Jung Hyejin presents
.
.
.
I Hate Half-Dragon!
.
"AWW!" seruku ketika pisau yang seharusnya memotong bawang Bombay meleset mengiris tanganku. Tidak sampai terpotong tentu saja, tapi lukanya cukup dalam.
"Jungkookie, ada apa?" Tanya eomma sambil berlari keluar dari kamar, menghampiriku masih dengan piyama merahnya.
"Ti-tidak apa-apa kok, ma." Ujarku sambil menyembunyikan tanganku yang masih meneteskan darah di balik punggungku.
Eomma mengernyit tidak percaya. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari tahu yang terjadi, tapi sebelum eomma sempat melihat apapun aku segera mendorongnya masuk dengan tangan kananku, yang tidak berdarah.
"Sudah, eomma tidur saja lagi." Bujukku.
"Tidak, ini sudah siang. Eomma harus memasak sarapan untukmu." Ujar eomma sambil mendorongku ke samping.
"Lagipula kau ini kenapa—" ucapan eomma terpotong ketika ia akhirnya melihat kondisi dapur yang sangat berantakan. "…sih…" lanjutnya dengan mulut menganga.
Aku hanya nyengir dan menunjukkan tampang tidak berdosa.
"JEON JUNGKOOK! Bukan kah eomma sudah bilang? Kau DILARANG MENYENTUH DAPUR!" amuk eomma sambil berkacak pinggang.
"Ta-tapi eomma—"
"Tidak ada tapi-tapi! Sini tanganmu! Pasti berdarah lagi 'kan?" Tanya eomma sambil menarik tangan kiriku dengan kasar membuatku meringis karena perih. "Ck. Sudah kuduga. Tunggu sebentar eomma ambilkan—"
TING TONG!
"Gawat! Taehyung sudah datang!" seruku.
"Taehyung?" Tanya eomma bingung.
"Iya, aku—aku—akuberjanjimemasakuntuknyalalumemintanyadatanguntukmakanbersama." Ujarku cepat-cepat dengan wajah yang memerah.
"Apa? Bicara yang jelas."
"Aku—uh—jadi, sebagai ucapan terima kasih sudah menolongku kemarin, aku berjanji memasak untuknya lalu memintanya datang untuk makan bersama." Ujarku sambil mengigit bibirku, malu.
"Astaga, kenapa tidak bilang? Kalau bilang eomma bisa bangun lebih pagi dan mengajarimu dulu."
Aku hanya nyengir.
TING TONG!
Taehyung menekan bel rumah lagi, membuat appa bangun.
"Kalian ini, ada tamu kok pintunya tidak dibukakan." Ujarnya berjalan ke pintu depan sambil mengusap-usap mata.
"Ti-tidak! Jangan appa/yeobo—" seruku dan eomma sambil mengejar appa ke depan.
Terlambat. Appa sudah membukakan pintu.
"E-Eh Taehyung, hi~" sapaku dengan cengiran yang dipaksakan.
"Hai Jungkook. Selamat pagi Jeon ahjussi dan ahjumma." Ucapnya memamerkan senyum rectangle-nya.
"Pagi Taehyung hehe, silakan duduk dulu, ahjumma buatkan minum." Ujar eomma.
"Tidak usah repot-repot ahjumma." Jawab Taehyung.
"Tidak kok, appa juga biasanya minum kopi jam segini. Sekalian." Ujar eomma sambil menarikku ke dapur.
"Baiklah kalau begitu ahjumma. Maaf merepotkan." Ujar Taehyung.
"Tidak kok, dan panggil saja eomma!" seru eomma dari dapur.
"Jungkook, sekarang kau mandi dan rawat lukamu sendiri, eomma akan membersihkan…" ujar eomma sambil melihat sekeliling dapur sebelum menghela nafas berat. "…semua kekacauan ini." Lanjutnya.
"I-iya." Ujarku melesat ke kamar mandi.
~.~
Aku meringis saat air yang bercampur dengan sabun mengenai tangan kiriku yang teriris pisau. Uh, belum juga sembuh luka di pergelangan tangan dan kakiku, sekarang sudah bertambah luka baru. Dengan segera aku mengguyur tubuhku dengan air untuk menghilangkan sabun-sabun yang menyakitiku itu, lalu mengeringkan tubuhku dengan handuk dan berjalan keluar untuk berpakaian.
