Chapter 3
CHANBAEK STORY
'OVERPROTECTIVE
Main Cast :
Byun Baekhyun | Park Chanyeol | Do Kyungsoo | Oh Sehun
Genre :
Romance | Drama | Hurt/Comfort
Warning! YAOI!BOYSXBOYS!BOYSLOVE!TYPO(S)!Bahasa aneh!
.
.
Overprotective!
.
.
Enjoy the story
.
.
Lelaki mungil itu mendesah berat sambil menatap bayangannya dari kaca besar dilemari sepupunya. Saat ini, ia sudah memakai baju seragamnya lengkap yang tadi pagi Sehun –teman sekamarnya– mengantarkan seragamnya dan tas sekolahnya kekamar sepupunya.
Sedikit ia merasa menyesal telah berjanji pada laki-laki putih itu untuk turun sekolah hari ini, ia merasa belum siap untuk sekolah hari ini. Ia belum siap untuk bertemu dengan pemuda tinggi yang menjadi alasan utamanya untuk membolos sekolah.
"Hyung, kajja kita sekolah." Ia menatap Jungkook dari cermin. Laki-laki itu juga sudah siap dengan seragamnya, ia menggigit bibirnya ragu lalu mengangguk pelan. Jungkook tersenyum.
Ia berbalik dan melangkahkan kakinya dengan berat untuk pergi kegedung sekolahnya yang tak terlalu jauh, sampai-sampai ia menyadari sesuatu yang kurang.
"Mana si alien itu?" Tanya Baekhyun sambil mengedarkan pandangan.
Lelaki itu terkekeh dan menatap Baekhyun ramah. "Dia duluan tadi, katanya ia ingin mengerjakan tugas yang lupa ia kerjakan semalam." Jawab Jungkook santai, seolah-olah sudah terbiasa dengan tingkah laku kekasihnya itu.
Baekhyun mendesah dan memijit pelipisnya, sepupunya itu benar-benar memalukan.
"Ah iya hyung. Boleh aku bertanya?"
Baekhyun menoleh, "Kau ingin bertanya apa?"
Jungkook menggigit bibirnya dan menatap Baekhyun ragu. Ia ingin tau apa yang sebenarnya terjadi tentang masalah Baekhyun dan Sehun tapi ia takut pertanyaannya akan membuat pemuda disampingnya tersinggung atau mungkin semakin sedih. Iapun berdeham lalu menampilkan senyumannya, ia menggeleng pelan.
"Tak apa, hyung."
Baekhyun memutar bola matanya malas dan mendesah, ia sangat benci dibuat penasaran seperti itu. Jika saja laki-laki disampingnya adalah Sehun ataupun Taehyung ia tak akan segan-segan untuk memukul kepala salah satu dari mereka.
Setelah itu, hening. Baik Jungkook maupun Baekhyun tak ada yang berminat untuk membuka pembicaraan, mereka bergelut dalam fikiran mereka masing-masing.
Tak terasa mereka sudah berhenti didepan tangga sekolah mereka, Baekhyun dan Jungkook menghentikan langkahnya didepan sekolah. Mereka berdua berbeda dua angkatan, Baekhyun kelas 3 dan Jungkook kelas 1, kelas tiga berada dilantai tiga sedangkan kelas satu berada dilantai satu.
"Ng, baiklah aku duluan, Kook." Pamit Baekhyun sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia merasa canggung dengan Jungkook karena diperjalanan tadi mereka tak ada mengobrol sama sekali.
Jungkook tersenyum lalu mengangguk, Jungkook memang orang yang pendiam dan tak dapat memulai sebuah percakapan terkadang ia hanya menggangguk atau menjawab singkat ucapan lawan bicaranya. Berbeda jika ia bersama Taehyung, ia akan berubah 180o, ia akan banyak bicara dan bermanja-manja pada Taehyung.
Setelah Baekhyun memastikan Jungkook masuk kekelasnya, Baekhyunpun menaiki anak tangga.
Ia mengepalkan tangannya menatap kelas 12 A, untuk menuju kelasnya 12 B ia harus melewati kelas 12 A. Lagi-lagi ia cukup menyesal atas keputusannya untuk kembali sekolah, hatinya belum siap untuk menatap Chanyeol dan juga Kyungsoo sahabatnya.
Ia menarik nafas dan mengepalkan tangannya kuat,
Setelah ia merasa nyalinya sudah cukup kuat ia melangkahkan kakinya pelan dan dalam hati berdoa agar Chanyeol tak ada. Ia merasakan seperti berjalan disebuah uji nyali yang harus mempertaruhkan nyawannya. Jika ia melihat laki-laki tinggi itu, mungkin saja dinding pertahanannya yang sudah ia bangun dari tadi malam akan runtuh.
