Aku berdiri di balkon kamarku
Menatap sebuah persegi bertirai biru
Berharap dapat melihatmu membuka tirai itu
Kemudian melihatmu berjalan ke rumahku
.
Aku menunggu,
Tapi tirai itu tidak pernah terbuka.
Aku terus menunggu,
Tapi kau tak pernah datang.
.
Kau tak pernah datang untuk menepati janjimu padaku
Jung Hyejin presents
.
.
.
I Hate Half-Dragon!
.
Aku makan tanpa mengucapkan sepatah katapun dan berjalan keluar rumah tanpa memberi salam kepada orang tuaku. Sesampainya di sekolah aku tetap diam. Tidak mengacuhkan ocehan Jimin padaku. Ternyata memang benar aku tidak seharusnya membiarkan diriku larut terlalu dalam pada hal-hal separuh naga ini. Seharusnya aku tetap membenci separuh naga. Seharusnya aku tetap membenci Kim Taehyung.
~.~
Hari itu aku sangat bersemangat, karena hal menggelikan yang bernama cinta. Ya, aku jatuh cinta pada Kim Taehyung, alfa superior dengan segala tingkah tidak terduganya yang dapat melelehkan es di hatiku. Saat aku bangun di pagi hari, aku segera berlari ke balkon rumahku untuk menatap jendela kamar apartemen Taehyung. Berharap aku dapat melihat wajahnya ketika terbangun di pagi hari saat ia membuka tirai jendela kamarnya. Tetapi jendela kamar itu tidak pernah terbuka.
Menyerah, aku pun berjalan ke kamar mandi yang berada di dalam kamarku. Aku menyenandungkan beberapa lagu sambil membiarkan air shower membasahi tubuhku. Mood-ku benar-benar sangat baik. Seusai mandi, aku berjalan ke lemari, memakai baju yang ia sarankan untuk kupakai, knitted ripped sweater berwarna merah dan hitam. Kemudian aku kembali berlari ke balkon kamarku, untuk melihatnya berjalan ke rumahku. Tetapi jangankan berjalan ke rumahku, tirai kamarnya saja masih tertutup. Mungkin ia masih tertidur, jadi aku memutuskan untuk menunggu. Aku menunggu dan tetap menunggu, tapi tirai itu masih tertutup. Hingga matahari kembali ke peraduannya, ia tak pernah datang. Ia tidak pernah datang untuk menepati janjinya padaku. Aku tidak pernah merasa senang sekali. Sebaliknya, aku sangat kecewa.
~.~
Sejak hari itu aku kembali menjadi seorang Jeon Jungkook yang membenci separuh naga. Bahkan lebih dingin dari Jeon Jungkook yang itu. Aku tidak pernah berbicara dengan siapapun, aku hanya diam mengunci diri di kamar. Aku hanya keluar untuk mengambil makan, mengangguk dan menggeleng ketika ditanya. Aku juga merubah penampilanku sedikit. Aku mewarnai rambutku sewarna wine red, dan memasang piercing hitam di telinga kiriku. Aku tidak pernah memakai jasku saat ke sekolah, aku hanya menyampirkannya di bahuku dan membiarkan kemejaku keluar. Tentu saja para guru menegurku, tapi aku tidak peduli. Dan sekarang mereka sudah lelah menegurku. Hal yang menyebalkan adalah, penampilanku saat ini justru semakin membuatku menjadi pusat perhatian para alfa. Kukira dengan berpenampilan tidak feminine begini mereka tidak akan berminat denganku, tapi nyatanya tidak.
Tenang saja, mereka tidak akan bisa macam-macam denganku. Aku bukan Jeon Jungkook omega lemah saat itu. Ketika aku tidak menemukan Taehyung di sekolah dan di apartemennya, aku memutuskan untuk melupakan Taehyung, dan membuat diriku menjadi lebih kuat. Karena secara psikologis, ketika kau memiliki seseorang yang kau percaya dapat melindungimu, kau menjadi lebih lemah. Selain itu, saat itu aku masih seorang omega baru yang awam dengan semua ini.
