Author

yehetohorat794

Title

Studying : "How To Take Care of a Baby"

Cast

Xi Luhan (GS)

Oh Sehun

Byun Baekhyun (GS)

Park Chanyeol

And the others..

Genre

Romance/Fluffy/Drama

Rate

T

Length

Threeshoots (?) / Chaptered

Disclaimer

The Casts is belong to their family. I just borrowed their name for my new story. This is Hunhan Fanfic. So if you don't like it, you can click the 'close' button or just 'back' from this page. Do not copy the story. I made it by my self, so if you want to copy, just inbox me. The idea of this fanfic is really made and found by myself.

Warning

It's HunHan fanfic! If you don't like it, please go back. So many typo words on this fanfic. GS!

Summary

Luhan diminta untuk menjaga seorang anak berumur satu setengah tahun. Ditambah lagi dia diharuskan untuk tinggal bersama Sehun. Luhan akan menjaga nya saat siang dan Sehun menjaga nya saat malam. Perlahan mereka merasakan sesuatu yang membuat mereka tak mau berpisah. Read along this Fanfic..

.

.

.

.

.

.

.

.

Happy Reading!

.

.

.

.

.

.

Luhan menekan tombol password, lalu menapakkan kaki nya ke dalam ruangan itu dengan pelan-pelan. Ini sudah jam 3 pagi dan dia baru pulang dari kuliahnya.

Seharusnya kuliah sudah selesai pada jam 10 malam tadi, tapi dia mempunyai kepentingan pribadi.

Dia lalu melangkahkan kaki nya dengan perlahan menuju dapur. Dia sangat haus kali ini,

Tanpa menghidupkan lampu, dia berjalan menuju meja dan mengambil gelas sebelum menuangkan air putih dingin yang di ambilnya dari kulkas.

Baru saja dia menelannya dengan satu tegukan, tiba-tiba lampu hidup dengan sendiri nya dan mendapati Sehun sudah berdiri di ambang pintu, menyenderkan lengannya pada sisi pintu sambil melipat tangannya,

"Kau baru pulang?"

Luhan meneguk liurnya, lalu menggaruk tenguk nya yang tidak gatal,

"Hehe.. Iya.."

"Kenapa sangat larut?"

"Aku mempunyai banyak urusan tadi,"

Sehun mengangguk sekali sebelum mengambil botol air yang ada di tangan Luhan.

"Saat malam, tidak boleh meminum air dingin.."

Luhan tertawa sekali lagi, "Maaf, aku sangat kepanasan dan haus,"

Sehun hanya menatapnya datar,

"HUWWEEE.."

"Insoo menangis lagi, aku akan mengganti popok nya.. Sepertinya dia mengompol lagi" ucap Luhan sebelum berjalan melewati Sehun,

.

.

.

"Tian mi mi ni xiao de tian mi mi.. Hao xiang hua er kai zai chun feng li.. Kai zai chun feng li... zai na li.. zai na li jian guo ni..Ni de xiao rong zhe yang shu xi...wo yi shi xiang bu qi..." Luhan mulai bernyanyi dengan halus sambil menimang Insoo dengan Sehun di samping kanannya yang melihat nya dengan tatapan yang sangat sulit diartikan,

"...a... zai meng li...meng li.. meng li jian guo ni...tian mi xiao de duo tian mi.. Shi ni... Shi ni... meng jian de jiu shi ni.. Zai na li.. Zai na li jian guo ni... Ni de xiao rong zhe yang shu xi.. Wo yi shi xiang bu qi.. a... Zai meng li... " Luhan melanjut kan nyanyiannya sembari tersenyum pada Sehun. Sekali lagi, Sehun terdiam melihatnya.

