True or False
( My Old Story )
Seventeen Seunghan / Jeongcheol Fanfiction
Cast
Jeonghan
Seungcheol
Jihoon
Joshua
Mingyu
Wonwoo
Vernon
Jun
.
.
.
.
Chapter ini terinspirasi dari lagu IU yang My Old Story, lagunya keren banget dan sedih gitu kalo dengerin lagunya dan ada liriknya yang sedikit aku pakai, pokoknya pas deh didengerin sambil baca ff ini
.
.
.
Malam yang indah dari masa lalu
ketika kita masih kecil
Aku masih cinta Kau Choi Seungcheol yang egois
Kau mencoba untuk mengambil semua yang aku punya,
kau orang yang tak berperasaan
Apakah kau terlalu gengsi untuk mengatakan mencintaiku?
Apakah kau tidak menyukaiku?
Aku masih tidak bisa mengerti
Jika kau mendengar lagu ini,
mohon datang padaku
Seungcheol, aku menunggumu
Kau orang yang tak berperasaan
Malam ini mencoba untuk mengambil semua milikku,
kau orang yang egois
Malam ini,
besok malam dan malam setelah itu
Aku akan menunggumu selamanya
Walaupun aku tahu kamu tidak akan pernah datang padaku
Jeonghan
.
.
.
.
.
"Kenapa kamu menciumku? Kamu merebut ciuman pertamaku bodoh, seharusnya kamu mencium orang yang kamu cintai, dan juga seharusnya aku dicium oleh orang yang aku cintai." Jeonghan kecil merengut sambil berjalan mendahului Seungcheol. Saat itu umur mereka masih 8 tahun.
"Tapi aku mencintaimu, apa kamu tidak mencintaiku?" Tanya Seungcheol sambil menggenggam tangan Jeonghan."
"Apa maksudmu? Kita kan teman mana mungkin saling mencintai."
"Jadi kamu tidak mencintaiku ya? Emm baiklah aku akan menunggumu sampai kamu mencintaiku." Kata Seungcheol lalu melepaskan tangan Jeonghan dan berjalan mendahului namja manis itu.
.
.
.
.
5 tahun kemudian
"Seungcheol-ah apa kamu masih ingat saat kita berusia 8 tahun dan kamu menciumku?" Tanya Jeonghan saat ia berangkat kesekolah berdua dengan Seungcheol .
"Oh itu, ya aku masih ingat, kenapa?" Tanya Seungcheol masih tetap berjalan disamping Jeonghan tanpa menoleh kearah namja cantik itu.
"Dan apakah kamu masih ingat saat kamu bilang kamu mencintaiku?"
"Benarkah aku bicara seperti itu?" Tanya Seungcheol dan kini menengok kearah Jeonghan.
Jeonghan hanya mengangguk dan kini Seungcheol kembali menatap kearah depan.
"Aku sama sekali tidak ingat, waktu itu kita kan masih kecil, kalau memang aku mengatakannya aku yakin saat itu aku bahkan tidak paham apa yang namanya cinta, dan mungkin aku terlalu sering mendengar orang tuaku berbicara soal cinta makanya aku bicara seperti itu padamu."
"Begitu ya?, mungkin anak kecil pikir cinta itu makanan yang enak atau mainan yang selalu diinginkan anak kecil kali ya, bukankah itu sangat lucu, orang dari berbagai usia akan berpikir berbeda tentang cinta, ah kini aku baru sadar bahwa aku sudah mulai tumbuh." Kata Jeonghan mencoba untuk tertawa.
Seungcheol melirik sekilas kearah namja cantik disebelahnya yang kini sedang tertawa.
.
.
.
.
.
.
Jeonghan baru saja membuka matanya dan melihat Jisoo sudah berdiri disampingnya. Namun ada yang aneh dengan namja tampan itu. Jisoo menatap tajam pada Jeonghan dan itu membuat Jeonghan merasa bingung.
"Selamat pagi Jisoo-ya, kau sudah bangun?" Tanya Jeonghan lalu tersenyum kepada Jisoo.
"Ini sudah siang kau tidak pulang?"
