"Ku pikir Gaara yang akan datang, tapi kenapa malah kau Kankurou?" pertanyaan Naruto dibalas senyum formalitas oleh Kankurou.

"Adikku sedang sibuk Namikaze—sama, perusahaan kami memiliki banyak penurunan akhir-akhir ini jadi ia harus menyelesaikan banyak tugas."

"Aisshh! Bisakah kau berhenti memanggil namaku seperti itu? Panggil saja Na-ru-to," ejanya, "aku dan Gaara sudah berteman akrab sejak Sma tapi kau selalu bersikap aku ini orang asing."

" Maafkan saya Naruto—sama." jawab Kankurou.

" Aaaargghh Jangan gunakan embel—embel seperti itu juga Kankurou!" seru Naruto terbawa emosi.

" Baiklah Naruto." Kankurou tampak terkekeh kecil namun pandangan matanya berubah—menampilkan emosi yang dalam namun dapat ia kendalikan. " lalu sebagai sahabat adikku, apa aku bisa meminta pertolongan darimu?"

" Tentu saja 'kan?"

" Aaa, Terimakasih banyak. Lalu apa kau bisa meminta Nara—san kemari?"

" Hah? Nara—san? Nara Shikamaru?"

"Kalau kau tak keberatan," ia menjeda ucapannya ,"aku ingin berkenalan dengannya."

Mari kita lihat sehebat apa pria yang bisa membuat Temari berbalik meninggalkan kami.

"Baiklah, bukan masalah besar."

Atau lebih tepatnya belum.

.

.

.

Tsukyuu Floo Kitsune Present

Devil!

Disclaimer : Masashi Kishimoto own all character of Naruto.

Genre : Romance, AU, Adventure, OOC , and OC.

Warning : Typo(s) , Ooc , and Crack-pairing.

Special dedicated for : White Azalea-senpai.

Happy Reading

.

.

.

Chapter 4 : Siapa?

Ketukkan langkah-langkah yang berirama terdengar beradu diatas tanah, empat orang anak manusia berbeda karakter yang tengah berlari itulah yang menciptakan keributan disepanjang menuju markas utama.

"Aku tak suka ini," keluh Menma sembari memijat-mijat pundaknya dan terus melangkahkan kakinya lebar-lebar, jika dilihat secara detail ada beberapa luka baru diwajah tampannya—dan bisa ditebak itu adalah hasil karya kreatifitas ketiga rekannya. Disisinya ada Kimimaro yang hanya mendengus kesal.

"Ini 'kan salahmu yang malah asik bermain dan membuang-buang waktu."

" Aaaahh menyebalkan!" Menma menggerutu sembari memfokuskan iris matanya lurus kearah depan sana, dimana punggung Ino dan Arashi terlihat makin menjauh. "Aku hanya ingin melewati beberapa menit tanpa memikirkan misi atau apalah itu namanya."

"Dasar bodoh! Kau sendiri tau itu tak mungkin 'kan?"

" Yahh, itu sebabnya aku berharap..." pandangan mata Menma berubah sayu, Kimimaro menatapnya dengan heran.

" HEI BOCAH! Cepatlah sedikit!" teriakkan Arashi menyentakan antensi keduanya, ternyata mereka telah tertinggal jauh dari Arashi dan Ino.

"Dasar tidak berguna!"

" Aaaarrrggghhh! Aku benar-benar ingin mencabik-cabiknya!" geram Menma sembari membuat ancang-ancang menambah kecepatan larinya. Kimimaro menggeleng, menyadari niat jahat rekannya tersebut namun sebelum bibirnya terbuka untuk mencegah apa yang akan dilakukan Menma, pria berambut biru gelap itu sudah lebih dulu meninggalkan Kimimaro.

" DOKE (Awas)!" teriak Menma sembari berlari mendekat kearah Arashi, setelah tinggal beberapa langkah saja dari tubuh Arashi secara mendadak Menma melakukan gerakan memutar dan menyorongkan kaki kirinya menuju leher Arashi dengan kecepatan tinggi.

" Kutabare (Mati kau)." desisnya sinis, spontan Arashi membalikkan badannya dan melompat menjauh kebelakang.

BUGH!

Tendangan Menma mengenai tubuh seseorang.

SRAASSHHH.

" Kuso (Sial),"

Semua mata membola tak percaya, untuk sesaat detik terasa melambat dan membeku. Disana Yamanaka Ino, berdiri dengan lengan kiri yang menjadi penghalang kaki Menma agar tak mengenai wajahnya, gadis itu bahkan sedikit terseret kesamping karna kuatnya daya tendang pria itu, dengan kasar Ino menepis kaki Menma.

" FOUR!" Arashi lah yang lebih dulu bergerak saat menyadari tubuh Ino sedikit limbung, dengan sigap ia menangkap tubuh Ino dari belakang.

"Kau baik-baik saja? Apa kau mendengarku? Hei, jawab aku, jawab aku Four!" cercanya sembari membalikkan badan Ino dengan cepat dan mengguncang pundaknya. Ino tak membalas pertanyaan itu karna berusaha membiasakan diri dengan rasa sakit yang diterima tubuhnya, ia bahkan menebak tulang tangan kirinya sedikit retak sekarang.

" Aku baik—uhuk, uhuk," Ino mengangkat tangan kanannya untuk menutupi sebagian mulutnya. Ada benda asing yang terasa menghalangi kerongkongannya hingga membuat kerongkongannya terasa kering sekaligus sakit, dan tak lama kemudian darah segarlah yang mengalir keluar dari bibir ranumnya.

Arashi tersentak dan segera mengangkat lengan kiri Ino, menyibak coat milik Ino dan bekas tendangan Menma tercetak di sana—dan kabar buruknya—lagi bekas tendangan itu sudah tampak lebam dan membiru.

" KAU!" Arashi menatap nyalang pada Menma, "APA YANG KAU LAKUKAN HA? APA KAU INGIN MEMBUNUHNYA? BANGSAT!" raungnya emosi.

Hitam dan Merah bertemu.

Saling tatap dengan ke kontrasan emosi yang terlihat jauh berbeda.

Menma membuka tutup mulutnya, " Aa—ku, aku hanya ingin bercanda Phat, sungguh,"

"Bercanda?"suara Arashi bergetar " bercanda katamu?"

Suasana disekitar mereka makin memanas.

"Apa begini caranya orang bercanda hah?" sergah Arashi.

"Aku tidak sengaja!"

"BRENGSEK!" Arashi berlari hendak menerjang Menma, Menma menyiapkan kuda-kuda untuk menyambut serangan Arashi.

Tap.

