All in Jungkook POV

Jung Hyejin presenting

.

.

.

I Hate Half-Dragon

.

"Ju-Jungkook kau—"

"Ne, hyung. Aku ternyata seorang omega. Hehe." Ujarku disertai cengiran tak berdosa.

"Begitu… kalau begitu dia alfamu?" Tanya Hoseok hyung sambil melirik Taehyung yang berdiri tidak jauh dariku.

"Bukan!" Sahutku cepat. "Aku belum punya pasangan kok. Oh iya, hyung maafkan aku dulu sempat menolakmu hanya karena kau seorang alfa. Padahal kita sudah sangat dekat. Hyung… karena aku sekarang seorang omega… apa bisa aku—"

"Tentu saja tidak. Menurutmu aku alfa macam apa? Kau sudah menyakitiku saat itu, lalu kau dengan mudahnya memintaku untuk menerimamu?" ucap Hoseok hyung sinis lalu berjalan meninggalkanku.

Astaga, ada apa dengan Hoseok hyung? Hoseok hyung yang kutahu bukan orang yang seperti ini. Apa memang aku yang sudah keterlaluan waktu itu? Tapi… rasanya tidak mungkin Hoseok hyung sampai begini. Aku mengingat-ingat wajah Hoseok hyung ketika mengatakan kalimat kasar itu, dan aku pun menyadari bahwa saat itu mata Hoseok hyung seperti menerawang. Ah benar sekali, pantas saja. Ini pasti ulah Alfalien itu.

"Apa yang kau lakukan?" tanyaku berbalik menghadap Taehyung.

"Tidak ada." Jawabnya dengan santai.

"Kau bohong. Kau pasti menggunakan kekuatanmu itu untuk mengintimidasi Hoseok hyung 'kan?" selidikku.

"Baiklah, aku memang melakukannya. Kenapa?" tanyanya balik.

"Bukan 'kah sudah kubilang, jangan menyakiti Hoseok hyung?"

"Aku tidak menyakitinya." Sial. Dia benar juga.

"Tapi 'kan— uh…" Menyebalkan. Aku tidak bisa menemukan kalimat untuk membalas perkataannya. "Tapi 'kan itu namanya curang!"

"Curang? Aku tidak curang. Aku hanya melakukan usaha untuk mendapatkanmu sebagai omegaku." Jawabnya.

"Ya iya, usahamu itu curang, kau membuatnya takut untuk mendekatiku sehingga dia seperti itu."

"Lah dia juga curang. Dia mengenalmu lebih dulu dan kau tidak membencinya."

"Kalau itu sih salahmu."

"Iya, aku tahu itu salahku. Maka dari itu aku tidak mau membuat kesalahan lagi dengan tidak akan membiarkan alfa lain merebutmu dariku." Ujarnya sambil menatapku dengan mata birunya yang indah, ingin menunjukkan kesungguhan.

Aku tidak bisa berkata-kata, entah kenapa aku merasa pipiku memanas.

"Bo-bodoh. Memangnya kenapa sih kau itu begitu menginginkanku? Aku bukan satu-satunya omega spesial." Ucapku sambil memalingkan wajahku yang memerah.

"Memang bukan. Dan bukan itu juga yang membuatku menyukaimu." Ujarnya sambil menghadapkan wajahku kepadanya lagi. "Aku menyukaimu karena kau adalah kau."

"Gombal." Jawabku sambil menepis tangannya yang masih memegang daguku. "Kau mengutipnya dari novel romance apa huh?"

"Aku serius. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku menyukaimu."

"Payah. Aku saja tahu kalau kau menyukaiku karena aku omega spesial. Asal kau tahu saja, aku tidak bangga dengan statusku sebagai omega spesial dan aku juga membenci semua hal yang berkaitan dengan naga ini jadi jika memang itu alasanmu—"

"Aku tahu. Aku tahu kau tidak menyukainya dan memang bukan itu alasanku."

