Part 2
Ini yang aku takutkan. Aku tidak siap untuk menerima kenyataan ini. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Seketika air mata membasahi pipiku.
"Itu dulu, sampai setahun yang lalu." Ia mengusap air mataku.
Aku terisak. "Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu? Apa kau yakin bahwa kau sudah tidak seperti itu lagi sejak setahun yang lalu?"
Yunho mengangguk yakin. "Ya, aku yakin. Aku sudah tidak berhubungan lagi dengan lelaki selama setahun. Sekarang aku adalah pria normal." Bagaimana bisa ia sesantai itu saat mengatakannya?
"Apa kau bisa menjamin bahwa kau tidak akan kembali berbelok?" Air mataku terus mengalir deras.
"Aku akan terus berusaha. Kau bisa memegang kata-kataku." Ia terlihat sangat serius. "Lelaki sejati akan menepati janjinya."
"Kau bahkan bukan lelaki sejati." Aku tertawa miris. "Aku jadi ingin tahu. Kau di atas atau di bawah?"
Ia masih berwajah serius. "Aku versatil, bisa di atas bisa juga di bawah."
Aku tertegun. Tanpa ragu ia menceritakannya kepadaku. "Mengapa kau mengatakannya kepadaku?"
"Karena kau bertanya," jawabnya sederhana.
"Jadi, selama ini kau tidak memberitahuku karena aku tidak pernah bertanya?" Aku mulai emosi. "Jika aku tidak pernah bertanya, apakah kau tidak berniat untuk memberitahuku?" Aku mulai jijik membayangkan dirinya bersama pria lain.
"Suatu saat aku pasti akan memberitahumu." Masih saja ia terlihat tenang dalam keadaan seperti ini. Emosinya sama sekali tidak terpancing. Sepertinya ia sudah mempersiapkan diri untuk hari ini.
"Kapan? Setelah kita menikah? Setelah aku memergokimu sedang mencumbu pria lain?" Aku menatap marah ke arahnya.
"Kau tidak akan pernah memergokiku sedang mencumbu pria lain. Aku tidak akan melakukannya lagi." Ia terlihat sangat yakin saat mengatakannya.
Aku merasa haus. Aku meneguk banyak air. Aku tidak boleh kehilangan kendali.
"Aku sudah berubah. Aku adalah milikmu seorang, hanya dirimu." Ia mulai merayuku.
"Jika kau ingin memutuskan hubungan kita, aku akan menerimanya. Kau berhak untuk melakukannya. Aku tidak bisa memaksamu." Ia memang sudah mempersiapkan skenario untuk hari ini sejak dulu.
Aku tak bisa menahan air mataku. Aku melepaskan kacamataku dan mengusap air mataku dengan tisu.
"Aku ingin berubah. Ibuku sudah memberiku pelajaran." Ia terlihat sendu saat menyebut ibunya.
Aku menyimak kata-katanya. Aku mulai tertarik untuk mendengarkan ceritanya. Aku ingin tahu bagaimana ibunya.
"Ibuku membenciku. Ia terkena stroke dan kemudian lumpuh karena aku. Sejak ia mengetahui kenyataan ini, ia tidak mau berbicara lagi denganku. Ia tidak menganggapku sebagai anaknya lagi." Aku terkejut saat melihatnya menitikkan air mata. "Aku merasa sangat bersalah kepadanya. Ia kini tidak bisa berjalan dan aku tidak bisa merawatnya yang sakit. Itulah sebabnya aku belum bisa membawamu untuk menemuinya. Aku harus merencanakan sesuatu agar kita bisa bertemu dengannya."
Aku mulai merasa iba kepadanya. Ibu adalah orang yang mengandung dan melahirkan kita. Kita tidak akan bisa hidup bahagia dengan kebenciannya.
.
.
.
Aku mengurung diri di kamar. Aku menangis. Aku bingung. Hatiku hancur berkeping-keping. Sakit rasanya. Dadaku terasa sesak.
.
.
.
"Jadi, apa kau putus dengannya?" Hani bertanya kepadaku. Saat ini aku, Junsu, dan Hani sedang berada di kafe langganan kami.
"Aku hanya menyuruhnya untuk tidak menemuiku lagi karena aku tidak ingin bertemu dengannya." Aku terlihat sangat lemah dan rapuh. Sepertinya aku juga demam.
"Bagaimana dengan ayah dan ibu? Apa yang akan kau katakan kepada mereka?" Kali ini giliran Junsu yang bertanya.
"Aku akan mengatakan bahwa ada masalah pribadi di antara kami. Kami merasa bahwa kami tidak cocok dan tidak bisa melanjutkan hubungan ini." Aku meracau tidak jelas.
"Mereka pasti ingin tahu apa yang terjadi di antara kalian. Kau juga tahu bahwa mereka sangat berharap kalian bisa bersatu," lanjut Junsu.
"Mereka pasti kecewa dan sedih, tetapi lambat laun mereka akan bisa menerimanya." Aku mulai merasa pusing.
.
.
.
Aku membuka mataku. Di mana aku? Kepalaku terasa sangat berat. Aku melihat Yunho. Ia segera membantuku untuk bangun. "Di mana ini?"
"Kita berada di rumah sakit. Kau tidak sadarkan diri selama tiga hari dan mengalami demam tinggi." Ia terlihat lega melihatku bangun. Aku melihat kantung di matanya. Sepertinya ia kurang tidur. "Apa kau ingin minum?"
Aku merasa tenggorokanku kering. Aku mengangguk.
Ia segera mengambilkanku segelas air dan membantuku untuk minum. "Pelan-pelan! Jangan sampai tersedak!"
"Di mana keluargaku?" Aku bertanya kepadanya.
"Mereka sedang makan di kantin. Sekarang giliranku untuk menjagamu." Ia kembali membaringkanku di tempat tidur.
"Jam berapa sekarang?" tanyaku lagi.
"Pukul delapan malam," jawabnya.
Aku masih ingat terakhir kali kami bertemu. Aku masih marah kepadanya. Aku membalikkan tubuhku untuk memunggunginya. "Kau pergilah! Aku akan baik-baik saja sendirian di sini."
"Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian. Bagaimana jika kau membutuhkan sesuatu?" Ia terdengar khawatir.
Aku tidak mempunyai tenaga untuk berdebat dengannya. Aku tidak membalasnya lagi.
Sesungguhnya aku tidak ingin berpisah dengannya, tetapi fakta bahwa ia gay sangat mengganggu ketenanganku. Aku tidak akan bisa hidup bahagia dengannya.
.
.
.
Paman dan bibi tidak mengetahui masalahku dengan Yunho. Junsu benar-benar bisa menjaga rahasia. Paman dan bibi mengira bahwa hubunganku dan Yunho baik-baik saja.
"Yunho selalu berada di sisimu saat kau tidak sadarkan diri." Bibi memberitahuku. "Ia sangat mengkhawatirkanmu, sehingga ia tidak ingin meninggalkanmu, walaupun hanya sedetik." Sepertinya ia sangat bangga memiliki calon menantu seperti Yunho.
Aku melirik ke arah Yunho yang berdiri di ambang pintu. Ia terlihat sangat tinggi juga tampan. Jantungku berdetak untuknya. Mungkin aku mencintainya.
Yunho memperlakukanku bagaikan seorang putri. Ia adalah pria yang sempurna bagi seorang wanita, andaikan ia adalah pria normal. Tidak ada manusia yang sempurna, dan ia tidak sempurna karena orientasi seksualnya.
Seorang perawat masuk membawa makananku. Sekarang saatnya diriku untuk makan. "Besok pagi Nn. Kim sudah diizinkan pulang."
Aku merasa lega. Aku tidak menyukai suasana di rumah sakit. Aku juga sudah merindukan laboratoriumku.
"Yunho, kau suapi Jae!" Bibi menyuruh Yunho untuk menyuapiku.
Yunho menatapku, seakan bertanya kepadaku apakah ia boleh menyuapiku. "Ah, tidak. Bibi saja yang melakukannya." Orang lain mengira bahwa Yunho tidak mau menyuapiku karena ia malu.
"Aku sudah mempunyai cukup tenaga untuk makan sendiri," kataku. Aku tidak ingin Yunho digoda oleh keluargaku.
.
.
.
Pada sore hari aku mengajak Yunho untuk membawaku berjalan-jalan ke taman rumah sakit. Aku ingin berbicara berdua dengannya. Paman dan bibi berpikir bahwa aku ingin berduaan saja dengan kekasihku, sehingga mereka tidak mengikuti kami.
"Apa yang harus kita katakan kepada paman dan bibi?" Aku menatap indahnya mentari sore.
"Apakah kau ingin aku mengatakan yang sebenarnya kepada mereka?" Yunho terlihat sangat tenang. Sepertinya ia juga sudah menyiapkan diri untuk hal itu.
Aku menoleh ke arahnya. "Aku tidak ingin mereka terluka. Mereka sangat berharap kita akan menikah."
"Lalu menurutmu apa yang terbaik?" Ia bertanya kepadaku. Tatapan matanya membuatku meleleh.
"Paman dan bibi merawatku sejak aku berusia tujuh tahun. Mereka memperlakukanku seperti anak mereka sendiri. Aku tidak akan pernah bisa membalas budi mereka. Setidaknya aku harus menjadi anak yang berbakti dan tidak mengecewakan mereka." Arah pembicaraanku tidak jelas.
"Apa kau ingin kita tetap menikah?" Yunho menyimpulkan maksud pembicaraanku.
"Aku tidak tahu," jawabku. Aku sangat takut untuk menjalani hidupku dengannya.
"Aku berjanji bahwa aku akan selalu setia kepadamu. Aku akan memperlakukanmu dengan baik, melaksanakan semua kewajibanku sebagai suami, tetapi kau tidak perlu melaksanakan kewajibanmu sebagai istriku jika kau tidak mau." Yunho tampak serius dengan ucapannya.
"Mengapa kau melakukan itu?" Aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya. "Bukankah itu sangat merugikan dirimu?"
"Aku tidak apa-apa. Aku sudah siap menerima semua konsekuensinya." Ia masih saja terlihat tenang, tidak ada ketakutan dalam dirinya.
"Aku tidak bisa berbuat sekejam itu kepadamu." Aku merasa tidak tega.
"Aku... aku akan mengizinkanmu... untuk... Jika kau ingin... Maksudku... Kau pasti memiliki kebutuhan untuk..." Aku tidak bisa mengatakan hal itu secara eksplisit.
"Aku tidak akan melakukannya dengan orang lain." Tampaknya ia mengerti maksudku.
"Terserah kau saja. Yang pasti aku sudah mengizinkanmu," kataku. Sesungguhnya aku tidak rela memberikan dirinya kepada orang lain, tetapi aku tidak yakin bahwa aku bisa melayaninya. Fakta mengenai dirinya terus menghantuiku. Aku tidak yakin bahwa aku bisa melakukan hal itu dengannya.
Yunho menyerah untuk meyakinkanku. Ia tidak suka memaksa. Ia mengendalikan diriku dengan caranya sendiri. Ia memanipulasi perasaan dan pikiranku.
.
.
.
Aku memutuskan bahwa aku tetap akan menikah dengan Yunho. Aku akan memegang kata-kata Yunho. Ia tidak akan mencegahku jika aku ingin bercerai kapan pun.
"Apa kau yakin mau menikah dengannya?" Junsu terlihat khawatir.
Aku mengangguk. Aku sudah merasa mantap dengan keputusanku. "Aku sudah membuat beberapa kesepakatan dengannya."
"Jika aku boleh tahu, kesepakatan apa yang kalian buat?" tanyanya. Ia bersikap sangat protektif kepadaku.
"Sebaiknya kau tidak tahu. Ini urusan kami berdua," kataku. Aku tidak ingin sepupuku itu mencemaskan diriku. "Kau tidak perlu khawatir. Aku yang memegang kendali."
"Oh, baiklah." Ia terlihat lebih tenang. "Jika ada masalah, kau selalu bisa datang kepadaku."
.
.
.
Hubunganku dengan Yunho mulai terlihat kembali seperti semula, walaupun banyak hal yang kami pendam. Ia sering menghubungiku untuk sekedar menanyakan kabarku, seolah-olah tidak ada masalah di antara kami. Aku pun tetap bersikap ramah kepadanya. Kadang-kadang kami juga pergi berkencan.
"Jae, kita bisa menemui ibuku siang ini." Tiba-tiba aku merasa gugup. Inilah yang kunantikan. Rasa penasaranku akan terjawab. "Aku akan menjemputmu setelah makan siang."
Aku merasa sangat gugup. Apa yang harus kukatakan pada calon mertuaku nanti? Kira-kira apakah ia akan menyukaiku? Bukankah ia tidak mau mengakui Yunho sebagai anaknya lagi? Lalu bagaimana denganku? Akan tetapi, bagaimana pun aku harus mendapatkan restu darinya.
Aku meminta saran kepada bibi. Nasihatnya membuatku merasa lebih tenang. Ia memberi tahu apa saja yang harus kulakukan untuk mengambil hati ibu mertua.
