This story is inspired from:

How to Train Your Dragon by Bonnie Arnold

Akatsuki no Yona by Mizuho Kusanagi

However this story is made by me, if there is any similarities with another story, that's just a coincidence.

Happy reading~


I Hate Half-Dragon

Omega spesial katanya? Yang benar saja.

Aku berjalan menuju kelasku saat aku tidak sengaja bertemu dengan Jin hyung.

"Hyung!" panggilku sambil melambaikan tanganku dengan ceria.

Jin hyung menoleh ke arahku sambil tersenyum manis lalu melambai balik dan berlari kecil ke arahku, tapi belum sampai dia berada dekat denganku langkah kakinya tiba-tiba terhenti. Dia menatapku dengan tatapan tidak percaya. Apa yang terjadi? Aku menengok ke belakangku dan tidak ada apapun yang aneh.

"Ada apa hyu—" ucapku terhenti karena ketika aku mendekati Jin hyung aku mencium aroma mawar. "Hyung kau—"

"Kau omega?" tanyaku dan Jin hyung bersamaan.

"A-apa maksudmu aku omega? Dan kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau omega?" tanyaku dengan nada yang sedikit ditinggikan.

"Baumu, bau omega. Kuat sekali. Bahkan dari jauh aku sudah dapat menciumnya. Aku… maafkan aku. Aku memang omega. Aku tidak memberitahumu karena aku tidak ingin menjadi omega. Kukira kau manusia biasa jadi aku berpura-pura menjadi manusia biasa supaya bisa bersamamu karena yang kutahu kau tidak menyukai manusia setengah naga. Begitu pun aku." Jawabnya panjang lebar.

"Ta-tapi kenapa?" tanyaku tidak percaya.

"Aku… aku ditinggalkan alfaku. Dia menghilang tiba-tiba entah kemana setelah kami membentuk ikatan. Karena itu aku benci manusia setengah naga. Dan melihatmu yang juga membenci mereka, ditambah wajah manismu, aku menjadi tertarik padamu dan aku pun berpura-pura menjadi manusia biasa." Jelasnya.

"Ti-tidak mungkin."

"Inilah kenyataannya Kookie. Sepertinya kita sampai di sini saja." Ujarnya lagi.

"Apa? Tidak mau!"

"Tapi kita sesama omega, Kookie."

"Aku—aku bukan omega!"

"Kau tidak bisa menyembunyikannya Kookie."

"Kenapa?! Kau saja bisa menyembunyikannya! Kita sembunyikan saja semuanya dan berpura-pura bahwa kita manusia biasa."

"Itu tidak mungkin. Sudah kukatakan baumu kuat sekali. Aku bisa menyembunyikannya karena aku hanya omega biasa bahkan bauku sangat tipis. Lagipula sesama omega bersama itu terlarang."

"Tapi aku mencintaimu hyung! Aku mencintaimu… hiks… eottokhae?" isakku.

Jin hyung pun mendekatiku dan membawaku ke pelukannya. Dalam posisi seperti ini aku semakin dapat mencium aroma mawar yang menguar dari tubuhnya. Wangi, tapi tidak membuatku merasa nyaman seperti ketika dengan Taehyung. Sisi omegaku ingin mendorongnya menjauh tapi sisi manusiaku lebih kuat dan aku menyerah dalam pelukannya. Namun tak lama kemudian Jin hyung melepaskanku.

"Jangan menangis Kookie. Hyung juga mencintaimu." Ucapnya sambil menyeka air mataku dengan tangannya. "Tapi kita tidak ditakdirkan bersama."

"Hyung, tidak bisakah kita—" rengekku.

"Tidak bisa, Kookie. Maafkan hyung." Ucapnya sambil mengelus rambutku dengan sayang.

"Jadi kita sampai di sini saja?" tanyaku yang dijawab dengan anggukan. "Hah, padahal baru saja kita pacaran sudah harus putus dengan alasan menyedihkan ini."