Jeonghan sangat terkejut saat Jisoo tiba-tiba berbicara dengan nada kasar padanya padahal biasanya Jisoo selalu berbicara dengan nada sangat lembut. Ini benar-benar membingungkan untuk Jeonghan. Apa Jisoo sedang ada masalah dan membuatnya berubah sedrastis ini.
"Jisoo-ya kamu kenapa? Kamu tidak biasanya seperti ini?" Tanya Jeonghan sambil memandang kearah Jisoo yang masih menatapnya tajam.
"Sampai kapan kamu mau disini, pulanglah, atau aku yang harus mengusirmu dari sini." Kata Jisoo tanpa mempedulikan kebingungan Jeonghan.
"Tapi aku masih mau disini Jisoo-ya, apa kamu sedang ada masalah ?, ceritakanlah padaku mungkin aku bisa membantumu." Kata Jeonghan lalu bangkit dan berdiri dihadapan Jisoo.
"Masalahnya adalah dirimu Yoon Jeonghan." Jawab Jisoo dengan nada sinis dan didalam hati ia menertawakan dirinya sendiri karena selalu terlihat seperti orang bodoh dihadapan Jeonghan.
"Apa maksudmu ?" Jeonghan semakin bingung dengan sikap Jisoo, apakah Jeonghan melakukan kesalahan pada Jisoo sehingga namja tampan itu terlihat marah padanya.
"Aku benar-benar sudah muak pura-pura baik padamu Yoon Jeonghan, kamu selalu tersenyum setiap kali aku berbuat baik padamu dan itu benar-benar membuatku gila. Selama ini aku tidak benar-benar baik padamu, dan aku sangat puas saat kamu percaya dengan kebohonganku."
"Apa yang kamu katakan Jisoo-ya? Kamu sedang bercanda kan ?"
"Aku tidak sedang bercanda Jeonghan-ah, aku benar-benar bukan orang yang baik dan aku bisa saja menyakitimu kapanpun aku mau." Jisoo berjalan mendekat kearah Jeonghan, namun namja cantik itu mundur perlahan setiap kali Jisoo mendekat.
"Aku sudah memperingatkanmu Yoon Jeonghan, jangan terlalu percaya dengan kebaikan, tapi kamu tidak mendengarkan peringatanku." Jeonghan sudah tidak bisa mundur lagi karena dibelakangnya ada sofa panjang yang menghalanginya untuk menjauh dari Jisoo yang kini sudah berada tepat didepannya.
"A…apa yang akan kau lakukan Jisoo-ya? Aku tahu kamu bukanlah orang jahat, kamu tidak mungkin menyakitiku kan?'
"Apa menurutmu aku adalah orang baik Jeonghan-ah? Baiklah kalau begitu aku akan membuktikan padamu kalau aku ini bukan orang baik, Mari kita lihat seberapa jauh aku akan menyakitimu." Jisoo mendorong tubuh Jeonghan kesofa panjang yang ada dibelakang namja cantik itu lalu naik keatas tubuh Jeonghan.
"Jisoo-ya apa yang kau lakukan, lepaskan aku." Jeonghan mencoba berontak saat kedua tangannya dicekal oleh Jisoo dengan posisi namja tampan itu berada diatasnya.
Sepertinya Jisoo tidak peduli dengan teriakan Jeonghan dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Jeonghan dan menempelkan bibirnya kebibir Jeonghan. Jisoo terus mencium bibir Jeonghan dengan kasar, ia sama sekali tidak berniat menghentikan ciumannya walaupun Jeonghan terus berontak, nafas Jeonghan sudah mulai tersendat-sendat namun Jisoo tidak juga menghentikan ciumannya. Bahkan namja tampan itu menggigit bibir bawah Jeonghan dan membuat cairan merah kental mengalir dari bibir namja cantik itu. Jeonghan sudah mulai menangis dan ketakutan, ia selalu mengutuki dirinya sendiri kenapa ia diciptakan menjadi seorang namja yang lemah, seharusnya dia belajar bela diri atau rajin berolahraga agar dia bisa melawan jika dia dalam posisi seperti ini.
Jisoo melepaskan ciumannya dari Jeonghan dan beranjak berdiri dan mundur beberapa langkah lalu menatap Jeonghan yang masih terduduk disofa. Namja cantik itu masih terisak dan tangannya mengusap bibir bawahnya yang berdarah.
