Warn of typo(s)! This is YAOI!

Happy reading!

.

.

.

Hari itu masih sangat pagi. Sekitar pukul empat lewat tiga belas menit. Sehun tak tahan harus berada di kamar terus. Chanyeol tak mengunjungi sama sekali sejak saat itu. Sehun memang tadinya akan menemui Chanyeol sendiri, tapi ketika dirasanya tubuhnya begitu lemas dan tak berdaya, jadi dia enggan untuk menurunkan kakinya. dia mengira Chanyeol akan menengoknya lagi dan saat itu dia akan bertanya. Akan tetapi, perkiraannya salah.

Sehun mengambil gelas minumnya yang Chanyeol sediakan di atas nakasnya. Dengan tangan yang sedikit banyak masih gemetar, Sehun mencoba menggenggam gelas itu dengan baik tetapi pegangannya kendur dan gelas itu pecah berantakan di lantai. Benar saja, suara pecahan itu membuat Chanyeol terpanggil dan segera menghambur ke kamar Sehun.

Wajah Chanyeol terlihat sangat berantakan. Rambutnya terlihat acak-acakan dan Sehun hanya mencoba untuk tak mengingat kejadian kemarin.

"Astaga, Sehun!" Chanyeol berlari tergesa-gesa menghampiri Sehun dan segera menghentikan tangan Sehun yang mencoba memunguti pecahan gelas.

"Kau sudah sadar sejak tadi ya?" Chanyeol telah selesai membereskan pecahan-pecahan gelas dan sedang menaruhnya di kantong plastic yang ada di tong sampah kamar itu.

"Kenapa tidak memanggilku?" Chanyeol mengikat kantong plastic dan mengembalikan tong sampah di tempatnya semula.

"Aku sangat khawatir padamu. Setidaknya dengan itu aku bisa sedikit tenang." Sahutnya kembali.

Chanyeol berlutut agar dapat sejajar dengan Sehun yang masih terbaring lemas. Sehun menatapnya dengan sepasang sorot mata yang membuat Chanyeol canggung. "Paman Kwang soo tidak menelpon?"

Chanyeol berhenti bernafas untuk sejenak. Dia teringat tentang telefon yang ia terima semalam. Bagaimana Chanyeol mengatakannya pada Sehun. tidak mungkin dia berkata yang sebenarnya dan berakibat akan membuat Sehun semakin drop.

"Dia…." Chanyeol memandang Sehun yang berkedip menatapnya sejak tadi. "Belum. Tapi aku yakin dia akan segera mengabari kita. Kau tenang saja. Tidak akan ada apa-apa. Percaya padaku."

Sehun mendengus. "Lucu sekali kau memintaku untuk percaya padamu?"

Chanyeol merasa Sehun mulai mengungkit kejadian yang lalu. "Aku minta maaf. Tapi aku bersumpah aku tidak ada perasaan apapun dengan perempuan itu."

"Aku lelah Chanyeol!" Sehun memalingkan mukanya dan memejamkan matanya untuk sesaat sebelum air matanya tak dapat ditahan lagi lalu merembes ke pipinya. "Aku lelah dengan semua ini. aku benar-benar lelah. Kau datang dan memberiku kejutan yang.."

"Sehun, aku minta maaf. Kumohon jangan menangis. Jangan. Tidak ada air mata lagi. tidak." Chanyeol menarik tubuh Sehun dan membenamkan wajahnya di dekapannya. Sehun tak mampu untuk mengelak meskipun ia begitu ingin menghindar dari Chanyeol. Laki-laki ini sesekali mengecupi kepala Sehun sambil terus membisikkan kata-kata penenang.

"Sehun?!"

Luhan dan Jongin tiba-tiba saja masuk dan langsung menghambur di ranjang Sehun. meskipun sempat terkejut, tetapi Sehun tak sungkan untuk menunjukkan pada Luhan jika ia memang membutuhkan sosok Chanyeol. Sosok pelindungnya.

"Kau sudah sadar? Bagaimana? Apa masih pusing atau.."

