True or False
( Complicated )
Seventeen Seunghan / Jeongcheol Fanfiction
Cast
Jeonghan
Seungcheol
Jihoon
Joshua
Mingyu
Wonwoo
Vernon
Jun
.
.
Aku tidak pernah tahu, kenapa bisa sebegitu benci padanya
Namun disisi lain, rasa cinta tumbuh dengan sendirinya
Akankah perasaanku bisa merubah tujuanku
Untuk menghancurkannya secara perlahan
Karena kesalahannya dimasa lalu
Yang sebenarnya bukan murni karena dirinya
Tapi aku iri dengannya, aku hanya ingin ia merasakan
Apa yang aku rasakan selama ini
.
.
.
Jeonghan membuka matanya secara perlahan saat dirasakan cahaya matahari mengusik tidurnya. Pandangannya masih belum sempurna karena matanya belum sepenuhnya terbuka.
"Apa tidurmu nyenyak? Maaf karena tempat tidurku tidak senyaman milikmu." Kata sebuah suara yang membuat Jeonghan sadar sepenuhnya dan menatap bingung namja yang tengah berdiri disampingnya.
"Kenapa aku bisa ada disini? Apa yang terjadi?" Tanya Jeonghan bingung lalu beranjak bangun dan duduk dipinggir ranjang menghadap namja yang saat ini sedang menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Aku akan menceritakan semuanya, tapi sebaiknya kita sarapan dulu, aku sudah memasak sarapan untukmu, tapi aku tidak yakin kau akan menyukai masakanku."
Setelah berpikir sebentar akhirnya Jeonghan menurutri kemauan namja manis itu untuk sarapan. Karena setelahnya ia ingin bertanya banyak hal pada namja yang saat ini sedang memakan sandwich didepannya itu.
Setelah menyelesaikan sarapan mereka, kini keduanya sedang mencuci piring dan gelas yang mereka gunakan tadi. Suasana masih sangat hening dan canggung hingga mereka selesai dengan kegiatan mereka.
"Mian telah membuatmu bingung, tapi aku hanya ingin memintamu dengan baik-baik untuk menjauhi Seungcheol." Kata namja manis didepan Jeonghan sambil memainkan jari-jari tangannya dengan gelisah.
"Tenang saja Doyoon-ah, tanpa kau suruhpun aku akan menjauhi Seungcheol."
"Mian karena aku sudah menculikmu dan berbicara seperti ini padamu." Kata Doyoon lalu menundukkan kepalanya.
"Tidak masalah Doyoon-ah, ini bukan salahmu, aku tahu kau melakukan ini karena sangat mencintai Seungcheol, dia adalah sahabat terbaikku dan aku sangat bahagia karena ia menemukan orang yang sangat mencintainya melebihi ia mencintai dirinya sendiri." Kata Jeonghan sambil menepuk pelan pundak Doyoon untuk menenangkan namja manis itu.
"Terima kasih Jeonghan-ah, kau bukan hanya cantik tapi juga sangat baik, sepertinya kau benar-benar malaikat dalam dunia nyata." Kini Doyoon memeluk Jeonghan dengan sangat erat dan membuat namja cantik itu mau tidak mau harus membalas pelukan orang didepannya.
"Dan namja brengsek itu sama sekali tidak pantas untuk kau cintai, aku lega kau mau menjauh darinya, sehingga aku tidak harus menyakiti namja sebaik dirimu, biar dia yang merasakan sakit itu sendiri, biar Seungkwan saja yang membelanya mati-matian, karena kau terlalu baik untuk iblis seperti dia…."Lanjut Doyoon dalam hatinya. Ia tidak mungkin mengatakan itu pada Jeonghan. Karena ia tahu Jeonghan pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang Seungkwan lakukan jika namja cantik ini tau yang sebenarnya. Ia sebenarnya kasihan dengan Seungkwan dan tidak tega sahabatnya itu ikut terseret dalam masalahnya. Tapi ia terpaksa, karena namja itu terlalu bodoh dan malah melindungi orang yang ia benci. Dan jujur Doyoon kecewa karena Seungkwan lebih memilih membela Seungcheol dibanding dirinya.
