[Threeshot]
Title : Sakura Melody
Chapter : 3 / 3
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Uchiha Sarada & Uchiha Sasuke
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.
Genre : Family
BGM : Shimizu Shota - Sakura Melody
Chapter terakhir dan agak panjang.
NB : Kakashi di sini gak pake masker ya. Soalnya kalo dia pake masker rada keninja-ninja-an gitu.
Rumah mungil tempat tinggal Sasuke dan Sarada.
"Ne, Sarada", panggil Sasuke yang sedang terbaring di futon. Pagi ini tubuhnya terasa lemas, dia bahkan tidak bisa menyiapkan bento untuk Sarada.
"Ya, papa", sahut Sarada yang sibuk memasak di dapur. Jarak antara tempat tidur Sasuke dengan dapur hanya sebatas triplek. Karena di rumah ini hanya ada 1 kamar, maka Sasuke tidur di ruang tengah. 1 kamar itu untuk Sarada agar dia punya privasi.
"Besok pagi, kita ke Konoha mengunjungi paman Itachi", Sasuke tersenyum menatap langit-langit. Sudah lama dia tidak bertemu dengan sang kakak tersayang.
"Paman Itachi?", Sarada merasa asing mendengar nama itu.
"Dia pamanmu yang paling tampan", jelas Sasuke.
"Tapi, papaku lebih tampan dari pria manapun",
"Tentu. Uchiha Sasuke adalah papa Sarada yang paling tampan sedunia",
Sebenarnya Sasuke segan untuk menemui Itachi, karena mereka telah hilang kontak selama 8 tahun. Tapi, mau bagaimana lagi? Sasuke sangat mengharapkan bantuan dari sang kakak.
Perjalanan dari Amegakure ke Konoha dengan bus, memakan waktu 5 jam. Sehingga mereka tiba ke Konoha tepat siang hari.
"Ah~ Sudah lama sekali", guman Sasuke menatap bangunan tinggi menjulang ke langit, bangunan itu milik keluarga Uchiha.
Dengan mantap, dia melangkah memasuki bangunan tersebut. Meminta resepsionis untuk menyampaikan pesan pada Uchiha Itachi bahwa Uchiha Sasuke ingin bertemu.
Setelah menunggu hampir 1 jam di lobby, akhirnya Itachi menampakkan diri. Sasuke tersenyum menyambut kedatangan Itachi. Rambut Itachi masih gondrong seperti dulu, dan kriput di wajahnya masih terlihat. Dia semakin berwibawa dan kebapakan. Apa dia sudah menikah dan mempunyai anak?
"Hai, aniki!", sapa Sasuke.
Itachi dengan dinginnya mentap Sasuke yang kurus dan pucat. Dia tidak yakin bahwa pria kurang gizi ini adalah adiknya. Pandangannya beralih menatap anak perempuan berkacamata yang digandeng Sasuke. Merasa ditatap, Sarada menunjukkan senyum termanisnya pada Itachi. Jujur, Sarada gugup ditatap seperti itu.
"Ini Sarada, anakku satu-satunya", jelas Sasuke sambil menepuk pundak Sarada, "Sarada, aya beri salam pada paman Itachi!",
"Hai, paman Itachi! Apa kabar?", sapa Sarada membungkuk hormat pada Itachi.
"Mau apa kau ke sini?", Itachi menghiraukan sapaan Sarada. Dia memandang tidak suka pada kedua makhluk di hadapannya ini.
"Sarada menyapamu, tolong direspon",
"Mau apa kau ke sini?", ulang Itachi.
"Sarada menanyakan apa kabarmu? Jadi, tolong dijawab", pinta Sasuke pelan.
"Huf~ Kau membuang waktuku", Itachi menghela nafas jenuh sebelum menjawab, "Aku baik-baik saja!",
"Syukurlah, aniki baik-baik saja", Sasuke tersenyum mendengarnya.
"Jadi, bisa kau jelaskan tujuanmu ke sini?',
"Bisa kita bicara berdua saja?",
"Aku tidak punya waktu",
"Hanya sebentar saja",
Itachi mengajak Sasuke ke ruangan tertutup yang terletak tidak jauh dari lobby. Sedangkan Sarada menunggu di lobby.
"5 menit", ucap Itachi yang tidak bersedia duduk berhadapan dengan Sasuke.
"Come on, aniki~ Aku jauh-jauh ke sini hanya...",
"Jangan membuang waktuku!", bentak Itachi, "Dan jangan memanggilku 'aniki' karena aku tidak punya adik sepertimu!",
"Bagiku, kau tetap kakakku dan juga paman dari Sarada",
Itachi melirik jam yang melingkar di tangan kirinya.
"4 menit lagi", Itachi sengaja mempercepat hitungannya.
Sasuke mengeluarkan beberapa lembar foto dari ranselnya. Tersenyum memandangi foto-foto itu.
"Setelah meninggalkan rumah, aku dan Sakura berkenala ke Amegakure. Menikah dan tinggal di sana. Ini foto pernikahanku", Sasuke menjelaskan foto dirinya dengan Sakura saat menikah di kuil. Tidak ada gaun pengantin ataupun taxudo, hanya mengenakan pakaian biasa. Tapi mereka tampak bahagia.
"Lalu, ini foto Sarada pertama kali melihat dunia", Sasuke menunjukkan foto bayi mungil yang baru lahir. Bayi berkulit merah itu menguap dengan lebar.
Sebenarnya banyak sekali foto-foto yang ingin ditunjukkan Sasuke, tapi dia hanya mengambil beberapa lembar saja yang menurutnya bisa membuat Itachi bangga.
"Yang ini Sarada saat memenangkan cerdas cermat antar sekolah. Sarada anak yang pintar lho", foto dirinya dengan Sarada yang sedang memegang piala dan piagam. Sasuke tampak tersenyum lebar, seolah-olah dialah yang memenangkan lomba cerdas cermat.
