ALWAYS YOU

Disclaimer : J. K. Rowling

Pairing : Roxanne Weasley & OC

Genre : Romance & Drama

Rate : T

Summary : Aku mencintainya, sangat mencintainya. Tapi apa yang harus aku lakukan, jika pada akhirnya aku hanya bisa menjadi bayang-bayangnya dan mencintainya dari jauh? Chapter 2 update.

Warning. : Typo, typo, typo, gaje, dan masih banyak kekurangan lainnya.

Happy reading ^_^

Chapter 2

Ruang rekreasi sedang sepi saat aku memasuki asrama. Apakah semuanya sudah beranjak tidur? Padahal ini kan baru pukul 8 malam, tidak biasanya tempat berkumpulnya anak-anak saat tidak ada pelajaran ataupun saat sedang bersantai di masing-masing asrama ini sepi. Dan aku sekarang sedang duduk termenung di ruang rekrasi asrama Ravenclaw. Dari semua sepupuku dan saudaraku hanya Victoire, Molly dan aku lah yang masuk Ravenclaw. James, Fred – kembaranku – , Al, Rose, Louis, Lucy, Dom, Lily dan Hugo semuanya masuk ke asrama Gryffindor.

Aku duduk merapat ke jendela, mengawasi langit senja yang berwarna jingga menenangkan. Aku senang saat-saat seperti ini, saat dimana tidak ada sepupu-sepupu dan saudara kembarku yang selalu ingin tahu. Aku merasa lebih bebas mengekspresikan perasaanku dengan duduk termenung sendiri tanpa ditemani seorang pun.

Dan kali ini aku tak menyia-nyiakan waktuku lagi. Otakku sudah tak terfokus oleh apa pun selain sebuah nama. Sebenarnya aku kurang yakin tentang apa yang akhir-akhir ini selalu memenuhi otakku. Tapi memang benar, bahwa semenjak waktu itu nama William Woodselalu menjajah otakku. Setiap kali aku ingat saat dia membelaku didepan sepupunya sendiri, kekaguman selalu muncul tiba-tiba dari raut wajahku. Dan dengan sekejap wajahku langsung memerah tak terkontrol. Oh, sebenarnya apa yang terjadi denganku...? Pertanyaan itu selalu terbentang luas di pikiranku sejak Rose mengatakan bahwa William Wood ternyata adalah teman sekelasku. Kenyataan yang spektakuler.

Apakah ini yang disebut perasaan menyukai seseorang…? Oh, apa yang aku pikirkan...? Mana mungkin aku menyukainya, sementara aku tidak pernah mengenalnya secara dekat. Mungkin aku hanya mengagumi sikap kesatrianya saat membelaku. Lagipula kata Al dia sudah bersama Angelina Zabini dari asrama Slyterin, satu tahun lebih muda dariku. Gadis cantik bertubuh langsing, berkulit kuning langsat, dengan rambut ikal sebahu warna hitam pekat, ditambah matanya yang terlihat lebih lebar dengan warna coklat keemasan semakin membuatnya terlihat sempurna. Dan otomatis aku tidak punya kesempatan.

Menyadari kenyataan itu membuatku sedikit bersedih, bagaimana mungkin gadis yang biasa sepertiku mampu bersaing dengan seorang Angelina Zabini, itu hanya sebuah mimpi. Memikirkan itu semua membuatku teringat kepada Al, karena sebenarnya Angelina adalah mantan kekasih Al, jadi aku bisa mengerti kalau dia tidak menyukai Wood. Karena sekarang pun tiba-tiba ada semburat kejengkelan dalam hatiku setiap aku melihat Zabini. Benar-benar tidak beralasan.

Memangnya siapa aku, sampai harus membenci Angelina Zabini? Huufffh…

Tiba-tiba tanpa sadar aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan sangat keras. Membuat anak-anak kelas lima yang baru kembali dari makan malam mengangkat alis saat memandangku, dan setelah itu mereka langsung tertawa cekikikan sambil sesekali melirik kearahku. Aku langsung menunduk berpura-pura membaca Daily Prophet yang memang sejak tadi sudah berada di depanku. Dan yang lebih memalukan lagi tanpa diduga-duga perutku berbunyi sangat keras, protes karena belum diisi sama sekali sejak tadi siang. Dan sekali lagi anak-anak kelas lima itu menertawakanku, dan sekarang mereka malah tidak usah repot-repot menyembunyikan pandangan mereka.

Oh, benar-benar memalukan….? Aku tahu pasti sekarang wajahku sudah seluruhnya berubah warna menjadi merah padam karena malu. Aku segera membereskan buku-buku yang sejak tadi ku biarkan dingin tak tersentuh sama sekali, aku ingin segera keluar dari sini dan mencari tahu apakah masih ada makanan yang tersisa. Aku tidak mungkin terus di sini dan membiarkan perutku memberikan hiburan gratis bagi para gadis-gadis itu kan?

Aku berdiri dari tempatku memikirkan hal-hal aneh tadi dengan sedikit agak kasar, dan untuk sentuhan terakhir aku memberikan pandangan tajam kearah gadis-gadis yang mentertawakanku tadi. Dan lihatlah, aku berhasil membuat mereka diam membeku di tempat. Dengan perasaan bangga aku membuang muka dan berjalan ke arah pintu.

Tapi sebelum aku dapat meraih pegangan pintu, pintu itu sudah terbuka. Dan di sana, di balik pintu itu berdiri seseorang yang akhir-akhir ini telah menguras habis pikiran dan perasaanku dengan wajah yang sangat ceria bersama teman dekatnya Alexander Goldstein. Ya benar, Alexander Goldstein, itulah namanya, bukannya Alehandro Goldstein. Aku sering mendengar anak-anak gadis tingkat enam menyebut-nyebut namanya.