Namun entah sejak kapan Kimimaro sudah berada ditengah-tengah keduanya, tangan kanannya memegang pistol blaster yang terarah pada Arashi sedangkan tangan kirinya juga memegang katana pendek yang terarah sangat dekat dengan leher Menma, guna melerai keduanya.

"Jaga sikap kalian." ucapnya dingin.

Arashi menggertakan gerahamnya. "SIALAN! APA KAU SENDIRI MENJAGA SIKAPMU HAH? MINGGIR! ATAU AKU JUGA AKAN MEMBUNUHMU!"

"PHANTOM!" bentak Kimimaro.

"Hentikan! Apa kalian lupa ada hal yang jauh lebih penting daripada perdebatan ini?" suara serak Ino membuat ketiganya terhenyak dan baru sadar apa yang harus mereka lakukan. Arashi mengertakan gerahamnya, sedangkan Kimimaro menyarungkan kembali katana-nya, dan Menma hanya bungkam tak bersuara.

"Kau salah paham Arashi, kondisiku ini bukan karna Menma," ungkap Ino " Aku sudah lama seperti ini."

"A—APA?" tanya Arashi dan Menma terkejut hampir bersamaan, lalu keduanya saling pandang dengan sinis." Bagaimana bisa?" imbuh Arashi kemudian.

"Karna ini," Kimimaro mengangkat benda yang berada ditangannya, "aku berada di lab satu bulan penuh demi meneliti ini, tapi aku bukan orang yang berhak mengatakkannya, kita akan mendapatkan rinciannya dimarkas, ayo!"

Tsukyuu Floo Kitsune

"Ck!" Sosok bermata kelam itu menggerutu sebal, mata hitamnya bergulir menatap ke sana ke mari mencari sesuatu yang bisa menarik minatnya, iris itu bergerak liar ke seluruh ruang besar itu, mengamati orang-orang yang saling menjaga jarak satu sama lain lalu beralih mengamati isi ruang tersebut.

Hanya ada meja panjang yang terbuat dari kaca khusus berwarna putih dan kursi empuk yang saling berhadap-hadapan didalam ruang ini, lalu di ujung meja itu ada satu kursi terpisah yang lebih besar dari kursi lainnya—tampaknya itu adalah kursi pemimpin mereka—dan dibelakangnya ada lambang titik koma sebanyak lima buah yang ekor dan kepalanya saling bertemu satu sama lain hingga menciptakan bentuk lingkaran yang didalamnya ada segi lima berwarna merah dengan tulisan berwarna putih berbunyi Shiretsuna.

"Merasa bosan ne Obito?" Pria yang terlihat empat tahun lebih tua darinya datang menyapa, Obito—sosok bermata kelam itu menatap pria bernamakan Shimura Sai—yang merupakan mentornya itu dengan tatapan terhibur.

"Aku tak tau menjadi Hunter semenyebalkan ini, harus ikut pertemuan, harus melakukan perjalanan, harus ini, harus itu, hah terasa merepotkan!"

"Lalu kau suka jika terus berada di posisi alpha ha?" Sosok gadis berambut coklat muda sepundak menghampiri keduanya, Rin Nohara. Rekan satu kelompok Obito.

"Berisik Rin." ketus Obito sebal, Rin meninju pundaknya dengan keras.

"Kau bahkan lebih berisik daripada nenek-nenek tua jompo Obito!"

Obito mencibir namun memutuskan tak menanggapi ucapan Rin.

"Daripada itu, aku ingin bertanya kenapa pertemuan ini belum dimulai? Slayer, Hunter, dan beberapa petinggi Alpha sudah ada disini tapi—"

" Aku belum memberitahu kalian rupanya ya?" Sai memotong ucapan Obito dengan cepat sementara pandangannya menerawang ke balik jendela kaca yang ada di ruangan itu dan jatuh ketitik dibawah sana, dari lantai tiga ini semua hal dapat tertangkap indera penglihatan Sai dengan mudah.

" Ah, itu mereka," tunjuknya pada empat sosok yang terlihat berjalan melalui penjagaan gerbang tanpa harus merepotkan diri memperlihatkan Id khusus untuk masuk ke gedung ini. Kedatangan keempat sosok itu langsung membuat beberapa pasang mata—selain Sai tentunya bersibobrok menatap mereka. Terlebih lagi Obito dan Rin, keduanya sangat antutias mengamati keempat sosok yang terlihat mengenakan coat yang panjangnya hampir menutupi lutut mereka masing-masing berwarna hitam dengan sebuah pin berhuruf 'SK' berwarna emas yang terpasang dikerah mereka.

"Shiretsuna memiliki beberapa tingkatan, Alpha, Hunter, Slayer dan mereka—adalah Shishin kirā (4 dewa kematian),"

" Shishin kirā?" ulang Obito nada pelan.

" Ya, bila seorang Slayer hanya bertugas mengeksekusi seseorang setelah para Hunter menangkapnya, mereka melakukan kedua hal tersebut sekaligus."

"Maksudnya mereka adalah Slayer sekaligus Hunter?"

Sai tak menjawab pertanyaan retoris milik Rin secara langsung, sebagai gantinya ia hanya menganggukan kepalanya.

" Seistimewa apa mereka?" cerca Obito.

" Mereka itu spesial Obito," ujar Sai sembari melengkungkan senyumannya, "mereka orang-orang 'terpilih' yang 'memilih' kau tau apa artinya tidak?"

"Artinya mereka yang menentukan bukan ditentukan, ah, biar ku perkenalkan mereka pada kalian."

" Dari sebelah kiri, pria berambut hitam itu adalah Uzumaki Menma. Kami memanggilnya Black, ia sangat emosional dan kasar. Ia dibesarkan diutara Otogakure didalam hutan oleh kawanan perampok sejak berumur 14 tahun, dan enam tahun lalu saat ia berumur 17 tahun, Sabaku Rei-sama menemukannya dalam kondisi yang memprihatinkan. Rupanya ia membantai habis-habisan kawanan perampok itu dan kemudian ia hidup hanya dengan memakan buah-buahan liar dan minum dari genangan air hujan atau tetesan embun karna tak mau merampok lagi padahal kondisi dihutan tersebut sangat kering, bahkan hampir tak ada makanan yang layak pangan disana, dengan kondisi itu ia disebut sebagai Jigoku no kami (Dewa Neraka)."

"Lalu pria berambut putih itu?" Rin bertanya tak sabar saat Sai belum juga melanjutkan ucapannya.