"Selain pintar, Sarada juga jago olahraga. Dia selalu di urutan pertama lomba lari saat festival olahraga di sekolah", lagi, foto dirinya dengan Sarada.
"3 menit lagi", Itachi sama sekali tidak memperhatikan foto-foto yang ditunjukkan Sasuke padanya.
"Yang ini foto terbaru yang kuambil. Ini pertama kalinya aku mengajak Sarada ke taman hiburan. Seharusnya kami pergi bertiga, tapi Sakura...",
"Berhenti menjelaskan hal yang tidak penting!", sela Itachi, "Langsung ke intinya saja!",
"OK",
Sasuke bernafas sejenak sebelum berkata.
"Aku sakit parah. Dan aku butuh uang yang banyak", ucap Sasuke mengepalkan kedua tangannya. Dia merasa malu meminta seperti itu.
Itachi tertawa geli mendengarnya.
"Kau ingin meminjam uang dariku?",
"Tidak. Aku tidak ingin meminjam uangmu. Aku ingin kau memberiku uang",
"Memberimu dengan cuma-cuma?",
"Hn", angguk Sasuke, "Uang yang kubutuhkan sangat banyak dan aku yakin, aku tidak bisa melunasinya. Jadi, jika aku mati nanti, aku tidak ingin membebani Sarada dengan utang-utangku",
Itachi melirik jamnya lagi.
"Waktu habis",
"Kumohon aniki!", Sasuke tiba-tiba berlutut di hadapan Itachi, "Aku ingin hidup lebih lama bersama Sarada, walaupun kata dokter kemungkinannya kecil",
"Kau memohon pada orang yang salah",
"Hanya kau satu-satunya harapanku!",
"Pergi! Dan jangan datang lagi!", Itachi berniat pergi, dengan cepat Sasuke memeluk kaki Itachi, mencegahnya untuk pergi.
"Aku ingin hidup, aniki", Sasuke menangis memohon agar Itachi membantunya. Berlutut, memohon dan menangis, harga dirinya sudah hilang.
Itachi dengan kuat menendang Sasuke hingga pelukan di kakinya terlepas.
"Aku ingin hidup...untuk anakku...", lirih Sasuke sekali lagi.
Itachi menatap rendah pada Sasuke yang tergeletak di lantai, dengan wajah pucat berlinang air mata. Mantan adiknya ini benar-benar seperti pengemis yang menyedih.
"Kemana kau selama ini? Mengapa saat kau sakit parah, baru menemuiku?",
"Aku menunggu kau mencariku",
Itachi tersenyum miring mendengar jawaban yang diberikan Sasuke. Jawaban yang benar-benar berego tinggi.
"Hiduplah dengan caramu sendiri! Kita sudah tidak ada hubungan lagi!",
BLaaaaM
Pintu ruangan tertutup dengan kuat. Harapan satu-satunya Sasuke telah pergi.
Sasuke mengepalkan kedua tangannya, menangis dan meraung sekuat mungkin. Melepaskan semua rasa sakit di hati dan tubuhnya.
Beberapa hari kemudian.
Sasuke menghiraukan sakit di tubuhnya, dia sudah pasrah akan kematian . Dia harus bekerja dengan keras mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk masa depan Sarada kelak. Saat Sasuke mati nanti, dia tidak ingin Sarada putus sekolah ataupun hidup susah.
"Yosh! Semangat!", Sasuke menyemangati dirinya sendiri.
"Kau selalu bersemangat, Sasuke-san!", puji Kakashi.
"Tentu!", angguk Sasuke sambil menyusun snack di rak.
"Istirahatlah karena kau terlihat lelah",
"Aku baik-baik saja",
"Kau tidak terlihat baik-baik saja",
"Benarkah? Ahaahaa...",
"Pasti ada sesuatu yang kau sembunyikan?",
"Hn",
Kakashi tidak tahu penyakit yang diderita Sasuke. Sasuke memberi tahu pada Kakashi bahwa penyakitnya tidak parah, hanya maag yang diakibatkan makan tidak teratur.
"Boleh aku tahu itu?", Kakashi penasaran dengan apa yang dirahasiakan Sasuke darinya? Apa Sasuke berencana untuk menikah lagi? Tidak, tidak, Kakashi tahu bahwa Sasuke masih setia dengan Sakura.
"Yang namanya rahasia itu harus dirahasiakan",
Kakashi menepuk kuat pundak Sasuke.
"Jangan terlalu memaksakan diri. Istirahatlah jika kau lelah", pesan Kakashi.
Malam hari, di rumah.
Sarada menggantikan tugas Sasuke untuk memasak dan membereskan rumah. Sarada ingin menunjukkan pada Sasuke bahwa dia adalah anak yang mandiri. Sasuke senang melihat anaknya yang mandiri ini. Dengan begitu, dia bisa lega saat meninggalkan Sarada nanti.
"Kau memang perkasa seperti mamamu", puji Sasuke pada Sarada.
Sarada tersipu malu mendengar pujian itu.
"Kau pasti bisa bertahan hidup, jika papa tidak ada nanti",
"Maksud papa?",
"Papa ada rencana untuk pergi jauh",
"Kemana?",
"Tempat yang sangat jauh",
"Papa akan membawaku juga kan?",
"Tidak",
"Menagapa?",
"Karena papa hanya punya 1 tiket",
"Huh!", cibir Sarada, "Papa sudah tidak sayang padaku lagi!",
Sasuke menyentil dahi Sarada.
"Papa masih sayang padamu, dan selamanya akan tetap menyayangimu",
"Lalu? Mengapa aku tidak diajak pergi bersama papa?",
"Karena masih banyak hal yang harus kau lakukan",
"Papa juga. Masih banyak hal yang harus papa lakukan",
Sasuke hanya tersenyum, tidak tahu harus menjawab apa? Anaknya ini terlalu pintar dan kepo.