"Kau terlalu berlebihan Doyoon-ah, aku bukanlah malaikat seperti apa yang kau katakan, aku berharap kau akan bahagia bersama Seungcheol, dan aku janji mulai hari ini akan menjauh darinya, jadi percayalah padaku dan jangan cemburu lagi denganku." Kata Jeonghan sambil tersenyum walau sebenarnya dilupuk hatinya yang terdalam sangat tidak rela untuk menjauh dari Seungcheol. Tapi ini adalah yang terbaik untuknya, Doyoon dan juga Seungcheol.
.
.
.
.
.
Soonyoung masih asyik dengan handphonenya saat Jihoon sudah duduk didepannya.
Namja mungil itu sedikit kesal karena Soonyoung tidak menyadari keberadaannya. Ia dengan sengaja menendang kursi yang diduduki Soonyoung dan membuat namja itu tersentak.
"Apa yang kau lakukan, kau membuatku kaget." Kata Soonyoung dengan nada kesal karena terusik dengan kehadiran Jihoon.
"Seharusnya aku yang marah padamu, bukankah kau sendiri yang memintaku datang menemuimu, kau tahu kan aku sangat sibuk, dan aku merelakan waktu berhargaku hanya untuk bertemu denganmu, setidaknya kau harus bersikap baik padaku bukannya malah sibuk dengan hal lain."
"Kau itu cerewet sekali, baik-baik, aku minta maaf karena tidak menyadari kedatanganmu, aku hanya ingin minta bantuanmu Jihoon-ah, jadi apa kau bersedia membantu temanmu ini?" kata Soonyoung dengan senyum sok imutnya yang membuat Jihoon mual dan ingin muntah saat itu juga.
"Cih, hentikan ekspresi anehmu itu, aku benar-benar jijik melihatnya, karena ini berhubungan dengan Jeonghan maka aku akan membantumu, tapi ingat aku membantumu demi Jeonghan, jadi jangan berpikir macam-macam."
"Gomawo Jihoon-ah, kau benar-benar baik dan juga sangat manis."
"Hentikan omong kosongmu itu, kau bilang ingin cepat mencari Jeonghan." Kini Jihoon beranjak dari duduknya dan tidak ingin Soonyoung terus menerus berbicara tidak jelas yang bisa membuatnya menjadi malu dan juga gugup. Ah kenapa Jihoon harus gugup, sangat tidak mungkin ia menyukai orang bodoh ini. Bahkan banyak namja keren yang dengan terang-terangan menyukainya jadi kenapa ia harus tertarik dengan orang idiot ini.
Soonyoung dan Jihoon segera beranjak untuk mencari Jeonghan, namun suara handphone Soonyoung membuat mereka harus berhenti.
Soonyoung segera mengambil handphone disaku mantelnya dan melihat nama yang tertera dilayar handphonenya. Ia terkejut karena yang menelfonnya adalah orang yang ingin ia cari saat ini. Akhirnya Jeonghan menghubunginya setelah 1 hari menghilang tanpa kabar dan tidak bisa dihubungi.
"Kau dimana Jeonghan-ah, aku sangat khawatir dan hampir gila karena terus mencarimu." Kata Soonyoung dengan panik saat sudah terhubung dengan Jeonghan.
"Mian, Soonyoung-ah, aku tidak bermaksud membuatmu khawatir, handphoneku mati jadi tidak bisa menghubungimu, maaf karena tidak memberitahumu kalau aku menginap dirumah temanku, aku baik-baik saja jadi kau tidak perlu khawatir, sebentar lagi aku akan pulang."