"Aku sudah baik-baik saja, Lu." Sehun tersenyum sambil mengusap air matanya yang membekas di pipi. "Terima kasih sudah mau menjengukku. Maaf juga aku merepotkanmu."

"Tidak. Jangan bicara seperti itu." Luhan membantu mengusap air mata Sehun. "Jadi, ada apa? Kenapa kau menangis?"

Sehun menengok ke Chanyeol yang kemudian diikuti oleh tatapan penuh tuduh dari Luhan. "Tidak, Lu. Bukan Chanyeol yang membuatku menangis."

"Lalu?"

"Aku hanya…" Sehun berhenti dan berfikir. "Tidak tahu. Sudahlah jangan pikirkan. Aku juga sudah merasa sangat senang kau ada di sini."

Luhan memeluk Sehun dan kemudian terdengar deheman dari Jongin.

"Terima kasih juga Jongin mau menjengukku." Sehun tersenyum masih di pelukan Luhan dan Jongin, laki-laki itu tersenyum bangga. Tapi entah kenapa Chanyeol malah tak suka melihatnya.

Setelah itu, Luhan juga Jongin pergi tak lama setelah Sehun mengatakan ingin istirahat. Padahal, Sehun tak benar-benar ingin istirahat. Pemuda itu juga menyuruh Chanyeol untuk membuatkannya egg role.

Lima menit kemudian Chanyeol datang dengan sepiring egg role yang masih hangat dan masih menguarkan aromanya yang khas. Sehun merasa perutnya benar-benar ingin menyantap makanan itu secepatnya tapi dia harus menjaga image-nya di depan Chanyeol. jangan buat Chanyeol senang atau lainnya. Tujuan Sehun hanya 'Buat Chanyeol sengsara hingga dia memilih untuk pergi selama-lamanya.'

"Ini egg role-mu." Chanyeol menyodorkan piring berbentuk kotak itu ke Sehun dan langsung diterima oleh pemuda manis itu tapi dengan ragu.

Sehun ingat Chanyeol selalu gatal-gatal setelah makan telur jadi dengan fikiran liciknya Sehun memerintahkan Chayeol untuk "makan egg role itu."

"Apa?!" Chanyeol terkejut dan tak sabar dirinya langsung meletakkan piring egg rolenya sembarangan di kasur itu lalu memegang kedua bahu Sehun. Chanyeol mengguncang bahu Sehun sambil menatapnya dengan jengkel

Chanyeol terdiam. Sehun masih membalas tatapannya dengan berani dan lantang. Meskipun keadaannya belum pulih dan dirinya belum lepas dari belenggu selang infuse tapi rupanya Sehun tak takut sama sekali. Bahkan Sehun seakan-akan menantang Chanyeol untuk lebih dekat dengannya, dia mencondongkan tubuhnya dan mengangkat dagunya.

Chanyeol meneguk ludahnya dan mendapati amarahnya reda seketika oleh Sehun. Chanyeol kembali menarik tubuhnya dan melepaskan pundak Sehun. "Aku minta maaf. Tapi aku tetap tak bisa makan ini."

"Aku sudah menduganya." Sehun memutar bola matanya dan tersenyum merendahkan ke Chanyeol. Lagi-lagi Chanyeol harus menahan emosinya demi Sehun.

Sehun mengambil gelas susu yang sudah dingin kemudian menenggak susunya hingga habis. Ia meraih ponselnya dan menekan tombol-tombolnya kemudian mendekatkannya ke telinga. Chanyeol masih diam di sana sambil memerhatikan Sehun.

"Halo." Sapa Sehun. Chanyeol menatap Sehun penasaran. Pemuda manis itu tahu kalau Chanyeol ingin tahu siapa yang ia telfon. Maka, Sehun kembali membuat Chanyeol berang. Ia berdesis "Hei, sana kau pergi. Aku sedang bertelfon. Sekalian bereskan piring dan gelas ini."