Kemampuan Sasuke untuk menahan rasa sakit itu sudah melewati batas akhir. Dia sudah tidak sanggup menahannya lagi, hingga akhirnya dia jatuh pingsan saat bekerja di minimarket. Kakashi ketakutan saat melihat darah keluar dari mulut Sasuke.
Kakashi akhirnya mengetahui rahasia yang disimpan oleh Sasuke. Rahasia Sasuke tentang penyakitnya.
"Mengapa kau merahasiakannya dariku?",
Sasuke bisa melihat kemarahan terpancar dari kedua mata Kakashi.
"Karena ini rahasia yang tidak boleh diketahui oleh siapapun",
"Seharusnya kau memberitahuku karena aku pasti akan membantumu",
"Aku sudah banyak berhutang padamu",
"Bicara apa kau? Kau adalah keluargaku! Kau sudah kuanggap sebagai adik!",
Mendengar ucapan Kakashi ini, membuat Sasuke menangis. Kakashi yang tidak ada hubungan darah saja, mau menyayanginya. Sedangkan Itachi yang merupakan kakak kandungnya, malah membencinya.
"Maaf, boss...", lirihnya menahan isakan.
Kakashi memeluk Sasuke dengan hati-hati agar selang-selang di lengan Sasuke tidak terlepas.
"Teruslah hidup, demi Sarada", pinta Kakashi.
"Hn",
Kakashi memperhatikan saldo tabungannya, tapi sayang saldonya belum cukup untuk membayar uang operasi Sasuke. Kakashi mencoba mengajukan pinjaman pada bank, tapi Sasuke meminta Kakashi agar tidak menghambur-hamburkan uang untuk pengobatannya, karena Sasuke tidak yakin bisa bertahan di ruang operasi nanti.
Kakashi tahu bahwa penyakit Sasuke sudah parah, tapi dia masih berharap Sasuke untuk hidup lebih lama lagi.
"Aku mohon, Kakashi-san. Jangan menghambur-hamburkan uangmu untuk hal yang tidak berguna", tulang pipinya terlihat begitu jelas saat Sasuke tersenyum, "Besok aku akan keluar dari tempat ini. Lebih baik aku istirahat di rumah saja. Memantau Sarada belajar. Aku tidak ingin kondisiku membuat konsentrasinya terganggu",
Sarada memang tidak tahu penyakit yang diderita Sasuke, tapi Sarada bukan anak yang bodoh. Dia pasti tahu bahwa penyakit sang papa parah.
"Bukankah kau ingin hidup lebih lama lagi?", bujuk Kakashi.
Sasuke tersenyum geli.
"Aku tidak ingin mati di ruang operasi",
Kakashi tidak bisa membujuk lagi, karena Sasuke memang sudah menyerah dan pasrah. Lebih baik membiarkan Sasuke menghabiskan sisa hidupnya bersama Sarada daripada berbaring di ranjang rumah sakit.
Dan akhirnya, Sarada menangis sekuat mungkin setelah mendengar pangakuan Sasuke mengenai penyakitnya.
"Kau sudah berjanji untuk tidak menangis", Sasuke menyeka air mata di pipi Sarada yang basah.
"Bagaimana aku tidak menangis? Papa akan pergi meninggalkanku",
Sasuke menahan diri untuk tidak menangis, dia memeluk Sarada dengan sangat erat. Terasa berat untuk meninggalkannya.
"Kau pasti bisa hidup tanpa papa",
"Tidak! Aku tidak mau papa meninggalkanku! Aku takut sendirian...hiks...hiks..",
"Kau tidak perlu takut sendirian, karena papa dan mama selalu ada di hatimu",
Festival musim panas di Amegakure telah dimulai. Sasuke ingin sekali pergi berkeliling bersama Sarada, walaupun Sarada lebih suka Sasuke berisitirahat di rumah.
"Anak perempuanku ini memang cantik", Sasuke terpesona dengan kecantikan Sarada yang mengenakan kimono pink, dengan rambut yang disanggul.
"Tentu! Aku anak papa yang paling cantik dan perkasa!", Sarada berpose ala sumo, membuat Sasuke tertawa geli.
"Mmm~ Papaku memang tampan dan keren!", puji Sarada melihat Sasuke mengenakan yukata senada dengan warna langit.
"Tentu! Uchiha Sasuke adalah papa yang paling tampan dan keren se-Amegakure!", tak ingin kalah pose dari Sarada, Sasuke menunjukkan pose terkerennya.
Ayah dan anak ini benar-benar keren dan kompak.
Sasuke tampak menikmati suasana yang ramai dan meriah ini. Tapi Sarada tidak, dia takut sang papa akan jatuh pingsan. Selama menemaninya berkeliling, Sarada melihat Sasuke menggigit bibir bawahnya, Sarada tahu bahwa sang papa sedang menahan sakit.
"Tahun depan, kita harus ke sini lagi ya, pa!", tegas Sarada memaksa Sasuke untuk berjanji.
"Hn",
"Pasti ya, pa!",
"Semoga",
"Papa sudah janji!",
Sasuke tersenyum tipis menanggapinya.
"Papa, minumlah sedikit biar tidak haus", Sarada menyodorkan segelas air mineral pada Sasuke.
Karena haus, Sasuke langsung meneguk air mineral yang ditawarkan.
"Uhuk uhuk...", Sasuke tersedak dan memuntahkan air yang diminumnya beserta dengan darah berwarna merah kecoklatan.
Dia sulit bernafas dan perutnya sakit, sangat sakit hingga membuat air matanya keluar. Sarada berteriak meminta pertolongan. Seorang pengunjung yang berprofesi sebagai dokter, berlari memberi bantuan.
