Author

yehetohorat794

Title

Studying : "How To Take Care of a Baby"

Cast

Xi Luhan (GS)

Oh Sehun

Byun Baekhyun (GS)

Park Chanyeol

And the others..

Genre

Romance/Fluffy/Drama

Rate

T

Length

Threeshoots (?) / Chaptered

Disclaimer

The Casts is belong to their family. I just borrowed their name for my new story. This is Hunhan Fanfic. So if you don't like it, you can click the 'close' button or just 'back' from this page. Do not copy the story. I made it by my self, so if you want to copy, just inbox me. The idea of this fanfic is really made and found by myself.

Warning

It's HunHan fanfic! If you don't like it, please go back. So many typo words on this fanfic. GS!

Summary

Luhan diminta untuk menjaga seorang anak berumur satu setengah tahun. Ditambah lagi dia diharuskan untuk tinggal bersama Sehun. Luhan akan menjaga nya saat siang dan Sehun menjaga nya saat malam. Perlahan mereka merasakan sesuatu yang membuat mereka tak mau berpisah. Read along this Fanfic..

.

.

.

.

.

.

.

.

Happy Reading!

.

.

.

.

"Terimakasih sudah menjaga nya.. Baekhyun.. Chanyeol.." ucap Sehun setelah menerima Insoo. Chanyeol dan Baekhyun hanya tersenyum menanggapi nya.

"Kami mempunyai waktu yang sangat menyenangkan tadi.. Kami bermain dan setelahnya langsung tertidur karena lelah.. Insoo memang anak yang menggemaskan.." ucap Baekhyun sebelum mencubit pipi Insoo untuk ketiga kali nya. Insoo hanya tertawa dengan senang.

"Insoo memang sangat aktif.. Aku bahkan sering dibuat lelah karena dia terlalu senang saat bermain.." ucap Luhan, Sehun tertawa kecil mendengarnya,

"Jadi kau sering lelah dibuat anak nakal ini?" ucap Sehun gemas sambil mengecupi pipi Insoo gemas, dia menautkan tangannya pada tangan Luhan sebelum berpamitan dan pergi ke parkiran untuk pulang.

.

.

.

Mobil bewarna hitam itu membelah jalanan Seoul yang sepi dengan kecepatan sedang. Ini sudah jam 11 malam, itu yang membuat jalanan yang biasanya ramai itu menjadi sepi dan hening.

Sehun melirik Luhan dan Insoo yang sedang terlelap di kursi sampingnya. Insoo berada di pangkuan Luhan dengan mata terpejam dan jempol yang masuk ke dalam mulutnya. Sedangkan Luhan begitu damai dalam tidurnya dengan cara memiringkan kepala nya kekanan hingga menempel di jendela kaca mobil Sehun.

Sehun tersenyum kecil melihat kedua orang yang disampingnya itu. Dia mengusap sebentar pipi Insoo lalu beralih pada pucuk rambut Luhan yang lembut. Setelah mengusapnya, dia menautkan tangan kiri nya yang bebas pada tangan kanan Luhan yang bebas. Menggenggam nya dengan lembut dan hangat.

Tak terasa sudah 30 menit dia memegang tangan Luhan sambil berkendara. Sehun menghentikan mobil nya pada parkiran apartemennya. Dia sudah melepas sabuk pengamannya, setelahnya dia memandangil perempuan yang sedang tertidur itu. Sungguh, Sehun tak tega untuk membangunkannya.

Dia mengusap sebentar pipi Luhan lalu menurunkan tangannya.

"Luhan.." ucap Sehun sambil sedikit menggoyang-goyangkan tangan Luhan.

"Luhan.. Kita sudah sampai.." ujar Sehun lagi, dia kini beralih menepuk-nepuk pipi Luhan dengan lembut.

"Luhan.. bangun.." ucap Sehun lagi.

Perlahan Luhan mengedipkan mata rusa nya. Dia mengerang sekali sebelum membuka lebar mata nya. Dan yang pertama dilihatnya adalah wajah tampan Sehun yang sangat dekat dengannya.

"Sehun?" ujar Luhan dengan serak. "Kita sudah sampai?" ucap Luhan lagi,

Sehun hanya menggumam sambil mengangkat Insoo dari pangkuan Luhan. Dengan hati-hati tentunya.

"Ayo turun.." ucap Sehun, Luhan menangguk sebelum keluar dari pintu mobil itu

.

.

.

Luhan berjalan dengan mata tertutup saat keluar dari lift. Dia tidak perlu takut jika menabrak sesuatu, karena seseorang memegang pinggangnya dan menuntunnya.

Ya, Sehun merengkuh pinggang Luhan karena Luhan sangat mengantuk. Bahkan Luhan berjalan sambil memejamkan mata nya. Di tangan kanannya ada Insoo yang juga sedang terlelap. Sehun kini sedang memegang 2 bayi yang sedang tertidur. Yah walaupun salah satunya adalah bayi jadi-jadian.

