'Aku ingin kau membiarkanku berada di sampingmu, karena... karena aku ingin melindungimu.'

Melindungiku? Yang benar saja. Aku bukan perempuan yang perlu dilindungi dan sebenarnya aku bisa melindungi diriku sendiri dari alfa-alfa itu.

'Karena sisi manusiaku maupun sisi alfaku tidak senang ketika kau ditatap mereka seperti itu.'

Argh! Kenapa kalimatnya terus terngiang di pikiranku?

Aku menempelkan dahiku ke meja kelas lalu menolehkan kepalaku ke kanan dan mendapati Kim Taehyung menyebalkan itu sedang fokus dengan bukunya.

Tunggu… kenapa aku memperhatikannya?

Merasa seseorang memperhatikannya, ia pun menoleh ke arahku dan tersenyum. Secara refleks aku menegakkan badanku dan berkata, "Aku tidak memperhatikanmu, jangan kepedean."

Tanpa menyadari bahwa kelas sedang hening dan di depanku ada sang seonsaengnim killer yang sedang mengoceh tentang sin, cos, tan, dan teman-temannya.

"Jeon Jungkook!"

Mati aku.

.

.

.

Presenting

I Hate Half-Dragon

.

"Hahaha, kau tadi lucu sekali bung." Komentar Jimin saat kami berada di loker untuk berganti baju olahraga.

"Brisik kau." Ujarku kesal sambil melepas kemejaku. Aku 100% lupa bahwa sekarang aku adalah omega, jadilah aku seperti miss universe, semua mata tertuju padaku.

"Cepat pakai bajumu." Ujar Kim Taehyung sambil menutupi wajahku dengan kaos olahragaku yang dia ambil dari lokerku. Ia menatapku tidak senang.

"Kenapa sih—oh… baiklah." Kataku setelah menyadari berpasang-pasang mata menatapku dengan menyebalkan.

"Aku ke lapangan dulu." Ujarnya meninggalkanku yang sudah berpakaian olahraga lengkap.

Setelah dia keluar dari ruangan ruangan yang tadinya mencekam terasa sedikit lebih rileks.

"Jadi… dia alfamu?" Tanya Jimin.

"Bukan." Jawabku singkat.

"Tapi sepertinya dia tertarik padamu." Komentar Jimin.

"Tentu saja, siapa yang tidak tertarik padaku yang seorang omega spesial? Bahkan sebelum aku menjadi omega spesial tidak ada yang bisa menolak pesona seorang Jeon Jungkook." Ujarku sambil berjalan keluar dan menyeringai angkuh yang membuat Jimin memutar bola matanya jengah.

"Asal kau tahu saja, aku tidak tertarik padamu." Ujarnya sambil berjalan mengikutiku.

"Dan aku juga tidak berharap kau menyukaiku." Balasku dengan menjulurkan lidahku.

"Sialan."

~.~

"Hari ini kita akan melakukan permainan bola basket, seperti biasa kelas akan dibagi menjadi dua; omega dan alfa, lalu akan dibagi lagi kelompok untuk bertanding." Ujar Choi seonsaengnim.

Sekali lagi, aku lupa akan posisiku yang seorang omega, jadi aku berkumpul bersama para alfa, beta, dan manusia.

"Jeon Jungkook, kenapa kau berada di sini?" Tanya Choi seonsaengnim. "Kau seharusnya bersama para omega."

"Tapi saem…" Aku menengok ke kumpulan omega yang mayoritas berisi perempuan dan segelintir lelaki pasif yang membosankan. "Aku pemain terbaik di kelas ini." Protesku.

"Iya, tapi sekarang kau adalah omega. Ini demi kebaikanmu sendiri." Jawabnya.

"Memangnya kenapa? Apa baiknya untukku berada di sana? Permainan di sana tidak menantang. Jika memang demi kebaikanku seharusnya seonsaengnim mengijinkanku—"

"Justru itu, Jungkook. Dengan tidak terpacunya adrenalinmu, keringat dan hormonmu tidak akan keluar sehingga tidak ada alfa yang akan menyerangmu." Jelas Choi seonsaengnim.

"Tapi itu membosankan. Selain itu, itu sama saja seonsaengnim membunuh potensi yang dimiliki murid saengnim."

