Z O N E
Disclaimer : Vocaloid isn't mine
Warnings : Typo(s), OOC, OOT, Garing
Chapter 3
Timezone
'Baiklah.. Besok di atap pas pulang sekolah, ya.. Oyasumi, De-chan"
Wush! Hati seorang Uta Utane yang lebih dikenal sebagai Defoko dengan sekejap terbang ke udara. Bagaimana tidak? Dapat ucapan 'oyasumi' dari senpai paling terkenal di Vocaloid High School—walau hanya dari e-mail adalah suatu keistimewaan bagi semua gadis di sekolah itu. Setidaknya bagi Defoko. Gadis 16 tahun itu baru saja diucapkan 'oyasumi' oleh Oliver, lho! Oliver!
Ya kalau Oliver memangnya kenapa?
Oh, ternyata Oliver itu sang ketua OSIS di sekolah ini. Pantas saja terkenal.
Dua bulan yang lalu, hati Defoko langsung tertambat pada Oliver itu. Pemuda yang menurutnya sangat keren dan perfect. Ia juga ramah. Tamvan dan berani. Oke, abaikan yang itu. Apalagi ditambah dengan eyepact yang menutupi sebelah matanya. Dijamin keren, dah.
Dan besok, gadis serba ungu ini akan menyatakan cintanya pada Oliver. Pasti diterima. Secara, kan ia sering chat-an bareng Oliver. Dan juga sepertinya Oliver juga menyukainya. Pasti tidak akan ditolak, kan?
"Fufu~ Aku jadi ingin cepat-cepat ke sekolah besok" gumam Defoko seraya menarik selimutnya. Bersiap pergi ke dunia putih bernama mimpi.
Keesokan harinya...
Kriiiiing!
Bel pulang yang sedari tadi ditunggu Defoko akhirnya berbunyi juga. Ia sudah tidak sabar ingin ke atap sekolah. Jadi setelah Kiyoteru-sensei benar-benar sudah meninggalkan kelas, ia juga dengan secepat kilat pergi dari sana.
Tap! Tap! Tap!
Kaki Defoko dengan semangatnya menaiki tangga menuju ke atap. Ia khawatir kalau saja senpai tercintanya itu sudah datang duluan. Namun ketika sampai, ia tidak melihat siapa-siapa. Sosok Oliver yang keren itu belum datang sepertinya.
"Wah, De-chan ternyata sampai lebih dulu, ya"
Defoko langsung berbalik. Ia menemukan sang pemilik suara tadi sudah berada di belakangnya. Dan itu adalah Oliver, sang ketua OSIS Vocaloid High School. Orang yang selalu bisa membuat hati seorang Uta Utane berdegup kencang.
"Ah, Senpai.. Kukira senpai gak akan datang" ucap Defoko salting. Oliver hanya tersenyum. Ia mengelus rambut ungu Defoko yang biasanya ditutupi oleh topi kesayangannya dengan lembut.
"Untuk De-chan yang kawaii ini apa yang gak, sih"
Seseorang tolong ikat Defoko. Ia merasa akan lepas landas gara-gara dipuji oleh seseorang yang paling terkenal di sekolah ini.
Tunggu dulu.. 'De-chan'?
'Itu panggilan sayang dari Oliver-senpai untukku! Memangnya kenapa?!'
Ah, tidak.. Lanjutkan..
"Jadi, apa yang mau De-chan bicarakan padaku?"
Defoko menelan ludahnya. Tenggorokannya tiba-tiba merasa kering. Padahal inilah bagian yang terpenting. Bagian dimana ia akan menyatakan cintanya pada Oliver, pujaan hatinya.
"Hm.. Itu, senpai.."
Oliver memperhatikan gerak-gerik Defoko. Wajahnya memerah, jarinya saling mengait, kakinya bergoyang kesana kemari. Ia sampai heran, mau apa Defoko ini sebenarnya. Setelah Oliver menunggu sebentar barulah Defoko angkat bicara.
"A-Aku menyukaimu, senpai! Jadilah pacarku!"