Aku membuka lemariku, mengambil seragamku, dan memakainya. Setelah semua rapih, aku berjalan ke dapur dan Taehyung sudah duduk manis di sana bersama appa dan eomma menghadap nasi goreng kimchi buatan eomma.
"Maaf lama." Ujarku sambil duduk di sebelah eomma.
"Tidak kok." Ujar Taehyung.
"Mari makan~" ujar appa yang segera melahap nasi goreng kimchi tersebut dengan tidak sabaran.
"Mari makan~" jawab Taehyung dan eomma sebelum mereka ikut memakan nasi goreng kimchi itu.
Aku menghela nafas, mengangguk, lalu makan dalam diam. Taehyung mengoceh ini dan itu membuat appa dan eomma tertawa tapi aku hanya diam. Entah kenapa aku merasa kesal.
"Terima kasih untuk makanannya~ enak sekali." Kata Taehyung sambil meletakkan sumpitnya dan tersenyum ke arahku yang entah kenapa membuatku semakin kesal.
Aku segera berhenti makan, dan berjalan keluar rumah.
"Eomma, appa, aku berangkat." Ujarku datar.
"Iya." Jawab eomma.
"Eh? Kok gitu? Tunggu!" ujar Taehyung sambil berlari kecil mengejarku.
"Kalau kau malu karena masakanmu kupuji bilang saja Jeon, tidak usah pakai acara lari meninggalkanku begitu~" goda Taehyung ketika ia sudah berhasil mensejajarkan langkahnya denganku.
"Itu bukan masakanku!" seruku kesal.
"Eh? Loh? Bukannya—"
"Itu masakan eomma! Aku tidak bisa masak! Kecewa 'kan kau sekarang? Sana pergi! Cari omega yang bisa memasak!" seruku sambil mendorongnya ke depan.
"E-eh? Siapa yang kecewa? Ya aku sedikit kecewa sih karena bukan kamu yang masak tapi—"
"Ya sudah pergi sana! Aku tahu aku memang mengecewakan." Ujarku lirih sambil menunduk menyembunyikan air mataku yang mengalir tanpa persetujuanku.
Aku segera mengusap air mataku dengan punggung tanganku sebelum ia melihatku menangis, lalu berlari melewatinya.
"Tunggu!" ujarnya sambil menggenggam tangan kiriku.
Ia menatap jariku yang terbalut perban, menarikku sehingga aku menghadapnya, lalu mengangkat wajahku yang masih menunduk.
"Aku tidak peduli kau bisa memasak atau tidak. Kau tetap Jeon Jungkook yang kucintai." Ujarnya.
"Tapi kau kecewa 'kan?!" seruku sambil menarik tanganku, dan berjalan dengan cepat.
"Tunggu dulu, dengarkan aku sampai selesai, Jeon!" serunya sambil menarikku lagi. "Memang aku kecewa. Tapi aku bukan kecewa karena kau tidak bisa memasak, aku kecewa karena aku tidak memakan masakan buatanmu."
"Sama saja, apa bedanya?" seruku sambil menyentakkan tangannya.
"Jeon. Bukan 'kah sudah kukatakan untuk dengarkan dulu?" ujarnya sambil menatapku tajam.
"Aku tidak peduli seperti apa masakanmu, aku hanya ingin makan masakan buatanmu. Karena sebenarnya yang ku inginkan bukan masakanmu, tapi perasaanmu yang kau tuangkan saat kau memasaknya." Jelasnya panjang lebar.
Aku pun merona mendengar penjelasannya.
"La-lalu kalau makananku meracunimu bagaimana?"
"Tidak akan, masakan yang dibuat dengan cinta tidak akan meracuni siapapun." Ujarnya sambil tersenyum.
"Me-memangnya siapa bilang aku akan memasak dengan perasaan apalagi cinta? Percaya diri sekali." Ujarku sambil tersenyum sinis, meski tanpa bisa dipungkiri pipiku merona mendengar perkataannya.
"Ini buktinya." Ujar Taehyung sambil mengangkat tanganku dan mengecup jariku yang terbalut perban, membuat pipiku semakin memerah. "Hanya cinta yang membuat seseorang merelakan dirinya terluka."
Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Dengan segera aku menarik tanganku yang masih di genggamannya dan berjalan sambil menunduk, menyembunyikan wajahku yang sudah memerah sampai ke telinga.
Taehyung terkikik, kemudian mengejarku dan menggandeng tanganku. Kali ini aku membiarkannya menggandeng tanganku.
