True or False
( Secret )
Seventeen Seunghan / Jeongcheol Fanfiction
Cast
Jeonghan
Seungcheol
Jihoon
Joshua
Mingyu
Wonwoo
Vernon
Jun
.
.
.
.
Jika kamu pikir balas dendam akan menyelesaikan masalah, maka kamu salah besar. Menyimpan dendam hanya akan membuatmu menderita. Kamu tidak hanya akan menyakiti orang lain tapi kamu secara tidak sadar sudah menyakiti dirimu sendiri. Apakah kamu merasa bahagia jika kamu berhasil balas dendam?
.
.
.
.
.
.
Vernon merebahkan tubuhnya dikasur empuk dikamar Jun. Terlihat Jun juga melakukan hal sama dengan Vernon. Kini mata mereka menerawang memandang langit-langit kamar namun tatapan mereka terlihat kosong dan tidak benar-benar memandang keatas. Mereka hanya diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Vernon masih merasa penasaran dengan hubungan Jeonghan dengan namja tinggi yang ia lihat bersama Jeonghan waktu itu. Ia belum sempat bertanya langsung pada Jeonghan karena mereka memang sudah tidak pernah bertemu lagi kecuali saat disekolahan. Mungkin namja cantik itu masih marah dengan Seungcheol atau bahkan dengan mereka semua. Apalagi selama liburan musin dingin ini mungkin dia tidak akan punya kesempatan untuk bertemu dengan Jeonghan. Sebenarnya ia ingin menghubungi Jeonghan dan mengajaknya bertemu namun ia ragu dan takut Jeonghan tidak mau bertemu dengannya karena masih marah. Ia ingin sekali bertanya pada Jeonghan siapa sebenarnya namja tinggi itu dan apa hubungannya dengan Jeonghan. Namun ia yakin hubungan Jeonghan dan namja itu lebih dari sekedar teman. Vernon bisa melihat itu dari apa yang Jeonghan lakukan dengan namja itu.
"Vernon-ah sepertinya aku sedang menyukai seseorang." Kata Jun tiba-tiba dan membuat Vernon tersadar dari lamunannya dan menengok kearah Jun.
"Siapa?" Tanya Vernon penasaran lalu bangun dan duduk dipinggiran ranjang.
"Seseorang yang seharusnya tidak pernah aku cintai, seseorang yang bahkan tidak pantas mendapatkan cinta dari orang sepertiku." Kata Jun dengan tetap berbaring, ia terlihat memejamkan matanya seolah berfikir.
"Kenapa begitu? siapa saja berhak untuk mencintai bukan? Aku pikir cinta itu tidak memandang apapun, jadi kalau kamu menyukai seseorang maka ungkapkan saja." Kata Vernon masih memandangi sahabatnya itu.
"Bagaimana kalau orang yang aku cintai adalah sahabatku sendiri? Kata jun lalu duduk dihadapan Vernon.
"Siapa? Apa kamu suka Seungcheol-ah, Wonwoo, atau Jeonghan? Atau jangan-jangan kamu malah menyukaiku." Kata Vernon sambil memandang penasaran kearah Jun.
"Jangan bodoh, kamu sama sekali bukan tipeku bule sinting." Kata Jun lalu memukul kepala Vernon.
"Baguslah kalau begitu karena kamu juga bukan tipeku, lalu siapa orang yang kau sukai itu?" Tanya Vernon sambil mengusap kepalanya yang sakit karena pukulan Jun.
"Jeonghan-ah." Kata Jun pelan. Mendengarkan jawaban Jun barusan sontak membuat ekspresi wajah Vernon berubah. Vernon sangat bingung harus bereaksi bagaimana. Ia hanya tidak menyangka ternyata Jun menyukai Jeonghan.
"Kenapa? Apa ada yang salah ?" Tanya Jun karena melihat ekspresi Vernon yang sedikit aneh.
"Tidak, sama sekali tidak ada yang salah, hanya saja aku sedikit terkejut, oh Jun-ah aku lupa hari ini aku ada janji dengan adikku, aku harus segera pergi dia pasti sudah menungguku, sampai jumpa Jun-ah." Kata Vernon dan langsung pergi keluar dari kamar Jun.
Jun sedikit merasa aneh dengan sikap Vernon, namja itu seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Seorang namja tinggi baru saja keluar dari pesawat dan berjalan diarea lobi bandara sambil menyeret kopernya. Ia terlihat memegang handphone ditangannya lalu menempelkannya kekuping kanannya.
"Sudah kubilang hentikan semuanya, apa menurut kalian Seungkwan-ah akan senang dengan semua ini."
"Kalian benar-benar keras kepala, kalau kalian tidak mau menghentikan semuanya, maka aku yang akan membuat kalian berhenti." Kata namja itu dengan nada marah lalu menutup sambungan telpon.
Namja itu lalu menengokkan kepalanya kekanan dan kekiri untuk mencari seseorang.
"Hyung, aku disini." Teriak sebuah suara dan membuat namja itu mengarahkan pandangannya kesumber suara.
"Ternyata kau disana Chan-ah." Kata namja itu lalu berjalan mendekati namja yang bernama Chan itu.
"Biar aku bawakan kopermu hyung." Kata Chan kepada namja itu lalu mengambil koper milik namja itu dan mereka segera berjalan pergi dari sana.
.
.
.
.
.
.
.