Aku mencari informasi mengenai omega spesial dan apa yang membuat mereka spesial. Kebanyakan isinya membuatku muak; yaitu fakta mereka spesial karena mereka sangat hebat di ranjang, menjadi sangat agresif ketika memasuki heat season mereka, dan 'tahan lama'. Hueks. Menjijikan sekali. Tapi aku menemukan beberapa informasi lain bahwa omega spesial bisa mengendalikan nafsu mereka dan menahan rangsangan dari aroma para alfa jika tidak sedang dalam heat season. Mereka juga bisa menjadi lebih kuat dari beberapa alfa. Dan itu semua hanya memerlukan latihan. Maka akupun melatih diriku. Ketika aku mengunci diriku di kamar aku tidak diam menangisi kepergian Kim Taehyung, hell, yang benar saja, itu menjijikkan. Aku melatih tubuhku dengan alat gym yang ada di ruangan khusus di dalam kamarku, aku juga berlatih taekwondo dan hapkido sendiri menggunakan slug buddy yang ada di ruangan itu juga. Hanya satu kekurangan omega spesial, sekuat apapun mereka, mereka akan takluk pada Alfa Superior dan tak ada cara untuk menolaknya. Shit. Ya tapi sepertinya sih, aku tidak akan bertemu dengan Kim Taehyung lagi. Untuk selamanya.
~.~
"Jungkook." Panggil Jimin, tapi kuabaikan.
Jimin menghela nafas berat.
"Oke, ini terakhir kalinya aku akan berbicara denganmu, karena, well, aku lelah juga kau abaikan. Jadi, dengar baik-baik. Aku mendapat informasi bahwa sehari sebelum Taehyung menghilang, tepatnya setelah mengantarkanmu pulang malam itu, Taehyung dibawa pergi oleh beberapa orang, mereka semua berambut abu-abu, tetapi hanya satu orang, yang diperkirakan baru berkepala tiga, yang memiliki warna mata sebiru Sapphire dan rambut keperakan."
"Maksudmu? Dia diculik begitu? Menggelikan. Dia 'kan alfa superior, dia bisa melindungi dirinya sendiri." Kalimat pertama yang kuucapkan setelah hari itu. Wow. Ternyata Kim Taehyung masih mempenagruhiku. Shit.
"Aku juga kurang paham. Tapi kenapa tidak bisa? Mereka semua berambut abu-abu. Bukan 'kah artinya mereka semua itu alfa superior?" Tanya Jimin balik.
"Kau bodoh ya? Hanya ada satu garis keturunan dalam silsilah alfa superior. Tidak mungkin mereka semua alfa superior, karena alfa superior adalah pemimpin dari semua naga. Tidak mungkin ada dua pemimpin." Jelasku.
"Ya aku 'kan bukan alfa, maaf saja jika aku tidak tahu. Tapi kuingatkan satu hal, cari dia atau kau akan menyesal. Karena dari sepengamatanku Taehyung sangat mencintaimu."
"Jika dia mencintaiku, kenapa dia meninggalkanku?" tanyaku dengan emosi.
"Kau tidak akan mendapatkan jawabannya jika kau tidak mencarinya dan bertanya langsung padanya." Jawab Jimin sambil berjalan meninggalkanku.
~.~
Akhirnya aku pun memutuskan untuk mencari Taehyung. Tapi sebelumnya aku mencari tahu tentang alfa superior. Ternyata alfa superior tinggal di sebuah desa tersendiri dan tersembunyi. Akses menuju desa mereka adalah sebuah tombol yang merupakan susunan tiga buah setengah mata anak panah yang hampir membentuk segitiga. Tombol itu bisa menonjol, bisa seperti ukiran, bisa datar, dan berpindah-pindah, sehingga sulit untuk menemukannya. Di desa itu semua separuh naga, baik omega sekalipun, memiliki rambut berwarna abu-abu tidak berkilauan dan cenderung lebih gelap, dan matanya tidak berwarna biru. Hal itu disebabkan karena mereka semua memiliki darah seorang alfa superior. Namun, alfa superior yang memiliki kemampuan seperti alfa superior pendahulu tetap hanya satu keturunan saja, dan mereka tinggal di rumah paling besar di desa itu. Aku sedikit kurang paham, tetapi intinya, yang kupahami, adalah; berapa banyakpun anak dari alfa superior, tetap hanya satu yang akan jadi penerusnya. Jadi, berapa banyak pun anak yang dimiliki appa Taehyung, semua adik dan kakak Taehyung tetap alfa/omega biasa yang memiliki rambut berwarna abu-abu dan tidak bermata biru karena Taehyung saja lah yang merupakan penerus alfa superior.
Aku memutuskan untuk mencari Taehyung di Daegu, karena dia bilang dia berasal dari sana. Tidak lupa aku mencari informasi tentang alamat rumah Taehyung pada seonsaengnim, dan seonsaengnim juga mengatakan bahwa Taehyung memang sudah pindah sekolah. Tetapi seonsaengnim tidak tahu ke mana Taehyung pindah.
