Hallo lagi. thanks ya buat yang masih mau baca ini cerita khayal. yaudah, langsung baca aja deh ch 2 ini.

maafkan buat segala typo(s) yang bertebaran dan sekali lagi aku ingatkan, ini YAOI. Happy reading!

.

.

Hari masih pagi buta tetapi untuk beberapa orang, mereka sudah sibuk dengan rutinitas masing-masing. Paman Kwang Soo contohnya, ia sudah sibuk membersihkan halaman, mencuci mobilnya dan memandikan burung peliharaannya.

"Selamat pagi, paman." Sapa Sehun kepada orang yang sibuk memotong rumput. "Ini, aku bawakan paman teh manis."

Sehun menyodorkan secangkir teh manis tersebut kepada pamannya dan hendak kembali lagi ke dalam. Akan tetapi, suara pamannya mencegah niatnya. "Sehun, liburanmu masih panjang, bukan?" tanya paman Kwang Soo sambil menyeruput teh manis miliknya.

Sehun mengangguk.

"Chanyeol memiliki kegiatan akhir tahun. Dia akan ke Jepang minggu ini." Paman Kwang Soo berjalan ke arah kran untuk mematikan air. Kedatangan Chanyeol tiba-tiba ke halaman membuat Sehun terkejut.

"Baguslah, kalau dia akan ke Jepang."Lontar sehun disengaja terdengar tak peduli. "Jadi aku tidak perlu berbagi kamar lagi dengannya."

Chanyeol mendengus dan Paman Kwang Soo lantas menatap dua bocah itu selidik. "Jangan berbicara seperti itu, Sehun."

"Tapi paman, dia itu—"

"Paman akan pergi ke Thailand dan paman tidak tahu kapan akan kembali karena tugas paman juga tidak bisa dipastikan. Paman akan senang jika kau pergi bersama Chanyeol." jelas paman Kwang Soo.

"Iya, apalagi ini waktu liburan, bukan? Apa kau hanya di rumah saja?" Chanyeol merangkul pundak Sehun yang dengan cepat ditepis oleh Sehun.

"Tapi—"

"Sehun, paman tidak mau kalau kau didatangi oleh pemuda China itu ketika kau sendiri. Setidaknya ada Chanyeol yang akan melindungimu."

"Pemuda China? Siapa Paman?" sontak mata Chanyeol menjadi membulat mendengar ucapan Paman.

"Namanya Zitao. Dia selalu meneror Sehun. Aku tidak mau kalau dia sampai melukai Sehun. kau tahu, paman begitu anti dengan hubungan sesama jenis."

"HAH?!"

Mendengar reaksi Chanyeol yang tampak begitu kaget, Sehun segera menendang kaki Chanyeol dan paman Kwang Soo sepertinya tak melihatnya. Karena jika iya, maka ia akan curiga.

"Nah, jadi bagaimana?" Paman Kwang Soo menatap Sehun dengan wajah penuh keringat.

"Terserah Paman saja." pasrah Sehun yang kemudian masuk ke dalam tanpa mengacuhkan Chanyeol dan paman Kwang Soo yang saling bertukar pandang karena bingung.

Sehun masuk ke kamarnya dengan fikiran campur aduk. Dia ingin sekali berbagi cerita dengan Luhan tapi dia tidak mungkin keluar rumah. Pasti Chanyeol akan ikut dengannya. Apalagi setelah penjelasan singkat dari paman Kwang Soo soal Zitao. Chanyeol dipastikan akan membuat alasan untuk membuntutinya selalu.

Tidak lama setelah itu, Chanyeol masuk dan menyandarkan tubuh di pintu yang suah ia tutup. Matanya berkilat dan dengan gaya angkuhnya, ia melipat kedua tangannya di dada. "Jadi, ada hubungan apa kau dengan Zitao?"

"Entahlah." Sehun menggeleng. Ia berdiri setelah tadi duduk termenung. Fikirannya berfikir dengan cepat untuk mencari solusi agar ia terhindar dari interogasiannya Chanyeol.

"Jadi kau sempat berpacaran setelah kita putus?" Chanyeol kembali bertanya dengan wajah kesal.

