Jung Hyejin presenting

.

.

.

I Hate Half-Dragon!

.

Sesampainya di rumah aku diinterogasi orang tuaku tentang bau Hoseok hyung yang masih tersisa sedikit di badanku, juga bau Taehyung. Mendengar ceritaku, orang tuaku langsung menceramahiku, bagaimana seharusnya aku berhati-hati, bagaimana bersikap seperti seorang omega, dan bla bla bla. Orang tuaku juga bilang aku harus mengundang Taehyung ke rumah untuk berterima kasih. Aku membuka ponselku untuk menelponnya tapi aku melihat sebuah pesan dari Hoseok hyung.

.

From: Hoseok hyung

Jungkookie, maafkan hyung yang hilang kendali tadi. Aku tahu kau sangat membencinya. Maukah kau memaafkanku dan datang menontonku battle dance besok jam 9 malam? Hyung akan menjemputmu.

.

Mataku berbinar seketika membaca pesannya. Ya, memang aku benci saat seorang naga hilang kontrol, tapi well, ya itu bukan salah dia saja. Itu salahku juga.

.

To: Hoseok hyung

Street Dance 'kan? Tentu saja aku mau, tapi hyung tidak usah menjemputku. Aku akan ke sana sendiri.

.

From: Hoseok hyung

Iya. Sendiri? Jam 9 malam? Itu berbahaya, kau omega, ingat?

.

To: Hoseok hyung

Oh iya aku lupa. Tapi hyung, orang tuaku sepertinya kurang menyukaimu karena kejadian tadi. Orang tuaku terobsesi menjodohkanku dengan Taehyung saat pertama kali melihat Taehyung. Hm… begini saja, aku akan keluar rumah diam-diam, hyung menungguku di samping rumah, bagaimana?

.

Setelah Hoseok hyung menjawab ok, aku senyum-senyum sendiri dan hampir melupakan niatku untuk menelpon Taehyung jika bukan karena teriakan eomma. Aku mencari kontaknya di ponselku dan nihil, aku tidak menemukannya. Oh iya, aku 'kan memang belum bertukar nomor dengannya. Ya sudah deh. Aku pun meletakkan ponselku di meja nakas, berbaring di kasur dan tertidur.

~.~

Keesokan harinya Taehyung sudah menungguku di depan rumah. Melihatku melewatinya bak angin lalu, ia pun segera berlari kecil mengekoriku.

Sepanjang perjalanan dia sibuk menatap alfa-alfa yang menatapku napsu dengan mata merahnya itu, memerintahkan mereka untuk tidak menatapku seperti itu.

"Hei, memangnya tidak lelah menggunakan mata itu? Apa tidak ada efek sampingnya?" tanyaku.

Ia menutup matanya, dan ketika matanya terbuka, ia kembali menampakkan mata birunya yang indah.

"Well, sebenarnya sangat melelahkan. Dulu saat aku pertama kali menggunakannya aku pingsan." Jawabnya santai.

"Pingsan? Lalu kenapa kau sering menggunakannya?" tanyaku.

"Sebenarnya aku tidak sering menggunakannya, aku sering menggunakannya sejak bertemu denganmu. Habisnya kau begitu menarik perhatian semua alfa, dan aku sangat tidak suka itu."

"Memangnya omega yang kau sukai sebelumnya tidak membuatmu menggunakan mata merahmu itu?" tanyaku penasaran.

"Bukankah sudah kubilang? Aku tidak pernah tertarik dengan omega manapun selain dirimu. Meskipun aku banyak dikelilingi omega—"

"Ya, ya aku tahu kau populer." Selaku.

"Ah, maaf. Bukan bermaksud sombong… atau membuatmu cemburu." Katanya dengan senyum jahil.

"Siapa yang cemburu, percaya diri sekali." Ujarku sinis sambil geleng-geleng kepala.

"Hahaha, iya iya, maaf. Well, intinya aku baru pertama kali tertarik dengan seorang omega. Mungkin bisa dibilang kau cinta pertamaku." Ujarnya sambil tersenyum.

Melihat senyumnya dan mendengar perkataanya, aku pun merona. Kemudian aku menggandeng tangannya, yang membuat bola matanya membola, dan menatapku bingung.