Namun sayang, sepertinya Dewi Fortuna tak berpihak pada Baekhyun. Tepat didepan pintu kelas 12 A ia berpas-pasan dengan Chanyeol yang hendak keluar kelas.
Jantungnya mencelos saat melihat tangan Chanyeol yang merangkul mesra pundak Kyungsoo, ia menunduk tak memperdulikan mata Chanyeol dan Kyungsoo yang membulat kaget menatapnya.
"B, baek…" Panggil Chanyeol tak percaya, ia buru-buru melepas rangkulannya pada Kyungsoo dan menatap Baekhyun yang masih menunduk.
Mendengar nada bicara Chanyeol yang kaget, ia tersenyum miris. Sepertinya Chanyeol berharap jika ia tak pernah muncul dihadapannya lagi.
Disisi lain, Chanyeol bernafas lega melihat Baekhyun setelah seminggu batang hidungnya tak terlihat, ingin sekali ia memeluk tubuh Baekhyun yang semakin kurus dari terakhir yang ia lihat.
Kyungsoo menatap Chanyeol dan Baekhyun bergantian dengan pandangan yang sulit diartikan, ia merasakan sesuatu didalam tubuhnya sesak. Ia tahu itu karena apa, tatapan Chanyeol yang terlihat sangat merindukan Baekhyun. Ia cemburu dengan Baekhyun, sangat.
Sejak dulu Baekhyun selalu mendapatkan apa yang Kyungsoo inginkan sedangkan dirinya seperti ada sebuah dinding yang sangat tinggi untuk ia daki untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan saat ini, ia cukup senang dapat memiliki Chanyeol walaupun tak seutuhnya, kali ini izinkan ia untuk menjadi egois.
Baekhyun menarik nafas dalam lalu mencoba untuk memaksakan senyuman termanisnya. Ia menoleh dan menatap kekasihnya dan sahabatnya,
"Hai Channie, hai Kyung." Sapa Baekhyun masih dengan senyum palsunya. Baekhyun pemain drama yang handal
Kyungsoo menatap Baekhyun datar, ia tahu Baekhyun sedang berdrama sekarang.
Senyum yang ia perlihatkan adalah senyuman palsunya, ia sangat tahu apa yang dirasakan Baekhyun sekarang dan Kyungsoo merasakan senang melihat Baekhyun yang seperti ini,
"Hai Baek." Chanyeol membalas sapaan Baekhyun dengan canggung.
Wajah Baekhyun yang terlihat pucat, tubuhnya yang semakin kurus dan senyumannya yang tetap semanis dulu. Ada rasa bersalah dalam hati Chanyeol melihat Baekhyun yang seperti ini, Chanyeol tau ini semua karena ulahnya.
Tapi rasa bersalah itu menghilang saat ia mengingat kejadian kemarin, Baekhyun yang terlihat baik-baik saja dengan Sehun di kedai ice cream tempat biasa mereka menghabiskan waktu bersama.
Ia mengenggam tangan Kyungsoo cukup kuat dan menatap Baekhyun dingin, "Kami harus pergi, Baek. Kajja Kyungie,"
Chanyeol berlalu pergi dan meninggalkan Baekhyun yang terlihat shock, senyuman yang ia tampilkan perlahan memudar dan air matanya mulai jatuh. Dinding pertahanan yang ia siapkan daritadi malam runtuh karena tatapan Chanyeol yang terlihat sangat membencinya dan panggilan yang terdengar sangat mesra.
Baekhyun berbalik dan menatap kepergian Chanyeol dan Kyungsoo, tangan Chanyeol yang memeluk mesra pinggang ramping Kyungsoo, kembali ia merasakan sesak didalam dada. Ia memegang dadanya yang terasa sakit,
"Menolehlah, kumohon." Lirih Baekhyun pelan.
"K, kumohon. Menolehlah datanglah padaku." Lirihnya lagi, air matanya semakin deras. Bukan ini yang ia inginkan.
"Kumohon menolehlah, datanglah padaku dan peluk tubuhku. Jelaskan semuanya bahwa ini semua salah faham. Katakan padaku semuanya akan baik-baik saja, kumohon Chanyeol-ah, kumohon." Batin Baekhyun.
Ia sangat berharap Chanyeol berbalik, berlari kearahnya lalu memeluk tubuhnya dengan erat. Dan Chanyeol akan berkata 'Baek kau salah faham, aku dapat menjelaskan semuanya.' seperti biasa.
Baekhyun merindukan Chanyeol yang mengusap air matanya saat Baekhyun menangis,
Baekhyun juga merindukan Chanyeol yang mengusap punggung Baekhyun untuk menenangkannya.
Tapi itu semua hanya harapan, Chanyeol tak berbalik sedikitpun sampai tubuh Chanyeol dan Kyungsoo hilang dari kerubunan.