"Kau bahkan sepertinya belum menyelesaikan lagu nya tapi, dia sudah tertidur dengan nyaman.." Ucap Sehun yang dibalas oleh tawa kecil dan halus milik Luhan,

Luhan berdiri, hendak mengembalikan Insoo pada box bayi nya, tapi tangan Sehun memegang pergelangan tangannya, Dan setelahnya, dia mengambil alih Insoo dari tangan Luhan, "Biar aku yang mengantar nya" bisik Sehun yang hanya di balas anggukan oleh Luhan,

Sehun lalu kembali setelah meletakkan Insoo pada tempat tidur nya. Dia berjalan menuju sofa dan langsung menempatkan bokongnya di samping Luhan,

"Sudah ku katakan kalau kau tidur di dalam, aku akan tidur di sini.." Ucap Sehun, Luhan lalu teringat akan ucapan nya tadi pagi sebelum mengangguk mengerti.

"Baiklah.." Luhan hendak berdiri, tapi tangan Sehun kembali menahannya. Luhan menatap nya bingung,

"Nyanyi kan lagu itu pada ku?"

Luhan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, "Kau ingin aku menina-bobokan mu?"

Sehun mengangguk sebelum tersenyum, dia lalu menepuk kembali sisi kiri nya, menyuruh Luhan untuk duduk kembali,

"Aku menyukai lagu nya.." ucap Sehun sebelum memejamkan mata nya dan menyandarkan kepala nya ke sandaran sofa,

"Ayo, nyanyikan untuk ku.." Ucap Sehun setengah merengek, Luhan menghela nafas lalu kembali duduk di samping Sehun,

"Berbaring lah.." ucap Luhan, tapi Sehun menggeleng, "Aku lebih mau seperti ini.."

Luhan kembali menghela nafas nya, Sehun memang sangat keras kepala,

Tian mi mi

ni xiao de tian mi mi..

Hao xiang hua er kai zai chun feng li..

Kai zai chun feng li...

zai na li.. zai na li jian guo ni..

Ni de xiao rong zhe yang shu xi...

wo yi shi xiang bu qi...

Luhan menyanyikan nya dengan lembut, Sedikit terkejut saat merasakan tangan Sehun menyelipkan jari nya pada sela-sela jari Luhan.

Hangat nya tangan Sehun membuat Luhan ikut menghangat, bahkan sampai ke hati nya,

Diiringi dentuman yang sangat cepat di dalam dada nya dan pipi yang bersemu merah, dia melanjutkan nyanyiannya dengan lembut dan sedikit bergetar

A~ zai meng li...

meng li.. meng li jian guo ni...

tian mi xiao de duo tian mi..

Shi ni... Shi ni... meng jian de jiu shi ni..

Zai na li.. Zai na li jian guo ni...

Ni de xiao rong zhe yang shu xi..

Wo yi shi xiang bu qi..

A~ Zai meng li...

Genggaman Sehun mengendur, dan Luhan juga bisa mendengar nafas Sehun yang teratur.

Pria itu tertidur dengan kepala yang mendongak ke atas, bibirnya terbuka sedikit mengeluarkan dengkuran halus di telinga Luhan,

Luhan bisa melihat seluruh ketampanan sisi wajahnya dari tempat dia duduk, rahang tegas nya, hidung mancung nya dan bibir tipis nya. Semua terasa bersinar di mata Luhan.

Dengan perlahan, dia mengambil kepala Sehun dan meletakkannya di bahu nya sendiri. Karena jika Sehun dibiarkan dalam posisi begitu, maka besok leher nya akan sakit. Setidaknya, bahu nya lumayan untuk disandari,

Luhan menatap wajah Sehun yang berada di dekatnya, "Jaljayo, Sehun.." bisiknya sebelum ikut tertidur,

.

.

.

"Eungh..." Luhan terbangun dengan nyaman, dia menggeliat di atas tempat tidur nya,

Tempat tidur?

Luhan dengan cepat terduduk sambil mengumpulkan kesadarannya, dia melirik Insoo yang terlelap di box bayi nya.

"Bukannya aku semalam tidur di luar bersama Sehun?" gumam Luhan bingung. Dia melirik jam yang ada di tengah-tengah dinding, sedikit membulatkan mata nya saat menyadari sudah pukul berapa ini.

"Jam setengah delapan pagi?" Pekik Luhan terkejut. Dia lalu melangkahkan kaki nya keluar dari kamar. Menuju dapur dan berniat memasakkan makanan untuk Sehun, tapi saat berdiri di ambang pintu, dia menyerit saat melihat punggung tegap itu.