"Sa, Sasuke?", pengunjung itu terkejut setelah mengenali wajah yang tidak asing baginya.
Samar-samar, Sasuke melihat sosok berambut kuning dengan suara cempreng yang dirindukannya. Uzumaki Naruto.
Naruto marah setelah mendengar semua cerita dari Kakashi. Naruto meninju dinding rumah sakit, saat melihat Sasuke terbaring di ruang pemulihan pasca operasi pengangkatan lambung. Operasi itu hanya mengurangi rasa sakit yang dialami Sasuke. Operasi itu nyaris gagal karena pendarahaan di perut tak kunjung berhenti.
"Kuso!", umpat Naruto.
Naruto memang sudah lama tidak bertemu dengan Sasuke, tapi dia tidak mengharapkan bertemu Sasuke dengan kondisi yang seperti ini. Padahal tujuannya ke Amegakure adalah untuk berlibur menikmati festival musim panas.
"Kuso! Kuso! Dia tidak menepati janjinya!", umpat Naruto dalam hati.
* Flashback : ON *
Di sebuah cafe.
Saat mengetahui Sasuke berpacaran Naruto, Itachi mengajak Naruto untuk bertemu 4 mata.
"Kau sudah menimbulkan banyak masalah untuk adikku", tuduh Itachi yang tidak ingin menyalahkan Sasuke, walaupun sang adik memang bersalah.
"Maaf, karena aku mencintai adikmu",
"Cinta kalian hanya main-main",
"Aku serius mencintainya!",
"Jika kau mencintainya, maka tinggalkan dia dan pergilah sejauh mungkin",
"Aku tidak mungkin meninggalkannya karena aku mencintainya", tolak Naruto.
"Apa kau lebih senang, jika adikku diusir?",
Naruto menggigit bibirnya, dia kehabisan kata-kata. Itachi benar, Sasuke pernah bilang bahwa dia akan diusir karena telah membuat malu keluarganya. Tapi Sasuke memang berencana untuk kabur dari rumah, bukan?
"Jika kau terus bersama adikku, apa yang akan terjadi pada keluargamu? Bukankah kau anak tunggal? Apakah kau pernah memikirkan perasaan mereka?",
Naruto adalah satu-satunya penerus perusahaan yang dikelolah keluarganya. Keluarganya juga tidak merestui hubungannya dengan Sasuke. Bahkan Kushina -sang ibu, mengancam akan bunuh diri jika Naruto kabur dari rumah dan memilih hidup bersama Sasuke.
"Berpikirlah ke depan. Apa nanti Sasuke akan bahagia jika bersamamu?",
Naruto tahu bahwa Sasuke tidak akan bahagia jika bersama dirinya yang sekarang. Dirinya yang bodoh dan masih belum bisa menghasilkan apa-apa. Takut jika Sasuke akan menderita dengan ekonomi yang pas-pasan.
"Adikku punya masa depan, dan masa depannya bukan bersamamu. Dia akan menikah dengan seorang gadis yang selevel dan menghasilkan keturunan. Itulah harapan besar keluarga kami untuk Sasuke",
"Apa harapan terbesar orang tuamu?",
Sama halnya dengan yang diharapkan semua orang tua. Melihat anaknya sukses, menikah dan menghasilkan keturunan.
Setelah mendengar serangan kalimat dari Itachi, akhirnya Naruto terpaksa menyudahi hubungannya dengan Sasuke.
"Berjanjilah bahwa kau tidak akan membiarkan Sasuke diusir. Lindungi Sasuke. Apapun yang dilakukannya, jangan menyalahkan dia. Sasuke masih butuh banyak perhatian dari kalian", pinta Naruto sebelum Itachi pergi.
Untuk melupakan Sasuke, Naruto memutuskan untuk tinggal di Amerika bersama pamannya.
* Flashback : OFF *
Hari ini adalah ulang tahun Sasuke, tapi Sasuke masih belum membuka matanya.
"Selamat ulang tahu, papa", bisik Sarada sambil menyentuh jendela kaca sebuah ruangan tempat Sasuke berbaring, "Semangat, papa!",
Sarada tersenyum optimis, dia yakin sang papa bisa mengalahkan penyakitnya.
Setelah tertidur panjang selama 4 hari, akhirnya Sasuke membuka matanya.
Sasuke masih belum dipindahkan dari ruang pemulihan. Kondisinya masih lemah, dia bahkan tidak punya kekuatan untuk bangkit dan turun dari ranjang. Sebuah selang terpasang di lubang hidungnya karena dia tidak bisa makan dengan normal. Kadang dia juga bisa mengalami sesak nafas, karena virus kanker sudah menyebar ke paru-paru.
"Kau harus bertahan, Suke~", Naruto mengusap pipi Sasuke yang tidak segempal dulu.
Meskipun Naruto seorang dokter bedah, tapi dia tidak punya hak menangani Sasuke. Dia hanya diizinkan menjenguk.
"Maaf...", Naruto tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Dia menyesal telah meninggalkan Sasuke. Dia menyesal telah mempercayai Itachi.
Mendengar suara isakan, Sasuke mencoba membuka mata walaupun mengantuk.
"Dobe?", Sasuke memastikan bahwa dia tidak salah lihat.
Melihat Sasuke sudah bangun, Naruto segera mengusap air matanya. Menghiraukan masker yang terpasang di mulutnya telah basah.
"Suke",
Sasuke tersenyum mendengar suara yang dirindukannya, berharap ini bukan mimpi. Meskipun Sasuke ingin menghajar sosok pria yang telah meninggalkannya itu, tapi rasa rindu meredam amarahnya. Tidak pernah sama sekali Sasuke membenci Naruto.