Ia tahu benar siapa Kyungsoo dan dirinya,
Jika Kyungsoo adalah seekor angsa yang cantik, ia hanyalah itik yang buruk rupa.
Jika Kyungsoo adalah seorang putri dari sebuah kerajaan, ia hanyalah seorang rakyat biasa.
Jika Kyungsoo adalah sebuah berlian, ia hanyalah sebuah perak.
Kyungsoo adalah primadona sekolah, dan ia hanyalah siswa biasa disekolah ini. Dan seorang primadona sekolah pantas bersanding dengan seorang pangeran,
"Hey," Panggil seseorang dari belakang. Baekhyun mengusap air matanya kasar saat ia dengan suara itu, ia sangat hafal suara itu.
"Seorang putri tidak pantas menangis." Ucap laki-laki itu dan merangkul pundak Baekhyun, ia mengusap air mata Baekhyun.
Baekhyun diam dan menunduk membiarkan laki-laki itu merangkulnya dan mengusap air matanya yang terus berjatuhan.
"Aku bukanlah seorang putri dari kerajaan, Sehun. Aku hanya rakyat biasa." Baekhyun menyangkal, ia mengusap air matanya kasar dan melepas pelan rangkulan Sehun karena banyak pasang mata yang menatap mereka.
"Baiklah, baiklah. Kalau begitu tersenyumlah, kau tak pantas untuk menangis." Ucap Sehun.
Baekhyun tersenyum lemah lalu mengangguk.
"Ayo kekelas." Ajaknya dan menarik tangan Baekhyun kekelas.
-0-
"Hari ini Lee SAM tidak masuk." Teriak sang ketua kelas saat ia masuk kekelas. Sontak kelas itu tiba-tiba bersorak-sorai mendapat kabar gembira seperti itu. Bagi mereka, ini adalah kesempatan yang sangat langka seorang Lee SAM tidak masuk kekelas.
Sang ketua memijit pelipisnya dan menatap teman sekelasnya merasa bersalah, "Dengarkan aku dulu,"
Teriakan sang ketua kelas yang bernama Kim Namjoon itu tak didengarkan oleh teman sekelasnya. Ia mendesah dan kembali berteriak dengan lesu, "Tapi Lee SAM memberikan tugas halaman 120 hari ini dikumpul."
Hening,
Laki-laki bermata sipit itu berjalan lemas ketempat duduknya, dengan berat hati ia membuka bukunya dan betapa terkejutnya melihat deretan angka yang membuat kepalanya semakin pening. Hanya satu halaman dengan 10 soal namun menggunakan rumus yang sangat panjang.
Ia mengacak rambutnya frustasi dan angkat tangan untuk mengerjakan tugas itu, ia melirik kearah seluruh teman sekelasnya, ekspresi teman-temannya juga tak jauh beda dengan ekspresinya, jika seperti ini mereka lebih memilih Lee SAM masuk kekelas.
30 menit berlalu, kelas 12 A tetap hening dan tetap fokus pada tugas yang diberikan Lee SAM. Sontak bersamaan mereka semua mengalihkan pandangannya kearah laki-laki tinggi yang duduk disudut ruangan itu, berdiri.
Teman sebangkunya menoleh dan menatap lelaki tinggi itu bingung, "Kau mau kemana, Yeol?" Bisik teman sebangkunya pelan tapi masih bisa terdengar ditelinga Chanyeol.
Chanyeol tersenyum dan mengusap surai lelaki itu pelan, "Aku keluar sebentar, Kyung"
Kyungsoo mengangguk ragu,
Belum Chanyeol sampai diambang pintu, suara menghentikan pergerakannya.
"Kau mau kemana, Park?"
"Keluar." Jawab Chanyeol santai lalu mencoba untuk melangkah pergi,
"Kau tidak dengar apa yang tadi ku ucapkan? Kerjakan dulu tugas yang diberikan Lee SAM lalu kau boleh pergi, Park Chanyeol."
Chanyeol mendesah dan memutar bola matanya malas, ia berbalik dan mendekat pada sang ketua kelas.
"Pergi ketempat dudukku, ambil bukuku lalu kau buka." Chanyeol berucap seperti memerintah, tangannya menunjuk tempat duduknya lalu menatap ketua kelas. Setelah itu ia langsung pergi tanpa memperdulikan teriakan sang ketua kelas yang akan membuatnya tak jadi-jadi keluar.
-0-
Chanyeol berjalan sepanjang koridor lantai 3 yang terlihat sepi, jelas saja semua siswa berada dikelasnya karena saat ini memang masih jam pelajaran.
Tanpa sadar ia menghentikan langkanya didepan jendela kelas 12 B yang sedikit terbuka. Ia mengintip dan senyumannya mengambang saat retinanya menangkap sosok mungil sedang fokus dengan guru yang menjelaskan pelajaran Kimia didepan.