Aku terpaku ditempat tak bergerak sama sekali, menunggunya melewatiku tanpa memandangku sama sekali. Tapi sepertinya dia tidak ingin terburu-buru memasuki asrama, karena sepertinya lagi dia sedang melambai kepada seseorang yang tidak bisa aku lihat dengan jelas. Aku menelengkan sedikit kepalaku ingin tahu siapa orang yang membuat Wood seceria itu.

Dan setelah kepalaku benar-benar miring baru aku bisa melihat sesosok gadis tinggi, langsing, berambut ikal sebahu. Aku langsung mengembalikan tubuhku ke keadaan semula, merasa jengkel. Yeah, tentu saja seharusnya aku tahu, gadis itu pasti Angelina Zabini, untuk apa aku harus mencari tahu lagi…?

Tanpa aku sadari, aku sudah memasang pandangan dengki saat Wood sudah menyelesaikan ritual perpisahannya bersama kekasih tercintanya. Aku sudah tidak sabar ingin segera keluar dari ruangan ini dan menghirup udara segar, tapi pemuda ini sepertinya tidak ingin segera menyingkir dari depanku, dan itu membuatku semakin jengkel. Dia baru menyadari bahwa aku sudah berdiri tegap didepannya, dan memandangku dengan terheran-heran setelah melihat ekspresiku.

"Oh… hai, Roxanne, mau keluar? Maaf kalau aku membuatmu menunggu." Senyum manis diwajahnya langsung hilang saat melihatku tak menanggapi sama sekali pertanyaannya.

"Jangan sok akrab, dengan memanggil nama depanku."

Dia memandangku dengan ngeri, dan aku tidak peduli. Aku memandangnya tajam, setajam yang bisa aku berikan, aku membuang muka dan tak memandangnya sama sekali, lalu berjalan melewatinya dan si Goldstein yang bengong tak mengerti dan keluar.

Aku berjalan cepat menuju arah ruang makan, memang itu kan tujuanku sebenarnya. Tapi ada yang aneh dengan dadaku. Entah kenapa dadaku terasa sesak karena jantungku tidak mau memelankan denyutannya. Ini pasti karena aku sedang kelaparan, jadi jantungku berdetak sangat keras, ya, pasti karena itu. Kataku menyakinkan diriku sendiri.

Setibanya di Aula besar aku langsung menyantap makanan yang masih bertengger manis di atas meja, perutku benar-benar lapar. Mungkin setelah makan banyak aku bisa berfikir jernih kembali. Kelakuanku tadi, memang tidak pantas, dan sekali lagi aku meyakinkan diriku bahwa penyebab semua keanehanku tadi adalah kelaparan yang melandaku. Oh syukurlah, sepertinya itu benar, karena sekarang setelah perutku terisi penuh, perasaanku jauh lebih tenang.

Aku keluar dari ruang makan dengan keadaan yang lebih tenang. Aku berjalan menyusuri koridor ingin segera kembali ke asrama dan mengistirahatkan otakku yang akhir-akhir ini menjadi semakin ngawur. Tapi sepertinya aku memang tidak diijinkan istirahat untuk hari ini, karena belum sempat memikirkan hal yang lain terdengar suara Lily memanggilku.

"Roxy… Roxanne, tunggu…!"

Aku berhenti dan mengawasi wajahnya yang was-was menyusulku. Sebenarnya ingin sih pura-pura tidak mendengar dan membiarkannya mengejarku sampai ke depan asramaku. Hehehe, pasti sangat lucu. Tapi dilihat dari wajahnya, sepertinya ada sesuatu yang serius yang sedang terjadi. Aku memandangnya dengan bertanya-tanya, sebenarnya apa yang membuatnya sepanik itu?

"Ada apa, Lils?" tanyaku penasaran.

"Oh Roxy, akhirnya aku menemukanmu. Akuh… mencarimu dimanah-manah dan akuh tida-h-k menemukanmuh dimanap-h-un, kau tidak adah di aulah, aku mencarimuh ke ruang rekreasimuh dan k-h-ata mereka kauh baruh s-h-aja keluar dan akhirnyah akuh menemukanmuh disinih." Aku sedikit sulit mengerti dengan kalimat yang baru saja dia ucapkan, karena dia berbicara dengan nafas yang terengah-engah.

"Ok, Lils. Benarkan dulu nafasmu itu, kau membuatku sedikit pusing dengan kata-katamu."

Dan Lily mengambil nafas panjang, untuk melanjutkan kembali. Aku mengawasinya dengan penuh perhatian.

"Rose, Roxy, Rose…," katanya sudah kembali normal.

"Ada apa dengan Rose?" tanyaku, sekarang ikut cemas.

"Anak itu memang selalu membuat masalah dengan Rose, dia selalu membuat Rose marah..." Lily belum menyelesaikan kata-katanya, aku sudah menyelanya tidak sabar.

"Lils, katakan dengan jelas, ada apa dengan Rose?" kataku sedikit membentak.

"Ok…!" dia memulai, menengankan diri. " Si Vampire pucat itu, dia sangat suka cari gara-gara."

"Sekarang apa lagi yang dia perbuat?" tanyaku menyela lagi.

"Dia menghina Rose, dan kata-katanya membuat Rose sangat marah. Dan pada akhirnya mereka langsung cekcok mulut. Tapi tidak sampai situ, karena Rose sangat marah, dia menendang perut Malfoy itu sangat keras, terlalu keras mungkin. Dia juga mengutuk si pucat itu dengan kutukan kepak kelelawar. Dan sekarang si muka mayat itu – eh maksudku si Malfoy itu berakhir di rumah sakit Hogwarts dengan luka memar di bagian perutnya." Lily selesai bercerita dan menarik nafas. Dan aku, karena shock hanya melongo di tempatku semula tanpa bergeser sama sekali.

"Lebih tepatnya apa yang dikatakan Malfoy kepada Rose?" tanyaku setelah mendapatkan kembali kesadaranku.

