True or False

( Yes, I False )

Seventeen Seunghan / Jeongcheol Fanfiction

Cast

Jeonghan

Seungcheol

Jihoon

Joshua

Mingyu

Wonwoo

Vernon

Jun

.

.

.

.

" Jeonghan : aku tidak bermaksud menyakitinya karena awalnya aku hanya bercanda. Tapi justru aku membuatnya hampir mati karena kecerobohan dan tingkah usilku. Itu memang salahku, tapi apa kamu harus semarah itu padaku? aku tahu kamu mencintainya, tapi kita sudah berteman sejak kecil, kita sudah saling mengenal satu sama lain. Kau tahu kelebihan dan kelemahanku, begitupun aku. Tapi jika dengan aku pergi bisa membuatmu bahagia bersamanya, aku rela melakukannya. Tapi berjanjilah padaku bahwa kamu tidak akan membenciku Seungcheol"

Jeonghan memang salah, dia telah melukai Jihoon tapi dia sama sekali tidak berpikir semuanya akan seperti ini. Jeonghan hanya ingin mereka percaya padanya bahwa dia tidak melakukan itu dengan sengaja. Itu saja sudah cukup untuknya. Tapi semuanya tidak sesuai dengan harapannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Tenang saja Jihoo-ah, aku sudah terbiasa berpetualang, jadi kita tidak akan tersesat" kata Jeonghan meyakinkan Jihoon. Mereka sedang melakukan survival dan kebetulan Jeonghan dan Jihoon berada dalam satu team.

"Nae Jeonghan-ah, kita pasti akan sampai duluan ke basecamp dan akan memenangkan game ini."

"Jihoon-ah aku kebelet, kamu tunggu disini ya, jangan kemana-mana aku segera kembali." Jeonghan tiba-tiba ingin kencing lalu segera berlari mencari tempat yang tertutup dengan sedikit masuk kedalam hutan.

"Baiklah, jangan lama-lama dan jangan terlalu masuk kedalam hutan nanti kamu tersesat."

Jeonghan hanya melambaikan tangannya tanda mengerti. Setelah selesai dan merasa lega, Jeonghan segera kembali untuk menghampiri Jihoon yang masih menunggunya ditempat tadi mereka berhenti. Namun saat jaraknya dengan Jihoon hampir dekat, ia segera menghentikan langkahnya karena pikiran usil melayang dibenaknya. Bukannya menghampiri Jihoon ia malah bersembunyi dibalik pohon yang tidak jauh dari tempat Jihoon berdiri. Ia segera mengeluarkan suara geraman yang menyerupai suara harimau. Jeonghan bisa melihat dari tempatnya bersembunyi, saat ini Jihoon tampak panik setelah mendengarkan geraman yang baru saja ia buat. Bukannya menghentikan kekonyolannya, Jeonghan malah semakin memperkeras geramannya dan membuat Jihoon berlari menjauh dari tempat itu.

"Kenapa dia malah lari, Jihoon-ah ini aku, " teriak Jeonghan dengan keras namun keburu Jihoon telah menjauh dari tempat itu. Jeonghan berusaha mengejar Jihoon namun ia kehilangan jejak namja imut itu.

"Kemana dia, kenapa larinya cepat sekali, bagaimana kalau dia tersesat dan bagaimana kalau dia bertemu harimau sungguhan." Jeonghan mencoba menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran-pikiran buruk diotaknya.

Setelah hampir setengah jam berkeliling namun tidakjuga menemukan Jihoon, akhirnya Jeonghan memutuskan untuk kembali ke basecamp dan memberitahukan kepada yang lain bahwa Jihoon menghilang.

Saat Jeonghan memberitahukan bahwa Jihoon menghilang pada teman-teman dan gurunya, sontak saja membuat mereka semua tampak panik. Guru pun memerintahkan seluruh siswa untuk mencari Jihoon. Jeonghan sangat merasa bersalah, kalau saja dia tidak usil pada Jihoon mungkin Jihoon tidak akan tersesat dan membuat semua orang panik seperti ini, mungkin saat ini mereka sedang makan dan bersantai bukannya mencari Jihoon. Ini semua memang salahnya dan ia sangat khawatir Jihoon kenapa-napa. Ditambah Seungcheol, Wonwoo,Jun dan Vernon terus menerus menyalahkannya.

"Kenapa sih kamu selalu ceroboh Yoon Jeonghan" gertak Seongcheol pada Jeonghan dan itu semakin membuat Jeonghan merasa bersalah.

