True or False

( undecided)

Seventeen Seunghan / Jeongcheol Fanfiction

Cast

Jeonghan

Seungcheol

Jihoon

Joshua

Mingyu

Wonwoo

Vernon

Jun

" Karena Yang terlihat baik belum tentu baik, dan yang terlihat buruk belum tentu buruk. Itulah kata yang tepat untuk kehidupan ini.

Jangan mudah percaya dengan kebaikan dan jangan selalu berpikir buruk terhadap sesuatu yang terlihat buruk dimata kita, karena belum tentu itu benar-benar buruk. Dan bisa jadi hal yang buruk itu justru kebaikan yang tersamarkan."

.

.

.

.

Bel istirahat baru saja berbunyi, seluruh siswa dari kelas yang berbeda-beda telah berhamburan keluar untuk menikmati waktu istirahat mereka. Ada yang pergi kekantin, ada yang ke perpustakaan, dan ada pula yang hanya mengobrol disepanjang lorong kelas.

Jeonghan melirik sekilas teman sebangkunya, kenapa dia merasa tidak asing dengan namja berkacamata ini. Rambutnya berwarna kecoklatan dengan poni yang menutupi hampir seluruh jidadnya.

Sebelumnya ia berhasil memaksa namja yang tadinya duduk disamping namja berkacamata ini untuk pindah karena dia tidak ingin satu bangku lagi dengan Seungcheol. Saat Jeonghan memperhatikan wajah namja disampingnya, terlihat namja berkacamata itu hanya tersenyum kepada Jeonghan. Tapi kenapa Jeonghan merasa pernah melihat senyuman itu, tapi dimana, Jeonghan mencoba mengingat-ngingat kira-kira dimana ia pernah melihat senyuman itu dan siapa orang yang memiliki senyum seperti itu. Karena tidak juga menemukan jawaban, akhirnya Jeonghan segera beranjak dari kursinya, namun Seungcheol, Wonwoo, Jun dan Vernon sudah berdiri dihadapannya saat dia sudah bersiap untuk keluar kelas.

"Hei Jeonghan-ah ada apa denganmu, kenapa dari kemarin mendiamkan kami seperti ini, kalau ada masalah ayo bicarakan baik-baik." Kata Vernon yang telah berdiri tepat didepan Jeonghan.

Jeonghan terlihat tidak peduli dengan ucapan Vernon dan akan berjalan pergi dari sana, namun Seungcheol telah menahan tangannya.

"Kau ini kenapa, bicaralah, jangan membuat kami bingung, kalau kamu marah dengan ucapan kami waktu itu, kami minta maaf." Kata Seungcheol pelan agar tidak menimbulkan keributan dikelas. Tapi Jeonghan malah melepaskan tangan seungcheol lalu kembali berjalan pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.

"Jeonghan-ah aku mohon jangan seperti ini, ini sama sekali bukan Jeonghan yang kami kenal, kami benar-benar khawatir padamu." Kata Jun yang masih berdiri ditempatnya namun matanya melihat kearah Jeonghan yang sudah keluar kelas.

"Jeonghan-ah! Wonwoo telah berlari mengejar Jeonghan dan mencoba memanggil namja cantik itu. Sementara Seungcheol, Vernon dan Jun masih berdiri ditempatnya dengan pikiran masing-masing.

Jeonghan sama sekali tidak menengok kebelakang walaupun Wonwoo memanggilnya berkali-kali. Wonwoo yang sudah berjalan sejajar dengan Jeonghan segera menghentikan langkah namja cantik itu dengan meletakkan tangannya dipundak Jeonghan.

"Jeonghan-ah aku tidak melarangmu untuk marah pada kami, tapi setidaknya bicaralah sesuatu, dari kemarin kamu tidak berbicara apapun pada kami." Wonwoo tampak menatap dalam namja cantik didepannya, namun Jeonghan malah membuang muka dan menghindari tatapan Wonwoo. Tidak menyerah Wonwoo terus membujuk Jeonghan untuk berbicara. Namun tampaknya Jeonghan tetap diam dan bahkan tidak mau sedikitpun menatap kearah Wonwoo.

"Kamu tetap tidak mau bicara Yoon Jeonghan, terserah kamu saja, kalau ini yang kamu inginkan tidak usah bicara lagi pada kami selamanya." Seungcheol yang tiba-tiba saja sudah berdiri dibelakang Jeonghan berbicara dengan nada tinggi dan membuat Jeonghan dengan reflek menengok kebelakang. Jun dan Vernon juga sudah berada dibelakangnya, namun sepertinya tidak hanya Jeonghan yang terkejut dengan ucapan Seungcheol barusan, karena Wonwoo,Jun dan Vernon juga sama terkejutnya dengan Jeonghan dan membuat suasana menjadi hening.

"Seungcheol-ah apa yang kamu katakan, Jangan memperkeruh suasana." Jun mencoba memecahkan keheningan sambil menatap kearah Seungcheol.

"Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapanku? Bukankah memang ini yang dia inginkan?." Seungcheol tampak yakin dengan ucapannya dan menatap satu persatu sahabatnya. Wonwoo sudah melepaskan tangannya dari bahu Jeonghan dan menatap Seungcheol dengan tatapan tidak setuju. Jeonghan yang sedari tadi diam dan masih kaget dengan ucapan Seungcheol terlihat menundukkan kepalanya. Bahunya sedikit bergetar. Dengan tiba-tiba Jeonghan mengangkat kepalanya dan membuat Seungcheol, Wonwoo, Jun dan Vernon bisa melihat mata Jeonghan yang memerah dan ada sedikit air mata dipipinya. Dan ini pertama kalinya mereka melihat Jeonghan menangis.

"Aku benci padamu Choi Seungcheol, aku benci kalian, sungguh aku benci kalian semua." Teriak Jeonghan lalu berlari pergi meninggalkan mereka semua.

"Seungcheol-ah seharusnya kau tidak berbicara seperti itu padanya." Kata Vernon yang terlihat tidak paham kenapa Seungcheol berbicara seperti itu pada Jeonghan.

"Sebaiknya kamu kejar Jeonghan-ah dan minta maaf padanya, jangan membuat masalah semakin rumit Seungcheol-ah." Wonwoo mencoba membujuk Seungcheol karena tidak ingin persahabatan mereka yang selama ini baik-baik saja menjadi hancur karena masalah kecil.

"Biarkan saja, bukankah dia yang memulai semua ini, aku sama sekali tidak menyesal dengan ucapanku barusan." Seungcheol tampak santai dan berjalan pergi meninggalkan sahabat-sahabatnya dan membuat Wonwoo, Jun dan Vernon hanya bisa menghela nafas mendengar ucapan Seungcheol.

.

.

.

.

.

.

.

Jeonghan berlari dengan sekencang-kencangnya sambil terus menangis. Ia berlari tanpa tahu tujuan karena pikirannya yang sedang kacau. Setelah merasakan kakinya sudah tidak kuat untuk melanjutkan berlari, akhirnya Jeonghan jatuh terduduk ditaman yang berada disamping sekolah. Tempat ini memang sangat sepi jadi dia bisa menangis sekencang-kencangnya tanpa harus khawatir akan ada yang mendengarnya. Ia menunduk sambil menutupi mukanya dengan kedua tangannya.

