True or False
( True Love )
Seventeen Seunghan / Jeongcheol Fanfiction
Cast
Jeonghan
Seungcheol
Jihoon
Joshua
Mingyu
Wonwoo
Vernon
Jun
.
.
.
.
Ketika rasa itu tidak bisa terus disembunyikan, ketika rasa itu justru semakin besar setiap kali kita menyangkalnya, dan ketika rasa itu semakin mendekat saat kita mencoba membuangnya jauh-jauh.
.
.
.
.
Mencoba untuk membuang semua yang dirasakan, segala cara telah dilakukan, mencoba terus menyangkal semuanya walaupun rasa sakit tidak bisa terhindarkan.
Namun jika takdir sudah memutuskan. Maka tidak akan ada yang bisa dilakukan kecuali hanya menerimanya.
Seungcheol baru saja keluar dari toilet setelah mengganti pakaiannya dengan seragam olahraga. Ia baru saja akan meninggalkan toilet ketika ia mendengarkan suara rintihan dari dalam salah satu ruangan toilet. Ia segera mendekati sumber suara, lalu mengetuk pelan pintu ruangan toilet yang tertutup.
"Apa ada orang didalam?" Tanya Seungcheol sambil mengetuk pelan pintu ruangan tersebut.
"Tolong aku, pintunya terkunci dari luar, dan aku tidak bisa keluar." Suara orang didalam toilet tidak asing ditelinga Seungcheol, ia bisa mengenali suara itu, ya suara itu adalah milik si namja cantik Yoon Jeonghan.
"Aku akan mendobrak pintunya menjauhlah dari pintu." Kata Seungcheol lalu bersiap untuk mendobrak pintu itu.
"Tunggu! Aku tidak bisa berdiri, tadi aku terpeleset dan kakiku sakit."
"Kalau begitu tunggulah sebentar, aku akan meminjam kunci kepenjaga sekolah, aku akan segera kembali dan menolongmu." Seungcheol segera berlari menuju ke ruang keamanan dan meminjam kunci untuk menolong Jeonghan. Setelah sampai kembali ditoilet ia langsung membuka pintu toilet dan melihat Jeonghan terduduk dilantai sambil tangannya memegangi kakinya yang sepertinya terkilir. Namja cantik itu sedikit terkejut saat melihat ternyata Seungcheol yang telah menolongnya.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Seungcheol sambil mendekati Jeonghan dan berjongkok didekat namja berambut panjang itu.
"Kakiku sakit, aku tidak bisa berdiri." Jeonghan terlihat menahan sakit sambil menundukkan kepalanya. Seungcheol segera mengangkat tubuh Jeonghan tanpa persetujuan namja cantik itu lalu membawanya menuju ke UKS, Jeonghan sangat terkejut saat tiba-tiba saja Seungcheol mengangkat tubuhnya, namun ia tetap diam dan hanya menurut.
.
.
.
Seungcheol merebahkan tubuh Jeonghan keatas ranjang yang ada didalam UKS dan segera mengambil obat oles dari dalam lemari lalu duduk dipinggir ranjang tempat Jeonghan berbaring. Seungcheol segera melepas sepatu dan kaos kaki yang dipakai Jeonghan lalu melipat keatas ujung celana training yang dikenakan Jeonghan dan memperlihatkan pergelangan kaki Jeonghan yang sedikit membengkak dan berwarna kebiruan.
Bertahanlah, mungkin ini akan sedikit sakit." Kata Seungcheol lalu mengoleskan obat oles yang ia pegang kepergelangan kaki Jeonghan yang membengkak dan memijatnya pelan. Namun Jeonghan sedikit berteriak dan membuat Seungcheol harus menghentikan pijatannya dipergelangan kaki Jeonghan.
"Apakah aku memijatnya terlalu keras?" Tanya Seungcheol khawatir karena melihat Jeonghan menangis sambil meringis kesakitan.
"Kakiku sakit sekali Seungcheol-ah, tidak bisakah dibiarkan seperti ini saja." Kata Jeonghan sambil tangannya mengusap air mata yang mengalir dipipinya.
"Lukamu harus diobati, kalau dibiarkan saja nanti bengkaknya akan semakin parah, bertahanlah sedikit lagi, aku berjanji akan memijatnya lebih pelan." Seungcheol mencoba meyakinkan Jeonghan, dan setelah melihat namja cantik itu mengangguk, Seungcheol segera melanjutkan untuk mengoleskan obat dikaki Jeonghan dengan memijit secara lebih pelan agar namja berambut panjang itu tidak kesakitan.
"Aku akan minta ijin ke Guru Kang agar kamu diperbolehkan tidak mengikuti pelajaran olahraga hari ini, beristirahatlah disini dan jangan terlalu banyak bergerak agar kakimu segera sembuh." Kata Seungcheol setelah selesai mengobati luka Jeonghan. Namja cantik itu hanya mengangguk dan Seungcheol langsung keluar dari UKS.
Jeonghan kini tinggal sendiri di UKS, ia sangat bosan dan tidak tahu harus melakukan apa. Kakinya masih terasa sakit walaupun tidak separah tadi. Agar tidak terlalu bosan, ia mengeluarkan handphone dari dalam saku celana training yang ia kenakan dan melihat ada 1 sms masuk.
Mingyu : Temui aku didepan sekolah sekarang.
Jeonghan segera mengetikkan beberapa kalimat untuk membalas pesan dari Mingyu.
Jeonghan : Aku tidak bisa menemuimu sekarang Mingyu-ah, kakiku sedang sakit.
Mingyu : Kau pikir aku peduli? Kalau kamu tidak juga kesini kupastikan Seungcheol akan berada dalam masalah.
Jeonghan : Baiklah, aku akan segera kesana, tapi berjanjilah untuk tidak melukai Seungcheol-ah
Mingyu : Selama kamu bisa kooperaktif aku akan menjamin keselamatannya.
