[Threeshot]
Title : Sakura Melody
Chapter : 2 / 3
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Uchiha Sarada & Uchiha Sasuke
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.
Genre : Family
BGM : Shimizu Shota - Sakura Melody
Sorry untuk typo di chapter pertama. Semoga chapter ini tidak ada typo yang ambigu #bow
Mungkin chapter ini gak ada lucu-lucunya, karena chapter ini penuh dengan masalah.
Sekedar info, ini ada moment SakuSasunya, kalo gak ada itu moment, Sarada gak bakal nongol :v
Walaupun begitu, harap baca sampai habis ya, jangan diskip. #bow
* Flashback : masih ON *
Setiap hubungan pasti ada masalah. Dan masalah besarpun datang mengguncang hubungan mereka.
Sasuke tidak menyangka keteledorannya membawa masalah besar. Flashdisk Naruto yang dipinjamnya hilang dan ditemukan oleh orang iseng. Flashdisk itu berisi file-file yaoi yang baru didownload Naruto.
Orang iseng itu menyebarkan rumor bahwa Uchiha Sasuke homo yang gemar mengoleksi yaoi. Rumor itu cepat beredar ke seluruh penjuru sekolah.
"Dasar Uchiha homo!", ejek mereka yang telah membenci Sasuke sejak dulu.
Sasuke memang terlihat cuek dengan ejekan itu, tapi ternyata dia sangat ketakutan. Takut jika berita ini tersambung hingga ke telinga keluarganya.
"Aku benar-benar akan diusir", guman Sasuke.
Melihat sang uke gelisah, Naruto memiliki ide brilian untuk melindungi Sasuke.
"Uchiha Sasuke bukan homo! Dia masih menyukai dada wanita!", teriak Naruto.
"Ck! Dasar Dobe!", pembelaan Naruto itu malah membuata Sasuke malu.
"Flashdisk itu sebenarnya milikku. Akulah yang homo! Bukan Sasuke! Dia hanya menyembunyikan flashdiskku tanpa tahu apa isinya! Jadi, jangan tuduh dia seenaknya!",
Mereka mulai berbisik-bisik sambil menatap sinis Naruto. Sedangkan Sasuke merasa tidak enak hati atas pembelaan Naruto.
"Bagaimana? Aku keren tidak?", bisik Naruto sambil memeluk Sasuke, membuat sekitar berbisik-bisik dan menatap jijik.
Sasuke mendorong tubuh Naruto, dia tidak suka dengan pembelaan yang menyudutkan Naruto. Lebih baik dia diusir dari rumah, daripada harus membuat masalah baru bagi Naruto.
Di rumah kedua.
"Tidak apa-apa kok, Suke~ Aku baik-baik saja. Aku sudah terbiasa menjadi pusat perhatian. Diejekpun aku tidak masalah. Kan wajahku memang jelek... ehehehe...", hibur Naruto pada Sasuke yang mendiaminya karena marah.
"Come on, Suke~ Katakan sesuatu, jangan diam saja~", Naruto menarik-narik seragam Sasuke yang sedang berbaring di sofa.
Sasuke menutup matanya dengan lengan, mencoba untuk memikirkan solusi agar nama Naruto tidak buruk.
"Lebih baik aku diusir saja", guman Sasuke yang terdengar oleh Naruto.
"Tidak boleh!", cegah Naruto tidak setuju.
Sasuke bangkit dan merayap di paha Naruto.
"Kita kabur dari rumah. Bagaimana?", usul Sasuke penuh harap.
"Kedengarannya menarik seperti di anime, tapi...",
"Kau tidak mau?",
"Bukan begitu..."
"Lalu?",
"Aku tidak bisa membayangkannya. Tapi yang jelas kehidupan kita nanti pasti akan sulit setelah kabur dari rumah",
"Tidak apa. Asalkan terus bersama, kita bisa menghadapinya",
"Tidak bisa, Suke~", tolak Naruto, "Kita belum lulus sekolah. Sulit untuk mendapat pekerjaan jika tidak berijazah tinggi. Sebagai seme, aku tidak bisa membahagiakanmu nanti",
"Susah dan senang, kita akan jalani bersama", Sasuke terus membujuk Naruto, dia ingin kabur dari rumah dan memulai kehidupan baru bersama sang kekasih. Kisah mereka pasti akan sweet seperti di anime.