"Wah.. Lihat pasangat ini.. Sangat manis.." Wanita tua dengan rambut yang hampir memutih semua, disampingnya ada pria tua dengan rambut yang benar-benar putih semua dengan kaca mata bertengger di pangkal hidungnya,

Sehun tertawa menanggapi nya sebelum membungkukkan badannya hormat.

"Terimakasih, Halmeoni.. Haraboji" ucap Sehun sopan sebelum menuntun Luhan lagi.

Sehun menekan password nya dengan tangan kanannya yang sedang menggendong Insoo, setelahnya dia menuntun Luhan ke kamar.

Setelah merebahkan Luhan, dia meletakkan Insoo di box bayi nya. Dia memandang Luhan sebentar sebelum membukakan flat shoes. Dia sedikit membenarkan bantal Luhan.

Dia menatap wajah damai Luhan sambil membiarkan senyuman nya mengembang. Sehun sangat senang melihat wajah polos Luhan. Sangat damai rasanya.

Sehun tertawa kecil sekali sebelum naik ke tempat tidur. Dia lalu tidur disamping Luhan, menyelipkan kedua tangannya di pinggang Luhan. Masa bodoh dengan reaksi Luhan besok. Dia hanya ingin menuntaskan apa yang ingin dilakukannya sekarang.

.

.

.

Matahari bersinar terang. Cahayanya menembus setiap jengkal dari tirai yang mereka gunakan untuk menjadi lapisan di depan jendelanya.

Ini sudah jam setengah 9 pagi, tapi 2 insan itu masih belum mau membuka mata mereka. Mereka masih ingin menikmati kenyamanan yang mereka hadirkan sendiri.

Salah satu dari mereka menggeliat. Mengusik tidur dari sosok yang satunya lagi. Wanita itu semakin menempelkan punggungnya pada sesuatu yang hangat di itu bergumam sesuatu yang tak jelas.

Tak lama, sosok wanita itu membuka matanya perlahan. Mencoba untuk mencoba menyesuaikan mata pada cahaya yang tiba-tiba masuk. Dia memejamkan matanya sekali lagi sebelum menguap. Setelahnya dia benar-benar membuka matanya.

Dia menurunkan pandangannya dan terkejut melihat 1 pasang tangan melingkar di perutnya. Wanita itu menolehkan kepalanya kebelakang, dan menahan nafas saat mendapati wajah tampan yang terlelap itu.

Wanita itu mendadak merona dan merasa hangat. Dia lalu perlahan melepaskan pelukan dari si pria itu dan menurunkan kaki nya dari tempat tidur mereka. Kaki nya melangkah ke arah box bewarna coklat tua.

Dia sedikit tersenyum saat mendapati bayi perempuan itu masih terlelap dengan nyaman. Dia lalu kembali ke tempat tidurnya. Bersimpuh diatas tempat tidur itu. Hendak membangunkan laki-laki yang masih terlelap itu.

"Sehun.. bangun.." ucap Luhan sambil menggoyang-goyangkan badan Sehun. Dia menggoyangkan nya pelan dan lembut. "Sehun.." rengek Luhan. Tapi Sehun masih betah menutup mata nya. Ya, sebenarnya 30 menit yang lalu dia sudah bangun. Dia menunggu Luhan melakukan sesuatu yang berani.

Astaga.. Sehun..

"Sehunn.." Luhan kembali merengek. Kali ini lebih keras. Sehun kini sedang berusaha untuk tetap menutup matanya. Meskipun dia ingin melihat wajah manja Luhan yang kini sedang merengek pada nya.

Luhan menahan tawa nya saat melihat kelopak mata Sehun bergerak. Dia sebenarnya sudah menduga kalau Sehun sebenarnya sudah bangun. Dia lalu dengan senang campur malu, mengecup kening Sehun yang tidak tertutup poni itu.

Sehun saja berani mencium keningnya semalam. Kenapa dia tidak bisa?

"Sampai kapan kau akan menutup mata mu, hm?" Luhan berucap setengah geli. Sehun yang mendengarnya langsung membuka matanya dan tersenyum kecil melihat wajah merah Luhan,

"Hanya di kening?" tanya Sehun jahil. Luhan memukul main-main lengan Sehun.

"Apa aku harus mencium mu disini juga?" Luhan berujar genit sambil menyentuh ujung bibir Sehun. Sehun mengangkat bahu nya asal, "Kau bisa melakukannya jika mau, Dan aku juga pasti akan membalasnya.."