~.~
Sejak kejadian tadi pagi Taehyung jadi semakin menempel padaku. Ya, biasanya memang dimana ada aku, ada Taehyung, tapi kali ini lebih parah. Dia menggandengku, merangkulku, memelukku dengan seenaknya sendiri. Bahkan dia mengikutiku ke toilet.
"Kau mau apa? Aku mau ke toilet." Ujarku dengan wajah datar sebelum masuk ke toilet.
"Memangnya kenapa? Aku 'kan juga laki-laki. Jadi tidak masalah kalau aku ikut masuk." Ujarnya tanpa dosa.
"Kau bodoh ya? Sekolah ini didominasi oleh separuh naga, yang berarti peraturan dan fasilitasnya juga menyesuaikan para separuh naga. Itu berarti, seharusnya kau menggunakan kamar mandi untuk alfa laki-laki yang ada di sebelah kamar mandi ini!" seruku kesal.
"Hehehe, iya iya sayang, aku 'kan hanya bercanda." Ujarnya yang kuhadiahi dengan tonjokkan di perut.
"Jangan panggil aku sayang!" seruku sambil melangkah masuk ke kamar mandi, meninggalkannya yang meringis memegangi perutnya.
Sebenarnya aku masuk ke kamar mandi hanya alasan saja, supaya bisa kabur darinya. Benar saja, setelah berpura-pura 'melakukan bisnis' di kamar mandi, aku keluar dan tidak mendapatinya di sekelilingku. Aku segera berlari sebelum dia menemukanku, tapi sialnya aku menubruk seseorang.
BRUK!
"Ma-maafkan aku." Seruku sambil membantu memunguti kertas-kertas milik orang itu yang terjatuh.
Tanpa sengaja aku membaca salah satu kertas itu dan di situ tertulis, 'Jung Hoseok, selamat. Permintaan anda untuk melakukan pertukaran pelajar di Hiryuu Academy, Tokyo diterima.'
Mataku membola membaca kertas itu. Aku segera menengadahkan wajahku dan betapa terkejutnya aku ketika orang yang kutabrak itu Hoseok hyung. Aku terkejut karena itu berarti…
"Hyung, kau akan ke Jepang?" tanyaku.
"E-eh Jungkook? Haha, aku tidak menduga akan bertemu denganmu di sini. Er, iya aku diterima di sana."
"Kapan kau akan berangkat?"
"Er… besok?" ucapnya lirih.
"BESOK? Kau akan pergi ke Jepang besok dan kau tidak memberitahuku?" tanyaku dengan tatapan tidak percaya.
"Me-memangnya apa urusannya denganmu?" Tanya Hoseok hyung sambil merebut kertas yang ada di tanganku dan pergi meninggalkanku.
Aku hanya menatap punggungnya yang menjauh. Kenapa? Kenapa Hoseok hyung seperti itu? Tiba-tiba aku mencium bau mint Taehyung. Ah benar juga, pasti dia lagi.
"Jadi, apa lagi yang kau lakukan?" tanyaku.
"Tidak ada." Ujarnya santai.
"Jangan berbohong!" seruku sambil berbalik menghadapnya.
"Aku tidak berbohong. Aku baru saja sampai, mana mungkin aku melakukan sesuatu padanya. Omong-omong aku senang kau mengenali bauku begitu saja." Ujarnya sambil nyengir.
"Kalau kau tidak berbohong kenapa—"
"Aku tidak perlu melakukan apapun, sudah pasti dia akan mundur." Jawabnya santai.
"Mundur? Apanya? Kau bicara apa sih? Aku tidak mengerti!"
"Tugas dan kebanggaan seorang alfa adalah untuk melindungi omeganya. Maka dari itu dia menjauh darimu. Dia merasa sudah tidak punya muka di depanmu karena kau hampir saja celaka karenanya, dan ia juga tidak berhasil menemukanmu." Jelas Taehyung panjang lebar.
"Kenapa harus begitu? Aku tidak marah padanya." Ujarku.
"Kau benar-benar tidak mengerti apapun soal alfa ya? Aku jadi ragu kau tahu tidak tentang dirimu sendiri-omega special." Ujarnya.
"Aku memang tidak tahu! Jelaskan padaku semuanya!" perintahku.
"Semuanya? Terlalu banyak yang harus kau tahu, sayang. Bagaimana jika kujelaskan dengan praktek saja?" goda Taehyung sambil berjalan memojokkanku.
"Dalam mimpimu!" seruku sambil mendorongnya menjauh.