"Syukurlah kau baik-baik saja, lain kali kau harus memberitahuku dulu kalau ingin menginap dirumah temanmu, kalau begitu cepatlah pulang, aku akan menunggumu dirumah." Kata Soonyoung dengan nada lega karena sepupunya baik-baik saja.
"Baiklah, lain kali aku pasti akan mengabarimu dulu jika ingin menginap dirumah temanku, terimakasih Soonyoung-ah karena sudah menghawatirkanku, aku menyayangimu, sampai bertemu dirumah, bye."
"Bye" Soonyoung segera menghadap kearah Jihoon yang sepertinya sangat penasaran dengan apa yang ia bicarakan dengan Jeonghan.
"Sepertinya kita tidak perlu mencari Jeonghan, dia hanya menginap dirumah temannya, sebentar lagi ia akan pulang." Kata Soonyoung pada Jihoon dan membuat namja mungil itu lega karena Jeonghan baik-baik saja.
"Syukurlah Jeonghan baik-baik saja, bukankah kau bilang sebentar lagi Jeonghan akan pulang, jadi sebaiknya kau juga pulang. Sepertinya kau juga butuh istirahat, dari kemarin kau belum tidur karena menghawatirkan Jeonghan."
"Terimakasih Jihoon-ah, tapi aku tidak akan tidur sebelum Jeonghan benar-benar pulang, jadi maukah kau menemaniku menunggu Jeonghan dirumah? Aku mohon." Kata Soonyoung dengan wajah memelas.
"Kau tidak perlu mengeluarkan ekspresi menjijikan itu lagi, aku pasti akan menemanimu." Kata Jihoon lalu berjalan mendului Soonyoung, dan membuat namja imut itu segera megejar namja mungil didepannya dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
.
.
.
.
Wonwoo mendudukkan tubuhnya disofa ruang tamu lalu menyandarkan punggungnya. Ia mengacak rambutnya kasar dan membuat namja disebelahnya ikut kesal.
"Aku tidak habis pikir, kenapa Seungcheol sangat keras kepala dan tidak mau mengakui perasaannya, sebenarnya apa yang ada diotaknya." Gerutu Wonwoo sambil memejamkan matanya.
"Haruskah kita menjauhkan Jeonghan dari Seungcheol? Jika Jeonghan terus berada didekat Seungcheol, ia akan semakin sakit melihat kebersamaan Seungcheol dengan Doyoon." Kata Jun sambil ikut menyandarkan bahunya lalu memejamkan matanya
"Sepertinya itu memang keputusan yang tepat." Kata Wonwoo menyetujui usul Jun.
.
.
.
Seokmin masih duduk disofa sambil matanya terus memperhatikan gerak gerik Mingyu yang sedang menyiapkan makanan. Sedangkan namja tinggi yang diperhatikan masih terus fokus pada masakannya namun dengan mulut yang terus berbicara. Kini Mingyu sedang menceritakan rencana awalnya yang harus ia batalkan karena fakta yang baru saja Seokmin beritahukan padanya. Sebenarnya Seokmin juga berencana menemui Jisoo dan akan menjelaskan semuanya pada temannya itu tapi ia tidak bisa dihubungi sampai sekarang.
"APA ? BAGAIMANA BISA KAU LAKUKAN ITU PADANYA." Teriak Seokmin sambil bangkit dari duduknya.
"Bukankah sudah kubilang itu bagian dari rencana awalku, dan sepertinya aku sudah ketagihan, makanya aku melakukannya secara berulang-ulang." Kata Mingyu entah dengan nada menyesal atau senang dan itu membuat Seokmin semakin emosi.
"Ya ampun, bagaimana bisa kau melakukan itu, kau mengambil sesuatu yang paling berharga dalam dirinya, aku yakin dia tertekan karena itu." Kini Seokmin mengacak rambutnya frustasi. Ia tidak menyangka teman-temannya akan melakukan hal sejauh ini. Ia benar-benar merasa bersalah pada Jeonghan walaupun ini sama sekali bukan salahnya. Tapi Mingyu dan Jisoo adalah temannya. Sedangkan awal masalah ini juga ada pada kesalahpahaman sahabat-sahabatnya dan ia juga termasuk didalamnya jadi ia tetap akan merasa bersalah.
