Title : Giraffe and Strawberry

Author : haco

Cast : Chanbaek and others

Genre : School romance

warning boyxboy

sorry for typo and anything, review please and dont bash

.

.

.

Chapter 5

.

.

.


Baekhyun melangkahkan kakinya gontai menuju apartemen. Perutnya masih terasa sedikit nyeri akibat pukulan Chanyeol tadi. Ia mengambil air minumnya dan meneguk isinya selagi masih berjalan.

Dari ekor matanya, ia melihat sosok seseorang dimasa lalunya yang telah lama menghilang. Baekhyun mengelap sisa air minumnya disudut bibir. Kemudian menengok kesebelah kiri. Matanya kian membesar.

Baekhyun dengan cepat berlari. Dia tidak ingin bertemu dengan sosok jangkung itu. Tidak. Tidak akan lagi setelah pria itu membuat janji dan menghilang tanpa jejak. Baekhyun tidak ingin mengingat masa lalunya yang sudah lama ia lupakan. Masa lalu yang tidak pantas ia kenang.

Keluarga yang meninggalkannya. Bukan meninggal. Mereka hidup dengan mementingkan ego masing-masing. Ketika harusnya seorang balita bermanja-manja dengan kedua orangtuanya. Menangis meminta mainan. Baekhyun kecil tidak pernah merasakannya. Dunia kecil yang terlalu kelam hingga kedua orangtuanya memilih untuk berpisah. Mereka tidak pernah menengok sejenak untuk melihat bagaimana keadaan anaknya. Baekhyun melewati masa pubertasnya sendiri dengan susah payah. Ia tahu orangtuannya hingga kini masih memberikan sejumlah uang. Tapi, Baekhyun tidak butuh itu. Ia hanya meminta mereka kembali. Kembali ke saat-saat mereka bisa saling mencintai. Menjadi keluarga yang seutuhnya. Baekhyun tahu Ayahnya sudah memiliki keluarga baru disana. Tapi apa salahnya mereka kembali walau hanya untuk mengecup kening Baekhyun dan memeluknya dengan kasih sayang yang selalu Baekhyun mimpikan.

Pernah ia berpikir untuk mengakhiri hidupnya, saat ia sudah tidak mampu dan terpuruk karena semua beban hidupnya. Sudah terlalu sakit untuk melihat kenyataan bahwa orangtuanya tidak menyayanginya. Baekhyun saat itu ingin kembali kepada satu-satunya yang menyayanginya. Ia ingin kembali kepada yang menciptakannya. Yang tidak pernah berhenti menyayanginya.

Namun, seseorang menghampiri Baekhyun dengan senyumnya seolah berkata semua akan baik-baik saja. Ia memeluk bahu Baekhyun yang bergetar. Mendekapnya dan membenamkan wajah Baekhyun didadanya.

Saat itu Baekhyun percaya bahwa masih ada seseorang yang menyayanginya.

"Jangan menangis." Ucapnya sambil mengusap rambut Baekhyun. Ia mengacungkan jari kelingkinya, seperti ingin membuat sebuah janji.

"Baiklah ayo berjanji." Baekhyun tersenyum lemah melihat kelingking itu didepan matanya. Ia lalu mengusap air matanya.

"Aku akan bersamamu selalu." Katanya yakin. Dengan ragu Baekhyun mengaitkan jari kelingkingnya dan mengangguk lemah.

Baekhyun tersenyum penuh harap. Seorang namja didepannya telah membangun kembali semangat hidupnya. Seorang yang diam-diam Baekhyun sangat cintai dimasa lalu.

.

Baekhyun menyandarkan tubuhnya pada pintu setelah berlari cukup kencang. Pikirannya dihantui namja itu, Kris. Baekhyun tidak ingin bertemu lagi dengannya. Ia sudah mengubur dalam-dalam perasaannya untuk Kris. Baekhyun tidak pernah menyatakan cintanya. Saat itu Baekhyun hanya seorang anak 14 tahun yang terduduk menangisi hidupnya yang kejam. Lalu, Kris, yang sudah Baekhyun anggap seperti Hyungnya sendiri datang memeluknya. Memberikannya sebuah janji yang dihianati sendiri. Meninggalkan Baekhyun tanpa pesan apa pun.