Aku sedikit terkejut ketika aku sampai di alamat rumah Taehyung, karena alamat itu merujuk pada Donghwasa Temple. Di tempat sebesar ini bagaimana aku akan menemukan tiga buah setengah mata anak panah yang tersusun menyerupai segitiga? Terlebih lagi, pintu-pintu dan bangunan di sini memiliki banyak ukiran yang terbentuk dari garis-garis lurus. Jika garis-garisnya melingkar, masih mudah untuk menemukannya, karena akan mencurigakan jika ada tiga buah setengah mata anak panah yang tersusun menyerupai segitiga di antara motif yang terbentuk dari lingkaran, tapi masalahnya motif-motif di sini terbuat dari garis lurus.
Menghela nafas, aku pun mulai mencari tanda aneh itu, setelah membayar tiket masuk tentunya. Ini tempat wisata, mana mungkin gratis. Kebanyakan pengunjung akan munuju patung Buddha dan/ Taeungjon Hall, membuatku mengeliminasi tempat itu dengan seketika. Karena tidak mungkin 'kan tempat persembunyian diletakkan di tempat yang ramai pengunjung? Terbersit ide untuk menyusuri jalan setapak di dekat Donghwasa Temple, tapi saat melewati Flagpole Supports of Donghwasa kakiku terhenti. Mataku menatap kedua tiang besar itu dengan curiga. Akhirnya aku memutuskan untuk mendekati tiang itu dan menelisik lebih lanjut. Tanganku meraba bagian bawah tiang itu dan aku pun menemukan symbol itu. Aku menekannya dan sekelilingku pun berubah.
Aku berdiri di tengah sebuah jalan besar yang terbuat dari aspal. Di kiri dan kanan jalan ada pagar rantai pendek, di belakang pagar ada pohon-pohon ginko yang sedang berguguran. Aku menyusuri jalan itu dan sampai di sebuah pasar tradisional. Aku terperangah melihat semua orang di sini memiliki rambut berwarna abu-abu. Aku kira informasi itu tidak benar. Wow keren sekali.
"Hey kau! Berhenti di sana!" seru seorang penjaga, mungkin?, yang memakai jubah putih dan menodongkan panah padaku.
Ah benar, kenapa aku bodoh sekali? Mereka semua berambut abu-abu sementara rambutku berwarna merah. Jelas mencurigakan.
"Kau siapa? Apa maumu?" tanyanya sambil berjalan mendekat dengan tetap mengarahkan panahnya ke arahku.
"Aku… er… tersesat?"
"Tersesat?" Tanya penjaga itu sambil menurunkan busurnya.
"Iya, aku sedang berjalan-jalan lalu menekan sesuatu dan tahu-tahu aku ada di sini. Hehe." Ujarku sambil nyengir tanpa dosa.
Penjaga itu memerah melihat tingkahku, yup, aku juga mempelajari bahwa seorang omega spesial dapat membuat semua alfa tertarik padanya dengan bertingkah polos dan dengan mengeluarkan hormone yang nantinya akan memproduksi aroma omega yang memabukkan para alfa. Jadi, aku sedang mencobanya sekarang haha.
"O-oh, ka-kalau begitu akan kutunjukkan jalan keluarnya." Ujarnya gugup. "Mari ikuti saya."
"Baiklah~" jawabku riang.
~.~
"Jadi, sebenarnya sekarang aku di mana?" tanyaku sok polos sambil memiringkan kepalaku menghadapnya.
"K-kau sedang berada di Desa Alfa Superior." Jawabnya semakin salah tingkah saat aku mendekatkan wajahku.
"Eoh? Apa itu?" tanyaku lagi, sambil dengan sengaja mendekatkan badanku padanya sehingga bahu kami bersentuhan.
"A-Anda terlalu dekat." Jawab penjaga itu.
"E-eh maaf, habis, kalau jarak jauh aku nggak bisa menang." Jawabku.
"Eh?" tanyanya bingung.
Sebelum sempat dia menengok ke arahku, aku sudah membanting badannya hingga ia pingsan.
"Kalau jarak jauh, kau punya panah, aku nggak akan menang. Kalau jarak dekat, nah itu kesempatanku. Hahaha!" ujarku bermonolog, meninggalkan alfa malang itu dan kembali ke keramaian.