"Ia bernama Kimimaro Kaguya atau lebih dikenal sebagai Light. Ia jenius yang menciptakan beberapa perangkat khusus Shiretsuna termasuk pistol baster, namun dibandingkan memakai Blaster ciptaannya, Light lebih suka memakai sebuah katana pendek yang menurut kabar, katana itu terbuat dari timah dan perak yang tercampur dengan tulang ayah dan ibunya. Itu sebabnya ia dipanggil Bōnkirā (Tulang Pembunuh),"

"Yang ketiga adalah leader sekaligus pimpinan mereka, Senju Arashi atau Phantom. Sosoknya sangat dingin dan sensitif, dan ada saat ia menjadi sangat tempramental.

Phantom digelari Aka kureijī (Si Merah Gila) karna kesukaannya memotong-motong tubuh sasarannya menggunakan belati emas beracun sebelum benar-benar membunuh mereka, ia benar-benar gila."

"Wooww, kupikir keberadaan pria itu hanya dongeng belaka," ujar Rin sembari menatap Arashi kagum.

"Kabar apa?" tanya Obito penasaran.

"Katanya ada seorang pria yang gila akan darah dan suka memotong—motong siapapun yang berpapasan dengannya,"

"Che," sahut Obito dengan nada meremehkan "apa lagi yang tak kami ketahui Sai?"

"Empat tahun lalu, menyatukan ketiganya terasa sangat mustahil. Hampir setiap hari mereka berkelahi dan bertengkar tanpa alasan, bahkan Phantom dan Black pernah mengalami patah tulang dan gegar otak hingga harus dirawat selama enam setengah bulan ditahun kedua."

"Lalu kenapa sekarang mereka bisa satu kelompok?" Obito makin tertarik untuk mengamati gerak-gerik keempatnya.

Tsukyuu Floo Kitsune

Keempat sosok itu hampir secara bersamaan berhenti sejenak dan mengadahkan kepala mereka ke atas. Menatapi kerumunan orang-orang yang terpaku pada sosok mereka, tampak bagi semua yang ada didalam ruang itu paras memikat keempatnya yang memiliki daya tarik masing-masing.

"Para pecundang," ujar Menma skeptis melihat tanggapan heboh dari para anggota Shiretsuna lainnya terhadap kehadiran mereka.

"Ini mungkin aneh," Arashi memenggal kalimatnya, lalu melirik kearah Menma, "tapi aku setuju padamu Black."

"Bisakah mulai dari sekarang kita saling memanggil nama depan masing-masing ahn Mina-san?" tanya Ino pada rekan-rekannya.

" Justru itu lebih aneh lagi Four," sahut Kimimaro menimpali.

Yang lain mengangguk setuju.

"Tolong jangan tersinggung tapi akan sangat menjijikan kalau membayangkan harus memanggil Phantom atau Light dengan sebutan Ara—chan atau Kimi—chan," ungkap Menma dengan raut ngeri, "tapi untukmu," Menma melemparkan senyum manisnya pada Ino " aku bersedia Ino—chan." ujarnya bersungguh-sungguh.

Ino menatap tertegun pada sosok Menma.

"Harusnya kau tutup saja mulut busukmu itu Menma!" Arashi mendesis tajam pada Menma.

" Huwoooo," Menma memekik tertahan dengan suara melengking yang hanya mampu didengar keempatnya—guna menjaga Image-nya dimata para anggota Shiretsuna diatas sana.

"Kalian dengar? Dengar tidak?" cercanya sambil tersenyum sarkasme. "Phat memanggil namaku dengan penuh kasih sayang!" itu jelas bukan sikap memuji atau rasa senang karna dilontarkan dengan nada ejekkan.

" Kau!" Arashi bergerak maju selangkah menuju Menma, tapi Ino sudah membuat cekalan lebih dulu.

" Berhenti Arashi."

Gemerutukan dari geraham yang beradu karna emosi yang ditahan jelas terdengar dari Arashi, namun ia terpaksa menurut demi keselamatan Ino yang tidak dalam kondisi primanya.

"Lebih baik bergegas," kata Kimimaro, mulai lelah dengan sikap kedua sahabatnya ini dan mereka kembali melangkah dengan tergesa—gesa.

Tsukyuu Floo Kitsune

Terlibat dalam urusan orang lain itu bukan gaya Shikamaru sama sekali. Ia tak suka—dan tak pernah suka terlibat dalam hal yang merepotkan terlebih lagi jika itu hanya berakibat buruk untuknya. Itu sebabnya saat dirinya dipinta datang keruang atasannya—dalam hal ini adalah Namikaze Naruto— insting Shikamaru mengatakan ada yang tidak beres disini, namun ia harus mengenyahkan pola pikirnya yang makin memburuk akhir-akhir ini.

Haah, semoga itu bukanlah hal yang merepotkan.

"Anda memanggil saya Namikaze—sama?" tanyanya setelah membuka pintu ruangan itu, didalamnya tampak Naruto yang kini meringis kesal dan Oh! Pria di lift tadi.

" Masuklah Shikamaru!" pinta Naruto sembari memberi kode agar Shikamaru mendekat pada keduanya. Shikamaru melangkah mendekati sofa berwarna maroon yang ditata serapi mungkin diruang besar tersebut dan menempatkan diri di sofa panjang yang berhadapan dengan pria berambut coklat di hadapannya, sedangkan Naruto sendiri sudah duduk di sofa tunggal miliknya.

Entah feeling Shikamaru yang makin menajam atau hanya ilusi optik saja hingga ia merasa pernah bertemu dengan pria ini sebelum hari ini.

Tapi kapan?

Kenapa wajahnya terlihat sangat familiar bagi Shikamaru?

" Ada yang ingin berkenalan denganmu," ucapan Naruto membuat Shikamaru bingung sekaligus heran.

Memangnya dia sepenting itu sampai harus diajak berkenalan? Batinnya sweatdrop dengan tingkah laku orang-orang dihadapannya.

"Ini Sabaku Kankurou. Ia adalah seorang pengusaha sukses sekaligus kepercayaan Wakil CEO Sabaku Group, Sabaku Gaara. Dan Kankurou, Ini adalah Nara Shikamaru, ia lulusan dari MIT dibidang IT. Dia kebanggaan perusahaan kami."

"Lulus dari MIT diusia semuda ini? senang bertemu dengan orang sehebat kau Shikamaru," sapa pria itu sambil tersenyum lebar. Shikamaru menganggukan kepalanya sopan.

"Tak perlu dibesar-besarkan, saya tak sehebat itu Sabaku—sama," jawabnya merendahkan diri.

"Ah, Sabaku-sama? Formal sekali," Kankurou terkekeh kecil, "kau bisa memanggilku Kankurou saja."

"Ku rasa, itu kurang sopan?"

"Oh benarkah? Ah, sayangnya aku memaksa."