"Kami juga tidak tahu, karena Rose tidak mau mengatakannya kepada kami," jawab Lily cepat.

"Lalu…?" aku masih ingin mendengarkan cerita selanjutnya.

"Astoria dan Draco Malfoy – orang tua Scorpius Malfoy – tidak terima atas semua kejadian ini, dan melaporkannya kepada Kepala Sekolah. Dan sekarang Rose, Al, James dan Fred sudah berada di ruang kepala sekolah. Kami – aku dan Hugo – dilarang ikut ke ruang Kepala Sekolah. Oh, aku sangat mengkhawatirkan mereka."

Otakku masih belum bisa mencerna kalimat kedua Lily. Kalau Rose aku mengerti kenapa dia berada di ruang kepala sekolah, karena dia yang bersalah, tapi untuk apa James, Fred dan Al juga ikut ke ruang Kepala Sekolah?

"James, Fred dan Al yang mengetahui kejadian itu dan hanya diam saja tanpa menahan Rose dan malah menertawakan mereka," kata Lily melanjutkan seolah-olah dia bisa membaca pikiranku. "Dan, Roxy, Kepala Sekolah juga ingin bertemu denganmu di ruangannya sekarang!"

Akhirnya kata-kata itu muncul. Kepalaku mendadak pusing setelah mendengar cerita Lily, dalam sekejap mataku jadi gelap, dan rasanya aku ingin bersandar ke sesuatu yang lebih kokoh untuk mengembalikan kondisiku seperti semula.

"Roxy, kau tidak apa-apa?" tanya Lily semakin cemas. "Kau terlihat pucat…"

"Oh, tidak apa-apa, Lils, aku sudah terbiasa dengan keadaan ini. Aku hanya berfikir kenapa mereka semakin mempersulitku di tahun terakhirku ini. Apakah mereka tidak bisa bersikap sedikit dewasa?"

"Maafkan kami, kalau kami selalu menyusahkanmu akhir-akhir ini, Roxy. Tapi sebenarnya kami tidak pernah bermaksud seperti itu," kata Lily penuh dengan penyesalan. Dan aku memberikan senyuman pengertian yang sedikit ku paksakan.

"Tidak apa-apa Lils, kalian memang sudah menjadi tanggung jawabku selama aku masih bersekolah di sini. Tapi yang tidak aku mengerti, kenapa James dan Fred malah ikut-ikut? Seharusnya mereka membantuku mengontrol sikap Rose dan Al, bukannya malah mendukung mereka," kataku sambil sedikit mengerang.

"Mungkin karena mereka mempunyai alasan kuat untuk melakukannya?" jawab Lily takut-takut.

"Sekuat apapun alasan mereka seharusnya mereka tetap tidak boleh membiarkan Rose memukul anak orang lain. Apalagi keluarga Malfoy, ini akan menjadi masalah besar. Kita tahu bahwa dari dulu uncle Ron tidak pernah menyukai ayah Malfoy, begitu juga sebaliknya. Dan seharusnya mereka bisa menahannya." Aku menghela nafas.

Oh, Demi Celana Kedodoran Merlin, apa hanya aku diantara kami yang bisa berpikir dewasa?

"Ayo kita segera kesana, sebelum Profesor McGonagall semakin marah karena kita tidak segera menemuinya," aku bekata cepat.

Lily mengangguk dan mengikuti di belakangku. Kami berjalan menyusuri koridor dan melewati lorong-lorong gelap menuju ruang Kepala Sekolah. Dan berpisah di depan ruang rekreasi asrama Gryffindor. Lily harus kembali ke asramanya, karena ini sudah melebihi jam malam. Melihatnya melewati pintu asrama membuatku sedikit iri, seharusnya aku juga bisa tidur dengan nyaman di kasurku kalau Rose tidak membuat masalah dengan si pecundang Malfoy itu. Aku menarik nafas lagi, memasukkan udara lebih banyak lagi ke paru-paruku dan melanjutkan berjalan menuju ruang Kepala Sekolah.

Aku mengetuk pintu ruang Kepala Sekolah, dan mendengar suara Profesor McGonagall menyuruhku masuk bergabung dengan mereka. Dengan perasaan yang was-was aku meraih pegangan pintu. Begitu aku membuka pintu, aku langsung disuguhi perdebatan dengan situasi yang menegangkan.

"… anak kecil macam apa yang melakukan tindakan sekeji itu kepada anak asrama lain? Apakah kau tidak pernah diajari bagaimana menghormati orang yang derajatnya lebih tinggi dari dirimu?" bentak Draco Malfoy mengarahkan pandangan ingin membunuhnya ke arah Rose yang juga mengawasinya tanpa rasa takut sama sekali.

"Maaf Mr. Malfoy, tapi di sekolah ini tidak ada perbedaan derajat. Jadi anda tidak seharusnya berkata seperti itu!" Profesor McGonagall berusaha menengahi, dan aku bisa melihat di matanya juga ada perasaan jengkel entah tentang apa.

"Oh, aku hampir lupa kau anak siapa…?" Draco Malfoy melanjutkan, sepertinya dia tidak menghiraukan kata-kata Profesor NcGonagall. "Kau adalah anak si wanita sok tahu Hermione Granger dan si laki-laki temperamental Ronald Weasley, pantas saja kalau kau berkelakuan seperti orang kurang pendidikan. Karena kau menuruni sifat-sifat kedua orang tuamu yang aneh." Draco Malfoy mengakhirinya dengan tertawa penuh kepuasan. Sedangkan istrinya berdiri dengan was-was di sampingnya. Sepertinya wanita cantik itu juga terkejut dengan apa yang diucapkan suaminya.

