True or False
( Sorry But I )
Seventeen Seunghan / Jeongcheol Fanfiction
Cast
Jeonghan
Seungcheol
Jihoon
Joshua
Mingyu
Wonwoo
Vernon
Jun
.
.
.
.
.
Dan lagi aku terinspirasi dari lagu yang sering aku dengarkan, C-REAL Sorry But I, Lagunya keren dan feelnya dapet banget, Semoga FF nya nggak membosankan
.
.
.
.
.
Sekali lagi hari ini, Kau mengatakan hal-hal tak berguna
Mengapa kau melakukan ini, mengapa kau terus menekanku?
Hal tidak selalu bisa baik setiap hari
Tapi Kau mengatakan bahwa aku berubah ketika kita bersama
Apakah Kau mengerti aku dengan hati luasmu?
Apakah Kau akan menunggu sebentar untukku dengan hati besarmu?
Aku ingin mengatakan mencintaimu, aku ingin mengatakan mencintaimu
Tapi aku pikir tidak, aku belum siap
Aku ingin mengatakan mencintaimu, aku ingin mengatakan mencintaimu
Tapi aku rasa, aku masih memikirkan hal lain
Setiap malam, Setiap hari, Setiap waktu
Bahkan saat aku bersamamu Aku selalu memikirkan dia
Kemarin,
Kau bertanya kepadaku apa yang sedang kupikirkan hingga pandanganku kosong
Pada pertanyaanmu, yang aku tidak bisa menjawab
Aku hanya menundukkan kepala dengan rendah dan meneteskan air mata
Kemudian dengan wajah sedih, Kau melihatku
Kau melihatku seakan jika Kau telah mengetahui sesuatu
Maaf, maaf, aku menyesal sayang
Aku benar-benar menyesal
Maaf, maaf, aku menyesal sayang
Semuanya, semuanya salahku
Walaupun saat ini kita bersama
Tapi hatiku masih untuknya
Maaf
Seungcheol~Doyoon
Sepasang namja tengah berpelukan dan menikmati ciuman mereka diatas ranjang empuk dan merasakan kehangatan satu sama lain walaupun udara diluar sangatlah dingin, kedua namja itu kini bertelanjang dada namun tidak benar-benar telanjang karena mereka masih mengenakan celana jeans ditubuh bagian bawah mereka masing-masing.
Setelah puas dengan ciuman mereka, namja yang berada dibawah kini mengarahkan tangannya pada resleting celana namja diatasnya namun namja yang berada diatas segera mencegah tangan itu lalu beranjak dari posisinya.
"Maaf Doyoon-ah aku tidak bisa lebih dari ini." Kata Seungcheol sambil beranjak dari tubuh Doyoon lalu turun dari atas ranjang.
"Tidurlah pasti kau sangat lelah, aku akan tidur diruang tengah." Kata Seungcheol lalu mengambil kaosnya yang tergeletak dilantai samping tepat tidur dan memakainya. Setelah mengucapkan selamat malam ia beranjak keluar dari kamarnya dan meninggalkan Doyoon sendiri yang masih tertegun dan kecewa pada sikap Seungcheol.
"Aku harus bagaimana agar kau menyukaiku Seungcheol-ah, aku harus bagaimana agar kau melupakannya, katakan padaku, apa aku harus menyingkirkannya dan membuatmu jadi milikku selamanya." Ucap Doyoon setelah Seungcheol keluar dari kamar itu. Tanpa sadar kini airmatanya menetes. Ia tidak akan membiarkan siapapun memiliki Seungcheol karena Seungcheol adalah miliknya. Apapun akan ia lakukan agar Seungcheol tetap menjadi miliknya. Sekalipun itu harus menyingkirkan orang yang mengganggu hubungan mereka.
.
.
.
.
.
.