"Ha? Err terimakasih." Shikamaru menggaruk pipinya canggung, bingung kenapa ia harus berterimakasih sekarang.

"Sudah berapa lama kau bekerja disini?"

"Belum berapa lama."

"Begitu ya?" Kankurou menganggukan kepalanya lambat-lambat. "Aku sudah melihat beberapa program melihat beberapa program rancangan kamu dan hasilnya, sangat mengagumkan. Ah, apakah ini alasan kenapa Namikaze Group selalu terlihat makin maju dari hari ke hari?"

"Hah? Kau ini benar—benar berlebihan Kankurou. Kami masih kalah jauh dengan perusahaan kalian."

"Aku hanya berbicara Fakta Naruto,"

"Fakta yang kau lebih-lebihkan 'kan?" sergah Naruto. Kankurou tersenyum kecil lalu kembali memfokuskan tatapannya pada Shikamaru.

"Lalu to the point saja ya," ujarnya sembari tersenyum bisnis, "apa kau berminat bergabung dengan perusahaanku?"

"HA? APA?" Naruto dan Shikamaru nyaris berteriak secara bersamaan.

"Apa maksudmu? Kau mau cari masalah denganku ya?"sergah Naruto sebal, Kankurou terkekeh senang sembali mengerling padanya.

"Aku hanya bersikap sportif saja kok."

"Tapi 'kan Shikamaru itu karyawanku!"

"Oh ya? Wah, kalau dia menerima tawaranku bukannya hanya akan jadi mantan karyawanmu?"

"Kankurou!"

"Hahahah, aku 'kan hanya menawarkan kesepakatan Naruto,"

"Tidak boleh! Ini namanya pengkhiatan bodoh!" Naruto mendengus kesal.

"Jadi bagaimana Shika? Kau mau menerimanya?"

"Kau tidak 'kan Shika?"

"Aaaa," Shikamaru mengerjapkan matanya bingung, sampai kemudian tersadar akan kuatnya aura tatapan yang di pancarkan dua sosok pria berkuasa di hadapannya.

"Ku rasa, aku sudah nyaman dengan lingkunganku yang sekarang."

"Yeah! Kau yang terbaik Shika!"

"Aa, begitu ya? Sayang sekali, hahahaha," Kankurou tertawa lepas, membuat Shikamaru makin mengerutkan keningnya merasa aneh.

"Kalau begitu," Kankurou terlihat menimbang-nimbang sesuatu, "aku ingin tau apa kau keberatan jika aku mengutus salah satu karyawanku kemari untuk berlajar darinya?" tanyanya.

Naruto tersenyum puas. "Tidak, malah aku senang kalau karyawanku bertambah bukan berkurang."

"Aku juga senang," balas Kankurou ambigu.

Tsukyuu Floo Kitsune

" Four."

" Gadis tadi itu?" tanya Rin.

" Four? Angka empat dari bahasa asing? Lalu kemana yang satu sampai tiganya?" Obito bertanya dengan nada meremehkan.

" Mereka semua mati, kaupun akan berakhir sama jika terus menerus menggunakan mulutmu itu sembarangan!" tegas Sai dengan nada serius. Rin menyikut perut Obito hingga pria itu mengaduh kesakitan.

" Ia Four, adalah Yamanaka Ino. Pusat pengendali ketiganya sejak satu setengah tahun yang lalu. Tiga orang yang pernah ditempatkan di Shishin kirā sebelumnya hanya berakhir dengan kesia-siaan atau tewas tanpa keterangan. Hanya Four, satu-satunya yang dapat mengimbangi sifat ketiganya dan mampu bertindak hingga membuat perselisihan diantara mereka berkurang. Four selalu berburu di malam hari sendirian, dalam sehari saja ia bisa membunuh 10-15 orang, ku dengar ia memiliki harga paling tinggi ketimbang Shinsin Kira yang lain."

"Apa? Mengerikan sekali," decak Rin, matanya berbinar kagum.

"Dia cukup kuat," komentar Obito sembari mengernyit tak suka, "Oh, apakah dia seorang wanita?"

"Apa-apaan pertanyaanmu itu Obito? Kau pikir wanita tak bisa memiliki kekuatan setara dengan pria?" sengit Rin sembari memelototi Obito yang hanya berdecak sebal.

"Aku tak bilang begitu."

Pintu kembar ruang itu terbuka dan tampaklah sosok pria muda berambut merah dengan tatapan tajam mematikannya didampingi keempat orang itu beserta dua orang pria lainnya berjas hitam yang berdiri paling belakang. Semua orang segera mengambil posisi di bangku mereka masing-masing dan membungkuk dalam kearah pintu.

Sabaku Gaara melangkah menuju tempat duduknya dan segera menempati kursi kebesarannya dengan tenang, dan keempat Shishin kirā itu pun melakukan hal yang sama. Ino dan Arashi duduk di dua kursi yang berada disisi kanan Gaara secara berdampingan, sedangkan berseberangan dari keduanya, Menma dan Kimimaro pun melakukan hal yang sama. Saat ke lima orang penting itu duduk semua, barulah anggota Shiretsuna lainnya melakukan hal yang sama.

"Karna kalian semua telah menunggu lama, maka aku akan langsung pada intinya saja," suara bass Gaarra menggema dengan angkuhnya di atmosfir dan itu berhasil menuai reaksi berlawanan dari anak buahnya.

"Apa anda akan melewatkan begitu saja sikap penghinaan yang terjadi di depan mata anda ini Vip-sama?" tanya seorang pria petinggi perwakilan Alpha sembari tersenyum misterius.

Yakushi Kabuto—pria yang dicanangkan akan segera menempati posisi seorang Slayer tanpa harus menjadi Hunter terlebih dahulu karna kemampuannya.

Gaara mengangkat alis kanannya sedikit, seolah menunjukan sikap terganggu atas sikap beraninya.

"Kabu—"

Gaara mengangkat tangannya, bertindak mencegah ucapan yang akan dilontarkan rekan Kabuto.

"Memangnya apa yang harus ku lakukan?" tanyanya dengan sikap tenang, ah, bukahkah ada pepatah lama yang mengatakan cuaca yang cerah hanyalah pengecoh sebelum badai menerpa?.

"Tentu saja menindak tegas untuk mereka yang telah bersikap sembrono dan secara tidak langsung melecehkan anda," jawab Kabuto lantang. Semua rekan setingkatnya menunduk takut, memotong bahkan mendebat Sabaku Gaara sama artinya dengan tindakan bunuh diri.

Oh Astaga!

Apa sebenarnya yang dipikirkan otak jeniusmu itu Yakushi? Batin rekan-rekannya khawatir.