"Dengan begini, kau tidak perlu menggunakan mata merahmu yang melelahkan itu. Semua alfa tidak akan berani menatapku dan memperlakukanku aneh-aneh jika seorang alfa superior menggandengku. Iya 'kan?" tanyaku sambil tersenyum manis.

Taehyung pun mengangguk-angguk dengan wajah bengong seperti terhipnotis, aku dapat melihat wajahnya merona.

"Hey, ayo jalan." Ujarku ketika melihat ia masih berdiri diam dengan tampang bodohnya itu di wajahnya.

"I-iya." Sahutnya sambil tersenyum dan berjalan dengan riang.

~.~

Malam hari pun akhirnya tiba. Aku segera mengenakan pakaian tidurku, mematikan lampu, dan berbaring sebelum jam 9. Berpura-pura tidur. Benar saja, ketika eomma masuk ke kamar, ia percaya aku sudah tidur dan segera keluar dari kamar dan pergi ke kamarnya sendiri untuk tidur. Aku pun mengendap-endap untuk memastikan keadaan aman. Setelah itu, aku segera kembali ke kamar dan mengganti bajuku. Aku mengenakan kaos hitam berbahan seperti kulit, dan ripped-jeans hitam. Kemudian aku mengikatkan kemeja kotak-kotak merah di pinggangku, lalu memakai sebuah kalung rantai berwarna emas, dan tentu saja tidak lupa, aku memakai sepatu. Setelah merasa cukup, aku pun merayap turun dari jendela kamarku dan berlari ke tempat di mana Hoseok hyung menunggu.

"Hai, hyung. Maaf lama." Ujarku sambil nyengir.

"Ah tak apa." Jawab Hoseok hyung sambil tersenyum. Hoseok hyung memperhatikan penampilanku dari atas sampai bawah.

"Ada apa?" tanyaku. "Ada yang aneh dengan penampilanku?"

"Tidak, kukira kau akan memakai sesuatu yang lebih feminin."

"Maksudmu? Kaos pink? Yang benar saja. Itu sih Jin hyung yang suka. Hahaha! Ayo hyung." Ujarku sambil menarik tangannya pergi dari daerah rumahku, tanpa menyadari sepasang mata yang mengawasiku dari kejauhan.

~.~

Seperti biasa, suasana Street Dance sangatlah ramai, Hoseok hyung dan aku berjalan menuju 'pemilik tempat' ini, Kim Junhong. Melihat kedatangan kami, Junhong hyung segera turun dari 'takhta'nya dan berjalan mendekati kami.

"Wah, lihat siapa yang datang~ King of Street Dance; Jung Hoseok, dan Jeon Jungkook!" serunya membuat semua mata tertuju pada kami.

"Hai hyung." Sapaku dengan senyum.

"Jungkook! Lama tidak bertemu, kemana saja kau bung?" tanyanya sambil memberiku pelukan selamat datang. Tapi tiba-tiba dia melepas pelukannya dan matanya menyipit. "Kau—"

"Iya, hyung. Aku seorang omega." Jawabku sambil memutar bola mataku malas. "Kau orang kesekian yang menatapku seperti itu."

"Ah maaf, maaf. Hanya saja itu memang mengejutkan. Ah itu berarti Hoseok adalah…"

"Alfa rasa teman, mungkin?" Tanya Hoseok hyung sambil melirikku, aku hanya bisa nyengir.

"Hahaha! Well, baiklah, tanpa menunggu lama, Jungkook, setelah kau lama tidak kemari dan setelah menjadi omega, apa kau masih bisa melakukannya?" Tanya Junhong hyung menantangku.

"Tentu sa—"

"Tidak." Ucap Hoseok hyung memotong perkataanku. "Maksudku, Jungkook masih bisa, tapi dia tidak boleh melakukannya di sini."

"Tapi hyung—"

"Tidak ada bantahan, Jeon Jungkook." Ujarnya sambil menatapku tajam. Biasanya aku berontak, tapi sepertinya sisi omega-ku membuatku sedikit lebih submissive.

"Aw Jung Hoseok, kau pelit sekali~ Oh iya, omong-omong sudah waktunya memulai battle dance. Hoshi!" seru Junhong hyung.

Hoshi hyung pun memasang headphone dan mulai menyetel lagunya.