Sehun sedang berkutat pada masakannya, dengan jas rapi itu, dia dengan cekatan memasukkan bumbu-bumbu ke dalam penggorengannya,

"Sehun?" Luhan mengeluarkan suara nya. Pria itu lalu berbalik dan menyapa Luhan dengan senyuman khas nya.

"Kau sudah bangun?" ucap Sehun, Luhan mengangguk sebelum berjalan dan berdiri di samping Sehun, memerhatikan Sehun memasak,

"Omelet?"

"Aku tidak terlalu pandai memasak. Tapi aku lumayan bagus saat membuat omelet." Ucap Sehun lalu tersenyum pada Luhan, Luhan mengangguk-angguk.

"Kenapa kau tidak membangunkan ku?" ucap Luhan, Sehun tertawa kecil sebelum menjawab,

"Kau begitu pulas.." ucap Sehun setelah tertawa,

"...Lagipula kau semalam pulang sangat larut.. Jadi menurutku, kau belum mendapat tidur yang cukup.." lanjut Sehun,

"Kau...yang memindahkan ku ke kamar?" ucap Luhan pelan, sedikit semburat merah menjalar di pipi nya. Sedangkan Sehun hanya mengangguk santai,

"Ya.. Aku 'kan sudah bilang, Aku tidur di luar dan kau tidur di kamar.." ucap Sehun sebelum tersenyum, Luhan ikut tersenyum menanggapinya,

"Waaa~ Sepertinya enak~" Luhan berujar ceria sambil menghirup masakan Sehun, Sehun tertawa menanggapi sikap Luhan yang sekarang seperti anak-anak.

"Kalau begitu duduk lah, Ini sebentar lagi selesai.."

Luhan menurut lalu berbalik dan duduk di salah satu kursi. Tangannya menopang ke dua pipi nya yang bertumpu pada meja.

Sehun lalu meletakkan mangkuk berisi nasi dan juga omelet panas yang baru di masak nya tadi. Luhan mengembangkan senyumanny dan mengambil sumpit di samping kanannya.

dia lalu meyuapkannya ke dalam mulutnya, setelah mengunyah dan menelannya dia mengembangkan senyuman manis nya,

"Otte?" Tanya Sehun,

"Mashita~" Ucap Luhan sebelum makan dengan lahap, Sehun tersenyum melihatnya,

"HUWWEEEE" Suara Insoo terdengar, dengan cepat, Luhan meletakkan sumpit nya dan hendak berdiri, tapi tangan Sehun menahannya,

"Biar aku yang mengambilnya.. Kau makan saja.." ucap Sehun sebelum berjalan menuju kamar,

Sehun lalu kembali dengan Insoo di gendongannya, "Appa.." Insoo berujar manja sambil menelusupkan wajahnya pada ceruk leher Sehun. Sehun dan Luhan tertawa mendengarnya.

"Dia memanggil ku 'Appa' Lu!" Seru Sehun, Luhan tertawa menanggapi nya,

Sehun lalu duduk di kursi nya bersama Insoo di pangkuannya,

Insoo tetap saja menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher nya, sepertinya Insoo tertidur lagi,

"Sehun? Bisa kah aku membawa teman ku kemari?"

Sehun menatap Luhan sebelum mengedikkan bahu nya,

"Itu terserahmu.. Kenapa harus bertanya?" Ucap Sehun lalu memasukkan makanannya lagi ke dalam mulutnya,

"Aku kira kau tidak akan menyukai nya.."

"Pria atau wanita?"

"Wanita..."

Sehun mendesah lega,

"...Dan pria.."

"Hah?"

.

.

.

"Sehun? Kau sudah pulang?" Ucap Luhan saat mendapati laki-laki pucat itu masuk ke rumah. Luhan kini sudah memakai sweater abu-abu nya dengan skinny jeans.

"Bukannya seharusnya kau pulang 45 menit lagi?" Ucap Luhan lagi,

Sehun hanya menghela nafas kasar, menatap seorang perempuan yang berdiri di samping Luhan lalu beralih ke seseorang yang duduk di sofa itu sambil menatapnya balik.