"Bagaimana kalau Jihoon kenapa-napa, mungkin saat ini dia sedang ketakutan seorang diri, dia juga tidak menggunakan jaket, bagaimana kalau dia kedinginan." Wonwoo juga ikut memarahi Jeonghan dan membuat namja cantik itu hampir menangis namun ditahannya mati-matian agar air matanya tidak pernah menetes.

"Seharusnya aku tidak membiarkannya satu team denganmu, dari awal aku sudah menyuruhnya satu team denganku, Jun, Wonwoo atau Seungcheol-ah, kamu benar-benar ceroboh Jeonghan-ah." Vernon yang biasanya tidak pernah marah kini ikut memarahi Jeonghan.

"Seharusnya kau menghentikan tingkah usilmu itu, bukankah kau selalu hampir mencelakakannya karena kecerobohanmu itu, apa kamu belum kapok juga?" kata Jun sambil memberikan tatapan tajam pada Jeonghan.

"Apa kau puas sudah membuat Jihoon-ah menderita ha? Bukankah mengerjai orang membuatmu bahagia, kau itu ceroboh, kalau kau seperti ini terus kau hanya akan membuat orang-orang didekatmu terluka." Seungcheol mengakhiri omelannya pada Jeonghan lalu berjalan pergi untuk melanjutkan mencari Jihoon dan diikuti oleh yang lain. Kini Jeonghan tinggal sendiri bersama kebisuannya, ia masih berdiri mematung walau udara dingin menyapu tubuhnya. Kata-kata dari ke-4 temannya masih terngiang-ngiang jelas ditelinganya. Dan kali ini dia benar-benar sudah tidak bisa meredam tangisnya. Air matanya mengucur dengan deras diiringi dengan isakan.

"Aku benar-benar tidak sengaja, maafkan aku Jihoon-ah, kamu selalu terluka karena kecerobohanku. ini semua salahku, kalau sampai terjadi hal buruk padamu, sungguh aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri"

.

.

.

.

.

.

Setelah hampir 2 jam melakukan pencarian akhirnya team pemadam kebakaran yang dikerahkan untuk mencari Jihoon menemukan namja imut itu tergeletak di jurang yang untungnya tidak dalam . Sepertinya Jihoon terperosok kebawah saat sedang berlari dengan panik, ia tidak memperhatikan jalan dan membuatnya terpeleset lalu jatuh kebawah hingga ia tidak sadarkan diri. Keadaannya sunggung menghawatirkan dengan beberapa memar di badannya dan kakinya yang terkilir terlihat membengkak. Mereka segera membawa Jihoon ke Rumah Sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan.

.

.

.

Jeonghan POV

Aku berdiri didepan ruangan rumah sakit tempat Jihoon dirawat sambil memperhatikan Jihoon yang tampak terlelap diranjangnya dari kaca kecil yang ada dipintu ruangan itu. Seungcheol, wonwoo, Jun dan Vernon tampak berdiri disamping ranjang Jihoon dengan muka yang terlihat khawatir. Aku ingin masuk kedalam tapi aku takut, sedari tadi Seungcheol, Wonwoo, Jun dan Vernon terus mendiamkanku. Aku sudah berkali-kali minta maaf tapi kalian tidak mau mendengarkanku.

kau itu ceroboh, kalau kau seperti ini terus, kau hanya akan membuat orang-orang didekatmu terluka

Kata-kata yang kau ucapkan terus menerus terngiang dikepalaku Seungcheol-ah. Jujur hatiku sangat sakit mendengarmu berbicara seperti itu padaku. Apa kamu sama sekali tidak peduli dengan perasaanku.

Tapi semakin aku pikirkan kata-kata itu, aku merasa semua itu memang benar. Aku hanya akan membuat kalian semua terluka jika aku terus berada didekat kalian. Aku selalu membuat kalian berada disituasi yang sulit dan itu semua karena kecerobohanku. Kalau kali ini kalian tidak bisa memaafkanku, aku sama sekali tidak masalah. Karena kali ini aku memang sudah benar-benar keterlaluan pada Jihoon, aku bahkan hampir membunuhnya. Aku kembali mengingat apa saja yang sudah kulakukan padanya selama ini. Dari waktu aku hampir menjatuhkan pot bunga yang hampir mengenai kepala Jihoon, dan sebelum itu aku pernah hampir membuatnya pingsan dan ketakutan saat aku mengerjainya dengan menguncinya digudang walau waktu itu aku juga hanya bercanda dan sama sekali tidak tahu kalau Jihoon phobia gelap, lalu waktu aku tidak sengaja memesankan makanan yang ada cuminya, padahal Jihoon alergi cumi dan membuat kulitnya merah-merah, dan waktu aku hampir menabrak Jihoon dengan mobilku karena rem mobilku tiba-tiba blong.