"Apa masalahnya denganmu?" jawab Sehun seraya memalingkan muka. Dia lantas berjalan ke toilet dan memungut keranjang cucian kotor yang berada tepat di sebelah pintu.

"Memang tidak ada. Tapi setelah mendengar penjelasan dari paman, kurasa aku harus tahu semua hal."

"Oke," Sehun memutar kepala. "Yang perlu kau tahu adalah, Zitao tidak mencampakkanku di malam hari saat hujan dan pergi meninggalkanku begitu saja. Setidaknya di sini, akulah yang meninggalkan dia. Jadi, hilangkan fikiran burukmu tentang dirinya."

Chanyeol menegakkan posisi berdirinya dan merubah wajah menjadi serius. Sehun menyindirnya. Tapi, Chanyeol terpaksa meninggalkan Sehun waktu itu karena diancam ibunya yang kebetulan sedang sakit parah.

"Kau memang benar." Kata Chanyeol dengan suara parau.

Sehun menghampirinya dengan keranjang cucian di gotongnya. "Minggir."

Dari posisi membelakangi Chanyeol, Sehun mengatakan dengan tanpa suara 'Tidak, hyung. Kenapa kau malah berkata seperti itu. kau memang bodoh. Apa kau tidak tahu kalau aku masih mencintaimu? Cepat cegah aku, hyung. Hyung, kumohon cegah aku untuk pergi saat ini.'

Dengan mulut komat-kamit sendiri, Sehun memperlambat jalannya berharap Chanyeol akan mencegahnya pergi. Tetapi, yang Sehun dapatkan hanya hening. Bahkan Chanyeol sudah masuk ke dalam kamar tanpa memedulikan Sehun.

Karena penasaran, Sehun kembali lagi dan mendapati Chanyeol duduk di kasur dengan tatapan turun. Memandangi karpet di bawahnya. "Hei." Sehun memanggil dari depan pintu. "Paman memanggilmu untuk sarapan."

Chanyeol melongok dan segera berdiri. Terlihat dari cara berjalannya yang lemas dan tak bersemangat, menandakan dirinya begitu menyesali perbuatannya dua tahun lalu.

"Chanyeol, apa kau suka manis?" suara paman Kwang Soo menyentaknya hingga terkejut.

"Aku—"

"Dia tidak suka, paman." Sehun menyahuti cepat.

Chanyeol mendongak, menatap Sehun yang berada di dapur dan paman Kwang Soo mengangkat sebelah alisnya.

"Kau tahu itu, Sehun?" Paman Kwang Soo bertanya penasaran.

"Iya." Sehun mengangguk dan memikirkan alasan yang tepat. "Karena semalam Chanyeol-hyung berolah raga keras, itu pasti pertanda jika ia tidak terlalu suka gula. Maksudku dia menjaga kadar gula dalam darahnya. Oh tidak, begini, dia seseorang yang… bukan, dia pemerhati kesehatan…. Atau—"

Chanyeol mendongakkan kepala dan menatap langit-langit rumah. Ia memang tidak suka manis dan dia semalam juga tidak olah raga keras. Dia hanya menghabiskan malam dengan Sehun. Mungkin sedikit berkeringat semalam tapi Sehun benar-benar seperti yang dulu atau mungkin sekarang dia lebih sedikit nakal, fikirnya.

"Ah, ya sudah. Aku bisa makan yang lainnya." Chanyeol mengalihkan topic pembicaraan. Sehun bernafas lega kemudian.

"Oh, tidak. Biarkan Sehun membuatkanmu nasi goreng atau—"

"Iya, tentu saja." Sehun mengangguk cepat dan mengambil bahan-bahan dari lemari es. Membuatkan Chanyeol nasi goreng, ia melakukan ini untuk berterimakasih karena Chanyeol menyelamatkannya dalam situasi yang menegangkan tadi.

"Kau tahu, Sehun, aku baru saja menyelamatkanmu. Kau harus membayarnya."

Suara Chanyeol membuat Sehun hampir saja memotong jarinya.

"Apa kau tidak lihat jika sekarang sebagai wujud rasa terimakasihku, aku membuatkanmu nasi goreng?" Sehun tidak memalingkan pandangannya ke Chanyeol sama sekali.