Jeonghan POV
Aku meringkuk diatas tempat tidurku sambil menutupi seluruh tubuhku dengan selimut. Air mataku terus mengalir dengan deras tanpa bisa dibendung. Aku baru saja mendapatkan kabar buruk hari ini, orangtuaku akan bercerai minggu depan, sebenarnya aku sudah sering melihat ataupun mendengar mereka bertengkar. Namun aku selalu mencoba tidak peduli karena mungkin mereka hanya bertengkar sebentar lalu baikan lagi. Namun kali ini sepertinya mereka sudah mantap akan bercerai, mereka sudah memberitahuku dan menjelaskan semuanya padaku bahwa mereka sudah tidak bisa bersama lagi. Dan aku yakin semua anak didunia ini tidak akan ada yang menginginkan orangtuanya bercerai termasuk aku. Tapi tidak ada yang bisa aku lakukan agar mereka tidak bercerai jadi mau tidak mau aku harus menerima keputusan mereka. Hampir seharian ini aku belum keluar kamar ataupun turun dari ranjangku. Aku baru saja akan turun dari tempat tidur untuk pergi kekamar mandi saat terdengar ada sms masuk dari handphoneku yang kuletakkan ditas meja. Aku segera mengambil handphoneku dan membuka sebuah pesan yang ternyata dari Soonyoung.
Soonyoung : "Jeonghan-ah keluarlah, seharian ini kamu belum keluar kamar, aku tahu apa yang kamu rasakan saat ini, mari kita jalan-jalan untuk menenangkan pikiranmu, aku tunggu didepan rumah."
Sebenarnya aku malas kemana-mana untuk hari ini tapi tidak ada salahnya jika aku pergi bersama Soonyoung, siapa tahu aku akan merasa baikan setelah jalan-jalan.
Jeonghan : " Baiklah, aku ganti baju dulu dan segera keluar."
Akhirnya aku menyetujui ajakan Soonyoung untuk pergi dengannya. Aku segera berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan langsung berganti baju.
Jeonghan POV End
.
.
.
.
.
"Jeonghan-ah bagaimana kalau kita ke mall?" Tanya Soonyoung tanpa menoleh kearah Jeonghan karena sedang menyetir mobil.
"Terserah kamu saja, bukankah kamu yang mengajakku." Kata Jeonghan masih memandang keluar jendela mobil tanpa menengok kearah Soonyoung.
"Baiklah." Soonyoung segera mengarahkan mobilnya menuju ke mall terbesar yang ada di Seoul.
Setelah sampai didepan Gedung Mall, mereka segera berjalan memasuki mall dan melihat-lihat siapa tahu ada barang yang menarik perhatian mereka. Soonyoung memandang kearah Jeonghan yang sedang berjalan disebelahnya. Ia merasa kasihan pada sepupunya ini, entah kenapa ia lebih sering melihat Jeonghan sedih daripada tersenyum. Soonyoung ingin sekali menghibur Jeonghan namun sepertinya dia bukanlah tipe orang yang pandai menghibur orang lain. Saat mereka sedang asyik melihat-lihat beberapa souvenir, mereka bertemu dengan Seungcheol dan Doyoon yang sepertinya sedang berkencan. Jeonghan ingin sekali mengajak Soonyoung untuk menghindar namun sepertinya Seungcheol dan Doyoon berjalan mendekati mereka berdua.
"Hai Jeonghan-ah, kau ada disini juga?" Tanya Seungcheol saat sudah berada didepan Jeonghan dan Soonyoung.
Soonyoung terlihat bingung dan penasan dengan namja yang sedang bersama Seungcheol. Sepertinya jika dilihat dari bagaimana cara namja itu menggandeng Seungcheol dan menatap tidak suka pada Jeonghan pasti namja ini bukan teman ataupun saudara Seungcheol. Lalu siap namja ini, bukankah Seungcheol menyukai Jihoon jadi tidak mungkin kan namja ini pacar Seungcheol.
"Nae, Soonyoung-ah memintaku menemaninya berbelanja." Jawab Jeonghan lalu tersenyun sangat manis kearah Seungcheol dan Doyoon. Soonyoung bisa mengetahui bahwa senyuman Jeonghan hanya kebohongan semata, ia tahu bahwa sebenarnya hati Jeonghan sedang menangis. Soonyoung tahu itu dari mata Jeonghan.
Kini Soonyoung bisa menebak bahwa namja yang bersama Seungcheol sudah pasti adalah pacarnya. Dia baru tahu kalau Seungcheol ternyata seorang playboy, apa Jihoon juga merasakan hal yang sama seperti yang Jeonghan rasakan, apakah Seungcheol juga sudah mempermainkan hati Jihoon. Dia benar-benar tidak suka dengan Seungcheol dan dia tidak ingin Jeonghan dan Jihoon dekat-dekat dengan Seungcheol. Tunggu! apa dia baru saja menghawatirkan Jihoon? Ada apa dengannya, kenapa disaat seperti ini dia malah memikirkan Jihoon. Soonyoung segera menggelengkan kepalanya lalu ia akan segera mengajak Jeonghan pergi dari situasi ini.
"Jeonghan-ah ayo kita segera mencari baju yang aku cari, bukankah kamu berjanji mau membantuku mencari baju itu." Kata Soonyoung lalu menarik tangan Jeonghan namun namja cantik itu malah merasa bingung dan hanya menatap Soonyoung dengan tatapan tidak mengerti.