"Seungcheol bodoh, aku menyukaimu bodoh, apa yang harus aku lakukan agar kau menyukaiku, katakan aku harus bagaimana." Jeonghan terus menerus mengigau dalam tidurnya. Wonwoo dan Jun yang berbaring di sofa samping tempat tidur dikamar Wonwoo bisa mendengarkan apapun yang Jeonghan katakan saat itu. Mata mereka memang terpejam namun mereka tidak benar-benar tertidur karena telinga mereka dipertajam untuk mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Jeonghan.
Kini mereka larut dalam pikiran masing-masing dan tanpa sadar rasa sakit timbul dihati mereka. Tentu saja mereka merasa sakit mengetahui kenyataan bahwa orang yang mereka cintai ternyata menyukai orang lain. Entah mereka harus merasa kecewa atau lega. Kecewa karena ternyata Jeonghan menyukai orang lain dan bukan mereka. Lega karena orang yang disukai Jeonghan adalah teman mereka sendiri yang sangat mereka tahu sifat luar dalamnya. Namun tiba-tiba mereka sadar bahwa Seungcheol sudah memiliki kekasih dan mereka sangat khawatir dengan Jeonghan. Entah namja cantik itu sudah tahu atau belum jika Seungcheol sudah memiliki kekasih. Dan jika Jeonghan tahu, namja cantik itu pasti akan merasa sakit hati. Mereka tidak mau melihat Jeonghan bersedih. Jujur mereka tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Jeonghan walaupun itu sahabat mereka sendiri. Mereka tidak peduli jika harus dianggap egois, tapi itu demi kebahagiaan orang yang mereka cintai. Apapun akan mereka lakukan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jihoon menyerahkan tas jinjing berisi jaket Soonyoung kehadapan namja yang saat ini tengah duduk dihadapannya.
Soonyoung segera mengambil jaket miliknya lalu mencium aroma yang ada dijaket itu.
"Aku tidak akan mencucinya lagi kalau kamu tidak suka aromanya." Kata Jihoon sambil memperhatikan tingkah Soonyoung yang sedang mencium aroma jaket yang dipegangnya. Ia sudah merelakan waktunya yang berharga hanya untuk mencuci jaket milik Soonyoung dan tentu ia akan marah jika Soonyoung tetap tidak menyukai hasil cuciannya.
"Bau strawberry ya, aku suka, baunya mengingatkanku pada seseorang." kata Soonyoung seolah sedang berbicara pada diri sendiri.
"Kau bicara apa?" Tanya Jihoon karena tidak mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Soonyoung.
"Ah itu, aromanya tidak terlalu buruk." Kata Soonyoung sambil meletakkan kembali jaketnya kedalam tas.
"Hm, sebenarnya aku ingin bertanya sesuatu." Sonyoung sedikit ragu dengan ucapannya namun tetap mengatakannya.
"Tentang apa?" Tanya Jihoon penasaran lalu meminum coklat hangat yang sudah dipesannya dan meletakkan kembali diatas meja.
" Apa kau tahu Seungcheol sudah punya pacar?" Tanya Soonyoung hati-hati dan mencoba memperhatikan ekspresi Jihoon saat ini.
"Benarkah? Siapa?" Soonyoung bisa melihat ekspresi Jihoon biasa saja saat menanyakan itu namun tetap ada rasa penasaran dari wajahnya.
"Jadi kau tidak tahu ya ? Kupikir kamu tahu, sebenarnya aku juga tidak tahu siapa, tapi aku pernah bertemu dengan mereka saat aku sedang bersama Jeonghan." Soonyoung sedikit bingung kenapa tidak ada ekspresi sedih dari wajah Jihoon.
"Jadi Seungcheol berpacaran dengan orang lain ya, aku pikir dia menyukai Jeonghan." Jihoon merasa bingung padahal ia sangat yakin Seungcheol menyukai Jeonghan namun kenapa namja itu malah pacaran dengan orang lain.
