CHANBAEK STORY

'OVERPROTECTIVE - Chapter 4'

Main Cast :

Byun Baekhyun | Park Chanyeol | Do Kyungsoo | Oh Sehun

Genre :

Romance | Drama | Hurt/Comfort

Warning!Boyxboy!Boyslove!Yaoi!Typo(s)!

A/n : Hello! Pertama-tama aku bener-bener mau minta maaf sebesar-besarnya karena sempet hampir setengah tahun gak lanjutin ff ini. Maaf banget udah jadi author yang phpin kalian semua. Ini semua karena masalah yang gak kelar-kelar sampe sekarang ._. dan yah… jadi begitu lah… mohon maaf banget baru bisa lanjut ff ini. Semoga kalian suka dan seneng dengan chapter 4 ini._. AMIN…

Ah ya, banyak yang ngomong Baekhyun disini poor banget dan sebagian belah pihak gak suka dengan chara Baekhyun disini. Jadi gini sebelumnya, aku mau minta maaf kalau buat character Baekhyun disini kayak gini. aku cuma minjam nama Baekhyun dan gak ada maksud untuk menghina Baekhyun melalui ff ini.

Dan jugaaaa… terimakasih yang masih setia nunggu ff ini -_- maaf authornya ngarett -_- dan maaf kalau ff ini masih jauh dari kata ya itu... -_-v lama nda dapat asupan ff /?

Ah, disarankan untuk mendengar lagu yang disarankan/?

Salam xoxo :3

.

.

.

Mata tajam pemuda berkulit putih pucat itu terus mengikuti pergerakan jarum jam dinding yang menempel tepat diatas papan tulis.

Pemuda itu adalah Oh Sehun.

Pemuda yang terkadang dikatakan vampire karena kulit putih pucatnya dan cukup terkenal dikalangan namja imut dan juga guru. Ah,… tentunya dengan yeoja-yeoja nakal yang sering mengintip.

Yeah, katakanlah kali ini Sehun tidak bisa mengikuti pelajaran dengan khitmat seperti biasanya.

Pasalnya, bangku disebelahnya masih kosong sejak jam pelajaran pertama di mulai.

Khawatir, tentu saja Sehun khawatir. Namja yang juga menjadi roomatenya itu mengatakan akan menyusulnya pergi sekolah. Namun, laki-laki itu tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya.

Ia semakin khawatir saat ia tahu bahwa kekasih 'brengsek' namja itu juga tak masuk sekolah. Ia takut, bagaimana jika namja itu sedang berada di kamar kekasihnya? Ada rasa tak terima, tentu saja.

Sehun tau, namja itu amat sangat mencintai kekasihnya walau kekasihnya telah menyakitinya berulang kali. Tapi Sehun tak habis fikir, mengapa namja itu tetap mempertahankan hubungan mereka setelah ia tahu jika kekasihnya sudah berkhianat padanya? Mengapa ia tak memutuskannya saja? Mengapa ia tak melupakannya?

Namun hanya satu kalimat yang keluar dari bibir namja itu, 'Apapun yang terjadi aku tetap mencintainya, Sehun.'

Ia menarik nafas dalam-dalam. Memikirkan betapa … dirinya. Sehun tau bagaimana rasanya menjadi namja itu…

Karena…

Dia juga mencintai seseorang... seseorang yang tak mungkin dapat ia raih kembali…

Sehun yang merasa bosan dengan menatap pergerakan jarum jam yang tak berarti mengalihkan pandangannya kearah jendela ruangan. Sepertinya moodnya untuk mendengarkan guru Kang yang sedang menjelaskan materi memburuk karena otaknya yang bercabang-cabang.

Ia tersenyum geli bagaimana usahanya dapat bisa masuk kesekolah ini dan bertemu dengan pemuda seperti teman sebangkunya dan ia sangat bersyukur saat wali kelasnya mengatakan bahwa ia sekamar dengan teman sebangkunya.

Apakah itu suatu kebetulan?

Bayangan akan masa lalunya itu buram seketika.

Ia menyipitkan matanya elangnya, mempertajam ke suatu objek di lapangan sekolah. Sosok laki-laki bermata doe–yang membuat moodnya semakin hancur tadi pagi–sedang berjalan menujju keluar area sekolah. yang membuat moodnya hancur tadi pagi.