Jeonghan masih terus terisak sampai ia merasakan ada tangan yang menyentuh pundaknya dan sontak membuat ia mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk. Jeonghan bisa melihat namja berkacamata yang kini menjadi teman sebangkunya telah berjongkok didepannya dan tampak tersenyum kepada Jeonghan.

"Kau baik-baik saja?" tanya namja berkacamata itu khawatir. Suara itu sungguh tidak asing bagi Jeonghan. Ia mengamati wajah namja berkacamata itu mulai dari bibir, hidung, pipi hingga mata. Dan dengan ragu jeonghan menggerakkan tangannya setelah mengamati wajah namja itu beberapa detik. Ia mengarahkan tangan kirinya kekacamata yang dikenakan namja itu lalu mengambilnya secara perlahan dan memperlihatkan wajah namja itu secara lebih jelas, kini tangan kanan Jeonghan menyibakkan poni yang hampir menutupi mata namja itu.

"Jisoo…" ucap Jeonghan pelan dan matanya masih mengamati wajah namja itu.

Namja itu hanya tersenyum dan mengarahkan tangannya kewajah Jeonghan dan menghapus buliran airmata dipipi Jeonghan.

"Ini yang kedua kalinya kamu menghapus air mataku, jadi selama ini kamu satu kelas denganku? tapi kenapa aku tidak menyadarinya?." Jeonghan yang sudah mulai baikan mencoba berdiri dari duduknya dan diikuti oleh namja tampan yang menjadi teman sebangku Jeonghan yang tak lain adalah Jisoo itu.

"Kamu tidak menyadari keberadaanku karena kamu terlalu sibuk dengan duniamu sendiri Yoon Jeonghan." Jisoo mengambil kacamatanya yang masih dipegang Jeonghan lalu memakainya.

"Dan kenapa kamu berpenampilan seperti ini, padahal kamu terlihat sangat mempesona saat aku melihatmu waktu itu." Kata Jeonghan sambil membenarkan rambut panjangnya yang sedikit berantakan.

"Benarkah aku semempesona itu? Hanya saja aku tidak ingin terlihat mencolok, dan dengan aku berpenampilan seperti ini maka tidak akan ada yang memperhatikanku." Jisoo tampak tersenyum saat mengucapkan kata-kata itu.

"Kenapa? Bukankah orang lain ingin selalu diperhatikan dan menjadi pusat perhatian?" Jeonghan tampak bingung.

" Karena Yang terlihat baik belum tentu baik, dan yang terlihat buruk belum tentu buruk. Itulah kata yang tepat untuk kehidupan ini Yoon Jeonghan.

Jangan mudah percaya dengan kebaikan dan jangan selalu berpikir buruk terhadap sesuatu yang terlihat buruk dimata kita, karena belum tentu itu benar-benar buruk. Dan bisa jadi hal yang buruk itu justru kebaikan yang tersamarkan."

"Aku masih tidak mengerti." Kata Jeonghan yang tidak paham dengan maksud perkataan Jisoo.

"Suatu saat kamu akan mengerti, tunggulah saat waktu itu tiba." Jisoo tampak tersenyum dan mengusap pelan rambut Jeonghan lalu berjalan meninggalkan namja berambut panjang itu yang masih terlihat kebingungan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Wonwoo POV

Aku tengah duduk santai dibalkon kamarku yang berada dilantai 2 sambil menikmati pemandangan sekitar, setelah memasangkan earphone ditelingaku segera kupejamkan mataku menikmati alunan lagu ballad yang kini mengalun dengan indahnya ditelingaku. Aku segera membuka mataku saat tiba-tiba saja lagu ini mengingatkanku pada seseorang yang sangat aku sayangi. Ini adalah lagu yang sering aku dengarkan dengan Jeonghan karena kami sama-sama suka lagu ini.

Aku beranjak dari dudukku dan berjalan masuk menuju kamar. Setelah sampai disamping tempat tidur, aku sedikit berjongkok lalu memasukkan tanganku kebawah kolong tempat tidur dan mengambil sebuah box hitam dari sana. Setelah mengangkatnya keatas ranjang, aku membuka perlahan box itu dan mengambil topi hitam bertuliskan Friends pada bagian atas topi itu.

Topi ini adalah barang yang menjadi kenanganku dengan Jeonghan. Topi ini menjadi saksi bisu saat pertama kali aku menyadari perasaanku pada namja cantik itu. Perasaan yang seharusnya tidak pernah aku miliki kepada sahabatku sendiri, perasaan yang harus aku buang jauh-jauh namun nyatanya tetap tidak mau hilang, perasaan yang bisa menghancurkan persahabatan kami jika terus aku pertahankan, perasaan yang selama ini aku sembunyikan dan hanya diriku saja yang tahu, tidak bukan aku saja yang tahu karena Jihoon mengetahui kalau aku menyukai Jeonghan dan dia berjanji tidak akan mengatakannya pada Jeonghan ataupun yang lainnya. Entah kenapa sejak Jihoon berteman dengan kami, aku selalu mencurahkan isi hatiku kepadanya dan bukan menceritakan kepada teman-temanku yang sudah bersama denganku sejak kecil. Bukan karena aku tidak percaya atau tidak dekat dengan mereka tapi karena mereka tidak boleh tahu apa yang aku rasakan. Aku percaya Jihoon bisa menjaga semua rahasiaku, dia juga dengan senang hati mau mendengarkan semua curhatanku, bahkan dia selalu bisa memberi solusi disetiap permasalahan yang aku alami.

Aku melihat topi hitam itu dan tersenyum. Waktu itu tepatnya sesaat setelah acara wisuda kelulusan kami dari SMP. Kami akan mengadakan pesta untuk merayakan kelulusan kami. Namun Seungcheol, Jun dan Vernon yang kebetulan ada acara tidak jadi ikut, jadi hanya aku dan Jeonghan saja yang merayakannya. Kami makan direstaurant favorit kami dan memesan beberapa makanan dengan porsi besar. Sambil menikmati makanan yang sudah dipesan, kami hanya mengobrol dan bercanda seperti biasanya. Jeonghan yang memang selalu banyak bicara terus menerus mengoceh dan membuat beberapa lelucon dan membuatku tertawa lepas. Entah kenapa saat itu mataku tidak bisa lepas dari wajah cantiknya, aku suka melihat tawanya, senyumnya, dan suara lembutnya. Dan mulai hari itu aku selalu merasa gugup setiap kali hanya berdua saja dengannya, jantungku selalu berdetak dengan sangat cepat setiap saat berada didekatnya. Suatu hari aku mengajak Jeonghan melihat pesta kembang api dipusat kota, aku berbohong padanya kalau aku juga mengajak Seungcheol, Jun dan Vernon tapi mereka tidak bisa ikut karena ada urusan. Padahal aku memang tidak pernah mengajak mereka karena aku hanya ingin pergi berdua saja dengan Jeonghan. Disana Jeonghan terlihat sangat senang dan terus menerus tersenyum. Tanpa Jeonghan sadari aku terus menerus memandanginya, mengagumi wajah cantiknya yang semakin terlihat sempurna dengan senyuman indah yang terukir disana. Pulangnya kami membeli gulali kesukaannya.

Saat sedang asyik memakan gulali kami, tiba-tiba saja ia berteriak dan menunjuk sepasang topi couple yang dijual ditoko yang berada dipinggir jalan tempat kami berada saat itu.