"Dia benar-benar membawa pria kesini.." Gumam Sehun kesal,

Laki-laki asing itu lalu berdiri, tangannya mengulur,

"Aku Park Chanyeol. Senang bertemu dengan mu.." Laki-laki itu tersenyum manis, membuat Sehun mual dan ingin muntah pada saat itu juga, Sehun tak menyambut uluran tangannya. Dia hanya mengangguk.

"Dia namanya Park Chanyeol.." Perjelas Luhan, "Dan ini nama nya Byun Baekhyun, kekasihnya Chanyeol.."

Entah kenapa Sehun menghela nafas lega. Dia memberi senyuman pada Chanyeol.

"Byun Baekhyun imnida.. Bangapta.." Cicit Baekhyun yang sedikit takut melihat Sehun.

"Ah.. Oh Sehun imnida.." Ucap Sehun lalu tersenyum.

"Kau akan kuliah sekarang, Lu?" Tanya Sehun yang dibalas anggukan oleh Luhan, dia menyerahkan Insoo pada Sehun.

"Ayo Baek.. Chan.." Ucap Luhan, Chanyeol lalu berdiri dan mengucapkan salam perpisahan sekali lagi, disusul oleh Baekhyun,

Tapi disaat Luhan ingin keluar dari pintu apartemen, dia menahan tangannya,

"Kau tidak akan pulang terlalu larut kan? Hari ini?" Tanya Sehun, Luhan hanya tersenyum menanggapi nya.

"Akan ku usahakan.." Ucap Luhan,

.

.

.

Sehun menatap jam yang ada di tengah dinding itu. Ini sudah jam 11, dimana Luhan? Ini bahkan sedang hujan deras.

Sehun mengganti channel TV nya dengan bosan. Tak ada yang menarik malam ini.

Dia lalu mengambil ponselnya, mengetikkan nama Luhan di pencarian kontak nya sebelum menyentuh ikon dial.

Setelah beberapa detik..

"Yeoboseo?"

"Luhan? Kau dimana?" Sehun bisa mendengar suara deras hujan dari sini. "Kau kebasahan?"

"Sedikit.. Aku tidak apa-apa kok.. Aku sudah dekat dengan apartemen.. Apakah Insoo sudah-AAAH!"

Suara petir memotong ucapan Luhan. Luhan berteriak dengan keras,

"Kau tak apa? Luhan? Kau dimana? Aku akan menjemput mu!"

"Ti-tidak usah Sehun.. Aku sudah dekat dengan apartemen. Jika kau menjemputku, siapa yang menjaga Insoo?" Luhan berucap dengan gemetar. Sehun menghela nafas. Pasti Luhan sangat ketakutan sekarang.

"Baiklah.. Hati-hati di jalan.."

"Ya.. Aku tutup, ya.. Baterai ponsel ku sudah mau habis.."-TIT

Sehun kembali menghela nafas sebelum meletakkan ponselnya di nakas sampingnya.

Kenapa dia menjadi gelisah begini?

Sehun terus mengganti-ganti Channel TV nya, itu berlangsung selama 15 menit hingga dia mendengar suara pintu yang dibuka,

Kaki nya langsung melangkah dengan cepat menuju pintu apartemen, dia membesarkan diameter matanya,

"Kau bilang kau hanya sedikit basah. Tapi?" Sindir Sehun melihat keadaan Luhan.

Luhan sangat basah sekarang, rambutnya menjadi jarang-jarang karena basah. Bibirnya dan wajahnya putih sekali. Pucat karena kedinginan, Luhan juga memeluk tubuhnya sendiri.

"Keringkan tubuh mu sekarang. Aku akan membuat cokelat panas" ucap Sehun sebelum beranjak menuju dapur.

Dia sangat kesal sekarang. Tapi dia sendiri bingung kenapa dirinya kesal.

Melihat Luhan dengan posisi kedinginan seperti itu malah membuatnya sangat kesal.

Setelah membuatnya, dia meletakkannya di atas meja makan dan duduk disana. Menunggu Luhan selesai mengeringkan dirinya.