Luhan mengeluarkan senyuman miringnya sebelum mendekatkan wajahnya pada Sehun. Dia menatap bibir Sehun sebentar. Luhan mengikik geli di dalam hatinya saat merasakan Sehun menelan liurnya gugup. Sehun kira hanya dirinya saja yang bisa membuat gugup? Luhan juga bisa kali..

Dan..

CUP..

"LUHAN!"

"In your dream!" Luhan mengikik sebelum berlari keluar dari kamar.

Sehun memegang ringan pipi kanannya. Harusnya Sehun tau. Mana mungkin rusa pemalu seperti Luhan berani mencium bibir nya..

.

.

.

"Lihat Mama mu, nak.. Sangat pandai menggoda Appa.." bisik Sehun pada Insoo sambil menatap punggung Luhan yang sedang mencuci piring.

"Kau tidak boleh begitu jika sudah dewasa nanti.. Jangan contoh Mama mu.." ucap Sehun sambil mengeraskan volume suaranya. Insoo yang mendengarnya hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengerti apa yang dikatakan Sehun. Luhan yang mendengarnya hanya mendecih kecil,

"Mama mu sangat nakal.." ucap Sehun, "Hey! Aku mendengarnya.." Ucap Luhan sedikit berteriak. Sehun tertawa kecil di buatnya.

Luhan selesai mencuci piring. Dia meletakkan sarung pencuci piringnya di samping wastafel, lalu berjalan menuju Sehun dan Insoo yang sedang duduk di meja makan.

"Jangan dengar kata-kata Appa mu, Insoo-ya.. Itu semua hanya mitos.." ucap

Sehun mendengus dengan sangat kentara. Dia memutar bola matanya malas.

Luhan tertawa geli melihat Sehun yang sepertinya sedang kesal itu. Dia lalu mengambil Insoo dari pangkuan Sehun. "Insoo mandi dulu, Appa~" Ujar Luhan dengan suara setengah kekanak-kanakannya sambil berjalan meninggalkan Sehun ke kamar mandi.

"Oh Iya, Insoo-ya.. Suruh ibu mu juga mandi.. Appa ingin mengajak kalian jalan-jalan.." Ucap Sehun sambil memainkan ponselnya, berpura-pura untuk tidak perduli.

"Jjinjayo Appa? Appa serius ingin mengajak kami jalan-jalan?" Luhan dengan suara anak-anaknya kembali berlari kecil ke arah Sehun.

"Ya tentu saja.. Mumpung hari ini hari minggu.." Ucap Sehun acuh tak acuh. Dia terus mengotak-atik ponselnya walaupun Luhan sudah ada dihadapannya.

"Waa.. Appa sangat baik.." pekik Luhan yang sukses membuat Sehun susah untuk menahan senyumannya. "Cepat mandi atau tidak pergi sama sekali.." Ucap Sehun datar yang membuat ledaknya tawa Luhan.

"Baiklah Appa jelek.."

CUP

Luhan segera lari bersama Insoo di gendongannya, masuk ke kamar mandi disaat Sehun hanya terdiam sambil memegang pipi kiri nya.

Sehun tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, "Dasar rusa nakal yang manis.." gumam Sehun tak habis pikir.

.

.

.

Luhan berdecih melihat pria yang sedang menggendong Insoo di depannya. Rambut dengan poni, Baju dalam putih, Hoodie hitam, Celana jeans gelap dan sepatu skets.

"Apa kau berencana tebar pesona nanti" ucap Luhan sakrastik.

"Kenapa? Apa pesona ku sudah memikatmu?" Sehun berucap dengan manis, Luhan membuang mata nya. Ugh.. Sehun semakin tampan saja..

"Ya begitu lah.." Cicit Luhan dengan wajah bersemu merah. Sambil menunduk dia memilin-milin ujung sweaternya.

Sehun tersenyum lembut. Dia berjalan mendekati Luhan dengan Insoo di gendongannya. Tangan kanannya yang bebas digunakan nya untuk mengangkat lembut dagu Luhan. Mata mereka bertemu dan bisa dirasakan jika keduanya menahan nafas.

Sehun menatap sebentar penampilan Luhan. Rambut yang dicepol asal dan poni yang sebatas alis, sweater bewarna hijau tosca yang kebesaran sampai menutup bagian paha nya, jeans hitam, flat shoes.

Luhan terlihat sangat menggemaskan sekarang.

"Jika aku membawa mu ke taman pasti aku dikira pedofil karena membawa dua bayi sekaligus.." Ucap Sehun geli yang dihadiahi pout-an oleh Luhan.

"Aku sudah 21 tahun!" Ujar Luhan tak terima, Sehun semakin tertawa keras,

"Aku tidak perduli kau berumur berapapun.. Aku tetap menyukai mu.." Batin Sehun. Sehun menautkan jari Luhan pada jari nya.

.

.

.

