ALWAYS YOU
Disclaimer : J. K. Rowling
Pairing : Roxanne Weasley & OC
Genre : Romance & Drama
Rate : T
Summary : Aku mencintainya, sangat mencintainya. Tapi apa yang harus aku lakukan, jika pada akhirnya aku hanya bisa menjadi bayang-bayangnya dan mencintainya dari jauh?
Warning. : Typo, typo, typo, gaje, dan masih banyak kekurangan lainnya.
Happy reading ^_^
Chapter 3
Pagi ini aku terbangun dari tidurku yang nyaman gara-gara mendengar celotehan teman sekamarku Amira Turpin dan Cintya Fawcett, yang sangat suka membicarakan orang lain terutama cowok-cowok tampan di seluruh Hogwarts. Mereka baru sadar kalau aku sudah bangun dari tidur pendekku dan memandangku ingin tahu. Aku mengawasi mereka dengan sedikit bingung.
"Kau kemana saja semalam, Roxy? Tidak biasanya kau belum kembali ke kamar sampai tengah malam? Jujur saja kami sedikit mengkhawatirkanmu, tapi sepertinya kau baik-baik saja," kata Cintya dengan panjang lebar. Aku sedikit kaget saat mendengar kata khawatir dari mulut mereka, karena biasanya mereka tidak pernah mempedulikan apa pun yang aku lakukan. Perubahan yang drastis.
"Oh… yeah… er… terima kasih karena telah mengkhawatirkanku, tapi sebenarnya itu tidak perlu." Aku memandang mereka lalu tersenyum sedikit.
Tapi mereka malah melihatku dengan pandangan jengkel, lalu membuang muka dan pergi meninggalkan kamar. Kenapa dengan mereka, tadi katanya khawatir, tapi sekarang malah menatapku seperti itu. Memangnya ada yang salah dengan ucapanku tadi? Ah peduli amat dengan mereka. Aku harus segera mandi dan turun untuk sarapan, karena pelajaran pertama hari ini dimulai lebih awal.
Aku bergegas keluar kamar dan menuruni tangga setelah menyisir rapi rambut hitamku yang tergerai lembut sampai ke punggungku. Tapi langkahku langsung terhenti saat melihat William sedang menjelaskan sesuatu kepada Goldstein. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka diskusikan, karena itu aku lebih mendekat ke tempat mereka berdiri dan mencoba untuk menguping.
Aku sendiri bingung sejak kapan aku jadi gadis yang suka ingin tahu urusan orang lain. Ah, tapi aku tidak peduli dengan yang lain, aku hanya peduli dengan apa pun yang dilakukan William, karena aku mengaguminya. Ya benar, ini semua semata-mata karena aku mengaguminya setelah dia membelaku waktu itu, tidak lebih. Kataku lebih-lebih untuk meyakinkan diriku sendiri.
Tapi saat aku mendekat ke arah mereka, mereka malah berjalan keluar. Mungkin hendak menuju ke Aula Besar, tapi masih tetap dengan aktifitas semula mereka. Berdebat tentang suatu hal yang saat ini sangat aku ingin ketahui. Aku merapat ke arah mereka tanpa mereka sadari, masih dengan gayaku yang seperti biasa. Berlagak tidak peduli pada apapun yang ada didekatku kecuali diriku sendiri, padahal sebenarnya sebaliknya.
"… Will, kau yakin kalau bukan kau sendiri yang melakukannya? Mungkin saja karena kau kelelahan jadi kau tidak sadar kalau ternyata kau sudah menyelesaikan semua esaimu dan memasukkan buku-bukumu kedalam tas," kata Goldstein agak ragu.
"Tidak Alex, aku sangat yakin kalau semalam esaiku sangat berantakan. Karena seingatku, semalam aku tertidur saat aku masih memegang kertas esai itu. Dan pagi ini esaiku sudah rapi dan buku-buku sudah rapi di dalam tas." William menyelesaikan penjelasannya lalu menggeleng tidak mengerti. Sedangkan Goldstein mengawasinya dengan cemas.