Tapi, saat itu, Baekhyun bukanlah remaja bodoh lagi. Ia tidak akan mengulangi kesalahannya yang sama. Ia tidak akan berniat untuk mengakhiri hidupnya. Baekhyun sadar ia harus berjuang sendiri. Ini hidupnya dan hanya Baekhyun yang dapat menentukan arah dimana hidupnya harus dimulai dan berakhir.

.

.

.

Kyungsoo membuka kaleng susu strawberrynya. Ini bukan susu pemberian Chanyeol. Kyungsoo baru saja membelinya di supermarket. Setelah kejadian di kedai ice cream. Kyungsoo belum berbicara lagi dengan Baekhyun. Bukannya belum, ia hanya terlalu takut. Takut tidak pantas disebut sahabat. Baekhyun memang belum mengetahui rahasia ini. Tapi, Kyungsoo tahu.

Sekilas ia melihat Baekhyun berjalan melewati kelasnya. Tubuhnya seolah terlihat sangat berat, hingga ia berjalan seperti setengah diseret. Kantung matanya menghitam, kulitnya juga pucat.

Dengan gesit Kyungsoo segera mengikuti kemana Baekhyun pergi. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan Baekhyun setelah sehari kemarin benar-benar tidak bertemu dan berbicara dengannya. Kyungsoo dihantui pikiran-pikiran buruk tentang Baekhyun. Ia membuang jauh-jauh rasa takutnya. Sekarang atau tidak sama sekali.

Baekhyun menghentikan langkahnya dan memasuki toilet. Kyungsoo dengan setianya masih mengikuti Baekhyun dari belakang.

"Baekhyun…" panggilnya lirih. Baekhyun tidak menjawab ia hanya bungkam dan membasahi wajahnya dengan air di wastafel.

"Baekhyun.." Kali ini Kyungsoo memegang sebelah bahu Baekhyun, seolah memberikan sebuah kekuatan.

Baekhyun memutar kepalanya, menatap sahabatnya suram.

"Ada masalah?" Tanya Kyungsoo hati-hati. Baekhyun tersenyum. Tapi, senyum yang dipaksakan itu terasa sakit dihati Kyungsoo.

"ben—" belum sempat Kyungsoo menyelesaikan kalimatnya Baekhyun sudah lebih dulu memeluk Kyungsoo. Ia tahu sahabatnya sedang rapuh, hanya saja sedang berusaha untuk tegar. Kyungsoo tidak pernah tahu masalah Baekhyun. Baekhyun tidak pernah menceritakannya pada Kyungsoo. Justru karena sahabat, ada hal yang tidak perlu diketahui, kata Baekhyun.

"Aw!" pekik Baekhyun pelan, lalu melepaskan pelukannya. Perutnya entah terasa sakit saat tersentuh tubuh Kyungsoo.

"Kenapa?" Tanya Kyungsoo histeris. Baekhyun menutupi perutnya, menyembunyikannya dari Kyungsoo.

"Ada apa dengan perutmu?" Tanya Kyungsoo dengan menyudutkan Baekhyun.

Baekhyun mengelengkan kepalanya, seolah gerakannya terbaca oleh Kyungsoo. Ia tahu Baekhyun menyembunyikan sesuatu dibalik perutnya.

Dengan sedikit paksa Kyungsoo menyikap baju Baekhyun. Matanya menangkap sebuah luka memar diperut Baekhyun. Pantas saja Baekhyun memekik saat bersentuhan dengannya.

"Apa yang terjadi?" Tanya Kyungsoo to the point. Baekhyun lalu menutup bajunya sebal.

"Tidak ada." Ucapnya masih saja berbohong. Kyungsoo berdecak mendengar sahabatnya masih saja berbohong.

"Baiklah. Mengapa perutmu memar? Dan wajahmu terlihat seperti mayat hidup. Tidak mungkin tidak ada sesuatu yang terjadi padamu."

"Perutku hanya terbentur, dan luka ini tidak ada hubungannya dengan wajahku yang seperti kau bilang tadi." Alibinya.

"Kau tidak akan memberi tahunya padaku, betulkan?" Tanya Kyungsoo sebal. Baekhyun membalasnya dengan tersenyum jahil.

"Karena kau sahabatku." Katanya sebelum melesat pergi sambil menjulurkan lidah.

Bagaimana bisa disebut sahabat jika Baekhyun tidak pernah berbagi bebannya pada Kyungsoo. Ada pepatah yang berbunyi, berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Baik suka mau pun duka ditanggung dan dirasakan bersama-sama. Begitu juga dengan beban yang Baekhyun alami. Kadang Kyungsoo ingin juga merasakan beban yang Baekhyun alami. Tapi, Baekhyun selalu menolaknya dan menyembunyikannya.