"Waaa~ Mashitaaa~~" Luhan berkata dengan riang sambil memakan kembali ice cream nya,

"Apa Insoo sudah bisa memakan ice cream?" Sehun bertanya sambil mencomot ice creamnya Luhan. Luhan menepuk lengannya kesal,

"Jangan memakan ice cream ku!" Luhan memekik kesal, Sehun menyengir pelan,

"Jadi? Insoo sudah bisa memakannya?"

Luhan mengangguk, "Joonie sudah memakan ice cream saat dia masih 7 bulan, jadi aku rasa Insoo sudah bisa memakannya.."

"Joonie? Siapa itu?"

"Keponakanku.." Ucap Luhan sambil memakan lagi ice creamnya,

Sehun hanya menggelengkan kepalanya saat melihat ada sisa ice cream di sudut bibirnya. Luhan benar-benar kekanak-kanakan..

"Ayo makan, Insoo-ya.." Ucap Luhan sebelum menyodorkan sendok ice creamnya yang penuh dengan ice cream pada Insoo, Sehun mendengus kentara,

"Jika dia memakan sebanyak itu maka kepalanya akan terasa beku.." Nasihat Sehun, tangannya mengambil alih sendok ice cream Luhan, dia menyendokkan secuil ice cream sebelum memberinya pada Insoo,

Insoo dengan gembira mencomotnya, matanya membulat besar dengan bibir terbuka sedikit dan setelahnya tertawa lucu.

Sehun dan Luhan tertawa menanggapinya,

"Aigoo.. Insoo sangat lucu.." Pekik Luhan gemas, dia mengecup pipi gembul Insoo,

Sehun tersenyum lembut melihat pemandangan di depannya.

"Aku menyukaimu.." Sehun bergumam tanpa sadar,

"Kau mengatakan sesuatu?"

Sehun menggelengkan kepalanya heboh, lalu menggaruk tenguknya yang tidak gatal,

"Ti-tidak.. Hehe.." Ucap Sehun gugup, luhan menganggukkan kepalanya,

"Baiklah.. Ayo kita ke toko souvenir disana!" Luhan berkata dengan gembira, dia mengambil Insoo yang ada di pangkuan Sehun,

"Baiklah.." Ucap Sehun sambil tersenyum sebelum berdiri dari tempat duduknya,

.

.

.

"Wah.. Ini sangat keren, Sehunnie!" Luhan memekik lucu. Tanpa disadarinya dia memanggil Sehun dengan panggilan sayang,

Sehun tersenyum lembut melihat Luhan yang mengamati bola-bola kaca dengan salju di dalamnya. Tangannya mengusak kepala Luhan sebentar,

"Sebenarnya yang bayi itu kau atau eomma mu sih?" Sehun bertanya lucu pada Insoo. Insoo hanya menatapnya bingung,

Luhan mendengarnya hanya tertawa,

"Aku mau ini!" Luhan memekik gemas sambil menunjuk salah satu bola kaca yang terdapat miniatur sepasang pria dan wanita di dalamnya. Bola kaca itu terlihat indah dengan warna kerlap-kerlipnya.

"Baiklah.. Kau bisa mengambilnya.." Ucap Sehun, Luhan memekik senang, "Waah! Gomawoyo Sehun!"

Sehun tertawa kecil sebelum mengusap kepala Luhan,

Mereka lalu berjalan ke kasir dengan satu bola kaca, gelang couple dan satu topi rajut bewarna biru untuk Insoo.

"Semuanya 30000 won" ucap wanita kasir itu sebelum Sehun memberikan kartu kreditnya,

Luhan hanya asik dengan Insoo, sampai seseorang menepuk pundaknya,

Luhan membulatkan matanya setelah menolehkan kepalanya ke belakang.

"Luhan?"

"Kris?"

.

.

.

Luhan tertawa bersama Kris. Mengingat masa dulu adalah hal yang paling diminati oleh Luhan.

Apalagi saat mengingat masa-masa dia dengan Kris masih bersama.

Tapi tetap saja, seseorang disana merasa panas. Dengan Insoo digendongannya, dia mengumpat di dalam hati.

"Ya.. Dan kau sangat menyukai putih telur, tapi tidak dengan kuning telurnya.." Ucap Kris lalu tertawa lagi bersama Luhan,

"Oh iya? Dia siapa?" Ucap Kris pelan,

"Dia Sehun-"

"Aku adalah suaminya.." Sehun memotong dengan cepat, tangannya terulur ke depan,

Kris menatapnya tak percaya,

"Dia suami mu?"

Luhan menggeleng cepat,

"Ya tentu saja aku adalah suaminya dan dia adalah istri ku.. Salam kenal.." Sehun memotong lagi, tak lama, Kris membalas jabatan tangannya,

"Tapi? Kapan kalian menikah?"