Meski lelaki mungil itu terkenal lamban menerima pelajaran akan tetapi lelaki mungil itu selalu berusaha semaksimal mungkin untuk memerhatikan apa yang guru jelaskan.
Ia teringat dulu, saat lelaki mungil itu berteriak didepan pintu kamarnya lalu memohon dengan manja untuk membantunya belajar padahal saat itu jam sudah menunjukkan pukul 10. Ia terkekeh mengingat wajah lelaki mungil itu yang seperti hampir menangis.
Chanyeol tersenyum saat melihat laki-laki mungil itu menganggukkan kepalanya lalu menusil sesuatu dibuku tulis dan beberapa saat lelaki mungil itu menggaruk kepalanya dengan pensil pertanda ia bingung,
Senyumannya memudar, saat melihat lelaki berkulit putih –teman sebangkunya– memperhatikan kerjaannya, mereka berbincang sebentar setelah itu lelaki berkulit putih itu seperti menjelaskan sesuatu dibuku lelaki mungil itu, setelah itu lelaki mungil itu tersenyum senang sambil mengangguk semangat dan kembali berkutat pada bukunya, lelaki berkulit putih itu ikut tersenyum tangannya dengan berani mengusap surai coklat lelaki mungil itu.
Chanyeol mendengus, lalu bergumam kesal "Apa-apaan itu,"
Chanyeol merasa geram, ingin sekali ia mematahkan tangan lelaki berkulit putih itu jika saja tak ada guru dikelas lelaki mungil itu.
Seseorang menepuk pundak Chanyeol dari belakang, sontak Chanyeol berbalik dan mengelus dada sambil menghela nafas lega saat tau siapa yang menepuk pundaknya. Ia takut jika saja seorang guru menepuk pundaknya dan ia berakhir di perpustakaan untuk mengerjakan hukuman –lagi-.
Lelaki bermata doe itu menatap Chanyeol dari atas sampai bawah, lalu ia memperhatikan jendela kelas yang terbuka sedikit. Beberapa detik ia menahan nafas, ia tahu apa yang dilakukan Chanyeol daritadi.
"Kau sedang apa?"
"A, aku?"
"A, aku sedang…" Bola mata Chanyeol bergerak kemana-mana dan lelaki bermata doe itu tau jika Chanyeol sedang mencari-cari alasan. Kau bukan pembohong yang handal, Yeol. Batin Kyugnsoo.
"Kajja, aku ingin kekantin. Temani aku" Belum sempat Chanyeol mengatakan 'ya' Kyungsoo langsung menarik tangan Chanyeol untuk menemaninya kekantin. Chanyeol hanya dapat menatap jendela kelas 12 B itu dengan tatapan tak rela.
-0-
Laki-laki itu sedang duduk dikursi belajarnya sambil memperhatikan sebuah bingkai foto yang menampilkan dua anak laki-laki yang sedang berpelukan tersenyum kearah kamera, ia tersenyum saat ia mengingat kenangan masa lalunya.
Drrt… Drrt…
Ponselnya yang terletak diatas meja belajar itu bergetar, ia menoleh dan melirik siapa yang menelfonnya malam-malam. Ia memutar bola matanya malas lalu meraih ponselnya.
"Halo,"
"Halo sayang! Bagaimana keadaanmu disana?" Sontak laki-laki itu menjauhkan ponselnya dari telinganya karena suara orang diseberang yang sangat memekakkan telinga.
"Begitulah, ada apa?"
"Hah, kau tak pernah berubah masih saja sedingin itu."
"Aku memang seperti itu."
"Baiklah, baiklah terserahmu saja, bagaimana? Apa dia sudah mengingat semuanya?" Orang diseberang itu bertanya to the point.
"Belum," Jawabnya singkat. Ia melirik seorang laki-laki yang sudah tertidur pulas diatas ranjang dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.
Ia mendengar desahan diseberang sana.
"Bagaimana denganmu? Apa dia masih tak mengenalimu?"
Laki-laki itu menghela nafas putus asa sambil mengambil bingkai foto yang berada dimeja belajarnya, ia mengusap foto itu dengan lembut, betapa ia sangat merindukan masa lalunya.
"Belum," jawabnya singkat. Lagi-lagi ia mendengar desahan diseberang sana.
"A, apa?"
"Tak usah sekaget itu, dia benar-benar belum mengingatku."
"Sayang, dengarkan aku."
"Hm,"
"Kau ingat bukan tahun depan adalah hari apa? Ah tidak tidak! 9 bulan lagi?"
"Ungh," laki-laki itu menoleh kearah lelaki yang sedang tertidur pula, ia menjilat bibirnya mungkin suaranya membuat laki-laki itu terganggu.
"Aku mengingatnya," Ucapnya dengan suara yang lebih dipelankan
"Baiklah, jika kau mengingatnya. Kau harus berusaha membuatnya mengingatmu."