"Bila dengan tidak adanya aku didekat kalian bisa membuat kalian merasa aman dan bahagia aku rela menjauh dari kalian, sungguh aku rela walau hatiku sangat sakit."

Jeonghan POV End

.

.

.

.

.

.

Jeonghan berjalan dengan pelan keluar dari Rumah Sakit. Pikirannya masih dipenuhi perasaan bersalah dan kekhawatiran. Hatinya benar-benar sakit, tapi dia harus melakukan ini. Ia berjalan dengan tidak bersemangat menuju mobilnya yang terparkir ditempat parkir rumah sakit. Saat itu suasana parkiran lumayan sepi dan hanya ada beberapa orang saja yang sudah bersiap meninggalkan tempat itu. Namun tiba-tiba raut wajah Jeonghan berubah panik. Terlihat seorang namja seumuran dengannya tengah bersandar pada pintu mobil miliknya, namja itu tersenyum melihat kedatangan Jeonghan.

"Ke-kenapa kau ada disini?"Tanya Jeonghan gugup.

"Kenapa ketakutan seperti itu, aku tadi sedang menjenguk temanku yang sedang sakit dan aku melihatmu disini, bukankah ini benar-benar takdir Jeonghanie." Tampak senyumannya sangat licik dan menakutkan dimata Jeonghan.

"Apa sebenarnya maumu Kim Mingyu, berhentilah menggangguku, dan jangan pernah muncul lagi dihadapanku." Teriak Jeonghan pada namja bernama Kim Mingyu itu dan malah dibalas dengan tawa oleh namja yang sangat tinggi untuk ukuran orang korea itu.

Tiba-tiba saja Mingyu menarik tangan Jeonghan dan menghempaskan tubuh Jeonghan dipintu mobil. lNamja itu mengunci pergerakan jeonghan dengan meletakkan kedua tangannya pada pintu mobil milik Jeonghan, alhasil kini tubuh jeonghan terkurung oleh kedua tangan kokoh milik Mingyu. Mingyu tampak mencondongkan tubuhnya dan membuat jarak wajahnya dengan wajah Jeonghan tinggal beberapa centi saja sehingga hidung mereka bersentuhan satu sama lain.

"Ayo kita lakukan lagi Jeonghanie, lakukanlah dengan sukarela, sampai kapan aku harus memaksamu ha? Apa aku harus terus memperkosamu ha? " tampak Mingyu mulai menyentuh rambut jeonghan dan semakin turun menjelajah dengan liar.

"Lepaskan aku bodoh."Jeonghan berusaha melepaskan diri dari namja itu tapi namja itu malah semakin menempelkan tubuhnya pada tubuh Jeonghan. Jeonghan berusaha mendorong tubuh Mingyu tapi namja tinggi itu malah melahap bibir Jeonghan dengan ganasnya dan membuat Jeonghan hanya bisa pasrah untuk kesekian kalinya dari namja yang bisa dibilang sangat tampan ini.