"Topinya cantik sekali, pasti keren kalau kita berlima bisa memakai itu bersama-sama." Katanya sambil memandangi topi itu dengan kagum.

"Itukan topi couple,lagipula hanya ada sepasang saja." Kataku lalu ikut memperhatikan topi hitam bertuliskan Friend dibagian atasnya itu.

"Benar juga, Kalau begitu ayo kita beli itu untuk kita berdua saja." Katanya lalu menarikku untuk berjalan masuk kedalam toko itu. Tadinya aku yang akan membayar topi itu, tapi sepertinya Jeonghan bersikeras untuk membayar dengan uangnya sendiri.

"Jangan bilang-bilang Seungcheol-ah, Jun dan Vernon kalau aku mebelikan ini untukmu, nanti mereka akan marah padaku karena tidak membelikan ini untuk mereka juga, jadi kita pakai ini saat tidak ada mereka saja." Katanya sambil tersenyum lalu memakai topi itu dikepalanya.

"Kau saja yang pakai, aku tidak mau pakai, nanti orang-orang akan salah paham dan menganggap kita adalah couple." Kataku pura-pura keberatan padahal dalam hatiku, aku sangat senang dengan topi pemberiannya dan ingin segera memakainya.

"Kenapa harus takut mereka akan salah paham?, bukankah ditopi ini ada tulisan Friends, mereka akan tahu kalau kita adalah sahabat." Katanya sambil mengambil topi yang masih aku pegang lalu memasangkan dikepalaku.

"Wah kau benar-benar tampan Jeon Wonwoo." Jeonghan tampak memandangi wajahku dan membuatku harus membuang muka karena tidak ingin Jeonghan melihat wajahku yang pastinya sudah memerah seperti kepiting rebus.

"Ayo, cepat kita pergi dari sini, nanti kita bisa kemalaman sampai dirumah." Kataku sambil mendahuluinya berjalan meninggalkan tempat itu.

Sejak saat itu aku menyadari kalau aku benar-benar telah jatuh cinta padanya, tapi saat dia bilang kita adalah sahabat, aku sadar tidak seharusnya aku memiliki perasaan itu padanya, aku tidak ingin persahabatan kami hancur jika aku mengungkapkan perasaanku padanya. Untuk menutupi perasaanku, aku mencoba untuk membatasi interaksiku dengannya, aku juga selalu menghindar jika kami berada disituasi dimana kami hanya berdua saja , aku juga pura-pura perhatian pada Jihoon untuk mengalihkan perhatian teman-temanku agar aku tidak ketahuan memiliki perasaan pada Jeonghan. Jihoon juga tidak keberatan saat aku pura-pura perhatian padanya dan dengan senang hati mau membantuku.

Aku memperhatikan lagi topi yang menjadi kenanganku dengan Jeonghan lalu meletakkannya kembali kedalan box, setelah itu aku mengeluarkan foto-foto yang jumlahnya hampir ratusan. seluruhnya tercetak gambar namja cantik berambut panjang yang sangat aku sayangi itu. Aku mengoleksi foto-foto ini tanpa sepengetahuan Jeonghan karena aku mengambil fotonya secara diam-diam.

Biar benda-benda ini yang menjadi saksi atas perasaan yang selama ini aku sembunyikan. Tapi akhir-akhir ini aku merasa sangat khawatir dengan keadaan Jeonghan. Bahkan aku sudah sangat jarang bertemu atau hanya sekedar melihat wajah namja cantik itu, sejak kejadian dimana Seungcheol mengeluarkan kata-kata yang membuat namja cantik itu menangis didepan kami semua untuk pertama kalinya. Entah kenapa Seungcheol berbicara seperti itu pada Jeonghan, aku sendiri juga tidak paham, ingin sekali aku memarahi Seungcheol atas ucapannya lalu memeluk Jeonghan dengan sepenuh hatiku namun itu hanya bisa menjadi anganku saja karena aku tidak ingin ketahuan kalau aku menyukai Jeonghan. Aku harus bisa mengontrol diri agar tidak ada orang yang tahu. Aku akan terus bertahan seperti ini walaupun aku sendiri tidak tahu apakah keputusan ini benar atau salah.

Wonwoo POV End

.

.

.

.

.

.

.

.

Jeonghan baru saja akan masuk kemobilnya untuk berangkat kesekolah saat Soonyoung tiba-tiba saja sudah berdiri disampingnya. Sepupunya itu tadinya tinggal di Amerika bersama orangtuanya. Namun belum lama ini Soonyoung meminta orangtuanya untuk dipindahkan sekolahnya di Seoul karena ia merasa tidak punya banyak sahabat di Amerika. Dan karena keluarga Soonyoung tidak ada yang tinggal di Seoul jadi Soonyoung dititipkan ke orangtua Jeonghan. Kemarin sore Soonyoung baru saja tiba di Seoul dan ini hari pertama Soonyoung sekolah ditempat baru yang tak lain adalah sekolah Jeonghan.

"Jeonghan-ah aku berangkat denganmu saja ya, bukankah kita satu sekolah." Katanya sambil tersenyum sangat imut.

"Yasudah cepat naik." Kata Jeonghan sambil masuk kedalam mobil lalu menutup pintu dan diikuti Soonyoung.

"Kamu tidak menyiapkan jebakan didalam mobilmu kan? Tadi malam kamu meletakkan katak didalam selimutku, padahal aku baru saja sampai di Seoul, kamu benar-benar tidak berubah Jeonghan-ah." Soonyoung tampak was-was sambil memeriksa sekelilingnya.

"Tenang saja kali ini kamu aman, aku belum ada waktu untuk menyiapkan jebakan dimobilku." Kata Jeonghan sambil tertawa dan dibalas dengan tatapan sebal dari Soonyoung.

Hubungan Jeonghan dan Soonyoung bisa dibilang sangat akrab, karena dari kecil mereka selalu bersama dan bahkan selalu satu sekolah. Namun mereka harus berpisah saat Soonyoung dan keluarganya pindah ke Amerika tepatnya saat mereka kelas 2 SMP. Soonyoung juga mengetahui banyak hal tentang Jeonghan, mulai dari hobi, makanan kesukaan, warna kesukaan, film favorit dan tentunya orang yang disukai Jeonghan. Ia juga sangat akrab dengan teman-teman Jeonghan yaitu Seungcheol, Wonwoo, Jun dan Vernon. Dulu mereka sering nongkrong atau sekedar makan bersama-sama. Namun tadi malam Jeonghan cerita padanya kalau hubungan Jeonghan dengan teman-temannya sedang tidak baik, namun Jeonghan tidak mau memberitahukan apa yang menyebabkan hubungan mereka menjadi retak. Soonyoung merasa penasaran dan sangat ingin tahu karena ia melihat sikap Jeonghan yang biasanya hiperaktif dan selalu ceria kini terlihat lebih pendiam dan sering murung.

Sesampainya disekolah, Jeonghan dan Soonyoung tampak berjalan beriringan memasuki sekolah terbesar dan terelite di Seoul itu. Karena mereka tidak berada dikelas yang sama maka mereka berpisah dijalan untuk menuju kekelas masing-masing.

Jeonghan yang hampir sampai dikelasnya harus menghentikan langkahnya karena Jihoon memanggilnya. Jeonghan menoleh dan melihat Jihoon berjalan terburu-buru kearahnya. Sesampainya didepan Jeonghan, namja imut itu tampak mengatur nafasnya yang sedikit ngos-ngosan.