"Kita harus segera menemukan baju yang mau aku beli, ayo cepat kita mencarinya lagi." Kata Soonyoung lalu berjalan sambil menarik tangan Jeonghan.
"Seungcheol-ah aku pergi dulu, nikmati kencan kalian." Kata Jeonghan pada Seungcheo lalu melambaikan tangannya dan berjalan mengikuti Soonyoung.
Jeonghan mencoba melepaskan tangan Soonyoung dipergelangan tangannya saat langkahnya telah sejajar dengan namja manis itu. Mereka juga sudah berjalan menjauh dari Seungcheol dan Dooyon.
"Hei, kamu berbohong ya soal baju itu." Kata Jeonghan pada Soonyoung dan membuat namja manis itu menghentikan langkahnya.
"Aku hanya tidak suka kamu terus berlama-lama dengan namja menyebalkan itu." Kata Soonyoung lalu memandang Jeonghan yang juga ikut menghentikan langkahnya.
"Seungcheol maksudmu? Kenapa kamu bilang dia menyebalkan?"
"Hei, kamu pikir aku tidak tahu, kamu hampir menangis melihat Seungcheol bersama namja tadi, mungkin orang lain tidak akan tahu tapi aku tahu dirimu Jeonghan-ah."
"Aku baik-baik saja, dan kamu tidak perlu khawatir, aku sudah tidak menyukai Seungcheol jadi aku tidak akan cemburu melihat dia jalan dengan namja atau Yeoja manapun."
"Kamu itu tidak pandai berbohong Jeonghan-ah, aku bisa melihatnya dari matamu. Mungkin kamu bisa membohongi semua orang tapi tidak denganku." Kata Soonyoung menatap lurus kearah manik mata Jeonghan yang terlihat mulai berair.
"Kamu benar, aku memang tidak bisa membohongimu, kamu benar atas semuanya, aku memang berbohong saat aku bilang sudah tidak menyukai Seungcheol dan aku juga berbohong saat aku bilang aku baik-baik saja saat melihat Seungcheol bersama orang lain." Kini air mata Jeonghan sudah tidak terbendung lagi dan mengalir dengan deras menuruni pipi mulusnya. Soonyoung yang melihat itu segera merengkuh Jeonghan kedalam pelukannya dan mencoba menenangkan namja cantik itu.
"Sebaiknya kita pulang saja, kalau aku tahu akan seperti ini, seharusnya aku tidak mengajakmu pergi." Kata Soonyoung menyesal karena niatnya membuat Jeonghan bahagia dan tersenyum malah membuat namja cantik itu sedih dan menangis seperti ini. Soonyoung segera mengajak Jeonghan untuk pulang, mereka berjalan menuju tempat parkir dalam diam dan dengan pikiran masing-masing tanpa ada yang mengeluarkan sepatah katapun.
Soonyoung dan Jeonghan baru saja akan masuk kedalam mobil saat tiba-tiba Seungcheol berjalan kearah mereka dan berhenti didekat Jeonghan.
"Jeonghan-ah bisakah kita bicara sebentar." Kata Seungcheol pada Jeonghan dan namja cantik itu melihat kearah Soonyoung yang memberikan kode agar Jeonghan tidak mengiyakan.
"Baiklah, aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Soonyoung-ah aku akan berbicara sebentar dengan Seungcheol-ah, tunggulah disini aku segera kembali." Kata Jeonghan pada Soonyoung yang terlihat kecewa dengan keputusan Jeonghan.
.
.
.
.
Kini Seungcheol dan Jeonghan telah duduk berhadapan disalah satu café yang berada didalam mall. Tempat itu lumayan sepi dan hanya ada 2 anak kecil yang duduk dipojok cafe dan sedang menikmati ice cream.
"Doyoon-ah dimana? Bukankah tadi kalian bersama? Tanya Jeonghan mencoba memulai pembicaraan dengan sedikit basa-basi.
"Dia ada urusan mendadak jadi dia pulang duluan."
"Kamu bilang ingin berbicara denganku, bicaralah Seungcheol-ah." Kata Jeonghan sambil membenarkan posisi duduknya.
"Kamu tadi juga bilang ada yang ingin kamu katakan padaku, jadi kamu duluan saja."
"Baiklah, aku akan bicara duluan." Jeonghan terlihat mengambil nafasnya dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan.
"Seungcheol-ah apakah kamu masih ingat saat kamu bilang kita tidak usah berbicara satu sama lain untuk selamanya."
"Itu…." Belum sempat Seungcheol menyelesaikan kalimatnya namun Jeonghan sudah menyelanya.
"Mari kita lakukan itu mulai dari sekarang." Jeonghan memandang kearah Seungcheol yang sangat terkejut mendengar apa yang Jeonghan katakana barusan.
"Jeonghan-ah waktu itu aku tidak benar-benar serius mengatakannya, aku mengajakmu berbicara juga ingin minta maaf soal hal itu."
"Kalau kamu tidak benar-benar serius mengatakannya waktu itu, kalau begitu sekarang aku yang serius mengatakannya, mari kita tidak berbicara satu sama lain selamanya, mari kita pura-pura tidak saling mengenal dan pura-pura tidak melihat jika kita tidak sengaja bertemu."
"Kenapa kamu memintaku untuk melakukan hal bodoh seperti itu, aku tidak akan melakukannya." Seungcheol benar-benar tidak mengerti kenapa Jeonghan berbicara seperti itu, apakah Jeonghan begitu membencinya sehingga namja cantik itu tidak ingin berbicara lagi dengannya.