.

.

Tidak seperti biasanya, Baekhyun diam saat jam pelajaran berlangsung. Chanyeol melirik Baekhyun bingung dengan tingkah lakunya aneh. Biasanya Baekhyun akan mengoceh sepanjang pelajaran berlangsung. Menceritakan kehidupannya ketika dirumah bersama kedua orangtuanya. Memang ceritanya agak terdengar konyol, sebenarnya Chanyeol selalu mendengarkan cerita Baekhyun. Itu seperti hiburan tersendiri baginya, terlebih ketika pelajaran sejarah berlangsung. Walaupun Chanyeol terlihat tak acuh dengan cerita Baekhyun. Kini, diam-diam Chanyeol merindukan bibir tipis namja disampingnya mengoceh panjang lebar.

Chanyeol yang gemas melihat Baekhyun terus melamun dengan tatapan kosong akhirnya menyobek kertas dan meremasnya. Lalu melemparnya ke Baekhyun.

Baekhyun tidak bereaksi saat Chanyeol melempar kertas ke arahnya. Tetap duduk termangu dengan tatapan kosong. Tapi Chanyeol juga tidak ingin kalah, ia menyobek kertasnya lagi dan melemparnya pada Baekhyun, dan hasilnya tetap sama.

"Cih." Desisnya kesal. Chanyeol pun akhirnya melemparkan penghapusnya ke kepala Baekhyun. Mungkin dengan ini Baekhyun bisa sadar.

"Jangan melempar penghapus sembarangan." Ucap Baekhyun tanpa menengok. Pikirannya masih terfokus dengan kejadian kemarin, yang membuka kembali lembaran masa lalunya.

Chanyeol sedikit malu saat mengambil penghapusnya disebelah meja Baekhyun karena ia tidak menengok.

Sekarang Chanyeol tidak mengerti apa yang terjadi pada Baekhyun. Ia gengsi untuk bertanya. Gengsinya selalu saja muncul. Entah mengapa saat ini Chanyeol prihatin melihat raut wajah Baekhyun yang suram menurutnya. Kantung matanya menghitam. Wajahnya benar-benar seperti zombie.

Saat Chanyeol menerka-nerka apa yang terjadi, ia tersudut pada satu kemungkinan. Apa ini penyebabnya?

Chanyeol teringat saat kemarin tidak sengaja memukul Baekhyun. Ia tidak tahu Baekhyun melindungi Kai. Chanyeol tidak mengerti mengapa Baekhyun malah ingin menyakiti dirinya dengan melindungi Kai. Dan Chanyeol juga tidak mengerti mengapa Kai tiba-tiba menyerangnya.

.

.

Chanyeol menarik tali ranselnya saat keluar sekolah, lalu membuang napasnya perlahan.

"Hebat juga kau." Ucap Kyuhyun yang tiba-tiba sudah berada disamping Chanyeol.

"Pukulanmu pasti sangat menyakitkan kemarin. Kau sangat menghebohkan kelas loh. Untung saja hanya siswa-siswa dilantai dua yang menyaksikannya." Katanya lagi. Chanyeol melirik sinis ke arah Kyuhyun. Chanyeol mempercepat langkahnya, ia malas berjalan dengan Kyuhyun yang seenaknya berbicara seperti itu. Chanyeol tahu, ia kemarin sudah sangat keterlaluan. Tapi, peduli apa bukan Chanyeol yang memulai. Melainkan Kai. Beruntungnya saat kejadian tidak ada guru yang tahu tentang pertengkaran yang lumayan singkat dan sedikit menghebohkan itu. Bisa mati Chanyeol kalau sampai digiring keruang guru.

"Kenapa kau ikuti aku?!" Tanya Chanyeol geram saat ia sudah sampai dijalan rumahnya, karena sedari tadi Kyuhyun mengikutinya. Kyuhyun malah menampakkan wajah tak percaya, bahkan sangat terkejut.

"Astaga!" ucapnya miris. "Lihat rumah bercat biru itu," katanya sambil menunjuk 3 rumah setelah rumah Chanyeol. "Itu rumahku." Jawab Kyu. Chanyeol menatap Kyu tak percaya. Dia tidak pernah sadar jika Kyu adalah tetangganya.