Jin hyung hanya tersenyum dan menggandengku masuk ke gedung sekolah. "Ayo masuk, jam istirahat sudah mau berbunyi."

Aku hanya mengangguk dan membiarkan tanganku digenggam olehnya untuk yang terakhir kalinya.

~.~

Menjadi omega sungguh bukan hal yang menyenangkan. Apalagi jika kau omega special atau apalah itu. Sepanjang jalan pulang aku merasa orang-orang, tepatnya alfa, memandangiku dengan tatapan ingin menerkamku. Aku berusaha mengacuhkannya saat tiba-tiba aku merasa diikuti. Aku berjalan lebih cepat dan orang yang mengikutiku, alfa, berjalan lebih cepat juga. Saat aku tiba-tiba berhenti dan menengok, alfa itu sudah berada tepat di belakangku dengan tangan yang hamper menyentuh pantatku. Kesal, aku pun memegang pergelangan tangan alfa mesum itu dan membantingnya.

"Jangan pernah berpikir untuk menyentuhku dengan tangan menjijikkanmu, alfa mesum." Ucapku sambil menendang bahu orang itu.

Baru aku berjalan beberapa langkah tiba-tiba aku mencium bau mint, bau mint menenangkan yang sangat kukenal, bau Kim Taehyung. Aku mengedarkan pandanganku dan menemukan Taehyung yang berjongkok di atas pohon dengan cengiran menyebalkannya itu.

"Hai~" panggilnya. "Senang sekali kau dapat mengenali bauku."

"Tch. Percaya diri sekali. Memangnya aku bilang begitu?" tanyaku ketus.

"Tidak, tapi tadi ketika aku melompat ke pohon ini kau langsung mengedarkan pandanganmu, berarti kau mencium bauku."

"Bukan berarti aku mengetahui itu kau 'kan? Siapa tahu itu alfa lain lagi yang mau menyentuhku seperti alfa mesum di sana itu." Ujarku sambil menunjuk alfa yang masih tak sadarkan diri itu dengan daguku.

"Ya paling tidak kau menyadari kehadiranku." Ujarnya sambil melompat turun dari atas pohon dan berjalan ke arahku. "Lagipula sepertinya kau tahu kalau itu bauku. Hanya saja kau tidak mau bilang~"

"Hah dasar alfa. Sangat percaya diri, sombong, dan memuakkan." Gerutuku.

"Oh iya omong-omong kau hebat sekali bisa melumpuhkannya. Aku baru saja mau menolongmu." Ujarnya mengabaikan ejekanku.

"Maaf saja ya, meskipun aku omega, aku tidak selemah itu."

"Berarti kau mengakui ya kalau kau omega? Bahkan kau mengakui kau omega spesial, karena kau bilang kau tidak selemah itu. Tidak semua omega bisa membanting alfa dengan satu tangan." Ujarnya membuatku tidak bisa berkata-kata lagi. Sial.

Karena tidak bisa menjawab perkataanya, aku pun berjalan meninggalkannya.

"Tenang saja, aku tidak akan memaksamu untuk membuat ikatan denganku." Ujarnya sambil berjalan mengikutiku.

"Kau memaksa pun tidak akan bisa." Jawabku sinis.

"Heum? Percaya diri sekali~"

"Tentu saja, alfa tadi saja bisa kubanting, apalagi kau yang kurus krempeng seperti itu." Jawabku sadis.

"Ish, ish, ish. Mulutmu itu kasar sekali untuk seorang omega. Sepertinya kau harus diberi sedikit pelajaran." Ujarnya sambil menarikku dan memojokkanku di pohon dengan sangat cepat sehingga aku tidak sempat melawan. Ia menggenggam kedua tanganku di atas kepalaku dengan satu tangan dan tangan satunya ia letakkan di sebelah pipiku.

"Ka-kau mau apa?" tanyaku gemetaran. Sial. Kenapa aku gemetar begini?

"Memberimu sedikit pelajaran." Jawabnya sambil mendekatkan wajahnya padaku.