"Iya, saem mengerti. Seonsaengnim turut menyesal tapi begitulah peraturannya. Kecuali jika kau sudah memiliki pasangan."

Baru aku mau membuka mulutku untuk menyanggah perkataan Choi seonsaengnim, Taehyung merentangkan tangan kirinya di depanku, menyuruhku mundur lalu berjalan ke arah Choi seonsaengnim.

Tch. Apa-apaan. Dasar sok-sokan. Dia mau membelaku? Apa yang mau dia lakukan? Menatap seonsaengnim dengan mata alfa superiornya itu? Tch. Menyedihkan. Apa tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan selain menatap orang dengan—

"Aku mohon saem, ijinkan Jungkook ikut bertanding." Ujarnya sambil membungkukkan badannya 90 derajat.

Apa yang dia lakukan? Bukankah dia bisa dengan mudahnya meminta seonsaengnim melakukan apapun yang ia mau dengan mata superiornya itu? Lagipula seorang alfa superior memohon sesuatu sampai membungkuk 90 derjat seperti itu 'kan…

"Tapi—"

"Saya janji saya akan melindunginya dari alfa lain. Saya mohon." Ujarnya lagi masih membungkuk.

Sial. Kenapa aku jadi merasa tidak tega begini?

Taehyung mengambil posisi ingin berlutut. Apa dia gila? Berlutut hanya untuk ini? Cukup. Ini sudah keterlaluan.

"Tae—" aku hendak mencegahnya tapi aku dapat menangkap senyumnya yang mengatakan aku tidak apa-apa. Tidak apa-apa tapi badanmu bergetar begitu? Tentu saja sisi alfamu memberontak.

"Ti-tidak usah berlutut." Ucap seonsaengnim mencegah Taehyung untuk berlutut. "Selama kau menepati janjimu untuk melindunginya—"

"Aku pasti akan melindunginya, saem. Aku janji." Ucap Taehyung dengan lugas. Kepalanya menghadap seonsaengnim tapi ekor matanya melirikku, seolah janji yang ia ucapkan itu ditujukan padaku.

"Baiklah kalau begitu. Ah itu juga berarti kalian akan satu kelompok. Baiklah, silakan bersiap-siap." Ujar seonsaengnim sambil berjalan mengambil bola basket.

~.~

Seusai olahraga, semua omega, yang belum punya pasangan, menggila. Mereka segera menyerbu Taehyung. Memberinya minum, handuk, dan sebagainya. Well, bagaimana tidak, seperti kata seonsaengnim tadi, saat adrenalin terpacu, keringat dan hormon yang keluar membuat bau seorang alfa atau omega menjadi lebih kuat, dan mau tidak mau diakui, bau Kim Taehyung, ah maksudku, alfa superior, sangat menggoda bagi omega manapun.

"Kau tidak mau memberi alfamu botol minum?" goda Jimin.

"Diamlah." Ujarku merebut botol minumnya lalu menegak air mineral itu sampai habis.

"Hahaha, tapi kau tahu dia keren sekali tadi. Alfa superior hampir berlutut bung!" seru Jimin.

"Darimana kau tahu kalau dia alfa superior? Kau 'kan manusia biasa, tidak dapat mencium baunya." Tanyaku heran.

"Mudah saja, rambutnya putih keperakan, matanya biru jernih dapat berubah menjadi merah ketika ia memerintahkan sesuatu, kakinya sangat kuat sampai-sampai ia bisa melompat seperti terbang, dan dia tidak bisa ditolak omega manapun termasuk Yang Mulia Jeon Jungkook." Ujarnya panjang lebar.

"Apa maksud perkataanmu itu hah? Aku sama sekali tidak menyukai—"

"Ah alfamu berjalan ke sini, sebaiknya aku segera pergi sebelum aku ditinjunya karena dekat-dekat dengan sang omega tercinta." Ujar Jimin memotong kalimatku dengan menyebalkan.

"YA! Mati saja kau!" seruku sambil melempar botol minum kosong tadi ke kepalanya… yang meleset dan justru mengenai kepala Taehyung.

"Aw." Keluhnya. "Tega sekali~ yang lain memberiku botol minum yang masih ada isinya dengan manis dan kau malah memberiku botol minum kosong dengan melemparnya." Rengeknya menyebalkan. Tch, padahal tadinya aku merasa bersalah.