"Sudah sering." Jawabnya santai.
"Hah?" tanyaku tidak paham.
"Kalau hanya dalam mimpiku sudah sering." Ujarnya menyeringai.
"Apa sih? Aku tidak mengerti—astaga kau mesum sekali!" seruku setelah mengerti maksud dari perkataanya.
"Bukan kah itu wajar? Hehe~ salahmu sendiri terlalu sexy. Apalagi kemarin aku melihatmu full-naked—AW!" ujarnya terpotong karena aku meninjunya (lagi).
Aku berjalan meninggalkannya dengan wajah yang memerah. Bodoh. Kenapa dia mengatakan hal se-vulgar itu dengan santai?
~.~
Setelah itu aku terus mendiamkannya, bukannya kesal. Iya sih kesal, sedikit. Tapi sebagian besar karena aku malu. Kenapa aku malu? Aku juga tidak mengerti. Ia mencoba mengajakku ngobrol ini-itu tapi tidak ada satupun yang kutanggapi. Ia meminta maaf dan aku hanya menjawab dengan anggukan. Akhirnya, dia merengek sepanjang perjalanan pulang.
"Jungkook, maafkan aku~ Jungkook~" ujarnya sambil menekan-nekan bahuku dengan telunjuknya. "Jungkook~ Kookie~ Jungkookie~"
"Ish, iya, iya! Tadi 'kan aku sudah mengangguk, berarti aku sudah memaafkanmu!" seruku sambil menepis tangannya.
"Tapi kau diam saja."
"Memangnya aku harus bilang apa?"
"Ya apa saja, pokoknya jangan diam." Jawabnya.
"Iya, iya aku nggak akan diam saja." Jawabku sekenanya.
Ia nyengir senang kemudian mulai menggandeng tanganku lagi. Aku membiarkannya saja, malas berdebat dengannya.
Aku menyipitkan mataku ketika aku merasa melihat eomma berdiri di depan apartemen Taehyung.
"Ah kalian datang juga~" kata eomma sambil melirik tangan kami yang bertautan. Dengan segera aku melepaskan tanganku.
"Ada apa eomma?" tanyaku
"Ini, eomma ada kupon makan di The Beastro. Kookie kau temani Taehyung makan ya nanti malam." Jawab eomma sambil memberikan kuponnya pada Taehyung.
"Eh? Kenapa begitu?" tanyaku tidak terima.
"Kencan! Sebagai ganti kau tidak bisa memasak untuk Taehyung." Jawab eomma santai. "Taehyung, kau tidak ada acara kan malam ini?"
"Tidak ahju—eomma."
"Bagus. Kalau begitu nanti malam Jungkook menunggu di rumah." Kata eomma sambil menarikku pulang
"Hey! Apa-apaan itu? Eomma! Hey!"
~.~
Dan… di sinilah aku, berdiri diam seperti mannequin. Eomma menyuruhku mencoba pakaian ini, dan itu.
"Jeon Jungkook, apa kau benar-benar tidak punya pakaian lain selain hitam dan atau putih?" Tanya eomma masih mengobrak-abrik lemariku.
"Ada. Merah." Jawabku sekenanya.
"Mana sini?" pinta eomma.
Aku pun mengambil ripped knitted sweater merah-hitam ku* dan memberikannya pada eomma.
"Nah! Ini baru bagus. Sexy. Pakai." Ujar eomma melemparkan sweater itu padaku. "Hm… see-through memang yang terbaik."
TING TONG!
"Dan tepat waktu! Cepat turun, jangan membuat Taehyung menunggu." Ujar eomma mendorongku keluar kamar.
"Iya-iya, tidak usah mendorongku." Sahutku sambil berjalan turun.
Saat aku membuka pintu, aku mendapati Taehyung menatapku dengan tatapan tidak senang.
"Kenapa?" tanyaku datar.
"Ganti bajumu." Jawabnya dingin.
"Kenapa? Aku suka see-through."
"Aku juga suka kalau kau memakai itu, kau sexy. Tapi tidak di tempat umum. Hanya aku yang boleh melihatnya."
"Ck. Menyebalkan. Tidak mau. Lagipula ini pilihan eomma." Tolakku.
"Jeon Jungkook." Ujarnya sambil menatapku tajam.
"Hah~ iya iya." Jawabku berjalan kembali ke kamar. Dia tidak menatapku dengan mata merahnya, tapi entah kenapa aku menurut padanya. Kalau tidak salah memang seorang omega akan tunduk pada alfanya. Tapi dia 'kan bukan alfaku. Ck.