"Nah, Jung Hoseok, lawanmu sudah memulai, sepertinya kau juga sudah harus mulai menari." Ujar Junhong hyung. "Tenang saja, aku akan menjaga omegamu."

Hoseok hyung menyipitkan matanya tidak percaya.

"Sebaiknya kau jaga ucapanmu Junhong." Ujar Hoseok hyung sebelum maju ke pertandingan.

"Tenang saja." Ucap Junhong hyung sambil tersenyum.

Sepeninggal Hoseok hyung, Junhong hyung menyeringai. Aku melihat seringaiannya tapi aku mengabaikannya dan fokus ke dance battle yang tersaji di hadapanku. Aku ikut bersorak bersama dengan penonton yang lainnya. Ah sial. Aku ingin sekali ikut tapi tidak bisa. Terkutuklah naga-nagaan ini.

Aku membulatkan bola mataku saat aku merasa seseorang meremas pantatku. Aku menengok dan mendapati Junhong hyung menyeringai ke arahku.

"Hyung, apa yang kau lakukan?" tanyaku kesal.

"Ups maaf, tidak sengaja~" ujarnya sambil menyeringai.

Aku menyipitkan mataku tidak percaya tapi ia hanya tersenyum. Aku pun kembali mengalihkan perhatianku pada pertandingan. Tak lama berselang, aku merasa seseorang meremas pantatku lagi. Aku menoleh ke arah Junhong hyung, tapi kali ini pelakunya bukan dia. Aku menoleh ke arah yang lain, dan aku melihat Mingyu hyung menyeringai ke arahku. Segera aku memutar badanku dan aku juga melihat Junhong hyung menyeringai.

"Hyung, apa maksudmu?"

"Well, kau tahu, seharusnya seorang omega tidak pergi ke tempat seperti ini. Kecuali jika omega itu ingin mencari 'kesenangan'. Jadi, daripada kau susah-susah mencari 'kesenangan', aku akan dengan senang hati memberikannya kepadamu." Ujar Junhong hyung sambil membelai pipiku.

"Jangan bercanda!" seruku sambil menampik tangannya.

"Wow, kasar sekali. Well, tidak mengherankan, karena itulah yang membuat seorang Jeon Jungkook sangat menarik."

Kesal, aku pun melayangkan tinju-ku kepadanya yang segera ditahan oleh Mingyu hyung.

"Jeon Jungkook, arogansi dan kekeras kepalaanmu itu sebaiknya kau turunkan sedikit." Ucapnya sambil mengusap bibirku, kemudian mencekal tanganku dan menarikku ke tempat yang lebih sepi.

"Tch." Aku mendecih di mukanya lalu membantingnya. "Jangan harap kau bisa menyentuhku."

"Beraninya kau—" seru Mingyu hyung berlari menerjangku. Aku mengelak, kemudian meninju perutnya hingga ia jatuh tersungkur.

"Kalian terlalu meremehkanku." Ujarku angkuh.

Aku pun membalikkan badanku untuk kembali ke keramaian.

"Kau yang terlalu meremehkanku." Ujar Junhyong hyung sambil berdiri.

Aku kembali menghadap ke arahnya dan di belakangnya segerombolan alfa, teman-temannya, menyeringai.

"Kalian boleh melakukan apapun padanya tapi jangan sentuh wajahnya, aku tidak ingin melihat wajahnya penuh luka dan lebam saat aku menggagahinya nanti." Ujar Junhong hyung lagi.

"Like hell I would!" seruku menghajar alfa-alfa itu satu per satu saat mereka mulai menyerangku.

Satu per satu dari mereka tumbang, tentu saja, aku sabuk hitam Taekwondo seperti appa. Tapi jumlah mereka tidak ada habisnya, lama kelamaan aku mulai kelelahan. Energiku tidak sebanyak ketika aku belum menjadi omega seutuhnya. Pengelihatanku mulai mengabur tapi aku tetap berusaha melawan sebisaku. Namun tak lama kemudian aku ambruk, kelelahan.

"Sekuat apapun omega, dia tidak akan berdaya melawan seorang alfa. Jadi menurutlah sedikit Jeon Jungkook." Kata Junhong hyung sambil mengangkat daguku sebelum semua menjadi gelap.