Arashi dengan santai terlihat mengeluarkan belati miliknya dan memisahkannya dari sarung belati tersebut. Dengan tenang ia memutar-mutarkan belati tajam itu diantara jari jemarinya tanpa rasa takut bahwa kulitnya bisa saja terluka berkat tingkahnya tersebut, Kimimaro hanya melemparkan pandangan matanya pada Ino dan Menma malah tersenyum skeptis.

"Begitu?" Gaara memijat keningnya, dan diam-diam melirik gadis berambut pirang disisinya, iris keduanya bertemu selang beberapa detik seolah menjalin komunikasi yang hanya bisa dimengerti oleh keduanya dan dalam interval waktu sekejap Ino segera menarik belati dari Arashi dan melemparkannya dalam satu garis yang menukik tajam.

CRASH!

"Aaaaarrrggghhhhhhhh!" Lemparan itu tepat mengenai sasarannya disusul dengan jeritan Kabuto yang memekakan telinga, pria itu memegangi bahu kanannya yang telah tertusuk belati akibat ulah Ino. Refleks semua petinggi anggota Alpha berdiri dan menatap tercengang atas tindakan Ino.

"Vip—sama—" gumam mereka tak percaya.

Gadis berambut pirang itu hanya mendengus bosan sembari menghempaskan badannya ke sandaran kursi.

"Four!" bentak Kimimaro.

"Atas dasar apa kau membentaknya hehh, Light—san?" sergah Arashi sembari menatap Kimimaro sinis.

"Che, seolah kau tak tau saja Phat," Menma menyisir rambutnya dengan jari jemarinya. "diantara kita semua Light memang paling berhati mulia 'kan?" Mata kelamnya menatap Kabuto yang merintih dan beberapa rekannya yang kini terlihat panik.

"Harusnya ia bersyukur karna pisau itu hanya mengenai bahunya bukan kepala atau mulutnya," Arashi tertawa kecil, " tapi hasilnya akan sama saja, karna bahu atau kepala, ia akan mati perlahan—lahan." imbuhnya sadis.

"Ti—tidak! Tidak bisa begini! Kabuto adalah anggota paling berbakat yang membanggakan diunit kami Vip—sama, mohon ampuni dia," pinta seorang wanita berambut merah gelap sambil menatap memohon, beberapa anggota Shiretsuna lainnya

"Apa karna dia seorang yang berbakat?" tanya Ino dengan ekspresi dingin,"JADI IA BERHAK MEMBUKA MULUT BUSUKNYA MENGKRITIK VIP?" bentaknya.

Hening.

Tak ada yang berani membuka mulut untuk menjawab ucapan Ino.

"Kau," Gaara menatap Obito yang juga ikut berdiri karna ia duduk tepat berhadapan dengan Kabuto, terlebih dulunya Kabuto dan ia adalah sahabat baik saat Obito masih dalam status Alpha.

"Y—ya?" tanya Obito gugup.

"Habisi dia," ucapnya dengan nada santai.

"A—apa?" pekik gadis berambut merah gelap itu kaget.

Obito mengepalkan tinjunya merasa sangat tak berdaya, ia tercenung sembari menatap pria berambut merah itu.

" Kenapa?" tanya Gaara saat Obito belum juga merespon perintahnya,"Ah, apa kau takut? Atau kau tengah mengasihaninya?"

" Aku—aku, aku," Obito memejamkan matanya, tak percaya untuk orang seperti inilah ia bekerja.

" Apa pecundang seperti ini yang nantinya akan menggantikan kami Gaara?" Arashi bertanya dengan nada lantang, ia bahkan memanggil Gaara dengan nama belakangnya. Tak lagi memakai embel—embel 'Sabaku—sama' ataupun 'Vip—sama' yang harusnya ia gunakan. Obito melihat seringai terkembang dari bibir Arashi.

"Dasar tidak berguna." makinya sinis, Menma juga ikut tertawa mencemooh.

"Menyedihkan!" cibirnya.

Ucapan Arashi membuat darah Obito mendidih. Bergejolak meminta pengakuan dan karna itulah meskipun tangannya gemetaran, ia segera mengangkat pistol blasternya dan mengarahkan moncongnya pada kepala Kabuto yang kini menatapnya dengan putus asa.

" Gomen."

DOR!

"Uuuuaarghhhh!"

Warna merah memercik keluar karna lubang yang tercipta dibagian jantugnya, mengenai satu dua orang yang berada dekat dengan pria malang itu, bahkan wajah Obito pun sedikitnya terkenai oleh darah sahabatnya tersebut, warna merah itu juga mengotori bagian atas meja yang kini bernoda darah, sekaligus tangan seseorang yang makin kotor dan berdosa. Hampir semua orang menahan napasnya tak percaya, tubuh Izuna rebah begitu saja, tanpa pencegahan, ataupun pertolongan.

Yamanaka Ino yang berdiri dari posisi duduknya menurunkan Glock 17—nya dan menghela napas lelah.

"Bisa kita mulai sekarang?" tanyanya dengan nada santai, seolah apa yang ia lakukan adalah kewajaran yang tak perlu dipermasalahkan. Ia kembali menempati tempat duduknya.

Obito menatap terpaku masih tak percaya pada kejadian yang baru saja terjadi didepan matanya dan kini ucapan Sai kembali melintasi benaknya.

"Chishi—hime (Putri Pembawa Maut) itu adalah gelarnya."

Yamanaka Ino.

Ia bukan hanya Putri Pembawa Maut tapi memang Malaikat Maut yang sebenarnya!

Batin Obito baru mengerti kedudukan Shishin kirā yang sebenarnya. Ia kalut melihat Kabuto yang meregang nyawa didepan matanya sedangkan sang pelaku penembakan itu malah terlihat santai dan kini tengah membersihkan debu yang kiranya menempel dikukunya, bersikap seperti seorang anak kecil yang polos dan tak berdosa.

Astaga!

Ini benar—benar gila!

.

.

.

Shikamaru menguap sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh arah ruangan Naruto, merasa bosan dengan topik yang sedang di perbincangkan oleh kedua penguasa di sekitarnya.

"Aku minta maaf, tapi bisakah saya undur diri sekarang?" tanyanya hati-hati, Naruto dan Kankurou menoleh padanya sebentar.

"Ya silahkan," ujar Kankurou sembari tersenyum ramah, Naruto juga mengangguk mengiyakan dan tanpa pikir panjang Shikamaru segera melangkah hendak keluar dari tempat tersebut.

"Hei Shikamaru," suara maskulin Kankurou terdengar, demi menghargai tamu Bosnya, Shikamaru menghentikan langkahnya dan menoleh dengan perasaan setengah tak rela.