"Jeonghan-ah aku ingin bicara denganmu." Kata Jihoon setelah nafasnya kembali normal.

"Maaf Jihoon-ah hari ini aku ada piket kelas jadi lain kali saja." Kata Jeonghan membuat alasan karena tidak ingin berbicara apapun dengan namja imut ini.

"Sebentar saja Jeonghan-ah, aku mohon."

Karena Jeonghan merasa kasihan melihat wajah Jihoon yang tampak memelas, ia mengikuti Jihoon untuk berbicara diperpustakaan.

"Jeonghan-ah berbaikanlah dengan mereka, jangan seperti ini. Aku jadi merasa tidak enak karena akulah penyebab hubungan kalian seperti ini." Jihoon menatapku dengan tatapan memohon.

"Maaf Jihoon-ah, kalau kamu ingin berbicara denganku hanya untuk membicarakan hal ini lebih baik aku pergi." Kata Jeonghan sambil berdiri dan berjalan meninggalkan Jihoon.

"Jeonghan-ah, kamu harus tahu mereka sangat sedih karena tidak bisa berada didekatmu, mereka juga sedih karena tidak bisa berbicara atau bercanda denganmu, aku yakin kamu juga merasakan hal yang sama, terserah kamu mau percaya atau tidak tapi aku sudah berusaha memberitahukan apa yang aku tahu." Jeonghan masih mendengar ucapan Jihoon yang tidak terlalu keras namun masih terdengar sangat jelas ditelinganya. Entah karena masih marah pada teman-temannya atau karena ia masih kukuh untuk menjauhi teman-temannya namun ia berusaha tidak peduli dengan apa yang Jihoon katakana padanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Seungcheol POV

Aku baru saja akan pergi keperpustakaan saat aku bertemu dengan Jeonghan. Ia terlihat terkejut saat melihatku namun ia tetap cuek padaku dan terus melanjutkan jalannya tanpa melihat kearahku. Sungguh aku ingin mengejarnya, memeluknya lalu meminta maaf karena telah melukai hatinya. Namun karena harga diri dan gengsiku yang tinggi, aku sama sekali tidak melakukan apa yang ada diotakku itu. Bahkan teman-temanku juga terus menerus membujukku agar minta maaf pada Jeonghan. Namun aku selalu berkata bahwa apa yang aku lakukan sudah benar dan aku tidak perlu minta maaf pada Jeonghan karena aku tidak salah.

Aku juga tidak paham kenapa aku seperti ini, Orang-orang selalu bilang aku adalah orang yang mengagumkan, berwibawa dan bijak. Tapi bukankah aku sama sekali bukan orang yang bijak. Aku hanyalah orang egois yang selalu mementingkan diri sendiri dan tidak mau peduli dengan perasaan orang lain.

"Seungcheol-ah minta maaflah sebelum semuanya terlambat." Kata Jihoon yang sudah berdiri dihadapanku dan membuat aku tersadar dari lamunanku.

"Aku kan sudah bilang Jihoon-ah, apa yang aku katakan padanya sudah benar dan aku sama sekali tidak menyesal dengan apa yang aku ucapkan jadi aku tidak perlu minta maaf. "

Seungcheol POV End

.

.

.

.

Soonyoung baru saja akan mencari Jeonghan kekantin. Namun bukannya bertemu dengan Jeonghan, ia malah melihat Seungcheol, Wonwoo, Jun dan Vernon sedang berada dikantin bersama seorang namja bertubuh mungil dan berwajah imut. Mereka terlihat sedang tertawa dan entah apa yang sedang mereka tertawakan karena Soonyoung tidak bisa mendengar percakapan mereka. Ia bisa melihat bahwa Seungcheol, Jun, Wonwoo dan Vernon sangat perhatian pada namja mungil itu.

"Jadi ini yang membuat hubungan Jeonghan-ah dengan teman-temannya menjadi retak, aku benar-benar tidak suka dengan orang itu." Kata Soonyoung pelan lalu memberikan tatapan tidak suka pada Jihoon saat namja mungil itu menghadap kearahnya.

Soonyoung segera berbalik dan pergi dari tempat itu untuk melanjutkan mencari Jeonghan.

Soonyoung sudah mencari Jeonghan kesemua tempat dari kelas,kantin, perpustakaan, taman dll namun ia tidak juga menemukan sepupunya itu.

"Kenapa aku tidak menelfon atau mengiriminya sms saja, dasar bodoh kau Soonyoung kenapa tidak kepikiran dari tadi." Kata Soonyoung lalu mengeluarkan handphone dari saku celananya lalu mengirimkan sms singkat ke nomor Jeonghan.

Jeonghan-ah kau dimana, aku mencarimu kesemua tempat tapi aku tidak melihatmu dimanapun, aku masih baru disekolah ini, seharusnya kamu menemaniku berkeliling

Jeonghan : " Aku sedang bertemu seseorang, jangan bertanya siapa karena aku tidak akan memberitahumu dan jangan bertanya dimana karena aku juga tidak akan memberitahumu, berkelilinglah sendiri aku sedang sangat sibuk"

Sebenarnya Soonyoung penasaran Jeonghan sedang bertemu dengan siapa dan dimana tapi bukankah namja cantik itu bilang tidak akan memberitahunya.

"Baiklah kalau kamu tidak mau memberitahuku, aku bisa cari tahu sendiri." Katanya pelan lalu memasukkan kembali handphonenya kesaku celana dan akan beranjak pergi dari tempatnya berdiri.

"Tunggu! Namamu Soonyoung kan, kamu pasti sepupu Jeonghan-ah." Namja imut yang tadi Soonyoung lihat berada dikantin bersama teman-teman Jeonghan tiba-tiba saja sudah berada didekatnya dan menyapanya dengan senyuman yang menurut Soonyoung sangat menyebalkan.

"Namaku Jihoon, aku sahabat Jeonghan-ah." Kata Jihoon berusaha memperkenalkan diri lalu menyodorkan tangannya kearah Soonyoung. Namun Soonyoung mengabaikan sodoran tangan Jihoon dan hanya memandanginya dengan tatapan tidak suka lalu beranjak pergi meninggalkan Jihoon.

"Apa dia sedang pura-pura baik padaku, benar-benar licik." Kata Soonyoung pelan, namun Jihoon masih bisa mendengar dengan jelas ucapan Namja yang jauh lebih tinggi darinya itu. Soonyoung telah menhilang dari pandangan Jihoon. Tapi kenapa Soonyoung berbicara seperti itu padanya dan Jihoon merasa namja itu tidak menyukainya, karena sejak dikantin, namja itu melihat kearahnya dengan tatapan tidak suka. Apa namja bernama Soonyoung itu sudah salah paham padanya. Kenapa semuanya jadi rumit seperti ini, bukankah awalnya dia hanya mencoba membantu tapi kenapa malah semuanya berubah menjadi kesalahpahaman. Ia harus meluruskan semua ini.

.

.

.

.

.

.

"Kenapa kamu memintaku kemari?" Tanya Jeonghan pada Jisoo yang masih sibuk dengan teropong mini ditangannya.

Tadi pagi saat pelajaran sedang berlangsung, Jisoo menyodorkan secarik kertas kepada Jeonghan dan diatas kertas itu tertulis pesan singkat agar Jeonghan menemui Jisoo dibelakang sekolah saat istirahat.