"Kau kedinginan?" Ucap Sehun setelah Luhan duduk di depannya, Luhan hanya mengangguk sebelum menyeruput cokelat panasnya,

"Harusnya kau menunggu hujannya reda.. Baru pulang.." Ucap sehun,

"Bukannya kau menyuruhku untuk pulang lebih awal?"

Sehun menghela nafas sekali lagi. Semua adalah salahnya.

"Baiklah. Terserah kau saja. Aku ingin tidur.." Ucap Sehun tanpa ekspresi, lalu berlalu dari Luhan.

.

.

.

"Enghh..." Luhan bergeliat di dalam selimut. Dirinya kembali bergelut di dalam kain tebal nan hangat itu.

Luhan dengan payah membuka matanya, menatap jam yang ada di tengah atas ruangan ini.

"Jam 9?" Luhan bergumam serak layaknya orang yang baru bangun tidur.

Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah box bayi yang ada di sudut ruangan.

Insoo tidak ada disana?

Insoo tidak ada disana?!

"Insoo!" Pekik Luhan dengan cepat langsung menghempaskan selimut nya. Badannya sangat lemas hanya untuk berjalan, tapi dia khawatir. Dimana Insoo?

Luhan berjalan dengan pelan dan mata yang sayu keluar kamar.

"Insoo?" Luhan bergumam sambil berjalan ke kamar mandi. Tapi tak menemukannya disana.

Dia mencari ke seluruh ruangan,

Tapi nihil. Insoo tidak ada. Bahkan Sehun juga.

Sehun mungkin kerja, tapi dimana Insoo?

Indra pendengarannya menangkap suara pintu yang terbuka. Dengan cepat dia berjalan ke sana.

"Insoo.." Luhan berujar lega melihat siapa yang datang. Itu Sehun dan Insoo yang berdiri di ambang pintu dengan kertas belanjaan di tangan Sehun.

"Kau sudah bangun?" Ucap Sehun, dia meletakkan kertas yang penuh dengan belanjaan itu di bawah. Punggung tangannya lalu menempel di dahi Luhan.

Luhan merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. "Kau masih demam.." Ucap Sehun lalu menjauhkan tangannya dari kening Luhan,

"Kau tidak kerja?" Tanya Luhan, Sehun menggumam sebagai jawaban,

"Kau tidak boleh kuliah hari ini. Kau sakit.." Ucap Sehun seenaknya,

Luhan menyeritkan dahi nya, "Aku hanya demam.."

"Aku bilang jangan kuliah dulu!"

"Baiklah" cicit Luhan.

"Kau belum makan, kan?" Tanya Sehun lalu mengambil lagi kertas belanjaannya setelah menutup pintu apartemennya,

"Belum.." Ucap Luhan sambil mengikuti Sehun.

"Luhan..?"

"Ya?"

"Apakah teman-teman mu bisa di percaya?"

"Maksudmu?"

"Chanyeol dan Pakhyun-"

"Baekhyun.." Koreksi Luhan, Sehun mendecih mendengarnya.

"Ya ya.. Baekhyun.. Apa mereka bisa dipercaya untuk menjaga Insoo?"

Luhan mengerjap bingung, "Kau mau menitipkan Insoo pada mereka?"

Sehun mengangguk,

"Kenapa?"

"Insoo bisa saja tertular demam mu jika dia masih di sini.." Ucap Sehun, Luhan membulatkan mulutnya,

"Aku akan menelepon mereka.." Ucap Luhan lalu berjalan mengambil ponselnya,

Dia lalu menelepon Baekhyun dan menceritakan semuanya. Dia juga meminta Baekhyun agar menjemput Insoo kemari bersama Chanyeol.

"Dia mau?" Tanya Sehun, luhan mengangguk sebagai jawaban,

"Dia tidak akan mungkin menolak permintaan ku.." Ucap Luhan sebelum tersenyum. Melihat Luhan tersenyum Sehun ikut tersenyum,

"Mereka akan sampai dalam 30 menit. Aku akan menyiapkan pakaian Insoo.." Ucap Luhan dan beranjak ke kamar, Sehun hanya menggeleng kan kepala nya. Kentara sekali Luhan sedang memaksakan diri.