"Aku baru tahu, burung hantu itu bisa membolos juga." Gumamnya pelan sangat pelan sampai…

PLETAK.

"Ouch!" Ia meringis keras sembari mengusap kepalanya yang terasa sakit.

Sial! Siapa yang berani-beraninya melempar penghapus papan tulis ini? Ia mendengus lalu menatap tajam. "Yach! Siapa yang lakuk–"

Ia tak melanjutkan kata-katanya, ia langsung menunduk. 'Sial!' Batinnya.

"Apa yang sedang kau lakukan dipelajaranku, Oh Sehun?!" Suara tegas dan lantang itu menginterupsi Sehun, tatapannya mengisyaratkan ketidaksukaannya dengan tingkah Sehun.

Sehun terdiam, tentu saja semua temannya ikut terdiam.

Sialan, sepertinya Sehun harus terperangkap didalam kandang singa hari ini.

-0-

Kyungsoo mempererat pegangannya pada plastik berisi makanan ringan yang tadi sempai ia beli. Ia baru ingat bahwa ia belum menyiapkan sarapan untuk Chanyeol.

Ia takut kalau-kalau pemuda itu kelaparan dan… sakinya akan bertambah parah.

Oke, mungkin ini berlebihan…

Kyungsoo memang terlalu takut kalau terjadi apa-apa dengan Chanyeol. Coba saja laki-laki itu tidak memaksanya untuk sekolah. mungkin Kyungsoo daritadi masih ada di asrama.

Sedikit merutuk diri, mengapa ia selalu tak bisa menolak permintaan pemuda tinggi itu? Ya, mungkin ia terlalu mencintai lelaki itu. Sampai ia melupakan akan ada yang terluka dengan keegoisannya…

Dan disinilah Kyungsoo bediri, didepan laki-laki yang dikenal bernama pak Ahn sedang menatapnya mengintimidasi sambil berkacak pinggang. Pak Ahn adalah petugas keamanan sekolah ini dan ia adalah petugas keamanan yang sangat… ekhm garang tentunya.

"Aku heran mengapa guru memberikan izin dengan begitu mudahnya kepada anak-anak sepertimu," gerutu laki-laki berumur sekitar setengah abad itu sambil menggelengkan kepala. Ia kembali menatap Kyungsoo mengintimidasi sedangkan Kyungsoo sebisa mungkin terlihat tenang.

"Padahal ku lihat-lihat kau terlihat baik-baik saja…" Ia menghentikan kata-katanya mencari-cari sesuatu agar dapat memarahi Kyungsoo. "…dan coba lihat, bahkan kau masih bisa kekantin dengan membeli semua makanan-makanan ringan itu, apa orang sakit boleh makan-makanan seperti itu, eoh?" Lanjutnya.

Dan demi Tuhan saat ini Kyungsoo terus menggerutu dalam hati. Meskipun begitu ia harus tetap terlihat setenang mungkin.

Rasanya ia ingin sekali mencincang laki-laki yang banyak bicara itu.

Pak Ahn akhirnya menghela nafas lalu mendekat kearah gerbang pintu sekolah untuk membukakan pintu itu kepada Kyungsoo.

"Terimakasih, Pak." Kyungsoo dengan cepat bergegas pergi sebelum pak Ahn kembali menahannya.

Setelah jauh dari gerbang, ia menggerutu tentang pak Ahn. Untung saja ia adalah salah satu siswa teladan disekolahnya sehingga tidak akan susah baginya untuk mendapatkan izin dari wali kelasnya.

Haha! Kau begitu curang menggunakan otakmu Do Kyungsoo.

-0-

Baekhyun semakin memeluk erat tubuh telanjang Chanyeol (Read : Half Naked) saat hawa dingin menusuk permukaan kulitnya.

"D, dingin…" Lirihnya pelan.

Ia dapat mendengar helaan nafas dari sang pemilik tubuh.

'Mianhae…' batinnya pelan.

Baekhyun menenggelamkan wajahnya didada bidang Chanyeol, tubuhnya bergetar. Tersirat bahwa ia takut dengan pemuda giant itu. Namun, ia juga masih ingin berada dipelukan kekasihnya.

Niat awalnya bukanlah ini.