"Kami tida-"

"2 tahun yang lalu.. Kami menyembunyikan pernikahan kami" sehun memotong lagi. Luhan menundukkan wajahnya,

"O-oh? 2 tahun yang lalu? Disaat kita masih bersama? Lu?" Kris menatap tak percaya Luhan,

Luhan tak menjawab apapun. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam,

"Dan ini?"

"Oh? Ini anak kami? Sangat lucu kan?" Sehun berujar dengan senyuman miringnya. Tangan nya menggerak-gerakkan lucu tangan Insoo,

Kris makin menatapnya terkejut, dia melihat jamnya,

"Aku harus pergi.. Terimakasih atas waktumu Luhan.. Dan.." Kris menatap Sehun, dia akan siapa nama lelaki itu,

"Sehun.."

"Ya, Sehun.. Aku permisi.." Kris kemudian berlalu dari hadapan Sehun.

Setelah hanya mereka berdua di pinggir sungai Han itu, Luhan menaikkan wajahnya. Tanpa memberikan ekspresi apapun, dia menatap Sehun tajam,

Dan Sehun bersumpah, Luhan sangat mengerikan kali ini.

"Kenapa kau mengatakan itu pada nya." Luhan berucap pelan, tapi Sehun tak menjawabnya. Dirinya sendiri tak tau kenapa dia berbicara seperti itu tadi.

"KENAPA KAU MENGATAKAN HAL ITU PADA NYA!?" Luhan berteriak nyaring, Sehun dan Insoo tersentak, baru kali ini Luhan membentak.

"KITA TIDAK MENIKAH! BAHKAN KITA TIDAK BERPACARAN! KITA HANYA MENJADI ORANG TUA ASUH BAGI INSOO! TIDAK LEBIH!"

Sehun menatapnya terkejut bercampur kecewa. Berarti? Selama ini?

Insoo yang terkejut dengan teriakan Luhan perlahan melengkungkan bibirnya, matanya berkaca-kaca dan setelahnya tangisan keluar dari mulutnya.

"Jadi.. Selama ini?"

"AKU HANYA MENCOBA UNTUK BAIK PADA MU!"

Sehun menatapnya kecewa. Bibirnya melengkung, hingga membentuk senyuman yang tampak sekali dipaksa itu,

Dia mengusap-usap lembut punggung Insoo yang sedang menangis. Hatinya sangat hancur sekarang. Jadi, Luhan hanya berpura-pura dan mencoba baik untuk dirinya?

"Baiklah.. Aku mengerti.." Sehun berucap sambil tersenyum, "Ayo kita pulang.." Ucap Sehun lalu berjalan mendahului Luhan dengan Insoo di gendongannya,

Luhan menatap punggungnya Sehun dengan tatapan yang sulit untuk diartikan sebelum ikut berjalan bersama Sehun.

.

.

.

Luhan menggigit bibirnya kecil. Dia melirik Sehun yang kini sedang menyetir di sampingnya. Dia juga melirik Insoo yang terus duduk di pangkuan Sehun. Insoo tak mau duduk dipangkuannya.

"Sehun, soal yang tadi-"

"Aku mengerti.."

Luhan menutup matanya mendengar suara dingin Sehun, "tidak.. Kau tidak mengerti.." Batin Luhan,

"Aku minta maaf-"

"Kau tidak salah" Sehun berucap dingin, Luhan menundukkan wajahnya. Ini bukan seperti Sehun yang dia kenal.

Luhan merasa bahwa mobil Sehun berhenti. Dia lalu menatap ke depan. Ternyata mereka sudah sampai..

Luhan melepas savety belt nya sambil melirik Sehun yang sedang melepas savety beltnya juga. Insoo langsung memeluk Sehun saat merasakan bahwa Luhan melirik ke arah mereka,

Sehun keluar dan berjalan mendahului Luhan,

.

.

.

Sehun menekan password apartemen dengan cepat lalu masuk setelah pintunya terbuka.

"Insoo!" Suara itu membuat Sehun melebarkan matanya, dan semakin melebarkan matanya saat melihat siapa yang sedang berjalan ke arahnya dengan tergesa-gesa,

"Insoo!" Setelahnya seseorang itu mengambil Insoo dari gendongan Sehun,

"Jongin?"

Seseorang itu hanya diam dan kembali memeluk Insoo dengan erat. "Appa sangat merindukanmu, nak!" Laki-laki itu mengecup sisi kepala Insoo lalu memeluknya lagi,

"Insoo!" Dan Sehun kembali membulatkan matanya, "Kyungsoo?"

Wanita bermata bulat yang nyaris sama dengan mata Insoo menatapnya sebentar sebelum memeluk Sehun. "Astaga, Sehun terimakasih sudah menjaga anak ku!" Kyungsoo memekik sambil memeluk Sehun erat sebelum melepaskannya.