"Hai, Dobe!",
"Ini aku, Suke",
"Aku merindukanmu, apa kau juga merindukanku?",
"Hn. I miss you so much, Suke",
Sasuke ingin berteriak, menerjang dan memeluk Naruto, tapi tidak bisa. Tubuhnya berat seperti membatu.
"Senang melihatmu lagi, Dobe",
Tapi Naruto tidak senang melihat Sasuke dengan kondisi sakit seperti ini.
"Terimakasih telah membiayai operasiku",
Tsunade mengatakan bahwa Naruto telah membiayai operasinya dengan gratis, tanpa imbalan apapun. Tsunade tidak ingin Sasuke cemas memikirkan hutang.
"Kau tidak akan memintaku untuk mengembalikan uangmu, kan?", tanya Sasuke meyakinkan apa yang dikatakan Tsunade adalah benar.
Naruto mendecak tidak suka.
"Hidupmu lebih berharga daripada uang. Apapun akan kulakukan asal kau bisa tetap hidup",
"Terima kasih, Dobe-sensei",
Banyak hal yang ditanyakan Sasuke dan Naruto menjawabnya dengan panjang lebar. Dia ingin Sasuke mendengar suara cemprengnya daripada tidur panjang. Meskipun Sasuke telah mengetahui alasan Naruto meninggalkannya, dia tidak menyalahkan siapapun. Itu adalah masa lalu yang tidak perlu dipermasalahkan.
"Aku sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan", Sasuke melirik cincin emas yang melingkar di jari manis tangan kanannya. Cincin itu tampak longgar di jarinya yang kurus.
"Kau menamai anakmu 'Sarada'", sambung Naruto.
"Hn. 'Sarada', aku suka nama itu",
"Sejak dari dulu, kau memang suka dengan nama itu",
"Kau sudah melihat anakku?",
"Anakmu cantik sepertimu",
"Dia juga perkasa seperti mamanya", tambah Sasuke.
Naruto tersenyum tipis. Dia cemburu karena Sasuke sudah menikah dan memiliki anak. Tidak seperti dirinya yang masih jomlo karena tidak bisa move on dari cinta pertamanya ini.
"Bagaimana denganmu?", tanya Sasuke.
"Aku masih single. eheehee...",
"Kau harus secepatnya menikah dan memiliki anak. Menjadi papa muda yang keren itu sangat menyenangkan",
'Hn",
Sasuke mengernyit karena sakit itu kembali menyerang.
"Aku sungguh senang bisa bertemu denganmu sebelum aku pergi. Ini benar-benar seperti mimpi",
"Maaf, Suke...", Naruto menahan diri untuk tidak menangis lagi, "Maafkan aku yang telah meninggalkanmu tanpa pamit",
Sasuke menggeleng.
"Jika kau tidak meninggalkanku, kau tidak mungkin bisa menjadi dokter hebat seperti sekarang ini. Dan aku juga tidak mungkin bisa menjadi papa keren dan tampan bagi Sarada",
"Jika aku tidak meninggalkanmu, kau tidak mungkin semenderita ini",
"Aku bahagia kok, walaupun aku sakit",
Naruto menangis melihat Sasuke tersenyum kecil.
"Mengapa kau menangis?",
"Ini bukan salahmu, Dobe. Ini sudah takdir. Aku akan pergi mendahuluimu, menyusul istriku",
"Jangan pergi... kau masih ada hutang janji padaku... Kapan kau akan memainkan lagu itu?",
Sasuke tersenyum kecil, ternyata Naruto masih mengingatnya.
"Kau juga harus melihatku menikah dan...mempunyai anak",
Sasuke ingin sekali melihat Naruto menikah, kalau bisa dia ingin menjadi groomsmen, tapi sepertinya tidak bisa karena Sasuke sudah menikah.
"Kau tidak ingin melihat Sarada menikah? Kau tidak ingin menimang cucumu?",
Ya, Sasuke sangat ingin sekali. Mendampingi sang putri tersayang menikah, menunggu kelahiran sang cucu, lalu bermain bersama cucu, dan banyak hal yang ingin dilakukannya. Tapi sayang, kondisi tubuhnya tidak bisa bertahan selama itu.
"Hn", Sasuke memejamkan mata membayangkan hal-hal yang indah, "Aku lelah...",
Mata Sasuke mulai berat dan kembali tertidur.
Merasa bosan mencium aroma rumah sakit, Sasuke meminta Naruto untuk mengantarnya pulang. Naruto tidak bisa menolak, karena Sasuke berulang kali mengatakan tidak ingin mati di rumah sakit.
Seolah lupa dengan penyakitnya, Sasuke bangun pagi seperti biasa bermaksud membuatkan bento untuk Sarada. Tapi, tanpa dikiranya, ternyata Naruto dan Sarada telah bangun lebih awal darinya. Mereka berdua dengan kompak memasak di dapur, meskipun Sarada banyak protes dengan cara masak Naruto yang abal.
"Siap, chef Sarada!", ucap Naruto saat Sadara memberi instruksi.
Sasuke tersenyum melihat demo memasak mereka.
"Ohayou!", sapa Sasuke.
"Ohayou, papa",
"Ohayou, Suke!",
"Ada yang bisa kubantu makan?",
"Cepat, paman! Papa sudah lapar!", Sarada menepuk-nepuk punggung Naruto.
"Sebentar Suke, 2 menit lagi!", Naruto mulai kelabakan.
Sambil menunggu sarapan selesai, Sasuke duduk di meja makan.
Setelah lambungnya diangkat, Sasuke tidak bisa makan banyak, sekali makan hanya bisa 2-3 sendok saja. Meskipun kesulitan makan, tapi Sasuke bersyukur karena perutnya tidak membengkak lagi. Dia tidak ingin mati dalam kondisi perut membengkak seperti wanita hamil.