Tak ada sama sekali terlintas dibenaknya untuk membuat Chanyeol repot merawatnya yang tiba-tiba demam.

Ia hanya terlalu kalut…

Ya, terlalu kalut sampai ia membuka seragamnya dan kaos Chanyeol setelah itu memeluk erat tubuh Chanyeol seperti apa yang dilakukan ayahnya padanya saat masih kecil. Namun ia melupakan satu hal yang penting… bahwa…

Ia rentan dengan suhu dingin…

Baekhyun dapat merasakan helaan nafas Chanyeol dan ia juga dapat merasakan tangan besar Chanyeol yang menyentuh permukaan keningnya lembut, mengusapnya pelan dan menimbulkan detakan jantung Baekhyun tak menentu.

Ia tersenyum dibalik dada bidang Chanyeol. Chanyeol masih memperdulikannya. 'Terimakasih' Tangan mungilnya semakin memeluk erat tubuh Chanyeol dan menyamankan posisi sebelum mata indahnya perlahan menutup.

'Terimakasih, Chanlie.' Dan Baekhyun masuk kealam mimpi.

-0-

(Play : Wax – Tears are falling)

Kyungsoo melangkah cepat menyusuri koridor gedung asrama yang sepi. Dengan nafas sedikit tersenggal, lelaki bermata doe itu berhenti tepat di kamar bertuliskan hangul 'Park Chanyeol' dan 'Do Kyungsoo'. Ia tersenyum menatap tulisan itu sebentar.

Kemudian, tangannya yang kosong segera terulur untuk memutar kenop pintu.

Cklek

"Yeol, aku membawakanmu sesu–"

Deg

Kyungsoo tak melanjutkan kata-katanya, lidahnya seolah-olah kelu dan matanya membulat dua kali lipat. Tubuhnya juga terasa susah digerakkan, seketika plastik yang ia pegang daritadi jatuh ke lantai.

Kyungsoo merasa sesak dibagian dadanya, hatinya bagai ditusuk ribuan belati tak kasat mata melihat Chanyeol dan Baekhyun berpelukan dengan kondisi mereka yang bertelanjang.

Ia menatap Chanyeol yang terlihat begitu terkejut. Bukankah ini wajar Kyungsoo? Mereka memiliki hubungan yang wajar, bukan seperti kau.

"Kekasih?!..."

Ucapan Sehun tadi pagi kembali menggelanyut diotaknya. Ia menunduk sambil mengepalkan tangannya…

"Bukankah yang menjadi 'kekasih resmi' Park Chanyeol adalah Byun Baekhyun, 'yah?"

Dadanya semakin sesak, perlahan air matanya kembali turun. Ia tersenyum miris, betapa menyedihkan dirinya sekaran.

Kapan Chanyeol dapat membalas cintanya? Kapan Chanyeol akan menyadari bahwa ia memiliki hati yang rapuh? Kapan Chanyeol menerimanya menjadi kekasih, bukan budak cinta ataupun tempat untuk berlabuh saat ia merasa bosan…

"Kyung, ini tak seperti yang kau lihat!"

Kyungsoo mendongak menatap wajah Chanyeol lalu memaksakan sebuah senyuman. Tersirat dimata Kyungsoo bahwa ia sangat terluka dan Chanyeol semakin membenci dirinya.

"T, taka pa… Kau adalah kekasih Baekhyun. B, baiklah… aku… permisi sebentar. Sepertinya aku mengganggu acara kalian berdua."

Tanpa memperdulikan teriakan Chanyeol. Kyungsoo berlalu pergi. Disitu ia merasa dunianya sudah runtuh. Ia menangis, menangis sejadi-jadinya berharap semua sakit hatinya meluap…

'Aku tak akan menyerah, Chanyeol…'

-0-

Sehun daritadi mengumpat tidak jelas sambil menggerakkan mengepel koridor kelas secara asal. Ia menatap kearah kanan lalu mendesah.

Sial! Ia mengacak rambutnya frustasi. Terkutuklah yang membuat gedung sekolah sebesar ini.

Mengapa semua guru disekolah ini menyeramkan? Batinnya.

Sehun mendengus lalu melirik jam dinding yang berada di koridor. Jarum jam menunjuk kearah angka 4. Sial! Ini sudah jam 4 dan dalam satu jam ia harus sudah membersihkan koridor yang bahkan belum seperempat ia bersihkan.