Dengan sabar Chanyeol mengangguk dan mencoba menahan amarahnya sekali lagi. Sehun patut menghukumnya seperti ini. masih untung Sehun mau berbicara dengannya. Bisa gawat kalau Sehun memutuskan tidak berbicara lagi dengannya.

Tak lama setelah itu, Chanyeol kembali ke kamar Sehun. Kali ini ia kembali sudah tidak membawa apa-apa. Ditatapnya Sehun penuh pertanyaan dan lantas menghambur dikasur. "Siapa yang kau telefon tadi? Ada urusan apa?"

"Aku menelfon dokter. Aku minta selang infuse ini segera di lepas. Aku sudah baikan. Aku lelah berada di kasur terus. Aku juga tidak mau bertemu dengan istrimu lagi kalau aku tidak segera pergi." Cerocos Sehun dengan wajah tak peduli.

"Kenapa harus pergi? Ini kan rumahmu. Aku bisa pastikan kalau dia tidak akan ke sini lagi." tukas Chanyeol dengan mantap.

Tak selang waktu lama, derap langkah kembali terdengar. Chanyeol kira itu dokter, tetapi ternyata itu Jongin. Laki-laki itu membawa bubur di tangannya. Sehun tersenyum ketika melihat Jongin. Dari sisi lain, Chanyeol menatap keduanya tidak suka.

"Hai, Sehun. Setelah tadi aku pulang dari sini, aku kira kau ingin makan bubur. Jadi—"

"Sehun tidak mau makan bubur!" seru Chanyeol dengan wajah benar-benar berang.

"Tidak kok. Siapa bilang? Aku suka bubur." Sehun menatap Chanyeol dengan melotot dan Chanyeol balas memelototinya. " Terima kasih ya Jongin, kau perhatian sekali. Apa kau sudah sarapan?" Tanya Sehun.

Jongin menggeleng dan mendekat ke kasur sisi lain. Sehun langsung memutar duduknya dan tanpa sadar Chanyeol merasa terabaikan di sana. "Kau makan ya?"

"Bagaimana kalau kita berdua yang makan?" tanya Sehun. diliriknya Chanyeol dari sudut matanya kemudian tersenyum tipis.

Jongin mengangguk dengan semangat. Chanyeol berdiri dari duduk dan pergi meninggalkan dua orang itu. Chanyeol ingat kalau dia pernah mengatakan, Sehun bebas menentukan hidupnya. Dia sudah melepaskan Sehun dan terserah Sehun mau dengan siapa. Entah itu Jongin atau siapapun. Jadi Chanyeol hanya bisa mencoba untuk menerima segala yang ada.

"Sehun?" Panggil Jongin setelah Sehun lama sekali melamun.

"Ya? Ada apa? Ugh, aku minta maaf." Sehun bergumam sambil mengunyah buburnya.

Jongin mengangguk dan mengelus kepala Sehun. "Kau masih memikirkannya, ya?"

Sehun kembali terkejut dengan ucapan Jongin. "Kau tahu kalau aku sangat mencintainya, bukan?" Sehun menunduk dan Jongin hanya mencoba untuk tersenyum saja meskipun hatinya hancur berkeping-keping di sana. "Aku belum bisa menerima semua ini. aku tidak mau kehilangan Chanyeol lagi. aku….."

"Sehun, cobalah untuk melupakannya dan belajarlah untuk mencitaiku. Aku berjanji padamu kalau aku akan membuatmu bahagia. Aku takkan menyakitimu. Sumpah. Aku berani berjanji padamu." Kata Jongin dengan nafas menderu.

Sehun hanya diam dan belum menjawab. Jongin menatapnya dengan wajah yang begitu memohon dan terlihat di sorot matanya yang penuh dengan kejujuran. Meskipun Sehun mencoba untuk mencari kebohongan di dalam mata jernih itu, pada kenyataannya Sehun tak menemukan kebohongan itu. baiklah, kali ini Sehun akan mencoba mencintai Jongin.

Sehun mengangguk. "Aku turuti permintaanmu. Tapi kau harus mengajariku untuk mencintaimu. Mungkin akan sedikit sulit, tapi aku akan tetap berusaha agar aku bisa."