"Kenapa kamu berpikir Seungcheol menyukai Jeonghan?, aku malah berpikir Seungcheol menyukaimu." Kata Soonyoung lalu mengambil cangkir kopi didepannya dan menyesapnya pelan.
"Hei, pikiran konyol darimana itu, mana mungkin Seungcheol menyukaiku." Jihoon sedikit meninggikan suaranya saat mengatakan itu sehingga beberapa pasang mata menatap kearah mereka.
"Tidak perlu berbicara sekeras itu, orang-orang jadi melihat kesini, jadi kalian, hm maksudku kau dan Seungcheol tidak saling suka ya?" Soonyoung sedikit memelankan suaranya saat orang-orang sudah tidak menatap kearah mereka.
"Tentu saja tidak, padahal aku sangat yakin Seungcheol menyukai Jeonghan, dasar orang itu selalu saja tidak mengikuti kata hatinya." Jihoon terus bergumam sendiri seolah Soonyoung tidak ada disana. Entah mengapa Soonyoung merasa senang mengetahui bahwa Jihoon tidak punya perasaan pada Seungcheol, dan ia juga merasa bersalah karena selama ini telah berburuk sangka pada Jihoon.
"Jihoon-ah.." panggil Soonyoung pelan dan membuat Jihoon menghentikan gerutuannya pada Seungcheol dan kembali pada dunia nyata didepannya.
"Ya." Jawab Jihoon sambil memfokuskan matanya pada Soonyoung.
"Maaf karena selama ini sudah berburuk sangka padamu. Aku pikir kamu ingin merebut Seungcheol dari Jeonghan" Kali ini Soonyoung berbicara sangat tulus dari lupuk hatinya yang paling dalam, ia menghilangkan rasa gengsinya untuk saat ini.
"Ah jadi selama ini kamu bersikap dingin padaku karena itu, dengar ya Kwon Soonyoung, aku selama ini tulus berteman dengan mereka termasuk Jeonghan dan tidak ada sedikitpun niat untuk merebut teman-teman Jeonghan termasuk Seungcheol, tapi Soonyoung-ah apakah feelingku benar bahwa Jeonghan menyukai Seungcheol?" Jihoon berbicara panjang lebar dan diakhiri dengan pertanyaan yang membuat Soonyoung kembali merasa kasihan dengan Jeonghan yang cintanya kepada Seungcheol bertepuk sebelah tangan.
"Ya, Jeonghan memang menyukai Seungcheol dan aku merasa kasihan dengan Jeonghan karena cintanya untuk Seungcheol bertepuk sebelah tangan, aku ingin menghiburnya tapi sepertinya tidak akan berhasil, aku tidak tahu harus melakukan apa untuk Jeonghan, aku tahu dia sangat sedih mengetahui Seungcheol sudah memiliki kekasih dan aku benar-benar marah pada Seungcheol yang sama sekali tidak peka dengan perasaan Jeonghan." Kini Soonyoung tidak tahu sedang marah pada Seungcheol karena tidak mempedulikan perasaan Jeonghan atau dia marah pada diri sendiri karena tidak ada yang bisa ia lakukan untuk Jeonghan.
"Tapi Soonyoung-ah aku sangat yakin sebenarnya Seungcheol juga menyukai Jeonghan, hanya saja orang itu memang keras kepala dan terlalu mementingkan gengsinya." Jihoon ikut menimpali dan hatinya terus menyalahkan Seungcheol yang keras kepala dan tidak pernah mau mendengarkan sarannya untuk jujur dengan apapun yang dirasakannya.
"Tapi aku yakin Seungcheol punya alasan tersendiri untuk tidak menyatakan perasaannya pada Jeonghan, dan kamu tidak perlu khawatir dengan Jeonghan karena masih banyak orang yang tulus padanya. Dan….. aku akan memberitahumu satu rahasia tapi berjanjilah untuk tidak mengatakannya pada siapapun." Kini Jihoon mendekatkan wajahnya kearah Soonyoung hingga jarak mereka tinggal beberapa centi saja. Dan jangan ditanya lagi bagaimana keadaan Soonyoung saat ini. Keringatnya secara perlahan mulai turun dari dahinya, jantungnya juga berdetak tidak karuan dan ini membuatnya sedikit tidak nyaman.