Akhirnya aku mengganti sweaterku dengan kaos lengan panjang putih, berkerah agak lebar dan memliki resleting di sebelah kiri bawah**. Saat aku muncul, Taehyung menatapku dengan wajah bodohnya, melamun.
"Apa lagi yang salah, tuan Alfa Superior Kim Taehyung?"
"Tidak, aku hanya berfikir, apa Tuhan tidak salah menciptakanmu? Sepertinya Tuhan lupa memberikan kekurangan padamu." Ujarnya masih dengan tampang bodohnya.
"Alay!" seruku sambil menepuk kepalanya agak keras.
"Hehe, habis kau manis sekali~" ujarnya sambil nyengir. Dan aku pun hanya merona.
~.~
The Baestro memiliki tiga lantai, dan roof top patio. Taehyung segera menarikku ke roof top. Sesampainya di roof top, dia tidak segera duduk, tapi berjalan ke pinggir pagar, matanya berbinar-binar seperti anak kecil.
"Wah lihat, di sana ada rasi bintang Orion!" serunya sambil menunjuk salah satu rasi bintang. "Wah, kita bisa melihat Seoul di malam hari dari sini. Indahnya~"
"Ck. Norak sekali sih. Memangnya di Daegu tidak ada yang seperti ini?" ledekku.
"Daegu?" tanyanya. Seketika matanya menggelap. "Aku tidak tahu." Jawabnya lirih.
"Hey, hey, aku hanya bercanda. Jangan dipikirkan." Ucapku merasa bersalah.
Dia tetap diam, matanya menerawang.
"Jangan melamun malam-malam. Ayo duduk." Ujarku menggandengnya ke salah satu kursi dan duduk di situ.
Dia hanya menurut dan tetap diam. Tidak kuat dengan suasana hening dan aura suram ini, aku pun memanggil pelayan untuk memesan makanan.
"Aku pesan Kale and Ricotta Salad, Salmon Rillettes, Fried Brie Wheel, Fried Chicken Platter, 24 Hour Hangar Steak, Buffalo Mac and Cheese, Chimichurri Fries, Olive Oil Cake, Peach Ice Cream, dan The Pretty Pink."
"Maaf tuan, tapi apa anda yakin akan memesan The Pretty Pink? Karena di dalamnya mengandung—"
"Vodka. Ya aku tahu, aku bisa baca." Jawabku.
"Ah maaf tuan, bukan bermaksud begitu."
"Tidak boleh. Coret minumannya, ganti dengan Lemon Squash." Ujar Taehyung.
Aku mau membuka mulutku untuk protes tapi tidak ingin membuat aura yang sudah suram ini semakin suram, aku pun menurut.
"Aku pesan Charred Squid Salad, The Pork and Corn Succotash, Roast Chicken, Mashed Potatoes, Good Thymes, dan Milk and Cookies." Ujarnya sambil melirikku menyeringai.
Oh, mesumnya udah balik?
"Baik, saya ulangi pesanannya; satu Kale and Ricotta Salad, satu Salmon Rillettes, satu Fried Brie Wheel, satu Fried Chicken Platter, satu 24 Hour Hangar Steak, satu Buffalo Mac and Cheese, satu Chimichurri Fries, satu Olive Oil Cake, satu Peach Ice Cream, satu Lemon Squash, satu Charred Squid Salad, satu The Pork and Corn Succotash, satu Roast Chicken, satu Mashed Potatoes, satu Good Thymes, dan satu Cookies and Milk."
"Yup~" jawab Taehyung riang.
Anak ini labil sekali -.-'
"Baik, mohon tunggu sebentar." Ujar pelayan itu, kemudian berjalan pergi.
"Kau curang." Ujarku.
"Apanya?" tanyanya bingung.
"Kau boleh pesan Good Thymes, tapi aku tidak boleh pesan The Pretty Pink." Sungutku.
"Hey, di Good Thymes hanya ada wine, di Pretty Pink ada vodka. Jelas saja tidak boleh. Selain itu daun thyme bagus untuk kesehatan. Wine juga." Jawabnya.
"Kalau begitu, aku boleh pesan Good Thymes?" tanyaku.
"Tidak. Anak kecil tidak boleh minum minuman yang mengandung alcohol." Jawab Taehyung.
"Menyebalkan! Kita seumuran tahu! Lagipula masakan seperti ini pasti juga dicampuri wine."