Jongin dengan cepat memeluk Sehun dengan erat. Tampaknya Sehun belum membalas pelukan itu, tapi Jongin benar-benar gembira dan ketika ia membuka matanya, dilihatnya Chanyeol di ambang pintu. Jongin melihat Chanyeol yang bersungut-sungut dan seperti hendak membunuhnya dengan tatapan matanya yang tajam itu, tapi sekali lagi Jongin tak peduli.

Sehun lantas membalas pelukan Jongin. Chanyeol masih berdiri dengan wajah merah padam di sana. Jongin menarik tubuhnya dari Sehun. ia menangkup wajah Sehun lalu membelai setiap inci wajah itu. Chanyeol mengepalkan tangannya. Dapat dipastikan, darah Chanyeol telah mendidih di sana. Tapi sekali lagi, Jongin tak peduli. Ia malah memanfaatkan kondisi ini untuk membuat Chanyeol marah.

"Sehun," ucap Jongin lirih menyebut nama pemuda di depannya. Sehun mengangguk. Sehun tentunya tahu maksud Jongin apa setelah Jongin meraba bibirnya tadi. Dengan isyarat anggukan itu, artinya Jongin boleh menciumnya.

Chanyeol masih saja kuat berdiri di sana menyaksikan dua orang sedang bercumbu mesra. Jongin melahap bibir Sehun hingga pemuda itu hilang tumpuan dan terbaring di kasur. Jongin terus merayap di atas tubuh Sehun dan tangannya menelusuri setiap lekuk tubuh Sehun yang hanya terbungkus kaos seadanya dan celana pendek biasa.

Chanyeol benar-benar bodoh. Dia belum juga lari dari penderitaan batin yang melandanya. Sehun menarik-narik rambut Jongin dan Chanyeol melihatnya benar-benar geram. Ia ingat betul ketika dirinyalah yang dulu merasakan tarikan-tarikan tangan Sehun di rambutnya sebagai kode Sehun butuh bernafas.

Chanyeol masih belum mendapati Jongin memberikan jarak bernafas untuk Sehun. dengan amarah meledak-ledak, Chanyeol menghampiri pasangan itu meskipun tidak sopan menganggu orang bercumbu. Tapi Chanyeol benar-benar tak tahan melihatnya. Dia menarik kasar tubuh Jongin dan melemparkannya ke sudut kamar. Jongin tampak sangat terkejut begitu juga dengan Sehun. Chanyeol ngos-ngosan dan menuju arah Jongin.

Dia semakin mendekat ke Jongin yang masih megap-megap. Di tunjuknya muka Jongin dengan telunjuknya kemudian mengatakan "Jerk!" setelah itu dia mengacungkan jari tengahnya tepat di muka Jongin. "Sekarang pergi kau dari sini!" bentaknya dengan keras.

Jongin bangkit dan manatap Chanyeol dengan dengki "Aku akan pergi. Tapi satu hal," Jongin mengangkat jari telunjuknya. "Sehun sudah bukan milikmu lagi!"

Jongin keluar dan Sehun masih diam saja memandangi Chanyeol. tak lama, Chanyeol ikut keluar dan kemudian kembali lagi dengan dokter.

.

.

.

Chanyeol duduk menatap layar televisi dengan jiwa melayang pergi. Dia sedang di ruang TV dan setelah dokter memeriksa keadaan Sehun, anak itu minta di tinggalkan sendiri di kamar. Katanya dia mau mandi dan lain sebagaiannya.

Chanyeol sering kali mendongak ke atas untuk melihat Sehun yang barangkali sudah selesai dan keluar dari kamar. Akan tetapi, Chanyeol tak mendapati pintu kamar Sehun terbuka. Dengan penasaran sekaligus khawatir terjadi sesuatu pada Sehun, Chanyeol naik ke kamar Sehun. ia mengetuk pintunya dan tidak ada suara yang menyahuti. Fikiran Chanyeol semakin khawatir, dia membuka pintu yang ternyata tidak terkunci itu. dengan panik, Chanyeol menyerbu masuk dan kemudian terkejut ketika Sehun baru keluar dari kamar mandi dengan hanya handuk yang menutupi daerah laki-lakinya.