Jeonghan segera beranjak menuruni ranjang tempatnya berbaring, namun ia merasakan pergelangan kakinya terasa nyeri saat telapak kakinya menyentuh lantai. Jeonghan tidak bisa menahan rasa sakit dikakinya dan membuat tubuhnya terjatuh kelantai. Namun ia harus bertahan karena ia harus segera menemui Mingyu. Ia tidak ingin Mingyu melakukan sesuatu yang buruk terhadap Seungcheol. Jeonghan segera meraih sepatunya yang ada dibawah ranjang lalu memakainya. Dengan menahan rasa sakit, ia mencoba berdiri dan berjalan perlahan menuju pintu UKS. Dengan terpincang-pincang Jeonghan berhasil sampai dipintu UKS. Namun sebelum ia membuka pintu UKS, tiba-tiba saja pintu UKS telah terbuka dan terlihat Seungcheol berdiri disana dengan membawa beberapa makanan ringan dan minuman.
"Kamu mau kemana?, sudah kubilang jangan terlalu banyak bergerak." kata Seungcheol sambil memperhatikan Jeonghan yang masih berdiri ditempatnya.
"Aku harus menemui seseorang." Jeonghan baru saja akan melangkahkan kakinya namun nyeri dikakinya muncul lagi dan membuatnya sedikit oleng. Dengan sigap Seungcheol memegangi lengan Jeonghan agar namja itu tidak jatuh.
"Kamu bisa menemuinya lain waktu, lebih baik kamu tetap istirahat, aku sudah membawakan makanan untukmu." Seungcheol mencoba membantu Jeonghan kembali keranjang UKS namun namja cantik itu malah melepaskan tangan Seungcheol dari lengannya.
"Aku tetap harus pergi menemuinya." Jeonghan segera berjalan untuk pergi namun Seungcheol kembali menghentikan langkahnya dengan memegang pergelangan tangan Jeonghan.
"Kenapa kamu keras kepala sekali Yoon Jeonghan, aku tidak tahu siapa orang yang ingin kamu temui sampai-sampai kamu rela menemuinya walaupun keadanmu seperti ini, tapi lebih baik kamu sembuhkan dulu kakimu dan menemuinya lain waktu."Seungcheol benar-benar khawatir dengan keadaan Jeonghan, dan namja cantik itu tetap bersikeras untuk pergi padahal kakinya sedang sakit.
"Aku harus tetap pergi Seungcheol-ah, kalau aku tidak pergi sekarang, aku akan kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupku."
"Kalau begitu biarkan aku menemanimu, kamu tidak bisa pergi sendiri dengan keadaanmu yang seperti ini." hati Seungcheol terasa sakit saat tahu orang yang ingin ditemui Jeonghan adalah orang yang sangat berarti dalam hidup namja cantik itu, Namun ia harus tetap menemani Jeonghan karena ia tidak ingin namja cantik itu kenapa-kenapa.
"Terimakasih Seungcheol-ah, tapi sebaiknya aku pergi sendiri." Jeonghan segera berjalan pergi meninggalkan Seungcheol yang masih terpaku ditempatnya. Seungcheol masih berdiri ditempatnya sambil memperhatikan punggung Jeonghan yang mulai menjauh. Namja cantik itu berjalan dengan terpincang-pincang dan tangannya berpegangan pada tembok. Seungcheol merasa hatinya benar-benar sakit saat mengetahui kenyataan bahwa Jeonghan ingin menemui seseorang yang sangat berarti untuk hidup namja cantik berambut panjang itu.
.
.
.
.
.
Jeonghan kini telah sampai didepan sekolah dan meminta satpam yang berjaga disana untuk membukakan gerbang agar ia bisa keluar. Walaupun ini masih jam pelajaran, tampaknya satpam tersebut tidak berani menolak permintaan Jeonghan. Orangtua Jeonghan yang sangat berpengaruh disekolah itu tentunya membuat para guru,karyawan maupun siswa lain disekolahan itu tidak berani mengusik namja cantik berambut panjang itu.
Dengan bergegas Jeonghan mencari keberadaan Mingyu dengan menengokkan kepalanya kekiri dan kekanan.
Jeonghan bisa melihat keberadaan Mingyu yang sedang bersandar pada mobilnya yang terparkir dipinggir jalan. Namja tinggi itu terlihat masih memakai seragam sekolah. Jeonghan segera menghampiri Mingyu walaupun kakinya semakin terasa sakit karena dipaksakan untuk berjalan. Saat sampai didekat Mingyu, namja tinggi itu langsung menarik tangan Jeonghan masuk kedalam mobilnya.
"Mingyu-ah apa yang kau lakukan? Aku masih ada pelajaran." Jeonghan terlihat panik karena Mingyu sudah menjalankan mobilnya.
"Diamlah, atau aku akan membunuhmu saat ini juga." Bentak Mingyu sambil memberikan tatapan tajam kearah Jeonghan.
Mingyu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dan membuat Jeonghan yang duduk disebelahnya gemetaran dan berpegangan erat pada knop pintu mobil.
"Mingyu-ah pelankan mobilnya, aku takut." Jeonghan memohon agar Mingyu memelankan mobilnya karena tidak ingin terjadi kecelakaan. Mendengar Jeonghan memohon, Mingyu bukannya memelankan mobilnya tapi malah menambah kecepatan dispidometer mobilnya dan membuat Jeonghan harus memejamkan matanya. Mingyu melirik kearah Jeonghan sekilas dan melihat namja cantik itu ketakutan, badannya gemetaran dan matanya terpejam. Mingyu kasian melihat keadaan Jeonghan, namun ia menghilangkan semua rasa kasihannya dan kembali fokus pada tujuan awalnya.