Naruto mencengkram pelan pundak Sasuke, mereka berdua saling bertatapan.
"Aku baik-baik saja dengan situasi saat ini, Suke", jelas Naruto berharap bahwa Sasuke tidak memaksanya untuk kabur dari rumah.
"Aku tidak yakin",
"Percayalah padaku", Naruto mencium sekilas bibir Sasuke.
"Hn", Sasuke mengangguk walaupun ragu.
Karena pengakuan itu, tidak hanya diejek, Naruto juga dibully teman-teman sekelasnya. Naruto tidak membalasnya, dengan sabar dia bertahan menghadapi itu. Meskipun ditendang jatuh, disirami air kotor, dikunci di kamar mandi, buku-buku dan seragamnya dibuang ke tong sampah dan berbagai macam pembullyan lainnya. Naruto tetap merahasiakan pembullyan ini dari Sasuke. Dia tidak ingin Sasuke mencemaskannya lalu memintanya untuk kabur dari rumah.
Tapi, sepandai-pandainya rahasia itu disembunyikan, Sasuke dengan mudah mengetahuinya.
"Mengapa kau tidak cerita padaku?", marah Sasuke yang baru selesai mengolesi salap di punggung Naruto yang memar-memar.
"Ini hanya latihan fisik...ehehehe...",
Sasuke menarik seragam Naruto.
"Mengapa tertawa? Apa pertanyaanku ini lucu?",
Naruto terkejut melihat Sasuke marah. Biasanya Sasuke tidak pernah semarah ini. Uke tsundere jika sedang marah, memang menyeramkan.
"Aku seme yang kuat. Jika aku tidak kuat, aku tidak akan bisa melindungi uke-ku ini", Naruto meraih wajah Sasuke, lalu menciumnya. Dari ciuman hingga ke adegan yang lebih panas.
O, iya, Sasuke sudah terbiasa melakukan sex lho. Prok prok prok!
Pembullyan itu masih berlanjut dan tidak bisa dihentikan. Amarah Sasuke meletus saat melihat wajah Naruto dijejali kain pel yang kotor.
Sasuke memukul keempat pelaku dengan membabi buta. Tidak peduli dengan tangannya yang ngilu. Tidak diterima dipukul, mereka membalas memukul.
BuuuuG BuuuuG
Dua tinju mendarat di hidung Sasuke, darah langsung mengalir dari lubang hidungnya.
Melihat Sasuke berdarah, Naruto marah dan memukul mereka dengan beringas.
"Beraninya kalian menyakiti ukeku!", desis Naruto setelah menumbangkan keempat orang itu.
Sasuke tersenyum merona mendengar kalimat yang tegas itu.
"Beraninya kalian membully semeku!", Sasuke menendang kaki musuh yang sudah tumbang itu.
Naruto dan Sasuke saling bertatapan, kemudian mereka kabur dari TKP sambil tertawa geli. Ah~ Memang pasangan yang kompak!
Karena perkelahian itu, Naruto dan Sasuke diskors 1 minggu.
"Mereka membully semeku", jelas Sasuke saat Fugaku, sang papa mengintrogasinya.
"Seme? ",
"Pacarku",
"Siapa pacarmu?",
"Uzumaki Naruto",
"Laki-laki kuning itu?",
"Hn", angguk Sasuke tenang, "Aku homo",
"Dasar menjijikkan! Hina!", Fugaku melayangkan pukulan bertubi-tubi ke kepala dan tubuh Sasuke. Dia marah dan malu dengan ulah Sasuke yang tidak beradab.
Sasuke hanya diam melindungi wajah tampannya dari serangan Fugaku. Setelah puas memukuli Sasuke, Fugaku mengusir Sasuke dari rumah.
Sasuke duduk seorang diri di pinggir jalan setapak, memandangi langit malam berhias serpihan kelopak bunga sakura. Tempat yang tenang, favorite Sasuke.
"Sakura no hanabira ga~ Hirahira kaze ni mau~", Sasuke menyanyikan lagu Sakura Melody. Entah mengapa lagu itu sangat berkesan baginya.