Chanyeol diam untuk beberapa saat dan memandangi Sehun dengan jantung berdebar. Sehun berbalik lagi ke kamar mandi dan baru saja akan menutupnya, Chanyeol menahan pintunya.

"Jangan di tutup Sehun!" pekik Chanyeol sambil mengerahkan tenaganya untuk menahan pintunya.

"Chanyeol, menyingkirlah!" teriak Sehun dengan tenaga terkuras untuk menutup pintu.

Chanyeol menarik pergelangan tangan Sehun dan menghempaskan pintunya dengan keras. Sehun mendorong tubuh Chanyeol dan mencoba untuk masuk ke kamar mandi lagi atau pokoknya menghindar dari Chanyeol dengan kondisi telanjang seperti saat itu. Chanyeol berusaha mengendalikan tumpuan kakinya agar tidak jatuh dan semakin mengeratkan pegangannya di tangan Sehun. Sehun menggeliat mencoba untuk terlepas, tapi Chanyeol terus menarik tubuhnya dan dengan tenaga yang sangat kuat, Chanyeol melempar tubuh Sehun di sofa. Sehun sempat mengerang sakit tapi dengan cepat, Chanyeol menindih tubuh Sehun.

"Pergi Chanyeol! kau mencoba meniduriku, hah?!" teriak Sehun. Chanyeol mengangguk dan tersenyum jahil.

"Ayolah Sehun, anggap saja ini bayaran untuk pergi pagi-pagi mencari makanan perancis." Kekehan Chanyeol terdengar seperti ancaman bagi Sehun.

Chanyeol menarik lepas dan paksa handuk yang melindungi daerah bawah Sehun. Pemuda itu tentu saja menampar Chanyeol dengan keras tapi Chanyeol tak menyerah, dia menahan tangan Sehun sebelum ia ditampar lagi. Sehun menggeliat dan Chanyeol menundukkan kepalanya lalu melumat bibir Sehun. masih tercium oleh hidung Chanyeol aroma mint dari dalam mulut Sehun. ia semakin semangat saat Sehun mulai melenguh dan merasakan milik Sehun sesekali menyentuh perutnya.

Chanyeol menegakkan tubuhnya dan melepas kaosnya dengan sembarangan. Sehun sudah tidak banyak menolak meskipun sering kali ia mencoba mendorong tubuh Chanyeol. tetapi tenaga Chanyeol lebih kuat. Laki-laki itu masih memainkan bibir dan lidahnya di sekitar wajah Sehun mulai dari menelusuri kulit wajah Sehun sampai membuat tanda-tanda merah kebiru-biruan di leher dan dada Sehun.

Sehun terbaring dengan nafas bersaut-sautan. Chanyeol berdiri dan melepas celana pendeknya. Sehun memejamkan matanya saat Chanyeol melepas celana dalamnya. Sehun bahkan memalingkan wajahnya. Chanyeol masih berdiri di samping Sehun menuntut haknya. Sehun menghela nafasnya dan bangkit lalu duduk.

Chanyeol megacak rambut Sehun dan Sehun lantas berdiri. "Bagaimana kali ini langsung atau kita berhenti saja."

Chanyeol mengerutkan keningnya dan memajukan bibirnya karena kecewa Sehun tidak bermain dulu dengan miliknya, tapi daripada Sehun memutuskan berhenti maka Chanyeol langsung menarik Sehun dan menidurkannya di atas kasur. Chanyeol meraba setiap lekuk tubuh Sehun dengan pelan terkesan mengambang. Sehun menggeliat karena geli dan Chanyeol sampai pada belakang lutut Sehun. Ia mengangkat kaki Sehun dan menempatkannya di atas pahanya. Chanyeol menunduk kemudian membuat sensasi geli dengan menjilat daerah sensitive Sehun. kemudian, serasanya cukup, Chanyeol mulai memasukkan miliknya yang sudah bersemangat sejak tadi ke lubang milik Sehun yang juga sudah berkedut. Sehun memejamkan matanya untuk mengalihkan rasa sakit yang akan dirasanya setelah ini. Chanyeol menyadarinya, laki-laki itu mencondongkan tubuhnya lalu mencium bibir Sehun dengan dalam dan penuh sensasi. Chanyeol dapat merasakan kuku-kuku Sehun mencengkeram bahunya ketika milik Chanyeol berhasil menerobos lubang Sehun.