"Pergilah dari sini sebelum aku bertindak lebih jauh dari ini." Kata Jisoo sambil matanya masih menatap tajam kearah Jeonghan.
Tanpa berkata apapun Jeonghan segera berdiri dan berlari menuju pintu apartement Jisoo. Ia segera membuka pintu yang memang tidak terkunci lalu keluar masih sambil menangis. Ia sangat sedih bagaimana bisa Jisoo bersikap seperti ini padanya. Kenapa ia terlalu bodoh dan percaya dengan apapun yang Jisoo katakan selama ini. Kenapa ia terlalu percaya dengan kebaikan namja itu. Apa sebenarnya tujuan Jisoo mendekatinya selama ini. Apa salahnya pada Jisoo sehingga namja itu begitu benci padanya. Apa tidak ada sedikit saja kebahagiaan untuknya. Kenapa seolah dunia ini begitu memojokkannya. Sebenarnya dosa apa yang sudah ia lakukan sehingga ia dihukum seberat ini.
Jeonghan terus berjalan menjauh dari apartemen Jisoo tanpa tahu tujuan kemana ia akan pergi. Dan ia tidak mungkin pulang kerumah karena ia masih belum menerima keputusan orangtuanya untuk bercerai. Lalu sekarang dia harus kemana, Jeonghan benar-benar tidak tahu kenapa hidupnya begitu sulit. Ia benar-benar iri dengan orang lain yang selalu terlihat bahagia dengan kehidupan mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
JIHOON POV
Aku sedang berdiri disamping mesin cuci sambil memegang jaket yang baru saja selesai aku cuci. Walaupun sudah dikeringkan secara otomatis namun masih sedikit basah dan masih perlu dijemur sebentar agar benar-benar kering sepenuhnya. Aku mencium sebentar aroma dijaket itu dan tersenyum puas dengan hasil cucianku sediri, perlu diperjelas bahwa aku mencuci sediri jaket milik Soonyoung padahal aku sama sekali tidak pernah mencuci bajuku sendiri. Kenapa aku harus melakukan ini semua demi namja menyebalkan itu. Kenapa aku harus membuat jaket ini bersih dan seharum mungkin.
"Dasar Jihoon bodoh." Kataku pada diri sendiri karena terlalu bodoh dengan tingkahku.
Aku segera memanggil pelayan dirumahku untuk menjemurkan jaket Soonyoung ditempat penjemuran. Setelah itu aku segera berlari kekamarku untuk memeriksa ponselku apakah ada pesan masuk dari Soonyoung. Dan kalian pasti akan menganggapku gila karena hampir setiap jam menit dan detik aku menunggu sms dari seorang Kwon Soonyoung. Bahkan aku sendiripun juga merasa pasti aku sudah gila.
"Apa kau sudah mencuci jaketku? Kembalikan segera." Itulah pesan yang kuterima dari Soonyoung ,dan apa kalian tahu bagaimana ekspresiku saat ini. Aku berjingkrak jingkrak sambil tersenyum tidak jelas layaknya penyanyi yang baru saja mendapatkan penghargaan diacara awards. Aku bahkan yakin seorang penyanyi yang baru mendapatkan awardspun tidak akan selebay ini tapi bukankah aku sangat aneh. Bahkan pesan dari Soonyoung bukanlah pesan manis untuk seorang kekasih tapi lebih tepat pesan untuk mengingatkanku bahwa aku masih punya hutang mencucikan jaketnya dan dia sedang menagihnya.
"Ya, aku baru saja selesai mencucinya, sekarang aku sedang menjemurnya dan nanti sore pasti sudah kering."
"Kalau begitu nanti malam kembalikan Jaketnya padaku, kita bertemu dicafe kemarin." Soonyoung~
"Baiklah." Jihoon
JIHOON POV End
.
.
.
.
.
.
"Seungcheol-ah kenapa dari tadi diam saja, kamu tidak senang jalan denganku." Tanya Doyoon dengan kesal karena Seungcheol sama sekali tidak mendengarkan apapun yang ia katakan.