"Wah kau tahu, tapi kok nggak bisa masak?" godanya.
"Kau menghinaku?!" seruku sambil berdiri, membuat semua orang menatap ke arahku. Aku berdeham untuk menghilangkan rasa maluku, lalu kembali duduk.
"Pft… hahaha!" tawanya.
"Ck. Diamlah."
"Hahaha iya iya. Omong-omong, kau pesan sebanyak itu, apa habis?" tanyanya.
"Apa? Kau mau mengataiku hamil juga seperti Jimin? Dia selalu menanyakan itu setiap kali aku memesan makanan." Gerutuku.
"Tidak, aku hanya heran, ternyata porsi makanmu banyak juga. Kita kan belum pernah kencan seperti ini dan kau selalu membawa bekal eomma-mu jadi aku tidak tahu makanmu sebanyak ini." Ujarnya.
"Kenapa? Kau malu makanku banyak?"
"Tidak. Aku 'kan sudah bilang aku hanya heran. Aku tidak peduli makanmu banyak atau sedikit. Kau tetap—"
"Jeon Jungkook yang kucintai. Ya, ya, ya, aku sudah hafal dengan kalimatmu itu." Ucapku memotong kalimatnya. Ia hanya nyengir.
"Kau ini tidak peduli apapun tetap mencintaiku ya?"
"Yup."
"Lalu seaindainya kemarin kau tidak datang dan aku hamil anak mereka, kau tetap mencintaiku?" tanyaku sambil menggigit bibirku mengingat kejadian kemarin.
"Apa yang kau katakan? Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." Jawab Taehyung dengan kilatan emosi di matanya.
"Aku 'kan berkata seandainya. Sudah jawab saja!" ujarku lagi. Menahan air mataku yang hampir jatuh, membayangkan jika Taehyung tidak datang.
Taehyung menghapus air mata yang menggantung di sudut mataku dan tersenyum.
"Tentu saja, apapun yang terjadi aku tetap mencintaimu."
"Kau gila." Komentarku.
Ia hanya nyengir, yang mau tidak mau juga membuatku tersenyum.
"Baiklah, kuberi kau 24 jam. Jika dalam 24 jam kau bisa membuatku mengatakan, 'aku senang sekali', maka aku akan menerimamu menjadi pasanganku." Ucapku sambil tersenyum lembut.
"Benarkah?" tanyanya dengan mata yang berbinar. Aku mengangguk. "Tenang saja, aku akan mengajakmu ke tempat yang indah besok, dan kau akan mengatakan itu."
"Kita lihat saja nanti~"
"Oke. Oh iya, tempatnya sepi jadi kau boleh pakai baju yang tadi." Ujarnya sambil menyeringai.
"Dasar mesum!" seruku sambil melempari wajahnya dengan garpu.
~TBC~
A/N: Huah, lelah sekali. Ini chapter terpanjang di sini. Maaf atas minimnya deskripsi dan banyaknya dialog. Aku sudah berusaha, tapi aku tidak tahu apa yang harus kutulis untuk membuat deskripsinya lebih banyak dan percakapannya lebih sedikit.
Note:
*Baju Jungkook di War of Hormone
**Baju Jungkook di Haruman
Nah saatnya balas review:
emma: Iya noh Kookie mah gitu. Hehe liat ntar ya wkwkwk. Yup, aku juga suka Taehyung yang rada oon wkwkwk. Thx reviewnya ya~
VKookdaily: Kapan ya? Chap depan mungkin. Iya pindah haluan ke Taehyung, ditambah lagi Hoseoknya ke luar negri hehe. Sudah dilanjut nih, makin manis nggak? Amiin. Muucih ya.
dila kim: Iya dia udah mulai suka, cuman belum ngerasa aja wkwkwk. Iya sih, aku juga nggak rela, tapi demi jalannya cerita. Ini udah mau nerima kok~ Ok, thanks reviewnya~
Guest: ucul? Ucul apaan ya? Wkwkwk. Thx reviewnya~
BunnyKookie: Masa' sih? Aku ngerasa itu sucks bgt. Iya, aku sebenarnya juga nggak rela, tapi demi jalannya cerita. Iya ya, aku kejem bgt sama Hoseok. Hiks… maafkan aku hyung. Nggak kasihan, si Tae mah banyak dapet plus plus kemaren. Kookienya belum sadar kalau dia suka jadi belum terima Taehyung. Oke, makasih ya reviewnya~
Last but not least, review ne?