"Euhhhh… eunghh..Chan..eunghh.." Chanyeol merasakan tarikan di rambutnya.

"Santai saja Sehun." guman Chanyeol di telinga Sehun sebelum ia mengigiti daun telinga Sehun dan menjilati leher Sehun.

"Sakit… Chan.." Sehun kembali merintih dan sementara Chanyeol sibuk dengan aktivitasnya memainkan miliknya di lubang Sehun, pemuda itu menggigit bawah bibirnya dan menggeliat panas.

"Chan… Chanyeol.. aku.." Sehun terbata. Dia tak sanggup berbicara apalagi saat tangan kiri Chanyeol bermain dengan putingnya dan tangan kanannya meremas milik Sehun yang berdiri tegak.

"Jangan ditahan Sehun. keluarkan saja." sahut Chanyeol lembut di telinga Sehun.

Tak butuh waktu lama, milik Sehun yang sejak tadi sudah bersiap itu mengeluarkan cairan spermanya. Cairan itu muncrat di tubuh Chanyeol dan Sehun. Chanyeol menjilat perut Sehun sambil sesekali menghisapnya. Ia lantas menelan cairan itu dan kembali memagut bibir Sehun. Pemuda itu dapat merasakan mulut Chanyeol benar-benar penuh oleh cairan yang ia tumpahkan. Tapi tak masalah. Chanyeol kembali meremas milik Sehun dan semakin bersemangat mendorong dan menarik miliknya di lubang Sehun yang begitu hangat dirasanya. Sehun bergelinjang saat Chanyeol merasakan miliknya menabrak sesuatu di dalam sana. Pasti Sehun merasakan hal yang sama, kenikmatan.

"Chan.. Chan… aku… sakit…" Rintih Sehun dengan wajah memerah. Chanyeol tak menggubris Sehun yang sudah benar-benar kesakitan. Chanyeol tak sadar kalau di sekitar lubang Sehun terdapat rembesan berwarna merah.

Chanyeol tetap bersemangat dan Sehun mancakar kulit bahunya cukup keras hingga Chanyeol juga merasakan kalau kulitnya luka. Rasa perih dirasakan keduanya. Luka yang bercampur keringat membuat keduanya harus sama-sama menahannya.

Chanyeol menunduk dan berbisik dengan lembut. "Awas Sehun, kini giliranku lalu semuanya akan berakhir." Chanyeol kembali menguatkan pergerakannya dan Sehun semakin meringis kesakitan. "Atau kau mau lagi?"

Ditengah-tengah menahan sakit, Sehun menguatkan cengkeramannya di bahu Chanyeol. tapi pemuda tinggi itu tak menghiraukan derita Sehun. ia menghentakkan miliknya untuk yang kesekian kalinya dan cairan hangat itu keluar di dalam lubang Sehun. Chanyeol menindih Sehun lagi dan berbisik. "Aku mencintaimu. Sampai kapanpun."

Sehun berhenti bernafas untuk sesaat. Ia dapat merasakan panas dan perih di sekitar lubangnya. Chanyeol kemudian membaringkan tubuhnya di samping Sehun dan memejamkan matanya. Sehun menyeka keringatnya dan Chanyeol tiba-tiba bersuara "Yang tadi itu asyik 'kan? Bagaimana kalau lagi?"

.

.

.

TBC~

Kyaaaaaa~ aku panas dingin sendiri pas buatnya. Semoga memuaskan kalian aja dehh

Review-nya makasih dan Foll and Fav thanks juga. Kalian the best* love you all