Mataku membelalak kaget mendengar kata-kata yang baru saja terlontar dari mulut Si Malfoy ini, dia telah menghina aunt Hermione dan uncle Ron. Brengsek, benar-benar brengsek orang ini. Aku mengumpat dalam hati, ingin rasanya aku melompat ke arah orang itu dan memukulnya sampai pingsan, tapi sepertinya aku tidak akan bisa melakukannya karena aku tidak terbiasa memukul orang lain. Sepertinya bukan hanya aku yang marah mendengar kata-kata tadi. Wajah Rose sudah berubah merah padam. James, Al dan Fred yang tadinya hanya duduk pasrah sekarang sudah berdiri dengan tangan mengepal kuat siap berperang. Bahkan Profesor McGonagall pun terlihat sangat syok mendengar ungkapan yang benar-benar keji itu.

Aku hanya terpaku di depan pintu. Tidak ada yang merasakan kehadiranku. Suasana benar-benar hening dengan aura kemarahan luar biasa dari masing-masing kubu. Aku sudah hendak melangkah menuju ke arah Rose saat dia membalas perkataan Draco Malfoy dengan suara kemarahan yang sangat keras yang menggaung di seluruh ruang Kepala Sekolah dan memantul di setiap dindingnya.

"JANGAN PERNAH MENGHINA ORANG TUA SAYA!" Aku terperanjat mendengar raungan Rose. "Anda pikir anda siapa berani-beraninya menyebut kedua orang tua saya seperti itu. Anda tahu apa pendapat saya, bahkan orang tua saya lebih mulia dari anda."

Rose bergetar hebat saat menyelesaikan kalimatnya, mungkin karena perasaan marah yang melandanya. Dan Draco Malfoy membelalak mendapat perlawanan dari Rose, bersiap-siap melontarkan hinaan yang lebih menyakitkan. Tapi aku segera berlari ke arahnya, dan menengahi mereka. Aku tidak mungkin membiarkan Rose menghajar kedua Malfoy ini seperti dia menghajar anak mereka.

"Rose Weasley, hentikan!" teriakku dari arah tempatku berdiri. Semua langsung menoleh ke arahku. Dan Draco Malfoy terlihat menang saat melihatku datang karena kemarahan yang aku tujukan kepada Rose. Aku memandang Rose, James, Fred dan Al secara bergantian dengan pandangan tajam. Dan pandangan dingin lebih-lebih aku arahkan kepada pasangan Malfoy di depan mereka. Mereka membuang muka.

"Roxy… ak-aku…"

Sepertinya Rose ingin menjelaskan, tapi aku tidak mempedulikannya. Aku menghadap Profesor McGonagall dan membungkuk meminta maaf karena kekurang ajaran mereka di hadapannya, tapi tidak kepada keluarga Malfoy ini, karena mereka telah menghina keluargaku. Walaupun aku marah dengan kelakuan Rose yang sudah keterlaluan, tapi aku juga tidak mentolerir ucapan Draco Malfoy yang menurutku tidak sepantasnya diucapkan oleh orang berkelas seperti dia.

"Duduklah Miss Weasley, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Profesor McGonagalk mengangguk ke arahku, menyuruhku duduk di kursi di depan mejanya, lalu melanjutkan. "Dan kalian bisa kembali ke kamar kalian masing-masing, Rose dan Al! James dan Fred, kalian juga tetap tinggal!" perintah Profesor McGonagall.

"Tapi…" Rose ingin protes tapi sepertinya Profesor McGonagall tidak mempedulikannya dan berbicara kepada Keluarga Malfoy.

"Dan saya harap Mr. dan Mrs. Malfoy mau memberikan waktu beberapa menit lagi untuk mencari penyelesaiannya bersama kami disini!" pinta Professor McGonagall dengan sopan, tapi menurutku itu terlalu berlebihan.

Aku memandang pasangan Malfoy itu dan melihat Draco Malfoy membuang muka saat mengetahui aku memandang mereka, aku mendengus pelan agar Profesor McGonagall tidak mendengarnya. Tapi saat mataku bertemu dengan mata Mrs. Malfoy, ada semburat penyesalan dalam tatapannya, seperti sebuah permintaan maaf tak terucapkan. Aku menundukkan kepalaku sambil tersenyum tipis untuk menanggapi tatapannya.

Aku tahu, walau aku tidak mengenalnya, sepertinya Mrs. Malfoy lebih bijaksana dan lebih lembut dalam menyingkapi masalah ini ketimbang suaminya. Lama-kelamaan aku semakin benci kepada kepala keluarga ini. Pantas saja uncle Ron tidak menyukai Draco Malfoy, karena dia adalah orang yang suka cari masalah dengan orang lain, sekaligus menyebalkan.

Dengan sebal aku mengalihkan pandanganku ke arah ke-3 sepupuku dan saudara kembarku yang duduk dengan wajah protes. Aku memberikan pandangan galak ke arah mereka, tapi bukannya takut mereka malah membalas pandanganku dengan pandangan yang lebih sadis. Aku mendengus lalu memberikan isyarat kepada Rose dan Al untuk segera keluar, dan menungguku di luar. Dengan pasrah akhirnya mereka berjalan lunglai keluar ruang kepala sekolah. Dan James dan Fred berpindah duduk di sampingku

Sepertinya waktu sudah tidak bisa dihitung dengan menit lagi. Aku sudah duduk di ruang kepala sekolah ini selama hampir dua jam, dengan suasana yang menegangkan. Karena keluarga Malfoy bersikeras untuk bertemu dengan uncle Ron dan aunt Hermione. Katanya mereka ingin menunjukkan kepada mereka bahwa anak perempuan semata wayangnya berkelakuan seperti preman yang tidak berpendidikan. Menurutku kata itu terlalu berlebihan, karena aku tahu Rose tidak akan sampai memukul orang separah itu kalau orang yang dia pukul tidak membuat ulah lebih dulu.