Mingyu terlihat menghentikan mobilnya didepan sebuah bangunan tua yang tidak terawat. Mingyu menyerahkan sebuah tas punggung hitan kearah Jeonghan saat namja cantik itu sudah membuka matanya.
"Masuklah kedalam bangunan itu dan letakkan ini di dalam sana. Jangan sampai ketahuan karena kamu tidak akan selamat kalau sampai mereka mengetahui keberadaanmu." Mingyu memperhatikan wajah Jeonghan yang terlihat bingung.
"Memang siapa yang ada didalam sana? Dan benda apa yang ada didalam tas ini?"Jeonghan masih tidak mengerti kenapa Mingyu menyuruhnya meletakkan tas itu kedalam bangunan tua yang ada didepan mereka.
"Tidak usah banyak bicara, kamu hanya perlu membawa ini kedalam dan meletakkannya disana tanpa ketahuan." Mingyu segera mendorong tubuh Jeonghan agar segera keluar mobil. Dengan ragu Jeonghan keluar dari mobil lalu berjalan memasuki bangunan tua itu. Dengan berhati-hati dan langkah yang masih terpincang-pincang, Jeonghan memasuki sebuah lorong yang sedikit gelap. Ia masih bingung harus meletakkan tas itu dimana karena Mingyu tidak memberitahunanya secara detail. Ia semakin masuk kedalam lorong bangunan itu dan samar-samar mendengarkan ada orang berbicara dari dalam sebuah ruangan. Ia menghentikan langkahnya dan mengintip kedalam salah satu ruangan. Jeonghan bisa melihat ada beberapa namja dengan wajah menyeramkan yang kira-kira 3 tahun lebih tua darinya. Jumlah mereka kira-kira ada 8 orang. Badan Jeonghan tiba-tiba gemetaran melihat orang-orang didalam ruangan itu ternyata sedang mengkonsumsi obat-obatan terlarang dan minuman keras. Karena panik ia menjatuhkan tas yang ia bawa dan membuat orang-orang didalam sana melihat kearahnya.
"Siapa itu? " Terdengar salah satu namja didalam ruangan itu berteriak dan berjalan kearahnya dan diikuti oleh yang lain.
Jeonghan mencoba menggerakkan kakinya untuk kabur namun nyeri dikakainya membuatnya oleng dan hampir terjatuh. Namun ia harus pergi dari tempat itu karena ia tidak akan tahu apa yang akan terjadi padanya kalau sampai ia tertangkap. Jeonghan mencoba berlari sambil menahan sakit dikakinya. Sepertinya orang-orang tersebut sudah mulai mendekat saat Jeonghan telah mencapai depan gedung itu. Namun Jeonghan tidak melihat mobil Mingyu disana. Apa Mingyu sudah pergi dan meninggalkannya disana. Jeonghan segera berlari menjauh dari tempat itu. Jeonghan sudah mulai menjauh dari bangunan tua itu dan sudah tidak melihat orang-orang tadi dibelakangnya. Sepertinya orang-orang tadi sudah tidak mengejarnya. Bengkak dikaki Jeonghan terlihat semakin besar dan membuatnya kesulitan untuk berjalan. Ia hanya berdiri melihat sekeliling dan mencari tahu keberadaannya saat ini. Kakinya sudah sangat sakit dan ia sama sekali tidak tahu sedang berada dimana. Tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu yang dingin menimpa wajahnya. Ternyata saat ini turun salju dan Jeonghan bisa merasakan udara semakin dingin dan membuatnya menggigil. Tidak ada tempat untuk meneduh disana dan ia juga tidak memakai jaket. Kalau Jeonghan tetap disini, mungkin ia akan mati membeku. Ia mengerahkan sisa tenaganya dan berjalan tertatih-tatih sambil menyeret kaki kanannya yang bengkak untuk mencari jalan raya disekitar sana. Dan setelah berjalan beberapa menit, akhirnya ia melihat jalan raya. Tubuhnya sudah mulai basah oleh lelehan salju yang turun sangat lebat. Ia akan mencari taksi untuk pulang, namun kepalanya terasa pusing dan kakinya sudah tidak bisa digerakkan lagi. Samar-samar ia melihat sebuah mobil berhenti didekatnya dan seseorang keluar dari dalam mobil itu lalu semuanya gelap.
.
.
.
.
.
Seungcheol mengemudikan mobilnya pelan karena salju turun sangat lebat. Ia melirik sekilas kearah Jeonghan yang tidur di sebelahnya. Tadi Seungcheol dalam perjalanan pulang menuju apartemennya saat melihat namja cantik ini berdiri dipinggir jalan. Ia menghentikan mobilnya didekat Jeonghan dan turun untuk mendekati namja cantik itu. Namun saat ia baru akan bertanya kenapa Jeonghan berada disana justru namja berambut panjang itu malah pingsan. Untung ia berhasil menangkap tubuh namja cantik itu sebelum terjatuh kejalanan. Ia segera mengarahkan mobilnya keapartemen tempatnya tinggal. Seungcheol lebih memilih tinggal sendiri diapartemen karena orangtuanya jarang berada dirumah dan membuatnya kesepian jika tinggal dirumah mewahnya seorang diri dan hanya ditemani para pelayan yang bekerja untuk keluarganya.
.
.
Jeonghan mencoba membuka matanya perlahan namun kepalanya sangat pusing. Ia melihat dirinya sudah berbaring diranjang sebuah ruangan yang sangat ia kenali. Dulu ia sering sekali kesini untuk menginap atau sekedar main. Jeonghan merasa sangat haus. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya untuk mengambil air minum diatas meja lalu meminumnya sampai habis. Pintu ruangan itu tiba-tiba saja terbuka dan muncul namja tampan dengan membawa mangkuk bubur ditangannya.