Beruntung aku mengenakan jaket yang memiliki tudung, jadi bisa menyembunyikan rambutku. Aku pun menutupi rambutku dengan tudung dan berjalan melewati pasar. Setelah pasar, terdapat beberapa rumah sederhana. Aku terus berjalan dan aku menemukan… Kim Taehyung sedang tertidur di paha seorang omega perempuan spesial berambut abu-abu.
Ah jadi ini penyebabnya, dia lelah padaku dan mencari omega spesial lain yang masih memiliki darah alfa superior. Ck. Rugi aku mengejarnya sampai ke sini. Kim Taehyung sialan.
Kesal, aku pun meninggalkan tempat itu sambil menendang kerikil. Kerikil yang kutendang mengenai seorang alfa yang berpenampilan cukup sangar.
"Siapa yang melemparkan batu padaku?" tanyanya geram.
"Aku." Jawabku berani. Kebetulan, aku sedang mencari pelampiasan emosi.
"Kau mencari perhatian dariku, eh? Omega manis?" tanyanya.
"Hahaha, maaf saja ya, aku tidak tertarik pada alfa murahan sepertimu." Jawabku sombong.
"Apa katamu? Alfa murahan? Kita lihat siapa yang murahan di sini bocah." Ujarnya sambil berjalan ke arahku.
Ketika dia mendekat, aku segera memelintir tangannya lalu menendang perutnya. Kemudian aku menghempaskannya ke tanah.
"Heh, hanya segitu kemapuanmu?" tanyaku ketika melihat ia sudah kesulitan berdiri.
"Kurang ajar!" katanya lagi sambil melayangkan tinju padaku yang dapat kuhindari dengan mudah.
Aku baru mau membalas tinjunya ketika tanganku dicekal seseorang. Aku pikir dia adalah teman alfa murahan ini, jadi aku berniat untuk membantingnya, tapi aku tidak bisa. Aku menoleh dan ternyata orang yang memegangi tanganku adalah Taehyung.
"Jangan mengotori tanganmu untuk alfa sepertinya." Ujarnya menurunkan tanganku, tanpa melepaskan genggaman tangannya.
"Lepaskan aku!" seruku sambil berusaha melepaskan genggamannya tapi tidak bisa. Sialan. Dia alfa superior, aku tidak bisa apa-apa.
"Kau! Pergi dari sini! Jangan pernah menyentuhnya!" titah Taehyung pada alfa itu, mengabaikan permintaanku.
"Ma-maafkan aku, Tuan Muda." Ujarnya patuh. Ia pun mengangguk sebelum berjalan pergi.
"Kenapa ribut sekali?" ujar seorang alfa berambut keperakan, bermata sebiru Sapphire, berjubah putih.
"A-abeoji." Ujar Taehyung sedikit terkejut.
"Taehyung, dimana Joy? Kenapa kau bersama omega ini?" Tanya appa Taehyung.
"Saya di sini, Yang Mulia." Ujar omega yang bersama Taehyung tadi sambil membungkuk, dan memberi salam dengan gaunnya.
"Baguslah kau tidak apa-apa. Taehyung! Bukan 'kah sudah ayah bilang untuk tidak meninggalkan Joy seorang diri? Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya? Dia tunanganmu—"
"Aku tidak mau bertunangan dengannya, aboji." Jawab Taehyung tegas.
"Dia, omega yang kucintai. Hanya dia yang akan kunikahi." Ujar Taehyung lagi sambil merangkulku mendekat.
"Taehyung, dia—"
"Maaf mengintrupsi Yang Mulia, ada penyusup—ah ini dia Yang Mulia penyusupnya!" seru penjaga yang kubuat pingsan tadi sambil menunjukku.
Penjaga di sebelah appa Taehyung yang memegang tombak membuka tudungku, dan tampaklah rambutku yang berwarna merah keunguan.
"Lihat, dia bahkan tidak memiliki darah alfa superior, dia juga sudah membuat kekacauan." Ujar appa Taehyung sambil melirik penjaga yang terluka itu. "Selamanya tidak akan ayah ijinkan kau bersamanya. Bahkan ayah yakin dia tidak punya tata krama."
"Dia omega yang baik! Abeoji hanya belum mengenalnya!" seru Taehyung.
"Jika dia omega yang baik, dia tidak akan membuatmu memberontak pada ayah." Tukas appa Taehyung.
"Mengapa abeoji tidak mau mengenalnya dulu? Aku sudah memberontak sejak aku kabur! Itu tidak ada hubungannya dengan dia!" seru Taehyung.