Laki-laki bernama Jongin itu lalu memberikan Insoo pada Kyungsoo sebelum memeluk Sehun, "Terimakasih, Sehunna.." Ucap Jongin

Sehun hanya tersenyum sebelum menganggukan kepalanya,

"Insoo?"

Sehun menoleh ke belakang dan mendapati Luhan menatap mereka bingung,

"Ah? Kau yang bernama Luhan ya?" Kyungsoo berucap sebelum mendatangi Luhan. Luhan mengangguk kikuk,

"N-ne.."

Kyungsoo meletakkan Insoo dibawah sebentar lalu memeluk Luhan lembut. "Terimakasih.. Terimakasih sudah menjaga Insoo ku.." Kyungsoo berucap lembut, dia lalu melepas pelukannya.

"Kau ibunya Insoo?" Tanya Luhan, Kyungsoo mengangguk.

"Kami orangtuanya.." Jongin menyahut berjalan mendekati mereka lalu menyodorkan tangannya,

"Terimakasih, Luhan-ssi.." Ucap Jongin. Luhan menyambut uluran tangannya, "Tidak masalah.." Ucap Luhan lalu tersenyum.

"Bagaimana jika kita makan malam bersama? Aku sudah menyiapkan sesuatu untuk makan malam.."

.

.

.

"Mashitta! Wah, Kyungsoo-ssi! Kau memang pandai memasak!" Luhan berujar dengan senyuman, Kyungsoo hanya tertawa kecil, "Tidak sehebat itu, aku masih perlu belajar.."

Luhan tertawa kecil, dia melirik Sehun yang ada di sampingnya, laki-laki itu bahkan belum menyentuh sama sekali makanannya,

"Kau tidak makan?" Tanya Jongin, Sehun hanya menggelengkan kepalanya,

"Aku sudah kenyang.." Ucap Sehun,

"Aku sangat berterimakasih kepada kalian berdua.. Sudah merawat Insoo dengan baik.." Ucap Kyungsoo tulus, Luhan hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, "Tidak masalah, Kyungsoo-ssi.."

"Kalian boleh menginap untuk malam ini, ini sudah mal-"

"Tidak, aku akan pulang.. Yerin pasti sudah khawatir sekarang, aku sudah tidak pulang selama hampir satu bulan.."

Luhan sontak menatapnya,

"Yerin? Siapa?" Batin Luhan, ok Luhan mulai gerah.

"Oh.. Sampaikan maafku pada Yerin karena membuat mu tidak pulang selama ini.. Dia pasti sangat khawatir.. Dia pasto sangat khawatir saat oppa nya tak pulang..sampaikan salamku padanya" Ucap Jongin, Sehun mengangguk, Luhan menghela nafas lega. Ternyata, adiknya Sehun..

"Aku akan berkemas," ucap Sehun sebelum meninggalkan meja makan,

Luhan menatap punggung Sehun,

"Kau bagaimana? Ini sudah sangat malam" ucap Kyungsoo lembut, Luhan menggelengkan kepalanya pelan,

"Aku akan kembali ke rumahku.." Ucap Luhan. Jongin dan Kyungsoo mengangguk bersamaan,

"Aku akan mengemas barang-barangku.. Terimakasih atas makanannya.." Ucap Luhan sebelum meninggalkan dapur,

.

.

.

Luhan menatap punggung Sehun yang sedang sibuk mengemas barang itu,

"Kau tidak mengemas barangmu?"

Luhan tersadar, lalu ikut jongkok dan memasukkan baju-bajunya ke dalam kopernya,

Setelah selesai, dia membawa kopernya keluar, Sehun menyusulnya dari belakang,

"Terimakasih atas semuanya, Luhan.." Ucap Kyungsoo lalu memeluk Luhan untuk kedua kalinya, kemudian beralih memeluk Sehun, "Terimakasih.. Sehunna.." Ucap Kyungsoo, Sehun hanya mengangguk, dia mengelus punggung Kyungsoo sebelum Kyungsoo melepaskannya,

Jongin ikut memeluk Sehun dan Luhan.

"Aku akan mengirimkan imbalan pada kalian-"

"Eh? Tidak.. Tidak.. Aku dengan senang hati merawat Insoo.." Sanggah Luhan, Sehun ikut mengiyakannya, "Aku senang menjaga Insoo.." Ucap Sehun lagi,

"Aku akan membalas semuanya suatu saat.. Aku berjanji.." Ucap Kyungsoo, luhan hanya tersenyum menanggapinya,

"Kami pergi.." Ucap Luhan lalu disusul Sehun sebelum keluar dari apartemen itu.

.

.

.

Luhan berjalan mengekor Sehun dari belakang. Dengan memeluk tubuhnya, dia berjalan dengan cepat.