"Kau mau itu ku isi dengan air lalu kulempar ke kepalamu?" tanyaku sadis.

"Yah jangan dong~ tapi nggak papa deh kalau itu dari kamu." Ujarnya menggodaku.

"Kau ini masokis ya? Tch. Baru saja aku merasa bersalah karena melemparmu dengan botol kosong itu dan kau sudah membuatku kesal lagi." Sungutku membuatnya terdiam.

"Maaf." Cicitnya.

Dan kemudian hening…

Sial, kenapa jadi hening begini? Argh, kenapa sih kalimatku nggak pernah bener?

"U-uh… terima kasih." Gumamku.

"Apa?"

"A-aku bilang terima kasih."

"Untuk?"

"Karena sudah mau meminta pada seonsaengnim untuk mengijinkanku bermain." Jelasku.

Ia tersenyum. "Tidak apa. Aku tidak ingin membuat duniamu yang kau sukai berubah karenaku lagi, jadi itu memang tanggung jawabku." Ucapnya membuatku tertegun.

"Oh iya kenapa kau tidak memerintahkannya saja? Daripada memohon seperti itu." Tanyaku.

"Tentu saja karena sisi manusiaku masih memperingatkanku bahwa dia adalah guru. Guru adalah seseorang yang harus dihormati, jadi tidak seharusnya aku memaksa seonsaengnim untuk menuruti perintahku. Terlebih lagi Choi seonsaengnim adalah guru yang baik." Jawabnya.

"Oh begitu…"

Hahaha tentu saja, Jeon Jungkook, kenapa kau bisa berpikir kalau itu karena—

"Kau juga tidak suka dengan kekuatanku itu 'kan? Jadi aku akan menjadi manusia biasa yang bisa kau sukai." Ujarnya sambil tersenyum.

~.~

"Kau mau ke mana?" tanyaku saat kami sudah mau melewati batas apartemennya.

"Menemanimu sampai ke depan rumahmu." Jawab Taehyung polos.

"Tidak perlu, rumahku hanya di sebelah apartemenmu, tidak akan ada apa-apa."

"Tapi aku sudah berjanji untuk melindungimu—" ucapnya terpotong karena aku menyentuh dadanya dengan jari telunjukku. "Apa yang kau lakukan?"

"Sudah ku reset ulang." Jawabku yang membuatnya mengernyitkan alisnya bingung. "Kau ini seperti robot, terlalu kaku dengan perjanjianmu sendiri. Jadi aku mereset programmu supaya jadi robot yang lebih fleksibel."

Ia tetap menatapku bingung.

"Ya—ya pokoknya begitulah. Tidak usah terlalu ketat dengan perjanjianmu sendiri, aku bisa jaga diriku kok. Em… ya sudah ya, daah!" seruku sambil berlari masuk rumah.

Astaga… apa yang kulakukan tadi?

~.~

'Kau juga tidak suka dengan kekuatanku itu 'kan? Jadi aku akan menjadi manusia biasa yang bisa kau sukai.'

Uhh, kenapa lagi-lagi perkataannya terngiang-ngiang di otakku?

Aku berguling-guling berusaha melupakan kalimat-kalimatnya itu saat aku mendengar ketukan di pintu.

"Jungkook sayang, turun, makan malam sudah siap." Ujar Jae-eomma.

"Iya eomma." Jawabku.

Aku pun segera berjalan ke bawah dan mendapati berbagai macam lauk pauk di meja makan.

"Eomma, siapa yang ulang tahun?" tanyaku bingung.

"Duduklah sayang." Ujar eomma.

Aku pun menurutinya. Lalu eomma memotong Samgyetang dan menaruhnya di mangkuk, lalu memberikannya padaku. Setelah itu eomma memotong untuk appa, dan untuknya sendiri.

"Makanlah." Kata eomma lagi.

"Tapi eomma—" ucapku terpotong karena eomma menatapku dengan tatapan 'makan-atau-kau-tidak-kuberi-uang-jajan'

Mengesampingkan rasa penasaranku, aku pun makan masakan eomma yang sudah pasti sangat lezat itu. Setelah selesai makan, aku ingin bertanya lagi tapi kali ini eomma sibuk membakar daging dan menaruhnya di piringku. Oke, sepertinya ini berarti aku harus menyelesaikan semua makanan ini baru bisa mendapat jawabannya. Aku pun makan dengan cepat. Eomma terlihat senang karena ia pikir aku menyukai masakannya padahal aku cuma penasaran saja.

