Warn of typo(s)! This is YAOI!
Happy reading!
.
.
.
"Hari ini cerah sekali loh, kenapa wajahmu sangat mendung begitu?"
Seseorang dari dapur dan perjalanan menuju ruang TV itu memasang wajah penasaran. Sahabatnya yang bernama Oh Sehun itu adalah penyebab dia begitu penasaran.
"Itu hanya perasaanmu saja." kata Sehun tanpa melihat lawan bicaranya.
"Huh! Sudahlah. Bicara padamu seperti bicara sendiri." dengus laki-laki dengan kaos kedodoran itu. dia menghampiri teman lainnya yang sedang sibuk memberi makan pada ikan kesayangannya. "Jadi, apa kau bersedia menceritakannya, Lu?"
Laki-laki bernama Luhan itu akhirnya menghela nafas panjang. Setelah puas dengan ikannya, ia lantas menoleh ke orang yang mengajaknya bicara. "Seperti kau tidak tahu saja, Sehun itu terlalu bodoh sampai dia bisa masuk ke dalam lubang yang sama dengan kesalahan yang sama."
Jongin berdecak dan melirik ke Sehun yang sedang membaca Koran tetapi asli, wajahnya benar-benar mengenaskan. Entah berita apa yang ia baca, tetapi Jongin tidak percaya wajahnya itu mengenaskan akibat berita yang ia baca.
"Chanyeol datang kembali ke Korea. Dan sebuah keajaiban, Chanyeol bisa tinggal serumah dengan Sehun." Luhan memakan keripik yang Jongin suguhkan.
"Jadi Sehun bertemu Chanyeol?"
"Bukan hanya bertemu, tapi mereka juga sudah tidur bersama." Koreksi Luhan dengan muka judes.
Sehun tak menanggapi kedua sahabatnya itu. ia lebih memilih untuk merenungkan nasibnya yang, sumpah apes banget. Chanyeol sudah menikah dengan perempuan itu? apa itu benar? Perempuan itu juga cantik, apa mungkin Chanyeol hanya memanfaatkan ku saja? jadi selama ini dia pura-pura? Oh, sial.
.
.
.
Sehun memutuskan untuk pulang saja setelah dirinya diceramahi panjang lebar oleh Luhan. Teman atau lebih tepatnya sahabat yang juga merangkap sebagai kakak sepupu Sehun itu memang sangat cerewet dalam hal percintaan Sehun. dia selalu ikut campur dalam setiap permasalahan yang Sehun hadapi. Tetapi di luar dari semua kecerewetannya, Luhan adalah orang yang sangat penyabar dan selalu mengasihi Sehun dengan tulus. Hanya saja terkadang caranya membuat Sehun berang dengannya, seperti saat ini.
Sehun berjalan sambil sesekali menghentakkan kakinya jengkel ke tanah yang menjadi pelampiasan kekecewaannya. Meskipun dirinya pernah disakiti oleh Chanyeol dulu, tetapi ketika pemuda itu datang kembali ke kehidupan Sehun dengan segala sifatnya yang turut serta membuai Sehun, membuat pemuda manis itu tak dapat membohongi perasaannya yang sesungguhnya masih menyimpan rasa yang begitu besar kepada Park Chanyeol ini. akan tetapi, sekali lagi Chanyeol menyakiti hatinya, merusak kepercayaannya, menusuk dadanya tepat di jantungnya, dan kemudian dengan hadiah yang mengejutkan, ternyata Chanyeol sudah memiliki istri.
Tidakkah, ada yang lebih buruk dari hanya sekedar pengkhianatan?, Dewa batinnya meronta sedih. Sehun tak sadar air matanya menggenang. Dalam kesunyian malam itu, Sehun hanya mampu berdo'a jika kejadian yang tadi terjadi hanya mimpi dan semuanya akan baik-baik lagi ketika dirinya membuka mata di pagi hari nanti. Sehun mencoba menipu dirinya sendiri dengan mengkhayalkan jika semuanya hanya bunga tidurnya dan ketika matanya terbuka untuk paginya, maka yang dilihatnya adalah Chanyeol yang tersenyum di samping dirinya. Tanpa pernah mengingat kejadian tadi pagi.
