As One

Pairing : Kookga

Summary : suga tak akan mengatakannya

Rate : T

Copyright : Yang punya member BTS itu tuhan dan orang tua mereka tercinta~

yang punya ide cerita saya,

Don't like? Don't read.

.

.

.

V


"kaga lah. Hyung uke kook sini."

Ctak.

"Kook seme hyung."

Ctak.

Yoongi mendelik penuh dendam ke arah Jungkook yang berada jauh darinya, sayangnya telinganya berfungsi dengan baik, ia bisa mendengar gombalan satu persatu yang keluar dari bibir Jungkook. Tak sungkan sungkan satu persatu pocky ditangannya menjadi pelampiasan kekesalannya karna mendengar dan melihat semua hal itu.

Hatinya sudah mengumpat macam macam nama hewan, pertanda bahwa rasa sabarnya sudah melewati parameter batas normal, tapi ia berusaha bersabar, karna ia berencana mengunjungi Jungkook setelah sebulan tak bertemu.

Yoongi melirik ke arah Jungkook, dan menyesal.

Kejadian berikutnya Yoongi mengigit pockynya lebih keras ketika melihat Jungkook menarik badan namja bernama Mingyu itu kepelukannya,

"kamu uke kook,"

Gerakan tangan Jungkook mengusap rambut dan tersenyum pada namja lain membuatnya termenung sesaat, ia menengok ke arah kaca kafe, sebelum mengigit pockynya lagi. Ia tak peduli kepada namja yang digoda malah menendang Jungkook karna sebal.

Yoongi mendengus melihat ke arah jalanan, mencoba mencari hal yang menarik, sialnya, otaknya seakan tak menurut, dan malah melihat ke bayangan yang terpantul ke kaca, bayangan Jungkook dengan namja itu.

Ia menjadi mengingat pembicaraannya dengan salah satu temannya,

Dirinya bisa digantikan ,dirinya bisa juga bukan seseorang yang benar benar berada di hati Jungkook, bahkan mungkin saja Jungkook menembaknya hanya bercandaan dan Yoongi menanggapinya terlalu serius.

Semuanya itu mungkin bukan?

"Hyung?"

Lamunannya terbuyar mendengar suara namja yang familiar, ia menengok, dan merasa bersyukur ketika melihat bahwa orang yang berada dihadapannya bukanlah kekasihnya, tetapi temannya, Jimin,

"Kau menangis?"

Yoongi terkejut ketika menyentuh pipinya, terasa basah, dengan buru buru ia menyeka air matanya, ia melihat pergerakan Jimin yang kini duduk dihadapannya, mata Jimin mengarah kepada Jungkook, dan berakhir tersenyum kepada Yoongi.

"tak mau kesana?" ucap Jimin sambil mengusap rambut Yoongi. Ia mengenal Yoongi, sangat mengenal Yoongi, tentu saja karna dia sahabat dekatnya.

"Berisik."

Yoongi menepis tangan Jimin, merasa sedikit terganggu dengan semua itu.

"Masih tetap pada pendirianmu?" Tanya Jimin menatap ke arah matanya dengan serius. Yoongi mencoba mengelak pandangan mata Jimin, sontak membuat Jimin menghela nafas. "Kau tidak akan bilang kau mau bertemu dengannya setiap hari atau setiap hari memberi kabar padamu, kau melihat ini diam saja, kau tak apa-apa?"

"Aku tak apa apa." Balas Yoongi sambil tersenyum tipis,

"kau membohongi dirimu sendiri hyung."

Jimin memicingkan matanya, ia membenci sisi Yoongi yang satu ini.

"Biarkan dirinya bahagi-

"Dan biarkan dirimu sendiri hancur? Itu maksudmu?"

Jimin menarik tangan putih gula Yoongi, dan memberikan tekanan sedikit pada genggamannya, ia mendengar surai abu abu itu merintih serta melihat darah yang mewarnai sedikit kaos lengan panjang yang dikenakan oleh Yoongi.

Jimin mengigit bibirnya, sementara Yoongi menunduk,

"Kau ingat? Dulu saat aku berpacaran denganmu, kau diam saja, sampai akhirnya aku menyukai orang lain…"

Ah Yoongi ingin menutup kupingnya, karna Jimin akan mulai menceritakan masa lalu mereka lagi.

"Aku sempat bosan denganmu kau tahu? Kau diam saja tak seperti pasangan lainnya, kau berpura pura tidak peduli—"

"Itu masa lalu Jim." Potong Yoongi dan melepaskan tangannya dari Jimin, kedua matanya memandang tidak suka Jimin, ia mendesis sebal sebelum memakan pockynya kembali. "Sudah kubilang aku terbuka dengan Jungkook."

Jimin memutar bola matanya, dan berkata,
"Itu omongan di mulut saja bukan?"

Yoongi hanya tersenyum sebagai jawaban, dengan tatapan mata yang membuat Jimin terdiam. Tatapan Yoongi yang diberikan kepada Jimin saat pertama kali Yoongi mengungkapkan semuanya didepannya.

Kosong tak ada apapun disana.

Seakan mengisyaratkan topengnya sudah ia buka, menampilkan apa yang dirasakannya saat ini.