"Dengar, melihatmu memasak, aku jadi teringat ketika kau bermalam di apartemenku dan paginya kau membuatkanku makanan. Momen seperti sangat sulit aku lupakan." Ujar Chanyeol sambil terus memerhatikan Sehun dari Belakang.

Chanyeol sedikit bebas, karena Paman Kwang Soo makan lebih dulu dan dia hanya mengambil satu roti kemudian membawanya ke ruang tv. Jadi di dapur hanya ada Sehun dan dirinya saja.

"Iya, kau memang benar." Jawab Sehun. "Satu lagi momen yang juga tak bisa kulupakan adalah ketika aku sendirian di stasiun dan melihat kau pergi bersama mobil keluargamu."

Dengan cepat Chanyeol menarik Sehun, mengecup bibir Sehun. Mengulumnya dan menyesapnya dengan halus dan lembut. Chanyeol tak peduli walaupun Sehun mencoba mendorongnya berkali-kali. Chanyeol tak peduli dengan yang lain. Saat ini hanya dia dan Sehun. Ia mengangkat tubuh Sehun dan mendudukkannya di meja dapur. Menyingkirkan apapun yang ada di meja itu dengan sembarangan dan—

"Sehun? Chanyeol?" Terdengar suara paman Kwang Soo dari arah meja makan. "Apa yang terjadi? ada apa? Kenapa terdengar berisik sekali?"

Paman Kwang Soo menghampiri mereka.

"Tidak ada, paman." Chanyeol menggeleng dan tangannya mengusap wajahnya yang sudah dibuat berkeringat oleh Sehun. Dengan cepat, Sehun berlari ke toilet di samping dapur dan meninggalkan Chanyeol berhadapan dengan pamannya. "Tadi ada cicak di sini"

Sehun yang berada di toilet dan tengah berkumur-kumur itu menyayangkan kenapa pamannya tidak memarahi Chanyeol saja karena akibat ulahnya beberapa alat dapur berantakan dan Sehun yakin tadi itu juga terdengar ada yang pecah.

"Ya sudah." Angguk paman Kwang Soo. Ia kemudian pergi meninggalkan Chanyeol.

"Sehun?!" Chanyeol membuka pintu toilet dan sungguh hal itu membuat Sehun hampir saja terkena serangan jantung.

"Ah, Tuhan. Hei kau hampir saja membuatku ma—"

"Hyu…..mmpppmmphh….nnnngghhhh….."

"Aduh!" Chanyeol berteriak mengaduh sambil memegangi kakinya. "Sehun, kenapa kau menendang kakiku, huh?"

"Kau menyebalkan!" Protes Sehun dengan wajah judesnya. "Kenapa kau selalu saja memperlakukanku seperti aku ini pemuas hasratmu, huh? Kita sudah tidak ada apa-apa. Jadi berhentilah memperlakukanku seperti itu."

"Sehun, harus kuakui, setelah berpisah denganmu aku bahkan tidak berpacaran dengan siapapun. Aku masih men—"

"Paman?!"

Chanyeol memaku di tempat ketika melihat sosok paman Kwang Soo berdiri di depannya dengan tatapan wajah yang sulit diartikan. Chanyeol hampir saja pingsan di tempat kalau saja ia mengingat jika Paman Kwang Soo begitu anti dengan hubungan sesama jenis.

"Paman, aku.."

"Chanyeol, paman tahu begaimana perasaanmu. Kau pasti sangat sedih karena kehilangan orang tuamu, tapi kau—"

Keringat dingin telah menjalari seluruh tubuh Chanyeol. semua urat di tubuhnya menjadi tegang. Dimana Sehun? Chanyeol tidak menemukan Sehun, padahal Sehun baru saja keluar satu menit sebelum dia.

"Chanyeol, boleh paman meminta sesuatu padamu?"

Chanyeol mengangguk.

"Sehun itu anak yang manis dan dia sangat polos. Aku tidak akan membiarkan orang yang tidak bertanggung jawab mengganggunya atau melukainya. Dia sudah seperti anakku sendiri."