"Baiklah kalau begitu. Kau!" seru appa Taehyung sambil menunjukku. "Datanglah untuk makan malam jam 07.00 tepat. Jika kau berhasil menunjukkan bahwa kau merupakan seorang omega yang berkelas, aku akan menerimamu menjadi menantuku."
Setelah mengucapkan itu, appa Taehyung dan para pengawalnya, serta penjaga yang kulukai tadi pergi dari situ.
"Taehyung, aku permisi dulu." Ujar Joy sambil berjalan ke arah seorang alfa laki-laki yang melambai padanya.
"Ah iya, maafkan aku merepotkanmu tadi." Jawab Taehyung.
"Tak apa." Ucap Joy sambil melambai dari jauh.
Taehyung mengalihkan pandangannya padaku sebelum menghela nafas berat.
"Ya, jadi begitulah."
"Begitulah apanya?" tanyaku kesal.
"Bukankah sudah jelas?" tanyanya balik dengan wajah polos.
"Tidak ada yang jelas sama sekali. Jelaskan padaku apa yang terjadi!" seruku. "Seenaknya saja kau-hiks- meninggalkanku. Padahal aku menunggumu. Aku selalu menunggumu."
Dan air matapun berlomba-lomba keluar tanpa bisa kucegah.
~.~
"Sejak kecil, aku sudah dilatih menjadi alfa superior. Table manner, tata krama, cara menggunakan kekuatanku, semua. Hidupku juga diatur oleh abeoji, Kim Chanyeol dan mendiang harabeoji, meski belum jelas aku seorang alfa superior atau bukan. Ketika aku memasuki masa pendewasaanku dan mataku berubah menjadi biru, abeoji dan harabeoji sangat senang. Mereka segera mengenalkan omega kepadaku. Mereka juga melatih kekuatan mataku. Tak lama kemudian, harabeoji meninggal. Setelah kepergian harabeoji, abeoji menjadi semakin keras. Ia melatihku tanpa henti, dan sangat mengekangku. Aku tidak boleh keluar dari rumah, aku belajar dengan home schooling. Hanya eomeoni, Kim Baekhyun, yang membuatku masih bisa bertahan. Eomeoni sangat menyayangiku dan memanjakanku. Tapi, lama-lama aku menjadi sangat muak. Muak dengan semua aturan dan kungkungan itu, muak dengan omega-omega yang terus saja dijodohkan denganku. Terlebih ketika aku dijodohkan dengan Joy, karena ia sudah memiliki kekasih, lelaki tadi, meski mereka belum membentuk ikatan dan aku tidak mau Joy, satu-satunya temanku, menderita karenaku. Akhirnya, aku mencoba kabur dari rumah. Ketika aku berhasil menjejakkan langkahku keluar, eomeoni menemukanku. Ia bilang bahwa di luar ada kota yang besar, namanya Daegu, dan yang paling besar bernama Seoul. Eomeoni mengatakan padaku untuk pergi ke sana dan mengatakan aku dari Daegu. Eomeoni juga memberikan padaku berlembar-lembar kertas yang katanya suruh diberikan ke kepala sekolah di sekolah kita. Eomeoni juga bilang ia akan mengunjungiku setiap bulan untuk membantuku bertahan hidup di luar. Dan itulah penyebab kenapa aku bisa ada di Seoul, di sekolahmu." Jelas Taehyung panjang lebar sambil menggandeng tanganku menyusuri hutan pohon ginko.
"Aku merasa sangat senang dan bebas. Selama bertahun-tahun aku terkekang membuatku bertingkah seenaknya sendiri, maafkan aku jika itu mengganggumu. Meski terkekang, aku selalu mendapatkan yang kumau, kecuali kebebasan tentunya, jadi ketika aku melihatmu dan jatuh cinta padamu aku bersikeras mendapatkanmu." Ujarnya lagi
"Lalu kenapa kau pergi?" selaku.
"Hari itu, ketika aku kembali ke apartemen, aku menemukan ibuku dengan senyum getirnya ketika aku membuka pintu kamarku. Saat aku bertanya apa yang terjadi dan berjalan mendekat, pengawal abeoji menangkapku. Aku memberontak, tentu saja. Tapi aku tidak mungkin menang melawan abeoji."
"Lalu kenapa kau tidak mengabariku?" tanyaku kesal.
"Pakai apa? Tidak sempat." Jawabnya polos.
"Dengan ponsel lah!" seruku.
"Ponsel? Apa itu?" tanyanya polos.
"Astaga, kau tidak tahu apa itu ponsel? Di kampus semua orang memegangnya dan kau tidak tahu? Di televisi kau tidak pernah lihat iklannya?" tanyaku tak percaya.