Menyanyi dengan missing lyric, hingga jatuh tertidur.
Ketika terbangun, Sasuke sudah berada di sebuah kamar putih, ciri khas kamar rumah sakit. Itachi, menemukannya tergeletak di pinggir jalan, dengan tubuh panas dingin. Sasuke beruntung karena masih ada Uchiha Mikoto, sang ibu yang menyayanginya. Mendengar anak bungsunya diusir, Mikoto langsung menyuruh Itachi untuk mencari Sasuke. Mikoto juga meminta Fugaku untuk memaafkan Sasuke yang masih labil. Dengan berat hati, Fugaku memaafkan Sasuke, karena Sasuke merupakan anak kesayangannya juga.
Masa skors telah berakhir, Sasuke kembali masuk sekolah. Dengan cueknya berjalan melewati orang-orang yang menatapnya jijik. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan sang seme. Selama masa skors, mereka kehilangan komunikasi, karena ponsel Sasuke disita Fugaku.
"Hai, Dobe!", sapa Sasuke ketika melihat Naruto lewat, tapi Naruto malah menghiraukannya.
Tidak hanya menghiraukan sapaan Sasuke, Naruto juga enggan berbicara dengannya. Sasuke terpaksa menyelipkan memo di loker Naruto, menyuruh Naruto untuk bertemu di rumah kedua. Tapi Naruto tidak kunjung datang.
BRaaaaK
Sasuke menggebrak meja Naruto, membuat semua murid di kelas melihatnya.
"Kau kenapa?", tanya Sasuke yang sudah tidak tahan dicueki Naruto.
"Kita sudahi saja, Uchiha-san. Aku tidak ingin bermain lagi", ucap Naruto dingin.
"Bermain?",
"Seme-uke adalah permainan konyol yang pernah kita mainkan. Jangan dilanjutkan. Ini permainan yang menjijikkan",
Sasuke menahan diri untuk tidak memukul Naruto.
"Awalnya kita bermain ini karena penasaran kan? Aku tidak tahu dampak permainan ini akan menimbulkan masalah sebesar ini. Benar-benar merepotkan. Tahu-tahu akan seperti ini, lebih baik tidak usah main",
"Mengapa kau diam saja? Kau tidak ingin ini berakhir?",
"Aku mencintaimu", lirih Sasuke, menahan diri untuk tidak menyerang Naruto.
Seisi kelas mulai berbisik-bisik, ada juga yang merekam dengan kamera ponsel.
"Tapi aku tidak mencintaimu",
"Kau mencintaiku, aku tahu itu!", desis Sasuke mulai menunjukkan kemarahannya.
BRaaaaK
Naruto menggebrak meja dengan kuat, pandangannya menatap tajam ke arah Sasuke.
"Uchiha-san, tolong jangan menyeretku ke dalam permainan konyol ini! Aku sudah muak dianggap homo! Aku masih normal! Kalau kau terus mendekatiku, bisa-bisa gadis yang kutaksir malah membenciku!",
Sasuke mengepal tangan dengan kuat, buku-buku jarinya mendingin. Naruto pergi keluar meninggalkan Sasuke yang menahan emosi.
"Ini hanya acting! Hanya acting!", rapal Sasuke dalam hati.
Sasuke mencoba berpikir positif. Naruto mencintainya, tidak mungkin Naruto rela melepasnya. Naruto pasti sedang beracting. Jadi, Sasuke tidak ambil pusing memikirkan sandiwara ini.
Tapi, ternyata Naruto serius. Dia menghiraukan ajakan dan semua memo yang kirim Sasuke. Dia benar-benar ingin putus dengan Sasuke.
Itu membuat Sasuke tidak konsentrasi belajar dan juga tidak bisa tidur dan makan. Yang ada di pikirannya adalah bagaimana cara mempertahankan hubungannya dengan Naruto?
Dengan penampilan lusuh, kantung mata tebal dan wajah pucat, Sasuke terpaksa ke sekolah hanya untuk menemui Naruto. Meskipun seisi kelas memandanginya dengan jijik.
"Besok anniversary kita. Kutunggu kau di rumah kita, jam 7 malam", Sasuke mencoba untuk tersenyum pada Naruto.