" Aku ingin memperlihatkan sesuatu, ayo ikut aku." Tiba-tiba saja Jisoo menarik tangan Jeonghan kesalah satu pohon tertinggi dan terbesar yang ada dibelakang sekolah mereka. Terdapat kayu-kayu yang seperti sengaja ditempelkan pada pohon itu dengan paku sehingga membentuk seperti sebuah tangga. Sepertinya itu digunakan untuk pijakan memanjat pohon itu. Namun pijakan itu hanya sampai pada dahan paling bawah pohon tersebut.

"Kamu bisa memanjat pohon?" Tanya Jisoo pada Jeonghan dan hanya dibalas gelengan kepala oleh namja cantik itu. Jisoo terlihat menaiki pijakan dipohon itu dengan cekatan dan kini ia sudah berada didahal pohon paling bawah.

"Naiklah, pegangan pada pijakan, dan aku akan mengulurkan tanganku." Perintah Jisoo pada Jeonghan.

"Tapi aku takut, bagaimana kalau aku jatuh?." Jeonghan masih berdiri ditempatnya dan menatap ngeri pohon didepannya.

"Jangan takut Jeonghan-ah karena aku tidak akan membiarkanmu terjatuh, percayalah padaku." Jisoo tampak meyakinkan Jeonghan. Dan dengan takut-takut Jeonghan mulai memijakkan kakinya secara perlahan dipijakan kayu yang terlihat sangat kuat menempel pada batang pohon besar itu. Kedua tangan Jeonghan memegang erat pijakan diatasnya hingga ia berhasil menaiki 4 pijakan dengan lancar. Kini Jisoo sedikit berjongkok lalu mengulurkan tangan kanannya pada Jeonghan sementara tangan kirinya berpegangan pada dahan pohon diatasnya. Jeonghan langsung menerima uluran tangan Jisoo dengan tangan kanannya karena tangan kirinya digunakan untuk berpegangan pada pijakan paling atas agar ia tidak terjatuh. Dengan mengerahkan seluruh tenaganya Jisoo menarik tangan Jeonghan dan berhasil mengangkat seluruh tubuh Jeonghan kedahan tempat ia berpijak. Jeonghan terlihat ngos-ngosan entah karena lelah atau karena takut. Bahu Jeonghan bersandar pada batang pohon dan berhadapan dengan Jisoo yang berdiri tepat didepan Jeonghan sambil memegangi lengan namja cantik itu dengan tangan kanannya agar tidak jatuh sementara tangan kirinya masih berpegangan pada dahan pohon diatasnya.

"Sebenarnya untuk apa kita memanjat pohon ini?" Tanya Jeonghan penasaran.

"Nanti kamu akan tahu kalau kita sudah sampai atas." Jisoo meraih dahan diatasnya dengan dua tangan dan tanpa kesulitan telah menaikkan tubuhnya kedahan tersebut. Lalu Jisoo mengulurkan tangannya pada Jeonghan untuk membantu namja cantik itu naik dan begitupun seterusnya hingga mereka sampai didahan pohon paling atas.

Jeonghan tampak takjub dengan pemandangan yang ia lihat dari atas pohon itu. Ia bisa dengan jelas melihat keramaian kota Seoul mulai dari perumahan, perkantoran, pertokoan hingga jalan-jalan yang dipenuhi kendaraan dan pejalan kaki yang lalu lalang untuk melakukan aktifitas mereka.

Jisoo terlihat meneropong dengan teropong mini yang tadi dibawanya. Sementara Jeonghan masih memandang takjub pemandangan yang ia lihat dari sana dan melupakan sedikit ketakutannya karena dia berada ditempat yang cukup tinggi.

" Kamu bisa mengawasi orang-orang dari sini." Kata Jisoo tiba-tiba dan menyerahkan teropong mini miliknya kepada Jeonghan. Namun saat Jeonghan akan mengambil teropong itu dari tangan Jisoo, Justru tali yang yang ada diteropong itu menarik gelang perak yang dikenakan Jisoo dan membuat gelang itu terjatuh kebawah. Jeonghan melihat ekspresi Jisoo yang tadinya ceria berubah menjadi muram, seperti ada ekspresi kehilangan atau khawatir diwajah namja tampan itu.

"Maaf Jisoo-ya aku sudah menjatuhkan gelangmu, sepertinya gelang itu sangat berarti untukmu." Jeonghan merasa sangat bersalah setelah melihat perubahan ekspresi wajah Jisoo.

"Tidak apa-apa Jeonghan-ah, Jangan terlalu khawatir, aku akan mencarinya saat kita turun nanti." Kini Jisoo mencoba tersenyum agar Jeonghan tidak terlalu mengkhawatirkan gelangnya.

"Aku berjanji akan ikut mencari gelangmu sampai ketemu." Kata Jeonghan dan hanya dibalas senyuman oleh Jisoo. Mereka lalu melanjutkan menikmati pemandangan dari atas pohon dengan teropong milik Jisoo. Setelah merasa puas, mereka segera turun kebawah tentunya Jisoo harus membantu Jeonghan Karena namja cantik itu terlihat takut saat menuruni pohon.

Sesampainya dibawah, mereka segera mencari gelang Jisoo yang tidak sengaja Jeonghan jatuhkan saat mereka diatas pohon. Namun mereka sedikit kesulitan, karena tempat itu dipenuhi rumput-rumput yang lumayan tinggi. Diitambah daun-daun kering yang memenuhi hampir disemua tempat mereka berpijak. Mereka sudah menyibakkan reruputan dan dedaunan yang memenuhi tempat itu dengan ranting pohon, namun sampai bel masuk berbunyi mereka belum juga menemukan gelang itu. Tadinya Jeonghan masih tetap ingin mencari sampai ketemu, namum Jisoo mengajaknya untuk kembali kekelas sebelum guru datang.

"Jisoo-ya sepertinya kamu sangat kehilangan gelang itu, apakah gelang itu dari seseorang yang berharga atau semacam kenangan dengan seseorang yang berarti dihidupmu?." Jeonghan sangat penasaran dan memberanikan diri bertanya pada Jisoo saat mereka sudah ada dikelas untuk memulai pelajaran.

"Sebenarnya gelang itu pemberian dari temanku." Jawab Jisoo sambil masih fokus membuka buku pelajaran yang ada diatas mejanya.

"Maafkan aku Jisoo-ya, gara-gara aku kamu kehilangan barang pemberian temanmu. Bisakah kamu mempertemukanku pada temanmu itu? aku akan menjelaskan padanya kalau aku yang sudah menghilangkan gelang itu agar dia tidak menyalahkanmu."

"Dia sudah meninggal Jeonghan-ah." Jisoo terlihat sedih saat mengucapkan kalimat itu.

"Maafkan aku Jisoo-ya aku tidak bermasud membuatmu sedih, aku tidak tahu."

"Tidak masalah, dan kamu juga tidak perlu mencari gelang itu lagi, mungkin dengan hilangnya gelang itu secara tidak langsung menyuruhku agar melupakannya." Jisoo mencoba tersenyum walaupun sangat jelas senyumnya sangat dipaksakan.