"Rahasia apa…?" Soonyoung sedikit gugup saat menanyakan itu.
"Janji dulu tidak akan mengatakannya pada siapapun." Bukannya menjauh, Jihoon malah semakin mendekatkan wajahnya dan membuat ujung hidung mereka bersentuhan. Karena sudah tidak kuat lagi dengan posisi itu Soonyoung segera memundurkan kepalanya agar menjauh dari Jihoon karena ia tidak ingin mati jantungan.
"Ya, aku janji, cepat katakanlah." Kata Soonyoung datar dan mencoba menetralkan kembali jantungnya. Kini Jihoon juga sudah berada diposisi semula lalu menyandarkan punggungnya kekursi tempatnya duduk saat itu.
"Kau ini tidak sabaran sekali." Kini Jihoon menyilangkan kakinya dan tersenyum aneh lalu kembali menatap Soonyoung yang mulai penasaran.
"Sebenarnya…." Jihoon menghentikan sebentar ucapannya agar Soonyoung semakin penasaran. Dan setelah melihat namja didepannya memberikan ekspresi agar ia segera mengatakannya, namja imut itu segera melanjutkan kalimatnya.
"Woonwoo, Jun dan Vernon juga menyukai Jeonghan tapi mereka tidak berani mengungkapkannya karena takut merusak persahabatan mereka."
Soonyoung merasa sangat terkejut dengan apa yang yang Jihoon katakana barusan.
"Bagaimana bisa?, dan…apakah mereka saling mengetahui perasaan mereka?"
"Mungkin cinta itu tumbuh begitu saja seiring dengan kebersamaan mereka, tentu saja mereka tidak saling tahu, makanya aku menyuruhmu merahasiakan ini dari siapapun."
Soonyoung tidak tahu harus bereaksi seperti apa untuk saat ini. Yang pasti sekarang ia mengetahui satu hal bahwa teman-teman Jeonghan tidak benar-benar mengacuhkan atau mencoba menjauhi Jeonghan tapi mereka memang sengaja sedikit menjauh namun sebenarnya diam-diam mereka perhatian dan peduli pada Jeonghan. Dan fakta itu membuat Soonyoung sedikit merasa lega.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Udara luar masih terasa dingin walaupun tidak separah kemarin. Orang-orang juga sudah mulai kembali pada aktifitas mereka masing-masing. Restaurant, café dan pertokoan masih sesak dipenuhi pengunjung yang hanya sekedar menghindari udara dingin diluar ruangan. Seokmin masih setia duduk didalam mobilnya yang terparkir dipinggir jalan, padahal ia sudah berada disana selama 30 menit. Matanya terus memperhatikan sebuah apartemen mewah yang tak jauh dari tempatnya memarkirkan mobil saat ini. Kini matanya menatap seorang, ah bukan tapi sepasang manusia yang tengah berjalan keluar dari komplek apartemen mewah itu. Namun matanya sedikit membulat saat melihat salah seorang dari mereka.
Ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim sebuah pesan lalu kembali memperhatikan kedua orang yang sudah mulai menjauh dari tempat itu. Tapi kini ia melihat salah satu dari mereka berhenti dan melihat ponselnya sebentar lalu tampak mengobrol dengan orang satunya. Mereka terlihat berjalan mendekati jalan raya. Tak lama mereka berdiri dipinggir jalan, ada taksi yang kebetulan lewat dan salah satu dari mereka menaiki taksi itu. Namun sebelum itu mereka berpelukan dan juga melakukan sebuah ciuman. Ah Seokmin dibuat bingung dengan pemandangan yang ia lihat. Kebingungan yang bercampur dengan tanda Tanya besar. Ia merasakan sesuatu yang ganjil dan juga mencurigakan.