"Tidak, bukan begitu, aku hanya sedikit lelah karena terlalu capek latihan basket untuk kompetisi minggu depan." Jawab Seungcheol berbohong.
"Benarkah? Atau kamu seperti ini karena Jeonghan?" Doyoon seperti tahu apa yang ada dipikiran Seungcheol saat ini dan Seungcheol bisa melihat wajah sedih Doyoon saat menyebut nama Jeonghan.
"Tentu saja tidak, bukankah aku sudah memiliki dirimu." Kata Seungcheol mencoba meyakinkan Doyoon agar namja manis itu tidak bersedih.
"Seungcheol-ah kamu tahukan aku sangat mencintaimu dan aku selalu percaya apapun yang kamu katakana padaku jadi jangan pernah mengecewakanku."
"Ya, aku tahu Doyoon-ah, maaf karena selalu membuatmu sedih, tapi aku berjanji tidak akan mengecewakanmu." Kata Seungcheol dengan sungguh-sungguh dan dibalas senyuman oleh Doyoon.
"Lebih baik kita pulang, kamu perlu istirahat Seungcheol-ah." Doyoon beranjak dari duduknya dan memanggil pelayan untuk meminta bill. Seungcheol segera ikut berdiri lalu membayar makanan yang sudah mereka pesan namun belum sempat mereka makan sedikitpun.
Seungcheol dan Doyoon hanya saling diam dalam perjalanan pulang tanpa mengucapkan sepatah katapun. Seungcheol menggenggam dengan erat tangan Doyoon dan memasukkan tangan mereka kedalan saku coat yang ia pakai agar namja disebelahnya merasa sedikit lebih hangat.
"Malam ini aku akan menginap diapartemenmu." Kata Doyoon tiba-tiba dan membuat Seungcheol harus menengok kearah Doyoon yang sedang berjalan disampingnya.
"Sebaiknya kamu tidur dirumahmu, aku akan mengantarmu pulang, orangtuamu pasti mencemaskanmu."
"Tidak, aku tidak mau pulang Seungcheol-ah, apa kamu keberatan aku menginap diapartemenmu? Kalau kamu keberatan aku akan tidur diluar saja, biar saja aku mati membeku atau mati dibunuh orang jahat yang berkeliaran dimalam hari, aku yakin kalau aku mati tidak akan ada yang peduli padaku."
"Kenapa kamu bicara begitu, jangan bertingkah kekanank-kanakan dan mencoba membahayakan diri sendiri, kamu tahukan aku sangat menghawatirkanmu Doyoon-ah?" namja manis itu hanya menunduk saat Seungcheol berbicara dengan nada khawatir padanya.
"Malam ini kamu boleh menginap diapartemenku tapi berjanjilah besok pagi kamu akan pulang kerumahmu dan jangan kabur-kabur lagi dari rumah karena orangtuamu akan mencemaskanmu."
"Ya, aku berjanji Seungcheol-ah, dan terima kasih karena kamu sudah menghawatirkanku." Kata Doyoon sambil tersenyum lalu memeluk Seungcheol dengan tiba-tiba. Seungcheol sedikit terkejut namun segera membalas pelukan namja manis itu. Setelah beberapa saat berpelukan, Doyoon melepaskan pelukan mereka begitupun dengan Seungcheol. Namun Seungcheol kembali dibuat terkejut saat Doyoon tiba-tiba menciumnya, Seungcheol hanya diam dan bingung harus bagaimana, ia tidak menolak namun juga tidak membalas ciuman Doyoon. Namun ia merasa sangat bersalah jika dia tidak membalas ciuman namja manis itu, bukankah mereka adalah sepasang kekasih, bukankan Seungcheol sudah berjanji pada Doyoon untuk tidak mengecewakan namja manis itu. Jika Seungcheol tidak membalas ciuman Doyoon mungkin dia akan membuat namja manis itu kecewa. Lagipula tidak ada salahnya kalau ia membalas ciuman Doyoon karena dengan begitu mungkin secara perlahan ia bisa mencintai Doyoon dan melupakan Jeonghan. Seungcheol merapatkan Tubuh mereka dengan memeluk pinggang ramping Doyoon. Ia membalas ciuman Doyoon dan melumat bibir bawah Doyoon dengan perlahan. Ia bisa merasakan Doyoon tersenyum bahagia dalam ciuman mereka. Namun tanpa mereka ketahui ada sepasang mata yang memperhatikan mereka. Sepasang mata yang memancarkan kesedihan disana.