"Aku tidak akan datang", tolak Naruto dengan raut wajah dingin.
"Sampai jumpa, sayang", Sasuke tersenyum lagi berharap Naruto akan datang.
Sasuke memasak berbagai macam menu ala Italia yang dipelajarinya dari blog. Sasuke senang, sebentar lagi Naruto akan datang. Sudah lama mereka tidak berbincang-bincang, makan malam bersama serta saling bersentuhan.
Menu yang lezat telah tertata rapi di meja makan, tak lupa sebuah tart berbentuk tomat, terlihat lezat bagi Sasuke. Dia ingin secepatnya menyantap semuanya.
Sasuke melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 7 lewat. Sambil memain-mainkan kotak kecil berisi dompet kulit, kado untuk Sasuke.
"Mungkin dia sedang membelikan kado untukku", guman Sasuke merasa senang bahwa Naruto akan memberinya kado anniversary.
1 jam telah berlalu.
2 jam.
3 jam.
Bahkan matahari telah terbitpun, Naruto tidak kunjung datang. Tapi, Sasuke masih setia duduk menunggu kedatangan Naruto di meja makan.
Saat matahari telah terbenam kembali, langit perlahan mulai menghitam. Sasuke memutuskan untuk berhenti menunggu dan pergi mencari Naruto di rumahnya. Naruto ingin menghajarnya sepuas mungkin.
Sungguh terkejut Sasuke saat mendengar kabar bahwa Naruto telah dikirim ke luar negeri.
"Kalau begitu, tolong sampaikan pesanku padanya bahwa aku mencintainya", dengan penuh keberanian, Sasuke mengatakan kalimat yang membuat Uzumaki Kushina -ibu Naruto menampar dan memaki Sasuke.
"Jangan merusak masa depan anakku satu-satunya!", marah Kushina yang ingin menampar Sasuke lagi.
"Kami saling mencintai",
"Kau menjerumuskan anakku! Kau benar-benar parasit perusak hidup anakku!", karena sakit hati melihat wajah Sasuke, Kushina menjambak rambut Sasuke dengan kesal.
Ini tidak adil. Mengapa hanya dia yang disalahkan? Bukankah Naruto juga mencintainya? Mengapa Naruto pergi tanpa membawanya?
Sasuke memandangi pohon sakura yang daunnya sudah berguguran dan nyaris tandus. Padahal beberapa minggu yang lalu, jalan setapak ini sangat indah. Musim semi yang begitu singkat.
"Sudah berakhir kah?", Sasuke tersenyum kecut meratapi pohon sakura.
Sesuatu yang ditahannya berlama-lama, akhirnya keluar juga. Sasuke menangis dalam diam, hatinya sangat sakit karena orang yang dicintainya pergi meninggalkannya tanpa pamit.
BuuuuK
Seseorang tiba-tiba menabrak punggung Sasuke hingga keduanya terjatuh.
"Ma, maaf~", ucap gadis cantik berambut pink, gadis cantik itu adalah Haruno Sakura.
Dua pasang mata yang berbeda warna, tetapi sama-sama basah dan sembab saling bertemu. Mereka menyadari bahwa mereka senasib. Itu adalah awal pertemuan Sasuke dengan Sakura.
Untuk kesekian kalinya Fugaku menghajar Sasuke. Kemarin-kemaren karena Sasuke ketahuan bolos dan merokok. Sekarang karena Sasuke berkelahi di sekolah. Sebenarnya Sasuke hanya membela diri saat orang-orang itu membullynya. Tapi, tetap saja berkelahi itu salah di mata Fugaku.
"Berkelahi, membolos, merokok, dan...homo", Itachi membeberkan semua kelakuan nakal Sasuke, "Kalau seperti ini, masa depanmu sudah dipastikan suram",
"Masa depanku, bukan kalian yang menentukan!", kepala Sasuke masih sakit, dan sekarang masih harus mendengar ceramah Itachi.
"Mereka membullymu karena kau homo kan?",
"Aku memang homo, masalah?",
Itachi menarik piyama Sasuke, membuat Sasuke yang sedang berbaring di ranjang, terseret bangun.