Aku, James dan Fred hanya mengiyakan semua perkataan Professor McGonagall dan tidak mempedulikan setiap ucapan Draco Malfoy yang ingin memindahkan anaknya ke sekolah lain kalau kejadian ini terulang lagi. Memangnya siapa yang peduli dengan anaknya yang sok itu? Mungkin Hogwarts akan lebih tenang kalau tidak ada si Brengsek itu di sekolah ini.

Akhirnya setelah perdebatan yang panjang dengan keputusan bahwa kami harus menyurati uncle Ron dan menyuruhnya untuk hadir ke sekolah untuk menyelesaikan masalah ini. Kenapa keluarga Malfoy ini selalu mempersulit keluarga kami? Padahal anaknya hanya memar sedikit saja tapi sudah membuat masalah ini seolah-olah anaknya akan mati karena pukulan Rose.

Aku, Fred dan James berjalan di belakang pasangan Malfoy keluar dari ruang Kepala Sekolah. Kami sedikit menjaga jarak dari mereka, siapa tahu setelah di luar pengawasan Kepala Sekolah mereka akan menyerbu kami sebagai pelampiasan kekesalannya kepada Rose. Hahaha…tapi ternyata pemikiranku terlalu berlebihan. Mereka bahkan tidak menoleh ke arahku sama sekali.

Kami keluar ruang Kepala Sekolah dan mendapati Rose dan Al masih menunggu kami. Mereka bersandar di dinding sambil memain-mainkan kaki mereka tak sabar. Dan di sisi lain aku melihat seseorang, seseorang yang sedang tidak ingin ku lihat disaat keadaan seperti ini. William Wood sedang menunggu paman dan bibinya, kelihatannya, dan sepertinya dia juga tidak menyadari keberadaanku.

Rose dan Al sudah menyongsong kami saat aku mengalihkan pandanganku kepada mereka.

"Bagaimana?" tanya Rose was-was.

"Apanya yang bagaimana?" jawabku sedikit cuek.

"Jadi apa keputusannya, Mers?" tanya Rose tidak sabar. Dia menatap kami bertiga bergantian.

"Yeah… kami harus mengirimkan surat kepada ayahmu sekarang juga menggunakan burung hantu Hogwarts yang tercepat, karena mereka besok harus datang ke sekolah untuk bertemu dengan Draco Malfoy itu." Aku mengatakannya sambil mengedipkan kepalaku ke arah Keluarga Malfoy yang kelihatannya sedang berdiskusi.

"Bagaimana ini, aku harus bagaimana? Mom pasti akan membunuhku." Rose tampak cemas bercampur ketakutan.

"Kenapa baru sekarang kau mencemaskannya?" aku mendengus kepadanya.

"Tenanglah, Rose! Aku yakin uncle Ron pasti akan memujimu karena perbuatanmu ini, dia juga tidak menyukai si Malfoy itu," kata Fred menenangkan. Aku mendelik padanya. Bisa-bisanya dia bicara seperti itu disaat seperti ini.

"Aku tidak sedang khawatir tentang Dad, tapi aku mengkhawatirkan Mom. Dia pasti akan membunuhku kalau tahu aku melakukan hal seperti ini." Sekarang dia sudah mondar-mandir di depanku dengan panik. "Tapi semua ini Si muka mayat itu yang memulai, aku tidak mungkin melakukannya kalau dia tidak menyebut…" Rose melirikku yang penasaran dan menghentikan ucapannya karena menangkap pandanganku yang ingin tahu.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Rose? Apa yang membuatmu melakukan kebodohan ini? Aku tahu kau, Rose, kau tidak akan melakukan hal sebodoh itu tanpa alasan yang kuat." Rose tidak menjawab, dia hanya mengawasiku dengan panik. Tapi dia mengalihkan pandangannya tidak ingin menatapku.

"Jangan menghindariku, Rose! Katakan semuanya padaku, karena aku harus tahu! Kau tidak inginkan aku menjadi orang pertama yang mengadukan semua kelakuanmu selama lima tahun ini kepada aunt Hermione kan?" kataku mengancam, dan aku tahu kalau ancaman tadi akan berhasil.

Dia melotot menatapku, ingin menghindar lagi, tapi aku memberikan pandangan yang paling tajam yang bisa aku berikan. Sesaat aku yakin kalau dia sedang menimbang-nimbang apakah dia harus, mengatakannya padaku atau akan tetap bungkam selamanya. Tapi akhirnya dia memutuskan untuk memberitahuku.

"Jadi, Rose, ada yang ingin kau bicarakan?" tanyaku lagi.

"Ok..ok, Roxy, kau menang, kau memang paling pandai memaksa orang lain," katanya jengkel.

"Aku anggap itu sebuah pujian, jadi sekarang katakanlah, agar aku tidak berpikir bahwa kau memang suka cari sensasi dengan melukai si Malfoy itu."

"Aku tidak pernah mencari sensasi, Roxy," dia sedikit membentakku. Aku menatapnya dalam diam, dan masih menunggu. Lalu dia menarik nafas dan memulai lagi. "Yeah, kau benar, aku memang melakukannya bukan dengan tanpa alasan. Kau tahu sendiri bagaimana Malfoy itu, dia suka sekali mencari masalah denganku, aku masih bisa diam saat dia mengataiku gadis sok tahu ataupun saat dia menyembunyikan buku Rune Kuno-ku dan membuatku mendapat detensi. Tapi kali ini aku tidak bisa memaafkannya karena dia mengatakan itu…" Rose berhenti, tampak kegetiran dari nada suaranya.

"Dan apa tepatnya yang dia katakana, Rose?" Aku masih memfokuskan paandanganku padanya, dan sesekali melirik James, Fred dan Al yang hanya menunduk seolah-olah tidak ingin ikut campur.

"Er…er…, Roxy, sebenarnya ini tidak pantas diucapkan di depan orang banyak," katanya melirik ke semua penjuru arah. Aku sedikit bingung dengan maksudnya, apa maksudnya tidak pantas…?