Ia mendesah mendengar ucapan orang diseberang, dia sudah berusaha melakukannya bahkan sangat berusaha namun semua usahanya tak membuahkan hasil orang itu tak ada bayangan sama sekali tentang dirinya.
"Aku sudah berusaha, ibu. Tapi dia sama sekali tak mengingatnya." Ucap laki-laki itu lirih.
"Sayang, kau adalah orang yang sangat penting baginya. Kau pasti bisa membuatnya mengingat semuanya, demi kami semua disini."
"Baiklah ibu, aku akan mencobanya."
"Bagus, itu adalah anak ibu. Dengar pesan ibu, kau tak perlu terburu-buru untuk membuatnya mengingat semua. Cukup hanya mengingat kau saja itu sudah cukup. Secepatnya bawa dia kembali!"
"Baiklah, ibuku yang tercinta. Aku harus mematikannya, suaramu membuat semua orang terganggu."
"Y, ya! K, kau anak kurang–"
Pip.
Belum sempat ibunya melanjutkan kata-katanya lelaki itu dengan buru-buru mematikan sambungan teleponnya, dasar anak kurang ajar.
Ia tersenyum dan menatap bingkai foto itu, "Masa lalu akan terulang untuk kedua kalinya." Ujarnya mantap.
-0-
Tin Tin Tin.
Kyungsoo mengeliat tak nyaman dikasurnya saat mendengar jam weker yang sangat mengganggu –baginya hari ini–, dengan terpaksa ia membuka mata bulatnya dan dengan langkah malas berjalan kearah nakas Chanyeol mematikan jam weker yang sangat ribut.
Ia melirik kearah Chanyeol yang masih tertidur pulas dengan handuk kecil menutupi keningnya, tadi malam ia bergadang untuk menjaga Chanyeol yang tiba-tiba demam. Tangannya mengambil handuk itu dan meraba suhu Chanyeol dengan telapak tangannya ditempelkan dikeningnya.
"Masih panas," lirihnya. Ia menghela nafas, sepertinya hari ini ia tak bisa sekolah.
"K, kyungie-ya hhh…" Panggil Chanyeol pelan masih dengan mata yang terpejam.
"Ada apa, sayang?" Tanya Kyungsoo dan duduk disisi ranjang Chanyeol, tangannya mengusap rambut Chanyeol yang basah akibat keringat. Tersirat diwajah Kyungsoo jika Kyungsoo sangat menghawatirkan Chanyeol.
"Hhh, k, kau sekolah saja. Aku tidak apa-apa, sayang." Ucap Chanyeol dan perlahan membuka matanya.
Kyungsoo menghela nafas, bagaimana bisa ia bersekolah dengan keadaan Chanyeol yang seperti ini. Siapa nanti yang akan mengurus Chanyeol jika bukan dia? Siapa yang akan membuatkan bubur untuk Chanyeol jika bukan dia? Jika dia meninggalkannya sama saja ia mau Chanyeolnya semakin parah.
"Tidak, aku akan menemanimu."
"K, kyung. K, kumohon, kau harus bersekolah. Dengarkan aku, aku tidak apa-apa. Sebentar lagi kita akan ujian kau harus tetap sekolah, kumohon." Chanyeol memohon, tangannya meraih tangan Kyungsoo dan menggenggamnya.
Kyungsoo mendesah dan menatap Chanyeol, ia tak mungkin bisa meninggalkan Chanyeol seperti ini. Tapi benar juga yang dikatakan Chanyeol, sebentar lagi kita akan melakukan ujian dan jika dia dan Chanyeol tidak turun hari ini siapa yang akan memberikan mereka materi hari ini?
Dengan berat hati, Kyungsoo mengangguk. Chanyeol tersenyum lemah dan kembali memejamkan matanya.
"Saranghae, Chanyeollie." Ucapnya pelan,
"Aku tau,"
Kyungsoo tersenyum lemah lalu mengecup bibir tebal Chanyeol cukup lama.
Kapan kau benar-benar membalas perasaanku?
-0-
Pagi menjadi malam, malampun menjadi pagi, begitulah selalu. Dan tak terasa hari ini adalah hari ke tujuh Baekhyun sekolah setelah insiden membolosnya.
Ia menarik nafas lalu tersenyum, daritadi malam ia sudah memantapkan diri akan bertemu Chanyeol seperti biasa. Hampir dua minggu ia tak bersama Chanyeol membuatnya merindukan sosok laki-laki tinggi itu, ia merindukan pelukannya, ia merindukan senyumannya yang menenangkan dan juga aroma tubuh Chanyeol yang khas.
Ia tak perduli dengan keberadaan Kyungsoo yang sudah ia tahu adalah selingkuhannya Chanyeol, ia akan mencoba seperti biasa. Ya seperti biasa, Kyungsoo yang menjadi sahabatnya dengan Chanyeol bukan selingkuhan Kyungsoo. dan Chanyeol yang menjadi kekasihnya bukan kekasih Kyungsoo.