"Lalu apa? Karena aku satu-satunya omega yang tidak menyukai Yang Mulia Alfa Superior Taehyung jadi kau ingin menaklukkanku juga? Untuk membuktikan bahwa tidak ada omega yang bisa menolak pesonamu, begitu?"

"Hahaha! Sepertinya kau yang terlalu banyak baca novel romance." Ujarnya sambil tertawa. Sialan. "Tidak, bukan begitu. Bukan aku yang tidak pernah ditolak, tapi aku yang tidak bisa menolak pesona seorang Jeon Jungkook." Ujarnya sambil tersenyum.

Sekali lagi aku tidak bisa berkata apa-apa dan aku yakin wajahku sudah sangat memerah. Sial. Tidak mungkin 'kan aku jatuh cinta padanya? Aku 'kan sangat membencinya. Tapi… harus kuakui senyumnya tadi membuatnya tampak jauh lebih tampan.

~.~

Saat bel istirahat berbunyi aku segera mengambil bekalku dan melesat keluar sebelum Taehyung menyebalkan itu mengekoriku. Aku ingin mencari Hoseok hyung dan mengklarifikasi semuanya.

"Hoseok hyung!" seruku pada Hoseok hyung yang sedang menari disalah satu ruangan lantai dua di gedung sekolah lama, tempat biasa aku dan Hoseok hyung menghabiskan waktu istirahat sebelum aku menyadari dia seorang alfa.

"Oh Kookie, hai." Ujarnya sambil menengok ke belakangku.

"Tenang saja dia tidak berada di sekitarku." Ucapku. Aku tahu dia mencari keberadaan Taehyung.

"Hyung, aku bawa bekal buatan Jae eomma. Kau mau?" tawarku sambil membuka kotak bekalku.

"Wah benarkah? Terima kasih." Ujarnya sambil mencomot sepotong sosis berbentuk gurita. "Ah sudah lama sekali tidak makan masakan eommamu. Enak. Seperti biasa~"

"Tentu saja~ siapa dulu yang buat?" sombongku.

"Jaejoong ahjumma~" jawab Hoseok hyung. "Harusnya kau menyombongkannya kalau itu masakanmu. Bagaimana sih? Hahaha."

"Ish! Hyung 'kan tahu sendiri, apa yang akan terjadi jika aku memasak."

"Hahaha. Tentu saja, hyung masih sangat ingat bagaimana apartemen hyung basah semua karena alarm kebakaran yang menyemprotkan air." Ujarnya diselangi tawa.

"Su-sudahlah, tidak usah diingat-ingat! Memalukan!" seruku sambil memakan bekal buatan eomma.

"Hahaha iya, iya. Tadi 'kan kau sendiri yang membuatku mengingatnya." Jawabnya sambil kembali menari.

"Iya juga sih. Eh hyung, tidak makan lagi?" tawarku.

"Tidak. Nanti kau kelaparan. Kau kan kalau makan porsinya melebihi ibu hamil—Adaw!" pekiknya kesakitan karena aku melempar kepalanya dengan sepatuku.

"Menyebalkan." Sungutku sambil memakan bekalku sampai pipiku menggembung.

"Hahaha, maaf-maaf." Ujarnya memakaikan sepatuku dan mengelus-elus kepalaku. Hal yang biasa ia lakukan kalau aku merajuk. "Oh iya, hyung tadi membuat koreografi dance baru untuk perlombaan Street Dance besok. Mau lihat?"

"Tentu saja mau, hyung!"

"Oke, perhatikan baik-baik ya." Ujarnya sambil mengacak rambutku.

Hoseok hyung mulai menggerakkan badannya. Gerakan pertama sudah pasti wave ala Hoseok hyung, lalu popping, gerakan kesukaan Hoseok hyung, diikuti glides, kemudian...

"What the—hyung kau serius mau bergerak begitu?"

"Kenapa? Ini menyenangkan~" Tanya Hoseok hyung yang menari dengan gerakan anehnya itu.

"Hyung, kau main-main ya?" tanyaku dengan wajah datar.

