bersumpah untuk itu,"

Tap.

Shikamaru menghentikan langkahnya dan menoleh pada Kiba dengan tatapan memicing, otomatis pria pecinta anjing itupun melakukan hal yang sama sembari memasang cengiran tak bersalah.

" Apa kau ini tidak pernah menggunakan otakmu itu untuk memikirkan hal lain dibandingkan gosip murahan ne, Inuzuka-san?,"

" Ja—jangan salah paham dulu Shikamaru! Aku yakin kali ini fakta,"

" Mendokusainna," Shikamaru melanjutkan langkahnya. Kiba kembali mengikuti laju jalannya pria berambut hitam yang dikuncir tinggi itu.

" Ada saksi yang melihat kejadian kali ini, empat hari yang lalu seorang gelandangan yang tertidur di samping tumpukkan kardus terbangun ditengah malam dan melihat seorang pria yang habis mabuk diikuti sosok berjubah, hanya dalam hitungan detik dan DOR!," Kiba meniru kaya seorang koboi yang habis menembakkan pistolnya dengan penuh gaya " pria itu mati seketika," ujarnya dramatis.

Shikamaru menguap malas sembari menghentikkan langkahnya didepan pintu lift, Pria disisinya itu terus mengoceh tak jelas dan ucapannya makin melantur kesana kemari.

" Urusee yo! (Berisik kau),"

" Dan kau tau apa yang paling mengejutkan? Yaitu kesaksian gelandangan itu tentang sosok berjubah tersebut, katanya dari gerakan dan suaranya tampaknya seorang wanita! Wanita! Hufftt aku akan gila karna penasaran rasanya,"

" Tsk, kau terlalu banyak membaca novel bergenre misteri Kiba. Apa maksudmu pembunuh sadis yang sudah menghabisi ratusan penjahat dan preman Suna, Iwa, Konoha, Ame, bahkan Oto adalah seorang wanita? Bakayaro (Bodoh),"

" Memangnya kenapa? bisa saja 'kan pembunuhnya adalah wanita berwajah cantik seperti malaikat," Kiba menyikut perut Shikamaru.

" Omong kosong,"

" Kau tak percaya ?," tanya Kiba sembari memasang raut wajah tersinggung. Shikamaru tersenyum sinis.

" Oh ayolah, orang ber-iq jongkok sekalipun tidak akan percaya pada cerita konyolmu itu. Kalau semua pembunuhan itu benar-benar ada, sudah pasti pemerintah akan segera bertindak. Belum lagi media massa? Ini akan menjadi berita besar diseluruh tanah air 'kan?,"

Ting.

Terdengar bunyi kedatangan lift.

" Aku hanya akan percaya kalau pembunuh itu sudah berdiri didepanku dengan pistolnya dan berkata 'hai aku peri kematianmu' ahh akan lebih bagus kalau dia berpenampilan seperti Thinker Bell,"

Tepat setelah Shikamaru menyelesaikan ucapannya dan pintu kembar itupun terbuka, Shikamaru mendapati seorang pria berambut coklat terang dengan setelan jas mahal didalam ruang segiempat itu dan dibelakangnya tampak dua orang pria yang berdiri dengan posisi tegap. Salah satu dari keduanya melangkah maju.

" Bisa kalian menggunakan lift lain?," ujarnya dengan nada angkuh, Terdapat pin dengan huruf 'S' sebagai Inisial diatas saku jasnya.

" Wooww, woooowww. Nani sama no tsumori (Kamu pikir kamu siapa?) ," ujar Kiba sambil tertawa mengejek.

" Omae wa kankei nai darou (Bukan urusanmu),"

" Cihh, tidakkah kau sadar bahwa kami adalah karyawan di perusahaan ini? Kau tak berhak mengusir kami seperti ini kau tahu, Bakatare (Dasar bodoh),"

" Sebaiknya jaga mulutmu itu agat tetap pada tempatnya, bocah!," gertak pria itu kehilangan kesabaran.

" Tsk, Apa-apaan sikapmu itu hah? tidak sopan," balas Kiba sembari mendelik tajam.

" Tidakkah kau berpikir lebih baik untuk menyingkir saja sekarang? Apa kau tak mengerti bahasa jepang hah?,"

" Lalu bagaimana denganmu? Kau tak tau bahasa manusia?,"

" Damare Aho! (Diam idiot)," pria tersebut menarik kerah Kiba kasar.

" Chikishou (Bangsat)," Kiba berbalik menarik kerah pria dihadapannya.

" KIBA/ZABUZA," dua suara itu terdengar hampir bersamaan, menyisakan efek sunyi yang menghanyutkan.