Tapi walaupun wajahnya sangat tampan Jeonghan sama sekali tidak menyukai namja bernama Kim Mingyu ini. Karena bagi Mingyu, Jeonghan hanya dijadikan pemuas nafsunya saja, dan ini sudah berjalan hampir 1 tahun sejak pertemuan awal mereka ditempat Gym favorit Seungcheol. Ya, sebenarnya Mingyu adalah teman ngegym Seungcheol dan mereka bisa dibilang sangat akrab. Waktu itu tepatnya 1 tahun yang lalu Seungcheol meminta Jeonghan menemaninya ketempat Gym karena Jihoon yang biasanya menemani Seungcheol sedang ada urusan keluarga. Disana Jeonghan dikenalkan dengan teman akrab sekaligus pembimbing Seungcheol ditempat Gym itu, tapi perasaan Jeonghan sudah tidak enak mengenai namja bernama Kim Mingyu ini. Tatapannya kepada Jeonghan yang seolah-olah menelanjanginya dan senyumannya yang mencurigakan benar-benar membuat Jeonghan takut. Dan benar saja 1 minggu setelah perkenalan mereka Jeonghan secara tidak sengaja bertemu dengan Mingyu saat dirinya sedang berjalan pulang dari mini market. Tiba tiba saja Mingyu menghentikan mobil yang dikendarainya didekat jeonghan lalu menarik masuk namja cantik berambut panjang itu kedalam mobilnya. Karena sangat takut dengan kelakuan Mingyu yang mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, membuat Jeonghan tidak sadar sudah berada didepan sebuah apartement mewah. Tanpa berkata sepatah katapun Mingyu menarik Jeonghan masuk kedalam apartement tersebut. Jeonghan berusaha untuk menolak dan melepaskan diri namun tenaganya masih kalah dibandingkan dengan Mingyu yang berperawakan tinggi dan berotot. Setelah masuk kesebuah kamar diapartement yang diyakini Jeonghan adalah apartemen milik Mingyu. Jeonghan semakin panik karena sedari tadi dia bertanya kenapa Mingyu membawanya kesini sama sekali tidak digubris namja itu yang justru mengunci kamar dan tanpa aba-aba mendorong tubuh jeonghan keatas ranjang besar yang ada diruangan itu. Dengan kasar Mingyu menindih tubuh Jeonghan yang berusaha berontak lalu menciumi bibir jeonghan dengan kasar sembari tangannya menyentuh tubuh Jeonghan, bahkan Mingyu menyobek paksa baju yang dikenakan Jeonghan saat itu alhasil membuat Jeonghan menangis sejadi-jadinya. Namun bukannya menhentikan kegiatannya, Mingyu malah menarik resleting celana jeans yang dikenakan Jeonghan dan melepaskan celana Jeonghan dengan kasar begitupun dengan celana dalam yang dikenakan Jeonghan dan itu cukup membuat Jeonghan benar-benar ketakutan karena saat itu dirinya benar-benar dalam keadaan telanjang. Mingyu juga melakukannya dengan kasar sehingga membuat Jeonghan berteriak kesakitan, walau Jeonghan sudah memohon dengan memelas agar Mingyu menghentikan kegiatannya, tapi namja itu sama sekali tidak peduli karena dia baru menghentikannya setelah merasa pusa menikmati tubuh namja catik berambut panjang itu.

Dan sejak saat itu Mingyu sering melakukan itu dengan paksa kepada Jeonghan dan Jeonghan sama sekali tidak bisa melawan karena Mingyu sama sekali tidak membiarkan Jeonghan untuk menolak atau melawannya. Jeonghan juga tidak pernah memberitahukan kesiapapun termasuk Seungcheol karena Mingyu mengancam akan melukai Seungcheol dan siapapun yang ada didekat Jeonghan kalau ia berani memberitahukannya kepada orang lain. Jeonghan hanya bisa menyimpan semuanya sendiri, karena dia tidak ingin Seungcheol maupun sahabatnya yang lain terluka, ia sama sekali tidak ingin itu terjadi, jadi biar saja dirinya yang menderita, tapi sedikitpun ia tidak pernah memperlihatkan kesedihannya didepan Seungcheol, Wonwoo, Jun, maupun Vernon. Dia hanya akan memperlihatkan senyum dan tawanya saja pada mereka.

Dan kini ia pasti tidak akan bisa lepas lagi dari Mingyu seperti sebelum-sebelumnya. Ia juga tidak berani menolak atau melawan karena teman-temannya yang menjadi taruhannya.

"Hentikan, aku mohon jangan disini aku tidak ingin ada yang melihat kita seperti ini, ayo kita lakukan diapartemenmu saja." Jeonghan tiba-tiba saja menyela karena tidak ingin ada yang datang dan melihat mereka dalam posisi seperti itu.

"Jadi apa kau yang memintanya kali ini?" Mingyu segera menghentikan aktifitasnya dan memandang wajah Jeonghan dengan seksama.

"Iya aku yang memintanya, kau puas! Aku sedang banyak masalah hari ini, ayo kita lakukan dan melupakan masalahku."

Mingyu tampak tersenyum mendengar jawaban Jeonghan lalu mereka segera masuk kedalam mobil Jeonghan, karena pikiran Jeonghan sedang tidak fokus maka ia menyuruh Mingyu yang menyetir mobil. Disepanjang perjalanan Jeonghan hanya memandang keluar jendela mobil memperhatikan para pejalan kaki yang sedang berjalan ditrotoar. Pikirannya sangat kacau dan dia benar-benar tidak sadar apa yang baru saja dia lakukan. Ya, ia baru saja menyerahkan dirinya pada si brengsek Mingyu.

Mereka baru saja sampai didepan apartement mewah milik Mingyu, namun tiba-tiba saja ada orang yang menarik lengan Mingyu dari belakang dan memukul wajah namja tinggi itu hingga membuat tubuhnya terpental. Jeonghan yang tampak shock tidak sadar tangannya titarik orang yang baru saja memukul Mingyu, entah kenapa orang itu menarik Jeonghan pergi dari tempat itu, Jeonghan berusaha melepaskan cengkraman tangan orang itu namun cengkraman dipergelangan tangannya semakin erat dan membuat pergelangan tangannya sedikit perih.