"Tidak akan berhasil, pasti guru itu akan menghukumku lagi–"

Dia terdiam sesaat, sepertinya dia melupakan sesuatu…

"Byun Baekhyun!"

Ia hampir melupakan namja itu, rasa cemas dan takut menghampirinya. Ia kembali melirik kekanan, menatap nanar kearah lantai yang masih belum ia pel.

Sial, ini akan menjadi malam yang menyulitkan bagi Sehun.

Ia membenturkan kepalanya kearah jendela kaca besar yang berhadapan langsung kepemandangan luar,

Hujan semakin deras mengguyur kota Seoul. "Baekkie-ya sekarang dimana kamu?" Lirihnya pelan. Helaan nafas lolos dari bibirnya, ia menatap layar ponselnya beberapa saat. Daritadi ia sudah mencoba menghubungi ponsel Baekhyun namun hasilnya sama tetap tak diangkat.

Ia mencemaskan pemuda mungil itu. Baekhyun sangat membenci hujan karena tubuh pemuda mungil itu sangat rentan dengan suhu dingin.

Sehun melirik kelapangan yang sudah basah akibat hujan, ia dapat melihat beberapa murid yang baru pulang sedang berlari dengan tas mereka yang menjadi payung dan beberapa yang lebih menunggu berteduh di gazebo.

Dan sosok lelaki yang duduk di kursi taman sekolah membiarkan tubuhnya diterpa oleh hujan menjadi sesuatu yang menarik perhatiannya.

Ia tertegun beberapa saat sambil terus menatap laki-laki yang sedang membelakanginya itu, satu alisnya naik dan keningnya berkerut.

Lelaki itu adalah Kyungsoo. Perasaannya tadi Kyungsoo sudah keluar dari sekolah tapi kenapa laki-laki itu masuk kembali? Dan orang bodoh mana yang membiarkan tubuhnya diguyur hujan yang sedang deras-derasnya?

Dan keningnya semakin berkerut saat sosok namja yang tak ia ketahui mendekat ke Kyungsoo sambil menutupi tubuh Kyungsoo dengan payung yang ia bawa.

"Siapa laki-laki itu?"

"Hyung, apa yang sedang kau lakukan?" Sebuah suara membuat Sehun tersentak. Ia memengan dadanya sambil menatap kearah si pemilik suara. "Taehyung-ah. kau mengagetkanku!"

Kim Taehyung mengerutkan keningnya lalu, melirik kearah jendela mencari-cari apa yang sedang Sehun lihat tadi.

"Apa yang kau lihat tadi hyung?"

Sehun melirik kearah Kyungsoo yang masih ada disana, "Tidak ada."

"Lalu apa yang kau lakukan disekolah?"

"Oh– a, aku…"

"Hyung sedang dihukum? Wah aku baru tahu orang sepertimu bisa dihukum juga," komentar Taehyung tanppa dosa.

Sehun menatap datar Taehyung dan perempatan imajiner telah menghiasi sudut kening Sehun. Ia mengepalkan tangannya dan memukul kepala Taehyung kuat.

"Yach! Apa yang kau lakukan hyung?! Aww… Ini sakit! Kepalaku!" Protes Taehyung sambil mengusap kepalanya yang terkena 'hadiah' dari Sehun.

"Bisakah kau tak mengajukan pertannyaan yang tak perlu dijawab, Tae? Itu membuatku muak." Jawab Sehun dingin dan kembali mengepel lantai. Ia harus bergegas, kalau tidak pasti guru Kang akan memberikan hukuman lebih berat.

Taehyung menghela nafas sambil mengusap kepalanya yang masih panas.

Taehyung telah mengenal Sehun sejak mereka masih berada dizaman ngompol dicelana dan sampai sekarang tak ada perubahan yang berarti dari Sehun.

Ia mengedarkan pandangannya kekanan dan kekiri mencari seseorang yang kurang dari Sehun. Baekhyun, ya Baekhyun. Biasanya dimana ada Sehun, sepupu cengengnya itu pasti ada. Em, dibeberapa kesempatan tidak ada sih…

"Ah, ngomong-ngomong. Dimana Baekhyun hyung?"

Deg.