"Jeonghan-ah kamu sudah sadar?" Tanya Seungcheol sambil mendekati Jeonghan dan duduk dipinggir tempat tidur.
Jeonghan hanya mengangguk sambil membenarkan selimutnya. Namun ia baru sadar kalau ia sudah berganti pakaian.
Kini ditubuhnya melekat kemeja putih dan celana training abu-abu yang sedikit kebesaran.
"Apakah kamu yang menggatikan pakaianku?" Tanya Jeonghan panik lalu menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya hingga leher dan hanya memperlihatkan kepalanya saja.
"Nae, aku yang menggantikannya, bajumu basah kalau tidak aku ganti demammu akan semakin parah." Jawab Seungcheol sambil mengaduk bubur yang ia pegang.
"Tapi kamukan bisa membangunkanku, aku bisa menggantinya sendiri." Pipi Jeonghan terlihat memerah, ia menundukkan kepalanya agar Seungcheol tidak menyadarinya.
"Aku tidak tega membangunkanmu, bahkan kamu tidak punya tenaga untuk bergerak, bagaimana bisa kamu mengganti bajumu sendiri." Kata Seungcheol masih mengaduk bubur ditangannya dan menimbulkan bunyi benturan pada sendok dan mangkuk yang ia pegang.
"Tapi aku malu." Kata Jeonghan dan masih menunduk.
"Kenapa harus malu, bukankah kita sama-sama lelaki." Seungcheol terlihat santai lalu akan menyuapkan bubur kemulut Jeonghan namun namja cantik itu menghentikan tangannya.
"Aku bisa makan sendiri." Kata Jeonghan lalu mengambil mangkuk bubur dari tangan Seungchel dan mulai memakannya.
Seungcheol terus memperhatikan Jeonghan yang sedang memakan buburnya dengan lahap. Karena merasa terus ditatap oleh Seungcheol, Jeonghan terlihat menghentikan makannya dan menengok kearah Seungcheol.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Tanya Jeonghan sambil menatap sebal kearah Seungcheol.
"Aku hanya ingin menatap bidadari didepanku lebih lama karena mungkin lain waktu aku tidak bisa mendapatkan kesempatan seperti ini lagi."Seungcheol berbicara sangat pelan seolah sedang berbicara pada diri sendiri.
"Kamu tadi bicara apa?" tanya Jeonghan pada Seungcheol karena tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan namja itu.
"Apa? Oh bukan apa-apa, lanjutkan saja makanmu, aku harus keluar sebentar. " kata Seungcheol lalu berjalan keluar kamar meninggalkan Jeonghan yang masih terbengong-bengong. Apa Jeonghan sudah salah dengar. Seungcheol tidak mungkin mengucapkan kata-kata itu. Jeonghan segera melanjutkan makannya sampai bubur didalam mangkuk habis tak tersisa. Ia kembali merebahkan tubuhnya setelah perutnya terasa kenyang.
Jeonghan baru akan memejamkan matanya namun ia merasa sangat haus. Air putih diatas meja sudah habis ia minum tadi. Ia mencoba bangun dan akan mengambil air didapur. Kakinya masih sakit, tapi ia harus kedapur untuk mengambil minum. Dengan susah payah Jeonghan berjalan menuju dapur, namun saat melewati ruang tengah ia mendengar ada orang yang sedang mengobrol diruang tamu yang ada diapartemen Seungcheol. Ia mencoba memastikan dan berjalan mendekati ruang tamu, namun ia menghentikan langkahnya dan berdiri dibalik tembok yang memisahkan dapur dan ruang tamu tersebut. Ia melihat Seungcheol sedang berpelukan dengan seorang namja yang sepertinya pernah ia kenal sebelumnya. Jeonghan sedikit tersentak saat melihat namja tadi mencium bibir Seungchel, ia hanya bisa terpaku ditempatnya saat melihat Seungcheol membalas ciuman namja itu. Bukankah selama ini Seungcheol menyukai Jihoon tapi kenapa Seungcheol malah berciuman dengan orang lain. Jeonghan bergerak mundur secara perlahan untuk pergi dari sana dan kembali kekamar Seungcheol namun tiba-tiba saja rasa nyeri dikakinya kabuh lagi dan membuatnya hampir terjatuh. Ia berhasil berpegangan pada tembok namun kakinya malah menyenggol guci besar yang ada disana dan membuat guci itu jatuh dan pecah. Ia melihat Seungcheol dan namja tadi melihat kearahnya. Dan ia sangat terkejut ternyata namja yang berciuman dengan Seungcheol adalah teman sekelasnya waktu SMP yang bernama Doyoon. Seungcheol juga sangat terkejut melihat Jeonghan ada disana. Jeonghan segera berjongkok untuk mengambil pecahan guci dilantai. Dia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba saja hatinya terasa sakit melihat Seungcheol berciuman dengan Doyoon, harus diakui bahwa dia cemburu tapi dia sama sekali tidak punya hak untuk cemburu. Bukankah dia bukan pacar Seungcheol, dan Jeonghan menyadari itu. Seungcheol berjalan mendekati Jeonghan lalu berjongkok didekat namja cantik itu. Doyoon juga terlihat mendekat dan berdiri tidak jauh dari mereka. Seungcheol menghentikan tangan Jeonghan yang masih memunguti pecahan guci. Namun namja cantik itu segera melepaskan pegangan tangan Seungcheol dan kembali memunguti pecahan guci dengan tangannya.
"Hentikan Jeonghan-ah, bukankah kamu masih sakit, lebih baik kamu istirahat biar aku yang membereskan ini." Seungcheol kembali memegang tangan Jeonghan dan membuat namja itu menatap kearahnya. Secara perlahan air mata Jeonghan menetes menuruni pipinya, dan itu sukses membuat Seungcheol terkejut.