Setelah melihat taksi yang membawa salah satu dari mereka sudah pergi, ia segera mengarahkan mobilnya menuju orang satunya yang masih berdiri dipinggir jalan. Ia menghentikan mobilnya tepat disebelah orang itu, seorang namja yang bisa dibilang sangat tampan tengah menatapnya saat Seokmin membuka kaca mobilnya.
"Kamu Choi Seungcheol kan? Aku Lee Seokmin, masuklah." Kata Seokmin mencoba tersenyum dan mempersilakan namja itu masuk kedalam mobilnya.
Seungcheol segera masuk kedalam mobil setelah mengetahui orang yang menyapanya adalah Seokmin, orang yang tadi mengiriminya pesan.
"Kamu Choi Seungcheol kan? Aku Lee Seokmin, aku adalah teman Boo Seungkwan, apa kamu masih ingat dengannya? Dia adalah teman lesmu saat SMP, dan aku ingin membicarakan sesuatu yang penting mengenai Seungkwan, bisakah kita bertemu? Sekarang aku berada tidak jauh dari apartemenmu tapi sepertinya kamu sedang bersama dengan seseorang, jadi aku tidak bisa menghampirimu sekarang, bisakah kamu menyuruh orang yang bersamamu pergi dan aku akan menghampirimu."
"Kamu pasti bingung tiba-tiba aku memintamu bertemu seperti ini, padahal kita tidak pernah saling mengenal sebelumnya, tapi aku ingin membiacarakan sesuatu yang penting, dan yang pasti sangat penting untukmu dan juga untukku." Setelah itu Seokmin memarkirkan mobilnya dipinggir jalan yang tidak terlalu jauh dari tempat tadi.
"Tidak masalah, kalau begitu salam kenal Lee Seokmin, oya aku sudah sangat lama tidak bertemu dengan Seungkwan, jadi bagaimana kabarnya?" Seungcheol mencoba untuk tetap sopan dan tidak terburu-buru untuk bertanya kenapa orang ini ingin membicarakan sesuatu yang penting dengannya.
"Ah jadi kamu belum tahu ya, Sebenarnya Seungkwan sudah meninggal 4 tahun yang lalu." Seokmin kembali merasa sedih mengingat kejadian itu tapi ia mencoba menyembunyikan rasa sedihnya dan mencoba tetap tenang.
"Maaf, aku benar-benar tidak tahu." Kini Seungcheol merasa bersalah dan tidak enak dengan Seokmin, dia bahkan tidak tahu kalau teman dekat Doyoon yang sudah ia anggap sebagai temannya juga ternyata sudah meninggal. Seungcheol memang jarang mengobrol dengan Seungkwan namun mereka selalu saling menegur saat bertemu. Tapi kenapa Doyoon tidak pernah memberitahunya selama ini.
"Oya Seungcheol, sepertinya kamu sangat dekat dengan Doyoon dan aku melihat kalian tadi berciuman, jadi apa hubunganmu dengannya?"
"Ah Doyoon ya, dia adalah pacarku."
Jawaban Seungcheol benar-benar membuat Seokmin terkejut dan kecurigaannya pada Doyoon kembali muncul.
"Aku akan bertanya pada intinya saja, sebenarnya aku sangat marah padamu Seungcheol, namun aku tidak bisa langsung menyalahkanmu jika belum mendengarkan penjelasan langsung darimu, jadi kenapa 4 tahun yang lalu kamu tidak datang menemui Seungkwan?"
Seungcheol merasa bingung dengan pertanyaan Seokmin dan ia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan namja disebelahnya ini.
"4 tahun lalu ? Menemui Seungkwan? Maaf Seokmin-ah aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan."