~.~

Aku mengerjapkan mataku dan mendapati kedua kaki dan tanganku terikat di sebuah ruangan yang bernuansa biru.

"Junhong hyung! Di mana kau?!" seruku.

"Wah, wah, wah, tidak sabaran sekali. Tenang saja sayang, aku hanya sedang mengambil mainan untukmu." Ujarnya sambil berjalan masuk dengan sebuah cambuk di tangannya. Di belakangnya, Mingyu hyung mengekori.

"Lepaskan aku!" seruku.

"Well, beri aku alasan kenapa aku harus melepaskanmu." Ujarnya sambil merangkak ke atasku.

"Sialan! Pergi dari tubuhku!" seruku sambil menjedukkan kepalaku ke kepalanya.

"Ups, wrong answer baby. Ckckck. Apa aku harus memegangi kepalamu juga? Kau ini benar-benar." Ujarnya sambil mencengkram daguku. "Tenang saja, aku akan mengajarimu menjadi penurut. Pasti menyenangkan melihat Jeon Jungkook yang arogan memohon lebih."

Aku berusaha melepaskan kedua tangan dan kakiku, tapi nihil. Bukannya berhasil, tangan dan kakiku berdarah.

"Percuma saja, kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Oh atau kau memang masokis? Kalau begitu kau harus bersyukur karena aku seorang sadistic." Ujarnya lagi sambil merobek bajuku yang memang sudah compang-camping karena berkelahi tadi dan melepas kemeja yang terikat di pinggangku.

Ia menjilat nipple-ku dan memelintir yang satunya, membuatku harus menahan desahanku setengah mati.

Aku memejamkan mataku dan menyerukan nama Taehyung di kepalaku. Aku tahu aku bodoh, ini bukanlah film, di mana ketika kau berteriak memohon, seseorang akan datang untuk menyelamatkanmu. Tapi aku benar-benar putus asa, dan entah kenapa hanya namanya lah yang terlintas di pikiranku.

Puas bermain dengan nipple-ku, ia menurunkan tangannya untuk membuka resleting celanaku. Ia membuang celanaku ke sembarang arah, lalu menurunkan celana dalamku.

"Wah, lihat, little Jungkook sudah turned on." Katanya sambil menyeringai. "Mingyu, kemarilah. Kau boleh menikmati yang atas, sementara aku bermain-main dengan little Jungkook."

Mingyu hyung yang sedari tadi sudah menatapku penuh nafsu pun langsung menyerangku. Ia mengusap kedua nipple-ku dengan jarinya, kemudian mengemut satu di antaranya sementara Junhong hyung mengulum penisku. Dimanjakan oleh dua orang alfa mau tidak mau membuat desahan lolos dari mulutku.

Junhong hyung yang mendengar desahanku pun menyeringai senang. Ia menurunkan kepalanya dan menjilat lubangku, tangannya ia gunakan untuk mengocok penisku. Hal itu membuat desahanku makin kencang.

"Desahkan namaku, Jeon Jungkook. Dan aku akan memberikan kenikmatan padamu." Ujarnya sambil membuka celananya.

Aku menggigit bibirku sampai berdarah. Aku tidak mau mengeluarkan desahan menjijikkan itu lagi. Junhong hyung menggesek-gesekkan penisnya ke lubangku, dan saat dia hampir memasukkannya, pintu kamar terbuka menampakkan Taehyung dengan mata merahnya yang terbakar emosi.

Taehyung seperti kerasukan. Dia menghajar Junhong hyung dan Mingyu hyung dengan membabi buta. Setelah itu Taehyung melepaskan ikatan di kedua tangan dan kakiku, lalu kembali menghajar Junhong hyung yang sudah pingsan.

"Taehyung! Cukup! Kau bisa membunuhnya!" seruku yang sudah kembali berpakaian.

"Kenapa kau membelanya? Kau menikmatinya?! Hah?!" serunya menatapku dengan matanya yang merah menyala.

Sungguh, Taehyung sangat menakutkan saat itu sampai tanpa sadar setetes air mata meluncur dari sudut mataku. Melihat air mataku, ia pun melunak. Matanya yang memancarkan tatapan garang melembut dan kembali menjadi biru, seperti lautan yang menenangkan.