"Tidak bisa begitu Jisoo-ya, Itu adalah gelang pemberian dari temanmu yang harus kamu jaga baik-baik, dan karena aku yang menghilangkannya maka aku berjanji akan menemukannya untukmu."

.

.

.

.

Jeonghan POV

Aku benar-benar merasa bersalah pada Jisoo karena telah menghilangkan gelang pemberian temannya yang sudah meninggal. Aku sudah berjanji padanya dan diriku sendiri kalau aku akan menemukan gelang itu. Setiap pagi sebelum bel masuk berbunyi, saat istirahan dan sepulang sekolah aku selalu datang ke belakang sekolah untuk mencari gelang itu. Jisoo selalu menyuruhku berhenti mencari gelang itu, tapi aku tetap tidak mau menyerah. Hampir satu minggu aku mencari gelang itu tapi tidak ketemu juga, bahkan aku rela datang pagi-pagi sekali hanya untuk mencari gelang itu. Hingga hari dimana aku sudah hampir menyerah aku melihat benda berwarna perak berada tepat dibawah pohon besar yang pernah aku panjat bersama Jisoo. Dan setelah aku dekati, ternyata itu adalah gelang milik Jisoo. Aku benar-benar bahagia saat itu, walaupun aku merasa aneh kenapa gelang itu tiba-tiba saja ada disana padahal sudah seminggu aku mencari ditempat yang sama tapi aku tidak melihat gelang itu. Namun aku tidak terlalu memusingkan semua itu karena aku ingin segera memberikan gelang itu pada Jisoo. Ia pasti merasa senang karena gelang yang sangat berarti untuknya sudah ketemu.

Aku berlari dengan bersemangat menuju kelasku, aku tidak peduli orang-orang melihatku dengan tatapan aneh karena aku benar-benar sedang bahagia saat itu.

"Jisoo-ya aku menemukannya." Teriakku saat sampai dipintu kelas dan berjalan mendekati mejaku dan Jisoo. Terlihat Jisoo yang tadinya serius dengan bukunya segera menengok kearahku. Teman-teman sekelasku terlihat menatap kami dengan heran dan penasaran, tapi aku sama sekali tidak peduli dengan mereka dan malah duduk dikursiku sambil tersenyum bangga. Aku menyodorkan gelang ditanganku kedepan Jisoo, ia terlihat tersenyum lalu mengambil gelang dari tangnku.

"Kamu benar-benar keras kepala Jeonghan-ah, kan sudah kubilang tidak perlu mencarinya, tapi kamu tidak mau mendengarkanku." Jisoo mengusap pelan rambut panjangku lalu matanya beralih menatap gelang ditangannya.

"Tapi kamu senang kan aku menemukannya?" kataku sambil menengok kearah Jisoo dan namja itu hanya tersenyum padaku

Jeonghan POV End

.

.

.

.

Seungcheol POV

Aku memasuki kelasku dengan malas karena masih ngantuk. Semalaman aku harus lembur untuk menyelesaikan laporan OSIS yang seharusnya menjadi kewajiban sekertaris namun malah dilimpahkan kepadaku. Aku melihat Wonwoo, Jun dan Vernon sudah duduk dikursi mereka dan tengah asyik dengan kegiatan meraka masing-masing. Wonwoo sibuk dengan bukunya, Vernon sedang bermain game dihandphonenya sementara Jun entah sedang mengerjakan apa karena ia sibuk menulis dibuku catatannya. Aku segera bergabung dengan mereka lalu mengeluarkan buku pelajaranku keatas meja. Kini aku satu bangku dengan Jun sejak Jeonghan pindah tempat duduk. Saat aku sedang fokus mempelajari materi yang ada dibuku catatanku, tiba-tiba saja aku mendengar suara teriakan yang sudah tidak asing lagi ditelingaku.

"Jisoo-ya aku menemukannya." Teriak Jeonghan dari pintu kelas lalu menghampiri namja berkacamata yang sekarang menjadi teman sebangku namja cantik itu.

Entah apa yang namja cantik itu temukan dan membuatnya terlihat senang. Aku melihat namja berkacamata itu tersenyum dan mengusap rambut panjang Jeonghan. Dan tiba-tiba saja hatiku sangat sakit melihat apa yang mereka lakukan. Tapi aku terus berusaha cuek namun tawa mereka benar-benar menggangguku, tawa Jeonghan yang terdengar tulus, tawa yang seharusnya ditujukan untukku dan bukan untuk namja berkaca mata itu. Karena tidak tahan lagi dengan apa yang aku lihat dan aku dengar, aku berdiri dengan kasar dari kursiku dan berjalan keluar kelas dengan perasaan kesal.

"Seungcheol-ah kamu mau kemana? Sebentar lagi bel masuk berbunyi." Jun yang duduk disebelahku bertanya padaku saat melihatku berdiri dari tempat dudukku dan akan berjalan pergi keluar kelas. Namun aku sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan Jun dan langsung keluar kelas dengan perasaan kesal. Aku juga tidak paham kenapa aku merasa marah dengan namja berkacamata itu. Bahkan aku merasa Jeonghan selalu ceria saat bersama namja berkacamata yang ia tahu bernama Jisoo itu. Jeonghan juga jadi lebih rajin berangkat kesekolah sejak mengenal Jisoo. Namja cantik itu kini lebih serius mengikuti pelajaran dan tidak pernah telat atau bolos pelajarn seperti sebelum-sebelumnya. Sebenarnya apa yang sudah Jisoo lakukan sehingga membuat Jeonghan bisa berubah sebanyak itu. Aku benar-benar merasa iri pada Jisoo, aku yang sudah mengenal Jeonghan sejak kecil sama sekali tidak bisa meluluhkan hati namja cantik itu. Sementara, Jisoo yang baru dikenal Jeonghan langsung bisa meluluhkan hati namja cantik itu. Ini benar-benar membuatku marah pada Jisoo. Tapi bukankah aku yang sudah melepaskan Jeonghan, bukankah aku sendiri yang membuatnya pergi, apa aku sekarang merasa menyesal? Tidak, aku yakin aku tidak menyesal, aku sudah melakukan hal yang benar. Jeonghan-ah aku tidak akan pernah membiarkanmu menguasai hatiku, tidak akan pernah sama sekali.

Seungcheol POV End

.

.

.

.

.

.

.

Vernon POV

Aku, Seungcheol, Wonwoo dan Jun sedang berada dicafe tempat kami biasa nongkrong. Seungcheol-ah sepertinya sedang berada di mood yang tidak baik. Sedari tadi ia terus menerus uring-uringan entah apa penyebabnya. Sementara Wonwoo terus sibuk dengan buku novel yang ia baca. Jun juga tak kalah serius dengan handphonenya, entah dia sedang membuka media social atau hanya sekedar bermain game. Aku benar-benar bosan, mereka benar-benar tidak asyik, kaku dan terlalu serius. Dan tiba-tiba saja aku teringat Jeonghan-ah. Mungkin kalau dia ada disini suasana tidak akan secanggung ini, namja cantik itu pasti sudah mengocehkan segala hal dan membuat lelucon untuk kami sehingga membuat kami tertawa. Jeonghan-ah selalu bisa membuat suasana menjadi menyenangkan, aku benar-benar rindu padanya, apa yang sedang namja cantik itu lakukan saat, ini aku benar-benar ingin tahu, aku rindu suaranya, tawanya, senyumnya dan segala kekonyolannya. Walaupun dia selalu jahil padaku, aku tidak pernah marah padanya karena aku tahu dia melalukan itu hanya untuk seru-seruan saja. Aku memandangi satu persatu sahabatku, aku berpikir apakah mereka merasakan hal yang sama denganku atau tidak, apakah mereka merindukan Jeonghan-ah atau tidak. Sebenarnya aku ingin bertanya pada mereka tapi aku ragu, aku ingin pergi dari café itu karena memang tidak ada hal yang bisa aku lakukan disana.