"Apa kau mempunyai kekasih?"

"Ma—af?"

Kankurou tersenyum miring, "apa kau mempunyai seorang kekasih?"

Shikamaru terdiam sejenak kemudian berkata dengan nada tegasnya. "Ku rasa di sini bukan tempat yang tepat untuk membicarakan hal yang pribadi Sabaku—sama."

"Oh," Kankurou terkekeh "maafkan aku kalau begitu."

"Permisi."

"Ya,"

Blam.

Dan pintu eboni itupun tertutup dengan bantingan yang cukup kasar.

"Apa aku berbicara sesuatu yang salah Naruto?"

"Umm," Naruto menatap ke bilik pintunya ragu-ragu, "Shikamaru kurang suka membicarakan masalah pribadi."

"Apa salahnya aku bertanya?" ujar Kankurou sembari menaikan salah satu alisnya bingung, Naruto menghela napas.

"Errr begini ya, Kankurou," ia menggaruk kepalanya yang tak gatal, "apakah aku bisa mempercayaimu?"

"Tentu," saja tidak. Kankurou menatap manik Naruto dengan tatapan meyakinkan.

"Dua tahun yang lalu ia mempunyai seorang tunangan," di kalimat ini entah kenapa perasaan Kankurou menunjuk pada hal-hal yamg kurang nyaman, ia tetap menyimak baik-baik perkataan Naruto.

"Dan menjelang pernikahan mereka," Naruto menjeda ucapannya sebentar, menatap Kankurou dengan serius, "Tunangan Shikamaru bunuh diri."

Deg!

Tanpa sadar tangan Kankurou mengerat memegangi lengan sofa dengan perasaaan tak nyaman.

Jangan bilang ... jangan bilang ...

"Siapa?" lidah Kankurou bergerak untuk bertanya meskipun hatinya mengilu memikirkan segala kemungkinan yang ada.

"Temari, namanya Temari."

Dan lonceng sang malaikat kematian telah menunggu Shikamaru saat itu juga.

Tsukyuu Floo Kitsune.

"Aku punya misi kelompok untuk kalian," suara Gaara terdengar di ruangan besar tersebut, hanya tersisa mereka berlima sekarang karna pertemuan itu sudah selesai dua puluh menit yang lalu.

"Benarkah? Tumben sekali," Menma menyinggungkan senyuman miring khasnya, Arashi memutar bola mata bosan karna lagi-lagi harus bekerjasama dengan pria semenyebalkan Menma.

"Memangnya sepenting itu?" Kimimarou angkat bicara, ia hanya merasa tak tapi membantu dalam pertarungan, apalagi jika sudah ada Arashi dan Menma.

"Aku ingin mencari keberadaan kakakku, Temari."

"Aah," Ino berdesis sesaat merasakan lebam di lengannya terasa membengkak, ia jadi tak bisa berkosentrasi dengan ucapan yang dilontarkan Gaara, Arashi menoleh sekilas padanya.

"Kenapa misi perkelompok, ku rasa Ino dan Men—ehem," menyadari kejanggalan ucapannya, Kimimarou berdehem dan meralat ucapannya dengan segera, "Four dan Black sudah cukup untuk misi seperti ini."

"Anggap saja ini reward agar kalian bisa berlibur sejenak."

Cih, Kalian atau Ino? Menma mencibir Gaara dalam hatinya, bukan rahasia lagi bagi kelompok Shinsin Kira bahwa Gaara sepertinya ... menaruh perhatian lebih pada gadis berambut pirang tersebut.

"Aku akan memberi kalian waktu tiga bulan, dan dalam tiga bulan itu, ku harap kalian dapat segera menyelesaikan misi ini."

"Tapi—"

Brak!

Pintu ruangan besar itu terbuka, menampilkan sosok gadis berambut kecoklatan yang tampak panik.

"Gaara—sama, beberapa objek penelitian berhasil kabur saat hendak di bawa ke Lab, bagaimana ini?!"serunya panik, Gaara menaikan salah satu alisnya dan bertanya dengan nada suara yang ia pertahankan agar tetap tenang.

"Di mana penjaga?"

"Mereka tidak berjaga karna ada keributan di asrama Alpha."

"Shit!"

"Kalau begitu ini saatnya kami yang bertugas kan?" tanya Menma sarkas dan segera beranjak dari duduknya, berjalan ke arah jendela dan membukanya hanya untuk melihat keramaian orang-orang di bawah sana.

Tap!

"HUP!"

"Ini lantai tiga!" pekikan gadis bernama Matsuri itu menghilang di telan angin saat Menma sudah melompat turun dengan seenaknya. Ya, itu memang gaya Menma.

Sesuatu yang ekstrim dan menegangkan.

"Jangan ada keributan." Gaara menatap Arashi yang mencebikkan bibirnya kesal.

"Kami bukan anak kemarin sore Gaara," dan iapun beranjak dari sana diikuti Ino dan Kimimarou yang tak terlibat dalam percakapan.

"Berapa orang?"

"Tujuh, arah selatan."

"Sebanyak itu? Dasar bodoh!" Arashi mendengus dan makin mempercepat pergerakannya.

"Ino kau bisa beristirahat kalau kau mau," tawar Kimimarou padanya, Ino menggeleng.

"Aku baik-baik saja Kimimarou."

"Baiklah, tapi kau harus berhati-hati."

"Kau juga."

"Kita bagi dua kelompok, aku dan Ino, sedangkan kau dan Menma," suara Arashi menyeruak masuk di sela perbincangan mereka.

"Aku rasa lebih baik kau bersama Menma," jawab Kimimarou langsung, Arashi menoleh sedikit padanya dengan kening berkerut.

"Kenapa?"

"Tidak apa, ku rasa itu perlu saja."

"Kalau kau berpikir aku akan membahayakan Ino, kau salah besar Light."

"Baiklah, terserah kau Leaders," sahutnya setengah menyindir, Ino tak ambil pusing dengan keduanya.

Mereka sudah sampai di gerbang dan disuguhi wajah masam Menma.

"Kenapa lama?"

"Kami bukan binatang sirkus yang bisa melompat ke sana ke mari." sarkas Arashi, dan Menma hanya bisa memutar bola matanya bosan.

"Kau lucu sekali Ara—chan."

"Kau akan pergi bersama Light," bentak Arashi, Menma mengerutkan keningnya tidak setuju.

"Apa? Kenapa?"

"Tentu saja karna kau membahayakan."

"Kau tidak berpikir dirimu juga membahayakan?"

"Sudahlah, kita selesaikan secepatnya," sambung Ino dengan ada kesal, keduanya bungkam seketika.

"Kita berpencar,"

"Hati-hati."