Ternyata itu yang mereka bahas, mereka membahas semua yang aku lakukan semalam. Tapi pasti mereka tidak akan tahu kalau aku yang melakukannya, mereka memang tidak boleh tahu. Dan aku harus memastikannya tetap begitu.
Aku tidak boleh berlama-lama menguntit mereka, kalau sampai mereka menyadarinya aku tidak akan punya muka lagi di depan William. Aku segera menyongsong pergi melewati mereka, sedikit menabrak lengan Goldstein dan pura-pura tidak tahu. Tanpa memandang mereka sama sekali. Samar-samar aku mendengar Goldstein menyebutku cewek aneh dari kejauhan, tapi tidak mendengar William berkomentar sama sekali.
Si Zabini tidak pernah melepaskan William sedetikpun, kecuali saat sedang dalam kelas dan di dalam asrama. Jujur aku paling benci saat dia bertemu dengan Angelina dan hanya berdua saja di ruang-ruang kosong di Hogwarts, aku membenci itu. Aku tidak tahu kenapa perasaanku seperti ini, tapi aku tidak suka saat mereka hanya berjalan berdua saja di lorong-lorong sekolah, atau di halaman belakang sekolah dan duduk berdampingan di bawah pohon samping Danau Hitam.
Oh, Roxanne yang malang. Apa hak-ku membenci kebersamaan mereka? Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya kebetulan mengagumi seseorang yang sudah menjadi milik gadis lain, yang lebih cantik dan segala-galanya dariku. Benar-benar ironi.
Sore ini tanpa sengaja aku melihatnya keluar dari asrama dan berjalan menuju danau belakang sekolah. Aku mengikutinya tentu, aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan. Tapi setelah aku sudah sampai di balik pohon di dekat danau, aku merasa menyesal karena telah memutuskan untuk mengikutinya. Bodoh, seharusnya tadi aku tidak mengikutinya, seharusnya aku tetap berdiam diri di kamar tanpa harus tahu apa yang dilakukannya hari ini. Aku mengutuk diriku sendiri, lalu aku mengalihkan pandanganku pada mereka lagi.
Aku melihat Angelica mendekatinya lalu memeluknya dengan sangat erat. Melihatnya membuatku sesak bernafas. Tapi aku pernah melihat yang lebih menyakitkan, aku melihat mereka sedang berciuman di sebuah kelas kosong saat malam hari. Aku hampir meneteskan air mataku dan membongkar keberadaanku karena shock yang aku rasakan.
Dan saat ini aku merasakan kesakitan yang sama, melihatnya memeluk Angelina dengan sangat mesra membuatku ingin sekali menghambur kearahnya dan menampar Angelina. Tapi apa hakku melakukan semua itu? Aku bukan siapa-siapa, aku hanya penggemar rahasia yang tidak ingin diketahui identitasnya. Walaupun aku sendiri harus tersakiti dan selalu merana seperti ini, aku rela asalkan dia merasa bahagia walaupun kebahagiaan itu tidak dia dapatkan dariku.
Aku berpaling tak mau memandang mereka lebih jauh, aku tidak ingin menyaksikan ini semua, aku juga tidak ingin tetap di sini sampai air mataku benar-benar membanjiri pipiku karena perasaan menyakitkan yang tidak aku mengerti karena apa. Aku hendak meninggalkan mereka dalam kebahagiaan yang seolah-olah mengambang di udara, tapi aku mendengar suara Angelina yang menjerit tertahan.
"Berpisah…? Kenapa, kenapa harus berpisah? Memangnya apa alasannya?" Angelina terlihat sangat panik dan terpukul.
"Aku sudah tidak bisa bersama denganmu lagi, aku tidak merasa nyaman lagi saat bersamamu. Maafkan aku." Wajah William penuh penyesalan.
"Tidak! Kau tidak bisa melakukan semua ini kepadaku." Suara Angelina setengah menjerit, lalu dia menatap William dengan sungguh-sungguh. "Apakah selama ini kau pernah jatuh cinta kepadaku?"