"Ah jadi dugaanku benar ya, Jadi namja licik itu tidak menyerahkan surat dari Seungkwan untukmu."
Seungcheol semakin dibuat bingung dengan ucapan Seokmin.
"4 tahun lalu, setelah kamu memutuskan keluar dari tempat les, Seungkwan menulis surat cinta untukmu karena ia berpikir tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk bertemu denganmu setelah hari itu. dan ia menitipkan surat itu pada Doyoon, namja malang itu terus menunggumu ditempat yang seharusnya kau datang, hingga sesuatu yang buruk terjadi padanya, orang-orang hina itu tidak hanya merenggut nyawanya tapi juga menyakitinya, ahh seharusnya aku ada disana, dia pasti merasa ketakutan dan kesakitan saat itu, aku merasa benar-benar tidak berguna sebagai seorang sahabat." Seokmin tidak bisa menahan airmatanya untuk tidak menetes.
Seungcheol hanya diam dan menunduk, satu sisi ia merasa bersalah karena secara tidak langsung ialah penyebab kematian Seungkwan, namun disisi lain ia masih belum percaya jika Doyoon tidak menyerahkan surat dari Seungkwan, ia yakin Doyoon tidak sejahat itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi aku punya firasat yang buruk tentang Doyoon, tapi terserah padamu jika kamu tetap percaya pada namja licik itu, hanya saja aku merasa akan terjadi sesuatu yang buruk pada Jeonghan"
Seungcheol terus memikirkan kata-kata terakhir Seokmin sebelum ia keluar dari mobil namja itu. Ia memang merasa bersalah pada Seungkwan namun ia tidak bisa terima saat Seokmin mengatakan hal-hal yang buruk soal Doyoon. Ia sudah mengenal Doyoon sejak kelas 1 SMP dan dia tahu betul bahwa Doyoon orang yang baik. Ia juga percaya Doyoon tidak mungkin dengan sengaja menyakiti Seungkwan yang merupakan sahabat namja manis itu sejak kecil, apalagi mereka bertetangga dan selalu bersama walaupun dipisahkan oleh sekolah. Ia tahu Doyoon sangat menyayangi Seungkwan dan suatu hal yang mustahil seorang Doyoon menyakiti Seungkwan. Seungcheol sangat percaya pada Doyoon, ya ia sangat mempercayai kekasihnya itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Dasar keras kepala, sebenarnya apa yang sudah Doyoon lakukan pada Seungcheol hingga membuatnya sangat percaya pada namja licik itu, aku tidak habis pikir dengan jalan pikirannya, dan aku benar-benar kasihan pada Seungkwan dan Jeonghan karena bisa menyukai orang keras kepala seperti dia." Seokmin terus menerus menggerutu selama perjalanan pulang setelah berbicara dengan Seungcheol. Ia hanya merasa kesal dan gemas karena tidak tahu harus berbicara bagaimana lagi supaya Seungcheol percaya padanya. Namun sepertinya apapun yang dia katakan, namja itu tidak akan bisa mempercayainya.
.
.
.
.
.
.
Jeonghan baru saja membuka matanya perlahan dan melihat sekeliling. Ia langsung tahu sedang berada dimana karena ia pernah beberapa kali ketempat ini. Ia sekarang berada dikamar Wonwoo, ia pernah masuk kekamar ini beberapa kali walaupun tidak sesering saat ia masuk kekamar Seungcheol, Jun atau Vernon. Ia memang tidak terlalu dekat dengan Wonwoo walaupun sudah mengenal dan bersama sejak kecil. Bisa dibilang ia selalu berada disuasana awkward setiap hanya berdua saja dengan Wonwoo. Mungkin karena Jeonghan dan Wonwoo memiliki sifat yang berbanding terbalik. Wonwoo adalah tipe orang yang pendiam, tenang dan tidak banyak bicara sementara Jeonghan adalah tipe orang yang berisik dan tidak bisa diam. Kini pandangannya berhenti pada dua orang yang sedang tidur disofa yang ada dikamar itu. Mereka tak lain adalah Wonwoo dan Jun, mereka terlihat bangun dari tidur mereka lalu duduk disofa itu. Kini Wonwoo dan Jun sedang menatap kearah Jeonghan. Dan entah kenapa Jeonghan jadi merasa canggung seperti ini. Tatapan mereka sangat aneh, antara khawatir cemas dan kasihan. Kepala Jeonghan masih terasa pusing mungkin karena alcohol yang ia minum kemarin dan ia sama sekali tidak ingat kejadian setelah itu karena pasti ia mabuk setelahnya.