Naruto menggantikan tugas Sasuke mengantar Sarada ke sekolah.
"Apa paman masih mencintai papa?", tanya Sarada setelah mengetahui masa lalu Naruto dengan Sasuke. Sarada memang kepo ya.
"Hn", angguk Naruto, "Paman masih belum bisa move on... eheheehe...",
"Paman harus segera menikah", saran Sarada agar Naruto bisa move on.
Naruto melirik Sarada sambil mengulum senyum.
"Mmm~ Bagaimana kalau paman menikahi papamu saja?", ide jahil Naruto itu dihadiahi tendangan dari Sarada tepat di tulang keringnya.
"Cinta papaku hanya untuk mama dan aku!",
Sarada tidak rela jika cinta sang papa terbagi.
Sasuke tidur di kamar Sarada karena ruang tengah tempat biasa dia tidur cukup dingin. Lagi pula, Sarada ingin Sasuke mengusap-usap rambutnya hingga jatuh tertidur ke dalam dekapan sang papa. Dia ingin bermanja-manja bersama sang papa. Sedangkan Naruto, yang sudah tinggal bersama selama seminggu, dibiarkan tidur di ruang tengah seorang diri. Sebenarnya kamar Sarada terlalu sempit jika diisi 3 orang.
Keesokan pagi harinya, Sarada meminta Naruto untuk tidak mengantarnya ke sekolah. Dia ingin Naruto menjaga Sasuke di rumah, karena Sasuke terlihat letih dan butuh bantuan. Selain itu, Sarada tidak suka Naruto tebar pesona pada teman-temannya. Dia tidak ingin teman-temannya menganggap Naruto adalah papa barunya.
"Itterasshai!", Naruto melambai-lambai dari depan pintu, melepas kepergian Sarada.
"Padahal aku tampan dan keren, sayang sekali jika pesonaku tidak tersebar", cibir Naruto.
Sasuke tidak bisa mendengar jelas apa yang dikatakan Naruto. Kepalanya pusing dan tubuhnya terasa berat. Tubuhnya nyaris membentur lantai jika Naruto tidak gesit menangkapnya.
"Suke?", panggil Naruto melihat wajah Sasuke memucat dan berkeringat.
Sasuke mencengkram kuat kaos Naruto. Dadanya sakit dan sesak.
Naruto mengangkat tubuh Sasuke dan menggendongnya ke kamar. Memasangkan masker oksigen ke mulut Sasuke, kemudian menyuntikan obat pengurang rasa sakit ke lengan Sasuke.
Setelah 15 menit, nafas Sasuke berangsur teratur.
"Ne, Suke", Naruto membaringkan tubuhnya di samping Sasuke, "Sarada menyuruhku untuk segera menikah",
Sasuke meminta Naruto untuk bercerita, dia ingin mendengar suara Naruto. Dia tidak boleh tidur, karena ini masih pagi dan dia baru saja bangun. Bercerita dengan Naruto lebih baik daripada tidak beraktivitas sama sekali.
"Kukatakan padanya bahwa aku ingin menikahimu. Kau tau, apa reaksinya?",
"Dia pasti marah", jawab Sasuke yang tahu sifat anaknya itu.
"Hn. Dia menendangku. Dia tidak rela cinta papanya terbagi",
"Dan akupun tidak ingin cintaku terbagi", canda Sasuke.
"Come on, Suke~", rengek Naruto berguling-guling.
Sasuke melepas masker oksigen dari mulutnya.
"Aku ingin kau menciumku, Dobe", pinta Sasuke tiba-tiba.
"Heh?!", Naruto berhenti berguling.
"Maaf. Tiba-tiba saja aku ingin kau menyentuhku", Sasuke menutup wajahnya dengan lengan. Dia malu dan terkesan seperti orang mesum.
Naruto mengenyahkan lengan yang menutupi wajah Sasuke, dengan pelan menggeser dagu Sasuke menghadapnya, lalu mengecup singkat bibir Sasuke.
"Terima kasih, Dobe", senyum Sasuke.
Tanpa perintah, Naruto kembali menciumi bibir Sasuke. Lumatan demi lumatan, Sasuke membuka mulutnya agar Naruto bisa menciumnya lebih dalam. Mereka berdua rindu dengan rasa dan sentuhan ini.
Tidak puas sekedar ciuman, mereka lanjut ke tahap yang lebih panas -sex. Naruto melakukannya dengan hati-hati agar tidak menyakiti Sasuke.
Setelah melakukan sex, Naruto membantu memakaikan pakaian ke tubuh Sasuke. Dia tidak ingin Sarada melihat sang papa bugil.
Sasuke beristirahat sejenak, tubuhnya benar-benar lelah. Sementara itu, Naruto ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk Sasuke. Sehari Sasuke harus makan 6 kali agar bertenaga.
Beberapa hari kemudian, rumah kecil Sasuke kedatangan dua tamu yang tidak disangka. Mereka adalah Uchiha Itachi dan Uchiha Mikoto, kakak dan ibu Sasuke. Mereka terkejut melihat Naruto ada di sana.
Naruto mengantar Mikoto menuju kamar, tempat Sasuke yang sedang tertidur. Mikoto dengan gemetar masuk ke kamar, dia tidak siap melihat kondisi anak bungsunya itu. Sedangkan Itachi memilih untuk menunggu di luar rumah. Ada hal yang ingin dibicarakannya pada Naruto.
"Mengapa kau ada di sini?", tanya Itachi.
Bukannya menjawab, Naruto malah melayangkan tinju ke wajah Itachi.
BuuuuG
Itachi tersungkur ke tanah. Dengan angkuh dia berdiri dan menyingkirkan tanah dari pakaiannya.
"Mengapa kau tidak menepati janjimu!", Naruto mencengkram kerah Itachi, kedua matanya memerah memancarkan kemarahan.