"Kamu harus melakukannya Seungcheol-ah karena aku tidak bisa bertemu atau berbicara denganmu lagi setelah ini."
"Kenapa? Apa kamu sangat membenciku sampai-sampai kamu tidak ingin berbicara lagi denganku?" Seungcheol mencoba meminta penjelasan dari Jeonghan, ia merasa bingung dengan sikap Jeonghan yang seperti ini.
"Aku tidak membencimu Seungcheol-ah tapi aku membenci diriku sendiri."
"Apa maksudmu, aku tidak mengerti." Seungcheol merasa bingung dengan ucapan Jeonghan, ia bisa melihat Jeonghan menghela nafasnya dalam lalu memandang kearahnya.
"Aku merasa aku adalah teman yang sangat buruk untukmu, wonwoo, jun dan juga Vernon. Aku merasa hanya bisa membuat masalah yang membuat kalian harus terlibat didalamnya.
"Tidak, kamu tidak seperti itu Jeonghan-ah."
"Seungcheol-ah aku benar-benar merasa bersalah padamu, aku seharusnya ikut bahagia saat melihatmu bahagia bersama orang yang kamu cintai tapi aku justru marah dan kecewa melihatmu bersama Doyoon-ah."Jeonghan menghentikan kalimatnya sebentar dan mencoba mengatur nafasnya.
"Dan maafkan aku Seungcheol-ah karena...aku menyukaimu, aku tidak ingin merusak hubunganmu dengan Doyoon-ah jadi mulai dari sekarang mari kita saling menjauh." Jeonghan berdiri dari duduknya dan memandang kearah Seungcheol yang masih duduk dengan ekspresi yang tidak bisa Jeonghan baca. Seungcheol sangat terkejut dengan pengakuan Jeonghan, ia merasa senang karena Jeonghan memiliki perasaan yang sama dengannya, tapi ia merasa kecewa karena justru Jeonghanlah yang lebih dulu mengungkapkan perasaannya dan ia merasa menjadi orang paling pengecut didunia ini karena tidak berani mengakui perasaannya pada Jeonghan, Seungcheol merasa sedih menerima kenyataan bahwa ia akan kehilangan Jeonghan yang lebih memilih menjauh darinya, Ia juga merasa bimbang apakah ia harus meninggalkan Doyoon dan mengatakan pada Jeonghan bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama dengan yang Jeonghan rasakan. Tapi dia tidak mungkin meninggalkan Doyoon begitu saja karena ia tidak ingin menyakiti namja itu, Ia tidak ingin egois dan mementingkan kebahagiaannya sendiri. Bukankah dia yang sudah memutusan untuk belajar mencintai Doyoon dan melupakan Jeonghan. Bukankah dia sudah berjanji kepada Doyoon untuk tidak meninggalkan namja itu apapun yang terjadi. Ya, dia tidak boleh melanggar janjinya dan menyakiti Doyoon.
"Selamat tinggal Seungcheol-ah." Jeonghan mencoba tersenyum sebelum beranjak pergi meninggalkan Seungcheol yang masih tetap diam ditempat duduknya.
Setelah membalikkan tubuhnya membelakangi Seungcheol airmata Jeonghan mengalir dari kedua matanya. Ia merasa sedih karena mungkin ini akan menjadi percakapan terakhirnya dengan Seungcheol namun ia juga merasa lega karena telah mengeluarkan semua beban yang ada dihatinya selama ini. Ia tidak akan tahu apa yang akan terjadi kedepannya, ia hanya perlu melewati semua itu. Ia berjalan mendekati mobil Soonyoung dan menghapus airmatanya sebelum sampai didekat sepupunya yang tengah bersandar di pintu mobil.
"Jeonghan-ah apa kau baik-baik saja?" Tanya Soonyoung khawatir saat Jeonghan sudah berdiri didepannya.
"Aku baik-baik saja Soonyoung-ah, aku ingin pergi kesuatu tempat jadi kamu pulang duluan saja."
"Kemana? Biar aku antar." Soonyoung tidak mungkin membiarkan Jeonghan pergi sendiri, ia yakin baru saja terjadi sesuatu yang buruk pada Jeonghan. Ia bisa melihat kedua mata Jeonghan yang memerah, namja itu pasti habis menangis. Tapi ia tidak ingin bertanya pada Jeonghan dan membuat Jeonghan merasa risih padanya karena ia terlalu ikut campur urusan namja cantik berambut panjang itu. Tugasnya hanya menghibur Jeonghan saat sepupunya itu merasa sedih dan juga melindunginya dari orang-orang seperti Seungcheol.
"Terimakasih Soonyoung-ah tapi aku bisa pergi sendiri."
"Mana mungkin aku membiarkanmu pergi sendiri , bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu, nanti orangtuamu akan memarahiku karena tidak bisa menjagamu."
"Mereka tidak akan peduli padaku walau aku mati sekalipun jadi jangan takut mereka akan memarahimu."
"Kenapa kamu bicara seperti itu, siapa bilang orangtuamu tidak peduli padamu, mereka akan khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk padamu, dan apa kamu tidak kasihan padaku terus diliputi rasa cemas karena menghawatirkanmu." Soonyoung meninggikan volume suaranya karena merasa kesal dengan Jeonghan yang keras kepala.