Pertanyaan bodoh apa itu? Tentu saja William jatuh cinta kepadanya, bagaimana mungkin William tidak jatuh cinta kepadanya kalau selama ini dia mencium dan memeluk Angelina dengan sangat mesra di semua tempat. Aku memandang William yang terlihat sedikit ragu untuk menjawab. Apa yang ingin dikatakan William? Kenapa dia harus berfikir dulu untuk menjawab pertanyaan semudah itu?
"Yeah, Angel, sekali lagi aku harus minta maaf kepadamu. Sebenarnya sejak awal aku tidak pernah merasa benar-benar jatuh cinta kepadamu…" sebelum kata-kata William terselesaikan terdengar suara tamparan yang sangat keras. Angelina telah menampar William dengan sangat keras sambil memakinya dengan makian yang sangat kasar, sampai-sampai aku pun ingin menutup telingaku agar aku tidak mendengarnya. Tamparan Angelina membuat William terhuyung mundur. Dan aku hanya membeku di tempatku berdiri.
"Lalu untuk apa selama ini kau berkencan denganku? Kau bodoh!" wajah Angelina sudah benar-benar merah padam. Air mata menggenangi matanya bersiap untuk menghujani pipinya.
"Apa ini kerana kau sudah memiliki gadis lain yang lebih segala-galanya dariku?" mata Angelina mendelik menantang ke arah William.
"Bukan, tentu bukan karena itu. Angel, aku benar-benar minta maaf untuk semua…"
"CUKUP! Mulai sekarang jangan berbicara denganku lagi!" Angelina mengucapkannya sambil menendang kaki William yang langsung meringis kesakitan.
Apa ini, William putus dengan Zabini? Tapi apa benar William selama ini tidak pernah jatuh cinta kepada Angelina Zabini? Lalu kenapa selama ini dia mencium dan memeluknya dengan penuh kemesraan, lalu untuk apa pandangan "ingin memiliki" yang selalu dia tunjukkan dihadapan orang lain itu? Kalau begitu apa nama perasaan yang selama ini dia jalani…
Aku bingung, aku tidak mengerti dengan semua yang terjadi kepada mereka. Mencium dan memeluk seseorang tanpa merasakan jatuh cinta pada orang itu sama sekali, perasaan apa itu? Oh, aku memang tidak pandai dalam hal percintaan. Aku sendiri tidak pernah merasakan bagaimana itu jatuh cinta, karena sekarang pun aku hanya mengagumi William, bukan jatuh cinta kepadanya. Aku tahu itu, dan aku yakin itu benar. Aku pasti menyadarinya kalau aku memang sedang jatuh cinta kan? Iya kan? Pasti iya.
Tapi, setelah tadi aku melihat semua itu. Apa aku masih bisa mengaguminya? Setelah aku menyadari betapa mudahnya dia mencampakan gadis yang sangat mencintainya. Sepertinya dia tidak sepenuhnya pantas untuk dikagumi. Mungkin benar kata saudaraku yang lain. Bagaimanapun dia adalah sepupu Malfoy, dan pasti akan ada, walau sedikit sikap bajingan yang mengalir di dalam darahnya.
Dia bukanlah pemuda sempurna seperti apa yang selama ini aku bayangkan. Ternyata dia sama saja dengan pemuda-pemuda lainnya yang hanya ingin memanfaatkan para gadis yang terpesona dengan karisma mereka. Benar kata Rose, aku tidak pantas mengharapkan cinta dari pemuda seperti dia.
Aku terlalu terhanyut pada angan-angan tentang perasaanku sendiri, sampai aku tidak menyadari bahwa William sudah menghilang dari pandanganku. Mungkin dia sudah kembali ke kamar anak laki-laki dan menyesali perbuatannya barusan. Memikirkan itu saja membuat perutku mual.
"Sedang menguping, Weasley?" kata sebuah suara di belakangku.
Aku tersentak, aku mengenali suara ini. Aku menoleh dan menghadapinya. Oh, Demi Jenggot Panjang Merlin, bagaimana aku bisa tidak menyadarinya…? William sudah berdiri tegap sambil menyembunyikan tangan di kedua sakunya, terlihat aura kemenangan di wajahnya, seperti seorang polisi yang mendapati seorang pencuri mencuri sesuatu tepat di depan hidungnya.