" Biarkan saja mereka masuk," perintah pria berambut coklat tersebut mutlak. Zabuza segera melepaskan kerah baju Kiba dan mundur mendekati pria berambut coklat itu lalu membungkuk dengan penuh hormat " Shitsureishimashita Sabaku-sama (Maafkan saya),"

" Heh," Kiba mendengus dengan kesal " Shikamaru, kita pergi saja," ajak Kiba sembari menarik lengan Shikamaru dan menyeretnya tanpa basa-basi. Pria berambut coklat itu terperangah sembari mengamati sosok pria bertubuh tinggi yang kepayahan mengikuti langkah-langkah rekannya.

Nama pria itu...

Pintu lift mulai bergerak menutup.

" Nara Shikamaru?,"

Ting.

Pintu lift tertutup rapat.

" Nama yang bagus," Kankurou tertawa kecil lalu kemudian pandangan matanya berubah tajam " akan segera kusiapkan batu nisan yang terbaik untuk namamu,"

Lalu tawa iblispun mengudara diruang tersebut.

Tsukyuu Floo Kitsune

Dengan langkah tergesa dan selaras mereka berlari menuju gedung utama, sialnya adalah tempat mereka memang lumayan cukup jauh dari gedung berlantai sepuluh tersebut.

Ino menghela napasnya, ia padahal berharap bisa tidur dengan nyaman di kasur bulu angsa-nya seharian, namun sialnya ia harus menunda keinginannya tersebut sekarang. Bibir cherry–nya merapalakan nada-nada remdah yang melantun indah.

Arashi yang berada disisinya melirik gadis itu.

"Hei Four,"

Ino menolehkan kepalanya. "Apa?,"

"Ada apa denganmu sebenarnya?,"

"Ada apa bagaimana?,"

"Ya menurutku kau berbeda hari ini,"

"Che, omong kosong,"

"Yah, ini baru dirimu—,"

"TANGKAP DIA! TANGKAP!,"

Arashi menghentikan langkahnya dan terkejut menatap sosok berbadan besar dengan luka gores disana-sini tubuhnya berlari kearah mereka sekuat tenaga, dibelakangnya ada empat orang pria berjas putih yang berada cukup jauh dari pria tersebut. Menma dan Kimimarou juga melakukan hal yang sama. Ketiganya spontan terhenti karna segera menganalisa keadaan saat Ino menghentakan sepatu boots coklatnya dan mata pisau muncul dari sana.

Tanpa ragu ia berlari mendekat pada pria itu yang diikuti suara teriakan Menma. "INO!,"

"MINGGIR!," suara sosok iti menggema, ia baru akan melayangkan tinjunya pada gadis itu saat Ino lebih dulu menghindar.

DUAGH! SRAAATTTT!

Ino melompat dan meninju pria itu sebelum akhinya menyarangkan tendangan dilehernya.

"Uwaargh!,"

Tanpa menunggu lama pria itu terjatuh dengan mulut yang memuntahkan banyak darah dan juga goresan horizontal di lehernya.

Ino menginjak kepala pria berbadan besar itu tanp belas kasihan dan mata pisau diujung boot miliknya pun kembali tersembunyi. "Maaf saja ya aku sedang buru-buru, jadi tak punya banyak waktu untuk membunuhmu," katanya dengan tatapan dingin mematikan.

"Wow—," ujar Arashi dengan mata yang melebar.

"Cool!," Kata Kimimarou.

Menma memandang punggung dihadapannya dan mendesah. "Sial dia keren!," dengan suara gumaman yang nyaris tak terdengar.

Ino membersihkan debu dipakaiannya dan menoleh dari atas pundaknya. "Tunggu apa lagi? Ayo!,"

Katanya dan berjalan menuju empat orang pria yang membeku ditempat, kemudian Arashi, Menma dan Kimimarou mengikutinya dibelakang.

Ino melirik mereka sekilas dan meneruskan langkahnya.

"Dia—," salah satu dari mereka berkata.

"Benar,"

"Sang pembawa kematian,"

"—Yamanaka Ino,"

.

.

.

Bersambung.


Apa cuma Floo yang ngerasa kalau Ino memang agak kejam disini? Well—toh dia keren xD

Dan yah—silahkan flame saya sesuka anda, but this is my style guys!

Cewek tangguh yang bisa ngelindungi dirinya sendiri!

Kemarin ada yang nanya apa Temari udah mati? That's right baby~

Temari emang sudah mati, dan yang nanya siapa yang bunuh Temari? Apakah Ino?

Wah bukan suprise donk kalau Floo kasih tau? :')

Ini ngambil chapter pertama dari Devil yang sebelumnya dengan banyaknya perubahan :')

Semoga kalian suka xD

Samarinda 01 Maret 2016.

Tsukyuu Floo Kitsune,

Long Live ShikaIno.