"Maafkan aku." Ujarnya sambil memelukku.

Aku hanya terdiam dalam pelukannya sampai ia melepaskan pelukannya. Ketika ia melepaskannya, aku segera menghajar perutnya.

"Kumaafkan." Ucapku sambil menjulurkan lidahku.

"Hey! Itu sakit!" seru Taehyung sambil memegangi perutnya.

"Salahmu sendiri berkata begitu. Kau membuatku nampak seperti omega murahan dan itu sangat menyakitiku."

"Kan aku sudah minta maaf." Rengeknya.

"Dan aku 'kan sudah memafkan~" jawabku santai sambil berjalan keluar ruangan. Di lorong aku melihat alfa-alfa yang menyerangku tadi bergeletakan dengan darah bercucuran.

"Iya juga sih. Hey, tunggu!" serunya mengejarku keluar ruangan.

"Kau tidak membunuh mereka 'kan?" tanyaku waswas.

"Er… sepertinya tidak?" ucap Taehyung ragu.

Aku menatapnya tajam dengan berkacak pinggang.

"A-Aku tidak tahu, aku hanya memukul atau menendang mereka sekali. Kalau mereka mati berarti mereka yang terlalu lemah. Bukan salahku." Ujar Taehyung cepat-cepat.

"Ck. Kalau mereka mati, kau bisa dipenjara bodoh! Aku tidak mau punya alfa seorang tahanan!" seruku.

Ia hanya nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Ia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya bertanya, "Eh? Kau bilang apa? Kau menerimaku sebagai alfamu?"

"Jangan percaya diri dulu. Jika aku bilang, 'aku tidak mau punya alfa seorang tahanan' bukan berarti kau kuterima, itu hanya salah satu kriteria pasangan yang kumau." Ujarku menjelaskan.

"Tidak bisa, konteksnya tadi 'kan aku memukuli mereka."

"Terserah, pokoknya menurutku begitu!"

"Ih kok gitu?" tanyanya protes.

"Salahmu, telat menyelamatkanku. Kalau kau tadi datang saat aku memintamu, mungkin kau sudah kuterima."

"Ish, memangnya ini film apa? Langsung nongol saat kau minta? Ini saja seharusnya kau beruntung aku bisa menemukanmu sebelum—"

"Jangan katakan." Ujarku memotong perkataannya. "Aku tidak ingin mengingat kejadian tadi."

"Ba-baik."

Setelah itu hening pun menyelimuti perjalanan pulang kami. Tak tahan dengan keheningan yang menyelimuti kami, aku pun membuka suara.

"Tae." Panggilku.

"Ya?"

"Bagaimana caramu menemukanku tadi?" tanyaku.

"Sejak kau keluar dari rumah diam-diam, aku mengawasimu dari jendela apartemenku. Lalu aku mengikutimu—"

"Kau mengawasiku dan mengikutiku? Kau ini stalker atau maniac, atau psikopat, atau apa?" tanyaku. Taehyung hanya menatapku tajam. "Oke, maaf. Lanjut."

"Lalu aku kehilangan jejakmu di keramaian saat pertandingan dimulai, baumu juga bercampur dengan bau yang lainnya. Itu sangat menyiksa hidungku karena aku mencium berbagai macam bau di saat yang bersamaan, jadi aku memutuskan untuk berhenti mencarimu dan menonton pertandingannya."

"Kenapa kau malah menonton pertandingan sih?" tanyaku sweatdrop.

"Ya habisnya, mau apa lagi? Lagipula 'kan ada Hoseok yang bersamamu." Jawabnya.

"Kalau memang ada Hoseok hyung membuatmu tenang karena yakin aku aman, kenapa kau mengikutiku segala?" tanyaku.

"Oh iya ya?"

"Dasar aneh." Gumamku.

"Ya pokoknya intinya begitu. Lalu saat kau minta tolong, aku merasa mendengar kau berteriak di kepalaku, jadi aku keluar dari keramaian itu dan mencari jejak baumu lagi. Dan aku pun menemukanmu~ Tamat~" jelasnya panjang lebar.

"Oh begitu…" gumamku dengan wajah datar.