Bagaimana ini, aku salah tingkah memandangnya. Tapi aku tidak boleh menyerah begitu saja kepada polisi ini, aku tidak akan membiarkannya memborgol tanganku tanpa perlawanan sama sekali.
"Apa yang sedang kau bicarakan, Wood? Aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan," kataku tegas, berharap dia tidak bisa melihat tanganku yang sedikit gemetar karena kaget.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" dia bertanya lagi dan memandangku dengan tajam.
"Itu bukan urusanmu!"
"Apa kau sedang menguntitku, Weasley?" tanyanya lagi tak menghiraukan ucapanku.
"Jangan memberikan pertanyaan yang aneh-aneh, Wood. Untuk apa aku menguntit dan menguping pembicaraanmu? Masih banyak kegiatan lain yang harus aku lakukan selain melakukan hal yang kau tuduhkan tanpa alasan tadi," kataku tak mau kalah. Apa dia tahu kalau sejak tadi aku melihatnya sedang mencampakan Angelina? Perasaan takut langsung membuncah dari dalam hatiku. Bagaimana kalau sampai dia tahu, dan tidak mau berbicara lagi denganku….?
"Oh ya? Lalu untuk apa kau bersembunyi di balik pohon ini?" dia bertanya lagi.
"Memangnya apa lagi, Wood? Aku hanya sedang menghirup udara segar, dan menenangkan pikiranku yang terlalu sering aku gunakan," jawabku, menatapnya dengan menantang.
"Kau yakin, hanya menggirup udara segar?" tanyanya masih penasaran sambil menyipitkan sebelah matanya, menilai jawabanku.
"Memangnya kenapa aku harus tidak yakin?" Aku balik bertanya heran, tapi tetap dengan nada dingin.
"Wajahmu merah, Weasley, kau tahu?"
Oh demi bunga paling bau sedunia, apakah wajahku benar-benar merah. Kenapa aku tidak bisa mengontrol perasaanku sendiri? Ini memalukan, sepertinya aku harus menyembunyikan wajahku yang ini dan menyimpannya di tempat yang tidak di ketahui siapapun lalu menggantinya dengan wajah yang baru yang lebih sulit menampakkan perasaan.
"Apa kau tidak merasa bahwa hari ini udaranya sedang panas? Kulit wajahku sangat sensitif, jadi wajar saja kalau wajahku memerah. Memangnya kenapa lagi? Jangan berfikir yang tidak-tidak, karena tidak ada gunanya mencurigaiku seperti itu." akhirnya aku menemukan alasan yang masuk akal, walaupun sedikit dipaksakan.
Sepertinya dia tidak yakin dengan ucapanku. Dia memandangku seolah-olah ingin mencari bukti untuk membongkar semua kebohonganku. Tapi dia tidak berhasil, karena pada akhirnya setelah berlama-lama untuk menatapku dia memutuskan untuk tidak berdebat lagi denganku.
"Baiklah. Selamat malam, Weasley. Kembalilah ke kamarmu sebelum Profesor Patil mengetahuinya dan memberimu detensi." Dia langsung pergi setelah mengatakan itu dengan tangan masih di dalam saku. Aku mendelik ke arahnya.
Apa-apaan dia tadi? Siapa dia, berani-beraninya memerintahku. Aku mendengus. Dia tidak akan mempengaruhiku. Aku tidak akan membiarkannya terus mengontrol otakku. Setelah aku tahu sifat aslinya, aku tidak akan mau menyukai ataupun mengaguminya lagi.
Dia salah satu pemuda dari sekian banyak pemuda di Hogwarts yang suka menyakiti perasaan gadis. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan hatiku terus-menerus menyimpan namanya.
Sudah hampir tujuh bulan sejak pertama kali aku mengagumi William Wood, dan dalam tujuh bulan itu tidak ada sedikitpun waktu yang aku lewatkan tanpa memikirkannya. Tapi beberapa hari yang lalu aku melihatnya mencampakan kekasihnya sendiri dengan cara yang tidak terhormat. Setelah dia menciumnya, bagaimana bisa dia memutuskannya begitu saja. Aku masih tidak habis pikir.