Sehun menghentikan aktifitasnya. Entahlah ia merasa tidak tenang. Ia hampir benar-benar melupakan pemuda mungil itu.

"Apa?! Dia juga tidak denganmu?!"

"Tidak, biasanya dia selalu bersamamu, 'kan? Dan hey kenapa kau terlihat marah?"

Tanpa menjawab pertanyaan Taehyung, Sehun melempar alat pel yang ia pegang ke arah Taehyung, beruntung Taehyung memiliki reflex yang bagus sehingga ia dapat menangkap alat pel itu. "Yach! Apa yang kau lakukan hyung?"

Sehun berlari menjauh, perasaannya tidak enak dan ia tahu Baekhyun sekarang berada dimana.

"Yach! Yach! Hyung!"

"Lanjutkan tugasku sebelum jam 5 sore, Tae! Guru Kang akan memeriksanya. Aku mengandalkanmu, Taehyung-ah." Teriak Sehun sebelum ia menuruni anak tangga.

"Tapi–" Ia terdiam beberapa saat lalu, secara perlahan ia melirik kearah jam dinding. Seketika matanya membulat sekarang sudah pukul 4:25 dan ia melirik kearah lantai yang akan dibersihkan dan kembali melihat ke jam. Untuk beberapa saat otaknya kosong dan…

"SIAL! HYUNG!"

-0-

(Play : Suzy – I still love you)

"Nomor yang anda tuju sedang ti–"

Chanyeol menghembuskan nafas lalu mematikan sambungan teleponnya. Ia menatap layar yang memperlihatkan kontak Kyungsoo. Ia melirik kearah Baekhyun yang mulai mengeliat dipelukannya. Sepertinya Baekhyun merasa terganggu dengan tingkah Chanyeol yang daritadi banyak gerak.

Entah setan dari mana, Chanyeol dengan kasar melepaskan pelukan Baekhyun dari pinggangnya dan bangun dari ranjangnya.

Baekhyun terbangun akibat ulah Chanyeol. Ia mengucek matanya dan menatap Chanyeol yang terlihat gelisah. Terlihat dari wajah Baekhyun kalau ia masih mengantuk. Ia menguap sebentar.

"Kau kenapa, Chanlie?"

Chanyeol terdiam dan menatap tajam kearah Baekhyun.

"Berhenti memanggilku seperti itu, Byun Baekhyun."

Deg.

"M, maaf…" Baekhyun menunduk bingung. Apa sesuatu terjadi? Apa ia melakukan kesalahan sampai-sampai Chanyeol marah padanya? Padahal baru saja ia melihat Chanyeol yang begitu khawatir padanya, mengapa Chanyeol kembali berubah menjadi orang lain?

Chanyeol melempar kemeja dan jas sekolah Baekhyun tepat diwajah Baekhyun. "Pakai seragammu lalu pulanglah." Ujar Chanyeol dingin sambil memperhatikan ponselnya.

Baekhyun terdiam menatap Chanyeol antara takut dan bingung sambil memeluk pakaiannya yang dilempar Chanyeol tadi.

Ini bukan Chanyeol…

"Kalau kau sudah sehat, pulanglah. Kau tau? Kau sangat merepotkan!"

Chanyeol tak akan pernah berkata sekasar ini padanya…

Ia menatap tak percaya kearah Chanyeol. Tatapan tajam dan tidak suka dari Chanyeol, tepat menusuk jantung Baekhyun.

Chanyeol tak akan pernah memperlihatkan tatapan seperti ini…

"T, tapi…"

"Aku bilang kalau kau sudah sehat pulanglah. Byun Baekhyun."

Chanyeol tak akan pernah menghusirnya…

"T, tapi kenapa?..."

Chanyeol terlihat kalut, ia terdiam sebentar lalu ia mengatakan sesuatu yang sangat tak ingin Baekhyun dengarkan dari mulut Chanyeol. "T, tadi Kyungsoo kesini dan melihat kita, Baek. Pergilah sebelum semuanya semakin kacau."

Chanyeol tak akan pernah membela orang lain selain dirinya.

"Y, yeol… T, tapi…"

"Baek, jika aku bilang pulanglah pulanglah. Apa kau tak mengerti apa yang ku katakan?"

Baekhyun menunduk, ia menggigit bibirnya kuat. Tangannya meremas kemeja yang ada digenggamannya, hatinya begitu sakit melihat Chanyeol lebih memilih Kyungsoo daripada dirinya.