"Kenapa kamu menangis, apa ada yang terluka?" Tanya Seungcheol dengan panik karena dia khawatir melihat Jeonghan menangis.
"Aku menangis karena merasa bersalah sudah memecahkan guci ini." Jawab Jeonghan sambil mengusap kasar air mata dipipinya lalu kembali menunduk.
"Kenapa kamu harus menangis hanya karena memecahkan guci bukankah ini masalah sepele, aku sama sekali tidak masalah, ini hanya guci Jeonghan-ah." kini Seungcheol ikut memunguti pecahan guci itu.
"Ini memang sepele untukmu tapi tidak untukku, dan ini juga bukan masalah untukmu tapi masalah bagiku." Jeonghan tiba-tiba saja berteriak lalu berdiri, ia melirik kearah Doyoon sekilas dan langsung berlari menuju pintu keluar yang kebetulan tidak terkunci. Ia berlari sekencang-kencangnya tanpa mempedulikan rasa sakit dikakinya. Bahkan ia juga tidak peduli udara dingin diluar saat ia berhasil mencapai luar apartemen. Jeonghan terus berlari dan merasakan kakinya seperti tertusuk-tusuk jarum, ia juga baru sadar bahwa ia tidak menggunakan alas kaki. Ia terus menangis dengan tangan kanannya memegangi dadanya yang terasa sangat sakit. Namun tiba-tiba saja ada yang menarik tangan Jeonghan dan memeluk namja berambut panjang itu. Jeonghan tidak bisa melihat siapa orangnya karena wajahnya kini ada didada orang yang sedang memeluknya, Jeonghan tidak pedulia siapa orang yang sedang memeluknya karena ia hanya ingin menangis sekencang-kencangnya. Kini airmatanya membasahi jaket tebal yang dikenakan orang yang sedang memeluknya. Setelah merasa sedikit baikan, Jeonghan segera mendongakkan wajahnya dan melihat wajah namja yang sedang memeluknya. Ia sangat terkejut karena orang itu tak lain dan tak bukan adalah orang yang sudah membuatnya menangis siapa lagi kalau bukan Choi Seungcheol. Jeonghan segera melepaskan pelukan Seungcheol dan mundur beberapa langkah.
"Ada apa denganmu, kenapa tiba-tiba berlari pergi seperti itu, kamu membuatku khawatir." Seungcheol kembali mendekati Jeonghan dan berdiri tepat dihadapan namja cantik itu. Jeonghan hanya diam saja dan menundukkan kepalanya. Seungchel menangkupkan kedua telapak tangannya kepipi Jeonghan dan menghadapkan wajah namja berambut panjang itu kearahnya. Tanpa Seungcheol sadari wajahnya mendekat pada wajah Jeonghan dan mengecup sekilas bibir merah Jeonghan dan membuat namja itu sedikit tersentak.
"Seungcheol-ah." Panggil sebuah suara yang membuat Jeonghan dan Seungcheol menengok secara bersamaan. Ternyata Doyoon sudah berdiri didekat mereka dan memandang tidak suka kepada Jeonghan.
"Doyoon-ah kenapa kamu kesini? Sudah kubilang tunggu saja diapartemenku." Seungcheol segera melepaskan tangkupan tangannya diwajah Jeonghan dan sedikit memundurkan tubuhnya.
"Jeonghan-ah aku lupa memberitahumu, apakah kamu masih ingat Dooyon? dia teman sekelas kita waktu SMP, dia adalah pacarku dan dia adalah orang yang aku cintai selama ini." kata Seungcheol sambil memandang kearah Jeonghan.
Tubuh Jeonghan tiba-tiba saja menjadi lemas, hatinya seperti baru saja dihujam beribu-ribu jarum. Bagaimana mungkin Seungcheol bilang ia berpacaran dengan Doyoon setelah namja itu menciumnya tanpa ijin. Apa maksud dari ciuman itu, apa Seungcheol baru saja mempermainkannya. Jeonghan merasakan airmatanya akan kembali menetes namun ia menahannya mati-matian dan mencoba untuk tersenyum. Ia akan berpura-pura bahagia bahwa Seungcheol telah berpacaran dengan orang yang dicintainya. Dia tidak boleh sedih saat temannya sedang bahagia bukan?
"Ya aku mengingatnya, Selamat Seungcheol-ah, aku ikut bahagia mendengarnya." Kata Jeonghan sambil tersenyum.
"Doyoon-ah maafkan aku sudah mengganggu waktumu dengan Seungcheol-ah, dan jangan salah paham dengan kejadian tadi, kamu tahu kan aku dan Seungcheol-ah adalah teman sejak kecil, kamu tidak perlu menghawatirkan apapun karena sampai kapanpun Seungcheol-ah hanya akan menganggapku sebagai teman karena kamu adalah orang yang dicintainya." Jeonghan kini berbalik menghadap Doyoon dan mencoba menjelaskan pada namja manis itu.
"Aku memahaminya, kalian sudah bersama sejak kecil, aku tidak akan salah pahan karena aku percaya pada Seungcheol-ah." Jawab Doyoon sambil tersenyum namun ada makna tersirat dari senyum tersebut.
"Jeonghan-ah kenapa kamu ada disini?" sapa sebuah suara yang membuat Seungcheol, Jeonghan dan Doyoon menengok kearah sumber suara tersebut. Disana sudah berdiri namja tampan berambut coklat dengan poni yang disibakkan kesamping. Seungcheol bisa mengenali bahwa itu adalah Jisoo teman sebangku Jeonghan. Namun penampilannya sangat berbeda saat namja itu berada disekolah. Biasanya namja itu membiarkan poninya menutupi jidatnya dan memakai kacamata besar layaknya seorang kutu buku.