"Baekhyun-ah."
Ia menoleh dan menatap Sehun yang sedang memasang dasinya tak rapi, ia menggeleng melihat tingkah sahabatnya, iapun mendekat dan merapikan dasi sahabatnya itu.
"Ya! Pasang dasimu dengan benar, bagaimana kau menjadi seorang petinggi perusahaan jika kau tak bisa memasang dasi dengan benar? Bawahanmu akan menertawaimu, bodoh." Ledek Baekhyun.
"Aku akan selalu memakai dasi dengan rapi, Baek. Istriku yang akan memasangkan dasi untukku setiap pagi. Haha," balas Sehun sambil menatap hasil karya Baekhyun pada dasinya yang sekarang lebih rapi.
Baekhyun mendengus dan memicingkan matanya kearah Sehun, "Tak akan ada wanita yang menyangkut padamu jika sifatmu saja sedingin es batu seperti itu." Sindir Baekhyun.
"Aku tak peduli. Lagi pula, aku tak tertarik dengan mereka. ayo kita pergi, aku tak ingin terlambat dan Kim SAM menghukumku karenamu."
"Heol, tuan Oh yang terhormat. Kau yang membuat kita terlambat karena dasimu itu tidak benar." Protes Baekhyun sambil menunjuk-nunjuk dasi Sehun yang sudah rapi.
"Yasudah, ayo kita kesekolah, Byun Baekhyun."
Sehun menghentikan langkahnya didepan ambang pintu dan menoleh kebelakang, keningnya mengerut melihat Baekhyun yang masih berdiri ditempat tadi.
"Baek, kau tak ingin kita terlambat bukan?" Tanya Sehun yang mendekat dan meraih tangan Baekhyun.
"Sehun-ah, kau bisa kesekolah hari ini sendiri kan?"
-0-
Laki-laki mungil itu melangkahkan kakinya dengan cukup cepat kelantai 4 asrama sekolah mereka, sebelum menuju sekolah ia ingin mendatangi Chanyeol dan mengajaknya untuk berangkat kesekolah bersama.
Ia menghentikan langkahnya didepan kamar Chanyeol, terakhir kali ia masuk kesini saat ia hendak merayakan kesuksesan band kekasihnya dan berakhir dengan dirinya yang bergelut dikamar sambil merusak semua barang dikamarnya.
Namun, kali ini tidak. Ia bertekad apapun yang akan ia lihat, ia akan diam dan mencoba untuk tak melihat apa-apa.
Ia tak peduli jika akan ada orang yang mengatakannya manusia terbodoh didunia karena masih mempertahankan orang yang sudah menyakitimu. Tapi Baekhyun tetaplah Baekhyun, Baekhyun bodoh yang sangat mencintai Chanyeol.
Tangannya perlahan menekan kenop pintu dan… tak terkunci? Ia buru-buru masuk dan melihat ruangan kamar itu yang sepertinya sudah ditinggalkan oleh penghuninya kesekolah.
Baekhyun menghela nafas berat, padahal ia sangat ingin berangkat kesekolah dengan Chanyeol. Ia melirik jam tangannya dan benar saja 5 menit lagi kelas akan dimulai.
"Hhh, Kyungsoo k, kau kah itu?" suara itu terdengar pelan, namun Baekhyun masih dapat mendengarnya. Ia mengedarkan pandangan kesegala penjuru kamar Chansoo untuk mencari suara yang sangat ia rindukan.
Chanyeol membulatkan matanya kaget dan menatap Baekhyun dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"K, kau?!"
Baekhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia seperti pencuri yang tertangkap basah. Tapi sepertinya itu benar, dengan lancangnya ia masuk kekamar Chanyeol tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"C, Chanyeol-ah kau tidak kesekolah?"
"Lihat ini jam berapa." Ujar laki-laki itu dingin, ia melangkah dengan pelan keranjangnya dan berbaring, kepalanya masih pening dan tubuhnya masih sangat lemas tapi tak selemas sebelum datangnya Baekhyun.
"A, ah aku mengerti. S, sepertinya aku juga terlambat." Ucap Baekhyun pelan, ia menunduk takut sepertinya kedatangannya tak diinginkan oleh Chanyeol.
Hening tak ada respon dari Chanyeol, Baekhyun menjilat bibirnya dan menatap Chanyeol yang sedang memejamkan matanya tubuhnya penuh dengan keringat, ada yang tidak beres dengan Chanyeol.
Cukup lama Baekhyun berdiri disitu dan memperhatikan Chanyeol yang tak seperti biasanya, ia ragu untuk mendekat akhirnya ia lebih memilih untuk pamit.