Sehun meletakkan Insoo di dalam kereta-keretaannya dan menyusul Luhan ke kamar,

Dia mengamati Luhan yang sedang memijat ringan kepala nya dari ambang pintu.

"Biar aku yang menyiapkannya.." Ucap Sehun, Luhan menggelengkan kepala nya.

"Tidak.. Aku bisa kok.." Ucap Luhan sambil hendak memasukkan baju dan celana Insoo lagi ke dalam tas nya, tapi kepala nya menjadi semakin pening.

Dia memijat ringan kepalanya lagi,

Sehun menarik tangan Luhan untuk berdiri, kemudian membawa nya untuk duduk di atas tempat tidur.

"Kau tidur saja, aku akan mengatur semuanya.." Ucap Sehun halus, dia membaringkan Luhan.

"Tapi-"

"Tenang Luhan.." Ucap Sehun kemudian tersenyum. Tangannya mengusap sisi kiri kepala Luhan.

Luhan kembali berdetak dengan cepat. Sengatan-sengatan listrik menjalar di tubuhnya, ditambah lagi beberapa kupu-kupu berterbangan di perutnya,

"B-baiklah.." Ujar Luhan gugup, dia lalu menutup matanya, Sehun kembali tersenyum sebelum beranjak membereskan pakaian Insoo, setelah memasukkan pakaian terakhir, dia menarik resletingnya.

"Mama!"

Luhan kembali membuka matanya, dia melengkungkan bibirnya. Menciptakan senyuman manis yang dapat membuat Sehun tak berkutik.

Insoo berjalan dengan tertatih, menuju tempat tidur. Setelah berhadapan dengan wajah Luhan, dia menepuk-nepukkan wajah Luhan dengan tangannya,

"Mama! Anas! (Panas)" ucap Insoo keras, dia kemudian berjalan ke arah Sehun. Menarik-narik tangan nya.

"Appa! Mama anas!(Panas)" ucap Insoo dengan aksen anak-anaknya, Sehun gemas dan langsung mencuri kecupan dari bibir mungil Insoo.

"Mama sedang sakit, sayang.." Ucap Sehun. Mata Insoo berkaca-kaca, bibirnya melengkung kebawah,

"Mama atit?(Sakit)" ucap Insoo bergetar, Luhan terdiam mendengarnya. Sehun yang melihatnya langsung menarik Insoo ke dalam pelukannya,

"Mama sakit. Tapi Appa akan merawat nya dengan baik.. Jadi, Insoo tak perlu khawatir.." Ucap Sehun lembut. Luhan bisa merasakan dada nya berdentum dengan cepat saat mata mereka bertemu. Sehun tersenyum pada nya dan membuatnya sulit untuk sekedar bernafas.

"Mama embuh?(Sembuh)" tanya Insoo dengan suara bergetar, Sehun mengangguk. "Mama pasti akan sembuh.." Ucap Sehun,

Luhan tersenyum mendengarnya. Ini sangat mengharukan bagi Luhan. Dia seperti benar-benar berkeluarga dengan Sehun, dan Insoo benar-benar mengkhawatirkannya.

"Mama pasti sembuh" ucap Luhan sebelum menghampiri mereka, dia lalu berdiri disamping Sehun,

Insoo menangis. Ingin di gendong oleh Luhan. Tapi Luhan sama sekali tidak ingin mengambilnya. Bahkan menyentuh Insoo saja dia segan,

"Maafkan Mama, Soo-ya.. Mama tak bisa menggendongmu.." Sesal Luhan, melihat Insoo menangis entah kenapa ikut membuatnya bersedih. Ingin sekali dia mengambil Insoo dan memeluknya erat. Tapi jika dia melakukan itu, bisa-bisa Insoo tertular demamnya.

Insoo perlahan meredakan tangis nya, Sehun menggenggam tangan Luhan. Dan Luhan balas menggenggam nya,

"Ting tong.." Bel apartemen mereka berbunyi, Sehun yang sedang menggenggam tangan Luhan dan menggendong Insoo itu berjalan menuju pintu.