"Jeonghan-ah kau sudah bangun." Jun mencoba mendekati Jeonghan dan menghilangkan keheningan yang beberapa saat tadi terjadi. Jeonghan hanya tersenyum dan memperhatikan Jun yang kini duduk dipinggiran ranjang.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kamu tidak pernah minum alcohol sebelumnya, kalaupun kamu ingin minum seharusnya mengajak seseorang untuk menemanimu, akan sangat berbahaya kalau kamu berkeliaran saat mabuk." Nada bicara Jun terlihat sangat khawatir namun tetap berusaha berbicara dengan tenang.
"Maaf sudah merepotkan kalian."Kini Jeonghan hanya menunduk dan kembali mengingat apa yang sudah terjadi padanya, saat ia berhasil mengingatnya ia merasakan ketakutan. Jeonghan hanya bisa memeluk tubuhnya sendiri. Jun bisa melihat rasa takut yang teramat besar dari mata Jeonghan. Ia tahu namja cantik itu pasti merasa sangat trauma dengan kejadian yang sudah menimpanya. Wonwoo yang entah sejak kapan sudah berdiri disamping ranjang dengan membawa segelas air putih, namja itu lalu menyerahkan gelas yang dipegangnya kepada Jeonghan. Namja cantik itu menerima gelas dari Wonwoo lalu meminum setengahnya dan menyerah kembali kepada Wonwoo.
"Sepertinya aku harus pulang, Soonyoung-ah pasti menghawatirkanku." Kata Jeonghan dan beranjak untuk turun dari ranjang.
"Kami akan mengantarkanmu." Tawar Wonwoo
"Tidak perlu, aku sudah terlalu banyak merepotkan kalian."
"Kami sama sekali tidak merasa direpotkan, jadi biarkan kami mengantarmu." Kini giliran Jun yang membujuk Jeonghan. Dan namja cantik itu akhirnya mengangguk setuju.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Masuklah." kata Wonwoo setelah ia, Jun dan Jeonghan sudah berada didepan rumah orangtua Jeonghan.
"Tidak, aku akan masuk setelah kalian pergi."
"Baiklah kalau begitu kami pamit, setelah ini lebih baik kamu istirahat dan juga jangan lupa makan." kata Jun sebelum masuk kedalam mobil dan diikuti Wonwoo.
Jeonghan hanya tersenyum dan dibalas lambaian tangan oleh Wonwoo dari kaca mobil yang masih terbuka. Setelah itu mobil mereka telah pergi meninggalkan Jeonghan yang masih berdiri ditempatnya. Jeonghan baru saja akan masuk kedalam halaman rumahnya saat tiba-tiba sebuah tangan membekap mulutnya dari belakang. Dan setelah itu ia sudah tidak sadarkan diri.
.
.
.
.
.
.
Seokmin menyandarkan punggungnya pada sebuah pintu kamar apartemen. Ia sudah berada diposisi itu sejak 20 menit yang lalu. Namun sepertinya ia masih enggan menekan bel yang ada dipintu itu. Hingga tiba-tiba pintu itu terbuka dan membuatnya sedikit terhuyung kebelakang.
"Untuk apa kau ada disini?" tanya seorang namja yang baru saja keluar dari kamar apartemen itu.