"Jisoo-ah kamu ada disini?" Jeonghan sedikit merasa tenang melihat Jisoo ada disana. Entah kenapa namja tampan itu selalu datang disaat yang tepat. Mungkinkah itu takdir atau hanya kebetulan semata. Jisoo terlihat berjalan mendekati Jeonghan lalu melepas mantel yang dikenakannya dan memakaikannya ketubuh Jeonghan yang terlihat mengigil. Seungcheol dan Doyoon hanya memandang kearah mereka.
"Kenapa kamu berada diluar tanpa menggunakan jaket dan alas kaki, kamu ingin mati membeku ha?" Jisoo berjongkok didepan Jeonghan dengan membelakangi namja cantik itu lalu menyuruh Jeonghan naik kepunggungnya.
"Naiklah, kamu tidak bisa berjalan tanpa alas kaki, nanti kakimu bisa membeku, aku akan mengantarkanmu pulang." Kata Jisoo masih berjongkok. Jeonghan segera menuruti perintah Jisoo dan naik kepunggung namja tampan itu. Tanpa mempedulikan keberadaan Seungcheol dan Doyoon, Jisoo berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Dijalan Jeonghan kembali meneteskan airmatanya saat mengingat kejadian tadi. Hatinya terasa sakit saat mengetahui kenyataan bahwa Seungcheol dan Doyoon berpacaran. Jisoo mengetahui bahwa Jeonghan sedang menangis, dia memilih diam saja dan membiarkan namja cantik itu melampiaskan kesedihannya.
.
.
.
.
.
.
.
"Jisoo-ah kenapa membawaku kesini? Bukankah kamu bilang mau mengantarku pulang?" Tanya Jeonghan saat mereka sampai diapartemen milik Jisoo.
"Salju diluar semakin lebat, sangat berbahaya menyetir dalam cuaca seperti ini, mencari taksi juga akan sangat sulit, rumahmu jauh dari sini jadi lebih baik malam ini kamu menginap disini, besok pagi baru aku akan mengantarmu pulang." Jisoo melepaskan sepatunya dan berjalan masuk keruang tengah yang ada diapartement itu. Jeonghan segera mengikuti Jisoo masuk namun ia segera berhenti saat kakinya kembali terasa sakit. Ia memeriksa pergelangan kakinya yang bengkaknya semakin besar dan berwarna biru. Jisoo yang melihat itu segera menghampiri Jeonghan lalu menggendong tubuh namja cantik itu dan mendudukkannya disofa.
"Aku akan mengambilkan obat."
Jisoo segera masuk kekamar yang ada diapartemennya lalu segera keluar dengan membawa kotak P3K. Jisoo segera mengobati luka dikaki Jeonghan. Setelah selesai ia membawakan selimut tebal untuk menghangatkan tubuh Jeonghan yang menggigil. Ia juga membuatkan coklat hangat dan juga bubur.
"Lebih baik kamu istirahat dikamarku, biar aku tidur disofa." Jisoo segera mengangkat tubuh Jeonghan menuju kamarnya tanpa persetujuan namja cantik tersebut.
"Apa tidak apa-apa aku disini? Sebenarnya aku bisa tidur disofa." Kata Jeonghan sambil memandang kearah Jisoo.
"Tidak apa-apa, biar aku saja yang tidur disofa." Jisoo segera keluar meninggalkan Jeonghan sendiri dikamarnya.
Jeonghan segera berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia mencoba memejamkan matanya namun ia sama sekali tidak mengantuk. Ia mengeluarkan handphonenya dari saku celana namun sialnya baterainya lowbat. Ia ingin bertanya kepada Jisoo apakah namja itu punya charger namun ia malas keluar kamar. Jeonghan mencoba memeriksa laci meja yang ada disebelah tempat tidur siapa tahu Jisoo menaruh charger disana. Namun ia tidak juga menemukan yang ia cari namun saat akan menutup kembali laci itu, ia melihat bingkai foto yang ditaruh terbalik didalam laci. Karena penasaran, Jeonghan segera mengambil bingkai foto itu dan sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Difoto tersebut terlihat Jisoo mengenakan seragam sekolah bersama 3 namja yang menggunakan seragam yang sama dengan Jisoo. Sepertinya foto itu diambil saat Jisoo masih SMP. Dan yang membuat Jeonghan kaget adalah salah satu dari 3 namja yang berfoto dengan Jisoo adalah Mingyu. Jadi Jisoo mengenal Mingyu, kenapa Jisoo tidak pernah memberitahunya. Dan bila dilihat dari foto itu bisa dipastikan hubungan mereka sangat dekat. Jeonghan yakin 2 namja itu adalah Jisoo dan Mingyu tapi dia tidak mengetahui 2 namja lainnya yang berfoto dengan mereka. Jeonghan merasa sangat penasaran dan bertanya-tanya apa yang tidak ia ketahui dari semua ini dan apa sebenarnya yang sudah Jisoo sembunyikan darinya. Ia baru saja akan mengembalikan foto tersebut kedalam laci saat Jisoo tiba-tiba masuk kedalam kamar dan terlihat terkejut melihat Jeonghan memegang foto masa lalu Jisoo.
"Jeonghan-ah apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Jisoo dan berjalan mendekati Jeonghan.
"Jadi kamu mengenal Mingyu? Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku, dan sebenarnya apa hubungan kalian?" Tanya Jeonghan sambil masih memegang foto Jisoo dan Mingyu ditangannya. Ia sangat kecewa karena Jisoo menyembunyikan kenyataan ini darinya. Ia ingin meminta penjelasan namja tampan itu.