Sehun mengulas senyumannya saat melihat siapa yang datang. "Selamat datang.." Ucap Sehun hangat, Chanyeol dan Baekhyun membalasnya dengan senyuman,

"Mama!" Ucap Insoo dan menjulurkan tangannya pada Baekhyun. Baekhyun menerimanya dengan senang hati.

"Luhan? Bagaimana dengan mu? Sudah mendingan?" Ucap Chanyeol sambil menerima tas yang berisi barang-barang Insoo,

"Dia akan mendingan sebentar lagi.." Ucap Sehun, dia kembali mengeratkan genggamannya pada Luhan, Baekhyun yang memang dari tadi memandang tautan itu hanya tersenyum lembut.

"Well.. Asal kau tak berlaku kasar pada nya, kami tak keberatan.." Ucap Baekhyun, Chanyeol dan Sehun tertawa mendengarnya, sedangkan Luhan menyeritkan dahi nya. Tidak mengerti.

"Sudahlah.. Kami pergi Luhan, Sehun-ssi.. Annyeong!" Ucap Chanyeol sebelum membawa sebelum Baekhyun kelepasan seperti tadi.

.

.

.

Kini tinggal mereka berdua di apartemen ini. Luhan duduk di meja makan, menunggu Sehun selesai memasak.

"Kau bisa memakannya sekarang.." Ucap Sehun sambil memberi masakannya pada Luhan. Luhan dengan senang hati menerima nya.

Dia menyeritkan dahinya saat makanannya masuk ke dalam mulut nya. "Ini pahit.." Ucap Luhan. Sehun ikut menyerit dan mengambil sumpit dari tangan Luhan sebelum memasukkannya ke dalam mulutnya,

"Tidak.. Ini berasa kok"

"Kalau begitu lidah ku yang pahit.." Ucap luhan setengah merengek. Dia mendorong kedepan makanan yang sudah Sehun buat,

"Kau harus makan, Luhan.." Ucap Sehun halus, Luhan menggelengkan kepalanya,

"Tapi pahit.."

"Mau pahit ataupun tidak, kau harus makan." Ucap Sehun tegas, Luhan menatap Sehun dengan mata memohonnya,

Sehun menolehkan kepalanya ke kanan, tidak mau melihat wajah Luhan yang menggemaskan itu,

"Jangan lakukan aegyo.." Ucap Sehun, Luhan mendesah kesal,

"Aku tidak mau makan Sehun.." rengek Luhan.

"Tapi kau harus makan. Atau kau akan semakin sakit.." Sehun menyeringai di akhir kalimat saat melihat Luhan hendak berbicara lagi, dan...

"Tapi Aku tida-mpphh-"

.

.

.

.

Sehun tertawa saat melihat wajah kesal Luhan dengan mulut yang penuh dengan makanan. Ya saat Luhan berbicara, Sehun langsung memasukkan makanannya ke dalam mulut Luhan,

Setelahnya Luhan menurut. Ya karena sedikit paksaan juga, sih.

.

.

.

Luhan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia sangat lemas sekarang. Dan dia juga semakin kedinginan,

Sehun menatapnya dengan tatapan... Ehem... Khawatir.

Dia mengusap kepala Luhan, bisa dia dengar Luhan kini sedang menggeram kedinginan,

"Aku bahkan sudah mematikan AC. Tapi kau masih kedinginan?" Ucap Sehun sedikit bingung. Bahkan dia sekarang kepanasan,

"Dingin.." Gumam Luhan, dia meringkuk di dalam selimutnya.

Sehun tidak tahan atas semua nya. Melihat Luhan kedinginan itu seperti membakar tubuh nya. Dia sangat tidak suka melihat Luhan sakit seperti ini. Dengan sekali hentakan, dia melepaskan baju nya hingga kini dia shirtless.

Luhan menatapnya terkejut walaupun matanya tetap sayu,

Sehun menurunkan selimut Luhan, dia menatap Luhan lama sebelum..

CUP..

...Sebelum dia mengecup kening nya,

Dia mendekatkan bibirnya pada telinga Luhan. Membisikkan sesuatu yang dapat membuat Luhan sedikit menghangat,

"Aku minta maaf tapi aku akan menghangatkanmu"

Perlahan, Sehun membuka kancing pertama Luhan, kencing kedua dan kancing ketiga sebelum membuka seluruhnya. Kini dia bisa melihat lekuk tubuh Luhan yang terbalut dengan kain tipis yang Sehun tau namanya itu tanktop.