"Kau baru sadar?" Tanyanya prihatin lalu berlalu. Chanyeol masih menatapnya tak percaya. Ia memang tidak pernah berbaur dengan tetangganya. Mungkin itu penyebabnya.

Ponsel disaku Chanyeol bergetar. Saat ia masih terbengong. Ia mengangkatnya dan menatap ponselnya bingung. Nomor tak dikenal. Lalu ia menjawab panggilan itu.

Chanyeol mematung setelah menerima telfon itu. Tubuhnya mendadak kaku. Hatinya terasa perih. Chanyeol menjatuhkan ponselnya, detik selanjutnya ia sudah berlari menuju rumah sakit.

Kyu menengok saat Chanyeol pergi berlari dan menjatuhkan ponselnya. Ia melihat ponsel Chanyeol tergeletak dijalan. Kyu kemudian menyambarnya. Disana masih tersambung sebuah panggilan.

"Halo? Halo? Saat ini Ibumu sedang berada dirumah sakit setelah mengalami kecelakaan." Ucap seseorang dari telfon.

Kyu terkejut saat mendengarnya. Pantas saja Chanyeol langsung pergi sampai tidak sadar menjatuhkan ponselnya. Kyu pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti kemana Chanyeol berlari. Tubuhnya masih terlihat, walau sudah jauh. Kyu segera mengejar Chanyeol dengan memanfaatkan waktu yang ada.

.

Chanyeol menyandarkan tubuhnya pada tembok, mengasihani hidupnya yang tragis. Nyawa Ibunya tidak terselamatkan akibat kecelakaan mobil. Chanyeol tidak sanggup melihat jasad Ibunya yang berlumuran darah. Tadi dokter berkata sudah berusaha dengan semaksimal mungkin, tetapi tetap tidak dapat menyelamatkan nyawa Ibunya.

"Aku turut berduka." Ucap Kyu sedih. Chanyeol memandang Kyu dingin.

"Pergi." Katanya lirih. Saat ini Chanyeol benar-benar lelah. Tak pernah terpikir olehnya hidup tanpa satu-satunya keluarga yang ia miliki. Kyu menaruh ponsel Chanyeol disebelahnya, ia tidak mau mengganggu Chanyeol saat ini.

Kyu ingin segera pergi tapi prihatin terhadap keadaan Chanyeol sekarang. Tatapannya kosong, seperti memberikan isyarat bahwa ia sedang sangat terpukul saat ini karena kematian Ibunya. Kyu tahu siapa yang bisa menenangkan Chanyeol saat ini. Ia akhirnya menghubungi seseorang yang sudah mulai berarti untuk Chanyeol sebelum pergi meninggalkan rumah sakit.

"Bisa kau temani Chanyeol, Baekhyun? Ibunya baru saja kecelakaan dan meninggal."

"Astaga. Dimana dia sekarang?"

"Dirumah sakit dipinggir kota."

.

.

Kyungsoo menutup pintu pasien rumah sakit. Ia baru saja menjenguk temannya yang sedang sakit. Sebenarnya Kyungsoo tidak terlalu menyukai rumah sakit. Menurutnya dirumah sakit banyak kesedihan dan kepedihan yang terjadi. Kyungsoo juga tidak menyukai aroma rumah sakit. Jika demam sekali pun, Kyungsoo hanya mau berdiam diri dirumah dan meminum obatnya tanpa ikut pergi membeli obat.

Ketika hendak pergi dari rumah sakit, ia tak sengaja melihat Chanyeol yang sudah tertunduk lemas, disudut bangku rumah sakit. Keadaannya sangat memprihatinkan. Kyungsoo tidak tahu apa yang terjadi pada namja itu. Kyungsoo pun akhirnya memutuskan untuk mendekati Chanyeol.

Chanyeol mengangkat kepalanya saat menyadari seseorang berdiri disampingnya. Ia hanya tersenyum, senyum palsu untuk menutupi kesedihannya.

"Apa yang terjadi?" Tanya Kyungsoo langsung.

"Kecelakaan.." katanya tak jelas. "Ibuku kecelakaan." Ucapnya berat. Kyungsoo terkejut tapi kemudian menatap Chanyeol kasihan.

"Dokter tidak bisa menyelamatkannya." Sambung Chanyeol lagi. Tak ada senyum yang terukir disana. Senyumnya lenyap saat memberitahu bahwa Ibunya sudah meninggal.