Setelah mengucapkan itu, Defoko langsung menunduk dalam-dalam. Matanya ia pejamkan kuat-kuat. Sehingga tidak melihat ekspresi Oliver yang berubah drastis. Cukup lama menunduk, Defoko mengangkat wajahnya. Ia lihat Oliver dengan wajahnyanya yang terdapat ekspresi kaget dan.. sedikit iba disana.
"Terima kasih, De-chan.."
Jangan-jangan..
"Tapi maaf.."
Oh, tidak..
"Aku tidak bisa"
Defoko ditolak!
"Menurutku ini terlalu cepat, De-chan. Kita baru kenal. Waktunya tidak pas. Mungkin ada waktunya untuk kita bersama. Tapi untuk sekarang ini, belum waktunya kita berpacaran, De-chan"
Oliver kembali mengelus kepala Defoko yang kelihatan shock karena ditolak itu.
"Tapi kita masih bisa chat-an kok. Tidak masalah, kan?"
Defoko mengangguk. "Tidak masalah, senpai"
Tiga hari kemudian...
Bel tanda istirahat berbunyi beberapa menit lalu. Defok langsung beranjak dari kursinya dan segera berjalan menuju kantin sebelum tempat favorit seluruh umat itu penuh. Namun langkahnya ditahan ketika Teto memanggilnya.
"Titip roti buatku, ya!" serunya. Defoko hanya mengangguk sebagai jawaban lalu pergi.
Lorong sekolah terlihat begitu ramai karna jam istirahat. Tapi itu tidak menghentikan Defoko dan senandungnya disana. Kakinya melangkah santai seolah lupa dengan kejadian tiga hari lalu. Ya, Defoko benar-benar lupa akan kejadian ia ditolak Oliver sampai—
"Oliver-senpai! Senpai ganteng, deh!"
"Iyaa! Nanti mau, kan jalan-jalan bareng kita?"
"Mau, yaa.. Senpai mau ikut, yaaa.."
—Defoko mendengar suara ribut dari gadis-gadis centil yang mengerubungi sang ketua OSIS yang kebetulan lewat di hadapannya.
"Mau, dong, mau.. Nanti sepulang sekolah kita jalan bareng, ya"
Defoko ilfil seketika. Tidak ia sangka kalau Oliver akan menerima ajakan mereka. Dengan nada yang terkesan mesum begitu lagi. Mendengarnya saja sudah membuat Defoko mual.
"Oh ternyata waktunya yang tidak pas itu gara-gara mau jadi harem king dulu, ya? Dasar playboy!" gerutu Defoko seraya meremas tangannya. Kalau tidak begitu, ia tidak akan bisa menahan tangannya untuk menarik rambut pirang si Oliver itu sekuat tenaga.
Fufu~ Kasian De-chan.. Timezone nih, yee~
"Berisik! Lu kira game center apa?! Timezone timezone -_-"
FIN
Author Note :
*liat fic* Ini serius fic gue? *banting meja*
Hay saa! Ayako balik lagi bawa fic yang makin kesini makin gak jelas -_-
Oke fic ini req dari Iwanaga-hime! DefokoxOliver! Semoga suka ^^ maaf kalo gak sesuai karena nama Defoko ini baru saya denger kamu. Maklum saya fans baru huhu u.u Makasih udah menambah wawasan saya ^^d
Untuk req KaiMi itu chap selanjutnya dan LuixRing sesudahnya, ya ^^
Dan maaf updatenya telat karena dua alasan.. Satu, kemarin saya libur tiga hari berturut-turut jadi gak bisa pake wifi sekolah.. Kedua, karena Tab saya layarnya pecah mameeen T.T padahal fic yang ketiga ini ada di Tab T.T
Terima kasih lagi buat AyA-Chan28, Panda Dayo, Iwanaga-hime, dan Revangga Miki Lokananta (kayaknya gue kenal ame yang atu ini :'v) ntar review yang ini juga, yaa :D
Terakhir saya mau pamit dulu.. Sampai jumpa di zone zone yang berikutnya XD Oh, ya.. Review nya bisa kali yaaa XD terima kasih sudah baca! ^^