Jika hubungan Yunho dan ibunya baik-baik saja, nasihat-nasihat bibi mungkin akan berhasil. Aku tidak banyak berharap bahwa nasihat-nasihat bibi akan berhasil kepada ibu Yunho. Namun, kupikir aku harus tetap mencobanya.
"Aku tidak sempat membuatkan sesuatu untuk ibumu. Nanti kita mampir terlebih dahulu di toko kue dan toko bunga ya," kataku kepada Yunho.
"Maafkan aku karena hal ini sangat mendadak. Adikku memberitahuku secara mendadak bahwa ibu bersedia untuk bertemu denganku. Akan tetapi, kesempatanku hanya kali ini saja. Setelah itu aku langsung meneleponmu." Yunho terlihat antusias sekaligus gugup. Ia pasti sudah sangat merindukan ibunya. Terakhir mereka bertemu adalah setahun yang lalu.
.
.
.
Rumah adik Yunho ternyata tidak terlalu jauh. Kami hanya perlu menempuh perjalanan selama setengah jam dari rumahku. Rumahnya terlihat sederhana, tetapi asri karena banyaknya pepohonan yang tumbuh di kebun.
Yunho terlihat sangat gugup. Ia menekan bel rumah adiknya. Tidak lama kemudian pintu rumah terbuka dan menampakkan seorang wanita yang menggendong balita. Wanita itu pasti adik Yunho karena mereka berdua sangat mirip.
Yunho memperkenalkan diriku kepada adik perempuannya, Jihye. Jihye kemudian mempersilakan kami masuk ke rumahnya.
"Wah, unnie cantik sekali!" Jihye sangat ramah kepadaku.
Demi bertemu dengan keluarga Yunho, aku rela berdandan. Kali ini aku mengenakan lensa kontak. Yunho cukup terkejut saat ia melihat penampilanku, tetapi ia tidak memujiku cantik. Ia takut aku merasa tersinggung.
Jihye membawa kami ke ruang keluarga. Di ruang keluarga ada seorang pria. Pria itu adalah suami Jihye, Park Yoochun. Sepertinya Yoochun tidak menyukai Yunho, mungkin karena orientasi seksual Yunho yang menyimpang. Yunho pun tampak sinis kepada adik iparnya itu. Mereka tidak saling menyapa.
Jihye berusaha mencairkan suasana yang menegang di antara suami dan kakaknya. "Kalian ingin minum apa?"
"Tidak perlu repot-repot. Air putih saja cukup," kataku.
"Tidak usah sungkan-sungkan. Kita adalah keluarga." Sebelum berlalu ke dapur, Jihye menyerahkan anaknya kepada sang suami.
Suasana sangat canggung setelah kepergian Jihye, seakan ada perang dingin di antara Yunho dan Yoochun. Aku pun tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak mengerti masalah di antara mereka.
"Apa kau masih takut kepadaku?" Tiba-tiba Yunho berkata dengan dinginnya.
Wajah Yoochun memucat. Ia tidak menghiraukan Yunho dengan memusatkan perhatiannya kepada anaknya.
"Ketakutanmu itu sama sekali tidak beralasan. Aku tidak mungkin berbuat buruk kepadamu," lanjut Yunho. Ia tidak peduli bahwa Yoochun tidak menghiraukannya. Ia yakin Yoochun pasti mendengar ucapannya. "Aku sangat menyayangi adikku. Tidak mungkin aku memperkosa suaminya."
Aku tersentak mendengar ucapan Yunho. Jadi, memang benar Yoochun takut kepada Yunho karena orientasi seksualnya. Akan tetapi, aku sama sekali tidak menyangka bahwa Yunho akan berbicara sefrontal itu.
Yoochun sama terkejutnya denganku. Ia melirik ke arahku.
"Tenang saja, Jaejoong mengetahuinya." Seakan-akan Yunho bisa membaca isi kepala Yoochun.
Jihye muncul dari dapur dengan membawa nampan. "Silakan dinikmati!"
"Ibu di mana?" tanya Yunho kepada adiknya.
"Ibu di kamar. Ia tidak mau turun. Jika kakak ingin menemuinya, sebaiknya kakak yang pergi ke sana." Sepertinya Jihye sudah berusaha keras untuk membujuk ibunya, tetapi tidak berhasil.
"Baiklah." Yunho menarik tanganku dan berdiri.
Aku merasakan tangan Yunho sangat dingin. Ia berjalan sangat cepat. Aku bisa merasakan kegugupannya. Semoga saja semuanya berjalan lancar.
Kami berhenti di ujung lorong, tepat di depan sebuah pintu kayu. Ini pasti kamar ibunya.
Yunho mengetuk pintu beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban dari dalam. Ia kemudian mencoba untuk memanggil ibunya. "Apakah ibu ada di dalam? Bolehkah aku masuk?" Suaranya terdengar bergetar.
Tidak ada jawaban juga dari dalam. Akhirnya Yunho memutuskan untuk masuk saja.
Aku melihat seorang wanita duduk di atas kursi roda. Wanita itu membelakangi kami dan melihat ke arah jendela. Jantungku berdetak semakin cepat.
Yunho menarik tanganku untuk berjalan mendekat ke arah ibunya. "Bu, aku ingin mengenalkan seseorang kepada ibu."
Ibunya bergeming. Sepertinya Ny. Jung masih sangat marah kepada Yunho.
Aku berinisiatif untuk memperkenalkan diriku kepada ibu Yunho. "Selamat siang! Aku Kim Jaejoong."
Ny. Jung berbalik. Sepertinya usahaku berhasil. Ia menatapku dengan sinis. Ia memandangku dari atas sampai bawah.
Aku mencoba untuk tersenyum kepadanya. Ternyata begini rasanya bertemu dengan calon mertua untuk pertama kalinya. Kuharap penampilanku bisa membuatnya terkesan.
Ny. Jung mendekat ke arahku. Aku terkejut bukan main saat ia tiba-tiba meraba dadaku. "Ini asli kan?" Tidak sampai di situ. Ia menelusupkan tangannya ke dalam rokku dan meraba organ kewanitaanku.
"Apa yang ibu lakukan kepada Jaejoong?" Yunho tidak menyangka bahwa ibunya akan berbuat demikian.
Ny. Jung tersenyum dingin. "Kau perempuan asli, bukan?"
Aku masih syok. Aku tidak menjawab. Tubuhku merinding.
"Apa kau baik-baik saja?" Yunho bertanya kepadaku.
Aku mengangguk. Lidahku tak sanggup berkata-kata.
Ny. Jung beralih kepada Yunho. "Sulit bagiku untuk memaafkanmu. Akan tetapi, aku menghargai usahamu. Kau membawa seorang wanita sungguhan ke hadapanku. Aku akan berusaha untuk menerimamu kembali."
Aku merasa lega dan bahagia. Aku bisa membantu memperbaiki hubungan Yunho dan ibunya.
Yunho terlihat menitikkan air mata. "Terima kasih, Bu! Aku tidak akan mengecewakan ibu lagi. Suatu saat nanti ibu pasti akan memaafkanku."
Ny. Jung tidak merespon. Ekspresi wajahnya sangat dingin. Ia justru menatapku. "Mengapa kau mau menerima Yunho? Kau mengetahui hal itu, bukan?"
Aku bingung harus menjawab apa. Aku takut salah menjawab dan memperburuk keadaan. "Semua orang pernah melakukan kesalahan. Besar atau kecil, semua orang berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua dan memperbaiki kesalahannya." Apa yang aku katakan? Aku bahkan belum bisa menerima kekurangan Yunho. Seharusnya kata-kata itu ditujukan untukku.
"Baguslah jika kau berpikir seperti itu. Semoga kau bahagia." Dari caranya berbicara, Ny. Jung tampak ragu Yunho akan bisa membahagiakanku.
.
.
.
Tibalah juga hari pernikahanku. Aku berharap keputusanku untuk menikah dengan Yunho adalah keputusan yang tepat. Bagaimana pun aku ingin hidup bahagia.
Aku merasa sangat cantik hari ini. Gaun pengantin yang kukenakan sangat indah. Aku melihat wajah haru paman dan bibi. Mereka tampak sangat bahagia karena akhirnya aku menikah juga. Walaupun Junsu dan Hani terlihat berseri-seri, masih terlihat raut cemas di wajah mereka. Mereka mengkhawatirkan diriku.
Di sudut ruangan aku melihat Ny. Jung bersama Jihye dan Yoochun. Aku melihat matanya berkaca-kaca. Ia pasti merasa sangat bahagia menyaksikan putranya yang gay menikah dengan seorang wanita. Aku merasa berkewajiban untuk memperbaiki hubungan ibu dan anak itu.
Yunho terlihat sangat tampan hari ini. Ia memang sudah tampan sejak dulu. Ia terlihat sangat antusias.
Aku jadi bertanya-tanya di dalam hatiku. Apakah Yunho serius menginginkan pernikahan ini? Apakah ia tidak merasa terpaksa? Apakah ia tidak akan merasa terikat? Tak ada sedikit pun keraguan di wajahnya.
Yunho terlihat sangat serius dan menghayati prosesi pernikahannya. Kuharap semua yang ia katakan memang benar. Namun, aku tidak berani untuk berharap.
.
.
.
Upacara pernikahan kami telah selesai dan akan dilanjutkan dengan resepsi yang akan dilaksanakan di hotel. Keluargaku menginginkan pesta besar-besaran untuk pernikahanku. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik pernikahan kami.
"Akhirnya kita resmi juga menjadi suami istri." Yunho tampak sangat bahagia, tetapi tidak demikian dengan diriku. Aku harus menyiapkan mentalku.
Di dalam mobil menuju hotel tempat resepsi Yunho mulai nakal. Tangannya meraba-raba pahaku di luar gaunku.
Aku merasa sangat tidak nyaman. Selain kami berdua, ada sopir di sini. Aku tidak mengerti mengapa ia melakukan hal itu.
"Sayang, apakah kau mau duduk di atas pangkuanku?" Yunho benar-benar tidak tahu malu. Apakah ia sengaja ingin sopir mendengarnya?
Aku menggeleng. Aku menghindari tatapan matanya. "Bisakah kau bersabar sampai kita hanya berdua?"
"Tuan dan Nyonya, anggap saja aku tidak ada," ujar sopir yang mengemudikan mobil pengantin.
Tingkah nakal Yunho tidak hanya sampai di situ. Pada saat resepsi yang dihadiri oleh ratusan tamu, di atas pelaminan, ia menjilat leherku. Apa yang ia inginkan? Ia sangat agresif.
"Di sini banyak orang," bisikku.
"Biarkan saja!" Ia terus saja menjilati leherku. "Mereka pasti bisa memakluminya."
"Aku malu. Saat ini kita menjadi pusat perhatian," kataku lagi.
Yunho akhirnya menjauhkan wajahnya dari leherku. Namun, sesekali ia mendekatkan bibirnya ke telingaku. Ia juga mencium pipiku.
Di tengah-tengah acara kami meninggalkan pelaminan untuk mengganti pakaian. Kami mengganti pakaian kami dengan busana pengantin tradisional Korea.
Di dalam ruang ganti, bilik tempat berganti pakaian kami bersebelahan. Selesai berganti pakaian aku keluar dari dalam bilik, tetapi Yunho mendorong tubuhku ke dinding ruang ganti.
Ia menatapku dengan dalam. Pandangan kami bertemu. Sekali lagi aku luluh oleh pesonanya.
Perlahan ia mendekatkan wajahnya dan mencium bibirku. Ciumannya sangat lembut. Aku melayang.
Aku tidak tahu cara berciuman. Ciuman pertamaku adalah tadi setelah upacara pernikahan. Aku hanya bisa pasrah saat ia melumat bibirku. Aku memejamkan mataku.
Ciumannya berubah liar. Ia mulai mengisap udara di dalam paru-paruku. Tubuhku melemas. Aku menaruh kedua tanganku di dadanya.
Rasanya lama sekali kami berciuman. Aku merasa sesak. Aku menatap wajahnya. "Mengapa kau melakukan itu?"
"Memangnya kenapa? Kau adalah istriku. Aku berhak melakukannya kapan pun dan di mana pun aku mau." Bibirnya sangat seksi.
"Bukankah aku berhak untuk tidak menunaikan kewajibanku sebagai istrimu?" Aku mengingatkannya pada kesepakatan yang kami buat sebelum menikah.
"Itu jika kau tidak mau. Tadi kau tidak menolakku." Ia tersenyum nakal. Ternyata ia sangat mesum. Apakah ia sangat agresif kepada lelaki yang menjadi pasangan gaynya?
.
.
.
Kami memesan honeymoon suit di hotel. Aku merasa gugup. Kira-kira apa yang akan ia lakukan pada malam pengantin kami? Jika ia ingin melakukannya, haruskah aku melayaninya?
Aku mandi terlebih dahulu. Tubuhku lengket oleh keringat. Hari ini benar-benar melelahkan.