Tanpa sadar, kami pun sampai di depan rumahku. Di depan rumahku, eomma, appa, dan Hoseok hyung berdiri menungguku. Ketika melihatku, eomma langsung menerjangku dan memlukku erat. Appa dan Hoseok hyung pun segera menghampiriku. Ketika Hoseok hyung mendekat, Taehyung segera memukulnya. Aku pun segera melepaskan pelukan eomma dan berlari melindungi Hoseok hyung.

"Taehyung! Apa yang kau lakukan?!"

"Dia pantas mendapatkannya! Tidak bertanggung jawab sekali. Apa yang kau pikirkan mengajak Jungkook ke tempat seperti itu lalu meninggalkannya sendirian? Huh?!" amuk Taehyung yang sudah hendak memukul Hoseok hyung lagi jika tidak kuhalangi.

"Iya, Jungkookie, ini memang salahku. Aku pantas mendapatkannya." Ujarnya sambil menunduk.

"Tapi Taehyung memukulmu keterlaluan sampai begini." Ujarku mendekati Hoseok hyung untuk memeriksa luka-lukanya.

"Aku cuma memukulnya sekali." Ujar Taehyung sambil memutar bola matanya malas.

"Luka sebanyak itu tidak mungkin dihasilkan oleh satu pukulan. Lihat, lukanya berbeda tempat." Ujar Taehyung sambil menarikku menjauh dan menyentuh luka itu satu-satu hingga Hoseok hyung merintih.

"Taehyung!" seruku sambil menarik tangannya dari Hoseok hyung.

"Tch. Di sentuh begitu saja merinti—AW!" pekik Taehyung ketika aku menyentuh bekas pukulan di tubuhnya.

"Di sentuh begitu saja memekik." Sindirku.

Ia hanya meringis.

"Benar juga, luka ini tidak mungkin karena satu pukulan saja, lalu siapa— Appa?" tanyaku pada appa sambil berkacak pinggang.

"Maaf~ Habisnya dia tahu-tahu datang malam-malam, menanyakan apa Jungkook sudah pulang pada kami, padahal yang kami tahu Jungkook sedang tidur di kamar." Ujar appa memberi penekanan pada kata tidur untuk menyindirku.

Aku cuma nyengir.

"Tentu saja membuat appa menarik kesimpulan bahwa dia membawamu pergi, tapi kemudian kau hilang dan dia tidak tahu kau hilang ke mana, jadi appa segera memukulnya." Lanjut appa.

"Ck. Appa, bagaimana kalau aku memang sudah pulang duluan?" tanyaku.

"Er… ya… em… yang penting kenyataannya nggak 'kan? Hehe…" ujar appa sambil nyengir.

Aku pun menghela nafas dan menarik Hoseok hyung masuk ke dalam rumah.

"Ayo hyung, aku akan mengobati lukamu." Ujarku.

"Ti-tidak usah, ini salahku, aku pantas mendapatkannya." Tolaknya.

"Iya, memang hyung bersalah, tapi hyung sudah mendapatkan hukumannya jadi sudah impas. Ayo."

Aku pun menarik Hoseok hyung, menyuruhnya duduk, dan mengobati lukanya. Eomma mengobati luka Taehyung, Appa menatap tajam ke arah Taehyung, dan Taehyung menatap Hoseok hyung tajam.

"Sudah selesai." Ujarku.

"Terima kasih ya." Ucap Hoseok hyung sambil tersenyum. "Aku pulang dulu ya."

Aku pun hanya mengangguk. Ketika Hoseok hyung sudah keluar rumah, Taehyung segera mendekatiku.

"Obati aku juga!" Perintahnya sambil mengerucutkan bibirnya kesal.

"Kan sudah, sama eomma." Ujarku meninggalkannya ke kamarku.

"Belum semuanya." Ujarnya mengejarku.

"Ya sudah, minta eomma selesaikan semuanya."

"Mana bisa begitu, aku 'kan sudah menyelamatkanmu."

"Oh jadi itu tidak ikhlas?" tanyaku sambil berbalik dan melipat kedua tanganku di dada.

"Bu-bukan begitu, tapi 'kan dia yang tidak melindungimu sama sekali dan membuatmu terjebak dalam situasi seperti tadi saja kau obati, masa' aku nggak?" rengeknya.