"Hei lepaskan aku, apa yang kau lakukan." Teriak Jeonghan pada orang itu namun tidak ada balasan ataupun reaksi dari orang itu. Setelah berjalan cukup jauh dari apartement Mingyu orang itu menghentikan langkahnya dan melepaskan cengkramannya pada pergelangan tangan Jeonghan.

"Kau bodoh atau apa ha, seharusnya kau melawannya bukannya menuruti apa yang ia inginkan." Orang itu tiba-tiba berteriak kepada Jeonghan. Namun Jeonghan sama sekali tidak mempedulikan teriakan orang itu karena matanya terlalu takjub dengan pemandangan didepannya saat itu, dia tidak menyangka bahwa dia baru saja bertemu dengan pangeran berkuda putih dengan wajah rupawan seperti dicerita-cerita dongeng. Namun Jeonghan segera tersadar dari lamunannya lalu menyadari namja berwajah rupawan yang baru saja menariknya itu tahu apa yang akan dia lakukan dengan Mingyu atau bahkan mungkin tahu apa yang dilakukannya dengan Mingyu selama ini. Tapi siapa orang ini, Jeonghan sama sekali tidak mengenal atau pernah bertemu dengan orang ini sebelumnya.

"Sebenarnya kamu siapa?, aku merasa tidak pernah mengenal atau bertemu denganmu sebelumnya dan darimana kamu tahu aku dan Mingyu akan….." Jeonghan tidak melanjutkan kalimatnya yang terasa tidak pantas jika diucapkan dan dia juga malu mengucapkan kata-kata itu.

"Aku Hong Jisoo, kamu bisa memanggilku Jisoo, mungkin kamu tidak mengenalku tapi aku tahu semua hal tentang dirimu, Yoon Jeonghan." Kata namja itu sambil memandang takjub wajah cantik Jeonghan. Ini pertama kalinya Jisoo bertatapan langsung sedekat ini dengan namja cantik ini, ia berani bertaruh seluruh wanita seantero negeri ini pasti sangat iri melihat wajah Jeonghan yang terlampau cantik melebihi mereka yang jelas-jelas berkodrat sebagai wanita.

"Bagaimana bisa kau mengenalku tapi aku sama sekali tidak mengenalmu, kaum juga tahu namaku bahkan tadi kamu bilang tahu semua hal tentang diriku, apa kamu stalker yang terus menerus menguntitku?" Tanya Jeonghan penasaran, tapi bukannya marah karena dituduh sebagai stalker, namja itu malah tersenyum dan menurut Jeonghan senyumnya sangat indah dan ia yakin semua orang yang melihat senyuman itu akan merasa damai seperti halnya dirinya saat ini.

"Aku tidak peduli kamu menganggapku stalker atau apapun itu Yoon Jeonghan, tapi berjanjilah padaku bahwa kamu tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi dengan psikopat bernama Mingyu itu."

"Aku tidak tahu kenapa kamu sepeduli ini padaku, tapi kalau kamu memang tahu semua hal tentangku, kamu pasti tahu aku tidak akan pernah bisa menolak atau melawannya."

"Kenapa?, apa kamu melakukan ini semua untuk melindungi orang-orang yang bahkan tidak peduli padamu." Jisoo tahu betul kenapa Jeonghan tidak melawan Mingyu selama ini, itu karena teman-teman Jeonghan, teman-teman yang bahkan tidak peduli dengan Jeonghan sama sekali.

"Kamu bilang tahu semua hal tentangku, tapi menurutku kamu sama sekali tidak tahu apapun tentang diriku, mereka bukan orang seperti itu, selama ini mereka peduli dan perhatian padaku, jadi jangan pernah menjelek-jelekkan mereka lagi." Jeonghan segera akan pergi meninggalkan tempat itu, ia sangat marah pada siapapun yang menghina teman-temannya, ia juga harus kembali ke apartemen Mingyu karena mobilnya masih ada disana. Tapi sepertinya Jisoo tidak membiarkan Jeonghan pergi begitu saja karena kini lengannya telah dicengkeram oleh Jisoo.

"Kenapa kamu selalu menyangkal semua itu Yoon Jeonghan, aku tahu kamu memang sadar mereka tidak pernah peduli padamu, tapi kamu terus menerus menyangkal itu semua, aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu, mereka bahkan tidak pantas menjadi temanmu."

"Dengar Hong Jisoo, aku tidak tahu siapa sebenarnya dirimu, tapi lebih baik kamu tidak mencampuri urusanku, dan berhentilah mencari tahu apapun tentang diriku, karena itu sangat menggangguku."