"Aku tahu aku salah, tapi mau bagaimana lagi semuanya sudah terjadi, aku akan meminta maaf padanya, tapi kau harus membantuku karena ia pasti sangat ketakutan jika melihatku."
"Tentu saja kau harus meminta maaf dan aku pasti akan membantumu, asal kau juga mau membantuku menyelesaikan masalah ini, kau juga harusnya bersyukur dia tidak melaporkanmu kepolisi."
"Aku tahu, aku akan mempertanggungjawabkan perbuatanku, kalau perlu tanggung jawab dalam arti sebenarya." Kata Mingyu sambil menata makanannya diatas meja.
"Jadi apa rencana kita selanjutnya?" lanjut Mingyu setelah selesai membuat sarapan untuknya dan Seokmin.
"Kita harus mencari Jisoo, aku takut dia akan melakukan hal buruk pada Jeonghan, setelah kita menjelaskan semuanya pada Jisoo baru kita menemui Seungcheol. Dan kita juga perlu mencari beberapa bukti untuk mengungkap kematian Seungkwan lewat Seungcheol karena aku yakin ini semua berkaitan dengan Seungcheol dan Doyoon."
"Baiklah, jadi kemana kita akan mencari Jisoo?"
"Ditempat yang sering ia kunjungi saat sedang kacau, aku yakin ia ada disalah satu tempat itu."
.
.
.
.
Jisoo masih memandang hamparan ombak didepannya dengan tatapan kosong. Entah apa yang ia pikirkan, keadaannya sangat kacau, ia bingung, ia sangat bingung dengan perasaannya. Entah kenapa ia menangis, ia tidak tahu apa yang ia tangisi. Apakah ia menyesal sudah menyakiti orang sebaik Jeonghan?
Yang ia tahu selama ini, Jeonghan adalah penyebab kematian Seungkwan, dan itu membuatnya sangat membenci namja cantik itu. Tapi kenapa setelah bertemu langsung dengan namja itu malah membuat ia ragu seperti ini.
"Apa yang kau lakukan disini? Kau terlihat sangat kacau?" Jisoo menoleh kaget mendengar suara orang yang sangat familiar ditelinganya.
"Kenapa kalian ada disini? Dan sejak kapan kalian akur seperti itu." Jisoo sedikit terkejut melihat Mingyu datang bersama Seokmin namun ia tidak terlalu peduli dengan kedekatan mereka dan memilih kembali menatap hamparan ombak didepannya.
"Kami baru saja datang, dan tidak penting sejak kapan kami akur, tapi sepertinya kau harus menghentikan rencanamu ah maksudku rencana kita, aku tahu kau kacau seperti ini karena Jeonghan." Kata Mingyu lalu ikut berdiri disamping Jisoo.
"Apa Seokmin berhasil menghasutmu ? dan sekarang kalian kesini untuk menghasutku?"
"Aku sama sekali tidak menghasut Mingyu, aku hanya mengatakan kebenaran padanya, sekarang kami juga akan mengatakan kebenaran itu padamu." Sahut Seokmin yang merasa namanya disebut Jisoo.
"Baiklah, aku akan mendengarkan kebenaran yang kau maksud itu, kalian beruntung datang disaat aku sedang ragu dengan rencanaku."
Mingyu sedikit menahan senyumnya mendengar perkataan Jisoo barusan, lalu ia segera menjelaskan semuanya pada sahabatnya itu.