"Maafkan aku Soonyoung-ah, aku tidak bermaksud membuatmu khawatir padaku, tapi aku mohon biarkan aku pergi sendiri, aku berjanji akan baik-baik saja, aku bisa jaga diri sendiri jadi jangan terlalu khawatir."
"Baiklah, tapi kamu harus berjanji untuk tetap baik-baik saja, dan kalau terjadi sesuatu langsung hubungi aku." Akhirnya Soonyoung membiarkan Jeonghan pergi sendiri setelah melihat wajah memelas Jeonghan plus puppy eyes andalan namja cantik itu.
"Terimakasih Soonyoung-ah, aku berjanji semuanya akan baik-baik saja, bye." Jeonghan segera berjalan pergi meninggalkan Soonyoung yang masih berdiri didekat mobilnya.
.
.
.
.
.
Vernon baru saja turun dari mobilnya. Kini ia sudah berdiri didepan gedung Gym yang terbilang cukup mewah dan pengunjungnya sudah bisa dipastikan adalah orang-orang dari kalangan atas. Ia datang kesini bukan untuk olahraga karena dia adalah tipe orang yang anti dengan yang namanya olahraga. Namun ia ingin menemui Seungcheol yang kebetulan sedang berada disini. Tadi namja bermarga choi itu menelfonnya dan menyuruhnya datang kesini. Ia tidak tahu kenapa Seungcheol ingin menemuinya, tapi sepertinya namja itu sedang memiliki masalah dan pasti dialah orang yang akan mendengarkan keluh kesah temannya itu. Vernon sendiri tidak tahu kenapa Seungcheol selalu menceritakan apapun kepadanya bukankah teman Seungcheol bukan hanya dirinya, masih ada Wonwoo, Jun atau Jeonghan. Tapi memang tidak mungkin Seungcheol bercerita pada Jeonghan kalau masalahnya saja tentang namja cantik itu. Vernon tahu kalau Seungcheol menyukai Jeonghan karena Seungcheol sendiri yang menceritakan padanya. Dan ia juga seharusnya merasa lega karena Seungcheol tidak bercerita pada Jun karena Vernon juga baru tahu ternyata Jun juga menyukai Jeonghan dan bisa gawat kalau Seungcheol dan Jun sampai tahu ternyata mereka menyukai orang yang sama. Vernon segera melangkahkan kakinya memasuki gedung itu. Ia segera bertanya kepada penjaga Gym itu apakah tahu Seungcheol berada dimana. Karena Seungcheol adalah pelanggan tetap disana jadi semua pegawai Gym itu tentu saja mengenal Seungcheol. Jadi tidak sulit untuk Vernon bisa menemukan keberadaan Seungcheol. Ia segera berjalan kearah Seungcheol yang tengah duduk disalah satu tempat istirahat yang ada didalam Gym. Namun Vernon segera menghentikan langkahnya saat ia melihat Seungcheol sedang berbicara dengan seseorang yang sepertinya tidak asing baginya. Vernon ingat bahwa namja yang sedang bersama Seungcheol adalah namja yang pernah ia lihat bersama Jeonghan. Jadi Seungcheol mengenal namja itu, apakah Seungcheol tahu bahwa namja itu memiliki hubungan dengan Jeonghan. Kalau Seungcheol tahu bukankah Seungcheol sudah menceritakan padanya. Kenapa Vernon merasa semuanya semakin rumit, kenapa ia harus dipusingkan dengan hal-hal seperti ini. Vernon segera mendekati Seungcheol dan memanggil namja itu.
"Seungcheol-ah." Panggil Vernon pada Seungcheol dan terlihat Seungcheol dan namja disebelahnya menengok kearahnya.
"Kamu sudah datang Vernon-ah, kemarilah." Kata Seungcheol lalu menyuruh Vernon duduk disebelahnya. Pandangan Vernon kini beralih pada namja disebelah Seungcheol. Sepertinya tidak hanya Vernon yang terkejut melihat namja itu karena ternyata namja itu juga terkejut melihat Vernon.
"Oya Vernon-ah kenalkan ini temanku sekaligus pembimbing di tempat Gym ini, namanya Mingyu. Mingyu-ah perkenalkan ini temanku namanya Vernon." Seungcheol mencoba saling memperkanalkan Vernon dan Mingyu namun mereka terlihat hanya tersenyum canggung sambil bersalaman satu sama lain.
"Seungcheol-ah sepertinya kalian ingin membicarakan sesuatu, lebih baik aku meninggalkan kalian berdua, aku juga masih harus melatih beberapa pelanggan baru." Kata Mingyu lalu berdiri dan berjalan pergi meninggalkan Seungcheol dan Vernon. Seungcheol hanya tersenyum dan melambaikan tangannya pada Mingyu lalu menatap kearah Vernon. Namun namja blasteran amerika korea itu sepertinya masih menatap kearah Mingyu yang sudah mulai menghilang dari pandangan mereka
"Kau kenapa?" Tanya Seungcheol sambil melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Vernon.
"Aku hanya merasa pernah melihatnya, tapi sepertinya bukan dia orangnya mungkin hanya mirip saja, oya kenapa kamu memintaku kemari? Apa soal Jeonghan lagi?" Ekspresi wajah Seungchel kini berubah murung saat Vernon bertanya seperti itu dan Vernon sudah bisa menebak bahwa ini pasti soal Jeonghan lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jeonghan menekan bel yang ada dipintu sebuah apartemen. Saat pintu dibuka keluarlah seorang namja tampan yang terlihat terkejut dengan kedatangan Jeonghan.