.
.
.
.
.
.
.
.
Soonyoung POV
Aku melihat pesan masuk dari ponselku.
"Aku akan menginap dirumah temanku untuk beberapa hari, jangan khawatir, aku baik-baik saja."
Itu pesan dari Jeonghan tadi malam, tapi saat aku bertanya ia menginap dirumah siapa, namja cantik itu hanya membalas "rahasia". Sebenarnya aku khawatir tapi aku selalu meyakinkan diriku sendiri bahwa Jeonghan akan baik-baik saja.
Lalu kini mataku beralih pada pesan yang baru aku terima beberapa jam yang lalu
"Ya, aku baru saja selesai mencucinya, sekarang aku sedang menjemurnya dan nanti sore pasti sudah kering."
"Baiklah."
Pesan dari Jihoon, aku sudah melihatnya beberapa kali dan selalu tersenyum setiap kali membacanya. Padahal pesannya tidaklah special atau menarik sama sekali. Sebenarnya aku senang bukan karena pesan itu tapi karena nanti malam aku akan bertemu dengan namja mungil itu. Dan aku sudah tidak sabar untuk nanti malan tapi kenapa waktu terasa berjalan sangat lama, mungkin karena aku terus menatap setiap pergerakan jarum jam yang ada dikamarku. Mungkin aku saat ini terlihat seperti seorang idiot yang bertingkah konyol hanya karena seorang Lee Jihoon.
"AHHHHHH, ada apa denganmu Kwon Soonyoung." Kataku sambil mengacak rambut pirangku.
Soonyoung POV End
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jun mengambil cangkir kopi didepannya dan meminumnya sedikit lalu meletakkan kembali diatas meja.
"Vernon dan Seungcheol kemana?" Tanya Wonwoo sambil mengaduk cangkir kopi didepannya dengan sendok lalu meminumnya secara elegan.
"Vernon sedang ada urusan dan Seungcheol sedang kencan dengan pacar barunya." Kata Jun sambil memandang luar jendela. Sepertinya salju sudah mulai turun diluar sana. Orang-orang juga mulai berlarian dan mempercepat langkah mereka untuk menghindari salju dan hawa dingin. Mereka lebih memilih memasuki restaurant, café atau pertokoan untuk menghangatkan tubuh mereka.
"Lebih baik kita pulang saja, mau menginap dirumahku? Tawar Wonwoo pada Jun dan dibalas anggukan oleh namja keturunan China itu.
Jun dan Wonwoo segera beranjak pergi dari tempat itu sebelum salju turun lebih lebat. Mereka berjalan dengan langkah cepat agar segera sampai dirumah Wonwoo. Mereka memutuskan mencari jalan pintas menuju rumah wonwoo karena akan sangat lama jika mereka lewat jalan utama. Saat ini Jun dan Wonwoo berjalan melewati beberapa gang yang lumayan sepi dan agak gelap. Sebenarnya ini masih sore namun karena cuaca sedang tidak baik jadi keadaan diluar sudah gelap.
"Apa tidak apa-apa kita lewat sini?" Tanya Wonwoo pada Jun yang mulai memperlambat langkahnya.