Apa kau tidak menyadarinya, Yeol? Ada seseorang yang terluka disini.

"Memang kenapa jika Kyungsoo melihat? Wajar bukan jika kita berpelukan? Bukannya kita sepasang kekasih?" Lirih Baekhyun pelan.

"Baek– Kumohon…"

"Tidak! Aku tidak mau, Yeol! Aku mau disini. Aku merindukanmu! Dan juga– kau masih sakit, 'kan? Biarkan aku merawa–"

"Baek berhenti menjadi kekanakan seperti ini! Kau tahu bagaimana perasaan Kyungsoo sekarang?!"

Entah ucapan itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Chanyeol. Ia menatap kearah mata Baekhyun yang terlihat terkejut dengan ucapannya.

'Maafkan aku malaikatku…'

Bening kristal keluar dari mata indah Baekhyun, membuat aliran sungai disana. Ia tak dapat membendungnya. "Apa kau tidak mengerti bagaimana perasaanku?! Siapa yang lebih penting? Aku atau Kyungsoo?!"

PLAK

"Jaga mulutmu, Byun Baekhyun." Ucap Chanyeol dingin dan menatap tajam kearah Baekhyun yang membeku.

Dan Chanyeol tak akan pernah menamparku seperti ini…

Baekhyun memegang pipinya yang panas. Tanpa sepatah apapun Baekhyun pergi meninggalkan pakaiannya disana dan tak memperdulikan cuaca yang sedang buruk diluar sana.

Chanyeol merosot kelantai, tak menyangka dengan perbuatan yang sudah ia lakukan terhadap Baekhyun. Ucapan Baekhyun tadi terbayang-bayang diotaknya.

"Apa kau tidak mengerti bagaimana perasaanku?!"

Maafkan aku Baek, maafkan aku…

"Siapa yang lebih penting? Aku atau Kyungsoo?!"

Ia menatap tangannya yang telah menampar Baekhyun tadi, ini kali pertama ia bersikap sangat kasar kearah Baekhyun. Dan ini pertama kalinya ia melihat Baekhyun semarah ini.

Untuk pertama kalinya Chanyeol menangis setelah kepergian seseorang yang berharga untuknya. Ia memeluk lututnya dan menangis sekencang-kencangnya. Saat ini ia sangat membutuhkan seseorang…

'Ibu, tolong aku…'

-0-

'Baekhyun!'

Sehun semakin mempercepat larinya dikoridor asrama yang selalu sepi. Diotaknya hanya ada satu nama yaitu, Baekhyun.

Ia semakin mempercepat langkahnya saat ia hampir mendekati kamar seseorang yang benar-benar ingin dia hajar.

Hingga beberapa meter dari sana, ia melihat siluet Baekhyun yang berwajah merah tanpa memakai seragamnya…

T, tunggu dulu?

Tidak memakai seragam? Sehun menggeram kesal.

"Tunggu kau Park Chanyeol!"

Ia berlari kencang mengejar Baekhyun yang mulai menjauh dari kamar Chanyeol. "Baekhyun! Tunggu aku!" Teriak Sehun. Baekhyun berbalik sebentar lalu kembali berlari sekencang mungkin. Sehun semakin marah saat melihat pipi Baekhyun yang terlihat basah.

Ia tahu siapa yang sudah membuat Baekhyun menangis seperti ini.

"Baek! Tunggu!" Teriak Sehun lagi sambil terus mengejar Baekhyun.

"Pergi Sehun! K, kumohon!" Namun bukan Sehun namanya jika ia mau menuruti kata-kata Baekhyun.

Ia menahan tangan Baekhyun dan memeluk tubuh Baekhyun erat saat ia dapat menyeimbangkan langkahnya dengan Baekhyun. Didalam pelukan Sehun, Baekhyun menangis sekencang-kencangnya mencoba mengeluarkan semua sakit yang ada didadanya.

"Pukul aku Baek, pukul aku sepuas mu. Menangislah, menangislah Baek, aku selalu ada untukmu…" Sehun mengusap punggung Baekhyun dengan sayang.

"A, apa salahku Hun… A, apa…" Baekhyun memukul dada Sehun berkali-kali, melampiaskan sakitnya kepada Sehun.