"Maafkan aku, sebenarnya aku ingin memberitahunmu, tapi aku belum menemukan waktu yang tepat, Mingyu adalah sahabatku sejak kecil, tapi sejak kami lulus SMP hubungan kami menjadi renggang setelah aku mengetahui kepribadiannya yang sebenarnya. Sebenarnya aku tidak ingin berurusan dengannya lagi, namun setelah apa yang dia lakukan padamu aku tidak bisa tinggal diam begitu saja karena aku ingin melindungimu." Jisoo berjongkok didepan Jeonghan yang duduk dipinggir ranjang. Ia mengambil foto yang ada ditangan Jeonghan lalu meletakkannya diatas meja.
"Kamu tidak sedang membohongiku kan? Tanya Jeonghan memastikan.
"Tentu saja tidak, untuk apa aku berbohong padamu." Jisoo memegang tangan Jeonghan dan menggenggamnya dengan erat seolah tidak ingin melepaskan namja cantik itu dari hidupnya.
"Lalu kenapa kamu ingin melindungiku." Tanya Jeonghan lagi sambil menatap mata Jisoo untuk melihat kejujuran dari sana.
"Karena aku menyukaimu Yoon Jeonghan." Kata Jisoo sambil membalas tatapan Jeonghan.
Jeonghan hanya terdiam mendengarkan pernyataan cinta Jisoo. Ia tidak tahu harus berkata apa, ia merasa senang bisa mengenal orang yang sangat baik seperti Jisoo. Orang yang selalu ada untuknya disaat dia sedah dalam masalah. Namun ia tidak memiliki perasaan apapun pada namja tampan itu karena ada orang lain yang saat ini ada dihatinya. Walaupun orang yang ia sukai tidak memiliki perasaan yang sama sepertinya dan bahkan sudah memiliki kekasih namun Jeonghan tetap masih menyukai orang itu. Ia merasa bersalah pada Jisoo karena tidak bisa membalas perasaan namja itu.
"Aku tidak mengharapkan jawaban darimu Jeonghan-ah, karena aku tahu siapa orang yang ada dihatimu saat ini, tapi aku merasa lega telah mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya padamu, dengan kamu tahu apa yang aku rasakan itu sudah lebih dari cukup untukku."Jisoo terlihat tersenyum dan mengusap rambut Jeonghan pelan.
"Maafkan aku Jisoo-ah." Kata Jeonghan pelan.
"Tidak perlu merasa bersalah, aku baik-baik saja, bisa melihatmu tersenyum itu sudah cukup bagiku, jadi mulai dari sekarang teruslah tersenyum Yoon Jeonghan."
"Terima kasih Jisoo-ah, kamu memang orang yang sangat baik," kata Jeonghan pada Jisoo dan hanya dibalas senyuman oleh namja tampan itu.
" Jisoo-ah bolehkah aku bertanya? siapa dua orang lainnya yang ada difoto itu?" Tanya Jeonghan penasaran dengan masa lalu Jisoo dan orang-orang difoto itu. Jisoo segera melepaskan genggamannya ditangan Jeonghan dan mengambil foto yang tadi ia letakkan diatas meja.
" Yang ini namanya Seokmin, dia sekarang tinggal di Amerika dan karena ia sangat sibuk dengan sekolahnya jadi aku sudah jarang berkomunikasi dengannya." Kata Jisoo sambil menunjuk foto namja berbadan tinggi dan memiliki hidung yang sangat mancung.
"Lalu yang ini? Tanya Jeonghan sambil menunjuk foto namja manis berpipi chubby yang tersenyum sangat imut.
"Namanya Seungkwan, dia meninggal 4 tahun yang lalu." Wajah Jisoo berubah sedih saat mengatakan itu dan membuat Jeonghan merasa tidak enak.
"Maaf Jisoo-ah aku membuatmu sedih lagi." Kata Jeonghan menyesal.
"Tidak masalah, aku baik-baik saja." Kata Jisoo lalu tersenyum.
"Jadi apakah gelang kamu itu pemberian darinya?" Tanya Jeonghan penasaran.
"Iya, itu pemberian Seungkwan, dia memberikan gelang yang sama kepadaku, Mingyu dan Seokmin sehari sebelum dia meninggal."
"Aku yakin saat ini Seungkwan sudah bahagia diatas sana, jadi kamu juga harus bahagia Jisoo-ah." Jeonghan mencoba menghibur Jisoo dan tersenyum kepada namja tampan itu.
"Gomawo." Kata Jisoo ikut tersenyum.
"Seharusnya aku yang berterimaksih padamu Jisoo-ah, karena selama ini kamu selalu baik padaku." Kata Jeonghan sambil memandang namja tampan didepannya.
"Aku senang bisa terus berbuat baik padamu Yoon Jeonghan, jadi kamu tidak perlu berterima kasih. Sudah, cepatlah tidur, ini sudah malam." Kata Jisoo lalu berdiri dan menyuruh Jeonghan untuk berbaring dan memasangkan selimut ketubuh namja cantik itu.
"Terima kasih Jisoo yang baik, selamat malam." Kata Jeonghan lalu memejamkan matanya.
"Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak terlalu mempercayai kebaikan Yoon Jeonghan." Kata Jisoo dalam hati sambil memperhatikan Jeonghan yang sudah memejamkan matanya. Ia tersenyum sekilas lalu beranjak pergi meninggalkan Jeonghan.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jihoon sedang meringkuk ditempat tidur sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Walaupun sudah jam 7 pagi namun diluar masih sedikit gelap. Mungkin karena salju yang masih turun dengan lebatnya. Ia sangat malas beranjak dari tempat tidurnya, namun ia teringat sesuatu dan membuatnya bangun dengan tergesa-gesa dan berlari menuju ruang cuci yang ada dirumahnya.
"Pelayan, dimana jaket yang kemarin kusuruh untuk mencuci?" Tanya Jihoon pada salah satu pelayan yang bekerja dirumahnya.
"Oh, ini tuan." Kata pelayan itu lalu menyerahkan jaket tebal berwarna coklat kepada Jihoon.