"Jisoo-ah bolehkan aku menginap disini?"
"Ada apa? apa kamu sedang ada masalah lalu kabur dari rumah?" Tanya Jisoo sambil mempersilakan Jeonghan masuk dan menutup kembali pintu apartemennya.
"Aku hanya sedang malas tidur dirumah, dan juga aku sangat merindukanmu Jisoo-ah jadi aku datang kesini." Kata Jeonghan sambil tersenyum sangat manis.
Entah kenapa Jisoo merasa harus menghindar agar tidak melihat senyum itu. Seunyuman Jeonghan yang bisa membuatnya ragu dengan tujuan awalnya.
"Aku akan membuatkanmu coklat hangat." Jisoo segera berjalan pergi meninggalkan Jeonghan yang sedang duduk disofa yang ada diruang tamu apartemennya. Ia tidak boleh terbawa suasana dan nantinya akan merusak semua rencananya. Jisoo menenagkan dirinya didapur sambil terus memperingatkan dirinya sendiri agar tidak tertarik pada Jeonghan. Ia mengeluarkan handphone dari saku celananya dan menekan nomor seseorang.
"Ada apa menelfonku? Tumben sekali kamu menghubungiku." Kata suara dari seberang telfon dan membuat Jisoo mendengus kesal karena terpaksa menelfon orang menyebalkan itu.
"Apakah tawaranmu kemarin masih berlaku?" Tanya Jisoo ragu sambil tangan kirinya meremas ujung meja yang ada didalam dapur.
"hahahaha, kenapa ? apa kamu sudah berubah pikiran Jisoo-ah? tebakanku ternyata benar bahwa kamu tidak bisa membereskannya sendiri?" Jisoo benar-benar kesal mendengar tawa mengejek dari lawan bicaranya namun ia berusaha menahan emosinya dan mengatur nafas sebentar baru kembali melakukan pembicaraan dengan orang itu.
"Terserah kalau kamu berpikir aku payah atau apapun yang ada dipikiranmu itu Mingyu-ah, tapi aku merasa kita memang harus bekerjasama, bukankah tujuan kita sama, lagipula tidak ada gunanya juga kita terus bertengkar untuk hal yang sudah tidak ada lagi didunia ini, jadi mari kita berdamai dan selesaikan ini bersama." Kata Jisoo berusaha tetap tenang dan berbicara dengan pelan agar Jeonghan tidak mendengarkan pembicaraannya.
"Baiklah, berhubung aku adalah orang yang baik hati, maka aku akan menyetujui tawaranmu, tapi aku tidak suka diperintah jadi kamu yang harus mengikuti rencanaku." Kata Mingyu sambil tersenyum puas dari ujung telfon yang tentu saja tidak bisa dilihat oleh Jisoo.
"Terserah kau saja." Kata Jisoo lalu menutup telfonnya. Ia segera membuat coklat hangat untuk Jeonghan dan tidak ingin namja cantik itu curiga karena Jisoo terlalu lama didapur.
"Maaf menunggu lama." Kata Jisoo saat sampai di ruang tamu apartemennya dan menyerahkan segelas coklat hangat kearah Jeonghan. Namja cantik itu hanya tersenyum dan menerima coklat hangat yang Jisoo berikan padanya.
Jeonghan segera meneguk habis coklat hangat yang diberikan Jisoo lalu meletakkan gelas yang sudah kosong diatas meja. Jisoo melihat kearah Jeonghan dengan takjub lalu tersenyum melihat tingkah lucu Jeonghan yang saat ini tengah menggembungkan pipinya karena dipandangi terus oleh Jisoo.
"Jisoo-ah aku ngantuk, aku ingin tidur." Kata Jeonghan yang terlihat menguap sambil menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Tidurlah dikamarku, biar aku tidur disini." Kata Jisoo pada Jeonghan namun namja cantik itu malah memposisikan tubuhnya meringkuk disofa panjang yang tadinya ia duduki.
"Kamu masuklah kekamarmu Jisoo-ah, aku akan tidur disini." Kata Jeonghan sambil memejamkan matanya. Jisoo masih duduk disofa kecil yang berada disamping sofa panjang tempat Jeonghan tidur. Ia hanya duduk dan matanya terus memperhatikan wajah manis Jeonghan hingga beberapa menit. Kini Jisoo berdiri dari duduknya dan berjongkok disamping sofa panjang dan tepat di depan wajah Jeonghan yang sepertinya sudah tertidur karena nafasnya telah berhembus secara teratur. Ia memperhatikan wajah tenang Jeonghan saat tertidur. Kenapa ia merasa ragu dan kasihan saat melihat bagaimana Jeonghan percaya padanya dan menganggapnya adalah orang baik. Apa yang akan Jeonghan lakukan jika namja cantik itu tahu siapa sebenarnya Jisoo dan apa yang akan Jisoo lakukan pada Jeonghan. Apakah Jeonghan akan ketakutan dan lari darinya. Kenapa Jisoo merasa takut jika itu semua terjadi. Kenapa Jisoo merasa takut akan kehilangan Jeonghan. Bahkan Jisoo sendiri ragu apakah dia akan tega melihat Jeonghan menderita. Tidak Jisoo tidak boleh kalah dengan yang namanya cinta, tidak mungkin Jisoo menyukai Jeonghan. Jisoo yakin perasaannya masih untuk Seungkwan dan walaupun namja itu sudah tidak ada didunia ini perasaannya tidak akan berubah. Tidak ada yang bisa merubah perasaannya untuk Seungkwan termasuk Jeonghan.