Sekali lagi, dia tahu itu hanya buatan alam bawah sadarnya. Tidak ada yang tidur atau yang bermimpi. Semuanya jelas nyata. rasa sakit itu cukup membuktikan jika kejadian pagi tadi adalah sebuah kenyataan. Sehun bukan orang bodoh seperti kata Luhan. dia tahu memang salah besar jika dirinya mengharapkan Chanyeol akan kembali padanya. Dia tahu, lebih dari sekedar tahu. Hingga saat itu, di tempat itu, Sehun memutuskan dirinya akan benar-benar melupakan Chanyeol. tidak ada masa lalu lagi. semuanya sudah cukup dan Sehun tak mau sedih. Kering sudah air matanya untuk Chanyeol.
Tidak ada Chanyeol. lupakan dia! Menghindar dari dia!
.
.
.
"Hei, Lu. Maaf bertamu di rumahmu sepagi ini." Kata Chanyeol dengan wajah pucat dan kantong mata tebal.
Luhan yang saat itu memang dalam keadaan separuh sadar hanya menguap saja melihat sosok tinggi di depannya dengan tampang berantakan. "Iya, ada apa sih?"
"Sehun semalam tidak pulang. Aku sangat khawatir. Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi aku tetap tidak menemukannya." Adu Chanyeol dengan nafas besaut-sautan. Luhan kembali menguap. Tidak merespon Chanyeol yang seperti kebakaran jenggot.
"LU!"
Chanyeol menyentak tubuh Luhan dan seketika membuat Luhan yang ternyata tertidur sambil berdiri bersandar di kusen pintu melonjak kaget. Kini matanya benar-benar terbuka lebar dan melihat sosok Chanyeol, membuat Luhan melongo sambil memajukan tubuhnya. Ia mengerjap-ngerjap memastikan jika penglihatannya tak salah.
"Chanyeol?!" Sahut Luhan. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Chanyeol mengibaskan tangan dan mengatakan "Tidak ada waktu untuk menjelaskan lagi, Lu. Sehun tidak pulang semalam. Aku sudah mencarinya kemana-mana dan tetap tidak menemukannya."
Seketika respon serta ekspresi Luhan yang sebenarnya muncul. Dia melompat panik dan wajahnya berubah pucat. Udara dingin yang menerpa keduanya membuat wajah mereka semakin memucat. "Kau ini bagaimana! Apa kau tidak sadar ini semua karena ulahmu?!"
Mendengar Luhan yang seketika memakinya, Chanyeol hanya bisa diam dan menunduk. Luhan juga sudah ia anggap sebagai kakak sendiri. Jadi, apa saja yang terlontar dari mulutnya, Chanyeol selalu mendengarkan tanpa pernah membantah. Tetapi untuk saat ini, yang Chanyeol butuhkan bukan nasehat melainkan bantuan untuk mencari Sehun yang hilang atau lebih tepatnya menghilangkan diri.
"Lu, kali ini lebih baik kita segera mencarinya. Kau bisa memarahiku nanti." Kata Chanyeol dengan tegas. Luhan sedikit terperanjat dan akhirnya, dirinya yang berubah menjadi nurut dengan perkataan Chanyeol.
"Ya, sudah. Aku akan menghubungi Jongin."
.
.
.
Hari sudah lewat jam enam pagi. Sehun membuka matanya perlahan dan sinar matahari dengan tajam menusuk bola matanya hingga membuatnya harus memicing. Perlahan-lahan ia buka matanya dengan pusing yang amat sangat dirasakannya di kepala. Semalam dirinya terlelap di halte bus sambil terduduk setelah menangisi kehidupannya. Sehun mencoba untuk berdiri tetapi tubuhnya terlalu lemas. Sejak kemarin, dirinya tak makan sesuatu. Sarapan kemarin juga tidak sempat karena harus buru-buru ke rumah Luhan. kemudian, setelah sampai di rumah Luhan, dirinya harus menerima omel dan gerutuan Luhan. jadi sekarang perutnya benar-benar lapar dan kakinya begitu lemas hingga tak sanggup untuk berjalan.