'Oke, baiklah Chanyeol. sekarang kau dalam masalah besar. Jangan berfikir tentang mendapatkan Sehun lagi. berfikirlah hukuman apa yang akan kau dapat dari paman Kwang Soo atas perbuatanmu yang ceroboh.'

"Chanyeol? hei, kau melamun?" Paman Kwang Soo menggoyangkan tubuh Chanyeol dan menyadarkan pemuda itu dari lamunannya.

"Oh… Ah… uhm.. aku baik-baik saja."

Chanyeol tersenyum polos dan entah kenapa otaknya merasa kekurangan pasokan oksigen dan berakibat pada jaringan teknis dalam dirinya. Dia bergidik sendiri dan Paman Kwang Soo khawatir soal itu.

"Ah, bagini Chanyeol." Paman Kwang Soo menarik lalu menghelakan nafasnya cepat. "Ternyata paman ke Thailand sore ini. Ini sebuah informasi yang sangat mendadak tapi bagaimanapun juga paman tidak bisa menolaknya."

Chanyeol memiringkan kepala dan ketakutan dalam dirinya berangsur menghilang. Ia senyum-senyum sendiri dan sekali lagi paman Kwang Soo khawatir akan hal itu.

"Paman ingin kau menjaga Sehun sebaik mungkin. Kemanapun kalian pergi, kalian harus bersama. Paman memberikan Sehun kepadamu. Jaga dia. Dia sangat berharga bagi paman. Tolong jaga dia, Chanyeol. paman percayakan padamu."

"Uh, paman." Chanyeol tersenyum getir. Dia berfikir jika perkataan Paman Kwang Soo sedikit berlebihan. "Paman bukan pergi untuk berperang, bukan?"

Paman Kwang Soo tidak tersenyum sedikit pun atau hanya berekspresi lainnya. Wajahnya datar. "Iya. Kau berfikir aku berlebihan, bukan?"

Paman Kwang Soo berlalu meninggalkan Chanyeol yang bingung sendiri.

"Hei, ini nasinya." Sehun membawakan piring berisi nasi goreng dan meletakkannya di meja makan.

Chanyeol berjalan sedikit berlari menghampiri Sehun yang sudah berpakaian rapi. "Kau mau kemana?"

"Bukan urusanmu." Jawab Sehun seenaknya.

"Aku akan ikut." Tukas Chanyeol tegas.

"Apa?!" Sehun membulatkan mata juga mulutnya. "Kau tidak bisa seperti itu."

"Sehun, paman akan ke Thailand sore ini dan agar tidak terjebak macet paman akan berangkat sekarang. Kau tahu kalau jalan ke bandara itu sangat macet, bukan? Apalagi ini sedang libur akhir tahun." jelas Paman Kwang Soo sambil mengangkat koper-kopernya.

Sehun terperanjat kaget. "Tapi paman. Bukankah kau akan pergi pada akhir pekan?"

"Iya, tapi semuanya bisa berubah, Sehun. Ah, ya, paman mohon kau jangan membantah perkataan Chanyeol. apapun yang ia katakan, turuti saja. Paman tahu dia anak yang baik. dia akan menjagamu sama seperti paman menjagamu. Kau bisa, bukan?" Paman Kwang Soo melayangkan tatapannya terakhir pada Chanyeol.

"Tapi, Chan—"

"Sehun, paman telah mempercayakanmu pada Chanyeol."

"Tapi paman tidak tahu dia itu bagaimana." Sela Sehun

"Paman memang tidak tahu banyak tentang Chanyeol tapi kau tahu. Kau bersedia dicium dan tidur dengannya itu tandanya kau tahu bagaimana dia."

Chanyeol yang awalnya bernafas lega merasa jika tenggorokannya tercekat dan dia tak dapat bernafas lagi. Wajahnya pucat dan keringatnya bercucuran. Sehun meliriknya dengan sama-sama panik.

"Kalian jangan khawatir. Aku tidak akan marah untuk saat ini karena aku juga kebetulan akan pergi." Kwang Soo menunduk dan mengangkat kembali kopernya. Tersenyum dan merangkul Sehun lalu Chanyeol.

"Paman, kau tahu kalau aku sudah mengenal Chanyeol-hyung sebelumnya?"

Paman Kwang Soo mengangguk dan kembali tersenyum. Ia berjalan menuju pintu dan masuk ke mobilnya.