"Aku harus segera membereskanmu sebelum aku terjebak dengan perasaanku." Kata Jisoo pelan sambil tersenyum sinis kearah Jeonghan. Ia segera berjalan masuk menuju kamarnya dan meninggalkan Jeonghan yang sudah tertidur lelap diatas sofa. Jisoo bahkan tidak berniat membawakan selimut untuk Jeonghan. Biar saja namja cantik itu kedinginan, itu sama sekali bukan urusannya. Lagipula bukan Jisoo yang menyuruh Jeonghan menginap diapartemennya. Mulai sekarang Jisoo tidak akan bersikap lembut lagi pada Jeonghan atau dia sendiri yang akan terbawa suasana. Jisoo hanya perlu memulai misinya sebentar lagi. Dia tidak ingin membuang-buang waktu, ia hanya perlu membereskan semuanya lalu menghilang. Ya itu sangat mudah untuk Jisoo.
.
.
.
.
.
.
"Ahjumma, bolehkah aku melihat kamar Seungkwan-ah." Kata seorang namja kepada wanita paruh baya yang tengah duduk sofa depannya.
"Tentu saja." Kata wanita setengah baya itu lalu tersenyum.
"Terimakasih ahjumma, kalau begitu aku keatas dulu." Kata namja itu lalu membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada wanita setengah baya didepannya dan mulai berjalan menaiki tangga kayu yang ada dirumah sederhana itu.
"Seokmin-ah, Seungkwan pasti sangat senang kamu selalu meluangkan waktu untuk mampir kesini." Kata wanita setengah baya itu saat namja bernama Seokmin itu sudah melangkahkan kakinya menaiki 3 anak tangga.
"Aku juga sangat senang bisa datang kesini." Kata Seokmin dan hanya dibalas senyuman oleh wanita setengah baya itu.
Seokmin segera melanjutkan langkahnya dan berhasil sampai ditangga paling atas . Ia segera berjalan mendekati sebuah pintu yang dulu sangat sering ia masuki. Seokmin segera membuka pintu itu dan masuk secara perlahan untuk mengedarkan pandangannya kesetiap ujung ruangan. Tidak ada yang berubah sama sekali, Seokmin sangat merindukan tempat ini, dan tentu saja pemilik kamar ini. Namun ia sadar dia tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengan pemilik kamar ini. Ia berjalan menuju meja yang hanya satu-satunya dikamar itu. Ia mengambil bingkai foto yang terpampang gambar seorang namja dengan pipi chubby lengkap dengan senyum menggemaskan disana.
"Seungkwan-ah aku sangat merindukanmu, semoga kamu bahagia disana, tapi aku punya kabar buruk Seungkwan-ah, aku yakin kamu juga tidak akan menyukai semua ini. Anak-anak bodoh itu sepertinya akan membuat masalah lagi dan aku harus menghentikan mereka. Aku tidak ingin orang-orang yang tidak tahu apa-apa menjadi korban. Entah apa yang ada dipikiran mereka, mereka hanya memikirkan balas dendam. Seungkwan-ah bisakah aku menghentikan mereka? Apa yang harus aku lakukan?
Seokmin duduk dipinggiran ranjang ruangan itu lalu meletakkan kembali bingkai foto yang tadi ia pegang keatas meja. Kini ia membuka laci meja disampingnya dan pandangannya terfokus pada buku diary yang ada didalam sana. Dengan ragu Seokmin mengmbil buku itu dan menutup kembali laci meja itu. Ia melihat kearah foto Seungkwan dan tersenyum.
"Seungkwan-ah bolehkah aku membuka ini, aku yakin kamu tidak akan keberatan jika aku membacanya."
Sudah sangat lama Seokmin ingin membaca isi diary ini. Namun ia selalu ragu dan takut Seungkwan akan marah padanya. Namun kini Seokmin telah memantapkan niatnya membaca diary Seungkwan. Ia mulai membuka lembar pertama buku diary itu dan menemukan selembar foto namja yang tengah tersenyum cool lengkap dengan tatapan tajamnya. Dibelakang foto itu terdapat sebuah nama yang sudah tidak asing lagi untuk Seokmin. Dulu Seungkwan selalu membicarakan orang ini setiap hari bahkan setiap jam menit dan detik. Seokmin melanjutkan membuka setiap halaman yang ada di buku diary Seungkwan dan hampir semuanya berisi curahan hati sahabat baiknya itu dan kini Seokmin telah mencapai halaman tengah buku diary tersebut, namun saat ia membuka halaman tersebut ia menjatuhkan sesuatu dari buku itu kepangkuannya. Sebuah liontin emas, kenapa Seokmin tidak tahu kalau Seungkwan memiliki Liontin ini bahkan Seokmin belum pernah melihat liontin ini sebelumnya.
"Sepertinya ini bisa dibuka." Kata Seokmin mencoba membuka bandul lionton berbentuk hati itu, dan berhasil, Seokmin berhasil membukanya dan ia sedikit terkejut melihat isi liontin itu, ada foto orang yang sama dengan foto yang ia temukan tadi, dan disisi yang lain ada nama orang itu dalam tulisan hangul. Ia segera membuka halaman tempat liontin tadi diletakkan.