Aku keluar dari kamar mandi dengan mengenakan celana pendek dan kaus. Benar-benar bukan kostum malam pengantin.
Ia tampak serius di depan laptopnya. Entah apa yang sedang ia kerjakan. Dunia kerja kami berbeda.
Aku menghampiri dan duduk di sebelahnya, di atas tempat tidur. "Kau sedang apa?" Aku berbasa-basi.
"Bukan apa-apa." Ia segera mematikan laptopnya. Ia kemudian mengambil ponselnya. "Ayo kita berfoto!"
Aku tidak mengerti mengapa ia ingin berfoto terlebih dahulu. Bukankah tadi siang kami sudah sangat banyak berfoto? Tadi siang kami berfoto dengan berbagai pose yang sangat mesra. "Apakah tadi siang belum cukup?"
"Aku ingin menambah koleksi fotomu di ponselku, lagipula foto-foto tadi siang tampak terlalu formal." Ia mengambil foto kami beberapa kali dengan kamera ponselnya.
Selesai berfoto, aku langsung berbaring di tempat tidur dan berselimut. Aku bersiap-siap untuk tidur. Aku berbaring memunggunginya, tetapi ia menarik tubuhku untuk menghadapnya.
Ia menatap mataku. Wajahnya sangat dekat. Hal ini membuatku ingin menangis, entah mengapa. Ia sangat tampan, tetapi sayang sekali ia gay.
Tanpa izin ia menciumku. Ia menciumku dengan lembut. Ciumannya membuatku merinding.
Ia berhenti menciumku dan menatapku lagi. "Bolehkah?"
Tatapannya membiusku. Matanya bagaikan lubang hitam yang menarikku ke dalamnya. Tubuhku membeku.
"Diam berarti 'ya'." Ia menyeringai.
Aku baru menyadari maksud dirinya. Ia meminta izin untuk menyentuhku. Sudah terlambat untuk menolaknya.
Ia melepaskan kaus yang kukenakan. Ia memandangi dadaku.
Aku malu. Mengapa ia memandangi bagian itu lama sekali?
Ia kemudian bangkit dan menanggalkan pakaiannya satu-persatu. Saat ia sibuk melakukan hal itu, aku cepat-cepat menutupi tubuhku dengan selimut. Aku malu.
Ia tidak menyisakan sehelai benang pun menempel di tubuhnya. Ia menyeringai kepadaku. "Kau sangat menyukai yang kau lihat, bukan?"
Aku tidak menyadari bahwa sejak tadi aku memperhatikan dirinya. Ia memergoki diriku yang sedang memperhatikan dirinya, betapa malunya.
Aku terhenyak saat ia menindih tubuhku. Ia menarik paksa selimut yang kukenakan. Ia terlalu kuat untuk kulawan. Ia juga menarik paksa celanaku.
Aku benar-benar tak berdaya. Ia sangat agresif. Aku takut.
Ia menutupi tubuh telanjangku dengan tubuhnya. Ia menatapku lagi. Ia kemudian kembali menciumku.
Libidoku bangkit. Aku terlarut dalam ciumannya. Tubuh kami bersentuhan, kulit dengan kulit. Rasanya tubuhku seperti tersengat listrik bertegangan rendah. Aku menginginkan dirinya. Aku ingin ia menyentuhku malam ini. Aku tidak peduli dengan masa lalunya. Sekarang ia adalah milikku. Aku adalah pemiliknya yang sah.
Ia menjelajahi sekujur tubuhku dengan sentuhannya. Tidak ada lagi permukaan tubuhku yang tak terjamah olehnya. Ia sangat lihai memainkan lidah dan jari-jarinya. Dalam sekejap tubuh sudah dipenuhi oleh tanda-tanda yang ia buat. Air liurnya membasahi tubuhku.
Aku berteriak saat ia menyentuhku di bawah sana. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan. Aku hanya melihat kepalanya tenggelam di antara kedua kakiku.
Aku tidak bisa menahan sensasinya. Kedua tanganku mencengkeram sprei. Aku terus saja berteriak dan mendesah.
Berkat sentuhannya di bawah sana, aku mencapai orgasme. Ini adalah orgasmeku yang kedua malam ini. Yang pertama terjadi saat ia bermain-main dengan tubuh bagian atasku.
Nafasku tersengal-sengal. Aku merasa sangat lelah setelah orgasme yang sangat luar biasa. Ia sudah bisa membuatku seperti ini, padahal ia sama sekali belum melakukan penetrasi.
Aku merasa bahwa saatnya sudah hampir tiba. Pemanasan yang ia lakukan sudah cukup, setidaknya untukku. Aku mencuri-curi pandang ke arah bagian bawah tubuhnya. Astaga! Aku terkejut bukan main. Setelah apa yang ia lakukan kepadaku, ia sama sekali tidak menegang.
Hatiku sedih. Malam pengantinku ini benar-benar mengenaskan. Aku mendorong tubuhnya menjauh. Aku marah, entah kepada siapa. Aku merasa sangat kesal.
Ia terlihat bingung karena aku tiba-tiba mendorongnya untuk menjauh. "Ada apa? Apakah aku melakukan kesalahan?"
Aku tidak bisa menahan air mataku. Aku menangis dengan keras. "Mengapa kau melakukan ini?"
"Ada apa? Bukankah kau menyukainya?" Ia menatapku dengan penuh tanda tanya. Apakah ia tidak menyadari situasi yang terjadi?
"Jangan berpura-pura bodoh! Apa kau pikir kau bisa mempermainkan diriku dengan leluasa? Aku tidak bodoh, Yunho!" Aku berteriak.
"Aku tidak mengerti maksudmu. Beberapa saat yang lalu semuanya baik-baik saja," ujarnya.
"Apanya yang baik-baik saja? Lihat dirimu! Kau sama sekali tidak terangsang." Aku menunjuk ke arah selangkangannya. Ini adalah penghinaan bagiku. Suamiku tidak terangsang saat menyentuhku. Ini merupakan tamparan keras bagiku. Aku merasa diolok-olok.
Ia melihat ke arah kemaluannya. Tentu saja ia menyadari apa yang terjadi. Ia sendiri yang merasakannya.
Aku terus menangis. Hatiku terasa sangat sakit.
"Maafkan aku!" Ia terlihat frustasi. "Aku adalah suami yang tidak berguna." Ia menyalahkan dirinya.
"Mengapa kau melakukan ini kepadaku?" Aku menatapnya dengan mataku yang basah. "Jika kau tidak menginginkanku, lalu mengapa kau memaksakannya?"
"Aku menginginkanmu, Jae," ujarnya.
"Tidak, kau tidak menginginkanku. Organ tubuhmu itu buktinya. Kau sama sekali tidak menginginkanku." Rasanya sedih mengetahui bahwa diriku tidak diinginkan. Aku merasa bahwa diriku tidak berharga, tidak layak untuk dicintai.
"Maafkan atas kegagalanku, Jae! Kupikir aku akan bisa melakukannya." Raut wajahnya terlihat sendu. Tampaknya ia lebih terpukul daripada diriku. Apakah kata-kataku terlalu sadis? Aku telah menghina ketidakmampuannya untuk ereksi. Ia pasti merasa sangat terhina oleh kata-kataku.
Ia pasti merasa jauh lebih terluka dan tersiksa daripada diriku. Selama setahun ia melawan hasratnya dan sekarang ia harus berjuang, memaksakan dirinya untuk berhubungan intim dengan wanita.
Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku bingung. "Kita tidak perlu melakukan hal ini jika merasa terpaksa. Bukankah perjanjian pranikah kita sudah mengatur semuanya? Aku tidak perlu melaksanakan kewajibanku untuk melayanimu. Jadi, kau tidak perlu memaksakan dirimu."
"Yang tidak perlu menunaikan tugas adalah dirimu, bukan aku. Aku sudah berjanji bahwa aku akan melaksanakan semua kewajibanku sebagai suami. Walaupun malam pertama kita ini tidak sempurna, setidaknya aku bisa memberikan kepuasan kepada dirimu." Ia menunduk. Ia tampak menyesal. "Aku merasa sangat bahagia saat kau meneriakkan namaku, mendesahkan namaku. Sejenak hal itu membuatku lupa akan kekuranganku. Hal itu membuat harapanku melambung tinggi, membuatku yakin bahwa aku bisa menjadi pria normal sepenuhnya."
Kata-katanya membuatku terenyuh. Betapa besar keinginannya untuk menjadi pria normal. Sekarang justru diriku yang merasa bersalah. Aku tidak mampu untuk membuatnya lurus. "Kau tidak lemah syahwat, bukan?"
"Setahun lalu tidak." Ia tampak enggan untuk mengungkit masa lalunya.
"Kalau begitu, kau masih bisa ereksi." Aku menyentuh batang kemaluannya.
Ia terlonjak. Ia tidak menyangka bahwa aku akan menyentuhnya.
Aku tak tahu apa yang kulakukan. Aku merasa sedih dan kecewa, tetapi aku tak bisa menyalahkan dirinya. Ia membuatku iba. Sebesar apa pun keinginanku untuk marah kepadanya, aku tidak bisa. Ia sangat pandai memanipulasi diriku. Aku berbalik mengasihani dirinya.
Sepertinya aku sudah kehilangan akal sehatku. Aku memasukkan batangnya ke dalam mulutku. Aku mengoralnya.
"Jae, apa yang kau lakukan?" Lagi-lagi ia terkejut oleh aksiku.
Aku tidak menghiraukan kata-katanya. Aku mengisap batangnya sekuat yang aku bisa.
Aku merasa mual. Mulutku terasa penuh. Sulit bagiku untuk bernafas dengan normal. Aku merasa semakin mual saat membayangkan barangnya ini memasuki lubang yang tidak semestinya.
"Jae!" Ia mulai meracau.
Aku tidak sanggup untuk berpikir lagi. Aku terus mengisap sekuat tenaga.
"Jae, sudah! Hentikan!" Ia mendorongku.
Aku merasa lelah, pikiranku, perasaanku, hatiku, juga fisikku. Tatapan matanya penuh dengan kesedihan.
Ia memelukku dengan erat. "Kau tidak perlu melakukan itu. Aku tidak akan mengizinkanmu untuk melakukannya lagi." Ia membelai punggungku.
Aku menangis di pelukannya. Aku ingin bahagia bersamanya. Andaikan saja suamiku ini adalah pria normal.
Perlahan ia membaringkanku di tempat tidur. Ia menatapku sambil mengusap air mataku. "Hatiku terluka setiap kau meneteskan air mata."
Aku merasakan sesuatu tiba-tiba masuk. Sakit rasanya. Tangisku kembali pecah. Malam ini emosiku benar-benar tidak terkendali.
Tubuh kami berhasil menyatu malam ini. Penyatuan kami ini benar-benar penuh air mata dan emosi.
.
.
.
Aku terbangun dari tidurku karena aku merasa kedinginan. Ke mana perginya selimutku? Aku melihat Yunho duduk di atas kursi sambil menghadap ke arahku. "Kau tidak tidur?"
Ia menggeleng. Wajahnya terlihat lelah. Ia tidak berpakaian.
Aku meraih selimut yang tergeletak di lantai. Aku bermaksud menutupi tubuhku dengan selimut.
"Tidak, jangan kau tutupi!" cegahnya.
Aku tidak mengerti. "Mengapa? Aku kedingingan. Memangnya kau tidak merasa kedinginan?"
Ekspresi wajahnya melembut. Ia mencoba untuk tersenyum. "Kalau begitu, tidurlah! Kau boleh menggunakan selimutmu."
Aku melihatnya duduk bersandar di kursi dengan membuka lebar kakinya. Kini aku mengerti apa yang sedang ia lakukan. Ia mencoba untuk membuat bendanya berdiri dengan melihat tubuhku yang polos. Namun, sepertinya hal itu tidak berhasil.
Aku tidak tahu apa lagi yang harus kulakukan. Ini di luar kuasaku.
.
.
.
Kami pergi berlibur untuk berbulan madu. Kami pergi ke Eropa. Ia mengajakku berbelanja.
"Kau boleh membeli apa pun yang kau inginkan." Ia terlihat seperti seorang bos besar. Dengan santainya ia mengatakan hal itu.
Aku tidak terlalu suka berbelanja. Aku hanya akan membeli barang yang benar-benar kubutuhkan. Aku sama sekali tidak tergoda oleh baju-baju yang indah, sepatu, tas, perhiasan.
Aku melirik label harga dari barang-barang di toko yang kukunjungi, harganya fantastis. "Mahal."
"Itu tidak ada apa-apanya bagiku." Ia mulai pamer.
"Sombong," cibirku.
Ia terkekeh. "Kau tidak perlu memikirkan harganya. Jika kau suka, ambil saja."
"Tidak, aku masih punya banyak sepatu di rumah," kataku dengan angkuhnya. Aku tidak ingin ia menilaiku sama dengan wanita lainnya.