"Aku pulang duluan, ada urusan yang harus aku kerjakan." Kataku berbohong pada teman-temanku yang tetap sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sebenarnya aku tidak ada urusan apapun hari ini tapi aku benar-benar sangat bosan berada disini.

" Baiklah, hati-hati dijalan." Kata Wonwoo tanpa mengalihkan matanya dari novel yang ia baca.

Seungcheol dan Jun juga hanya melirik kearahku sebentar lalu kembali fokus pada dunia mereka masing-masing. Aku berjalan keluar dar café itu sambil mengeratkan jaketku karena udara luar yang dingin. Sebentar lagi akan memasuki musim dingin jadi aku harus selalu memakai jaketku saat keluar rumah. Karena rumahku tidak terlalu jauh dari café tempat kami nongkrong, aku tidak membawa mobil dan hanya berjalan kaki. Tadinya aku ingin langsung pulang kerumah tapi aku memutuskan untuk jalan-jalan sebentar. Aku berjalan santai sambil menikmati jalanan yang sedikit sepi. Disamping kiri dan kananku aku bisa melihat beberapa pertokoan, café dan restaurant yang sangat ramai oleh pengunjung. Mungkin mereka lebih memilih berada didalam ruangan daripada berada diluar karena cuaca yang sangat dingin. Aku berbelok dari satu gang ke gang yang lain hingga aku sampai digang yang lumayan sepi dan melihat orang yang aku kenal sedang berdiri dengan seorang namja yang aku tidak tahu siapa. Aku sedikit mundur untuk bersembunyi disamping bangunan tua yang ada dipinggir gang itu. Jeonghan sedang berdiri berhadapan dengan seorang namja bertubuh sangat tinggi, wajahnya juga sangat tampan tapi siapa namja itu dan apa hubungannya dengan Jeonghan. Aku bisa melihat Jeoghan dan namja itu mengobrol dengan serius namun aku tidak bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Aku sangat terkejut dan reflek menutup mulutku dengan tangan kiriku saat melihat namja dihadapan Jeonghan mencium bibir Jeonghan dan memeluk namja cantik itu. Jeonghan juga tidak melakukan penolakan atau perlawanan terhadap apa yang dilakuakan namja tinggi itu. Aku masih bertahan ditempatku dan melihat dengan jelas adegan yang sedang terjadi tidak jauh dari tempatku bersembunyi.

"Apakah namja itu pacar Jeonghan?" pertanyaan itu terus menerus muncul dikepalaku. Aku mulai panik saat melihat namja tinggi itu mendorong pelan tubuh Jeonghan hingga menempel kedinding yang ada digang itu. Sambil terus menciumi Jeonghan namja tinggi itu melepaskan satu persatu kancing coat tebal yang dikenakan Jeonghan lalu menarik coat itu hingga terlepas dari badan Jeonghan.

Apa yang akan mereka lakukan, apa mereka akan melakukan itu disini, Aku ingin pergi dari tempat ini, tapi kalau aku keluar dari persembunyianku maka Jeonghan dan namja itu pasti akan melihatku.

Kalau aku terus disini sudah dipastikan aku akan melihat sesuatu yang tidak seharusnya aku lihat dan juga tidak ingin aku lihat tentunya. Aku masih bertahan diposisiku saat aku melihat namja tinggi itu menarik keatas kaos putih yang dikenakan Jeonghan dengan tangan kirinya sehingga mengekspose perut putih mulus milik Jeonghan. Sementara tangan kanan namja itu menelusup kepunggung Jeonghan dan bibirnya masih menciumi bibir merah Jeonghan. Aku sedikit terkejut saat melihat namja tinggi itu menelusupkan tangannya kedalam celana Jeans hitam yang dikenakan Jeonghan. Dan tanpa sadar aku melangkah mundur dan menyenggol sebuah papan kayu hingga terjatuh dan menimbulkan suara yang membuat Jeonghan dan namja itu menghentikan kegiatan mereka lalu menengok kearahku. Sontak muka Jeonghan terlihat panik dan takut saat melihatku ada disana, dia membenarkan rambut panjangnya yang berantakan lalu menarik namja tinggi dihadapannya pergi meninggalkanku. Aku juga tidak tahu harus bereaksi bagaimana, aku masih tertegun ditempatku berdiri hingga beberapa menit. Setelah bisa mengontrol diriku aku segera beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Pikiranku masih dipenuhi dengan kejadian tadi hingga membuat kepalaku menjadi pusing. Bahkan aku masih belum sadar apakah kejadian tadi nyata atau hanya halusinasiku saja. Mungkin saja orang yang aku lihat tadi bukanlah Jeonghan, tapi orang lain yang terlihat seperti Jeonghan karena sejak tadi aku selalu membayangkan wajah namja cantik itu karena aku sangat merindukannya. Aku yakin orang itu bukan Jeonghan, pasti aku salah lihat.

Vernon POV End

.

.

.

.

.

Pagi itu Soonyoung berangkat sendiri kesekolah karena Jeonghan sudah berangkat duluan sejak pagi-pagi sekali. Soonyoung menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang karena ia tidak terlalu teburu-buru untuk sampai disekolah, apalagi ini masih cukup pagi sehingga ia tidak tidak perlu takut telat sampai disekolah. Dijalan ia melihat seorang namja bertubuh mungil tengah memeriksa mesin mobil miliknya dipinggir jalan. Ia bisa dengan mudah mengenali namja mungil itu yang tak lain adalah Jihoon. Ia berusaha cuek dan terus mengemudikan mobilnya hingga ia sudah tidak melihat lagi namja mungil itu. Namun kenapa ia merasa sangat jahat kalau dia tidak menolong Jihoon. Soonyoung memang membenci namja itu, tapi dia bukanlah tipe orang yang senang melihat orang lain menderita walaupun itu orang yang ia benci. Dengan ragu Soonyoung berbalik arah dan melajukan mobilnya menuju namja mungil bernama Jihoon yang masih terus memeriksa mesin mobilnya. Setelah memarkirkan mobilnya ditepi jalan Soonyoung segera turun dari mobilnya dan menghampiri namja mungil itu.

"Mogok?" Tanya Soonyoung datar pada Jihoon yang masih belum menyadari kedatangan Soonyoung karena masih sibuk memeriksa mesin mobilnya. Jihoon terlihat kaget dan menengok kearah suara yang menanyainya lalu tersenyum saat melihat orang itu adalah Soonyoung.

"Sepertinya mesinnya bermasalah." Jawab Jihoon masih sambil tersenyum.

"Sebenarnya bisa saja aku membantumu memperbaiki ini. Tapi sepertinya waktunya tidak akan cukup karena 15 menit lagi bel masuk akan berbunyi, lebih baik mobilmu dibiarkan disini saja, nanti biar aku panggil derek untuk membawa mobilmu kebengkel, kamu bisa berangkat denganku, itupun kalau kamu mau.