"B, baiklah maaf a, aku mengganggumu. A, aku akan kesekolah dulu…"
"J, jangan… hh, j, jangan tinggalkan aku…" Lirih Chanyeol pelan, Baekhyun mengerutkan keningnya bingung, iapun mendekat kearah Chanyeol.
"Giant kau tidak apa-apa?" Tanya Baekhyun pelan, ia juga sangat khawatir dengan keadaan Chanyeol seperti ini. Ia menempelkan punggung tangannya pada kening Chanyeol dan panas! Suhu tubuh Chanyeol sangat panas.
"G, giant k, kau kenapa? Kau tidak apa-apa kan? Yang mana yang sakit?" Tanya Baekhyun bertubi-tubi sambil menepuk-nepuk pipi Chanyeol. Terlihat jelas raut khawatir Baekhyun. Ia takut, sangat takut Chanyeol kenapa-kenapa. Coba saja ia tak mampir kesini, entah apa yang akan terjadi dengan Chanyeol.
Chanyeol menggeleng lemah sebagai jawaban, ia terlalu lelah untuk berbicara. Matanya yang sayu-sayu menatap Baekhyun yang terlihat sangat khawatir dalam hati ia sangat senang, Baekhyunnya masih peduli dengannya.
"K, katakan padaku, hiks… y, yang mana yang sakit? Apa k, kepalamu sakit?"
"Tenanglah Baek… hh, aku tidak apa-apa."
Dengan sedikit tenaganya Chanyeol mengusap air mata Baekhyun, Baekhyunnya masih tetap kekanak-kanakan seperti dulu.
"T, tunggu disini sebentar… hiks, a, aku akan hiks membelikanmu obat penurun panas. Tunggu aku sebentar ne? hiks…" Ucap Baekhyun sambil masih menangis, ia sangat kalut. Saat ia hendak berdiri, tangannya ditahan oleh Chanyeol.
"Yeol, tunggu sebentar. Aku akan membelikanmu obat. Ish,"
"Hmh.. Tetaplah disini, kubilang."
"T, tapi…"
"Kumohon,"
"Hiks," Baekhyun menindih tubuh Chanyeol dan memeluknya erat.
"Berhenti menangis Baek,"
Baekhyun bangun dari tubuh Chanyeol, ia menatap tubuh Chanyeol ragu. Ia sangat ingin membuat panas Chanyeol menurun, ia pun mengangkat tangannya dan melepas piama Chanyeol.
"A, apa yang ingin kau lakukan Baek?!"
Baekhyun tak memperdulikan teriakan Chanyeol, setelah membuka piyama Chanyeol ia membuka seragamnya dan memeluk tubuh Chanyeol erat, sangat erat.
"Ayah selalu memelukku seperti ini jika aku sedang panas. K, kata ayah panasku akan berpindah kepada Ayah jika Ayah memelukku seperti ini." Jelas Baekhyun dengan polos.
Chanyeol menghela nafas dan mengusap rambut Baekhyun, ia terkekeh pelan melihat tingkah Baekhyun yang terkadang polos namun ia sungguh menyukainya. Ia menyukai sisi polos Baekhyun yang seperti anak kecil, ia suka sifat manis Baekhyun dan juga tingkah cengengnya Baekhyun.
Kali ini ia sangat berharap waktu berjalan sangat lambat.
-0-
Disisi lain, Sehun terus saja memperhatikan pintu kelasnya dan jam dinding secara bergantian. Ini sudah pukul 10 dan Baekhyun sama sekali belum muncul juga. Rasa cemas menghampirinya, ia cukup menyesal membiarkan Baekhyun pergi sekolah sendiri tadi. Bagaimana jika Baekhyun terkena apa-apa? Ia tak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika terjadi apa-apa dengan Baekhyun.
Tringggg…
Bunyi bel berdering, ia menghela nafas dan buru-buru mengaktifkan ponselnya. Dengan cekatak ia langsung menelfon Baekhyun tapi tidak diangkat.
Tak menyerah kembali Sehun menelfon Baekhyun namun lagi-lagi tak diangkat, ia mengerang frustasi. Kemana perginya Baekhyun?!
Saat ia mengingat satu nama yang mungkin sedang bersama Baekhyun, ia dengan cepat keluar dari kelas dan berlari menuju kelas 12 A.
Ia mengatur nafasnya sambil mengedarkan pandangan keseluruh ruangan, matanya mencari sosok laki-laki tinggi yang mungkin saja menjadi alasan kenapa Baekhyun belum sampai-sampai kesekolah. Namun nihil ia tak juga mendapatkan Chanyeol dikelas itu.
Matanya berhenti pada seorang laki-laki bermata doe, dengan tergesa ia berhambur kearah laki-laki itu.
"Mau apa kau kesini?" Tanya Kyungsoo dengan dingin, matanya menatap tak suka kearah Sehun.