"Tidak! kamu yang harus menghentikan tindakan bodohmu itu, apa kamu sama sekali tidak peduli dengan orang-orang yang peduli dan tulus padamu hanya demi orang-orang yang bahkan tidak peduli padamu, kamu benar-benar egois Yoon Jeonghan, kamu bukan hanya melukai dirimu sendiri tapi juga orang-orang yang tulus padamu." Jisoo tampak tidak mau menyerah meyakinkan Jeonghan, ia menatap dalam mata namja cantik dihadapannya, ia bisa melihat ada keraguan dan kebimbangan dimata Jeonghan. Tiba-tiba saja Jeonghan menundukkan kepalanya, dan secara perlahan airmatanya menetes menuruni pipinya yang mulus, walaupun poni Jeonghan menutupi mukanya tapi Jisoo bisa mengetahui namja cantik didepannya ini sedang menangis, itu bisa dilihatnya dari bahu Jeonghan yang bergetar. Segera saja Jisoo merengkuh pundak Jeonghan dan memeluk namja cantik itu, Jeonghan juga sama sekali tidak menolak pelukan Jisoo karena dia merasa nyaman berada dipelukan namja tampan yang baru saja dikenalnya itu.

"Menangislah Yoon Jeonghan, mungkin kamu tidak bisa menangis didepan teman-temanmu, tapi kamu bisa menangis didepanku dengan sepuas-puasnya." Jisoo tampak menenangkan Jeonghan yang masih terisak dipelukannya dengan menepuk pelan punggung Jeonghan. Jeonghan yang sedikit demi sedikit bisa mengeluarkan kesedihannya lewat air matanya mencoba mengatur nafasnya, ini pertama kalinya ia memperlihatkan kesedihannya didepan orang lain dan ini juga pertama kalinya ada orang yang menghibur dan menenangkannya saat dirinya sedang sedih. Setelah merasa Jeonghan sedikit tenang karena isakannya sudah berhenti, Jisoo melepaskan pelukannya ditubuh Jeonghan dan memperhatikan wajah Jeonghan, matanya sedikit sembab dan masih ada sisa air mata dipipi mulusnya, Jisoo mengusap pelan pipi Jeonghan dan menghapus air mata yang ada dipipi Jeonghan hingga tak tersisa.

Setelah melihat Jeonghan benar-benar sudah tenang, Jisoo mengajak namja cantik itu makan direstaurant seafood yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri, walau awalnya Jeonghan menolak tapi Jisoo terus memaksa karena ia yakin Jeonghan belum makan apapun sejak tadi pagi. Jeonghan terlalu khawatir pada keadaan Jihoon hingga melupakan kesehatannya sendiri. Setelah mereka selesai makan, Jisoo mengantarkan Jeonghan pulang kerumahnya karena mobil Jeonghan masih berada diapartemen Mingyu.

"Istirahatlah, aku sudah menyuruh seseorang utuk mengambil mobilmu dan mengantarkannya kerumahmu." Kata Jisoo saat berada didepan rumah mewah milik orang tua Jeonghan. Ia baru saja mengantarkan Jeonghan kembali kerumahnya karena ia tidak ingin Jeonghan bertemu lagi dengan Mingyu jika namja itu mengambil mobilnya sendiri diapartemen milik Mingyu.

"Terimakasih untuk semuanya Hong Jisoo." ucap Jeonghan tulus dan hanya bibalas senyuman oleh Jisoo.

.

.

.

.

.

.

.

Seungcheol POV

Aku baru saja sampai dirumah dan menghempaskan tubuhku diatas ranjang empuk dikamarku yang sangat luas ini, aku benar-benar lelah karena dari kemarin aku sama sekali belum istirahat, dan tadi aku baru saja mengantarkan Jihoon pulang kerumahnya. Walaupun dokter menyuruhnya untuk tetap dirawat dirumah sakit, tapi dia memaksa untuk tetap pulang. Kebetulan orang tuanya sedang berada diluar negeri dan tidak tahu apa yang baru saja dialami oleh Jihoon, karena memang Jihoon melarang kami memberitahukan kecelakaan yang dialaminya kepada orangtuanya. Dia tidak ingin membuat orangtuanya khawatir dan malah mengganggu pekerjaan mereka. Aku baru akan memejamkan mataku sebelum aku ingat sesuatu, dari kemarin sore aku belum melihat Jeonghan sama sekali bahkan dia tidak datang kerumah sakit untuk menjenguk Jihoon. Sebenarnya dia ada dimana, apa dia sakit hati dengan ucapan kami kemarin? Tapi dia bukan tipe orang yang seperti itu, dia bukanlah tipe orang yang akan sakit hati mendengar ucapan kasar yang dilontarkan padanya karena dia hanya akan menganggapnya sebagai angin berlalu dan melupakannya.