"Oh, benda persegi panjang yang selalu kalian bawa-bawa itu namanya ponsel?" tanyanya memastikan. "Oh, lalu, apa itu televisi?"
"Astaga, kau hidup di jaman apa?" gumamku sambil menepuk dahiku tak percaya. "Iya, itu namanya ponsel. Televisi adalah eum… benda kotak yang membuatmu bisa menonton macam-macam acara."
"Ooooh begitu~ Iya ada televisi sepertinya di apartemenku, tapi aku tidak tahu cara menggunakannya. Hehe. Lalu kalau barang kotak lainnya yang dipakai guru-guru itu namanya apa?"
"Itu laptop. Hah~ Jangan-jangan saat lomba dance itu kamu menonton karena kamu takjub dengan barang-barang elektronik yang dipakai ya?" tanyaku was-was. Ia mengangguk, membuatku ingin menepuk dahiku lebih keras. Pantas saja.
"Ah tunggu, itu membuatku memiliki sebuah ide supaya aku bisa mendapatkan restu appa-mu." Ujarku sambil menyeringai.
"Eh? Bagaimana caranya?"
"Kau lihat saja nanti~ fufufu~"
"O-oke… Oh iya omong-omong terima kasih ya sudah mau mencariku. Aku senang sekali." Ujar Taehyung sambil memelukku erat.
"Tch, tentu saja, aku tidak akan membiarkan orang yang sudah membuatku jatuh cinta pergi begitu saja."
"Wah kau mengakui kalau kau mencintaiku?" tanyanya dengan mata yang berbinar-binar.
"Iya, memangnya kenapa?" tanyaku heran.
"Kukira kau tipe yang malu-malu mau gitu, jadi nggak mau mengakui—adaw!" serunya saat aku menyikutnya.
"Sialan. Aku bukan tsundere."
~.~
"Selamat datang, –"
"Jeon Jungkook."
"Jeon Jungkook-ssi." Ujar appa Taehyung. "Silakan duduk."
Aku pun duduk. Aku makan dalam diam, mengangkat sikuku dari meja, dan makan perlahan-lahan. Sejauh ini perjamuan makan berjalan dengan lancar.
"Joy, bisa kau tuangkan wine untuk ayah?" Tanya appa Taehyung sambil tersenyum.
Joy mengangguk. Ia berjalan dengan anggun, kemudian menuangkan wine itu dengan gerakan yang elegan.
"Terima kasih. Jungkook-ssi, bagaimana kalau kau menuangkan wine untuk Taehyung?" Tanya appa Taehyung.
Gawat! Ini satu-satunya yang aku tidak bisa. Appa dan eomma melarangku minum wine, jadi mereka tidak pernah meminum wine di hadapanku dan tidak pernah mengajarkanku.
"Kenapa? Kau tidak bisa?" Tanya appa Taehyung dengan senyum yang meremehkan.
"Bisa." Sahutku.
Oke, tenang. Ini tidak akan sulit, aku hanya perlu membuka botol itu, lalu menuangkan wine-nya. Mungkin sama dengan cara menuangkan teh.
Aku pun berjalan mengambil wine itu dan menuangnya ke gelas Taehyung, tapi saat aku membuka botol wine itu, tutupnya terbang karena aku menariknya terlalu keras, dan jatuh di kepala appa Taehyung. Anehnya, aku tidak merasa bersalah, tapi justru geli. Aku berusaha menahan tawaku tapi gagal, yang menuai geraman darinya. Oke, aku dalam masalah. Aku pun segera menuangkan wine itu, dan kembali duduk.
"Maafkan saya." Ujarku tanpa nada menyesal sama sekali.
"Tidak apa-apa. Oh iya Joy, masakanmu enak sekali hari ini. Bukan begitu, sayang?" Tanya appa Taehyung pada eomma Taehyung.
Eomma Taehyung hanya mengangguk.
"Bagaimana denganmu Jungkook-ssi? Apakah kau bisa memasak?" Tanya appa Taehyung dengan senyum yang menyebalkan.
Pergerakanku pun terhenti mendengar pertanyaan sensitif itu.
"Tidak." Jawabku dingin.
"Menyedihkan sekali, tidak bisa memasak, tidak bisa membuka wine. Jangan-jangan kau juga tidak tahu caranya menghormati orang yang lebih tua ya? Mengingat kau tertawa tadi."
CRACK!