Kyungsoo sedih melihat keadaan Chanyeol yang seperti ini. Ia tahu Chanyeol sangat menyayangi Ibunya. Ia mengambil posisi duduk disebelah Chanyeol. Berusaha menenangkannya.

"Tinggalkan aku." Ucap Chanyeol tiba-tiba.

"Aku ingin menemanimu." Jawab Kyungsoo. "Pergi." Perintah Chanyeol.

"Jika itu membuatmu tenang. Aku akan pergi."

Hatinya seperti teriris saat Chanyeol menyuruhnya pergi. Kyungsoo tidak pernah menyangka sebelumnya. Ia tahu Chanyeol sedang sedih, tapi sikap Chanyeol ini juga membuatnya sedih. Sudah Kyungsoo bilangkan ia tidak suka rumah sakit. Banyak tersimpan kesedihan didalamnya.

Chanyeol membuang napasnya berat saat Kyungsoo pergi. Chanyeol tahu Kyungsoo khawatir. Tapi Kyungsoo melihatnya dengan pandangan itu. Pandangan penuh simpati dan khawatir sekaligus kasihan. Chanyeol muak dengan pandangan itu. Chanyeol tidak suka dengan perlakuan seperti dikasihani.

Chanyeol melangkahkan kakinya keluar rumah sakit, duduk di tepi tangga masuk. Ia sudah tidak kuat berada didalam rumah sakit. Hatinya terlalu hancur sampai ingin mati.

Baekhyun sampai dirumah sakit. Ia melihat Chanyeol dari kejauhan. Keadaannya memang terlihat buruk.

"Chanyeol.." Baekhyun memanggilnya pelan.

Tidak ada jawaban. "Chanyeol.." panggil Baekhyun lagi.

"Sedang apa kau disini?" Chanyeol menoleh sekilas. Seolah tak terjadi apa-apa.

Baekhyun khawatir. Ia ingin menemani Chanyeol, dia pasti butuh seseorang. Baekhyun menyerahkan jaket yang dia bawa, Chanyeol tidak menolaknya saat menerimanya. Entah kehangatan apa yang tersimpan dibalik jaket itu, membuat Chanyeol merasakan kehangatannya. Ia menarik sedikit sudut bibirnya saat menerimannya.

"Aku tidak apa-apa pergilah." Ucap Chanyeol lemah. Baekhyun menggeleng. Tidak puas dengan jawaban Chanyeol.

Wajahnya pucat pasi, senyumnya palsu, rambutnya berantakan, tatapannya kosong. Baekhyun tidak percaya dengan ucapan Chanyeol yang seolah mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.

Baekhyun duduk termenung disebelah Chanyeol, menekuk lututnya. Perlahan Chanyeol mengingatkannya pada luka masa lalu yang menyakitkan. Ia tahu bagaimana rasanya ditinggalkan. Ia tahu bagaimana rasanya sendirian.

Baekhyun merengkuh tubuhnya lebih dalam, mengamati titik-titik hujan yang seperti ikut bersedih mewakili perasaan Chanyeol. Mereka duduk dalam kesunyian, membungkam dalam beberapa menit. Hingga sibuk dalam pikiran masing-masing.

"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Chanyeol memecah kesunyian diantara rintik hujan.

"Mengapa hidup terlalu singkat? Kenapa tuhan merenggut semua yang aku miliki?" tanyanya pilu. Tubuhnya mulai gemetar, wajahnya berangsur-angsur berawan. Air mata mulai mengintip dari pelupuk matanya.

Baekhyun merengkuh tubuh Chanyeol yang gemetar. Tangis Chanyeol pecah saat Baekhyun memeluknya. Baekhyun juga pernah mengalami hal yang sama. Chanyeol membiarkan Baekhyun merasakan kesedihan yang disimpannya sendiri. Ia hanya merasa kenyamanan dan ketenangan saat Baekhyun merengkuh tubuhnya. Tubuh kecil yang menenangkan jiwanya yang terasa pilu. Chanyeol membalas rengkuhan tubuh Baekhyun hingga mereka berdua merasakan kehangatan tubuh masing-masing.

Air mata telah membasahi pundak Baekhyun, sekilas Chanyeol menatap Baekhyun. Pandangannya berbeda. Pandangannya hampa. Seolah Baekhyun juga pernah merasakan kesepian yang sama dengan dirinya.

.

.

.