"Ayolah, Rose! Kau bercanda? Kita hanya berlima di sini, jadi jangan ragu lagi untuk mengucapkannya," gertakku tidak sabar. Dan sekali lagi saat aku menatap ke arah Fred dan yang lainnya, mereka hanya menunduk gelisah.

"Yeah… er… sebenarnya…" Rose mengawasi kami bergantian. "Dia mengatakan sesuatu tentang kau, Roxy."

Aku mengangkat alisku tinggi-tinggi, masih tidak mengerti. Memangnya apa yang dikatakan Malfoy tentang aku?

"Katakanlah, Rose, aku akan mendengarkannya!" perintahku lagi.

"Roxy, mungkin sebaiknya kita membahas ini besok saja." Fred menatapku dengan penuh harap. Aku tahu mereka berusaha untuk mengalihkan perhatianku. Tapi itu tidak akan berhasil.

"Tidak! Aku harus mengetahuinya sekarang juga. Setidaknya dengan ini aku bisa memutuskan akan menambahkan beberapa kalimat tidak enak tentang kalian saat menyurati aunt Hermione nanti atau tidak." Aku melotot kepada mereka semua. Rose menggeleng cepat.

"Baiklah, Roxy. Kau menang." Rose menarik nafas panjang, dan melanjutkan. "Dia bilang bahwa semua anak perempuan di keluarga Weasley/Potter aneh, terutama kau, Roxy." Dia berhenti sejenak, dan memelankan suaranya saat mengatakan kalimat terakhir tadi.

"Dia bilang kau gadis teraneh dari semua gadis di Hogwarts. Gadis penyendiri, tidak punya teman, dan bahkan tidak akan ada pemuda manapun yang mau berkencan denganmu karena takut kau akan memakan mereka semua." Rose menyelesaikan kalimatnya dan aku langsung tertawa. Mereka berempat tampak sekali sangat kawatir dengan kelakuanku yang menurut mereka aneh seperti yang di katakan Malfoy.

"Rose, itu memang aku, aku memang gadis penyendiri yang tidak punya teman dan bahkan kekasih, lalu untuk apa kau memukulnya hanya karena dia mengatakan sebuah kebenaran…?" sebenarnya aku sedikit marah karena ucapan Malfoy. Tapi semua yang di ucapkannya tadi memang benar dan aku tidak akan menunjukkan kemarahanku dan membuatnya bahagia karena telah berhasil membuatku panas.

"Tidak, Roxy, bukan hanya itu. Dia juga mengatakan kalau kau, er…., kau adalah gadis jalang yang mengharapkan cinta sepupunya, William Wood dan sampai mati pun kau tidak akan mendapatkannya. Dan pada akhirnya kau akan patah hati dan bunuh diri karena meratapi nasibmu yang ditolak oleh sepupu Malfoy."

Tubuhku langsung kaku mendengar kalimat yang keluar dari mulut Rose. Beraninya si Malfoy yang baru berumur 16 tahun mengatakan itu kepada orang yang lebih tua darinya. Gadis jalang? Dari mana dia mengetahui kata-kata kasar seperti itu? Dasar, apakah seperti ini yang diajarkan orang-orang kalangan atas kepada anak-anak mereka. Benar-benar tidak tahu sopan santun.

Tapi bukan itu yang menyerang otakku saat ini. Apakah benar aku tidak akan pernah mendapatkan cinta William Wood dan sakit hati lalu akhirnya bunuh diri? Tidak, tentu aku tidak akan melakukan hal sekonyol itu. Aku masih ingin hidup dan mendapatkan kebahagiaanku. Aku gadis yang lebih kuat dari apa yang mereka kira.

Rose memandangku tampak khawatir, sedangkan James dan Fred sudah mengumpat kasar menunjukkan kebenciannya pada si muka mayat, Malfoy.

"… jadi aku memukulnya karena aku tidak terima saat dia bilang kau mengemis cinta pada sepupunya itu. Lalu dengan sangat marah aku menendang perutnya sampai dia menghantam dinding dan pingsan. Aku tidak merasa bersalah karena melakukan itu, aku malah merasa puas."

Aku mengawasinya yang tampak sangat tulus ingin melindungiku, lalu aku memeluknya dengan sangat erat karena aku sangat menyayanginya.

"Kau memang harus melakukannya, Rose. Kalau saja waktu itu Profesor Slughorn tidak buru-buru datang, mungkin aku yang akan menyelesaikannya dan sekarang dia sudah terbujur kaku di dasar tanah yang paling dalam," kata Fred menggebu-gebu.

"Diamlah, kalian sebagai yang lebih tua seharusnya tidak membiarkan itu terjadi kan? Kalian ini…" tiba-tiba saja aku tersentak, seolah-olah aku baru mengingat sesuatu yang sudah sangat lama aku lupakan.

"Dari mana dia mendapat gagasan kalau aku menyukai sepupunya?" tanyaku sedikit khawatir, jangan-jangan Malfoy bisa membaca pikiran orang. Lalu dia membaca pikiranku saat aku sedang memikirkan Will? Oh tidak, aku pasti akan menjadi bahan tertawaan. Tapi apa mungkin itu terjadi, mana mungkin si muka mayat itu bisa membaca pikiran orang, tidak mungkin. Aku terlalu khawatir, hahaha.

Aku masih berperang dengan batinku sendiri, saat Rose mengatakan sesuatu.

"Aku juga tidak tahu," kata Rose.

"Apa?" tanyaku sedikit bingung.

"Aku tidak tahu dari mana vampire itu mendapatkan gagasan aneh seperti itu, Roxy," jawab Rose tak sabar.

"Oh…" aku hampir lupa telah menanyakan pertanyaan itu sebelum ini. Rose melihatku dengan sebelah alisnya terangkat, terlihat curiga.