"Tsk,"

Mereka bergerak sendiri-sendiri, menyisakan sosok berkepala merah yang berdiri di depan jendela yang terbuka lebar, Gaara menatap punggung itu tak percaya dan kemudian berbisik pada angin,

"Kau sudah banyak berubah, Ino."

Angin menghantarkan nada sumbang itu pada ketiadaan, karna mau sampai kapanpun Gaara tak bisa menunjukan kebenaran pada sang gadis.

Tsukyuu Floo Kitsune

"Bedebah sialan," seorang pria tambun menutup luka yang mengucurkan darah di tangan kananya.

"Tutup saja mulutmu Jigou, kita harus bergerak cepat." pria berambut perak membentak sosok yang ia panggil Jigou tersebut.

"Hei Sakon! Kau lebih berisik lagi bangsat!" di belakang keduanya seorang gadis berambut merah muda berteriak marah, ah, tidak itu saja, ia juga panik. Ketiga orang itu terus berlari menjauh melewati gorong-gorong saat suara letusan terdengar.

"Tayuya jangan lamban!" satu orang lagi di sisi kiri gadis berambut merah muda tersebut.

"Urus dirimu sendiri Shu!" Pria berambut perak itu menyela ucapan sosok tersebut.

Mereka sisa berempat karna tiga lainnya mengambil jalan yang berbeda.

"Ini menyebalkan," Jigou bersuara dengan geramab rendah, wajahnya memucat pasi saat seseorang melompat tepat di hadapan mereka.

Keempatnya berhenti dengan mulut yang menganga lebar, sosok berambut pirang dengan pistol blaster di tangannya menatap mereka dengan tatapan dingin.

"Para tikus yang terjepit," bisiknya dengan kilatan mata yang terasa menghakimu

"Sial! Ia bisa menemukan kita." Shu mendesis sebal, ia dan keenam orang lainnya adalah objek penelitian oleh Shiretsuna, atau bisa di bilang mereka adalah manusia modifikasi yang di rancang menjadi prajurit Shiretsuna.

Jangan tanya apa saja yang telah mereka lewati selama masa itu.

"Kalian hanya akan memperparah kematian kalian jika ingin melawan," peringat Ino dengan pistol teracung tinggi, Tayuya menarik keluar pistol F12 yang berhasil di curinya dari penjaga gerbang tadi dengan hati-hati.

Ia baru akan mengeluarkan pistol tersebut secara utuh saat suara letupan kemvali terdengar,

BLAR!

Keempatnya tersentak dan menoleh ke belakang, di mana pria perambut highlight oranye kemerahan itu telah menghabisi nyawa seorang wanita muda yang ... sudah tidak utuh lagi, dadanya bolong dengan lubang berwarna hutan mengerikan bersarang di sana, ia terkapar di atas tanah seperti ikan yang menggelepar.

"Kalian dengar katanya dia 'kan? Jadi patuhi saja, atau kalian akan berakhir seperti orang ini." Arashi menginjak kepala wanita itu dengan kakinya, menyisakan kernyitan jijik pada keempatnya dan mereka tersadar akan sesuatu.

"Shit!" dengus

"Mereka dari Shinshin Kira." Sakon bergumam tak menentu.

"Kita berempat dan mereka berdua, kita bisa lawan mereka,"ujar Tayuya berbisik.

"Kau sinting atau bagaimana? Satu dari mereka saja bisa membunuh 10 orang, apalagi hanya 4," jawab Shu sembari menatap waspada pada keduanya.

"Kita harus cari cara—"

"Wah, kalian belum selesai?" suara husky seorang pria muncul di sisi Ino, tangan kirinya tengah menyeret kaki seseorang dan ketika wajah itu terlihat mata keempatnya membola terkejut.

"HIDAN!"

Menma terkekeh senang, "wah, kau terkenal ya?" ia tergelak dengan nada mengejek. Sosok yang disebut Hidan itu hanya diam tak bersuara, lagian mana ada orang yang bersuara dengan kondisi babak belur sepertinya? Belum lagi darah yang mengucur deras di kepalanya.

"Kau sedang apa di sini Black?" Arashi bertanya dengan mata menyipit.

Menma menarik kaki itu san mengoyangkannya ke kanan dan kiri, "aku sudah selesai berburu omong-omong,"

"Di mana Kimimarou?" tanya Ino sembari melirik pada Menma.

"Mencari kelinci dan rusa, dan apa yang kalian dapat di sini?"

"Oh, hanya empat ekor pengerat," jawab Arashi santai.

"Wah? Aku mendapatkan anak domba yang berusaha menjadi serigala, ehh sekalinya ia hanya bisa menjadi anjing, guk guk." Menma menyalak dengan nada mengejek, menyisakan kegeraman yang ada di hari keempat sosok itu menggila.

Set!

"KAMI BUKAN BINATANG BANGSAT!" Tayuya mengangkat pistolnya dan menembaki Menma dan Ino dengan brutal.

DOR! DOR! DOR!

Menma menghindar dengan mudah, sedangkan Ino nyaris terkena salah satu anak timah tersebut karna ia cukup terkejut dengan serangan dadakan tersebut.

SYUT! CLAP!

"AAAARRGGHHH!" Tayuya berteriak penuh kesakitan saat mata pisau itu menancap di punggungnya, ia mengerang dan menbiarkan pistol itu jatuh di tanah bersamaan dengan tubuhnya yang terasa lemas dan bergetar. Arashi menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.

"Kau," ia menunjuk Shu dengan tangannya.

"Kau bisa pilih, ambil pistol itu dan bunuh mereka semua, maka aku pastikan kau akan langsung berada di posisi Slayer, bagaimana?"

Shu terkejut dengan mata yang membesar, ia meneguk air savilanya susah payah, tidak, tidak, ia tidak segila itu.

"Bisakah aku meminta banding?" ajunya dengan berani, "aku ingin kita bertarung, satu lawan satu!"

Arashi menaikan satu alisnya dengan tatapan "you—gotta—be—kidding—jerk?"

"Jika aku menang tolong biarkan kami pergi," ia berkata dengan nada pelan, matanya bergerak gusar, "dan jika tidak ... bunuh saja aku."

"Tapi tolong biarkan mereka pergi."

"Mulia sekali," cemooh Menma sembari tertawa sinis. Arashi memandang Shu dengan tatapan merendahkan.

"Well itu menarik," ia menjatuhkan pistolnya ke tanah dan melemaskan pergelangan tangan serta lehernya.

"One by One."

Shu maju selangkah, dua langkah, tiga langkah, hingga keduanya semakin dekat.