Kalau dia memutuskan Angelina hanya karena dia menyukai gadis lain, itu sangat keterlaluan. Lagipula untuk apa aku terus-terusan memikirkan apa yang dia perbuat pada Anggelina? Itu bukan urusanku kan? Dan mungkin setelah ini, aku tidak akan menaruh simpati kepadanya lagi.
Ya, aku memang harus melupakannya. Aku harus membulatkan tekat untuk sebisa mungkin tidak memperhatikannya lagi.
Hari sudah gelap saat aku keluar dari ruangan Profesor Longbottom. Dia menyuruhku menyalin materi bab yang kami pelajari selama satu bulan sebanyak lima kali tanpa menggunakan sihir sebagai detensi karena aku lupa mengerjakan esai yang dia berikan minggu lalu. Aku memang paling payah dalam pelajaran Herbologi. Hah, tangan kananku rasanya mau patah. Bahkan mengingat kalau keluarga kami adalah sahabat tidak membuatnya mengurangi hukuman itu.
Aku menyusuri koridor yang sudah sangat sepi. Melewati beberapa kelas kosong yang masih meninggalkan sedikit penerangan. Aku menyihir buku-bukuku agar melayang di sampingku tanpa harus aku bawa. Setidaknya itu meringankan bebanku. Tanganku sudah sangat sakit tanpa harus ditambah dengan buku-buku tebal yang direkomendasikan Profesor Longbottom untuk aku baca.
Saat aku berbelok diantara koridor yang menuju asrama Hufflepuff dan asrama Ravenclaw aku melihat seorang pemuda sedang berdiri terpaku di ujung koridor menuju asrama Hufflepuff. Aku memperhatikannya, dan aku yakin aku mengenalnya. Dengan sangat hati-hati aku mendekati pemuda itu dan memperhatikannya secara seksama.
"Fred? Apa itu kau?" aku memberanikan diri untuk memulai.
Aku melihat tubuh pemuda itu tersentak ke belakang dan dengan cepat menoleh ke arahku. Dan benar dugaanku, dia Fred-ku. Sekarang tanpa harus hati-hati aku mendekatinya dengan cepat.
"Oh, hai, Roxy. Kau belum tidur?" dia terlihat salah tingkah. Ada apa ini?
Aku menatapnya dengan curiga.
"Tentu saja belum, kalau aku sudah tidur tentu saja kau tidak akan melihatku sedang memergokimu di sini." Aku menatapnya dengan tajam. "Sedang apa kau di sini?"
Aku mencoba melihat ke belakang bahunya, tapi tidak terlihat apapun di belakangnya. Aku benar-benar penasaran apa yang sedang dia lakukan.
"Ah, tidak sedang apa-apa. Aku hanya sedang kebetulan lewat sini. Kau sendiri sedang apa malam-malam begini masih berkeliaran?"
"Kau sendiri juga sama." Aku mendengus ke arahnya karena dia malah berbalik menyerangku.
"Kenapa dengan tanganmu?" Dia memperhatikan tangan kiriku yang sejak tadi terus memijit tangan kananku sendiri. Dan dengan cepat dia sudah memegang lengan atasku.
"Ah, ini. Tenang saja, ini hanya akibat dari kelalaianku." Aku tersenyum malu ke arahnya.
"Herbologi?" dia bertanya, dan aku mengangguk pelan. "Kau mendapat detensi lagi?"
Aku hanya nyengir sambil terus memijit lenganku. Fred mendesah pelan. Lalu dia menarikku untuk memasuki sebuah ruangan kosong yang sudah tidak digunakan lagi. Dia mendudukanku ke sebuah bangku kayu yang sudah agak rapuh.
"Aku heran denganmu, Roxy. Kau pandai dalam benyak mata pelajaran daripada aku, tapi kenapa dari semua pelajaran itu kau malah sangat lemah terhadap Herbologi?" Fred mengerutkan keningnya bingung.