"Tapi kau tidak benar-benar mengharapkan cinta dari William Wood kan, Roxy? Tidak benarkan, apa yang dikatakan si muka mayat itu?" tanyanya buru-buru.

"Tentu saja tidak, Rose, aku tidak akan mengemis cinta pada siapapun dan mati dengan setragis itu. Lagi pula aku tidak akan membiarkan kalian mengotori tangan kalian dengan darah si congkak Malfoy itu kan?" Aku tersenyum lembut untuk menenangkannya, setelah dia sudah tenang aku melanjutkan.

"Ok, cukup untuk semua yang terjadi malam ini. Kalian harus pergi tidur, ini sudah melebihi jam malam, kalian tidak mau kan mendapatkan detensi tambahan karena masih keluar di koridor sekolah saat tengah malam?" mereka menggeleng secara serempak. "…lagipula aku harus menulis surat untuk ayahmu, Rose, dan segera mengirimnya. James, Fred kembalilah bersama mereka, dan aku mohon berhentilah membuat ulah. Kalian seumuran denganku, tapi tingkah laku kalian masih seperti anak berumur 13 tahun."

Fred dan James langsung mendengus ke arahku. Mereka selama ini mungkin memang yang paling berkuasa diantara kami, mereka selalu mengatur apapun yang boleh atau tidak boleh kami lakukan. Tapi malam ini aku tidak akan membiarkan mereka mengintimidasiku. Jadi aku cepat-cepat melanjutkan sebelum mereka menyelaku.

"Dan kalian, aku akan pastikan Mom, Dad, uncle Harry dan aunt Ginny mengetahui hal ini. Dan aku akan lihat apa yang akan mereka lakukan kepada kalian," kataku tersenyum licik.

"Kau benar-benar jahat, Roxy. Rugi kami membelamu tadi," kata James kecewa, dan Fred sekali lagi mendengus ke arahku. Lalu mereka berdua langsung cemberut dan tidak berbicara lagi. Sekarang mereka pasti sedang memakiku dalam hati. Tapi aku sudah terbiasa seperti itu dan aku tidak peduli.

Sebenarnya aku tidak bersungguh-sungguh dengan ucapanku tadi, aku hanya ingin membuat mereka jera dan tidak mengulanginya lagi. Mereka kan seharusnya menjaga saudara mereka bukannya malah membiarkannya memukul orang sampai seperti itu. Aku menatap Rose yang ternyata juga menatapku, dan aku mengedip ke arahnya sambil tersenyum. Sepertinya dia juga mengerti maksudku lalu tertawa cekikikan.

Aku hendak berjalan bersama mereka, tapi percakapanku dengan Rose membuatku sangat ingin melihat ke sisi lain tempat William dan pasangan Malfoy tadi sedang berdiskusi. Dan benar saja aku sungguh-sungguh melakukannya. Aku menoleh ke belakang dan melihat William yang juga melihat ke arahku dengan tatapan yang tidak aku mengerti.

Dia menyunggingkan bibirnya dan tersenyum lagi ke arahku, tapi entah kenapa aku malah meninggikan daguku dan membuang muka tak menatapnya lagi, lalu mengikuti di belakang keempat sepupuku. Aku tidak tahu kenapa aku bersikap seperti itu, aku sangat ingin membalas senyumannya dan berlari ke arahnya lalu memeluknya dengan erat. Tapi aku tidak bisa.

Dia sekarang pasti sedang berfikir bahwa aku adalah gadis sinting yang tidak tahu caranya berteman, gadis yang hanya bisa membuang muka saat orang lain memandangnya. Oh bodohnya aku….

Aku memberikan pelukan terakhir untuk Rose di depan ruang Rekreasi Gryffindor, dan melambai pada mereka saat mereka memasuki asrama melewati pintu. Aku mengawasi mereka dengan perasaan campur aduk. Seharusnya aku marah kepada mereka karena telah mempersulit masa-masa terakhirku di sekolah ini, tapi aku tidak bisa marah kepada mereka karena mereka melakukan itu untuk membelaku. Tanpa sadar aku tersenyum karena merasakan gelegak rasa sayang kepada mereka.

Aku berbalik hendak menuju kandang burung hantu, saat tanpa sepengetahuanku keluarga Malfoy dan juga William – Yeah, mungkin mulai sekarang aku harus membiasakan diri untuk memanggil nama depannya – yang mengantar mereka, sudah berada di belakangku dengan tampang bingung.

"Apa yang kau lakukan di sini, Weasley?" William bertanya kepadaku dengan tatapan curiga. Dia memanggil nama keluargaku, bukan nama depanku lagi, itu pasti karena aku membentaknya waktu itu. Entah kenapa mendengarnya memanggilku dengan nama keluargaku bukannya nama depanku membuatku sedikit sedih. Oh, memangnya apa yang aku harapkan…?

Akumenghadapi mereka dalam diam. Lalu aku menunduk memberi hormat kepada keluarga Malfoy yang memasang tampang cemberut setiap melihatku, lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan tanpa memandang William sama sekali. Sekilas aku melihat William yang shock karena melihat tingkah lakuku, aku tidak tahu kenapa dan apa alasannya. Aku tidak peduli.

Aku menyelesaikan surat untuk uncle Ron dengan cepat dan segera berlari ke kandang burung hantu untuk mengirimnya. Aku mengikatkan suratku ke kaki salah satu burung hantu kecil berwarna hitam pekat dengan mata merah yang menyala. Aku memberinya sedikit belaian di sepanjang kepala dan lehernya sebelum akhirnya dia terbang menyeberangi malam yang kelam.

Aku sudah ingin berbaring di tempat tidurku yang hangat dan menyelubungi tubuhku dengan selimut tebalku yang juga pasti akan terasa sangat hangat, karena selain malam ini sangat dingin aku juga ingin beristirahat dari aktivitasku yang melelahkan.