"Tidak, aku sengaja menambahkan ciri khasku hahaha!" ujarnya sambil menari locking dan mengakhirinya dengan air pose.

"Ah iya, aku lupa kau memang selalu menyisipkan gerakan-gerakan ajaib di dancemu kalau kau menari sendiri. Untuk menaikkan mood 'kan?" tanyaku.

"Yup, tepat sekali. Mau kuajari?" tawarnya.

"Tidak terima kasih. Hyung, bagaimana kalau kita battle dance saja?" tantangku.

"Kau serius? Tidak takut jatuh lagi saat salto?" ledeknya.

"Maaf saja ya, aku sudah bisa sekarang." Ujarku sombong.

"Baiklah kalau begitu, ayo buktikan." Tantangnya.

Hoseok hyung pun menyetel lagu dan mulai menari. Ia melakukan gerakan provokasi yang diikuti seringai menantang, dan aku pun menyambutnya dengan senang hati. Aku mulai menggerakan tubuhku dan mengakhirinya dengan salto, seperti yang kujanjikan. Hoseok hyung mengangguk-angguk dan melakukan spin yang diakhiri hand stand, lalu melipat tangannya di dada menantangku. Tidak mau kalah, aku melakukan wave dan b-boying. Hoseok hyung tidak mau kalah, ia melakukan locking lalu maju untuk memprovokasiku dengan mendorong bahuku. Aku menyeringai dan melangkah mendekat untuk membalasnya tapi saat itu juga aku tak bisa bergerak. Aroma citrus Hoseok hyung membuat badanku tidak bergerak sesuai perintah otakku. Aku yang sebelumnya ingin mendorongnya balik berakhir melakukan wave dengan meletakkan salah satu tanganku di bahunya lalu menjilat bibirku sendiri, menggodanya. Provokasi yang kurencanakan berubah menjadi 'provokasi' yang sesungguhnya. Hoseok hyung nampak sangat terkejut, aku bisa melihatnya menelan ludahnya sendiri. Kemudian ia membelai kepalaku dengan tangan kanannya dan meletakkan tangan kirinya di pinggangku. Tanpa sadar, jarak diantara kami semakin menipis. Saat bibirku hampir menyentuh bibirnya, tiba-tiba pintu ruangan terbang hampir mengenai Hoseok hyung. Taehyung muncul dengan mata yang memerah, menatap Hoseok hyung dengan penuh intimidasi kemudian menggendongku dan melompat dari jendela lantai dua.

"Apa yang kau lakukan?!" seruku.

Taehyung tidak menggubris, warna matanya sudah kembali menjadi biru, tapi tidak ada ketenangan di dalamnya. Terlihat jelas bahwa ia sangat kesal. Aku pun memutuskan untuk membungkam mulutku dan membiarkannya menggendongku.

Taehyung menurunkanku di tempat yang sepi dan tidak ada orang. Setelah itu dia berbaring di rumput tanpa mengucapkan sepatah katapun yang membuatku sedikit takut.

"Taehyung, kenapa kau membawaku ke sini?"

Ia tidak menjawab.

"Tae, aku bertanya padamu."

Ia tetap diam.

"Apa maksudmu membawaku pergi seenak hatimu begitu lalu mendiamkanku?"

Ia tetap bergeming.

"Lebih baik aku pergi." Ujarku sambil melangkah pergi meninggalkannya.

Taehyung menggenggam pergelangan tanganku, menahanku untuk pergi tapi tetap tidak mengucapkan sepatah kata pun.

"Jika kau ingin aku di sini, maka katakan. Kenapa kau melakukan ini semua?" tanyaku. Ia melepaskan genggamannya lalu memutar bola matanya jengah.

"Apa kau bodoh? Jelas sekali aku cemburu 'kan?" tanyanya sambil kembali berbaring di rumput. "Dan aku membawamu ke tempat sepi ini karena kau dengan bodohnya melakukan aktivitas yang membuatmu berkeringat dan membuat semua alfa ingin memakanmu."