Beberapa hari setelah kematian Ibu Chanyeol. Ia sudah mulai kembali menjadi dirinya yang dulu. Chanyeol kembali mengingat kejadian saat Baekhyun merengkuh tubuhnya. Sudah kedua kalinya Chanyeol merasakan ketenangan dan kehangatan yang sama setiap kali Baekhyun memeluk tubuhnya.

Chanyeol sadar Baekhyun begitu baik dan perhatian padanya. Tapi tetap saja ia masih terlalu gengsi untuk mengakui jika dirinya kini sudah mulai membuka hati untuk namja berwajah manis itu.

Rencananya malam ini Chanyeol ingin berterimakasih pada Baekhyun waktu itu. Chanyeol menuju apartemen Baekhyun dengan ingatan yang samar-samar. Chanyeol tidak begitu ingat persis dimana letaknya. Karena waktu itu dia segera melupakannya. Dan ia tidak menyangka hari ini Chanyeol membutuhkan ingatan itu kembali.

Dengan ingatan yang pas-pasan Chanyeol sampai di apartemen Baekhyun. Ia melihat papan yang bertuliskan nama apartemen yang sama seperti waktu ia mengantar Baekhyun.

Belum bisa Chanyeol melangkahkan kakinya, Baekhyun sudah terlebih dulu keluar dari pintu masuk apartemen. Nampaknya ia tidak menyadari kehadiran Chanyeol. Ia malah berjalan dan membetulkan earphone yang dipakainya.

Baekhyun malam ini akan bertemu Kai. Namja berkulit tan itu mengajaknya ke sekolah entah apa yang akan ditunjukannya pada Baekhyun. Ia mengecek ponselnya dan mengirim pesan pada Kai.

'Aku akan segera sampai.^_^'

Chanyeol sebenarnya tidak bermaksud membuntuti Baekhyun, ia hanya ingin mengikuti kemana namja itu pergi. Mungkin keadaannya mulai berbalik, Chanyeol yang menguntit Baekhyun.

.

Baekhyun sampai di sekolah, ia melambaikan tangannya saat melihat Kai sudah menunggu dibelakang sekolah. Kai tersenyum saat melihat Baekhyun dan memberikan isyarat agar mendekat padanya.

"Kita akan memanjatnya seperti waktu itu?" tanya Baekhyun antusias. Kai mengangguk dan membantu Baekhyun memanjat pagar belakang sekolah. Dan disusul Kai juga memanjatnya.

Chanyeol menatap Baekhyun dan Kai dari tempat persembunyiannya, tidak mengerti apa yang akan dilakukan mereka berdua disekolah malam-malam. Tapi justru itu malah membangkitkan rasa penasaranya lebih dalam lagi. Chanyeol akhirnya memanjat pagar dan mengikuti Baekhyun lagi.

"Sebenarnya kita mau apa kesini?" tanya Baekhyun. Tangannya masih terus digenggam oleh Kai.

"Kesini." Jawab Kai setelah sampai pada lapangan bola.

"Lapangan bola?" tanya Baekhyun bingung. Suasana lapangan bola saat ini sangat gelap dan sepi. Kai melepas genggamannya.

"Tunggu sebentar." Ucapnya sedikit berlari entah kemana. Baekhyun bergidik ngeri saat melihat lapangan sepak bola yang agak menyeramkan saat malam.

Tiba-tiba saja lampu menyala, menggantikan lapangan sepak bola yang tadinya menyeramkan menjadi begitu indah. Baekhyun melihat ke bawah menatap bayangannya yang kini telah menjadi empat. Ia terlalu kagum dengan ini. "Kau masih takut? Kita tidak akan kesepian." Ucap Kai saat kembali sambil melihat bayangannya. Baekhyun menggeleng mantap. Senyumnya mengembang.

Kai mengajak Baekhyun berbaring ditengah lapangan. Memandangi langit gelap yang dihiasi cahaya malam bintang. Kai menekuk lengannya dibawah kepala.

"Katanya, malam ini akan ada bintang jatuh." Baekhyun melirik sekilas lalu mengukir seulas senyum dan mengangguk.

"Makanya aku mengajakmu kesini." Lanjut Kai.

"Permohonan apa yang akan kau buat?" tanya Baekhyun. Kai tidak menjawab tapi malah bernyanyi. Entah apa maksudnya.

"This is not what I intended. I always swore to you I'd never fall apart~" katanya mencoba bernyanyi. Baekhyun terkekeh pelan saat Kai meliriknya, ia tahu Kai sedang mencoba bernyanyi dengan baik untuknya.