"Jangan khawatir, aku kan jago bela diri, kalau ada yang menyerang kita aku akan menghabisi mereka semua." Kata Jun dengan percaya diri. Sejak kecil Jun memang telah mempelajari beberapa ilmu bela diri dari Wushu, taekwondo, karate dan beberapa bela diri lainnya yang Wonwoo tidak tahu namanya. Apalagi Jun juga sudah sering ikut turnamen dan memenangkannya, jadi Wonwoo bisa lebih tenang karena ada Jun disini. Mereka masih berjalan santai walaupun saljun sudah turun sangat lebat. Mereka tetap harus waspada walaupun Jun jago bela diri dan Wonwoo juga sudah sangat sering berkelahi, karena akan sangat berbahaya jika tiba-tiba ada yang menyerang mereka dan mereka sedang lengah. Namun langkah mereka terhenti saat ada keributan dari arah depan yang tidak terlalu jauh dari mereka. Sebenarnya bukan keributan tapi lebih tepatnya ada seseorang yang sedang dihadang dan dikepung beberapa preman. Jun dan Wonwoo tidak bisa melihat siapa orangnya, tapi sepertinya mereka harus membantu orang itu. Mereka segera mendekati preman-preman itu dan melihat orang yang kini tengah terlentang ditanah dan dipegangi beberapa preman. Jun dan Wonwoo sangat terkejut melihat orang itu ternyata adalah Jeonghan. Jun segera berlari dan memukul salah satu dari preman itu dan diikuti oleh Wonwoo. Jun dengan sangat lincah melumpuhkan satu persatu preman yang jumlahnya ada 8 orang itu. Sementara Wonwoo segera mendekati Jeonghan yang masih tergeletak ditanah. Jeonghan masih mengenakan pakaian lengkap namun jaketnya sobek dibeberapa bagian.
"Jeonghan-ah kamu tidak apa-apa?" Tanya Wonwoo sambil membantu membangunkan Jeonghan. Namun Wonwoo sangat terkejut saat mencium bau alkohol dibadan Jeonghan.
"Kenapa semua orang ingin memperkosaku! apa tubuhku begitu diinginkan oleh semua orang, apa kau tidak menginginkannya ha?, apa kau tidak ingin tidur denganku, apa kau tidak ingin menyentuhku, cepat lakukan, lakukan apaun yang kau suka." Jeonghan berteriak didepan wajah Wonwoo sambil menarik jaket yang dipakai Wonwoo.
"Jeonghan-ah kamu sedang mabuk, ada apa denganmu?, kamu tidak pernah minum alkohol sebelumnya." Wonwoo mencoba melepaskan tangan Jeonghan yang masih mencengkram jaketnya. Sementara Jun sudah selesai menghajar semua preman yang saat ini sudah kabur. Namja keturunan China itu langsung berjalan menghampiri Wonwoo dan Jeonghan. Kini Jun ikut berjongkok didekat Wonwoo dan Jeonghan.
"Kau juga, apa kau tidak menginginkanku eoh? Lakukan semau kalian, lakukan apapun yang kalian suka, cepat lakukan." Kini Jeonghan menatap kearah Jun dan Wonwoo secara bergantian. Ia melepas jaket yang ia kenakan lalu melemparnya sembarang. Ia juga melepas kemeja putihnya lalu kembali melemparnya, kini tinggal kaos putih tipis yang menempel dibadan Jeonghan. Namja cantik itu akan kembali melepas kaos putih itu namun Wonwoo mencegahnya dan memegang tangan Jeonghan yang terus berontak.
"Hentikan Jeonghan-ah, kamu sedang mabuk , berdirilah kami akan mengantarmu pulang." Wonwoo mencoba membantu Jeonghan untuk berdiri namun namja cantik itu malah mendorong tubuh Wonwoo. Kini Jun mencoba mendekat kearah Jeonghan dan memegang pundak namja cantik itu.
"Kenapa semua orang jahat padaku, kenapa? Apa salahku? Katakan apa salahku?" teriak Jeonghan sambil memukuli dada bidang Jun. Dengan kedua tangannya Jun merengkuh tubuh Jeonghan kedalam pelukannya. Namja cantik itu terus berotak namun Jun mengencangkan pelukannya hingga Jeonghan mulai tenang dan tidak melawan.
"Tenanglah, tidak akan ada yang bisa menyakitimu, ada aku dan Wonwoo disini, kami akan melindungimu." Jun mencoba menenangkan Jeonghan sementara Wonwoo memunguti jaket dan kemeja milik Jeonghan.
"Sepertinya Jeonghan ketiduran." Kata Jun pada Wonwoo saat Jeonghan sudah tidak bergerak dan tidak bersuara lagi dalam pelukan Jun.