Ini sedang musim salju dan Luhan bahkan lupa untuk memasukkan jaket atau coat ke dalam kopernya saat mempacking barangnya pada waktu ingin pindah ke apartemen Kyungsoo dan Jongin waktu itu. Luhan menatap sebentar gelang bewarna hitam yang ada di tangannya, dia harus memberi gelang ini pada Sehun. Harus!

Mereka sudah di luar gedung apartemen, Sehun memutar balik badannya, matanya menatap Luhan yang sedang memeluk tubuhnya sendiri itu.

"Kau dijemput Baekhyun?" Ucap Sehun. Luhan mengangguk sambil terus mengusap-usap badannya sendiri.

"Kapan mereka akan datang?"

Luhan menggeleng tidak tau, Sehun menghela nafasnya. Dia melepaskan coat hitamnya dan memakaikannya pada Luhan,

Luhan membulatkan matanya saat merasakan hangat di tubuhnya, dia mengangkat wajahnya dan langsung bertatap mata dengan Sehun,

Luhan menatap mata Sehun yang juga sedang menatap matanya itu,

Tatapan Sehun...

Kenapa sangat menyakitkan..

Sehun menatapnya dengan kecewa, dan Luhan tau itu,

"Jadi.. Kita berpisah disini?" Ucap Sehun pelan,

Luhan mengangguk pelan, sehun kembali menghela nafasnya,

Tangan Luhan yang bergemetar itu perlahan menurun dan memegang tangan Sehun. Dia dengan cepat memasangkan bracelet hitam itu di tangan kanan Sehun,

Sehun menatap Luhan dalam diam,

Setelah selesai memakaikan nya pada Sehun, dia menaikkan wajahnya dan menunjukkan pergelangan tangannya yang juga memakai bracellet denga model yang sama tapi berbeda warna. Luhan memakai warna putih.

Sehun menatapnya tanpa ekspresi,

Dia menyingkirkan poni sebatas alis milik Luhan, menyampirkannya ke kanan,

Dia mengusap pipi Luhan sebentar, dia mendekatkan wajahnya perlahan,

Dengan perlahan juga, dia menutup matanya dan mencium kening Luhan dengan agak lama,

"Selamat tinggal, Luhan.." Ucap Sehun lalu berbalik, berjalan menuju mobilnya,

Luhan menatap punggung Sehun dengan mata sedikit berkaca,

"Selamat tinggal... Sehun" luhan menitikkan air matanya

.

.

.

.

.

Luhan menatap bola kaca dengan miniatur pasangan yang berbahagia itu. Dia merasakan air matanya jatuh lagi. Dengan cepat dia menghapus air matanya.

Oh Tuhan. Luhan sangat merindukan laki-laki itu!

Ini sudah bulan ke 9 setelah dia pindah ke China. Ya, Kris memberitahu soal apa yang dikatakan Sehun pada orang tua Luhan, dan Luhan disuruh balik ke China.

Setelah menjelaskan semuanya, orang tuanya paham dan mengerti, tapi tak berniat memberikan Luhan pulang ke Korea.

Jadi dia dipindahkan ke China.

Luhan mengusap air matanya yang terus menetes, "Aku merindukanmu.."

.

.

.

.

.

.

Sehun tertawa bersama Insoo. Sehun memang sedang libur dan berniat menghabiskan waktunya dengan Insoo yang sudah dua tahun,

Dia menggelitiki Insoo sampai Insoo tertawa lepas,

Sehun berhenti menggelitiki Insoo lalu tertidur di sampingnya,

"Insoo-ya.."

Insoo tak menjawab,

"Mama mu.."

"Mama?!" Insoo memekik nyaring, Sehun terkikik geli,

"Ternyata kau merindukannya juga ya?"

Insoo mengangguk cepat, "Mama!"

"Appa sudah berusaha mencarinya. Appa menyebarkan seluruh agen untuk mencarinya di Korea ini.. Tapi, kenapa dia tidak ditemukan juga?" Ucap Sehun pelan,

Insoo kali ini tak menjawabnya,

"Appa merindukannya, Insoo-ya.."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

2 years later

.

.

.

.

.

"Xi Luhan!"

"Ne!"

Luhan menarik nafasnya dalam-dalam. Saat ini dia akan interview untuk pekerjaan pertamanya,

Dia lalu berjalan dengan agak cepat ke dalam ruangan di depannya.

Luhan menatap ruangan yang berkelas itu dengan pandangan takjub. Dia lalu berjalan menuju bangku yang terletak tepat di depan meja bernuansa mewah itu.

Disana ada laki-laki yang sedang menutup wajahnya dengan berkas-berkas. Sepertinya dia sedang serius membaca.

"Annyeonghaseumnika, sajangnim.." Luhan berkata dengan sopan,

Sajangnim itu meletakkan berkasnya. Dia menatap siapa yang sedang di hadapannya kini.