Kami lanjut berjalan-jalan, keluar masuk toko yang kami lalui. Aku melihat-lihat sepatu yang dipajang di rak kaca. Sepasang di antaranya menarik perhatianku. Desainnya sangat sederhana, tetapi bahannya berkualitas. Aku memegang-megang sepatu tersebut selama beberapa detik. Setelah itu aku kembali melihat-lihat barang-barang lain di toko itu. Barang-barang yang dijual di toko ini sangat berkualitas. Toko ini memang lebih eksklusif daripada toko-toko yang kami kunjungi sebelumnya.
Siang hari kami beristirahat di sebuah kafe untuk makan siang. Aku memesan pasta, sedangkan Yunho memesan steak.
Aku melihat Yunho membawa sebuah tas belanjaan. "Apa yang kau beli?"
"Sepatu," jawabnya.
"Oh," komentarku. Ia berhak membeli apa pun yang ia inginkan dengan uangnya.
"Apa kau tidak ingin melihat sepatu yang kubeli?" tanyanya.
Sebenarnya aku tidak tertarik untuk melihat sepatu yang ia beli, tetapi aku ingin lebih menunjukkan perhatianku kepadanya. "Boleh."
Ia menghentikan kegiatan makannya untuk membuka tas belanjaannya. Ia sepertinya benar-benar ingin menunjukkan sepatu barunya kepadaku.
Aku terpana melihat isi kotak sepatu tersebut. "Kau memakai sepatu wanita?"
"Sepatu ini untukmu, Sayang," katanya.
"Mengapa kau membelikannya untukku?" balasku. "Sepatu ini mahal sekali."
"Kupikir kau tertarik pada sepatu itu. Jadi, aku membelikannya untukmu," ujarnya santai. "Kau ragu untuk membelinya karena harganya yang sangat mahal. Pada saat seperti inilah kepekaanku diuji." Hebat! Ia bisa membaca pikiranku.
Pria ini sangat unik. Ia berjuang dengan sangat keras untuk mendapatkan hatiku. Ia sangat serius dan tidak main-main dengan ucapan dan tindakannya.
"Dari mana kau tahu ukuran sepatuku?" Aku masih terpana kepadanya.
Ia memutar bola matanya. "Apa kau pikir aku tidak memperhatikan kakimu?" Ia benar-benar memperhatikan segala sesuatu tentangku. Ia memang menakutkan.
"Apa kau adalah mata-mata?" Aku memandangnya curiga.
Sontak saja ia tertawa. "Apa kau pikir aku adalah James Bond?"
"Apa kau tahu ukuran pakaianku, pakaian dalamku?" Aku terus saja bertanya.
"Tentu saja. Aku melihat seisi kopermu." Ia kembali memakan steaknya.
Aku menatapnya dengan tajam. "Apa kau menggeledah koperku?"
"Tidak, aku hanya ingin melihat isi kopermu," ujarnya santai.
"Untuk apa kau melakukannya? Apa kau mencurigaiku?" Aku merasa keberatan oleh tindakannya.
"Karena aku ingin melakukannya. Aku menyukai segala sesuatu yang berhubungan denganmu." Konyol! Ia sangat konyol.
.
.
.
Yunho sedang pergi ke toilet. Aku merasa bosan menunggunya sendirian. Aku pun memutuskan untuk menghubungi Hani melalui aplikasi chatting.
Hani:
Bagaimana bulan madu kalian?
Aku tidak tahu apa saja yang bisa kuceritakan kepadanya. Suamiku adalah pria yang sangat romantis dan protektif. Sepanjang jalan ia akan berjalan sambil memeluk pinggangku. Ia juga sering sekali menggombaliku. Kami terlihat seperti pasangan yang berbahagia.
Sebenarnya aku merasa risih saat Yunho memperlakukanku dengan sangat mesra di tempat umum. Aku tidak terbiasa dengan hal itu. Aku sudah lama terbiasa sendiri. Saat ada pria yang memperlakukanku dengan baik, aku merasa risih. Namun, di sisi lain perasaanku melambung tinggi.
Menyenangkan. Ia membelikanku sepatu.
Aku memfoto sepatu baruku, yang dibelikan oleh suamiku. Aku merasa bangga dan ingin memamerkannya kepada temanku itu. Bukan sepatunya yang kubanggakan dan ingin kupamerkan, melainkan aku ingin menunjukkan betapa bangganya aku memiliki suami yang sangat perhatian seperti Yunho.
Harganya mahal sekali. Belum tentu Junsu mau membelikannya untukmu. Hahaha!
Hani:
Wah, bagus sekali! Kau beruntung memiliki suami kaya yang sangat menyayangimu.
Beruntung? Apakah benar aku beruntung? Memiliki suami gay bukanlah sebuah keberuntungan bagiku.
Ini memang sudah menjadi nasibku. Aku memiliki kesempatan untuk memilih dan aku telah memilih untuk menikahi Yunho. Jadi, aku harus menerima semua konsekuensi dari pilihanku itu.
Hani:
Bagaimana ia di atas ranjang? Apakah ia agresif seperti yang terlihat?
Aku merasa bahwa urusan ranjang adalah urusan pribadiku dengan suamiku. Aku tidak ingin orang lain tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku harus melindungi nama baik suamiku.
Menyenangkan. Hahaha!
Hani:
Syukurlah! Jujur saja aku merasa khawatir. Kau tahu kan apa maksudku?
Berarti hal itu tidak menjadi masalah lagi, bukan?
Ya, tentu saja aku tahu maksud temanku itu. Yang ia khawatirkan memang terjadi, tetapi biarlah ini menjadi masalahku. Orang lain tidak perlu mengetahuinya.
Tidak ada masalah. Kami bahagia.
Hani:
Ya, tentu saja kalian bahagia. Aku bisa melihatnya pada foto kalian.
Foto? Foto apa yang Hani maksud?
Foto apa maksudmu? Foto pernikahan kami?
Hani:
Foto profil suamimu. Kalian terlihat sangat mesra di atas tempat tidur. Hahaha!
Untung saja ia tidak memasang foto kalian tanpa busana.
Aku terkejut membaca pesan dari Hani. Aku langsung memeriksa foto profil suamiku di aplikasi chatting. Benar saja ia memasang foto yang diambil pada malam pengantin kami. Kukira ia hanya ingin mengoleksi fotoku saja. Rupanya ia menggunakan foto itu sebagai foto profil. Dengan memasang foto kami dengan latar tempat tidur, seakan-akan ia ingin menunjukkan pada dunia bahwa ia adalah pria normal yang bisa meniduri wanita.
Semua sikap mesranya kepadaku di depan umum, apakah itu hanya pura-pura? Apakah ia melakukan semua itu hanya agar orang lain menilainya sebagai pria normal?
Aku sedih. Ia hanya memanfaatkanku. Ia tidak melakukan semua itu dengan tulus. Aku bukanlah seseorang yang berharga untuknya. Aku hanyalah sebuah alat.
.
.
.
"Kau kenapa?" tanyanya setelah kembali dari toilet. "Apa kau tidak menyukai sepatu yang kubelikan? Apakah ukurannya tidak pas?"
Aku memaksakan senyumanku. "Aku suka. Sepatunya sangat bagus. Ukurannya juga sangat pas. Terima kasih, Suamiku!"
Ia terlihat sangat senang. "Kalau begitu, kau harus menciumku sebagai balasannya."
Aku menggembungkan pipiku. "Di sini? Nanti saja di kamar hotel. Aku tidak ingin melakukannya di hadapan orang banyak."
"Tidak ada yang akan memperhatikan kita," bujuknya.
"Tidak mau!"
.
.
.
Aku tidak ingin malam datang. Aku tidak ingin kejadian seperti pada malam pengantinku terulang kembali. Hal itu sangat menyedihkan.
Aku memutuskan untuk tidur lebih awal, tentu saja untuk menghindari ia meminta yang macam-macam. Lebih baik aku menolak dirinya di awal daripada kami gagal di tengah-tengah.
Tampaknya ia memaklumiku, mengingat sepanjang hari kami pergi berjalan-jalan. Ia juga bukan tipe pria yang suka memaksa. Ia adalah pria yang sangat baik, terlepas dari orientasi seksualnya. Ia berbaring di sebelahku dan tidur.
.
.
.
Aku selalu menghindar untuk berhubungan intim dengannya. Aku mengemukakan berbagai alasan untuk menolaknya. Tampaknya ia pun menyadari bahwa aku hanya mencari-cari alasan. Meskipun ia tahu alasanku sebenarnya, ia tetap diam dan tidak mengatakan apa-apa.
Setelah kembali dari bulan madu, aku berniat untuk langsung menyibukkan diri dengan pekerjaanku. Pekerjaanku di laboratorium bisa membuatku melupakan semua masalahku.
Kupikir kami akan tinggal di apartemen lamanya. Seharusnya apartemen itu sudah selesai direnovasi. "Kita akan pergi ke mana?"
"Tentu saja ke rumah kita." Ia tersenyum. Senyumannya tampak berbeda. Ia menyembunyikan kepedihan di balik senyumannya.
Apakah sikapku kepadanya terlalu kejam? Aku merasa bersalah. Aku tidak memperlakukannya dengan baik, tetapi ia tidak pernah protes.
Ia membawaku ke sebuah tempat yang belum pernah kukunjungi. Tempatnya tidak jauh dari tempat tinggal pamanku.
"Aku memilih tempat ini agar kau masih bisa sering-sering bertemu dengan keluargamu. Aku merasa sangat jahat karena telah memisahkan seorang anak perempuan dengan keluarganya." Manis sekali. Ini adalah hal termanis yang pernah ia lakukan untukku.
Aku memeluknya. "Terima kasih, Yunho! Kau selalu baik kepadaku."
"Aku bahagia jika kau bahagia." Seperti biasa senyumannya selalu melelehkanku.
Aku sangat menyukai apartemen kami yang baru. Apartemen ini memiliki dua kamar dan lebih luas dari apartemen lama Yunho. "Lalu apartemen lamamu bagaimana?"
"Aku akan menyewakannya kepada orang lain," jawabnya. Ia membuka lemari es, ternyata di dalamnya sudah penuh oleh bahan makanan. "Duduklah! Aku akan memasak untukmu."
"Memasak? Memangnya kau bisa memasak?" Tidak pernah terpikirkan olehku bahwa ia bisa memasak.
Ia tersipu malu. "Tidak."
"Lalu mengapa kau ingin memasak?" tanyaku.
"Sudah lama aku mempunyai keinginan untuk memasakkan sesuatu untuk istriku, seseorang yang sangat berharga bagiku." Kata-katanya membuat jantungku berdebar-debar. Berharga? Benarkah?
Aku memperhatikannya memasak. Punggungnya terlihat sangat tegap. Ia terlihat sangat seksi menggunakan apron. Lengan kekarnya membolak-balikkan wajan. Oh Chef, aku jatuh cinta kepadamu!
.
.
.
Ia tampak ragu saat menghidangkan telur dadar buatannya. "Aku tidak tahu apakah kau akan menyukainya atau tidak."
"Tumben sekali, biasanya kau selalu tahu apa yang kusukai," godaku.
Ia tersenyum malu. "Aku manusia, Jae."
Ucapannya sedikit menyindirku. Ya, ia hanyalah manusia biasa. Aku tak bisa menuntut kesempurnaan darinya. Dengan semangat aku mencicipi telur dadar buatannya. "Hmm, seharusnya kau berlatih terlebih dahulu sebelum melakukan eksekusi."
Ia tersenyum miris kali ini. "Ya, kau benar. Aku jarang mengalami kegagalan, sehingga aku menjadi terlalu percaya diri. Pada kenyataannya tidak semua hal akan berjalan sesuai dengan yang kita inginkan."
Aku mengerti makna di balik kata-katanya. Tn. Jung ini memang terlampau percaya diri sejak bertemu denganku. Pada awal aku bertemu dengannya, ia selalu tampil percaya diri, seakan ia telah merencanakan semuanya dengan rapi.
Semakin lama aku mengenalnya, aku semakin melihat sisi manusiawinya. Aku pernah melihatnya sedih, menangis, kecewa, marah, frustasi, terpuruk, sampai kehilangan rasa percaya dirinya.
"Kegagalan akan membuat kita menjadi semakin kuat," kataku.
"Kau benar." Ia tersenyum lagi. "Lain kali aku akan memasak makanan yang lebih enak untukmu."
"Lain kali persiapkanlah dengan baik! Jika perlu, berlatihlah! Buatlah aku terkesan!" Aku menantangnya. "Oleh masakanmu tentunya." Aku yakin ia akan menafsirkan yang lain. Ia adalah orang yang sangat cerdas.
.
.
.
"Sunbae, kau membawa oleh-oleh apa untukku?" Changmin langsung menagih oleh-oleh kepadaku.
"Aku membawakan banyak cokelat untukmu." Aku membongkar tasku.
"Wah, banyak sekali!" Matanya berbinar-binar. "Berapa banyak uang yang kau keluarkan untuk membeli semua cokelat ini?"
"Aku tidak mengeluarkan uang sepeser pun. Suamiku yang membeli semuanya." Menjadi Ny. Jung Yunho membuat uangku awet. Ia terlalu memanjakanku.