"Lebih baik kita segera pulang, kita akan membeku jika tidak segera pergi dari sini." Kata Wonwoo sambil memakaikan kemeja dan jaket Jeonghan ketubuh namja cantik itu. Seteah itu Wonwoo menggendong tubuh Jeonghan dipunggungya dan berjalan pergi dari sana dengan Jun yang berjalan disebelahnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jisoo tengah duduk terdiam disofa apartemennya. Ini sudah hampir malam dan sedari tadi pagi ia terus seperti itu, duduk disofa itu dan belum beranjak dari sana sampai saat ini. Ia bahkan tidak makan dan minum seharian. Ia terus mengepalkan tangannya dan tatapannya kosong. Tidak, tidak benar-benar kosong karena saat ini dihadapannya ia melihat bayangan seorang namja cantik dengan rambut panjang sebahu tengah tersenyum padanya.
"Kenapa kamu terus menggangguku? Kenapa kamu terus tersenyum seperti itu padaku? Apa kamu sedang mengejekku?" tiba-tiba ia bicara sendiri pada bayangan didepannya.
"Jangan berharap aku akan berhenti menyakitimu, ini baru awal Yoon Jeonghan, dan kau tidak akan bisa menghentikanku, TIDAK AKAN BISA." Teriak Jisoo dan tangannya menyapu seluruh barang yang ada diatas meja didepannya. Gelas dan Vas yang tadinya berada diatas meja kita jatuh kelantai dan pecah berantakan. Ia berjalan menuju kamarnya lalu mengambil jaket hitam dan berjalan keluar dari apartemennya tanpa membereskan pecahan vas dan gelas yang berserakan dilantai. Jisoo segera mengambil mobilnya diparkiran dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia tidak peduli dengan salju yang kini turun sangat lebat. Ia hanya ingin melampiaskan kemarahannya dan kekesalannya pada dirinya sendiri. Ia tidak mungkin menyesal dengan apa yang ia lakukan pada Jeonghan tadi pagi. Ia tidak boleh kasihan pada namja cantik itu. Jisoo harus bisa mengontrol dirinya. Ia harus bisa mengendalikan perasaannya.
"Ini sangat menyakitkan." Ucap Jisoo pelan sambil memegangi dadanya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya masih menyetir.
"Ini tidak benar, Ini tidak benar Hong Jisoo, apa yang sudah kau lakukan, kau menyakitinya, kamu sudah menyakitinya. Dia akan membencimu." Jisoo terus berbicara tanpa sadar dan air matanya keluar begitu saja. Ia tidak bisa menahannya untuk saat ini. Ia menghentikan mobilnya dipinggir jalan lalu meletakkan kepalanya diatas setir mobil didepannya. Ia menangis, ini yang ketiga kalinya dia menangis selama hidupnya. Pertama kali ia menangis yaitu saat ia dilahirkan, kedua saat dimana Seungkwan meninggal dan yang ketiga adalah hari ini, saat ia baru saja menyakiti seseorang yang tidak seharusnya ia sakiti tapi tetap harus ia sakiti.
"Yang kulakukan sudah benar atau salah? True or False ?" Jisoo terus bertanya pada diri sendiri namun ia sama sekali tidak tahu jawabannya. Dan itu benar-benar membuatnya menjadi gila.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Aku harus menemuinya dan bertanya langsung padanya, agar semuanya lebih jelas." Seokmin masih duduk dikursinya sambil meminum coklat hangat yang sudah ia pesan. Ia mengingat Diary terakhir yang ditulis Seungkwan sebelum namja itu meninggal
Dear Diary
Nanti malam akan menjadi hari yang menebarkan untukku
Aku benar-benar tidak sabar untuk nanti malam
Semalam aku menulis surat cinta yang sebenarnya tidak romantis namun bisa menggambarkan perasaanku
Surat itu tentu untuk orang yang sangat aku sukai
Siapa lagi kalau bukan Choi Seungcheol
Pagi ini aku menitipkan surat itu kepada teman baikku Jang Doyoon
Dia adalah teman sekelas Seungcheol jadi aku menitipkan surat itu padanya
Dan dia berjanji akan memberikan surat itu pada Seungcheol
Emm…aku akan membocorkan isi surat itu
" Apa kabar Seungcheol-ah? Apa kau masih ingat denganku? Aku Seungkwan, teman les Bahasa inggrismu, emm mungkin kamu tidak akan mengenalku tapi aku sangat mengenalmu. Sebenarnya aku sudah menyukaimu sejak kita pertama bertemu. Mungkin ini sangat mengejutkanmu. Tapi bisakah kita bertemu di jalan Cheonsa jam 7 malam, apapun jawabanmu datanglah, aku tidak masalah jika kau menolakku, dengan kau datang saja aku sudah sangat bahagia, aku akan menunggumu sampai kau datang jadi jangan sampai tidak datang"~Seungkwan
Sungguh surat yang sangat simple dan tidak menarik kan?