"Terimakasih." Kata Jihoon dan kembali berjalan menuju kamarnya.
"Bagaimana caranya aku mengembalikan ini, aku tidak mungkin bertemu dengannya selama liburan musin dingin." Kata Jihoon setelah melipat dengan rapi jaket milik Soonyoung.
"Lebih baik aku minta nomor Soonyoung dari Jeonghan-ah, bukankah dia sepupu Jeonghan-ah."
Jihoon segera mengirim sms pada Jeonghan untuk meminta nomor Soonyoung, dia juga memberikan alasan kenapa ia meminta nomor sepupu Jeonghan itu yaitu untuk mengembalikan jaket yang sudah Soonyoung pinjamkan padanya. Jihoon tidak ingin Jeonghan salah paham dan mengira ia menyukai Soonyoung. Yang ada Jeonghan akan menggodanya habis-habisan.
Tidak menunggu lama, ia mendapatkan sms balasan dari Jeonghan yang menyertakan nomor Soonyoung disana. Ia segera membalas sms Jeonghan dengan ucapan terimakasih lalu mulai mengetik pesan dan dikirimkan ke nomor Soonyoung.
"Aku ingin mengembalikan jaketmu, ayo kita bertemu disuatu tempat." Jihoon.
Selang beberapa menit ia menerima pesan balasan dari Soonyoung.
Soonyoung : "Darimana kamu mendapatkan nomorku?"
Jihoon : "Aku memintanya dari Jeonghan-ah, kenapa ? kamu keberatan aku mengetahui nomormu ? aku akan menghapusnya setelah mengembalikan jaketmu, jadi mari kita bertemu."
Soonyoung : "Baik, mari bertemu di Gureum café hari ini jam 10, jangan sampai telat karena aku benci menunggu.
Jihoon : " Jangan khawatir Kwon Soonyoung, karena aku bukan tipe orang yang tidak tepat waktu."
.
.
.
.
.
.
.
Kini Jihoon dan Soonyoung sudah duduk berhadapan disalah satu meja di Gureum café. Didepan mereka sudah tersaji coklat hangat dan spageti yang sudah dipesan Jihoon karena ia datang duluan sebelum Soonyoung.
"Terimakasih jaketnya." Kata Jihoon sambil menyerahkan bungkusan berisi jaket Soonyoung.
"Aku akan menghapus nomormu sekarang." Kini Jihoon membuka daftar kontak dihandphonenya dan akan menghapus nomor Soonyoung disana.
"Jangan dihapus." Kata Soonyoung tiba-tiba dan membuat Jihoon berhenti sebelum ia berhasil menghapus nomor Soonyoung.
"Kenapa? Bukankah kamu sendiri yang ingin aku menghapusnya. Apa kamu berubah pikiran dan ingin aku menyimpan nomormu?" Tanya Jihoon bingung.
"Bukan seperti itu, aku tidak suka pewangi yang kamu gunakan saat mencuci jaketku, baunya benar-benar menjijikan, jadi cuci lagi dengan pewangi yang berbeda dan hubungi aku lagi untuk mengembalikan jaketku." Kata Soonyoung sambil mencium aroma jaket yang diserahkan Jihoon dan pura-pura ingin muntah. Soonyoung tidak tahu kenapa tiba-tiba berbicara seperti itu, ia hanya membuat alasan agar Jihoon tidak kepedean saat dia bilang jangan menghapus nomornya, sebenarnya ia ingin Jihoon tetap menyimpan nomornya tapi dia gengsi untuk mengatakannya.
"Bagaimana bisa kamu seenaknya seperti ini, akukan sudah mencucinya, kalau kamu tidak suka dengan pewanginya, cuci saja sendiri." Kata Jihoon sedikit berteriak karena merasa kesal.
"Kalau tidak mau ya sudah, tidak usah berteriak seperti itu, aku akan membuangnya saja." Kata Soonyoung sedikit memelankan suaranya karena pelanggan lain dicafe itu melihat kearah mereka gara-gara tadi Jihoon berteriak.
"Dasar kau ini, Baik aku akan mencucinya lagi, kamu tidak perlu membuangnya." Kata Jihoon sambil mengambil jaket Soonyoung dari tangan namja itu walaupun ia masih kesal.
Soonyoung tersenyum diam-diam tanpa sepengetahuan Jihoon karena namja imut itu akhirnya mau mencuci lagi jaket miliknya. Sebenarnya ia suka dengan pewangi yang digunakan Jihoon. Namun ia hanya ingin mencari alasan untuk bisa bertemu lagi dengan namja imut itu. Dia mungkin sudah gila karena bersikap seperti ini pada orang yang telah membuat hubungan Jeonghan-ah dengan teman-temannya menjadi rusak. Soonyoung selalu mengatakan membenci Jihoon namun dalam hatinya berkata lain. Ia tidak tahu mengapa ia seperti ini.
.
.
.
.
.
To Be Continue…
Hai hai semuanya...wah aku baru sempet ngepost lanjutan ffnya, sebenernya chapter ini udah selesai aku ketik sejak kemaren2 tapi berhubung aku malas ngeditnya karena ada pengganggu yang setiap saat muncul dihadapanku tanpa tahu malu, yah jadi agak lama deh, #edisicurhat, sebenernya part ini ingin aku buat lebih panjang cuman kayaknya biar chapternya lebih banyak jadi aku kurangi sedikit kali ya...hahahaha oke2 tidak lupa aku akan selalu berterimakasih pada reader yang sudah mampir membaca ff ini juga review, follow and favorite nya terimakasih banyak semua...Chapter selanjutnya DK bakal muncul dikehidupan Jisoo Jeonghan Mingyu dll, kira-kira karakter dan perannya seperti apa? tunggu aja...
.
.
See you...
.
.
.