"Arashi," ujarnya sembari menyunggingkan senyuman miring, "kau pantas untuk tau siapa nama malaikat mautmu."

"Shu," jawab pria bermata almond itu dan tanpa pikir panjang segera mengarahkan kepalan tinjunya pada Arashi yang tentu saja dapat di elak semudah membalikan telapak tangan.

"Kau menarik juga anak kecil."

Menma mendengus bosan dan kemudian menduduki perut Hidan tanpa pikir panjang.

"Selesaikan dalam hitungan ke 10 idiot!" bentaknya jengkel.

"Satu!"

Buagh.

Arashi menyarangkan tendangan dan Shu berhasil berkelit, ia membalas tendangan pia berambut merah itu dengan tinjunya namun terasa percuma karna dengan secepat kilat kepalan tangannya berhasil mengenai perut Shu.

"Dua!"

DUAGH!

Shu melompat ke belakang sembari memegangi perutnya, lalu ia kembali menerjang Arashi dengan tinju dan tendangan yang menggila.

Tendang. Tangkis. Hindar. Pukul.

Buagh!

Dak!

Buagh!

"Tiga!"

Menma memutar-mutar pistolnya dengan bosan lalu memperagakannya seolah-olah tengah menembaki dua orang pemuda yang berdiri kaku ala coboi.

Childish sekali.

DUAGH!

Shu jatuh ke tanah dengan Arashi yang menginjak pergelangan kakinya.

"AAARGGGHHHHHH!"

"Hn?" Arashi menyeringai setan, benar-benar senang saat Shu menyarangkan kaki lainnya menendang betisnya sekuat tenaga dan berguling ke kiri menghindar.

"Empat!"

"Ck, lama sekali!"

DOR!

"ARASHI!"

Mata Menma melotot tajam melihat pemandangan itu, Ino melompat maju dan menerjang pria bernama sakon itu dengan cepat.

BRUK!

Tubuh Sakon menabrak dinding dengan mudah, ia mengerang kesakitan sementara pistol yang tadi ia gunakan terlempar entah kemana.

Tes

Arashi merasakan darah mengalir dari pipinya yang sempat terserempet biji timah panas itu dan kemudian matanya beralih pada sosok Ino yang bertarung dengan Jigou.

"Aishh, darah pembunuhku menggila," Menma gemas sendiri dengan pertarungan Inondan Jigou, rasanya ingin ikut dan menghabisinya dengan sekali libas.

Ino menghantam telak dagu Jigou lalu beralih pada perut dan tak lupa menyarangkan beberapa tendangan pada pria tanbun yang terus mengelak serangannya.

Tahan. Tangkis. Tahan.

"Tsk," Ino menggerung dan kemudian melompat dengan gerakan memutar.

DUAGH!

Ia melirik pada blasternya yang terjatuh saat ia menerjang si brengsek pecundang yang masih terkapar tersebut dan kemudian tersadar ia masih mempunyai Glock 17 faforitnya, dengan kasar Ino mengambil pistol tersebut dan mengarahkannya pada kepala pria itu.

DOR! DOR!

"UWWARGHHHHH!"

Menma mengernyit jijik melihat organ kepala sosok itu keluar dan darah muncrat dengan menjijikannya. Ino berdiri dengan mata berkilat dan mengamati tubuh itu dengan tatapan tak terbaca, ia terpaku sesaat.

"Ewh," desisnya menahan mual.

Arashi menginjak leher Shu dengan kasar, menekannya dengan kuat-kuat lalu berbisik dengan nada pelan.

"Aku memberimu kemudahan dan kau menolaknya keparat! DUK!" ia menginjak -nginjak kepala pria itu, sekali, dua kali, tiga kali sampai akhirnya Shu mengerang kesakitan.

"PHAT KAU MEMBUANG WAKTU!" teriak Menma jengkel, merka ada di luar jangkauan cakupan wilayah Shiretsuna, meskipun di gang sempit ini terbilang sepi tak menutup kemungkinan kan kalau ada mata yang melihat aktivitas mereka?. Arashi membungkuk mengambil blasternya dan menggerakan slotnya dengan kasar, darah masih menetes dari pipinya.

"Farewell bajingan!"

DUAR!

"AAARGGGHHHH!"

Arashi menembak kaki Shu, lalu moncongnya beralih pada perut sosok itu.

DUAR!

DUAR!

DUAR!

Dan berakhir di sepanjang dada sampai kepala Shu dengan brutal.

"Wow, pembalasan yang menyenangkan," Menma bertepuk tangan heboh, sangat Out of Character sekali dari dirinya yang biasanya. Arashi tertawa sinting, kesenangan.

CRAP!

"Aaaaghhh!" Ino berteriak sakit saat merasakan punggungnya terbakar, ia berbalik dan mendapati wajah marah Tayuya yang telah menusuk punggungnya dengan belati emas Arashi. Menma terseret dalam pikirannya saat lagi-lagi Tayuya menciptakan gerakan, Arashi sama terkejutnya sampai tak bisa bergerak.

"BEDEBAH!" Tayuya berteriak emosi dan belum sempat Ino memproses apa yang terjadi satu tikaman mendarat lagi, kali ini tepat di dada Ino membuat gadis itu tersentak dan memegangi belati yang menancap di dadanya.

"INO!" Menma tersadar saat suara Kimimarou menyeruak, pria itu melewati Arashi dan tanpa pikir panjang segera menebas leher Tayuya dengan satu kali hentakan.

CRUUSH.

Kepala gadis itu menggelinding dengan mata melotot lebar, tubuhnya ambruk ke tanah dan detik itu barulah Menma tersadar dan berlari menyambut tubuh limbung Ino.

"Ino!" pekikan suara Menma sampai di benak Ino, ia menggeleng berusaha mempertahankan kesadarannya sebelum tersadar bahwa belati Arashi tercampurkan oleh racun tarantula dan ekstrak racun dari bunga suji yang mematikan.

Ia menggeleng lagi namun terlambat,

Sesuatu yang gelap menyergapnya dan ketika Ino mencoba membuka mata yang dilihatnya adalah gambaran genangan darah dan tubuh tersayat seorang wanita.

Dalam sebuah bak mandi, menggenakan sebuah gaun pengantin berwarna putih.

Siapa?

.

.

.

Bersambung


Errr~ siapapun yang ngefans sama mereka yang menjadi korban kekerasan aku meminta maaf sebanyak-banyaknya :3 karna itu tuntutan peran :3 *plak.

Yup, akhirnya update juga Devil 😄😄😄 setelah sekian lama rampung juga chapter ini.

Akhir kata, selamat menikmati

Samarinda 15 April 2016.

Salam kecup,

Tsukyuu Floo Kitsune.