"Suamimu baik sekali. Suatu hari aku ingin bertemu dengannya. Aku menyesal tidak datang ke pernikahanmu." Changmin tidak menghadiri pernikahanku karena ia sedang pergi ke luar kota. "Ia pasti pria yang sangat baik. Kau terlihat bahagia."
Bahagia? Benarkah? Aku tidak tahu. Aku sendiri bingung dengan kehidupan rumah tanggaku. Aku merasa bahwa kami berdua saling menyakiti. Tidak ada satu pun di antara kami yang bahagia dengan kondisi seperti ini. Ini salah siapa? Aku tidak tahu. Apa yang harus kulakukan untuk memperbaikinya? Aku pun tak tahu. Entah sampai kapan kami akan sanggup untuk bertahan dalam kondisi seperti ini.
Aku beruntung karena Yunho adalah pria yang sangat penyabar. Ia bisa tahan dengan sikapku yang sangat menyebalkan dan egois. Namun, entah kapan ia bisa tahan dengan sikapku ini. Mungkin memang aku lebih berharap ia yang menceraikanku daripada sebaliknya karena aku tidak sanggup untuk melakukannya. Aku tidak ingin berpisah dengannya, tetapi aku juga tidak mau terus menjalani kehidupan rumah tangga yang seperti ini.
.
.
.
Tak terasa pernikahanku dengan Yunho sudah menginjak usia tiga bulan. Hubungan kami sama sekali tidak mengalami kemajuan. Ia mulai dingin kepadaku. Ia jarang sekali berkata-kata manis lagi kepadaku. Ia sudah jarang menggoda atau memperlakukanku dengan mesra. Mungkin ia mulai jenuh denganku. Mungkin ia mulai menyerah menghadapiku.
Aku sedih. Aku kehilangan Yunhoku yang dulu. Menyesal? Mungkin ya karena akulah yang memulai bersikap dingin kepadanya.
"Maukah kau menemaniku pergi ke pesta pernikahan temanku?" Ia bertanya pada saat kami sedang makan malam.
"Tentu saja," jawabku. Bukankah sudah seharusnya seperti itu?
"Terima kasih." Ia tidak banyak bicara.
"Tidak perlu berterima kasih. Ini memang sudah kewajibanku." Aku tersenyum kepadanya.
Wajahnya masih terlihat dingin. "Kau tidak perlu melaksanakan kewajibanmu jika kau tidak mau."
Aku terdiam. Kata-katanya melukai hatiku. Aku memang istri yang tidak berguna.
.
.
.
Ini adalah pertama kalinya aku menemani Yunho ke pesta. Aku tidak ingin membuatnya malu. Aku berdandan dengan sangat cantik. Aku meminta bantuan Hani untuk mendandaniku. Aku juga tidak mengenakan kacamataku. Aku tidak ingin suamiku diolok-olok karena mempunyai istri yang jelek.
Yunho sampai terpana melihatku. Aku tidak pernah berdandan seperti ini untuknya.
"Bagaimana penampilanku?" Untuk pertama kalinya aku memakai sepatu yang ia belikan pada saat kami berbulan madu di Eropa. Aku ingin membuatnya terkesan.
"Kau tidak perlu berdandan jika terpaksa." Kata-katanya pedas. Tidak bisakah ia menghargai usahaku? Aku melakukan ini untuknya, agar ia tidak diolok-olok.
Aku merasa sakit hati oleh ucapannya. Ya, aku mengerti. Aku saja tidak pernah menghargai usahanya. Kini saatnya ia untuk membalasku.
Yunho terlihat berseri-seri saat bertemu dengan teman-temannya di pesta. Semua temannya laki-laki. Jangan-jangan mereka juga gay dan tidak menutup kemungkinan bahwa salah satunya merupakan kekasih suamiku.
Aku terbakar api cemburu. Mereka semua sangat tampan. Yunho melupakan diriku saat ia bersama teman-temannya.
"Yun, mengapa kau tidak mengenalkan istrimu kepada kami?" tanya salah seorang temannya.
Yunho menoleh ke arahku yang berdiri tidak terlalu dekat dengan mereka. "Istriku itu sangat pemalu. Aku khawatir ia akan merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah kita." Tampaknya ia ingin menyingkirkanku. Ia tidak suka aku memasuki lingkar pertemanannya.
Sepanjang pesta ia tidak mengacuhkanku. Ia sibuk dengan teman-temannya. Ia menganggapku sebagai pengganggu.
.
.
.
"Siapa para lelaki yang bersamamu tadi di pesta?" Aku langsung bertanya sesampainya di rumah.
"Teman-temanku." Ia menjawab dengan dingin.
"Teman sekolahmu?" lanjutku.
"Bukan," jawabnya lagi.
"Lalu?" Aku menunggu penjelasan darinya.
Ia menatapku. "Mengapa kau ingin tahu?"
"Aku berhak mengetahuinya karena aku adalah istrimu." Aku balas menatapnya.
"Menurutmu?" Ia menyeringai. "Kau adalah wanita yang sangat cerdas. Kau pasti bisa menebak siapa mereka."
Aku terdiam. Hatiku panas. Ia jauh lebih cerdik dariku. Ia bisa membaca pikiranku.
Ia tiba-tiba tertawa. "Kau serius sekali menanggapinya. Mereka adalah teman kuliahku."
Sialan! Ia mempermainkanku. Aku benci dipermainkan seperti ini.
"Kebetulan sekali kau tidak tidur cepat malam ini. Bagaimana kalau kita... Aku sedang bersemangat malam ini." Ia mengedipkan matanya kepadaku. Ia mulai genit lagi. Ia membelai pipiku dan kemudian menciumku.
Aku rindu dicium olehnya. Ia berhasil menaklukkanku lagi.
Ciumannya semakin intens. Ia juga mulai meraba-raba tubuhku. Tanpa sadar aku sudah digendong olehnya. Ia membawaku ke kamar. Ia melemparkanku ke atas tempat tidur dan kemudian menindihku. "Oh Jae, aku begitu merindukanmu."
Aku juga merindukannya. Aku juga menginginkannya. Aku tidak peduli jika ia tidak menegang. Aku bisa mengoralnya lagi.
Setelah kejadian di malam pengantin kami, kami tidak pernah lagi berhubungan badan. Kehidupan rumah tangga kami memang tidak normal.
Ia merobek gaunku dengan sekali tarikan. "Tenang saja! Aku akan membelikan gaun yang lebih bagus." Ia sangat mengenal kepribadianku. Sebelum aku sempat bereaksi, ia sudah tahu akan seperti apa reaksiku.
Terkadang aku merasa bahwa ia mencintaiku. Ia mengetahui hampir semua tentangku. Kepribadianku, caraku berpikir, ia sangat memahaminya. Namun, terkadang aku juga merasa bahwa ia tidak mencintaiku. Ia tidak berhasrat kepadaku, tidak menginginkanku. Ia hanya memanfaatkanku.
Setelah berhasil melucuti pakaianku, ia mulai membuka pakaiannya. Aku terkejut karena ternyata ia sudah menegang. Sejak kapan? Bagaimana bisa? Apakah karena tadi ia bertemu teman-teman lelakinya? Jadi, ia hanya menggunakanku sebagai tempat pelampiasannya?
"Kau..." Aku tak sanggup berkata-kata.
"Bukankah aku harus sudah siap sebelum eksekusi?" Ia tersenyum penuh kemenangan. Ia benar-benar meresapi kata-kataku tempo hari. "Apa kau terkesan, Ny. Jung Yunho?"
Aku masih penasaran apa yang membuat ia ereksi. Aku merasa tidak yakin bahwa itu adalah diriku.
Walaupun banyak hal yang mengganjal di hatiku, aku memilih untuk diam. Ia sedang senang malam ini. Aku tidak ingin merusak kesenangannya.
.
.
.
Kegembiraannya masih bertahan sampai keesokan harinya. Ia memasak sarapan untukku, panekuk. "Aku belajar membuat panekuk saat kau sibuk bekerja." Tampilan panekuk yang ia buat sangat menggoda. "Cobalah!" Ia menyuapiku. Rasa panekuknya enak sekali.
"Ini enak sekali." Hal ini membuatku terharu. "Aku tidak menyangka bahwa kau bisa memasak seenak ini."
"Dengan usaha dan kerja keras, semua bisa diwujudkan." Ia memang serius dan tekun. Jika ia ingin menggapai sesuatu, ia akan berusaha untuk mendapatkannya. Ia menghela nafas. "Ini adalah hasil latihanku selama tiga bulan." Tiga bulan? Ia berlatih selama itu untuk membuat panekuk? "Aku tidak berbakat dalam hal memasak. Orang lain pasti sudah bisa membuat beberapa macam makanan dalam waktu tiga bulan, sedangkan aku hanya bisa membuat panekuk."
Aku bertepuk tangan. Aku menghargai semua usahanya. "Kau sangat keren, Tn. Jung Yunho. Ny. Jung Yunho sangat terkesan."
"Akhirnya aku bisa memasak untuk istriku." Ia tersenyum penuh kebahagiaan.
.
.
.
Siangnya kami kedatangan tamu istimewa. Ny. Jung dan Jihye datang berkunjung ke apartemen kami. Hal ini tidak disangka-sangka. Jihye tidak memberi tahu kami terlebih dahulu bahwa mereka akan datang. Untung saja kami sedang ada di rumah.
Kebahagiaan Yunho menjadi berlipat-lipat ganda. Dengan penuh haru ia memeluk ibunya. Terakhir kali mereka bertemu adalah pada pernikahan kami dan tidak banyak interaksi di antara mereka.
Aku menitikkan air mata melihat interaksi ibu dan anak itu. Aku juga turut bahagia. Ini adalah kebahagian terbesar bagi suamiku.
Ny. Jung tidak banyak bicara. Hubungan mereka masih sangat canggung, mungkin karena sudah lama tidak berinteraksi. "Kapan kau akan memberikanku cucu?"
Yunho tampak kebingungan. Ia tidak mengira bahwa ibunya akan menanyakan hal itu. Ia melirik ke arahku. "Jaejoong adalah wanita karir, Bu. Ia sibuk dengan pekerjaannya."
Ny. Jung tampak tidak senang dengan jawaban putranya. Sepertinya ia masih belum yakin bahwa Yunho sudah 'lurus'.
"Aku masih mempunyai kontrak kerja sampai akhir tahun. Setelah itu aku akan fokus untuk mengurus keluarga." Aku merasa bahwa aku harus membantu Yunho. Jangan sampai hubungannya dengan Ny. Jung kembali memburuk.
"Apakah permintaanku terlalu berat bagi kalian?" Jelas sekali bahwa Ny. Jung tidak merasa senang.
"Tidak, kami memang sudah merencanakannya seperti itu." Aku terpaksa berbohong. "Kami harus mempersiapkan semuanya dengan baik."
Ny. Jung menghela nafas. "Sepertinya kehadiranku akan mengganggu kalian."
Aku dan Yunho syok mendengarnya. Jihye datang ke apartemen kami ternyata untuk menitipkan Ny. Jung. Tadi pagi ia mendapatkan kabar bahwa ayah mertuanya sakit keras, sehingga ia dan Yoochun harus segera pergi ke Amerika untuk menjenguk Tn. Park. Tentu saja Ny. Jung tidak bisa ikut karena kondisi kesehatannya.
"Apa kau tidak suka aku tinggal di rumahmu?" Ny. Jung bertanya kepada Yunho. Rupanya ia belum bisa memaafkan putranya itu. Mungkin ia baru bisa memaafkan Yunho jika Yunho bisa memberikannya seorang cucu, sebagai bukti bahwa putranya itu bukan lagi seorang gay.
"Tentu saja aku merasa sangat senang. Aku sangat ingin merawat ibu." Mata Yunho tampak berkaca-kaca. Ia merasa bahwa ia memiliki harapan untuk mendapatkan hati ibunya kembali.
Ya, kehadiran Ny. Jung adalah kebahagiaan bagi kami, sekaligus masalah baru. Kami harus menutup masalah rumah tangga kami rapat-rapat.
.
.
.
Aku merasa malu kepada ibu mertuaku. Aku jarang berada di rumah dan Yunholah yang lebih sering berada di rumah. Aku bukanlah istri dan menantu yang baik. Sisi positifnya Yunho bisa mempunyai banyak kesempatan untuk berdua dengan ibunya.
Aku berusaha untuk pulang lebih awal. Aku ingin memasak makan malam untuk ibu mertuaku. Sepulang bekerja aku mampir untuk berbelanja bahan makanan.
"Istrimu pulang dan pergi naik bis?" Ny. Jung menatap suamiku dengan sinis, seakan ia mengatakan 'sebagai suami kau tidak perhatian sekali'.
Akulah yang ingin bepergian naik bis. Ini bukan salah Yunho. Akulah yang melarang Yunho untuk mengantarjemputku. Aku juga menolak untuk dibelikan mobil. Aku ingin mandiri dan hidup sederhana.
"Besok aku akan membelikannya mobil," ujar Yunho.