"Aku tidak bisa melindunginya karena dia sudah melakukan banyak kesalahan",
"Bagaimanapun juga, kau kakaknya!",
"Dia tidak pernah menganggapku kakaknya!", Itachi tak kalah kerasnya dari Naruto, "Dia selalu menghiraukan kata-kataku!",
Itachi mendorong Naruto agar menjauh darinya. Dia merapikah kerah dan dasinya yang berantakan.
"Dia telah membuat malu keluarga Uchiha. Dia menghamili wanita yang tidak selevel. Kakek marah dan mengusirnya. Tanpa rasa bersalah dia pergi bersama wanita itu, menghilang tanpa kabar. Kami sudah membuangnya, sesuai yang diinginkannya",
Naruto mengepalkan tangannya, menahan diri untuk tidak memukul sesuatu.
"Sudah kukatakan bahwa Sasuke butuh perhatian dari kalian", desis Naruto.
"Tapi cara yang dia lakukan salah dan tidak bisa dimaafkan",
"Ck!", decak Naruto, "Jika tidak bisa dimaafkan, untuk apa kalian datang ke sini?",
"Karena kutahu, dia akan pergi jauh... dan tidak akan kembali lagi",
Sementara itu, Sasuke terbangun setelah merasa ada yang menggenggam tangannya dengan erat. Tangan yang halus, berbeda dengan tangan yang biasa menggenggamnya -tangan Naruto. Penasaran, dia mencoba membuka matanya walaupun dia mengantuk.
Perlahan dia melihat sosok wanita yang sedang menangis, sambil mengusap-usap puncak kepalanya. Wanita itu adalah Uchiha Mikoto, sang ibu.
"Ini okaasan",
Sasuke tidak menyangka bahwa sang ibu datang menjenguknya, dia sangat merindukan sang ibu.
"Anda ibuku?", Sasuke sengaja berpura-pura tidak mengenali sang ibu.
Dia sudah terlanjur kecewa pada keluarganya, mengapa baru sekarang mencarinya? Selama 8 tahun, dia menunggu mereka untuk datang melihat keluarga kecilnya, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa mereka mencarinya. Nama 'Uchiha Sasuke' sudah tidak ada dalam keluarga besar Uchiha.
"Kau tidak ingat dengan okaasan?",
"Aku punya ibu?", kening Sasuke mengernyit keheranan.
"Punya! Kau masih punya ibu, ayah, kakak, dan kakek! Apa kau sudah melupakan mereka?",
Sasuke bangkit, menyandarkan punggungnya ke dinding.
"Aku tidak ingat bahwa aku masih punya keluarga", Sasuke tersenyum miring, terkesan sedang mengejek keluarganya.
Mikoto memeluk Sasuke dengan erat. Apa penyakit yang diderita Sasuke telah membuat ingatnya menghilang?
"Maaf, kami telah mengabaikanmu",
"Kalian kemana? Mengapa saat aku mau mati, kalian baru datang mencariku?", Sasuke mengepalkan kedua tangannya, menahan diri untuk tidak menangis.
"Maafkan kami Sasuke, maaf...", hati Mikoto sakit mendengar kalimat Sasuke yang begitu menusuk.
Di balik pintu, Itachi mendengar pembicaraan itu.
"Mengapa kau baru menemuiku setelah kau sakit parah?", teriak Itachi dalam hati.
Mikoto meminta Itachi untuk berbicara sepatah kata pada Sasuke, tapi Itachi menolaknya. Dia tidak mau bertemu dengan sang adik yang terlihat begitu menyedihkan.
Setelah Mikoto dan Itachi pulang.
"Aku tidak menyangka mereka datang ke sini, kupikir mereka melupakanku", cerita Sasuke pada Naruto.
"Kau pasti senang ibu dan kakakmu datang",
"Hn", Sasuke tersenyum tipis, "Tapi aku malah berpura-pura tidak mengenali mereka",
"Kau tidak ingin mengenalkan Sarada pada mereka?",
"Tidak perlu, mereka tidak akan datang lagi",
Sasuke tahu bahwa Itachi masih membencinya, Itachi bahkan tidak mau berbicara dengannya untuk yang terakhir kali.
Pagi ini, Sasuke mengantar Sarada ke sekolah. Sebenarnya dia ingin berbicara berdua saja dengan Sarada.
"Setelah papa pergi nanti, maukah kau tinggal bersama Kakashi-san?", tanya Sasuke sambil menggandeng tangan Sarada.
Sarada menghentikan langkahnya.
"Aku ingin tinggal bersama papa", ucap Sarada sambil menunduk.
"Papa akan pergi lho",
Genggaman Sarada menguat, Sasuke tahu bahwa Sarada menahan diri untuk tidak menangis.
"Apa kau ingin tinggal bersama paman Dobe?",
Sarada menggeleng.
"Paman Dobe punya kehidupan sendiri. Dia harus menikah dan punya anak sendiri",
"Tapi paman Dobe menyayangimu. Dan kalian terlihat sangat kompak",
Sarada melepaskan genggamannya.
"Aku tidak mau memikirkan dengan siapa aku akan tinggal nanti, karena papa masih bersamaku!",
Setelah mengantar Sarada ke sekolah, Sasuke istirahat sejenak di bangku taman untuk mengumpulkan tenaga.
"Baru beberapa langkah, sudah selelah ini", gumannya yang merasa tubuhnya sudah seperti kakek-kakek.
Tap tap tap
Suara langkah perlahan menghampirinya.
Sasuke mendongakkan kepalanya melihat sang pemilik sepatu pantofel berwarna hitam yang berdiri di hadapannya ini. Ternyata Itachi.
"Kau mengenalku?", dari reaksi terkejut Sasuke, Itachi menduga bahwa Sasuke berpura-pura lupa tentang keluarganya.