"Dasar, homo! Karena ulahmu, keluarga ini harus menanggung malu",
"Kalau kalian malu, kalian bisa membuangku",
PLaaaaaK
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sasuke yang sudah lebam.
"Renungkan kesalahanmu!", Itachi keluar dari kamar Sasuke setelah membanting pintu kamar dengan kuat.
Karena Sasuke merasa tidak bersalah, maka dia menghiraukan ucapan Itachi. Lebih baik tidur, kerena tubuh dan pikirannya benar-benar lelah.
Seiring berjalannya waktu, sakit di hati Sasuke mulai terobati oleh keberadaan Sakura. Sakura juga merasa terobati dengan kebersamaannya dengan Sasuke. Mereka berdua saling menambal luka satu sama lain. Saling terbuka dengan perasaan masing-masing. Sakura tetap mempertahankan hubungannya dengan Sasuke, meskipun Sakura tahu bahwa Sasuke homo dan masih belum bisa move on dari Naruto.
"Aku mencintaimu apa adanya", kalimat yang dilontarkan Sakura saat memutuskan ingin serius bersama Sasuke.
Suatu malam itu, Sakura memberitahu Sasuke bahwa dia hamil. Sasuke sangat terkejut, kemudian dia memeluk erat Sakura sambil tertawa nyaring.
"Aku akan jadi papa!", seru Sasuke girang seperti anak kecil mendapat permen.
Sakura mengira, Sasuke tidak akan bertanggung jawab. Tapi diluar dugaan, Sasuke sangat ingin sekali menjadi papa.
"Akan kukatakan pada aniki bahwa homo sepertiku, masih bisa punya anak! Aku juga akan menertawakan aniki bahwa adiknya akan menikah mendahuluinya...ahahaha!",
"Papa dan mama sebentar lagi akan punya cucu, dan kakek akan naik pangkat menjadi kakek buyut. Ah~ kakekku ini benar-benar sudah tua",
Sasuke tidak henti-hentinya berbicara, sedangkan Sakura tersenyum melihat wajah bahagia Sasuke.
Pertemuan keluarga yang menegangkan. Ada Uchiha Madara -kakek Sasuke, Fugaku, Mikoto, Itachi, Sasuke dan Sakura.
"Sakura sedang mengandung anakku", ulang Sasuke sekali lagi.
Di luar dugaan, Madara marah dan melempari Sasuke dengan tongkat.
"Aku akan menikahi Sakura", ucap Sasuke sambil menggenggam tangan Sakura yang dingin, membuat semua yang mendengarnya murka.
Mikoto menampar piki Sasuke dengan kuat.
"Mama kecewa padamu!", wajah Mikoto memerah antara marah dan ingin menangis. Mikoto sudah tidak bisa membela Sasuke yang bertindak keterlaluan.
Mikoto pergi meninggalkan ruangan dan mengunci diri di kamar.
"Mulai detik ini, kau bukan lagi bagian dari keluarga Uchiha!", tegas Madara, kemudian pergi meninggalkan ruangan disusul Fugaku yang tanpa komentar.
"Kami sudah membuangmu, itu kan yang kau mau?", sindir Itachi.
"Bukan ini yang diinginkan Sasuke-kun!", bantah Sakura.
Iya, Sasuke sama sekali tidak ingin dibuang. Dia hanya ingin keluarganya merasakan kebahagiaannya juga. Apa salahnya, menikah di usia muda?
"Tidak apa, Sakura. Aku sudah dibuang", cegah Sasuke agar Sakura tidak banyak bicara.
Sasuke diusir dari rumah tanpa membawa barang-barangnya.
Sama halnya dengan Sasuke, Sakura juga diusir dari rumah. Keluarga Haruno juga membuang Sakura.
"Kita memang senasib ya, Sasuke-kun? Ahahahaa...", tawa hambar Sakura.
"Tidak apa. Kita masih bisa membangun keluarga kecil yang sederhana. Aku akan kerja keras, mencari uang, untuk menafkahi keluarga kita. Karena aku seorang suami dan juga seorang papa",
Sakura terharu mendengar ucapan Sasuke.