Akhirnya semua makanan habis, aku menenggak segelas minuman ungu aneh yang rasanya menakjubkan.

"Eomma, ini—?"

"Itu wine sayang." Jawab eomma.

"Eomma mengijinkanku minum wine? Jarang sekali~ jadi seperti ini rasanya? Wah enaknya~"

"Iya, karena sekarang 'kan kau sudah dewasa." Dan… seketika wine itu menyangkut di tenggorokanku.

"Maksud eomma?" tanyaku gugup.

"Eomma memasak semua ini dan mengijinkanmu meminum wine karena sekarang uri Kookie sudah menjadi omega dewasa! Ah sudah kuduga kau memang omega spesial." Ujar eomma sambil tersenyum senang.

"Eomma tahu?"

"Tentu saja, baumu sangat kuat. Dan eomma sudah menduga kau omega spesial jadi eomma memasukkanmu ke sekolah itu."

"Bagaimana bisa eomma tahu?"

"Karena appamu separuh alfa, eomma separuh omega, dan kami bukan alfa/omega murahan. Kecil kemungkinan kau menjadi manusia biasa. Terlebih lagi eomma punya feeling."

"Begitu…"

"Hanya saja kemarin kami tidak yakin karena kami mencium bau alfa darimu, samar tapi ada." Ujar appa.

"Tapi ternyata bau alfa itu menghilang di kemudian hari yang berarti kau omega." Tambah eomma.

"Pertanyaannya adalah, kenapa ada bau alfa di tubuhmu?" Tanya appa dengan tatapan menusuk.

"Tentu saja karena dia menciumku 'kan? Bukannya memang begitu? Omega spesial hanya bisa memasuki masa pendewasaan jika dicium oleh seorang alfa?" tanyaku balik. "Tapi tenang saja, bukan berarti aku melakukan itu karena sukarela, dia yang tiba-tiba menciumku."

"Memang benar, tapi tidak mungkin baunya sampai tercium. Kalian tidak melakukan sesuatu yang lain?"

"Ck. Sudah kubilang, dia yang tiba-tiba menciumku. Karena itu aku membencinya. Dia membuatku menjadi omega dewasa seperti ini. Aku tidak mungkin melakukan sesuatu dengan orang yang kubenci." Jawabku kesal.

"Dia menciummu paksa? Siapa orangnya? Berani sekali!" Tanya appa murka.

"Ah elah appa, telat banget sih. Orang aku udah ngomong dia tiba-tiba menciumku berkali-kali, baru ngerespon sekarang."

"Ya maaf sih, habis appa 'kan kepo kalian ngapain." Jawab appa sambil nyengir.

"Namanya Kim Taehyung, murid pindahan di kelasku, tinggal di apartemen sebelah."

"Di apartemen sebelah? Kalau begitu appa akan berkunjung dan memberi salam perkenalan." Kata appa memberi penekanan pada kata 'salam perkenalan'.

"Tidak bisa, appa pasti kalah." Komentarku sekenanya.

"Kau menghina appa? Begini-begini appa sabuk hitam Taekwondo dan 3rd Dan di Hapkido."

"Tahu… Tapi dia alfa superior, appa." Jawabku datar.

"Alfa superior?!" seru appa dan eomma bersamaan.

"Iya." Jawabku tidak minat.

"Wow hebat, anak eomma mendaptkan alfa superior~! Sudah kuduga, siapa dulu dong? Anakku~" komentarnya bangga.

"Iya, kau cantik seperti eommamu." Tambah appa.

"Jangan bilang aku cantik! Aku tampan tahu!" seruku dan eomma bebarengan yang menuai tawa dari appa. Ya, kami memang benci dibilang cantik. Meski omega, kami laki-laki woy.

"Memang apa salahnya cantik? Beberapa orang senang dibilang pretty boy." Tanya appa polos.

"Ck, sudah nggak usah dibahas. Yang mau aku bahas dan tegaskan di sini adalah… Aku tidak berminat dengannya."

"Kenapa?" Tanya eomma. "Alfa superior itu hanya satu garis keturunan saja, yang berarti alfa superior seumuranmu hanya satu di dunia ini."