"Bu, semua ini bukan salah Yunho." Aku membela suamiku. "Aku tidak ingin berubah menjadi wanita yang manja hanya karena aku menikahi seorang pria kaya."
"Pernikahan kalian ini bukanlah sebuah kepura-puraan, kan?" Ny. Jung mulai berpikiran negatif.
"Mengapa ibu berpikir begitu? Hanya karena aku bekerja dan naik bis, lalu ibu berpikir seperti itu?" Kupikir ibu mertuaku itu sudah keterlaluan. Ia terlalu mempersulit putranya sendiri. Tidak ada maafkah untuk Yunho?
Yunho terkejut melihat sikapku. Ia tidak menyangka aku berani melawan ibunya.
"Aku sudah mengatakan bahwa aku masih memiliki kontrak kerja sampai akhir tahun. Aku tidak bisa berhenti begitu saja." Aku menatap ibu mertuaku dengan tajam. "Setelah kontrak kerjaku selesai, ibu bisa menuntut apa pun dariku. Berhentilah menyalahkan suamiku! Sepertinya di mata ibu segala yang ia lakukan salah. Hanya karena sebuah kesalahan besar di masa lalu, ibu tidak bisa memaafkan putra ibu sendiri."
Ny. Jung terdiam. Mungkin selama ini ia mengira bahwa aku adalah tipe wanita yang akan diam saja dan tidak bisa melawan.
"Aku melihat sendiri perjuangannya selama ini." Aku menatap suamiku. Aku berada di pihaknya kali ini. "Ia adalah orang yang sangat luar biasa. Aku adalah wanita yang sangat beruntung karena bisa menjadi istrinya. Aku sama sekali tidak menyesal telah menikahi putramu, meskipun ia memiliki masa lalu yang kelam."
Ny. Jung menatapku. "Sepertinya kau memang wanita yang tepat untuknya." Aku tidak mengerti maksud perkataannya. Ia pun berlalu ke kamarnya.
Aku memandang wanita tua di atas kursi roda itu. Aku merasa yakin bahwa di lubuk hatinya ia sangat menyayangi putranya. Ia bersikap seperti itu karena ia sangat mengkhawatirkan Yunho. Ia ingin putranya kembali ke jalan yang benar agar bisa hidup bahagia.
.
.
.
"Apa benar kau tidak menyesal menikah denganku?" Kami berbaring di atas tempat tidur sambil memandang langit-langit.
"Menyesal pun tidak ada gunanya," kataku santai. "Semuanya sudah terjadi. Ini takdir."
"Apa itu artinya kau akan selalu berada di sisiku sampai maut memisahkan kita?" Ia menggenggam tanganku dan menoleh ke arahku. "Kau tidak berniat untuk meninggalkanku, bukan?"
Aku tidak tahu. Aku masih bingung dengan hubungan kami.
Ia kembali memandang langit-langit. "Terima kasih karena kau telah membelaku di hadapan ibuku."
"Ibumu sangat keterlaluan." Aku mengeluh.
"Seharusnya kau tidak perlu berbohong terlalu banyak hanya untuk membelaku. Bagaimana jika ia menagih semua janjimu pada akhir tahun? Sekarang sudah pertengahan tahun. Apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan berpura-pura amnesia?" Ia terkekeh.
"Sepertinya aku memang harus berhenti bekerja." Entah muncul dari mana ide seperti ini. Selama ini aku sangat mencintai pekerjaanku di laboratorium.
"Kau tidak perlu melakukan hal itu. Aku mengerti betapa besar cintamu kepada pekerjaanmu," ujarnya.
"Suatu saat aku harus berhenti. Aku harus memikirkan masa depanku, keluargaku." Egoku tiba-tiba hilang.
"Tidak perlu secepat itu. Kau masih mempunyai banyak waktu. Aku memberimu kebebasan untuk berkarya." Ia sangat perhatian.
"Aku harus berhenti bersikap egois. Aku harus berhenti hanya melihat dari sudut pandangku. Aku tidak boleh terus menyusahkan orang lain dengan segala pemikiranku." Aku memiringkan tubuhku untuk menghadap ke arahnya. "Aku sudah tidak muda lagi, tetapi sikapku sangat kekanak-kanakan."
"Apa kau akan percaya jika sekarang aku mengatakan bahwa aku mencintaimu?" Ia menatap mataku.
Cinta? Tidak pernah ada kata cinta terucap dari bibir kami. Aku sendiri bingung dengan perasaanku kepadanya. Aku tidak ingin berpisah dengannya, tetapi di saat yang bersamaan aku menghindar darinya.
"Aku tidak tahu," jawabku.
"Oh," komentarnya. "Itulah sebabnya aku tak pernah mengatakan cinta kepadamu." Lagi-lagi ia membaca pikiranku. "Kau tidak akan percaya."
Aku bangkit dari posisi berbaringku. "Yunho, jadi sebenarnya bagaimana perasaanmu kepadaku?"
Ia tersenyum. "Kau adalah wanita yang sangat cerdas. Simpulkan saja sendiri! Hahaha!" Menyebalkan. Ia sangat menyebalkan. Tahukah kau, wahai Tn. Jung? Kau membiarkan diriku berasumsi dengan liar. "Kau hanya percaya kepada pemikiranmu sendiri. Jadi, tidak ada gunanya aku mengatakan perasaanku kepadamu." Kau benar, Tn. Jung. Kau lebih mengerti diriku daripada diriku sendiri.
"Apa kau menyerah untuk meyakinkanku?" Aku menantangnya.
"Kau sangat sulit untuk ditaklukkan, Jae," katanya. Ia menatapku dengan tatapan yang menggoda. Apa kau tidak tahu bahwa kau membuatku sulit bernafas, Jung?
"Sebelumnya kau pasti bisa dengan mudah menaklukkan siapa pun," sindirku.
"Hanya ada dua orang yang sampai saat ini belum bisa kutaklukkan," balasnya.
"Aku dan ibumu." Aku bisa menebaknya dengan mudah.
"Aku sama sekali tak meragukan kecerdasanmu." Ia memujiku.
"Aku hanyalah wanita biasa, tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan dirimu. Apa sulitnya menaklukkan diriku?" kataku.
"Hatimu sulit untuk ditembus. Benteng pertahananmu terlalu keras dan tebal," jawabnya. "Kau mengunci hatimu dengan rapat. Berkali-kali aku hampir menyerah menghadapimu."
Ya, ia benar. Aku menutup hatiku dengan sangat rapat. Aku sangat takut untuk dikecewakan. Aku tidak bisa percaya begitu saja jika ada pria yang mengatakan cinta kepadaku. Apa yang pria lihat dariku? Aku tidak cantik atau menarik. Egoku yang tinggi juga menjadi kekuranganku di mata pria. "Apakah menaklukkanku merupakan tantangan bagimu?"
Ia tertawa. "Apa kau pikir aku adalah pria yang menyukai tantangan? Aku lebih memilih mendapatkan sesuatu dengan cara yang mudah. Entah mengapa wanita yang kuinginkan justru sulit kudapatkan."
"Lalu mengapa memilihku? Masih banyak wanita yang lebih mudah didapatkan," balasku.
"Bukan akalku yang memilihmu, melainkan hatiku. Akalku lebih mudah dikendalikan daripada hatiku," jawabnya dengan yakin. "Saat pertama kali melihatmu, entah mengapa aku merasa bahwa kaulah jodohku." Omong kosong apa ini?
"Apakah kau lebih mengikuti akalmu atau hatimu?" tanyaku lagi.
"Tergantung mana yang pengaruhnya lebih kuat," jawabnya lagi.
"Kukira kau adalah orang yang selalu mengikuti logikamu." Aku berterus terang.
"Aku adalah manusia yang memiliki hati, Jae. Aku bukan robot," ujarnya.
"Percakapan kita ini semakin tidak berarah." Aku ingin menyudahi obrolan kami sampai di sini.
"Apakah setiap pembicaraan memerlukan arah?" Raut wajahnya tampak serius. "Pembicaraan kita bukan diskusi ilmiah yang memerlukan arah. Maaf jika aku membuatmu merasa tidak nyaman."
.
.
.
Keberadaan ibu Yunho di rumah kami memberikan dampak positif. Aku menjadi lebih sering memasak. Hubunganku dengan Yunho juga menjadi lebih mesra. Aku merasa lebih bahagia dengan kehidupan yang seperti ini. Aku mulai menikmati peranku sebagai istri dan menantu.
Pada suatu sore, setelah aku memasak untuk makan malam, ibu mertua memanggilku ke kamarnya. Perasaanku sangat gugup.
Ia mengeluarkan sebuah kotak dari dalam kopernya. Ia menyerahkan kotak itu kepadaku.
"Apa ini, Bu?" tanyaku penasaran.
"Bukalah!" Raut wajahnya dingin seperti biasa.
Aku membuka kotak tersebut. Aku menemukan rajutan pakaian bayi di dalamnya.
"Selama setahun ini aku membuat semua itu. Aku sangat berharap putraku bisa berjodoh dengan wanita dan hidup bahagia selamanya. Apakah harapanku terlalu berlebihan?" Ia mengharapkan jawaban dariku.
"Semua ibu pasti mengharapkan kebahagiaan anaknya. Itu sama sekali tidak berlebihan," kataku.
"Aku sadar bahwa cara yang kugunakan terlalu kejam. Aku melakukan semua ini untuk membuat putraku kembali." Sudah kuduga, ia tidak benar-benar membenci Yunho.
"Aku berubah mengkhawatirkanmu saat aku mendengar dari Jihye bahwa ia akan mengenalkan seorang wanita kepadaku. Siapa pun wanita itu, aku mengasihaninya." Ny. Jung lanjut bercerita. "Aku lebih memilih putraku tetap menjadi seorang homoseksual daripada ia memperalat seorang wanita. Itu sangat kejam."
Ternyata Ny. Jung memiliki pemikiran yang sama denganku. Ia tidak percaya putranya yang sudah bertahun-tahun menjalani kehidupan sebagai gay berubah lurus dalam waktu setahun.
"Kupikir kau adalah wanita yang ia sewa untuk ia bawa ke hadapanku, ternyata ia serius menikahimu," lanjutnya. "Aku semakin mengkhawatirkan dirimu."
Aku berlutut di hadapannya dan menaruh kepalaku di atas pangkuannya. "Terima kasih ibu sudah mengkhawatirkanku. Ibu tidak perlu khawatir lagi. Ia sudah berubah. Ibu harus mulai membuka hati untuk mulai memercayainya. Aku bahagia hidup bersamanya. Apa ibu melihatku menderita selama ibu tinggal bersama kami?"
"Aku merasa lega melihat betapa mesranya kalian. Senyum kebahagiaan terpancar dari wajah kalian." Ia membelai kepalaku. "Oleh karena itu, aku menyerahkan kotak itu kepadamu. Pakaian-pakaian bayi itu akan segera terpakai."
Bahagia? Ya, itulah yang kurasakan saat ini. Aku tidak lagi terlalu memusingkan masa lalu Yunho. Yang penting Yunho yang bersamaku sekarang adalah Yunho yang memujaku.
"Apa yang kau lakukan bersama ibu di kamarnya?" Saat aku keluar dari kamar ibu mertuaku, Yunho sudah pulang dan sedang bersandar pada meja dapur. "Kotak apa itu?"
Dengan antusias aku menunjukkan kotak pemberian ibu mertua kepada Yunho. "Ibu memberikannya kepadaku." Aku membuka penutup kotak tersebut. "Ini untuk anak kita."
Ia tersenyum bahagia. "Jadi, kau bersedia untuk mengandung anakku?"
Tiba-tiba saja aku ingin mempunyai anak. "Kontrak kerjaku masih beberapa bulan lagi, tetapi tidak masalah jika aku hamil sambil bekerja."
"Kau sudah tidak sabar ya, Sayang." Ia menggodaku. Tanpa aba-aba ia menggendongku.
"Hey, apa yang kau lakukan? Sekarang masih sore. Kita belum makan malam." Aku protes.
"Kita akan selesai sebelum makan malam." Ia membawaku ke kamar.
"Di sini ada ibu. Akan sangat memalukan jika ia sampai mendengar kita." Aku mengingatkannya.
"Ia akan sangat senang mendengarnya." Yunho terlihat semakin bersemangat.
Aku sama sekali tidak keberatan untuk bercinta dengannya sebelum makan malam. Akan tetapi, apakah ia bisa ereksi? Ia terlihat sangat percaya diri.
Terakhir kali ia bisa menegang karena ia bertemu dengan teman-teman prianya. Bagaimana dengan kali ini? Apa yang bisa membuatnya tegang?
Aku memutuskan untuk melakukan sebuah eksperimen. Kali ini aku memberanikan diriku untuk berinisiatif menggodanya. "Kau duduk santai saja, Tn. Jung." Aku mendorongnya untuk duduk di pinggir tempat tidur. Aku melepaskan celana panjangnya, sudah sedikit menegang. Apa yang membuatnya seperti ini? "Diam saja! Jangan lakukan apa pun!"