"Lebih baik aku telfon dia." Kataku sambil mengambil handphone yang aku letakkan diatas meja samping tempat tidurku.

Berkali-kali aku mencoba menghubunginya tapi dia sama sekali tidak mengangkat telfonku, aku juga sudah mengiriminya beberapa sms, menanyakan keadaannya dan tentu saja meminta maaf karena kemarin aku memarahinya, tapi tidak ada balasan darinya sama sekali. Aku benar-benar tidak dengan sadar memarahinya kemarin, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku karena mungkin aku sedang panik. Tapi aku yakin Jeonghan bukanlah orang yang mudah sakit hati. Aku mencoba berpikir positif mungkin saja dia sudah tidur jadi tidak mendengar telfonku.

.

.

.

.

.

.

Seperti hari-hari biasanya, pagi-pagi sekali aku sudah duduk dikursiku sambil membuka-buka materi untuk pelajaran hari ini, sebenarnya aku ingin langsung ke ruang latihan dance untuk berlatih beberapa koreografi untuk pengambilan nilai minggu depan. Tapi aku baru ingat hari ini ada ulangan matematika dan semalam aku sama sekali belum belajar karena terlalu lelah dan malah langsung tidur. Baru ada beberapa murid saja yang sudah berada dikelas, mereka juga melakukan hal yang sama denganku, belajar untuk ulangan matematika tentunya. Satu persatu teman sekelasku mulai berdatangan memasuki kelas, begitupun Wonwoo, Jun dan Vernon.

Setelah menyapaku, Wonwoo dan Vernon segera duduk dikursi mereka yang berada tepat dibelakang mejaku dan Jeonghan, sementara Jun yang tempat duduknya berada dipaling belakang tidak langsung duduk dikursinya dan malah duduk disampingku yaitu dikursi Jeonghan yang masih kosong karena anak itu pasti akan datang satu jam atau setengah jam setelah bel masuk berbunyi. Kami berempat mengobrol dan bercanda seperti biasa sambil menunggu bel masuk berbunyi. Kelas yang tadinya sangat berisik oleh aktifitas dari masing-masing siswa tiba-tiba saja berubah menjadi hening karena pemandangan yang tidak biasa. Seluruh siswa memfokuskan pandangan mereka pada seseorang yang baru saja memasuki pintu kelas, bagaimana mereka tidak takjub melihat seorang Yoon Jeonghan memasuki kelas sebelum bel masuk berbunyi dan ini adalah yang pertama kalinya sejak mereka satu kelas dengan namja cantik itu. Namun sepertinya seseorang yang menjadi objek pemandangan seluruh isi kelas itu sama sekali tidak peduli dengan pandangan takjub dari teman-teman sekelasnya. Ia berjalan santai menghampiri salah satu meja yang diduduki oleh namja tinggi dan berkaca mata yang duduk dibarisan paling depan. Jeonghan mencondongkan sedikit badannya dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah namja itu.

"Pindahlah kebelakang, aku ingin duduk disini." Bisiknya pada namja didepannya. Namun sepertinya namja itu sama sekali tidak merespon dan malah terbengong sehingga membuat Jeonghan harus mengencangkan suaranya dan membuat seisi kelas kaget.

"Hei kau tuli ya, aku bilang pindahlah kebelakang karena aku ingin duduk disini." Sontak namja itu berdiri dan mengambil tasnya untuk segera pindah namun aku segera berdiri dan berjalan kearah mereka lalu memegang pundak namja itu dan memaksanya duduk kembali dikursinya.

"Jeonghan-ah apa yang kau lakukan, kau membuatnya takut." kataku pada Jeonghan namun namja cantik itu sama sekali tidak mempedulikanku, bahkan dia memalingkan wajahnya dan menatap tajam namja yang baru saja Jeonghan paksa pindah.

"Hei kenapa kau duduk lagi, cepat pindah, atau aku akan memukulmu." Teriak Jeonghan lagi pada namja itu.

"Jangan pindah, kalau kau berani kau akan berhadapan denganku, aku pastikan Jeonghan tidak akan benar-benar memukulmu, jadi tetaplah duduk dikursimu."Namja itu kembali akan berdiri dari duduknya namun kembali duduk dikursinya setelah mendengarkan ucapanku. Wonwoo, Jun dan Vernon yang tadinya hanya bengong dengan apa yang baru saja terjadi kini telah menghampiri kami.