Tak lama setelah itu, sebuah taksi berhenti dengan sembarangan di depan Sehun. pemuda itu masih mencoba mengumpulkan segenap nyawanya sebelum ia sadar jika seseorang yang keluar dari dalam taksi itu adalah Chanyeol.
Benar saja, Chanyeol keluar dari taksi. Penampilannya begitu buruk dengan kantung mata tebal, hitam dan sungguh menyeramkan. Sehun menyernyit. Ini Chanyeol, lalu bagaimana denganku?
"Astaga, Sehun. aku benar-benar senang bisa menemukanmu di sini. Ayo pulang."
Sehun tak bergeming. Kepalanya menunduk sambil kedua tangannya melingkar di perut, mencoba menahan lapar yang menyerang perutnya tak kenal situasi.
"Sehun, ayo." Ajak Chanyeol sambil menarik tangan Sehun.
Sehun diam saja dan masih mempertahankan posisinya sambil duduk menunduk memandang aspal dibawahnya. Chanyeol berdecak dan menggapai pundak Sehun lalu mengguncangnya. Chanyeol mendongakkan kepala Sehun dan menatapnya prihatin.
"Sehun, aku minta maaf." Kata Chanyeol dengan tulus.
Tidak ada respon dari Sehun. tetapi kemudian Sehun menepis tangan Chanyeol dan mendongak sendiri. "Dasar aneh! Sudah pergi sana! Aku benar-benar tidak ingin melihat wajahmu."
"Oke-oke. aku tidak ingin berdebat dengan siapapun. Ayo pulang lalu kita bicarakan."
"Aku tidak mau pulang."
Chanyeol terkesiap dan memandang Sehun dengan wajah menerawang. "Ayolah Sehun."
Segala bujuk rayu Chanyeol keluarkan untuk Sehun. tetapi, pemuda itu masih diselimuti oleh perasaan kesal dan kecewa yang begitu besar untuk Chanyeol. dengan berat hati, akhirnya Chanyeol melangkah meninggalkan Sehun yang masih duduk bak patung. Chanyeol kembali masuk ke dalam taksi dan mengubungi Luhan, lalu memberitahunya tentang Sehun. barangkali Luhan bisa membujuk Sehun untuk pulang.
Setelah Selesai berbicara dengan Luhan, Chanyeol melirik ke Sehun lagi dan, ASTAGA! Dimana Sehun? Chanyeol keluar lagi dari mobil dan kemudian mendapati Sehun terkulai tak berdaya di jalan. Ia segera mendekati Sehun dan kemudian mengangkat tubuh itu. dirasanya begitu panas kulit tubuh Sehun. dan wajah Sehun juga sangat pucat. Chanyeol benar-benar merasa bersalah kali ini.
.
.
.
Wajah Chanyeol terasa sangat panas begitu pula dengan matanya. Sebenarnya sejak tadi ia ingin menangis tapi saat itu masih ada Luhan dan dia. Ya, Chanyeol benar-benar berang saat Luhan memarahinya di depan Jongin. Hubungan Chanyeol dan Jongin tidak begitu akur karena Sehun. Dua pemuda itu sama-sama memiliki perasaan lebih ke Sehun dan akibat insiden itu, Chanyeol harus merasa rendah di hadapan Jongin.
Meskipun Chanyeol sudah berulang kali mengkode Luhan agar tak memarahinya di depan Jongin, tapi pemuda bermata rusa itu tak peduli dan terus melontarkan kata-kata makian untuk Chanyeol. Seperti "Dasar manusia tak berperasaan kau!" atau "Apa kau merasa kau begitu berharga?" Ya, setiap kata-kata itu sudah menohok hati Chanyeol dan sekaligus menjadi ejekan untuknya dari Jongin. Jelas-jelas Jongin selalu menyunggingkan senyum samar yang kurang lebih memiliki arti 'Rasakan! Memang kau itu tidak bisa membahagiakan Sehun. sudah lepaskan dia dan biarkan dia bersamaku. Lebih baik kau pergi dari sini atau sekalian enyah dari dunia.' Itulah yang Chanyeol tangkap dari setiap deheman atau sunggingan senyum Jongin.