Ia terkejut oleh aksiku. Aku tidak pernah senakal ini, selalu dirinya yang mendominasiku. Ia cukup penasaran, sehingga ia menurut saja.
Aku merasa sangat gugup. Perlahan aku membuka kancing bajuku satu persatu di hadapannya.
Ia terlihat tenang menunggu aksiku selanjutnya. Pandangannya terfokus kepadaku.
Aku melepaskan kacamata dan ikatan rambutku. Rambutku kubiarkan tergerai berantakan. Aku berbalik dan melepaskan kemejaku. Aku juga melepaskan braku di hadapannya. Setelah penutup bagian atasku terlepas, aku kembali berbalik menghadap kearahnya. Rambutku menutupi dadaku.
"Singkirkan rambutmu, Sayang!" Wajahnya terlihat mesum. Aku memandang ke arah selangkangannya, semakin naik.
"Aku tidak mau." Aku terkekeh. Aku membuka kancing celana panjangku dan menurunkan resletingnya pelan-pelan. Aku menggoyangkan pinggulku untuk membuat celanaku turun.
"Aargh! Kau menyiksaku, Sayang." Ia terlihat kepanasan.
Aku hanya mengenakan celana dalam sekarang. Aku berjalan ke arahnya dan duduk di atas pangkuannya. Aku menciumnya sambil menggoyang-goyangkan pantatku.
Ia membalas ciumanku dengan ganasnya. Aku juga bisa merasakan sesuatu di bawah sana mulai menusuk-nusuk pantatku. Ia terangsang.
"Kau lamban sekali, Sayang." Ia membantingku ke atas tempat tidur. Ia bergegas melepaskan celana pendeknya, tegak sempurna.
Eksperimenku berhasil. Pertanyaanku terjawab. Sudah tidak ada masalah lagi dengannya. Aku merasakan sebuah harapan besar untuk masa depan kami.
Ini adalah adegan percintaan kami yang paling indah. Aku merasa sangat bahagia. Aku mencintainya tanpa beban. Keraguanku sirna sudah.
"Aku mencintaimu, Jae," bisiknya.
Seketika air mataku mengalir dengan sendirinya. Akhirnya ia mengatakan kata cinta kepadaku.
"Mengapa kau menangis, Sayangku?" Ia menatapku dan mengusap air mataku dengan jari-jarinya.
Aku menangis semakin keras. Aku ingin meluapkan perasaan bahagiaku.
"Apa aku melakukan kesalahan?" Ia tampak sangat khawatir.
Aku menggeleng. "Aku juga mencintaimu, Yunho!"
Kami bercinta sampai lupa waktu. Kami tidak ingat bahwa kami harus makan malam bersama ibu Yunho.
.
.
.
Kehidupan rumah tangga kami semakin harmonis, walaupun ibu mertuaku kembali tinggal di rumah Jihye. Kebahagianku semakin bertambah setelah aku dinyatakan hamil. Cinta kami akan menjadi semakin kuat dengan hadirnya buah cinta kami.
Pada awal kehamilan aku sering merasa panik dan cemas berlebihan. Maklum saja ini adalah kehamilan pertamaku. Aku sering pulang ke rumah bibi karena aku khawatir dengan kehamilanku. Kehadiran bibi membuatku lebih tenang.
Aku menjadi lebih manja dan emosional. Aku benci kepada diriku yang seperti itu. Beruntung sekali aku memiliki suami yang penyabar dan penyayang.
Yunho mengantarjemputku ke laboratorium. Ia sangat perhatian kepadaku dan anak kami.
Yunho ingin memastikan bahwa aku sampai di laboratorium dengan selamat. Ia mengantarku sampai ke dalam laboratorium. "Ternyata ini tempat kerjamu."
Dengan bangga aku memperlihatkan laboratorium kesayanganku kepada Yunho. "Yunho, perkenalkan ia adalah asistenku, Changmin."
Changmin yang sedang bekerja terpaksa menghentikan pekerjaannya sejenak untuk bertemu dengan suamiku. "Akhirnya aku bisa bertemu dengan suamimu, Sunbae. Senang bertemu denganmu, Tuan..." Ia terlihat marah melihat suamiku.
Raut wajah suamiku juga terlihat menegang. Ia tampak tidak senang bertemu dengan Changmin. Ada apa ini? Apakah mereka sudah saling mengenal?
"Apakah kalian saling mengenal?" Aku memecah kesunyian.
"Tidak, aku tidak mengenalnya. Aku tidak mengenal suamimu, Sunbae." Changmin masih menatap suamiku dengan penuh amarah. Aku tidak mengerti apa yang terjadi.
"Kau mengenalku, Changmin. Tidak mungkin kau melupakanku secepat itu." Aku tidak mengerti apa yang dikatakan oleh suamiku. Sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka?
"Kau jangan mengada-ada, Tn. Jung. Aku sama sekali tidak mengenalmu." Changmin berusaha untuk mengendalikan emosinya.
.
.
.
"Ada hubungan apa di antara kau dan Changmin?" tanyaku dingin.
"Ia adalah bagian dari masa laluku," jawabnya santai. Bagaimana bisa ia sesantai itu?
Perasaanku mulai tidak enak. Aku tidak bertanya lebih lanjut. Aku takut dengan jawaban yang akan ia berikan.
"Urusan kami dahulu belum selesai. Masih ada hal yang harus diluruskan di antara kami," tambahnya.
Aku hanya diam. Aku takut. Lebih baik aku berpura-pura bahwa kejadian pagi ini tidak pernah terjadi, Yunho dan Changmin tidak pernah bertemu.
Aku tidak bisa tidur malam ini. Aku merasa sangat cemas, kekhawatiran yang berlebihan, ditambah pengaruh hormon kehamilan.
"Mengapa kau tidak tidur, Sayang?" Yunho mengeratkan pelukannya pada tubuhku.
"Aku tidak bisa tidur," jawabku.
Ia mengangkat tubuhnya sedikit. "Apa ada masalah yang kau pikirkan?"
Aku menggeleng. "Ini adalah kehamilan pertamaku. Aku selalu merasa cemas tanpa alasan." Aku tidak mengatakan kepadanya mengenai masalah yang menggangguku.
.
.
.
Keesokan harinya Yunho mengantarku sampai ke laboratorium. Ia menanyakan Changmin. Ia mengatakan bahwa ia harus berbicara dengan pemuda itu. Ia harus menyelesaikan masalah mereka.
Yunho tidak memberitahuku mengenai masalah mereka dan aku pun tidak berani untuk bertanya. Satu hal yang terlintas di benakku, Changmin adalah mantan kekasih Yunho.
Selama aku bekerja dengan Changmin, tak pernah aku mendengar kabar bahwa ia berhubungan dengan seorang gadis. Ia pun tidak pernah membicarakan hal yang berhubungan dengan perempuan. Yang ia bicarakan denganku hanyalah pekerjaan, makanan, kuliah, dan semacamnya. Mengapa aku tidak pernah mencurigai bahwa Changmin adalah gay seperti Yunho?
Ya, tentu saja aku tidak pernah berpikir bahwa Changmin adalah gay. Aku tidak mengetahui ciri-cirinya. Jika Yunho tidak mengaku sendiri, aku pasti tidak akan percaya bahwa ia gay.
Masalah ini membuatku stres. Changmin menghilang tanpa jejak. Tidak ada yang membantuku di laboratorium. Beban kerjaku bertambah berat, padahal aku sedang hamil muda.
Aku mencoba untuk tegar. Aku harus kuat demi anak dalam kandunganku. Aku tidak boleh merasa tertekan.
Pada suatu malam suamiku pulang dalam keadaan sangat lelah. Ia mencari Changmin seharian. Pemuda itu benar-benar menghilang tanpa jejak.
"Setelah setahun lamanya, akhirnya aku menemukan pemuda itu." Ia berkata kepadaku. "Akan tetapi, kini ia menghilang lagi. Aku tidak menyangka ternyata selama setahun ini ia bekerja sebagai asistenmu."
Tubuhku bergetar. "Apakah kau benar-benar harus bertemu dengannya?" tanyaku hati-hati.
"Tentu saja. Aku harus menjelaskan hal yang sebenarnya dan meminta maaf kepadanya." Yunho menatap udara kosong di depannya. "Aku tidak akan bisa hidup tenang jika aku belum menjelaskan hal itu kepadanya. Tidak apa-apa jika ia tidak bisa memaafkanku. Aku tidak bisa memaksakan hal itu kepadanya. Aku hanya ingin menjelaskan hal yang sebenarnya."
Hatiku berdenyut. Aku mulai berspekulasi. Kesalahan apa yang telah Yunho lakukan kepada Changmin? Apakah Yunho terpaksa harus meninggalkan Changmin karena ketahuan oleh ibunya? Mengapa aku merasa bahwa diriku menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka?
Dari sorot matanya, aku merasa bahwa Yunho sangat peduli kepada Changmin. Mungkinkah suamiku itu masih mencintai mantan kekasihnya? Lalu bagaimana denganku?
Jika belum mengandung anak Yunho, mungkin aku akan merelakan suamiku itu untuk kembali kepada mantan kekasihnya. Aku tidak bisa hidup bersama pria yang masih mencintai orang lain.
Yang harus kupikirkan adalah masa depan anakku. Apa jadinya jika anakku tumbuh tanpa ayahnya? Apa jadinya jika anakku itu tahu bahwa ayahnya adalah seorang homoseksual? Kedua orang tuanya harus berpisah karena ayahnya mencintai pria lain. Aku tidak ingin membayangkannya.
.
.
.
Berat badanku terus menurun. Kondisi kesehatanku juga mulai memburuk. Dokter menyarankan agar aku berhenti bekerja demi kebaikanku dan janinku.
Yunho juga menyuruhku untuk berhenti bekerja. Ia mulai menggunakan dominansinya. Dengan tegas ia melarangku untuk pergi bekerja.
"Kontrakku akan berakhir sebulan lagi. Pada akhir masa kerja aku harus membuat laporan mengenai hasil-hasil yang telah kuperoleh." Aku membangkang perintah suamiku. "Aku tidak bisa berhenti pada saat-saat penting seperti ini."
"Lupakan kontrak itu! Aku akan membayar semua kompensasinya." Dengan seenaknya ia memutuskan hal itu. Ini bukan masalah kompensasi, melainkan komitmen dalam bekerja.
"Kau tidak bisa memutuskannya begitu saja. Kau tidak mengerti betapa berartinya projek penelitian ini bagiku. Aku telah bekerja keras selama berbulan-bulan dan kau ingin aku menghentikannya begitu saja?" Aku meninggikan nada bicaraku.
"Kau pikir hanya penelitianmu yang berarti? Kau dan anak kita juga berarti bagiku. Aku tidak ingin keselamatan kalian terancam." Jika aku berkata tegas, ia akan lebih tegas dariku.
Aku tidak bisa melawan lagi. Energiku akan terbuang sia-sia. Sesungguhnya aku merasa sangat tidak rela berhenti di tengah-tengah projek.
.
.
.
Aku terbangun pada malam hari. Tanpa sepengetahuan Yunho aku pergi ke laboratorium. Aku ingin mengucapkan salam perpisahan pada laboratoriumku tercinta. Mulai besok aku akan berhenti bekerja.
Laboratorium ini sudah seperti rumah bagiku. Banyak kenangan di tempat ini. Pertama kali aku jatuh cinta juga di tempat ini.
Aku tersenyum miris. Cinta pertamaku ternyata adalah orang yang dicintai oleh suamiku. Ini sungguh menggelikan.
Aku berjalan ke kantorku. Aku ingin membawa beberapa barangku dari sana. Saat aku melewati kantor Changmin, aku melihat sebuah bayangan. Apa ada pencuri?
Aku merasa sangat takut. Akan tetapi, aku ingin melindungi laboratoriumku ini. Aku tidak akan membiarkan pencuri mengambil sesuatu dari sini seenaknya. "Siapa di dalam? Apa yang kau lakukan?"
Tidak ada jawaban apa pun dari dalam. Apakah aku salah lihat? Aku merasa yakin bahwa aku melihat bayangan dari dalam kantor Changmin. "Jika kau tidak menampakkan diri, aku akan membunyikan alarm untuk memanggil petugas keamanan."
Tidak lama kemudian pintu kantor Changmin terbuka. "Ini aku, Sunbae."
"Changmin? Apa yang kau lakukan malam-malam begini?" tanyaku.
"Kau sendiri sedang apa di sini?" Ia balik bertanya.
"Ke mana saja kau selama ini? Yunho mencarimu ke mana-mana." Aku tidak menjawab pertanyaannya.
"Aku tidak ingin bertemu dengan suamimu itu." Terlihat kebencian di mata Changmin untuk suamiku.
"Mengapa? Apakah kesalahannya begitu besar, sehingga kau tidak mau memaafkannya?" tanyaku.
"Sebaiknya kau tidak perlu tahu apa yang telah dilakukan oleh suamimu." Changmin mulai menjauh dariku perlahan.