Pintu asrama sudah terlihat di depanku. Aku memasukinya dengan perasaan bahagia, tapi perasaan bahagia itu langsung menghilang begitu saja saat aku melihat seseorang sedang tertidur pulas di atas sofa panjang di ruang rekreasi. Aku mengawasinya dengan hati-hati, menahan nafas, mendekatinya pelan-pelan ingin meyakinkan bahwa dia benar-benar tidur. Hufffh… untungnya William benar-benar tidur dan sangat pulas, akhirnya aku bisa bernafas lega. Setelah semua yang terjadi malam ini, aku tidak ingin melihat matanya saat sedang dalam keadaan sadar.

Sekarang aku mengawasi keadaan di sekitarnya, benar-benar berantakan. Buku-bukunya berserakan di lantai, tadinya mungkin dia sedang mengerjakan esainya. Tapi bukan hanya itu sepertinya dia tidur sembarangan di sofa karena sangat kelelahan. Tangannya bergelantungan di samping sofa dan tanpa selimut, tapi dia tetap terlihat tampan walaupun kelelahan tergambar jelas di wajahnya yang tanpa noda sama sekali.

Aku mengawasinya dengan penuh perhatian, tidak ingin rasanya aku mengalihkan pandanganku dari wajahnya walau hanya satu detik. Tiba-tiba jantungku berdetak sangat kencang, memprotes keras agar aku tidak membuatnya berdetak secepat itu. Pemuda ini membawa pengaruh buruk untuk jantungku. Aku harus segera pergi dari sini sebelum dia terbangun karena mendengar suara jantungku yang menggebu-gebu. Lagipula aku tidak ingin mati mendadak karena tiba-tiba jantungku keluar gara-gara situasi seperti ini.

Tapi aku tidak bisa pergi dengan membiarkannya seperti ini kan? Aku menarik tongkat sihirku dan mengayunkannya ke sekitar meja untuk membereskan semua bukunya yang berserakan dimana-mana dan segera memasukkannya ke dalam tas yang terabaikan di bawah meja. Aku menarik secarik perkamen yang sejak tadi digenggamnya sambil tidur.

Aku membukanya ingin tahu, siapa tahu itu adalah surat cinta penuh dengan gombalan-gombalan memuakkan yang dia tulis untuk Angelina Zabini. Aku tertawa pelan saat tahu apa isi secarik perkamen itu. Itu bukan surat cinta yang dia tulis untuk Angelina tapi esai Sejarah Sihir yang sudah lungset. Aku senang ternyata dugaanku salah tentang surat cinta itu.

Dengan sangat pelan aku mengambil perkamen itu dari genggamannya. Meratakannya di atas meja. Dan sekalilagi aku mengayunkan tongkat sihirku ke arah perkamen itu. Dan dalam sekejap, esai Sejarah Sihirnya telah licin kembali.

Setelah selesai, aku memandangnya sejenak. Dan tersenyum, saat tidur dia terlihat seperti bayi yang terlahir tanpa dosa. Mungkin itu terlalu berlebihan, tapi memang itulah yang aku lihat saat memandangnya. Lagi-lagi jantungku berdetak kencang setiap aku menatap wajahnya. Oh my god, aku memang tidak seharusnya memandangnya berlama-lama. Kenapa sih jantungku selalu rusak disaat-saat seperti ini…?

Aku menggelengkan kepalaku cepat. Apa yang sedang merasukiku saat ini? Aku tidak boleh berlama-lama di sini. Bisa-bisa ada yang melihatku melakukan semua ini dan mengatakannya kepada William. Dan pada saat itu tiba, aku tidak akan mampu lagi menahan rasa malu itu. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan. Sekali lagi aku mengacungkan tongkat sihirku dan bergumam…

"Accio Selimut…"

Beberapa detik kemudian sebuah selimut tebal berwarna biru melayang dari kamar anak perempuan dan mendarat mulus di tanganku. Aku menyelimutkan dengan hati-hati ke atas tubuhnya agar dia tidak kedinginan kalau seandainya tertidur disini sampai besok pagi.

Menyihir setangkai bunga Spearmint dari udara kosong, dan meletakkan bunga Spearmint itu di atas kertas esainya. Lalu mengambil secarik kertas dan menambahkan kata-kata yang tidak pernah terpikirkan di benakku sebelum ini.

Bila kau merasakan suasana hatimu dingin dan sangat melelahkan, pandanglah bunga ini dan rasakanlah kehangatan yang terkandung disetiap kelopaknya yang selalu akan membuatmu merasakan kehangatan hati orang lain.

Sebenarnya aku tidak mengerti kenapa aku meletakkan Spearmint ini dan menulis kata-kata itu. Mungkin karena aku menyukai bunga itu seperti aku menyukainya.

Menyukainya….? Apa aku sungguh-sungguh menyukainya?

Ah sudahlah, aku sendiri tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaanku kepadanya. Aku meninggalkannya dalam keadaan yang nyaman – menurutku – dan naik ke kamar anak perempuan untuk mengistirahatkan tubuh dan otakku sendiri yang sudah mulai rusak akhir-akhir ini.

_To Be Continue_

Chapter 2 selesai diupdate. Buat yang chapter 1 kemarin aku mau minta maaf kepada para reader yang merasa tidak nyaman sama tulisanku. Tulisanku di chap 1 benar-benar berantakan. Dan aku berterima kasih banget untuk para reviewer yang menyempatkan waktunya hanya untuk sekedar memberikan motivasi, kritik/saran dan semangat untukku.

Dan aku berharap, di chap 2 ini akan membuat kalian sedikit puas, walau tidak puas sepenuhnya. Review kalian adalah suntikan semangat untuk author. So, jangan bosen untuk memberikan review kalian bagi fanfic yang penuh dengan kekurangan ini. Terima kasih banyak untuk kalian semua. Don't forget, rnr please! ^_^