"Doyoon tidak pernah menyerahkan surat Seungkwan pada Seungcheol, dan Seungcheol juga tidak tahu kalau Seungkwan menunggunya. Jadi saat kita melihat Seungcheol pergi bersama Jeonghan dihari seharusnya Seungcheol menemui Seungkwan itu bukan kesalahan Seungcheol maupun Jeonghan, tapi salah Doyoon yang tidak memberikan surat itu." jelas Mingyu sambil menghela nafasnya berat.
"Doyoon tidak mungkin melakukan itu pada Seungkwan, mereka bersahabat sejak kecil dan bahkan sebelum mereka mengenal kita, omong kosong apa yang kalian katakan, apa sekarang kalian mengkambing hitamkan Doyoon?" Jisoo terlihat marah dengan apa yang dikatakan Mingyu.
"Awalnya aku juga berpikir seperti itu, tapi kenyataannya memang Doyoon tidak menyerahkan surat itu, dan sekarang dia malah pacaran dengan Seungcheol, orang yang disukai sahabatnya sendiri."
"Apa maksudmu? Doyoon dan Seungcheol pacaran?" Mingyu dan Seokmin hanya mengangguk menjawab pertanyaan terkejut dari Jisoo.
"Itu sama sekali tidak mungkin karena Doyoon sangat membenci Seungcheol, ia sendiri yang terus menyalahkan Seungcheol atas kematian Seungkwan, bahkan saat aku menyalahkan Jeonghan karena namja itu yang membuat Seungcheol tidak menemui Seungkwan, Doyoon yang bersikukuh jika Seungcheol lah satu-satunya orang yang salah atas semua yang terjadi pada Seungkwan, bahkan dia sempat melarangku menyalahkan Jeonghan dan balas dendam pada Jeonghan, dia sendiri yang menyuruhku untuk balas dendam pada Seungcheol dan tidak melibatkan orang lain."
"Apa Doyoon melarangmu balas dendam pada Jeonghan?" Tanya Seokmin heran.
"Sebenarnya dia juga melarangku." Sela Mingyu sebelum Jisoo menjawab pertanyaan Seokmin.
"Kenapa kalian baru mengatakannya sekarang? jadi sebenarnya apa tujuan Doyoon. Ahh sepertinya ada yang tidak beres." Seokmin semakin frustasi dengan masalah ini.
"Bukankah kau tidak pernah bertanya?, tapi aku juga heran, kenapa seolah-olah Doyoon hanya menyalahkan Seungcheol, tapi disisi lain ia malah pacaran dengan Seungcheol." Kata Mingyu ikut bingung dengan masalah yang semakin rumit ini.
TBC
.
.
.
.
Annyeong semuanya, mian karena baru sempet update dan melanggar janjiku untuk segera update setelah goodbye stage Nu'est. Sebenernya aku mau langsung update tapi malah akun ini nggak bisa dibuka. Mian juga karena part ini cuma pendek, tapi sebenernya sengaja sih biar chapternya lebih banyak dan nggak langsung end. Mian juga karena ceritanya semakin aneh karena ini murni pemikiran yang ada diotakku. Dan sekali lagi mian yang udah nunggu lama dan udah ngasih review tapi belum sempet aku balas. Gomawo juga yang udah follow/Fav.
Dan jujur aku agak pusing gara-gara akun ini tiba-tiba nggak bisa dibuka karena bersamaan dengan itu facebookku juga nggak bisa dibuka dan harus buat baru dan memulai dari awal. Dan rencananya aku juga mau buat akun baru tapi entah kenapa aku punya feeling suatu saat akun ini bakal bisa dibuka lagi dan ternyata benar hari ini bisa dibuka. Dan sebelumnya aku sempet buat akun diwattpad untuk post ff yang nggak bisa aku post disini, sekalian promosi boleh ya, yang mau baca ff yang aku post di wattpad kunjungi aja di akun rainahwang1004, oke aku nggak mau ngomong panjang lebar lagi karena kalian pasti bosen denger celotehanku, dan aku usahain update cepet tp nggak janji karena aku takut ngelanggar lagi, bye