"Sudah, Lu!" lerai Jongin. "Aku yakin Chanyeol tidak bermaksud membuat Sehun sakit hati. Semua yang terjadi itu di luar kendali. Benar, bukan? Chanyeol?"
Meskipun terdengar seperti melerai tapi sungguh, Chanyeol tak pernah berterima kasih untuk itu. malahan dia begitu terhina dengan ucapan Jongin. 'Jerk! Lebih baik diam daripada berpura-pura simpati.' Dengus Chanyeol dan menggerutu dalam hatinya.
"Dengar, ya Chanyeol!" Luhan menunjuk-nunjuk muka Chanyeol dengan jari telunjuknya. "Aku sangat menyayangi Sehun dan aku tidak suka melihat dia seperti ini. lebih tidak suka saat aku tahu kalau orang yang menyebabkannya adalah dirimu. Oh Tuhan. Kenapa Sehun harus bertemu dan mencintaimu?!"
Luhan pergi sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Tampak begitu frustasi dan lelah. Luhan melirik ke kamar Sehun. Pemuda itu belum siuman. Luhan tak sadar kalau air matanya jatuh. "Maafkan aku. Maafkan aku, Bibi." Katanya dengan suara lirih.
"Hei, mau kemana?" Jongin menatap Chanyeol yang berdiri.
Chanyeol membuang muka dan hanya berlalu begitu saja tanpa ingin sedikitpun menjawab pertanyaan Jongin. Tapi, Jongin juga tidak memikirkan itu. dia juga tidak peduli dengan jawaban Chanyeol. Dia mengambil ponselnya yang tergeletak di meja dan segera mengetikkan pesan berisi 'Good job!', entah untuk siapa.
.
.
"Halo." Kata Chanyeol dengan suara serak bak orang yang terkena batuk.
"APA?!" Mulut Chanyeol melongo dan matanya membelalak saking kagetnya.
"Saya….. saya….. keponakannya."
"Bukan. Saya Park Chanyeol."
"Iya, Oh Sehun itu juga keponakannya tapi saat ini dia sedang sakit."
"Ah, baiklah. Terima kasih untuk informasinya."
Ditutupnya telepon rumah itu dengan fikiran kacau balau. seseorang dari pihak rumah kepolisian memeberi kabar jika pesawat yang ditumpangi Paman Kwang Soo mengalami kecelakaan dan separuh dari awak pesawat dinyatakan hilang, termasuk Paman Kwang Soo.
Chanyeol terduduk dengan wajah terbenam di antara kedua tangannya yang terlipat dia atas meja. Dia begitu syok dengan kabar yang baru ia dengar. Ia memang tidak menonton tv akhir-akhir ini. apalagi setelah kedatangan Krystal dan hilangnya Sehun. fikirannya kacau. Ia tak tahu bagaimana mengatakannya pada Sehun. Sehun belum juga sadar hingga kini. Dokter yang datang tadi juga sudah memasang infuse dan menyuntikkan entah apalah ke tubuh Sehun. Dan Luhan, setidaknya untuk saat ini Chanyeol merasa sedikit tidak pening. Ya, Luhan pulang sekitar tiga jam yang lalu bersama dengan Jongin. Tapi, Chanyeol tidak akan kaget kalau besok pagi-pagi buta, Luhan sudah datang dan bersama dengan Jongin. Setidaknya Chanyeol memiliki waktu untuk sendiri tanpa ada yang mengomentarinya atau hanya menyunggingkan senyum ejekan untuknya.
Chanyeol kembali teringat kepada Sehun. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan dengan nyawa tak penuh dan langkah gontai menghampiri Sehun di kamarnya. Chanyeol masuk dan ketika melihat Sehun di atas kasur dengan mata terpejam dan tak berdaya seperti itu, ingin rasanya dia mengukum dirinya sendiri dan menggantikan posisi Sehun.
"Aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Benar-benar salah. Aku tidak mengatakan padamu kalau aku sudah menikah dengan wanita itu. Tapi, aku berani sumpah. Aku tidak menicintai dia. Tidak sama sekali. Kau tahu kalau hanya ibuku yang kumiliki dan dia tidak setuju dengan hubungan kita. Saat itu dia sakit, aku tidak bisa melawannya karena banyak hal yang membuatku tidak berdaya. Aku menikah dengan wanita itu dan saat ibuku telah meninggal, kutepati janjiku. Aku kembali lagi untukmu. Aku kembali. Sumpah. Aku tidak ada niatan sedikitpun untuk menyakitimu…lagi."
Chanyeol mengakhiri penjelasannya dengan mengecup kening Sehun dan mengusuk kepalanya dengan rasa bersalah menghantuinya. "Kumohon, jangan seperti ini."
Air matanya jatuh dan bibirnya kini bergetar. Sehun tampak rapuh tanpa orang disekelilingnya. Kedua orang tuanya telah tiada dan kini, pamannya. Chanyeol tak tahan untuk tak ambruk. Kedua lututnya bergetar dan batinnya tak sanggup menahan gengsinya untuk tak menangis lepas. "Aku minta maaf. Kau boleh menghukumku. Kau boleh membenciku. Menjauh dariku atau kau boleh melakukan apapun yang kau mau. Apapun. Aku takkan menghalangimu. Aku akan melepasmu dan jika kau ingin bersama dengan Jongin. Itu terserah. Aku tak memiliki hak atas dirimu lagi." isak tangis Chanyeol memenuhi ruangan kamar yang sunyi dan hening itu. Sehun masih tak bergerak. Chanyeol telah membenamkan kepalanya di samping tubuh Sehun dan tangan yang menggenggam telapak Sehun erat.
"Aku… aku… aku hanya mau kau bahagia. Tapi, kumohon. Bangun dan sadarlah, Sehun!" Chanyeol mengeratkan genggamannya dan tanpa disadarinya, Sehun meringis karena genggaman Chanyeol yang seperti menjepit telapaknya. "Aku tidak bisa dihantui rasa bersalah selamanya. Aku janji padamu akan pergi dari hidupmu, seperti keinginanmu. Tapi, satu hal. Biarkan aku menjagamu meski hanya dari jauh. Paman Kwang Soo…. Dia… Sehun, bangun dan sadarlah!"
Chanyeol berlari keluar dan tak melihat jika Sehun telah bangun seperti keinginannya. Sehun terkejut saat Chanyeol mengungkit tentang Pamannya. Baru saja dia akan bertanya, tapi Chanyeol langsung menghambur keluar.
Sehun ingin bangun tapi tubuhnya masih lemas dan sedikit gemetar. Selang infuse itu juga seperti tak memperbolehkan dirinya bangkit. Tapi Sehun ingin tahu. Chanyeol tak melanjutkan kalimatnya dan hal itu membuat Sehun benar-benar penasaran. Perasaannya tidak karuan. Perpaduan antara marah dan kecewa serta khawatir dan takut.
Sehun menatap langit-langit kamarnya dan bergumam "Apa yang terjadi pada Paman Kwang Soo?" -TBC—
.
.
Huh. Kelar deh. Nah masih ada yang suka?
Tinggalkan review kalian ya.. jangan lupa. Seneng banget loh, kalau tulisannya dapat respon baik dari pembacanya. Aku bener-bener merasa dihargai gitu. Dan buat yang cuman baca dan enggak review,,, haduh sedih loh saat aku enggak tahu siapa yang juga seneng sama nih cerita. Kan' mau dibuat seru atau enggaknya itu dari kalian. terus pengennya mau update cepet, tapi tiba-tiba otak buntu. Ditambah lihat review enggak kunjung bertambah, aku kan mikirnya 'pasti banyak yang enggak suka'. Jadi aku mikir keras lagi dan alhasil, updatenya lama. Huhuhuh, sedih banget deh.
Yaudah, maaf aku curhat jadinya. Review yang banyak ya.. review kalian itu penyemangat banget. Follow/fav-nya. Thanks ya.. apalagi yang review. Big thanks pokoknyaaaaa