"Terima kasih, Sasuke-kun. Senang bisa mendapatkan suami sepertimu...hiks..hiks... Terima kasih, Sasuke-kun",
Sakura merasa bersalah telah membuat Sasuke terusir dari kehidupan mewahnya. Sempat terlintas di pikirannya, seandainya mereka tidak bertemu, mungkin mereka tidak akan dibuang oleh keluarga masing-masing. Tapi, bagaimanapun, pertemuan mereka adalah takdir. Mau tidak mau, harus dijalani. Siapa tahu, inilah jalan terbaik bagi hidup mereka.
Sasuke dan Sakura menikah di sebuah kuil kecil di Amegakure. Mereka tinggal di sebuah gudang yang disulap menjadi rumah. Beruntung Hatake Kakashi, boss Sasuke, mengizinkan mereka tinggal di gudang miliknya.
Sasuke bekerja sebagai kasir minimarket milik keluarga Hatake, malam harinya bekerja sebagai pelayan bar. Sedangkan Sakura bekerja sebagai buruh di pabrik teh.
Sedikit demi sedikit, uang berhasil terkumpul untuk biaya bersalin Sakura dan perawatan bayi mereka kelak.
"Semangat!", itulah motto mereka.
Meskipun lelah, mereka tetap bahagia. Asalkan selalu bersama, itu sudah cukup memberi mereka kekuatan yang baru. Bahagia itu sederhana, bro!
Sakura sudah tahu bahwa akan kehilangan nyawa saat melahirkan, tapi dia bersikeras ingin melahirkan. Sakura tidak ingin menghancurkan harapan Sasuke untuk menjadi seorang papa yang keren di usia muda. Seharusnya Sakura tahu bahwa Sasuke kehilangan kekuatannya saat dia pergi.
"Jadilah papa yang keren bagi Sarada. Semangat!", itulah kalimat penyemangat terakhir dari Sakura sebelum meninggal.
* Flashback : sudah OFF *
"Ohayou, Kakashi-san!", sapa Sasuke ketika melihat bossnya sedang mengelap kaca pintu.
"Ohayou!", sahut pria jangkung berambut perak, gaya rambutnya cukup unik, seperti sapu?
Setelah kematian kedua orang tua Kakashi, mereka mewariskan minimarket ini untuknya. Meskipun hanya sebatang kara, dia sukses menjalani usahanya. Kakashi adalah tipe pekerja keras, sehingga di umurnya yang sudah kepala 3, dia masih betah melajang.
"Apa kau baik-baik saja?", tanya Kakashi.
"Hn! Aku baik-baik saja", jawab Sasuke tersenyum.
"Kau yakin?", Kakashi masih ragu karena Sasuke akhir-akhir ini sering sakit perut, tapi dia tidak pernah mengeluh ataupun meminta izin istirahat.
"Hn!",
Kakashi memandangi wajah Sasuke dengan teliti, wajah Sasuke semakin tirus.
"Aku baik-baik saja, Kakashi-san",
"Kau harus jaga kesehatan, jangan sampai sakit. Karena hanya kaulah yang dimiliki Sa-chan",
"Hn! Tentu!",
Jam istirahat, Sarada menyantap bento di kelas bersama ketiga sahabatnya.
"Kau tidak bosan dengan menu yang itu-itu saja?", tanya anak perempuan bertubuh gempal dan berkulit coklat. Anak itu bernama Akimichi Chouchou.
"Tidak", jawab Sarada singkat.
"Ini untukmu, Sa-chan", seorang anak laki-laki berkulit pucat memberi sepotong salmon untuk Sarada. Anak laki-laki itu bernama Shimura Inojin.
"Ini juga", Nara Shikadai, teman Sarada yang berwatak pemalas ikut memberi tempura miliknya pada Sarada.
"Ambil juga punyaku", Chouchou menyerahkan sepotong sandwich tunanya pada Sarada, "Makan dagingpun tidak akan membuatku pintar. Aku tidak ada bakat pintar sepertimu, Sa-chan",
Sarada tersenyum menerima semua kebaikan sahabatnya itu.
"Papa bilang, apapun makananmu, itu tidak ada hubungannya dengan kepintaran. Kepintaran hanya bisa didapat dengan kerja keras dan belajar", jelas Sarada mengcopy ucapan sang papa.