"Dimana Chanyeol?!" Tanya Sehun tak santai tak memperdulikan pertanyaan Kyungsoo.
"Apa urusanmu dengannya?!" Kyungsoo membalasnya dengan lebih tak santai, ia muak menatap wajah Sehun.
"K, Kau! Beritahu aku dimana dia?! Aku ingin membunuhnya! Kau tahu Baekhyun tak sampai-sampai sekolah, Chanyeol pasti mencelakai Baekhyun!" Tuduh Sehun.
Kyungsoo mengeraskan rahangnya saat Sehun menuduh Chanyeol yang tidak-tidak. Ia tak terima Chanyeol dikatai seperti itu, atas dasar apa Chanyeol mencelakai Baekhyun disaat Chanyeol sedang terkapar dikamar mereka.
"Jaga omonganmu, Oh Sehun. Kekasihku tak akan pernah melakukan hal seperti itu!"
Sehun tersenyum meremehkan saat mendengar kata 'kekasih'
"Kekasih?! Bukankah yang menjadi 'kekasih resmi' Park Chanyeol adalah Byun Baekhyu, yah?"
Deg.
Ucapan Sehun bagai panah yang menusuk tepat jantungnya, iapun menunduk. Benar Chanyeol adalah milik Baekhyun. Ia hanyalah simpanan Chanyeol, dia tak berhak mengaku bahwa Chanyeol adalah kekasihnya.
"Katakan padaku! Dimana-Park-Chanyeol-Si-Brengsek-itu?!" Bentak Sehun sambil menekan kalimat nya.
Kyungsoo menghela nafas dan menatap nyalang kearah Sehun, "Chanyeol tak turun sekolah, kau puas?! Sekarang pergi dari kelasku." Kyungsoo berdiri dan mendorong tubuh Sehun, mengusirnya.
"Hah, laki-laki brengsek sepertinya bisa sakit juga? Kuharap dia mati." Cibir Sehun sebelum berlalu pergi.
"Brengsek."
-0-
"D, dingin…" Lirih Baekhyun, ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Chanyeol dan melanjutkan tidurnya.
Chanyeol menghela nafas dan menatap Baekhyun dingin, sebenarnya disini siapa yang sakit? Mengapa ia yang harus merawat Baekhyun yang tiba-tiba kedinginan. Dasar, Baekhyun rentan dengan suhu dingin. Laki-laki mungil itu akan terkena flu jika terlalu lama-lama berada diruangan be AC.
Dan beginilah keadaannya sekarang laki-laki sok jagoan berada tertidur pulas diranjang Chanyeol dengan tubuhnya yang memeluk erat tubuh Chanyeol. Terpaksa Chanyeol mematikan ACnya dan mengaktifkan penghangat ruangan, tak memperdulikan tubuhnya yang sudah berkeringat. Ia bukanlah orang yang sangat jahat membiarkan seseorang sakit seperti itu karena kecerobohannya yang sok-sokan menolong Chanyeol.
Cklek.
"Yeol, aku membawakanmu sesu–" seketika semua barang belanjaannya jatuh kelantai melihat Chanyeol dan Baekhyun yang bertelanjang dengan selimut yang menutupi tubuhnya, ia sangat shock. Seketika dadanya kembali terasa sakit melihat semua ini,
Chanyeol menatap Kyungsoo sama kagetnya. Seperti de javu, melihat wajah shock Kyungsoo yang melihat dirinya bersama Baekhyun bertelanjang dada seperti ini. Kini Chanyeol merasa seperti seorang laki-laki yang sangat brengsek sekarang.
"Kyung, ini tak seperti yang kau lihat."
Kyungsoo memaksakan sebuah senyuman walau air matanya sudah mendesak keluar. "T, takapa. Kau adalah kekasih Baekhyun, b, baiklah aku permisi sebentar sepertinya aku mengganggu acara kalian berdua."
Tanpa memperdulikan teriakan Chanyeol, Kyungsoo berlalu pergi. Ia menangis, berharap dengan keluarnya air matanya dapat menghilangkan rasa sakit yang selama ini ia pendam.
To Be Continoued.
.
.
4k words :v
banyak yang bingung ini mainpairnya siapa, nanti deh surprise. Hehe, yang jelas tetap baca aja ya/?
Btw terimakasih yang sudah sempat review, ngefav, dan ngefoll cerita nista ini.
dan juga maaf ff ini masih jauh dari kata sempurna jadi sangat dibutuhkan saran dan kritik dari semua readers, aku sangat menghargai apapun yang kalian ucapkan kok.
Membiasakan diri setelah membaca untuk mereview walau hanya satu kata seperti 'next' itu sudah buat aku seneng banget.
Akhir kata mind to review?review sangat dibutuhkan untuk kelanjutan ff ini TT
XOXO
BIG THANKS
Semuanya~