"Ck. Ya sudah, mana yang belum diobati eomma?" tanyaku.

"Ini." Ujar Taehyung sambil menunjuk sudut bibirnya.

Aku pun berjalan mendekatinya, lalu mencium sudut bibirnya yang berdarah.

"Nah sudah." Ujarku sambil tersenyum berjalan masuk ke kamar.

Taehyung hanya diam, mulutnya menganga.

"Oh ya, terima kasih ya, btw." Ujarku sambil menutup pintu.

Tak lama kemudian Taehyung menggedor-gedor pintu kamarku, meminta ku keluar.

"Pulanglah, sudah malam. Besok pagi datanglah ke rumah. Aku akan memasak untukmu." Ujarku dari dalam kamar.

"Benarkah? Yey! Hore! Baiklah, sampai jumpa besok, sayang~!" teriaknya sambil berjalan turun.

Aku hanya geleng-geleng kepala membayangkan dia yang melompat-lompat di tangga lalu terpeleset dan jatuh. Lagian, turun tangga lompat-lompat. Dan apa pula itu 'sayang'? Memangnya aku sudah resmi menerimanya? Percaya diri sekali. Juga soal makan itu… Dia senang sekali, padahal dia tidak tahu masakanku seperti apa hahaha! Er… tapi kok aku jadi grogi ya kalau ingat mau masak buat dia? Dan kenapa aku takut makananku meracuninya? Ah molla! Ini hari yang melelahkan, aku mau tidur saja.


TBC


A/N: Nah, gimana? Jelek 'kan kalo Hyejin bikin NC? Makanya, nggak usah ada NC ya? Hehe… Oh iya, Hyejin mau minta maaf karena Junhong dan Mingyu jadi tokoh jahat di sini. Hyejin juga mau minta maaf karena update lama. Ini dikarenakan modem yang habis pulsanya. Oke Hyejin mau balas review dulu.

Balasan review:

VKookdaily: Belum bersatu, tapi udah lebih deket /ciee. Iya ini ada konlfik lagi hehe… Thx reviewnya ya.

Dila kim: Oalah wkwkwk. Baguslah kalau sesuai ekspektasi. Makasih ya pujiannya~ Iya, soalnya aku sukanya dia jadi seme jadi nggak lama-lama. Yup, dan di chap ini kesempatan dia makin besar~ sayangnya nggak bisa ditambahin fluff di chap ini soalnya lagi konflik. Belum, bentar lagi paling manja-manjanya. Itu dia udah main cium kok si Kookie, gandeng-gandeng pula. Iya hehe… Makasih reviewnya~

Emma: Iya, aku suka tae yang posesif soalnya. Iya, Kookie sudah mengampuni Taehyung~ oke deh~ Sudah dilanjut, thx reviewnya~

Nothing: Iya, aku juga suka Tae yang overprotective~ iya, mulai suka sama Taehyung, soalnya Tae baik banget sih sama dia, jadi lama-lama luluh juga. Udah nih, udah ada kekerasan(?) dan penculikan Jungkook(?), makasih idenya ya, sangat membantu. Oke, tenang aja, bakal kulanjut sampe END. Meski gak ASAP hehe… Makasih reviewnya.

Anivk: Makasih ya sudah menyukai ff aneh bin geje ini. Yup, udah memaafkan nih si Kookie, udah lanjut ya, thx reviewnya~

BunnyKookie: Thx udah suka chap MINE! Iya, aku juga suka posesif Tae. Yup, mulai membuka hati buat Tae~ Agresifnya ntar dulu ya, tapi ini udah ada nggandeng-nggandeng n nyiumnya kok~ wkwkwk. Sayangnya belum bisa dikabulkan di chap ini soalnya masih konflik, tapi ntar ada kok kisseu-kisseunya. Kalo NC gak janji. Takut jelek kayak chap ini. Makasih reviewnya ya btw~

Peachblue: Makasih~ iya noh wkwkwk. Di sini malah hampir dilahap dua alfa hehe… Tenang aja, Kookie semakin suka Tae kok gegara kejadian di chap ini. Well, tidak janji NC ada ya, soalnya takut jelek. Thx reviewnya anyway~

Ok, yang lain dibalas lewat PM ya~ See you~