"Semua bisa dibicarakan secara baik-baik." Aku melangkahkan kakiku mendekat ke arahnya.
"Tidak, kesalahan yang ia perbuat begitu besar dan tidak bisa dimaafkan." Ia terus menjauh. "Aku akan menghilang dari kehidupan kalian. Berhenti! Jangan ikuti aku!"
Aku tidak menghiraukan kata-katanya. Aku terus mendekat. "Jangan pergi, Min! Ia terus mencarimu selama setahun ini."
"Sudah kukatakan bahwa aku tidak ingin bertemu dengannya." Ia bersikeras.
"Min, kumohon! Berilah ia kesempatan untuk menjelaskan semuanya kepadamu." Aku terus mengejarnya.
"Sunbae, berhentilah mengikutiku!" Ia siap-siap untuk berlari. "Aku tak mengerti bagaimana bisa kau menikah dengannya? Ia tidak layak untuk mendapatkan cintamu. Tak tahukah kau bahwa ia adalah seorang gay, pecinta sesama jenis?"
"Aku tahu," jawabku tenang. Sepertinya aku salah memperkirakan. Changmin bukanlah kekasih Yunho. Jika mereka pernah saling mencintai, Changmin tidak akan begitu membenci Yunho. Apakah mungkin Yunho telah melakukan hal yang tidak menyenangkan kepada Changmin, yang membuat pemuda itu trauma? Pemerkosaan? Pencabulan? Aku masih ingat bagaimana ekspresi Yoochun saat bertemu dengan Yunho. Pria itu tampak sangat ketakutan. Mungkinkah Yunho adalah pria semacam itu?
"Jae, apa kau ada di sini?" Aku mendengar suara Yunho.
Changmin segera berlari saat ia mendengar suara Yunho. Ia berlari dengan sangat kencang.
Aku berusaha mengejarnya, tetapi kakiku terkilir. "Aaah!"
"Jae, apa kau baik-baik saja?" Yunho datang dan membantuku berdiri.
"Kakiku terkilir." Aku berpegangan kepada Yunho.
.
.
.
"Untuk apa kau datang ke laboratorium malam-malam sendirian?" Yunho tampak marah.
Aku merasa perlu untuk meminta penjelasan darinya. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku perlu mengetahui masalah di antara suamiku dan Changmin. "Apa yang telah kau lakukan kepada Changmin? Apa kau telah mencabuli atau melakukan hal tak senonoh lainnya kepada Changmin?"
"Apa?" Ia menatapku tak percaya. "Apa kau masih memikirkan masa laluku?"
Aku takut oleh tatapannya. Ia terlihat sangat marah.
"Kukira kau sudah menerimaku apa adanya dan melupakan masa laluku. Kau menyakiti hatiku, Jae." Ia tampak terluka.
Sepertinya aku telah salah bicara. Aku tidak seharusnya mengatakan hal itu. Aku telah menyinggungnya.
"Kau memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Mungkin sebaiknya aku menceritakan apa saja yang telah kulakukan bersama partnerku." Ia terlihat sangat kesal.
"Tidak, aku tidak ingin mendengarnya." Aku tidak akan sanggup untuk mendengar semua itu.
"Jika kau tidak ingin mendengarnya, berhentilah memikirkannya! Kepalamu itu selalu dipenuhi oleh asumsi-asumsimu sendiri." Ia hampir berteriak kepadaku.
Aku menangis. Aku tak suka dibentak, apalagi aku sedang sangat sensitif karena kehamilanku.
Yunho mengacak rambutnya. "Maafkan aku, Sayang! Aku tidak bermaksud untuk membentakmu." Ia menggenggam tanganku dan menciumnya.
Aku menangis tersedu-sedu. Aku merasa sangat lelah.
Yunho memelukku. Ia membiarkan aku menangis di pelukannya. Ia membelai punggungku.
.
.
.
"Akhirnya aku tidak perlu mencari-cari Changmin lagi. Ia baru saja menghubungiku." Seminggu telah berlalu sejak terakhir kali aku melihat Changmin. "Ia ingin bertemu denganku."
Aku merasa cemas sekaligus penasaran. Perasaanku tidak enak. "Sekarang?"
"Ya, sekarang juga." Yunho mengenakan jaketnya. Ia juga mengambilkan jaketku. "Ia ingin kau datang bersamaku." Ia memakaikan jaketku.
"Mengapa ia ingin aku datang?" Aku merasa lega karena mereka tidak hanya berdua. Ada aku yang bisa mengawasi mereka.
Yunho mengangkat bahunya. "Entahlah. Mungkin ia takut aku melakukan hal buruk kepadanya."
.
.
.
Changmin menunggu kami di sebuah kafe. Raut wajahnya terlihat tegang. "Aku mengundang kalian berdua kemari untuk menyelesaikan masalah kita."
"Ini adalah masalah kita berdua. Kita tidak perlu melibatkan Jaejoong." Yunho memeluk pinggangku dengan protektifnya.
Changmin menyeringai. "Apa kau takut istrimu mengetahui seperti apa dirimu?"
"Ia sedang hamil. Aku mengkhawatirkan kesehatannya." Tatapan Yunho mengintimidasi Changmin.
"Muslihat apa yang kau gunakan untuk menjerat Jaejoong Sunbae?" Changmin membalas tatapan Yunho. "Apakah tidak cukup apa yang telah kau lakukan kepada kekasihku?" Kekasih? Changmin memiliki kekasih?
"Cukup, Min! Hentikan omong kosong ini!" Seperti biasa Yunho menunjukkan dominansinya. "Aku tidak melakukan apa-apa kepada kekasihmu itu. Aku bahkan tidak mengenalnya."
Changmin tersenyum mengejek. "Kau pikir aku akan percaya begitu saja? Ia mencampakkanku demi dirimu. Kau pasti telah merayunya dan memberinya harapan-harapan palsu."
"Berapa kali harus kukatakan bahwa aku sama sekali tidak mengenalnya?" Yunho tampak bosan mengatakan hal itu.
"Pernyataanmu itu sama sekali tidak masuk akal." Changmin menoleh ke arahku. "Sunbae, kau bisa menilai sendiri siapa yang berbohong di sini."
Aku hanya membalas tatapan Changmin. Aku sungguh bingung. Aku tak tahu siapa yang harus kupercayai.
"Aku sama sekali tidak mengenalnya. Mungkin aku pernah bertemu dengannya, tetapi aku tidak kenal siapa dia." Yunho berusaha meyakinkan Changmin. "Aku tak mengerti mengapa ada namaku di surat yang ia tinggalkan."
"Apakah kau tak mengerti juga? Ia menyukaimu. Ia bahkan mengoleksi foto-fotomu. Sebagai kekasihnya aku merasa sangat cemburu dan sakit hati." Changmin hampir berteriak. "Aku sangat mencintainya. Aku rela melepasnya asalkan ia bahagia. Akan tetapi, ia justru mendapatkan kekecewaan. Sehari sebelum ia bunuh diri, ia meneleponku sambil menangis. Ia mengatakan bahwa ia sangat kecewa kepadamu. Ia syok mengetahui bahwa kau adalah seorang gay. Ia menyesal karena ia lebih memilihmu daripada aku."
Tunggu! Jadi, kekasih Changmin adalah seorang wanita? Jadi, ia bukan gay?
Yunho menghela nafas. "Seharusnya ia kembali kepadamu, bukannya bunuh diri."
"Ia sangat kecewa pada saat itu. Wajar saja jika ia tidak bisa berpikir dengan jernih dan memutuskan untuk bunuh diri." Changmin tampak sangat mencintai kekasihnya.
"Apa itu salahku? Kalau pun aku bukan gay, belum tentu aku menerima cintanya." Yunho terlihat tenang karena ia yakin bahwa ia tidak bersalah.
Changmin terdiam. Ia tidak bisa menerimanya.
"Ia telah mencampakkanmu. Ia tidak layak untuk mendapatkan pembelaan darimu, apalagi kau sampai menjadikanku kambing hitam, menjadikan orientasi seksualku sebagai alasan." Nada bicara Yunho melembut. "Aku sudah bahagia bersama istri yang sangat kucintai, apalagi kami sedang menantikan anak pertama kami." Ia membelai perutku yang masih rata. "Kumohon jangan ungkit-ungkit lagi masa laluku! Aku sudah menutupnya rapat-rapat. Ya, aku tidak menampik bahwa aku pernah menjadi gay. Aku tidak akan menyangkalnya, tetapi hal itu bukanlah untuk dipermasalahkan. Kalian semua tidak berhak mempermasalahkan masa laluku itu. Jikalau kalian mempermasalahkannya, aku tidak peduli. Bagiku yang terpenting adalah istriku bisa menerimaku apa adanya." Ia menatapku dengan penuh cinta.
.
.
.
Kejadian hari ini telah menyadarkan diriku bahwa aku tidak boleh terlalu memercayai prasangka pribadiku. Tidak baik berprasangka buruk. Kesedihan yang selama ini kualami sebagian besar disebabkan oleh prasangka dan asumsi-asumsi yang kubuat sendiri. Aku harus belajar untuk memercayai orang lain, terutama suamiku sendiri.
"Yang lebih penting lagi kau harus menumbuhkan rasa percaya dirimu. Kau cantik, Jaejoongie Sayang. Prasangka-prasangka burukmu kepada orang lain muncul karena rasa tidak percaya dirimu. Sebegitu cantiknya dirimu, sehingga kau bisa membuat diriku yang belok ini menjadi lurus."
End
Notes beta reader (qwerty): kesan yang saya dapatkan pada cerita ini adalah tentang memaafkan, menjaga komitmen, kesetiaan, dan arti kesempurnaan yang sebenarnya. Nobody is perfect, nobody is correct. Jika Jaejoong dalam cerita ini tidak bisa menerima dan memaafkan masa lalu Yunho, mereka tidak akan bersatu. Jika Yunho dalam cerita ni tidak bersungguh-sungguh dengan komitmennya, mereka juga tidak akan bersatu, atau pernikahan mereka akan hancur setelahnya. That is the point!.
Jaenna: terima kasih sudah membaca.
Sexieh moan: yang kamu temui gay juga?
anakyunjae: justru permasalahannya di situ. My 4D Mom sedang diketik sedikit-sedikit.
Mayumi Fujika: aslinya memang one-shot. Saya tidak menuliskannya secara terpisah, tetapi dengan beberapa pertimbangan, saya memutuskan untuk membaginya menjadi dua bagian.
Meybi: kisah apa?
Babiesyunjae: ini fanfaksi Yunjae. Tokoh lain hanya pendukung cerita.
: ini hanya fanfiksi, tidak ada hubungannya dengan dunia nyata. Hehehe.
Minnie minmin: hahaha! Kamu sedang menyanyi lagu dangdut ya?
Nisaparkkim: tenang saja, saya tidak suka menganiaya karakter dalam cerita saya.
Guest: update! Terima kasih sudah membaca.
ELFKyu: terima kasih sudah membaca.
NamnamnyaYunJae: tidak perlu diambil pusing. Biarkanlah mereka menentukan masa depan mereka sendiri. Sebagai penggemar kita hanya bisa mendoakan yang terbaik dan menghargai keputusan mereka.
RII: ini mau UN malah sempat-sempatnya baca FF.
JonginDO: terima kasih sudah membaca.
Elite minority.1111: JJ juga akhirnya pingsan.
My yunjaechun: ok.
DBSJYJ: karakter Yunho memang tidak terlalu terlihat karena cerita ini mengambil sudut pandang Jaejoong.
Alisah MoyaMoya: temanya cukup berat menurut saya. Mungkin terasa ringan karena hanya ada satu konflik, tidak banyak tokoh, sehingga masalahnya tidak melebar kemana-mana.
: jawabannya ada di bagian 2 ini.
Himawari23: update! Terima kasih sudah membaca.
Princess Jae: Yunho serius.
Natsumi Shinju: makanya dipotong sampai situ. Hahaha!
Zhoeuniquee: cara Yunho mengetes Jae tidak seperti itu.
Kimjaejoong309: Yunho tidak berniat tega kepada Jaejoong.
QuinnessA: hahaha! Tidak sampai kena serangan jantung kan?
Cassienovia92: jawabannya bisa dibaca sendiri. Hahaha!
phantomYi: saya sudah mencantumkan 'hurt' di genrenya. Hahaha!
Hanni: kita juga harus kasihan kepada Yunho.
JJorien: yang pasti Yunho serius menjalani hubungannya dengan Jae.
Dejoker: banyak perempuan yang seperti itu.
Rly. : bagaimana Yunho bisa menjadi gay tidak penting. Ia melamar Jae karena ia serius ingin membangun sebuah keluarga yang normal.
Mia cho: Yunho serius. Terima kasih.
Saaa: bukan Jae yang menyembuhkan Yunho, tetapi Yunho yang menyembuhkan dirinya sendiri.
Nabratz: ya.
Guest: hahaha!
Si bontot: menurutmu? Hahaha!
Hyejinpark: Yunho memang sudah siap kapan pun Jae mengetahuinya.
Applebanana's: ok.