Luhan hanya menutup matanya. Pasrah akan semuanya diiringi dengan jantungnya yang tak bisa diajak kompromi,

"Aku benar-benar hanya ingin membuatmu hangat.. Tidak ada maksud lain.." Ucap Sehun pelan sebelum membuka tanktop Luhan.

Kini Luhan hanya memakai bra hitam pada bagian atas nya. Sehun benar-benar memegang ucapannya. Dia sama sekali tak berpikiran mesum. Dia langsung naik ke atas tempat tidur dan membawa Luhan berhadapan dengannya sebelum mendekapnya dengan hangat dan erat.

Dia menyelimuti Luhan dengan tubuh atletisnya, memberi kehangatan yang benar-benar kepada Luhan.

Luhan hanya diam sambil menetralkan detakan jantungnya, dia menyandarkan sisi kepalanya pada dada bidang Sehun.

"Luhan.. Badanmu sangat panas.." Gumam Sehun.

"Kau bisa tertular Sehun.."

Luhan bisa merasakan Sehun menggelengkan kepalanya, "aku tidak perduli.." Ucap Sehun. Dan sukses membuat hati Luhan ikut menghangat,

Sehun menarik selimutnya untuk menutupi tubuh mereka berdua sebelum mereka berdua terlarut dalam mimpi.

.

.

.

Luhan bergeliat nyaman. Dia meringkuk di dalam kukungan hangat yang sukses membuatnya mengurungkan niat untuk membuka matanya. Semuanya terasa hangat dan nyaman, dan Luhan semakin menghangat saat mengingat apa yang terjadi sebelum mereka tidur tadi.

Sehun benar-benar baik pada nya.

Dia mengusakkan kepala nya pada dada pria itu, meletakkan pipi nya pada dada yang bidang milik Sehun. Dia terus mengusak-usakkan wajahnya pada dada Sehun yang wangi. Membuat Sehun bangun perlahan dan mengerjapkan mata nya melihat tingkah Luhan yang seperti kucing pada majikannya itu.

Sehun tertawa serak sambil mengeratkan pelukannya,

"Kau mengganggu ku.." ucap Sehun sambil menundukkan wajahnya, guna melihat wajah Luhan,

Luhan yang mendengar suara Sehun mendongakkan kepalanya sambil tersenyum manis, "Aku sudah sembuh.." pekik Luhan keras dengan wajah bahagia, Sehun tertawa melihatnya, Dia mencubit hidung mungil Luhan dengan gemas.

Dia semakin menundukkan wajahnya dan menempelkan keningnya pada kening Luhan. Kini wajah mereka sangat dekat. bahkan tidak melebihi 5 cm. Sehun memberikan senyuman manis nya saat melihat wajah merah Luhan yang terlihat sangat lucu.

Entah kenapa, Sehun menyukai bagaimana jantungnya berdetak tak karuan saat di dekat Luhan.

Kenapa semua bagian dari Luhan terlihat sangat sempurna bagi Sehun?

"Ya.. Kau tidak demam lagi.." ucap Sehun jahil, dia menempelkan ujung hidungnya pada ujung hidung mungil Luhan. Dan Luhan bisa merasa bahwa dia sulit untuk bernafas.

"Kenapa hanya dengan pelukanku kau bisa sembuh?" ujar Sehun pelan, Luhan hanya diam sambil menahan nafas nya,

"A-Aku juga tidak tahu.." ucap Luhan gugup sambil menunduk, Sehun tertawa kecil melihat reaksi Luhan,

"Bagaimana dengan Insoo? Haruskah kita menjamputnya?" ucap Sehun yang mendapat kerjapan imut dari Luhan.

"Aku masih ingin denganmu.." Cicit Luhan yang sanggup membuat Sehun sedikit terkejut.

"Kau ingin terus bersamaku? Baiklah.."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

A/N :

.

Ok. Tinggal chap terakhir..

Be ready guys hehehehe