"Jeonghan-ah ada apa denganmu, kenapa kau aneh sekali hari ini, ayo duduklah dikursimu." Wonwoo mencoba memegang lengan Jeonghan yang masih menatap tajam namja berkacamata yang tampak gugup itu namun Jeonghan menepis tangan Wonwoo dan membuat wonwoo terkejut begitupun denganku, Vernon dan Jun.

"Aku benar-benar akan memukulmu." Teriak Jeonghan lalu berjalan pergi keluar kelas.

"Jeonghan-ah kau mau kemana, kita ada ulangan Matematika hari ini." Teriak Jun pada Jeonghan namun namja cantik itu sama sekali tidak peduli dan tetap keluar kelas. Aku, Wonwoo, Jun dan Vernon baru saja akan mengejar Jeonghan namun bel masuk keburu berbunyi dan kami tidak mungkin meninggalkan kelas karena hari ini ada ulangan Matematika.

Aku sama sekali tidak fokus dengan ulanganku, aku khawatir dengan perubahan sikap Jeonghan hari ini. Sejak meninggalkan kelas tadi pagi, dia belum kembali lagi kekelas sampai bel istirahat berbunyi.

Apa dia marah dengan ucapan kami waktu itu? Bukankah kami sudah sering memarahinya, tapi dia tidak pernah marah atau sakit hati dengan ucapan kami sebelumnya. Apa sebenarnya yang terjadi dengannya. Akhir-akhir ini aku memang selalu berusaha tidak peduli dengan kelakuannya, namun itu bukan karena aku sengaja mengacuhkannya, hanya saja aku bingung dengan perasaanku, entah ada perasaan yang aku sendiri tidak bisa memahami setiap kali aku berada didekatnya. Tapi aku berusaha untuk tidak ingin tahu perasaan itu dengan mengalihkan semua perhatianku pada hal-hal lain. Dan aku sama sekali tidak tahu dan tidak mau tahu apakah keputusanku ini benar atau salah.

Seungcheol POV End

.

.

.

.

.

Jeonghan POV

Aku duduk diayunan taman bermain yang berada ditengah pusat kota Seoul, karena ini masih jam kerja jadi hanya ada beberapa orang saja yang berada ditempat itu. Kepalaku menengadah keatas memperhatikan langit yang hari ini terlihat sangat cerah namun berbanding terbalik dengan hatiku yang justru sedang mendung. Aku memutuskan membolos hari ini, mungkin Seungcheol-ah dan yang lainnya merasa bingung dengan sikapku hari ini. Tapi aku harus menjauhi mereka, aku hanya takut akan mencelakai mereka jika aku tetap berada didekat mereka, aku sadar aku hanya bisa membuat masalah saja untuk mereka. Kemarin aku hampir membuat Jihoon celaka dan besok bisa saja Seungcheol, Wonwoo, Jun atau Vernon. Aku mengeluarkan handphone dari saku celanaku, ada sekitar 40 lebih panggilan tak terjawab dan 50 lebih sms yang semuanya dari Seungcheol, Wonwoo, Jun dan Vernon. Tapi saat aku akan menutup telfonku ada pesan masuk dari nomer yang tidak kukenal, karena aku sangat penasaran jadi aku putuskan membacanya.

Hei kamu ada dimana? kenapa kamu membolos lagi, guru Matematika marah-marah dikelas gara-gara kamu tidak ikut ulangannya,

Hong Jisoo

Aku sedikit kaget membaca pesan diponselku, darimana dia tahu nomor ponselku, seingatku aku tidak pernah memberikan nomorku padanya, dan yang paling membuatku bingung bagaimana dia tahu aku membolos dan bahkan dia juga tahu guru matematika marah-marah karena aku tidak ikut ulangan, tidak mungkinkan dia terus menguntitku kecuali dia satu sekolah denganku, tapi itu tidak mungkin karena aku bahkan belum pernah sekalipun bertemu dengan Jisoo disekolah, dan ini sungguh membuatku bingung. Siapa sebenarnya Hong Jisoo itu, aku benar-benar penasaran dengannya,

To be Continue…..

.

.

.

.

.

Terimakasih reader karena sudah meluangkan waktu untuk membaca fanfiction ini dan terimakasih juga yang sudah memberikan reviewnya dan membuatku lebih semangat melanjutkan ff ini, nanti juga akan banyak kejutan yang tidak terduga tentunya jadi ditunggu aja. Dichapter selanjutnya juga bakal muncul Soonyoung, apakah nantianya Soonyoung bakal sama Jihoon atau Justru berada dipihak berbeda. Aku masih mengharapkan Review dari kalian dan tentu Fav/Follownya.

terima kasih semuanya

see you...