Aku pun merona mendengar jawabannya dan tak mampu berkata-kata. Eh, tunggu, semua alfa ingin memakanku? Tapi dia 'kan alfa juga, dan tempat ini sepi. Jangan-jangan… Wajahku pun semakin merona membayangkan kemungkinan yang akan terjadi.

"Tidak usah berpikir aneh-aneh. Aku sama sekali tidak berminat padamu. Kelakuanmu membuatku kehilangan nafsuku." Ujarnya dengan santai. Ck. Bagaimana bisa ia mengucapkan kalimat sevulgar itu dengan sangat santai?

"Si-siapa juga yang berpikir aneh-aneh?" ujarku kesal.

"Ya sudah kalau begitu." Ujarnya sambil berbaring memunggungiku.

Dan kemudian hening…

Aku memutuskan untuk duduk di sebelahnya dan bermain dengan rumput-rumput itu karena bosan. Aku pun memikirkan semua yang terjadi hari ini lalu mulai bertanya-tanya. Kenapa wajahku mudah sekali memerah karena perkataannya? Kenapa aku merasa nyaman saat ia menggendongku tadi? Kenapa aku merasa bersalah saat dia cemburu? Semua itu… bukannya hanya dirasakan oleh seseorang yang jatuh cinta?

TENG TONG!

Bel masuk kelas berbunyi tapi Taehyung tetap bergeming.

"Tae, sudah masuk." Ucapku.

Ia tidak menjawab (lagi).

"Tae, kau tidak mau masuk kelas?"

Ia masih diam lagi.

"Terserah kau saja ya kalau kau mau bolos, tapi aku tidak mau. Tae!" seruku mengguncangkan bahunya sampai ia pun berbalik menghadapku.

"Tidur rupanya." Gumamku. "Apa yang harus kulakukan ya? Masa' iya kutinggal di sini?"

Aku pun memutuskan untuk meninggalkannya setelah menuliskan pesan yang bertuliskan; aku kembali ke kelas. Aku melipat kertas itu dan meletakkannya di genggaman tangannya, tapi saat aku menggenggam tangannya, pergerakanku terhenti. Tangannya lecet. Tentu saja, dia kan habis menghajar pintu kayu. Biar alfa superior sekalipun dia bukan naga 100%, pasti tetap ada efek sampingnya. Ck. Dasar bodoh. Kenapa sih kau sampai seperti ini karenaku? Aku pun kehilangan niatku untuk meninggalkannya. Aku merobek pesanku dan berbaring di sebelahnya.

~.~

Aku mengerjapkan mataku dan segera terduduk ketika melihat langit yang sudah berwarna oranye.

"Astaga aku ketiduran!" seruku.

"Iya, dan untungnya kau bangun juga, kalau tidak lenganku bisa putus." Komentar Taehyung yang merenggangkan tangannya.

"Ish. Kau kan alfa superior, masa' begitu saja tidak kuat?"

"Iya tapi 'kan kau omega 'spesial'."

"Sialan! Aku tidak seberat itu ya!"

"Hahaha iya iya, maafkan aku. Ayo pulang." Ujarnya sambil menggandengku.

Aku pun hanya mengangguk dan membiarkannya menggandengku. Mungkin… Mungkin aku mulai menyukainya.

Perjalanan pulang kami habiskan dalam diam, aku bertanya-tanya apa dia masih marah padaku? Tapi tadi dia tertawa, berarti dia tidak marah 'kan?

"Tae, apa kau masih marah?" tanyaku lirih sambil menundukkan kepalaku. Ciri khas seorang omega ketika sang alfa memarahinya.

"Eum?" Aku bisa melihat Taehyung menengokku dari sudut mataku. "Tentu saja."

"Uh maafkan aku…"

"Pfft… Hahaha!"

"Apa yang lucu?" tanyaku mendongakkan kepalaku.