"Hati-hati, paman." Sehun dan Chanyeol malambai ke arah mobil yang melaju itu dengan fikiran campur aduk.

Sehun memandang mobil paman Kwang Soo semakin menjauh dan buram. Lalu hilang ketika mobil itu berbelok. Sehun masih saja berdiri melamun menatap jalan. Chanyeol melirik Sehun disampingnya dengan heran. "Menurutmu, paman akan memberi kita hukuman?"

Sehun mengedikkan bahu dan berjalan melewati Chanyeol. "Ini semua karena mu aku jadi stress. Aku butuh sendiri menenangkan fikiran. Jadi kau jangan ikut!"

"Tunggu, Sehun. Aku tidak akan mengambil risiko menerima dua hukuman sekaligus."

Sehun memandang Chanyeol dengan ekspresi lelah. "Chanyeol, berhentilah membesar-besarkan masalah." Pinta Sehun masih mempertahankan ekspresi lelahnya. "Aku sudah pernah mengatakan padamu, aku tidak ingin usahaku selama dua tahun terakhir ini sia-sia hanya karena kehadiran seseorang yang bahkan tak kuinginkan."

Chanyeol menyenderkan tubuhnya di pintu seolah-olah dia sudah sangat paham dan tak perlu mendengar Sehun menjelaskannya lagi. "Sehun, berhentilah membohongi dirimu sendiri."

Sehun tak peduli, ia memutar tubuhnya dan berjalan meninggalkan Chanyeol di depan pintu yang saat ini sedang berteriak-teriak memanggil nama Sehun.

Belum jauh meninggalkan kediamannya, Sehun dikejutkan dengan sebuah mobil kinclong yang terparkir tepat di depannya. Tak lama, kaca mobil itu turun dan memperlihatkan perempuan cantik dengan rambut diikat rapi. Sehun masih memandang perempuan itu dengan bingung.

Perempuan itu turun dan sebuah gaun indah menempel pas di tubuh semampainya. Tersenyum dan kemudian perempuan itu berkata "Hai, apa kau Oh Sehun?"

Sehun mengangguk kikuk.

"Kenalkan, aku istri Chanyeol." perempuan itu masih memamerkan sederet gigi putihnya dengan anggun, tetapi dia kembali melanjutkan dengan "Park Chanyeol."

Seolah-olah Sehun ini bisu dan tuli, perempuan yang diakui memang cantik ini mengulang dalam menyebutkan nama Chanyeol yang justru membuat Sehun harus menerima jutaan tusukan tepat di jantungnya.

"Sehun, kau ha—"

Chanyeol tidak melanjutkan kalimatnya. Lidahnya kaku dan jantungnya berhenti memompa darah sehingga Chanyeol hampir saja pingsan kalau saja Sehun tak segera menyadarkannya.

"Istrimu ini sedang mencarimu."

Dengan segala perasaan sedih yang menumpuk dan membebani setiap langkahnya, Sehun berlalu meninggalkan Chanyeol dan entahlah-siapa itu. Sehun berjalan dengan langkah gontai dan nyawa melayang. Jiwanya pergi entah kemana. Yang ada hanya sebuah olokan dari dalam hatinya terdalam 'Itulah dia. Laki-laki yang selama ini kau tunggu. Sudah puaskan, kau dengan apa yang baru saja kau lihat?'

.

.

"Untuk apa kau mencariku? Untuk apa kau kemari? Ibuku sudah tiada, jadi aku sudah tidak terikat pada apapun. Termasuk dirimu atau pernikahan konyol itu." ujar Chanyeol dengan suara tegas. Jelas perempuan itu tak bisa untuk tak menangis. Perkataan Chanyeol benar-benar akan membuat siapa saja akan tersakiti.

"Aku…. Aku… aku hamil." Gumam perempuan yang ternyata bernama Krystal.

TBC

So, readers yang keren2, gimana nih? Masih bisa dilanjut apa enggak? Review aja kali ya.. oke deh, aku tunggu tanggapan kalian. Makasihhhh

oh, iya. buat yang belum review, ayo dong review. aku merasa dihargai banget loh kalo review ramai.