Pergerakan semua orang terhenti ketika melihatku yang merusakkan piring karena memotong daging steak terlalu dalam. Aku emosi.
"Dengar ya pak tua, aku mungkin tidak bisa membuka memasak, dan tidak bisa membuka wine, tapi aku orang yang memiliki tata krama dan sopan santun. Justru kau yang harus dipertanyakan. Apakah seorang yang memiliki sopan santun dan tata krama akan mempermalukan orang yang baru mereka temui di depan banyak orang?" tanyaku, membuatnya berjengit tidak suka.
"Dan satu lagi, aku tidak peduli kau merestuiku atau tidak dengan Taehyung karena apapun yang terjadi Taehyung akan tetap bersamaku dan tak ada yang bisa kau lakukan untuk itu." Ujarku sambil menarik Taehyung keluar.
"Oh ya? Kim Taehyung. Tetap di sini." Ujar appa Taehyung dengan nada memerintah yang membuat Taehyung menghentikan langkahnya.
"Lihat?" ujar appa Taehyung dengan nada angkuhnya.
Aku hanya tersenyum meremehkan.
"Taehyung, untuk apa kau mendengarkannya? Dia tidak menggunakan mata merahnya—oh ralat, dia tidak mempunyai mata merah yang bisa mengendalikan para separuh naga." Ujarku membuat Taehyung dan appa Taehyung terkejut.
"Kenapa kau terkejut? Kau tidak mengetahuinya? Oh tentu saja, karena Yang Mulia Kim Chanyeol merahasiakan hal itu agar Taehyung tetap berada dalam kendalinya dan semua orang tetap menghormatinya dan bukannya mengormati Taehyung, alfa superior sejati dan satu-satunya." Ujarku lagi.
"Apa maksudmu?" Tanya Taehyung.
"Alfa superior adalah pemimpin dari semua separuh naga. Pemimpin hanya ada satu, maka jika seorang calon alfa superior lahir telah memasuki masa pendewasaan, kekuatan alfa superior sebelumnya akan menghilang. Appa-mu menjauhkanmu dari berbagai teknologi dan hanya memberi home schooling agar kau tidak tahu mengenai hal itu, tidak mencari tahu tentang hal itu, dan hanya mengetahui hal-hal yang penting saja."
"Tidak mungkin. Abeoji, itu tidak benar 'kan? Bukan 'kah dulu abeoji yang mengajariku kekuatan itu?" Tanya Taehyung.
"Ya, dia bisa mengajarimu karena saat itu kekuatan Alfa Superior belum sepenuhnya tertanam padamu. Tapi ketika kau sudah menguasai semuanya, maka ayahmu tak ubahlah dengan alfa biasa." Jelasku. "Dan oh, semua orang tidak ada yang tahu kecuali mendiang harabeoji dan halmeonimu. Tentu saja karena appa-mu tidak mengijinkan adanya teknologi dan menyembunyikan tempat ini. Benar begitu?"
Appa Taehyung menyeringai, kemudian tertawa.
"Baiklah, kau menang Jeon Jungkook."
Aku hanya tersenyum angkuh untuk menanggapinya.
"Tu-tunggu dulu, jadi aku diijinkan untuk pergi bersama Jungkook?" Tanya Taehyung. "Begitu saja?"
"Ya, tingkahnya membuatku sangat tertarik. Lagipula, jika aku menghalangimu kau sudah tahu semuanya. Kau bisa saja menggunakan mata merahmu untuk memerintahku agar mengijinkanmu pergi dengannya." Ujar appa Taehyung.
"Yey!" seru Taehyung sambil memelukku dan melompat-lompat.
~.~
Keesokan harinya, kami berpamitan untuk kembali ke Seoul. Appa dan eomma Taehyung mengantar kami sampai ke perbatasan.
"Abeoji, terima kasih sudah mengijinkanku tinggal bersama Jungkook di Seoul." Ujar Taehyung.
"Iya, tapi kau harus kembali ke sini ketika ayah meninggal. Tempat ini membutuhkan pemimpinnya." Ucap Appa Taehyung.
"Jangan bicara begitu. Abeoji tidak akan meninggal."
"Hahaha iya. Oh iya, maafkan ayah ya." Ujar appa Taehyung. "Semalam ayah berpikir bahwa ayah tidak seharusnya melakukan itu padamu. Bahwa memang seharusnya kaulah pemimpin para separuh naga. Jungkook-ah, terima kasih sudah menyadarkan pak tua ini."
Aku pun merona malu mendengarnya karena aku teringat betapa tidak sopannya aku memanggilnya pak tua semalam.