"Karena aku sudah bilang, aku membencinya. Dia menciumku paksa dan membuatku jadi omega dewasa begini. Eomma tahu tidak gegara ini hidupku berantakan? Tadi bahkan aku hampir tidak boleh ikut main basket bersama para alfa, beta, dan manusia. Aku diminta bermain dengan para omega. Yang benar saja." Cerocosku kesal.

"Tapi sayang, cepat atau lambat kau juga akan menjadi omega dewasa." Ujar eomma. "Justru dengan begini bagus, kau masih bisa menyesuaikan kehidupanmu dengan kehidupan omega pada umumnya."

"Tapi aku tidak suka, eomma! Lagipula kalau dia tidak menciumku paksa, aku akan tetap jadi manusia selamanya karena aku berpacaran dengan Jin hyung yang ternyata seorang omega."

"Kau berpacaran dengan omega?" Tanya eomma kaget.

"Ya mana aku tahu sih dia omega, aku kan tidak bisa mencium baunya."

"Tapi eomma 'kan sudah memberi tahu cara membedakannya."

"Dia menyembunyikannya, aku bisa apa? Ck. Sudahlah, aku tidak ingin membahas ini." Ujarku kesal lalu berjalan meninggalkan orang tuaku yang masih menatapku.

~.~

Keesokan harinya, semua berjalan seperti biasa. Eomma dan appa tidak lagi mengungkit-ungkit aku yang seorang omega spesial, Taehyung si alfa superior, maupun aku yang berpacaran dengan Jin hyung yang seorang omega. Aku jadi merasa bersalah pada orang tuaku. Baru aku mau meminta maaf karena perkataanku kemarin, seseorang menekan bel rumah. Eomma segera melesat ke pintu dan membukanya sambil masih membawa pisau. Ckck, eomma. Kebiasaan. Kalau begitu dia bisa menakuti tamu.

"Selamat siang, saya Kim Taehyung. Saya baru pindah ke apartemen sebelah jadi saya membawakan ini." Ujar Taehyung sambil memberikan semangkuk patsirutteok pada eomma.

TRANG!

Pisau yang di bawa eomma jatuh, membuat appa dan aku segera berlari ke pintu depan.

"Apa yang terjadi—" dan… appa pun menganga.

"Ck. Kau mau apa ke sini? Aku memang mengijinkanmu berada di dekatku tapi bukan berarti aku menerimamu sebagai temanku." Ujarku.

"Iya, aku hanya mau memberikan patsirutteok ini kok. Ya sudah kalau begitu sampai jumpa nanti." Ujarnya meletakkan semangkuk patsirutteok itu di meja ruang tamu dan berjalan pulang.

"Kookie, Kookie, apa dia—?"

"Iya eomma, dia alfa superior yang kuceritakan kemarin." Ujarku kembali berjalan ke dapur.

"Dia tampan sekali. Kau yakin tidak mau menerimanya? Kelihatannya dia sangat menyukaimu. Dan dia juga baik sekali memberi patsirutteok ini." Ujar eomma sambil membawa patsirutteok itu ke meja makan.

"Tidak. Aku tidak akan memaafkannya. Kalau eomma tertarik, eomma saja yang jadi omeganya." Jawabku ngasal.

"Hey! Enak saja, eomma hanya milik appa. Meski appa akui, sepertinya appa memang akan kalah dengannya. Sepertinya loh." Komentar appa nggak jelas.

"Terserahlah. Eomma, aku lapar. Apa masih lama?" tanyaku sambil duduk menunggu di meja makan.

"Sebentar lagi sayang. Makanlah patsirutteok itu dulu kalau kau lapar." Jawab eomma dari dapur.

"Lebih baik aku kelaparan daripada makan makanan pemberian Alfalien sialan itu." Gerutuku.

"Alfalien?" Tanya eomma bingung.

"Alfa alien. Dia seperti alien, kadang sangat angkuh, kadang menyebalkan, dan kadang sok polos." Ujarku sambil mencomot patsirutteok itu tanpa sadar. "Tapi kadang juga dia sangat baik, perhatian, dan romantis. Aneh 'kan?"

"Kau terdengar seperti menyukainya. Hihihi. Jadi alfalien itu panggilan sayang?" goda eomma.