"Aku hanya mengerjaimu, tentu saja aku sudah tidak kesal padamu. Aku memang masih kesal karena Hoseok hampir menciummu tapi aku tidak kesal lagi padamu. Aku tidak bisa kesal padamu terlalu lama, karena aku tidak bisa melihat wajah ketakutanmu itu. Maafkan aku, membuatmu takut." Ujarnya sambil membelai pipiku.

"T-tch. Siapa yang takut? Jeon Jungkook tidak takut dengan siapapun!" ujarku menghentakkan kakiku kesal.

"Hahaha, iya tentu saja."

"Aku serius!" seruku.

"Iya, aku paham."

"Oh iya, kurasa aku sudah tidak membencimu lagi jadi, buatlah aku menyukaimu sebelum aku kembali padanya." gumamku.

"Apa?"

"Aku tidak bilang apa-apa." ujarku sambil berjalan meninggalkannya.

"Kau bilang sesuatu tadi." ucap Taehyung sambil mengejarku.

"Tidak~ aku tidak bilang apa-apa." Ujarku sambil memeletkan lidahku.

"Kau bilang sesuatu! Hey, tunggu!"

~TBC~

A/N: Maaf pendek, idenya stuck. Oh iya, maaf baru memberi tahu kalau ini All Jungkook POV. Semua ffku memang Jungkook POV jadi kupikir tidak perlu mencantumkan lagi, maafkan aku. Dan sekedar informasi, membuat fanfic dengan first person POV itu sulit jadi maafkan aku kalau membingungkan, hiks… Anyway, let's reply the review~!

Balasan review:

VKookdaily: Iya, soalnya ini pikirannya Kookie hehe. Iya, masih pasrah, sekarang udah nggak hehe. Thx reviewnya~

Yeka: Oke, udah dilanjut. Makasih reviewnya~

Syunan: Ide bagus. Mungkin di chap berikutnya baru ada. Thx reviewnya~

VKookKookV: Hyejin amin-in aja deh. Soal update, ini sudah secepat yang Hyejin bisa. Hyejin sibuk akhir-akhir ini T.T. Iya setuju, tenang aja, ini bakal happy end. Thanks reviewnya~

Nothing: Maap, Hyejin sibuk T.T Iya, tenang aja, aku juga setuju denganmu kalau Tae selamanya seme. Di chap 2 cuman dia pengen jadi yang Kookie mau aja. Sekarang ydah balik kok. Thx reviewnya~

Emma: Iya emang Tae juga yang mesum /dibakar. Oke udah dilanjut. Makasih ya reviewnya~

Melindajikook959: Belum bisa di sini nih hot-nya, mungkin suatu saat /dibalang. Udah kubalikin jadi lebih seme kok Taehyungnya. Maap ya nggak bisa fast update. Thx reviewnya btw~

BunnyKookie: Setuju! Kookie is cute! Iya, Kok tahu? Tenang aja, Tae nggak bakal mbiarin Kookie direbut karena aku suka possessive Taehyung wkwwkwk. Sudah dilanjut ya~ Thanks ya reviewnya.

Jnryks: Yup, ortunya Kookie juga yaoi. Iya, Tae sendirian, ntar latar belakangnya Tae akan terungkap di chap-chap berikutnya. Oke, dah lanjut. Thx reviewnya.

Chiminsaeng: Hehe, maap, otpku Vkook hehe. Udah lanjut. Thx reviewnya.

Dila kim: Apanya yang di respon? ._.a Baguslah kalau sesuai ekspektasi. Yup, mereka rebutan Kookie meski Hoseoknya beraninya diem-diem. Kalau kegiatannya nggak ada yang khusus masalahnya, dan aku memang tidak ada fokus ke situ untuk chapter-chapter berikutnya. Maafkan aku. Ini udah cukup fluffy belum? Belum ya? Hehe. Tenang aja kalau kisseu pasti ada. Makasih sudah mau memaklumi Hyejin yang nggak bisa bikin NC. Makasih juga buat reviewnya.

Last but not least, review ne?