Dibalik kaca matanya itu, dia sedikit melebarkan diameter matanya, begitu pula dengan Luhan.

Menyembunyikan keterkejutannya itu, dia membaca berkas di depannya,

"Xi Luhan.."

"N-ne sajangnim.."

"Lahir pada 20 april 1994.."

Luhan diam saja mendengar sajangnim membacakannya dengan suara khas nya. Luhan melirik pergelangan tangan kanan laki-laki di depannya itu.

Kecewa saat tak mendapati apapun tersemat di sana. Sajangnim itu memerhatikan gerak-gerik mata Luhan,

"Alamat, Jalan Gyeonggi apartemen CheonChang."

"Ne sajangnim.." Ucap Luhan pelan,

Dia benar-benar kecewa sekarang,

"Dia benar-benar melupakanku.." Batin Luhan,

"Ceritakan tentang hidup mu sekarang.." Laki-laki itu meletakkan berkasnya dan menatap Luhan. Tangannya dia lipat.

"Apa yang harus ku cerita kan?"

"Apapun.."

"Aku lulus dari Chinese University 6 bulan yang lalu.. Aku tak punya pengalaman bekerja tapi aku bisa dan mengerti bagaimana tugas seorang sekretaris.."

Laki-laki itu menganggukkan kepala nya,

"Kau di tolak.. Silahkan keluar.." Laki-laki itu berujar santai, dia menatap Luhan dalam.

Luhan menatapnya tak percaya, "Aku mendapatkan akreditas A dan Rata-rata nilai ku juga sangat bagus.." Protes Luhan,

Laki-laki itu hanya mendengus. "Kau bisa keluar sekarang.."

Luhan menatap laki-laki itu tak percaya, "kau berubah.." Batin Luhan sebelum melangkahkan kaki nya keluar dari ruangan itu.

.

.

.

Luhan mengotak-ngatik ponselnya dengan salah satu tangannya. Dia sedang duduk di taman belakang perusahaan Oh Corp itu.

Tak lama, seseorang duduk di samping kanannya, seseorang itu menyelipkan tangannya di sela-sela jari Luhan. Luhan sontak menatap ke arah kanannya,

"Akhirnya aku bisa menggenggamnya lagi.." Ucap seseorang itu yang dapat ditangkap oleh Luhan.

Luhan menatap genggaman mereka, bracelet itu. Dia masih memakainya.. Pantas saja tadi dia tidak melihatnya, ternyata dia memakainya di tangan kiri nya.

"Bukankah kau masih punya jadwal untuk mewawancarai calon sekretaris mua yang lain?" Luhan berujar acuh tak acuh, seseorang itu hanya tertawa kecil,

"Bagaimana bisa aku melewatkan seseorang yang telah ku cari selama 2 tahun?"

Luhan mendecih kecil sebelum mengeratkan genggamannya,

"Aku pindah ke China 2 tahun yang lalu.." Ucap Luhan sebelum menatap seseorang disampingnya itu,

"Jadi kau mencari ku?" Ucap Luhan geli,

"Tidur tanpa bersama mu selama 2 tahun itu menyakitkan.." Laki-laki itu berujar jujur, Luhan mendecih kecil,

"Kau berlebihan, Sehun.." Luhan berucap dengan sakrastik, Sehun tertawa kecil,

"Aku benar-benar merindukanmu, Lu.." Sehun berujar pelan, Luhan menatapnya dalam senyumannya,

"Kau kira bagaimana denganku? Kau tak berpikir kalau hatiku sakit saat kau menolakku tadi untuk menjadi sekretarismu?"

"Aku tak akan menerima mu menjadi sekretarisku, kerja sebagai sekretaris itu sangat susah dan rumit. Berat juga.."

"Kau kira aku tak bisa?"

Sehun menghela nafas, dia sedikit melihat keadaan sekitar, sepi.

Sehun membalikkan wajahnya dan..

CUP

Secepat kilat, Sehun mengecup bibir mungil Luhan.

Luhan membulat tak percaya,

Itu ciuman pertamanya!

"Aku mengkhawatirkan mu.."

"Tapi sehun-mphhh"

Sehun kini mencium kembali bibir Luhan. Tapi kali ini bukan hanya mengecup tapi melumatnya lembut dan penuh perasaan, dia menciumnya dengan pelan dan sabar. Setelah puas menyicip bibir Luhan dia melepaskannya. Sebelum nya dia mengecup lagi bibir Luhan.

"Sudah cukup 2 tahun ini aku menunggu. Jadilah istri ku.."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

END

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

A/N

.

.

.

Otte? Gimana dgn ff ini?

Ngga bagus? Kurang sweet? Atau banyak typo?

Maafin semua kesalahan saya. Mohon maaaaaaaaaff banget

Mau sekuel?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

#F_P