"Rasanya tidak asing", bohong Sasuke sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Apa perlu aku membantumu mengingatnya?", Itachi mengancang-ancang mengangkat tangan kanannya.
Sasuke memejamkan mata, dia tahu Itachi akan memukulnya karena dia ketahuan berbohong.
Tuk
Sebuah sentilan kecil mengenai keningnya.
"Memukulmu adalah suatu kesalahan", ucap Itachi.
Sasuke menyentuh keningnya. Dia teringat kejadian Itachi menamparnya dulu. Itu pertama kali Itachi memukulnya.
"Apa kau kakakku?", tanya Sasuke.
"Kakakmu?",
"Karena wajah kita mirip...ehehehe...", jelas Sasuke sambil tersenyum bodoh.
"Ck! Baka otouto", Itachi langsung berjalan angkuh meninggalkannya.
Sasuke tersenyum kecil. Merasa lega bahwa sang kakak masih menganggapnya adik.
"Kalau kau kakakku, maukah kau memelukku?", pinta Sasuke mencegah Itachi pergi begitu saja.
". . . . .",
Sepertinya Itachi masih membencinya.
"Mungkini ini terlalu berat untukmu", Sasuke berniat pulang, tapi perutnya tiba-tiba nyeri dan mual.
Merasa tersinggung dengan ucapan Sasuke, membuat Itachi membuang semua egonya, lalu berbalik dan memeluk Sasuke.
"Kau puas?",
Sasuke melingkarkan lengannya ke pinggang Itachi, terkikik di perut Itachi. Dia senang bahwa sang kakak mau menuruti permintaannya.
"Apa ini pertama kalinya kau memelukku?",
Seingat Itachi, ini memang pertama kali dia memeluk Sasuke. Saat kecil, Itachi tidak pernah mau bermain dengan Sasuke. Itachi hanya fokus belajar dan belajar. Lagi pula, Sasuke sudah ada babysitter yang menemaninya bermain. Sasuke juga bukan tipe anak yang manja.
"Bagaimana rasanya memelukku?",
"Seperti memeluk tulang", jawab Itachi.
"Uhuk uhuk...", Sasuke tiba-tiba tersedak. Dia dapat merasakan rasa asin darah di mulutnya.
"Kau menertawakanku?", Itachi malah mengira bahwa Sasuke sedang menetawakannya.
Sasuke tidak ingin muntah di kemeja yang dikenakan Itachi, dia harus melepaskan pelukannya dan segera berlari mencari tempat untuk muntah. Tapi di lain sisi, Sasuke ingin lebih lama dipeluk Itachi.
"Apa kau sudah puas memelukku?", tanya Itachi. Dia tidak ingin orang-orang melihatnya dengan tatapan aneh.
Sayang sekali, pelukan itu harus terlepas.
"Terima kasih... aniki", Sasuke tersenyum senang. Itachi dapat melihat cairan merah merembes dari sudut mulut Sasuke.
Itachi menyeka cairan itu. Kemudian dia berjongkok memunggungi Sasuke.
"Kuantar kau pulang",
"Hn", untuk kesekian kalinya, Sasuke tersenyum senang atas service yang diberikan Itachi.
Menikah dan mempunyai anak perempuan yang mandiri, cerdas dan juga cantik.
Bertemu kembali dengan Uzumaki Naruto, cinta pertamanya. Melepas rindu, merasakan kembali kehangatan dan sentuhan seperti yang dulu.
Ditambah dengan kedatang sang ibu dan juga kakak. Sangat senang melihat mereka tidak melupakannya. Sangat, sangat senang saat mereka memelukknya.
Ah! Jangan lupa dengan service sang kakak, dia tidak akan pernah dilupakan itu.
Berkumpul seperti keluarga besar, mengambil beberapa foto terakhir bersama anak, ibu dan juga kakak dengan Naruto sebagai juru fotonya.
Awalnya Sasuke mengira bahwa kisah hidupnya akan berakhir tragis atau sad ending. Tapi kehadiran orang-orang yang dirindukannya itu, membuat akhir kisah Sasuke berbeda. Akhir kisah hidupnya benar-benar happy ending, bukan?
The End
Epilogue
"Kau tidak ingin ikut bersama paman?", tanya Naruto yang sudah mengemasi barang-barangnya, bersiap untuk pergi.
"Hn!", angguk Sarada dengan mantap.
Setelah Sasuke meninggal, Mikoto ingin membawa Sarada tinggal bersama di Konoha. Tapi Sarada menolak dengan halus. Dia ingin tetap tinggal di Amegakure, bersama walinya -Hatake Kakashi. Meskipun sekarang dia tinggal di rumah Kakashi, dia tidak pernah lupa untuk mampir ke rumah mungilnya. Di rumah itu, banyak tersimpan kenangan dirinya, Sasuke dan juga Sakura. Seperti lirik lagu, terlalu indah untuk dilupakan.
"Aku pasti akan merindukan anak bawel sepertimu",
"Aku tidak bawel paman!", cibir Sarada.
Seandainya Sarada meminta Naruto untuk tetap tinggal, Naruto akan melakukannya. Sayangnya, Sarada tidak mau. Dia tidak ingin orang lain menganggap Naruto adalah papa baru. Papanya hanya Uchiha Sasuke, tidak ada yang lain.
Naruto memeluk Sarada sebelum berpisah.
"Baik-baik di sana ya paman!", pesan Sarada yang terdengar seperti pesan orang tua kepada anaknya.
Naruto mengacak-acak rambut Sarada.
"Aku pasti akan merindukan masakanmu",
"Paman bisa datang kapan saja",
"Hn! See you!",
"See you, paman!",
Udah segitu aja endingnya :v
Sorry kalo kurang memuaskan.
Silakan review ya #cium_atu_atu