Aku ingin meronta tapi tidak bisa, aroma mintnya seakan mengukungku, membuatku lemas tidak berdaya. Berbeda dengan aroma mawar milik Jin hyung dan aroma apel alfa mesum tadi. Sial, jadi ini alfa superior. Aku benar-benar tidak bisa melawan. Aku justru memejamkan mataku seolah menunggunya untuk menciumku, bahkan aku sedikit memiringkan kepalaku, untuk memperlihatkan leherku, sebuah gerakan penyerahan diri seorang omega.

"Kenapa? Tidak bisa mendorongku?" bisiknya di telingaku yang makin membuat kakiku terasa seperti jeli. Mungkin jika dia tidak memegangi kedua tanganku di atas kepalaku aku sudah terjatuh, tidak mampu menopang berat badanku sendiri.

"K-kau—sialan. Lepaskan aku."

"Hm? Lepaskan? Tapi badanmu sudah menyerahkan diri seutuhnya padaku." Ujarnya sambil menjilat leherku.

"Lepaskan kubilang." Geramku. Sekilas aku melihatnya menyeringai sebelum ia melepaskan tanganku dan mundur teratur.

"Aku membencimu." Ujarku menatapnya nyalang. "Puas kau membuatku seperti ini? Puas kau membuatku putus dengan Jin hyung? PUAS KAU, HAH?!"

"Putus dengan siapa?"

"Jin! Jin hyung! Karena kau membuatku menjadi seorang omega, aku tidak bisa bersama Jin hyung, kekasihku yang ternyata juga seorang omega!"

"Aku tidak membuatmu menjadi seorang omega. Sejak awal kau memang seorang omega, hanya saja belum memasuki masa pendewasa—"

"Apa bedanya?! Sama saja 'kan? Gara-gara kau semua kehidupanku yang normal hilang! Kau—kau bajingan! Aku tidak akan mau denganmu meski kau alfa superior atau apalah itu. Lebih baik aku bersama Hoseok hyung!"

"Hoseok hyung? Siapa lagi itu?" tanyanya dengan nada polos, seolah amukanku hanya angin lalu.

"Kau tidak perlu tahu, karena aku tidak mau melihat wajahmu lagi." Ujarku meninggalkannya.

"Katakan padaku siapa dia." Ujarnya setelah ia berhasil mengejarku. Ia mencengkram tanganku dan menatapku dengan matanya yang sudah berubah menjadi merah.

"Dia adalah alfa yang pernah kusukai sebelum aku tahu dia seorang alfa." Jawabku dengan datar tanpa bisa mengalihkan pandanganku dari matanya yang memerah, seperti terhipnotis.

"Hoseok ya? Baiklah." Ujarnya melepaskan tanganku. Aku segera menjauh darinya ketika aku sudah bisa mengendalikan diriku.

"Apa yang mau kau lakukan padanya? Jangan menyakitinya atau aku tidak akan pernah memaafkanmu." Ancamku.

"Memangnya apa yang bisa kau lakukan jika kau tidak memaafkanku? Kau tahu sebenarnya aku bisa saja memaksamu melakukan ikatan denganku sekarang juga, tapi sisi manusiaku—"

"Jika kau memang masih memiliki sisi manusia, maka hentikan semua ini! Kau merubahku menjadi omega sejati, kau membuatku putus dengan Jin hyung yang sangat kucintai, kau menciumku dengan paksa, kau hamper menandaiku dengan paksa, lalu kau memaksaku berbicara dengan matamu yang mengerikan itu. Lalu kau mau apakan lagi Hoseok hyung? Kau mau apakan lagi aku, huh? Pergilah. Aku tidak mau melihatmu lagi." Ucapku berjalan meninggalkannya sebelum ia melihat air mataku.