"Percayalah, Fred, aku juga tidak mengerti kenapa aku seperti itu." Aku menunjukkan wajah polosku saat dia mendelik ke arahku. Dan sesaat kemudian aku berhasil membuatnya tertawa.
"Kemarikan tanganmu!" dia mengayunkan tongkat sihirnya dan dalam hitungan detik muncul sebuah botol kecil di tangannya.
"Apa itu?" aku menatap botol itu dengan was-was saat dia menggulung lengan kanan jubahku ke atas.
"Ini gel untuk pengurang rasa sakit. Seingatku Mom juga memberikan satu untukmu, tapi kau malah memberikannya kepada Louis dua tahun lalu, ingat?" dia menuangkan sedikit gel itu ke telapak tangannya dan menggosokkannya ke lengan kananku.
Ini terasa dingin dan nyaman. Yeah, aku ingat saat aku menemukan sebuah botol berisi gel bening di dalam koperku beberapa tahun lalu, dan saat itu aku sedang marah pada Louis jadi aku mengambil apa saja untuk aku lemparkan kepadanya. Dan mungkin saat itu botol itu yang aku ambil. Ah, sepertinya aku harus meminta satu lagi kepada Mom, ini benar-benar sangat berguna di saat-saat seperti ini.
Aku kembali mengalihkan pandanganku ke wajah Fred yang masih menekuni kegiatannya. Aku tahu dia sangat sayang kepadaku, walau terkadang dia sangat menyebalkan dan suka memerintah. Tapi dia saudara kembarku dan saudaraku satu-satunya, jadi aku pun juga sangat menyayanginya.
"Omong-omong, Fred. Sebenarnya apa yang kau lakukan di sini? Ini kan koridor menuju asrama Hufflepuff. Sedangkan asrama Gryffindor ada di sebelah sana. Kau tidak mungkin tersesat kan?" sekali lagi aku menatapnya tajam.
Dan untuk sesaat aku yakin aku melihat ada semburat warna merah di kedua pipinya. Mataku membelalak. Dia tersipu? Fred tersipu? Oh, Demi apapun yang digunakan Merlin, ini benar-benar keajaiban.
"Fred, oh demi apapun, katakan padaku ada apa?" Ok, sekarang aku tidak akan menyerah, aku harus mendapatkan jawaban yang pasti. Apa yang sebenarnya dia lakukan di sini?
Fred menatapku dengan menantang. Dia menghela nafas panjang dan memejamkan matanya sebentar. Sebelum dengan sangat cepat dia menyentil jarinya tepat ke dahiku.
"Aww…, apa itu tadi…?" aku melotot menatapnya.
"Apa pun yang aku lakukan di sini bukan urusanmu," katanya dengan tatapan datar.
Aku mendengus saat dia bangkit dari tempat duduknya dan mengusap kepalaku dengan lembut.
"Ayo! Aku akan mengantarmu sampai ke depan asrama Ravenclaw dan memastikan kau tidak akan berkeliaran lagi."
"Huu, seharusnya aku yang mengatakan itu padamu."
Aku berdiri dan mengikutinya. Dia benar-benar sangat suka mengatur dan memerintah. Aku membersihkan sedikit debu yang menempel di jubahku saat aku duduk tadi. Masih menunduk sambil berjalan di belakangnya. Tapi saat aku melangkah ke arahnya, aku malah menabrak punggungnya.
"Aww.." aku meringis sambil mengumpat pelan, "Apa lagi sekarang?" ucapku setengah membentak.
Aku menatapnya sambil bersungut-sungut. Apa-apaan dia, baru saja memerintahkanku untuk kembali ke Asrama, tapi sekarang malah dia sendiri yang mematung di depan pintu. Tunggu! Fred benar-benar berdiri tegap seperti patung. Aku mendengus sebal. Menghentakkan kakiku tidak sabar dan berdiri di depannya.
"Ada apa…?" bentakku.