"You always thought that I was stronger. I may have failed~" Baekhyun menatap langit sambil menikmati suara khas yang dimiliki Kai.

"But I have loved you from the start~" nyanyi Kai lalu bangkit. Ia menawarkan tangannya. Tanpa sadar Baekhyun menyambutnya, sambil tersenyum tak percaya.

Kai memegang pinggul Baekhyun canggung. Jaraknya saat ini hanya terpaut beberapa senti saja. Ia mengajak Baekhyun berdansa ditengah lapangan dengan berlatarkan langit gelap penuh bintang.

Tubuh Kai berayun pelan. Baekhyun mengikuti Kai canggung, debaran jantungnya tidak teratur. Bayangan mereka bergerak pelan mengikutinya.

"Oh~ But hold your breath…" sambung Baekhyun yang membuat Kai setengah terkejut. Suara Baekhyun sangat merdu, Kai ingin terus mendengarnya.

Kai tersenyum saat memandang Baekhyun tersipu dibawah cahaya temaram. Jantungnya berpacu terus. Kai sampai takut jika Baekhyun bisa mendengarnya.

Mereka lalu bernyanyi bersama. "Because tonight will be the night, that I will fall for you. Over again, don't make me change my mind. Or I won't live to see another day, I swear it's true~"

Baekhyun diam sebentar seperti membiarkan Kai yang menyanyikan bagian ini. "Because a girl like you is impossible to find, you're impossible to find."

Kai terdiam. Pandangan mereka terkunci. Ia menatap lekat-letak namja didepannya. Detik selanjutnya ia berpikir keras. Malam ini atau tidak salam sekali. Dengan keberanian yang ia kumpulkan, Kai mencondongkan wajahnya dan menempelkan bibirnya pada bibir tipis milik Baekhyun. Saat itulah bintang jatuh. Kai berharap agar Baekhyun bisa menjadi miliknya.

.

Chanyeol membesarkan matanya saat melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri. Ia mengucek matanya, meyakinkan apa ia tidak salah lihat. Kini, ia tahu kenapa Baekhyun waktu itu menyelamatkan Kai. Dan membiarkan dirinyalah yang terluka. Dadanya terasa sesak saat melihat adegan ciuman itu, entah mengapa hatinya terasa sakit. Ia sudah tidak tahan dan kemudian pergi. Chanyeol memaki dirinya yang tadi mengikuti Baekhyun. Harusnya niat untuk berterimakasih memang tidak pantas untuk diucapkan. Chanyeol memukuli kepalanya merasa bodoh. Ia bingung dengan perasaannya. Tidak mengerti gejolak apa yang terjadi didalam hatinya.

Chanyeol selalu meyakinkan dirinya kalau dia membenci Baekhyun dan hanya menyukai Kyungsoo. Tapi kali ini, Chanyeol merasakan sakit ketika melihat Kai mencium Baekhyun. Hati kecilnya mengatakan bahwa ia telah jatuh cinta pada Baekhyun. Tapi Chanyeol tetap menolak kenyataan itu.

.

Sesaat Baekhyun menikmati ciuman itu. Namun, ia tersadar. Dan segera melepaskannya. Ciuman itu memang membuat debaran jantung Baekhyun menjadi tak karuan. Kai menatap Baekhyun dengan tatapan seolah bertanya, 'kenapa?'

Baekhyun tertunduk menatap bayangannya dan Kai dirumput. Sekarang pikirannya malah terfokus pada Chanyeol. Saat-saat ia merengkuhnya, berbagi kesedihan untuk pertama kalinya.

Baekhyun bertanya dalam hati, 'Apa yang harus aku perbuat?'

.

.

.

.

.

.

.


Duh akhirnya ke post juga ini chapter/? menurut aku ini chapter paling ngebosenin sepanjang aku ngetik wkwk. btw itu lirik lagunya ngga aku ganti. abis kalo diganti jadi 'boy' gitu jadi gak ngefeel/? ngehehe.

Udah ada ChanBaek momentnyakan ya? dikit sih. emang. /digebukin/-_-v

hayo mana Kaibaek shipper... udah romantis belum?

Makasih ya buat yang sudah review follow fav. aku tanpa mu butiran debuu/? buat yang masih sider muncul dong. gak gigit kok/?

sampai jumpa chapter depan~

gamsahamida