"EOMMA!" seruku murka yang hanya direspon dengan tawanya yang khas itu.

~.~

"Jangan pernah ke rumahku lagi." Ujarku ketika aku berjalan dengan Taehyung ke sekolah.

"Baiklah." Jawabnya submisif.

Baiklah? Dia tidak berniat untuk menuruti semua perkataanku hanya agar aku menyukainya 'kan? Bagaimana pun juga dia seorang alfa, aku omega, seharusnya aku yang penurut. Sial, kenapa lagi-lagi aku merasa bersalah. Ini 'kan keputusannya, kenapa harus aku yang repot? Uh, dan kenapa sejak tadi dia diam saja? Aku bosan.

"Kenapa kau diam saja?" tanyaku.

"Supaya kau tidak menyadari kehadiranku. Kau 'kan tidak menyukaiku." Jawabnya polos.

"Bagaimana aku bisa tidak sadar? Bau mintmu itu menguar di sekitarku tahu."

"Maaf, kalau itu aku tidak bisa melakukan apapun. Atau nanti aku akan cari parfum yang bisa menutupi bauku." Ujarnya membuatku menepuk jidatku kesal.

"Astaga! Bukan itu maksudku! Hah~ kau ini. Apa kau benar-benar akan seperti ini?"

"Seperti ini seperti apa?" Tanya Taehyung dengan wajah bodohnya.

"Kau diam, submisif, tidak menggagguku, tidak sok-sokan, kau tidak seperti sebelumnya." Jawabku.

"Kupikir kau suka aku yang seperti ini." Jawabnya datar.

"Tidak. Aku lebih suka Kim Taehyung yang menyebalkan, brisik, sombong, lucu, dan—" Astaga aku ngomong apa. Dan hey! Berhentilah menatapku seperti itu. "Bu-bukan berarti aku menyukaimu. Ma-maksudnya—a-aku—"

BRUK!

"Maaf!" ucapku.

"Tidak apa." Jawab seseorang yang kutabrak.

Aku membuka mataku dan mendapati bahwa Hoseok hyung adalah orang yang kutabrak barusan.

"Ho-Hoseok hyung?"

"Jungkook? Kau—"

TBC~


A/N: Akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan fanfic ini. Terima kasih untuk dukungannya. Tapi soal update cepat, Hyejin nggak janji soalnya Hyejin nggak ada ide fanfic ini mau dibawa ke mana, endingnya gimana. Tapi tenang aja fanfic ini nggak bakal discontinued kok. Oh iya aku mau menegaskan, sebenarnya di sini Jungkook itu bukan tsundere. Dia benci Taehyung karena mengacaukan hidupnya, tapi sisi omeganya suka Taehyung. Terus karena Taehyung baik sama dia, dia mulai luluh. Begitu~ Hyejin juga minta maaf kalo di sini kesannya Taehyung tersiksa, tapi tenang aja, bakal happy end kok. Meski Hyejin belum tahu end-nya kayak apa sih wkwkwk. Oke, daripada banyak cingcong, Hyejin mau balas review dulu. Oh satu lagi, Hyejin tidak menjanjikan adanya NC, ini di tulis di rate M karena di chap 1 ada adekan Yunho dan Jaejoong yang grepe-grepean. Karena Hyejin belum pernah bikin NC. Daripada nggak asem lemonnya.

Balasan review:

Yeka: Oke, sudah dilanjut. Thx reviewnya~

KookieUkesejati: Iya, sudah dilanjut kok~ duh nggak janji. Soalnya Hyejin nggak pernah bikin lemon, takutnya nggak asem.

dila kim: Iya, makasih. Amiin! Hiks, maaf ya mengecewakanmu Oh tenang saja, semua emang bakal suka sama Kookie. Oke, makasih banyak ya~

Guest: Hiks… maaf… iya deh ini dilanjut.

CheesV: Makasih~ iya aku sudah berusaha menghilangkan typo, tapi entah kenapa masih aja suka typo. Bisa tolong sebutin di mana? Biar ku edit nanti. Gpp, nggak usah minta maaf, ini 'kan yang salah Hyejin. Ok, udah lanjut.

Seperti biasa, yang pakai akun reviewnya kubalas lewat PM. Terima kasih atas reviewnya, reader-ssi~ Review lagi, ne?