Ada yang aneh dengan saudara kembarku. Dia seperti membeku di tempatnya. Aku menatap arah matanya memandang. Tapi, sebelum aku benar-benar melihat ke arah itu, Fred sudah lebih dulu menarikku masuk lagi ke dalam ruang kelas kosong tadi. Dia menarikku ke dalam pelukannya. Aku tidak mengerti, apa yang sebenarnya dia lakukan. Aku berusaha berontak untuk melepaskan diri darinya. Tapi dia memelukku dengan sangat erat.
"Diamlah, Roxy!" bentaknya dalam bisikan.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan? Kau membuatku susah bernafas," aku mendesis kepadanya. Sedikit membuat nada suaraku seperti peringatan untuknya.
"Tetaplah diam dan jangan bergerak! Atau kau lebih senang mendapatkan detensi tambahan karena tertangkap berkeliaran di saat jam malam?" Fred berbalik mendesis, dan lebih menakutkan.
Dan pada akhirnya, aku hanya bisa terdiam tanpa bergerak. Aku berusaha menajamkan pendengaranku dalam kesunyian ini. Dan samar-samar aku mendengar langkah kaki mendekati tempat kami bersembunyi. Bukan hanya sepasang langkah kaki, tapi ada beberapa pasang kaki yang berjalan bersamaan.
"Fred," aku berbisik, mencoba meyakinkan apa benar yang datang adalah salah satu ketua murid atau beberapa orang prefek? Tp Fred hanya menjawabku dengan pandangan "Diam!". Dan itu sudah cukup membuatku diam.
Dari kejauhan aku mendengar suara beberapa gadis. Dan benar dugaanku, itu pasti suara salah seorang prefek bersama dengan Leanne Bones, Head girl kami. Ini bukan hanya masalah serius, tapi masalah yang sangat-sangat serius.
Bagaimana kalau aku dan Fred tertangkap? Ini sudah melebihi tengah malam. Mereka pasti tidak akan mentolerir perbuatan kami. Dan kalau sampai Mom tahu tentang ini, aku yakin dia akan langsung menggantung kami. Er... sebenarnya Mom tidak akan sejauh itu, tapi situasi ini membuatku berpikir yang tidak-tidak.
"Kembalilah ke Asrama, Haely! Aku akan melanjutkan setelah dari sini," kata sebuah suara yang aku yakini suara Head girl Bones. Suaranya terdengar sangat lembut dan berwibawa.
"Biarkan aku membantumu untuk memeriksa di sebelah sini, Leanny. Setelah itu aku akan kembali ke Asrama," kata seorang lagi.
"Baiklah, kau periksa sebelah sana. Dekat lemari sapu di ujung koridor! Dan aku akan memeriksa di beberapa ruang kelas kosong di situ." Mereka berdua membuat kesepakatan.
Tiba-tiba aku merasa seolah jantungku berhenti. Habislah kami kali ini. Leanne Bones akan memeriksa ke tempat persembunyian kami. Tanpa sadar aku mengutuk Bones dalam hati. Kenapa sih dia ada di sini di saat yang tidak tepat? Aku menengadah menatap Fred. Sekarang baru benar-benar aku yakin, ada yang aneh dengan Fred.
Wajahnya benar-benar merah. Nafasnya sedikit lebih cepat daripada biasanya. Aku ingin menanyakan keanehan itu pada Fred. Ada apa sebenarnya padanya? Tapi, sebelum aku menyuarakan rasa penasaranku, Fred kembali menarikku ke arah balik pintu. Dan sedetik kemudian aku mendengar langkah kaki lembut mendekat ke arah kami. Yeah, Leanne Bones semakin mendekat.
Suara langkah kaki semakin mendekat. Dan tidak perlu waktu lama, aku merasa Leanne Bones mulai memasuki ruang kelas kosong yang kami tempati. Terdengar suara mencicit dari pintu yang didorong semakin terbuka. Dan pada akhirnya kami semakin merapat agar semakin tertutup oleh pintu itu.
Aku memeluk Fred semakin erat, dan aku terpaksa harus menyandarkan kepalaku ke dadanya. Apa yang aku dapati, aku merasakan jantung Fred berdetak sangat cepat. Mendentum-dentung tanpa irama. Aku meliriknya heran. Tentu ini bukan kali pertamanya dia melanggar peraturan sekolah kan? Aku tahu dia dan James selalu melakukan sesuatu entah apa dan selalu melanggar jam malam.