"Mingyu-ya sepertinya kita sudah salah paham selama ini." Seokmin langsung mengatakan apa yang sejak tadi ingin ia bicarakan pada namja yang lebih tinggi darinya itu.
"Apa maksudmu?" tanya Minyu tidak mengerti.
"Doyoon tidak pernah memberikan surat dari Seungkwan untuk Seungcheol, dan namja licik itu melimpahkan kesalahannya pada Jeonghan yang bahkan tidak tahu apapun tentang masalah ini."
"Omong kosong apa ini, tidak mungkin Doyoon melakukan itu, dia sahabat baik Seungkwan dan bahkan dia lebih dulu mengenal Seungkwan daripada kita." kata Mingyu sambil menatap tidak percaya pada Seokmin.
"Doyoon menyukai Seungcheol dan sekarang ia pacaran dengan Seungcheol. Jika memang dia sahabat Seungkwan seharusnya dia tidak akan berpacaran dengan orang yang dicintai sahabatnya sendiri walaupun Seungkwan sudah meninggal."
"Doyoon berpacaran dengan Seungcheol?" Kini Mingyu terkejut dengan penjelasan Seokmin.
"Ya, dan aku sebenarnya curiga bahwa penyebab meninggalnya Seungkwan adalah Doyoon, walaupun aku belum mendapatkan bukti tapi aku sudah curiga dengan tingkahnya selama ini, dan aku sangat yakin terget Doyoon selanjutnya adalah Jeonghan, aku hanya takut Jeonghan akan mengalami nasib yang sama dengan Seungkwan, jadi kumohon untuk kali ini percayalah padaku." Seokmin berbicara dengan nada memohon agar sahabatnya ini percaya dengan ucapannya.
.
.
.
.
.
To be Continue...
.
.
.
.
.
Akhirnya Chapter 7 selesai juga. Mian kalau ada kata2 yang aneh atau hilang soalnya aku lagi males ngeditnya. Ternyata chapter ini lebih pendek dari chapter 7, ahhhh mian semuanya. Dan aku juga merubah summarynya soalnya agak aneh summary yang kamaren hehe. Tadinya aku mau buat sampai chapter 8 End cuman kok aku jadi nggak yakin chapter 8 bakal end ya hahahaha
nene137 : wah udah bisa ditebak ya ceritanya, hehe
vivifatmawati19 : iyanih hidup Jeonghan emang menderita terus, tapi tenang aja aku bakal buat Jeonghan bahagia kok tapi nggak sekarang, hehe
jeonjk : iya aku tahu kok dan aku suka bgt lagunya, entah kenapa lagi suka lagu2 ballad. iya aku juga baru sadar kalau lebih enak baca ff yang ada imbuhannya kkkk ya sama2 terima kasih juga karena selalu meluangkan waktu buat review
JonginDO : udah di next nih
RinatyaJoYunjae Shipper : tenang aja Jeonghan pasti bakal bahagia kok tapi nggak sekarang...kya bener tu tubuhnya emang menggoda
msr1205 : hidup Jeonghan emang nyesek bgt, tapi tenang aja Jeonghan pasti bakal bahagia kok
jeonghanienoona : buat aku aja deh Jeonghannya, wah udah bisa ditebak ya ceritanya,
Min : aku nggak yakin bakal happy ending cuman yang jelas Jeonghan bakal bahagia, eh aku malah bocorin endingnya yah
noviliaAS : maunya sih happy ending tapi nggak bisa jamin juga, tapi tenang aja Jeonghan bakal bahagia kok
ellfau1 : aku juga jadi ikut berdebar2
natsu : aku juga penasaran loh, ya aku selalu semangat kok berkat review kalian
Terimakasih semuanya yang udah review/Follow/Fav. Aku juga udah selesai ngetik chapter 1 ff yang satunya tapi belum tahu mau post kapan. Nunggu waktu yang tepat. Oke sekian dulu and See you...