Tapi aku sangat puas dengan hasil tulisanku
Ya ampun jantungku terus berdebar sejak menulis surat itu
Semoga sukses untuk nanti malam
Seungkwan Fighting
Itulah Diary terakhir yang ditulis Seungkwan. Seokmin ingin tahu kenapa malam itu Seungcheol tidak datang. Ia ingin mendengarkan langsung dari mulut Seungcheol. Ia mengeluarkan 2 lembar foto dari saku celananya. Foto pertama adalah foto seorang namja dengan wajah sangat manis dan lebih mengarah ke cantik. Walaupun rambutnya dipotong pendek tapi ia sama sekali tidak terlihat seperti seorang namja dan lebih terlihat seperti seorang yeoja tomboy. Dan foto kedua adalah foto namja berambut panjang sebahu dengan warna pirang keabu-abuan, cantik sekali dan sama sekali tidak terlihat seperti seorang namja, mungkin orang yang tidak mengenalnya akan berpikir dia adalah seorang yeoja. Foto pertama ia dapatkan dari Doyoon, tepatnya 4 tahun lalu setelah kematian Seungkwan dan foto kedua dia dapat dari Chan yang tak lain adalah adik kelas namja yang ada difoto itu. Sebenarnya kedua foto itu adalah foto orang yang sama, hanya saja foto itu diambil ditahun yang berbeda.
"Yoon Jeonghan ya? Pasti dia adalah namja yang baik, bagaimana bisa orang-orang bodoh itu menyakitinya." Seokmin terus berguman sambil memperhatikan kedua foto itu.
.
.
.
.
.
.
.
To be Continue...
.
.
Hai hai aku datang lagi. dichapter ini ceritanya lebih pendek tapi tenang aja semoga dichapter selanjutnya bisa lebih panjang ya. Buat yg udah Review terima kasih banyak, juga follow/ fav juga terima kasih
noviliaAS : maunya sih happy ending tapi...
vipbigbang74 : heem banyak bgt konfliknya tapi tenang aja Jeonghan banyak yang sayang kok
JonginDO : ini udah di next, ditunggu terus yah reviewnya
jeonjk : nggak semuanya suka Seungcheol kok, tp emang enak sih jd Seungcheol cuman kalau aku lebih enak jd Jeonghan sungguhan karena bisa skinship sama semua member woaaaaaa...kyaaaaa thank you bgt yah koreksinya, hehe aku seneng bgt deh ada yg perhatian sama ff ku, sebenernya ini ff pertamaku yg pake imbuhan2 gitu soalnya biasanya aku buat ff langsung nama tapi berhubung ada temen yg nyaranin buat nambah imbuhan biar enak dibaca yah aku turutin kemauannya, udah aku koreksi dichapter ini dan kalau ada waktu aku usahain dichapter sebelumnya bakal aku edit,
RinatyaJoYunjae Shipper : iya kesalahpahaman yang menyakitkan, aku juga nggak rela kalo junghan disakiti huhuhu
nene137 : aku juga sedih Jeonghan terus disakiti tapi happy ending nggak ya...
msr1205: aku juga nggak ingin sad ending cuman...
Seoyong : happy ending nggak ya...
cheonsa : thank you, ini aku juga semangat kok tentunya karena review dr kalian, ditunggu terus yah reviewnya
Min : tau nih joshua, kirain baik eh ternyata... nih udah aku usahain update cepet
xoxoexo12 : terimakasih banyak karena udah suka ff ini, iya aku juga nggak rela jeonghan terus disakiti
mian kalau ada yg belum saya balas reviewnya, tapi ditunggu terus reviewnya, semoga kalian suka ffnya see you...