Jadi, kenapa sekarang dia harus merasa was-was, resah, takut, atau apalah itu. Dia kan sudah terbiasa. Aku menyadari baru saja aku menatapnya sambil mengerutkan keningku. Dan Fred menyadarinya.
"Apa?" bisiknya. Dan aku hanya menggelengkan kepala. Ini tentu bukan waktu yang tepat untuk membahas kenakalannya sebelum ini kan? Jadi, aku memilih diam.
Fred mengalihkan pandangannya dariku. Tapi aku tidak bisa melakukan hal yang sama. Banyak pertanyaan yang berputar-putar di otakku. Dimulai dari Fred yang berada di koridor ini yang pada kenyataannya sangat jauh dari Asrama Gryffindor, tentu ini bukan hanya kebetulan kan? Dan soal ekspresi tidak wajar Fred, detakan jantungnya, wajah merahnya yang tidak biasanya. Ini aneh.
Dan, yeah, sampai kapan kami harus bersembunyi sambil berpelukan seperti ini? Ini menyesakkan, dan jujur aku sudah berkeringat dari tadi. Aku menatap Fred yang mengintip dari sela-sela pintu. Masih ada semburat merah di wajahnya.
"Leanny, apa kau sudah selesai memeriksa ruangan ini? Head boy sudah menunggumu untuk kembali," ucap seorang prefek Hufflepuff tadi.
"Oh, ehm, yeah. Aku sudah memeriksanya. Tidak ada siapa-siapa di sini. Ayo kita kembali!"
Bones melangkah meninggalkan ruang kelas ini, tapi saat sampai di pintu dia menghentikan langkahnya. Samar-samar aku mendengarnya sedang mengendus sesuatu. Dan di saat yang bersamaan aku merasakan tubuh Fred menegang. Oh, ada apa ini?
"Ayo Leanne!"
"Baiklah. Entah mengapa, aku merasa mencium aromanya di sini." Kalimat terakhir seolah-olah dia tujukan untuk dirinya sendiri.
Setelah mengucapkan itu aku mendengar langkah kaki Bones semakin menjauh dan menghilang. Aku bernafas lega. Dengan cepat aku melepaskan diri dari Fred, dan menghambur keluar dari balik pintu. Fred mengikuti di belakangku.
Wajah tegangnya tadi sudah menghilang, digantikan dengan sebuah ekspresi penyesalan. Penyesalan? Menyesal untuk apa? Aku merasa ada sesuatu antara Fred dan Leanne. Yeah, mungkin memang itulah jawaban dari keanehan Fred kali ini. Leanne Bones.
"Apa itu tadi?" aku memberanikan diri menanyakannya pada Fred.
"Tadi yang mana? Soal kita hampir saja tertangkap dan hampir mendapat detensi?"
"Kau tahu maksudku Fred!" aku mendelik ke arahnya.
"Sudahlah, ! Ayo, aku akan mengantarmu ke asrama Ravenclaw. Kau harus istirahat!" kalimat itu dia tujukan sebagai perintah. Dan aku harus menurut kalau tidak ingin bertengkar dengannya.
Fred berjalan lebih dulu. Aku menatap punggungnya sambil berpikir. Beberapa pertanyaan masih berkecambuk di otakku. Ada apa sebenarnya denganmu, Fred? Apa yang sedang kau sembunyikan dari kami? Dan apa hubunganmu dengan Leanne Bones?
_To Be Continue_
Akhirnya Chap 3 bisa diupdate juga. Walau agak lama, tapi terlaksana juga. Untuk kesekian kalinya author mau menyampaikan beribu-ribu terima kasih untuk para reader yang mereview, menfavorit, memfollow ataupun yang bahkan hanya membaca fanficku ini saja.
Semoga fanfic ini tidak terlalu buruk untuk mendapatkan review dari para reader. Sekali lagi terima kasih sudah menyempatkan waktu kalian hanya untuk sekedar membaca fanfic yang penuh kekurangan ini. Big love for my reviewer :*