"Oh iya, kau tidak mau berterima kasih pada pak tua ini karena sudah mengijinkanmu mengambil anaknya yang paling berharga?" Tanya Appa Taehyung.
Aku tersenyum kemudian mencium pipi appa Taehyung.
"Terima kasih." Ujarku sambil tersenyum dan menarik Taehyung pergi.
~.~
"YA! Kenapa kau melakukan itu?" Tanya Taehyung.
"Melakukan apa?"
"Mencium abeoji!"
"Loh, 'kan sebagai rasa terima kasih dan permintaan maaf karena aku tidak sopan semalam."
"Tetap saja aku tidak suka! Kau tidak ingat semalam abeoji mengatakan ia tertarik padamu?"
"Hahaha! Tertarik bukan dalam konteks itu, Taehyung. Beliau hanya tertarik untuk mengenalku lebih jauh. Kau ini cemburuan sekali." Ujarku sambil tertawa kecil sebelum aku menciumnya.
Bola mata Taehyung membulat karena terkejut, aku hanya memejamkan mataku, mengalungkan tanganku di lehernya dan memperdalam ciumanku. Taehyung yang sudah sadar dengan keterkejutannya pun membalas ciumanku dengan lembut, lalu menjilat bibirku, meminta akses lebih jauh. Aku pun membuka mulutku dengan senang hati, membiarkannya menjelajahi mulutku dan mengabsen gigiku satu persatu. Kemudian karena kebutuhan oksigen, aku pun mendorongnya menjauh. Aku mengambil nafas sebanyak-banyaknya sementara Taehyung menenggelamkan kepalanya di leherku untuk memberi tanda bahwa aku adalah miliknya. Ia menggigit pelan leherku dan menyesapnya, membuatku sedikit melenguh.
"Dengan begini, kau milikku selamanya." Ujarnya.
"Dan kau milikku selamanya." Balasku.
Taehyung pun terseyum puas sebelum menciumku lagi.
~THE END~
A/N: Wah akhirnya selesai juga. Maaf update yang lama. Ujian take home dan modem yang selalu dibawa kakakku penyebab semua ini. Sebagai permintaan maaf, Hyejin memberikan chapter yang super panjang dan bersatunya VKook. Mansae~! Mansae, Mansae, Mansae yeah~! Oke cukup, kalau Hyejin keterusan nyanyi, nanti kaca pecah. Yup, inilah endingnya~ siapa yang berhasil menebak bahwa mereka nggak akan jadi pergi? Hehe maaf ya yang berharap banyaknya momen VKook di chap ini karena mengira mereka bakal kencan di tempat sepi. Maaf juga yang berharap adanya NC, karena FF ini sudah tamat dan tanpa NC. Okay, Hyejin mau balas review dulu.
Balasan review:
dila kim: Muucih. Nah, sudah terjawab 'kan hubungan antara Taehyung dengan Daegu? Oke, thx reviewnya~
funf: Nah lho mereka nggak jadi kemana-mana wkwkwk. Konfliknya cukup berat hehe. Thx reviewnya~
Nothing: Eak, nggak ada NC nih wkwkwk. Maap lama, nggak ada modem nih. Ini udah banyak isi chapternya~ duh Hyejin nggak bisa bikin yang direbutin-direbutin gitu. Apalagi Kookie. Hyejin nggak tahu siapa yang deket sama Kookie selain anak BTS. Makasih reviewnya btw~
emma: Nggak diajak kemana-mana padahal wkwkwk. Iya, udah jadian mereka. Makasih ya, makasih juga buat reviewnya~
BunnyKookie: Iya nih Kookie wkwkwk. Iya dong, siapa yang nggak mau anaknya jadian sama Alfa Superior yang hanya satu-satunya? Iya emang ada sesuatu hehe. Ini udah jadian wkwkwk tapi Kookienya kecewa sekali hehe. Nggak kok, 'kan Taehyung menghindar hehe. Makasih reviewnya btw~
Guest: Hahaha makasih~ ini udah lanjut kok. Thx reviewnya~
Anaknya Emak Jungkook dan Babeh Taehyung: Gpp kok hehe… makasih ya. Buat reviewnya juga~
Ok, ini the last chap, jadi makasih ya buat semuanya yang udah ngereview, nge-fav, dan follow ff gak jelas ini. Semua itu semangat buat aku buat ngelanjutin di sela-sela tugas yang bejibun ini. Sekali lagi terima kasih. Sampai jumpa~