"Apa tidak merepotkan?" Tanya Jihoon ragu pada namja bernama Soonyoung itu. Ia hanya heran kenapa tiba-tiba saja Soonyoung mau membantunya padahal ia tahu Soonyoung tidak menyukainya. Jihoon bisa melihat kebencian dari tatapan namja itu setiap kali melihatnya.

"Sebenarnya merepotkan. Tapi aku tidak mau dianggap jahat karena tidak mau membantu orang yang sedang kesusahan." Kata Soonyoung sambil memasukkan kedua tangannya disaku celana.

"Kalau kamu tidak mau dianggap jahat karena tidak membantu orang yang sedang kesusahan, pura-pura saja kamu tidak melihatku saat ini, aku bisa mengurusi ini sendiri." Kata Jihoon mencoba tetap tenang walaupun ia merasa kesal dengan sikap Soonyoung. Sebenarnya ia tidak terlalu paham mesin mobil tapi lebih baik ia mencoba memperbaikinya.

"Bagaimana bisa aku pura-pura tidak melihatmu padahal aku memang melihatmu, aku bukanlah orang sejahat itu, ayo berangkatlah denganku, udara diluar sangat dingin, apa kamu mau membeku disini. Kulihat kamu juga tidak memakai jaket."

"Lebih baik aku membeku disini daripada aku harus menerima bantuan orang yang jelas-jelas membenciku tapi pura-pura baik padaku." Jihoon kembali membungkuk untuk memeriksa kembali mesin mobilnya saat tiba-tiba ada benda hangat menempel dipunggungnya. Ia menengokkan wajahnya dan menyadari Soonyoung sudah memakaikan jaket yang tadinya dipakai namja itu ke tubuh Jihoon. Namja mungil itu baru akan melepas jaket itu untuk dikembalikan lagi ke Soonyoung, namun Soonyoung sudah menarik tangan Jihoon menuju mobil sport berwarna hitam miliknya lalu membuka pintu mobil itu dan mendorong tubung Sooyoung masuk. Jihoon juga baru sadar kalau Soonyoung telah mengambil tas dari dalam mobilnya saat namja itu meletakkan tas merah milik Jihoon keatas pangkuannya. Setelah Soonyoung telah duduk didepan kemudi, dengan segera Soonyoung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Terlihat Jihoon hanya diam sambil memperhatikan namja disampingnya yang tengah mengemudikan mobil. Ia segera memalingkan wajahnya kearah jendela mobil saat mengetahui Soonyoung menengok kearahnya. Soonyoung yang tadinya menengok kearah Jihoon segera kembali memfokuskan kembali pandangannya kedepan. Ia berusaha fokus mengemudi, namun matanya sedikit melirik kearah spion mobil dan ia bisa melihat Jihoon kini sedang memandang keluar jendela. Ia sangat terpesona dengan wajah manis Jihoon, kulitnya juga sangat putih untuk ukuran seorang namja. Rambutnya berwarna merah muda dan sangat imut dan cocok dengan wajahnya. Namun Soonyoung segera menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran pikran aneh dikepalanya. "Sadarlah Soonyoung, kau tidak boleh tertarik pada Jihoon, dia adalah penyebab hubungan Jeonghan-ah dan teman-temannya jadi hancur." Soonyoung berusaha mensugestikan otaknya.

Sesampainya disekolah Jihoon langsung turun dari mobil Soonyoung dan melepaskan jaket milik Soonyoung yang masih melekat ditubuhnya.

"Terimakasih atas tumpangan dan pertolonganmu, terimaksih juga sudah meminjamkan jaketmu." Jihoon menyerahkan Jaket yang ia pegang kearah Soonyoung tapi namja itu tidak menerima jaket itu dan malah memandang sinis kearah Jihoon.

"Bagaimana bisa kamu mengembalikan jaket yang sudah kamu pakai tanpa mencucinya terlebih dahulu." Kata Soonyoung lalu berjalan pergi meninggalkan Jihoon.

"Bukankah aku hanya memakainya sebentar, kalau tahu begini lebih baik aku tidak usah memakai jaket ini." Jihoon semakin kesal dengan kelakuan Soonyoung yang seenaknya.

"Tidak usah protes, lagipula aku yakin kamu masih membutuhkan jaket itu, bukankah kamu tidak membawa jaket, walaupun kamu berada didalam kelas, udara akan sangat dingin. Dan seharusnya kamu senang karena aku perhatian padamu." Soonyoung terlihat membalikkan tubuhnya sebentar saat mengucapkan itu lalu kembali berjalan pergi meninggalkan Jihoon yang masih berdiri ditempatnya. Terlihat wajah Jihoon memerah mendengarkan ucapan terakhir Soonyoung. Namun ia segera menutupi kedua pipinya dengan telapak tangannya dan berjalan untuk segera masuk kelas karena sebentar lagi bel masuk pasti akan berbunyi.

.

.

.

.

.

Seungcheol, Wonwoo, Vernon dan Jun sedang berjalan menuju kelas saat dilorong mereka bertemu dengan Jeonghan. Namja cantik itu terlihat terkejut dan menatap Vernon dengan ekspresi panik, canggung dan malu. Vernon juga terlihat sangat aneh saat bertatapan dengan Jeonghan. Namun Jeonghan segera menundukkan kepalanya dan berjalan cepat menghindari ke-4 temannya seperti biasanya.

"Kenapa ekspresinya seperti itu saat melihatmu?" Tanya Jun pada Vernon saat menyadari ada interaksi yang aneh antara Jeonghan dan Vernon.

"Apa? aku juga tidak tahu." Kata Vernon tergagap mendengar pertanyaan tiba-tiba Jun.

"Tidak ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari kami kan?" Tanya Wonwoo menyelidik saat mengetahui Vernon terlihat gugup.

"Tentu saja tidak, sepertinya handphoneku tertinggal dimobil, aku harus mengambilnya, kalian kekelas duluan saja." Kata Vernon langsung pergi meninggalkan teman-temannya karena tidak ingin mereka menanyakan hal-hal yang nantinya tidak bisa ia jawab."

"Tunggu, jika sikap Jeonghan seperti itu saat melihatku bukankah artinya kemarin yang aku lihat memang dia kan?" Tanya Vernon dalam hati yang ditujukan pada diri sendiri. Vernon merasa harus memastikan semua ini, ia harus bertanya langsung pada Jeonghan dan akan tahu yang sebenarnya dari namja cantik itu, ia tidak bisa terus diluputi rasa penasaran seperti ini. Ia juga tidak bisa pura-pura tidak tahu dan tidak melihat kejadian itu.

.

.

.

To be Continue

Yah akhirnya Soonyoung muncul juga dichapter ini, aku tidak menyangka kalau banyak yang menunggu kelanjtan ff ini, terimakasih semuanya, khususnya yang sudah ngasih review yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu, untuk chapter-chapter awal ini moment Seungcheol sama Jeonghan memang masih sedikit tapi dichapter selanjutnya moment mereka akan lebih banyak dan muncul konflik-konflik baru tentunya. Dan kemungkinan chapternya juga bakal banyak, jadi ditunggu saja...Oya aku juga bakal memunculkan karakter Seungkwan yang pastinya ada hubungannya dengan salah satu karakter yang sudah ada...

Terima kasih semuanya

See you...