~.~

Keesokan harinya hal yang sama terulang lagi, alfa-alfa itu menatapku dengan tatapan lapar. Aku memutar bola mataku malas ketika aku melihat Taehyung sialan itu keluar dari apartemen di sebelah rumahku. Dari sekian banyaknya alfa yang ada, kenapa harus dia yang tinggal di apartemen di sebelah rumahku? Ia menengok ke arahku dan berhenti, menungguku lewat di depan apartemennya. Ingin sekali aku menghindarinya tapi tidak mungkin aku berjalan memutar, aku bisa terlambat. Aku berjalan melewatinya berpura-pura tidak melihatnya. Setelah aku melewatinya, ia berlari kecil, menyamakan langkahnya denganku lalu berjalan dalam diam. Tumben.

Tidak mau ambil pusing, aku pun tetap berjalan ke sekolah. Anehnya, tiba-tiba aku merasa tenang, aku merasa tidak ada lagi alfa yang melihatku dengan tatapan lapar itu. Aku mengedarkan pandanganku dan tepat ketika aku melihat ke arah mereka, mereka langsung ketakutan. Aku menoleh ke samping dan mendapati Taehyung yang tersenyum manis padaku, tapi sungguh, tepat sebelum aku menoleh ke arahnya, aku sempat melihat matanya berubah menjadi merah dari sudut mataku.

"Bukankah sudah kukatakan? Aku tidak menyukai alfa, dan kau masih saja menggunakan kekuatanmu itu di sekitarku? Kau benar-benar ingin kubenci ya?" tanyaku sambil tetap berjalan.

"Aku? Aku tidak melakukan apapun." Jawabnya dengan wajah sok polos.

"Tidak usah sok polos, aku sempat melihat matamu berubah menjadi merah. Kau menatap mereka dengan matamu itu dan memerintahkan mereka untuk berhenti melihat ke arahku 'kan?" tanyaku membuatnya terdiam.

"Tch, kau ini benar-benar—"

"Maafkan aku." Ucapnya memotong perkataanku. "Maafkan aku, aku benar-benar tidak bisa menahan diriku. Aku memikirkan ucapanmu kemarin seharian dan aku memutuskan untuk tidak menggunakan kekuatanku tapi aku tidak bisa menahan diriku. Karena sisi manusiaku maupun sisi alfaku tidak senang ketika kau ditatap mereka seperti itu."

Sial, kenapa aku merasa wajahku memerah mendengar perkataannya?

"Kau boleh memukulku, menyayatku, atau apapun tapi bisa kah kau memenuhi satu permintaanku?" tanyanya. Aku hanya diam tidak menjawab dan tetap berjalan.

"Aku ingin kau membiarkanku berada di sampingmu, karena... karena aku ingin melindungimu." Lanjutnya yang membuatku berhenti melangkah.

Tidak bisa menahan rona merah yang menjalar di pipiku, aku pun berkata, "Terserah kau saja." Sambil melanjutkan langkahku.

Sejenak kemudian aku merasakan kehangatan menyelimutiku, Kim Taehyung memelukku.

"Terima kasih." Ucapnya sambil menyerukkan kepalanya di perpotongan bahuku. "Terima kasih banyak."


TBC/END?


A/N: Haloo, Hyejin balik! Maafkan Hyejin karena update yang lama, Hyejin disibukkan tugas kuliah dan Hyejin habis sakit. Oh iya, maafkan Hyejin juga karena tidak bertanggung jawab. Hyejin tidak ada bayangan kelanjutan cerita ini jadi bisa saja ini tamat tapi bisa juga ada lanjutannya. Tergantung ide hehe… Ok, Hyejin mau balas review dulu ya~

Balasan review:

Yeka: Sudah dilanjut~ maaf nggak bisa cepat. Thx ya reviewnya.

Cookies: udah lanjut. Thx reviewnya.

dila kim: Makasih. Tapi maaf kalau tidak sesuai ekspektasi, jujur sebenarnya ide ini cuman dadakan gegara nonton dua film di atas dan Hyejin nggak ada bayangan kelanjutannya bagaimana. Mian. Dan maaf juga karena nggak bisa uodate cepet. Btw, kamsahamnida buat reviewnya~

Untuk yang pakai akun, review kubalas lewat PM ya~

Last but not least, review please~ *minjem mata merah Taehyung*