Melihat Baekhyun yang seperti ini membuatnya merasakan sakit yang sama dengan Baekhyun. Ia semakin memeluk erat tubuh Baekhyun yang terus menangis sambil memukulnya.

Karena aku tak ingin membuatmu menangis, izinkan aku… izinkan aku untuk membuatmu melupakannya, Baekhyun-ah

Meskipun aku tahu kau mungkin tak akan bisa…

.

.

Dan sepertinya Sehun kembali melupakan sesuatu…

"Sehun HYUNG! Arg! Ottokhae?! Ish!" Teriak Taehyung keras dengan suaranya yang menggema dikoridor sekolah yang sudah benar-benar sepi.

"Hyung?"

Taehyung menoleh kebelakang dan mendapati sosok malaikat yang turun dari langit.

Ini berlebihan…

"Jungkook-ie…" Panggil Taehyung manja, bibirnya melengkung kebawah dan tersirat dari mimik wajahnya jika Taehyung sedang putus asa.

Jungkook terkekeh dan menggeleng pelan melihat tingkah Taehyung yang selalu terlihat kekanakan jika berada didepannya.

"Ottokhae? Guru Kang sebentar lagi akan datang! Dan Sehun hyung– Aish! Jinjja! Orang itu membuatku- Argh kepalaku." Ia memegang kepalanya yang pening.

Sekali lagi Jungkook menggelengkan kepalanya. Tadi Taehyung menelponnya dan mengatakan darurat. Tentu saja Jungkook sangat khawatir dan bergegas ketempat yang dikatakan Jungkook dan ternyata…

Yah seperti itu…

"Hyung, aku akan membantumu. Ayo kita kerjakan sama-sama, ne?"

Taenyung mempoutkan bibirnya, wajahnya tampannya terlihat kusut dan putus asa.

Jungkook terkekeh lalu mencium pipi Taehyung. "Semangat, sayang."

Dan seketika Taehyung tersenyum dan terlihat bersemangat. Jungkook mendesah pelan, memang Taehyung ada maunya -_-

Tbc–

.

.

Hai?

Halo?

Annyeong?

Hello?

Dll,

Untuk pertama-tama, aku mau minta maaf sebesar-besarnya dan sangat besar besar besar. aku tau udah berapa lama aku gak lanjutin ff ini dan aku benar-benar minta maaf untuk itu. Ini bukan keinginanku… kumohon untuk mengerti… untuk kedepannya aku berjanji akan mengepost ff ini secepat mungkin.

Tugas terlalu menumpuk omg T^T tolong maafkan aku… bahkan aku hampir tak sempat memegang laptop untuk beberapa bulan karena tugas menulis yang omg sangat ahh… gak bisa dideskripsikan dengan kata-kata./?

Untuk beberapa…

Aku ingin meminta maaf lagi, karena hanya mengepost dengan 3k words mungkin gak sepadan dengan berapa lamanya aku yang hiatus dan mungkin menghilang ._. tapi bener ._. aku juga sempat gak ada imajinasi dan bingung untuk merangkai kata-kata saat itu ;n; maafkan aku… dan aku juga maaf kalau aku masih ga bisa nulis dengan baik di chapter ini, aku akan berusaha semaksimal mungkin dichapter kedepannya…

maafkan aku sekali lagi/? Dan terakhir maaf part Sehun dan Baekhyun sedikit ya memaksa gitu /? ._.

Dan terakhir dari yang terakhir, apa kalian tahu hari ini apa? Sumpah entah kenapa sedih miris dan ahh gimana gitu hari ini ;n; exoluxion gak bisa nonton ;n; apa ada yang nonton? nitip salam untuk Sehun ya /? Haqhaq :vvv

Dan terakhir…

Terimakasih sudah tetap menunggu ff ini ._.v maaf authornya sempat ngaret ._.vvvvv dan makasih juga yang sudah memfaf/foll/review ff ini.

dan juga maaf ff ini masih jauh dari kata sempurna jadi sangat dibutuhkan saran dan kritik dari semua readers, aku sangat menghargai apapun yang kalian ucapkan kok.

Danke, Gomawo, Arigato gozaimasu, xiexie (?), Thank you, Terimakasih.

XOXO~

BIGTHANKS

Semuanya~ 3