02 Januari 2012
Dear diary
Hari ini sunggu hari yang sangat sial dalam hidupku
Seperti biasa anak-anak disekolahku melakukan hal kejam yang sama padaku
Asal kamu tahu aku selalu selamat dihari-hari sebelumnya
Dan itu berkat ketiga temanku, Seokmin, Jisoo dan Mingyu
Aku benar-benar berhutang banyak pada mereka
Entah kenapa disaat seluruh siswa disekolahku membullyku
Mereka yang notabene siswa-siswa popular disekolahku malah membelaku mati-matian
Tapi mereka sama sekali tidak sadar bahwa dengan mereka bersikap baik padaku
Justru membuat siswa-siswa lain semakin mebullyku
Namun aku tidak pernah memberitahu mereka bagaimana siswa-siswa itu terus menerorku bahkan saat aku sedang berada dirumah
Dan saat ini adalah hari dimana aku merasa aku benar-benar akan mati
Aku baru saja akan pulang kerumah saat teman-teman sekelasku yang lebih pantas kusebut musuh menghadangku dan menyeretku tanpa ampun
Mereka membawaku kesebuah danau
Entah apa yang akan mereka lakukan padaku aku hanya pasrah dan tidak melawan
Tiba tiba saja salah satu dari mereka menendang perutku dan membuatku jatuh tersungkur
Lalu aku merasakan mereka menginjak kakiku dan itu sangat sakit
Meraka terus memukuliku hingga aku tidak sadarkan diri
Namun aku masih bisa merasakan saat mereka mengangkat tubuhku lalu mendorongku hingga tubuhku tercebur kedalam danau yang sangat dalam itu
Aku tidak bisa berenang dan ditambah lagi aku tidak bisa bergerak karena tubuhku penuh dengan luka
Aku yakin hari ini aku akan mati karena tubuhku sudah mulai tenggelam kedalam danau
Tapi aku merasakan ada yang menarik tanganku
Dan aku sudah tidak bisa mengingat apapun lagi karena saat aku sadar tubuhku sudah berada dirumah sakit
Ibuku terlihat panik dan khawatir namun aku segera menenangkannya dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja
Aku juga meminta ibuku untuk merahasiakan keadaanku dari Seokmin, Jisoo dan Mingyu
Aku tidak ingin mereka khawatir dan aku juga tidak ingin merepotkan mereka lagi
Aku memilih tidak berangkat kesekolah selama seminggu sampai aku benar-benar sembuh
Aku juga berbohong kepada mereka jika aku sedang berada dirumah nenekku di Jeju.
Aku ingat bahwa aku bisa selamat karena ada orang yang telah menolongku dan aku ingin tahu orang itu
Saat itu aku bertanya pada ibuku siapa yang telah menolongku dan membawaku kerumah sakit
Namun ibu bilang dia tidak tahu karena saat ibu sampai dirumah sakit orang itu sudah tidak ada
Aku juga bertanya kepada seluruh dokter dan suster dirumah sakit namun tidak ada satupun dari mereka yang tahu
Saat itu aku sedang makan siang dirumah sakit dan seorang suster mendekatiku dan memberikan sebuah kalung liontin kepadaku
Dia bilang menemukan itu tersangkut dibajuku
Aku mengambil liontin itu dan mencoba membuka bandul berbentuk hati yang ada pada kalung itu
Setelah berhasil membukanya aku melihat ada foto didalam liontin itu
Foto seorang namja seumuran denganku dengan tatapan tajam namun senyumnya sangat manis, ia memiliki lesung pipi saat tersenyum
Dan disisi satunya terdapat nama yang kuyakini pemilik liontin ini
Choi Seungcheol sungguh nama yang bagus sesuai dengan wajah tampan pemiliknya
Aku yakin liontin ini milik orang yang telah menolongku karena liontin ini tersangkut dibajuku
Aku benar-benar beruntung karena malaikat penolongku meninggalkan petunjuk untukku agar aku bisa menemukannya
Dan mulai saat itu aku mencari tahu segala hal tentang Choi Seungcheol
Saat itu aku menyadari bahwa aku menyukai Choi Seungcheol
Orang yang telah menyelamatkan hidupku
"Seharusnya aku membaca ini lebih awal." kata Seokmin pelan dan memandang sedih kearah foto Seungkwan.
.
.
To be Continue….
.
.
.
.
.
.
Author hadir lagi, hahahaha sesuai sub titlenya secret yaitu rahasia, Jadi ada sebagian rahasia yang terbongkar disini, tapi akan ada rahasia dibalik rahasia. maksudnya? author juga bingung hahahaha,
hidup Jeonghan kayaknya ngenes banget ya nggak ada manis-manisnya gitu kira-kira endingnya bakal sad apa happy ya? hehe ditunggu aja lah, maaf jika ceritanya sulit dicerna, emang makanan ya hahahaha. Ceritanya emang rumit tapi tenang aja karena sedikit demi sedikit semuanya akan terbongkar.
Reviewnya please #maksa
Aku emang sengaja buat update cepet hehe soalnya mumpung bulan ini banyak waktu luang, oke sampai disini dulu dan sampai jumpa dichapter selanjutnya...see you
Mansae Mansae Mansae Yeah Mansae Mansae Mansae Yeah
Review Review Review Yeah Review Review Review Yeah
.
.