"Sa-chan benar. Meskipun punya bakat pintarpun, kalau tidak bekerja keras itu akan sia-sia", Inojin melirik Shikadai yang menguap lebar.
Sarada terkikik geli mendengar ucapan Inojin yang blak-blakan.
Jika saja Shikadai rajin, mungkin dia bisa mengungguli nilai Sarada. Tapi apa daya, Shikadai lebih suka bermalas-malasan selama nilainya masih aman-aman saja.
Malam ini, Sasuke tidak berangkat kerja di bar. Perutnya sakit lagi. Tapi kali ini, sakitnya lebih sakit dari yang sebelumnya.
"Papa tidak ingin ke dokter?", tanya Sarada cemas saat melihat sang papa pucat dan berkeringat.
"Tidak perlu. Hanya sakit perut biasa", Sasuke tersenyum sambil menahan sakit.
"Tapi wajah papa pucat",
"Tidak apa. Pergilah belajar", Sasuke berbaring di futon dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
Melihat sang papa menghiraukannya, Sarada terpaksa kembali ke kamar untuk belajar.
Setelah mendapat kabar dari Kakashi bahwa Sasuke tidak enak badan dan diizinkan pulang, Sarada langsung berjalan cepat menuju rumah. Dia harus secepatnya sampai di rumah karena Sasuke tidak ada yang merawat.
"Tadaima", ucap Sarada pelan, tidak ingin membangunkan sang papa yang dikiranya sedang beristirahat.
"Okaeri", sahut Sasuke yang ternyata sedang duduk di depan meja makan. Tangannya menggenggam segelas teh hangat.
Sarada menyentuh kening Sasuke dengan punggung tangannya, memeriksa suhu tubuh Sasuke. Sasuke tidak demam.
"Papa, ayo ke dokter!", ajak Sarada yang melihat wajah Sasuke masih pucat.
"Hn",
Sasuke terpaksa ke dokter, karena dia merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Dia berdoa semoga saja biaya obatnya tidak mahal.
Rumah sakit Amegakure.
Saat dokter bertanya keluhan yang dialami Sasuke. Sasuke terpaksa berkata jujur.
"2 bulan yang lalu, aku sudah merasakan sakit perut yang tidak biasa",
"Tidak biasa?", tanya dokter yang bernama Senju Tsunade.
"Maksudku, sakitnya tidak reda walaupun aku sudah minum puyer untuk mengobati sakit perut",
"Lalu? Kau membiarkan sakit itu?"
"Hn. Kupikir sakit itu akan hilang sendiri", Sasuke tersenyum kaku melihat Tsunade memasang wajah serius.
"Ck!", dokter wanita bertubuh sexy itu mendecak, "Lalu, bagaimana dengan nafsu makanmu?",
"Entahlah. Aku tidak bisa makan banyak. Itu membuatku mual",
"Kau sering muntah?",
"Akhir-akhir ini saat makan ataupun tidak, aku selalu muntah. Rasanya percuma saja jika aku makan... ahahaha...",
"Pernah muntah darah?",
Pertanyaan itu membuat Sasuke membatu.
"Pernah muntah darah? ", ulang Tsunade.
"Pernah. 4 atau 5 kali", jawab Sasuke pelan. Ketakutannya kembali muncul, saat membayangkan dirinya muntah darah. Dia takut penyakitnya berbahaya.
Tsunade meminta Sasuke untuk mengangkat kaosnya, memeriksa perutnya. Walaupun tubuh Sasuke kurus, tapi perutnya terlihat membengkak.
"Sepertinya lambungmu bermasalah. Besok pagi aku akan melakukan CT scan pada perutmu", jelas Tsunade.
"Apa sakitku parah?",
"Berharap saja ini tidak parah",
Ketakutan Sasuke semakin bertambah.
Setelah melakukan prosedur dan CT scan yang melelahkan bagi Sasuke, hasil itupun keluar.
Kanker lambung stadium 3.
Sasuke tertawa geli mendengar vonis yang dilayangkan Tsunade padanya. Bagaimana bisa orang miskin sepertinya terkena penyakit orang kaya? Terlebih lagi, penyakitnya itu sudah stadium 3.
Terputus
Gak tahu mau ngomong apa lagi?
Yang jelas review please ^^v
