Title : Giraffe and Strawberry

Author : haco

Cast : Chanbaek and others

Genre : School romance

warning boyxboy

sorry for typo and anything, review please and dont bash

.

.

.

Chapter 6

.

.

.


"Cepat masuk." Ucap Kai sambil mengacak rambut Baekhyun. Senyumnya dipaksakan. Baekhyun baru saja menolaknya. Kai tahu apa alasan Baekhyun menolaknya, sebenarnya Kai sudah mempersiapkan mental untuk ini. Tapi, Kai benar-benar tidak tahu jika Baekhyun nyatanya memang akan menolaknya.

Baekhyun masih tertahan didepan Kai. Ada perasaan bersalah dari sorot matanya. Tapi, bagaimana pun juga, Baekhyun tidak bisa membohongi perasaannya. Baekhyun hanya menyukai Chanyeol. Cukup hanya percaya bahwa cinta itu membuat buta.

"Kita masih bisa berteman?" tanya Baekhyun hati-hati. Kai mengangguk dan tersenyum simpul penuh arti. Rasanya berat memang. Pertemanan seakan terdengar persis seperti kata perpisahan ditelinga Kai. Namun, Kai juga sadar. Betapa ia mencintai Baekhyun. Betapa ia menyayangi Baekhyun. Perasaannya tak akan pernah terbalas. Karena cinta tak pernah bisa dipaksakan. Jika itu terjadi, sama halnya seperti berjalan diatas kaca, setiap langkah hanya akan menuai luka.

Kai, tidak ingin itu terjadi. Ia tidak ingin Baekhyun terluka. Tetapi tidak munafik jika suatu hari nanti Kai akan merebut kembali Baekhyun jika Chanyeol menyakitinya. Kai akan terus memberi ruang dihatinya jika Baekhyun ingin berlabu disana.

Baekhyun tersenyum senang. "Baiklah. Mulai sekarang kita akan jadi teman baik." Katanya yakin. "Aku masuk dulu." Ucapnya lalu segera memutar tubuh. Kai masih menunggunya sampai tubuh mungil itu benar-benar sudah tidak nampak. Hatinya masih sakit. Sesungguhnya, Kai tidak bisa menerima kenyataan pahit yang dialaminya. Hatinya bagai tersayat pisau. Kali ini saja. Bolehkan Kai ingin egois?

Kai berjalan dengan cepat kearah Baekhyun. Ia menarik lengan Baekhyun. Tangannya bergerak liar dipinggul Baekhyun, melingkarkannya disana, seakan tak akan pernah bisa dilepaskan. Lalu menyandarkan dagunya pada pundak Baekhyun. Kai memeluk dari belakang tubuh mungil itu erat-erat. Ia berharap seseorang dapat menghentikan waktu. Membiarkannya memeluk Baekhyun dalam jangka waktu yang lama. Membiarkannya merasakan kehadiran Baekhyun dihatinya lagi sebelum ia benar-benar akan melepas seseorang yang sangat ia cintai ini.

"Biarkan aku memelukmu." Ucap Kai lirih. Belum sempat Baekhyun mengeluarkan sepatah kata dari bibir tipisnya, Kai sudah lebih dulu berucap. "Sekali ini saja." Selanya. Baekhyun menarik sedikit sudut bibirnya. Ia paham bagaimana perasaan Kai. Ia membiarkan Kai memeluknya tubuhnya. Membiarkan tangan hangat Kai merengkuh tubuhnya.

"Aku akan berusaha" menerima kenyataan ini. Kata Kai dengan nada lega. Baekhyun mengangguk mengerti. Walau susah, Kai melepaskan pelukannya. Mungkin akhir bahagia memang bukan milik Kai.

.

Baekhyun berjalan dengan diam menuju kamar apartemennya. Baekhyun merasa bersalah atas perbuatannya tadi di lapangan sepak bola, ia menolak Kai. Kembali terulang dibenaknya saat Kai selalu menolongnya. Baekhyun sadar perasaan Kai bukan main-main. Kai mencintainya.

Baekhyun tidak jatuh cinta pada Kai. Kalau memang ia menyukai Kai, harusnya ketika berciuman tadi, otaknya tidak akan mengakses wajah Chanyeol. Pikirannya, otaknya, perasaannya, rasanya telah dikuasai oleh Chanyeol. Baekhyun tidak bisa berkutik untuk tidak terus memikirkan Chanyeol.

Saat hendak masuk ke kamar apartemen langkah kecilnya terhenti. Sosok jangkung itu kali ini benar-benar muncul dihadapannya. Mungkin ia telah menunggu Baekhyun sedari tadi.

"Lama tak jumpa." Sapanya santai seolah tidak ada apa pun yang terjadi. Baekhyun tidak menjawabnya, ia malas harus bercakap-cakap dengan Kris. Baekhyun hanya diam dan berusaha membuka kunci pintu kamar apartemennya.

"Aku baru tahu kalau kau tuli." Ucap Kris seenaknya. Baekhyun sontak mengalihkan pandangannya tajam. Mau tidak mau dia menengok juga, sebal dengan perkataan Kris

"Hey! aku hanya bercanda." kata Kris disela tawanya saat melihat tatapan Baekhyun.

"Mau apa kau kembali kesini?!" tanya Baekhyun ketus. Ia sudah sangat muak dengan Kris yang sangat santai ini. Apa mungkin namja ini buta akan perbuatannya pada Baekhyun. Entahlah.

"Ayo pulang." Kata Kris kali ini dengan nada sungguh-sungguh. Baekhyun menyiritkan dahinya bingung. Ia menertawai Kris dalam hati. Namja ini buta, bodoh atau polos? Sudah jelas saat ini Baekhyun berada didepan pintu tempatnya pulang dan beristirahat. Mungkin ketiga kemungkinan tadi semuanya telah resmi dimiliki Kris sekarang.

"Rumahku disini. Kau lupa ya? Ckck." Ucapnya sambil berdecak. Kris menarik napasnya dalam. Dari ucapan dan perlakuannya, Kris tahu Baekhyun marah padanya. Kris juga tidak heran jika Baekhyun kini membencinya. Ia ingat betul kejadian beberapa tahun yang lalu. Kris merengkuh tubuh lemah Baekhyun yang bergetar, ia tahu Baekhyun menganggapnya sebagai tiang untuknya bertahan hidup.

Satu hal yang sedari dulu selalu mengusik tidurnya sejak meninggalkan Baekhyun. Sebuah janji yang ia ingkari untuk alasan bertahan hidup pula.

"Kau marah padaku, iyakan?" tanya Kris dengan suara beratnya. Matanya tidak ingin menatap Baekhyun. Memang kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah meninggalkan Baekhyun.

Baekhyun mengendus, "Menurutmu?" tanya Baekhyun geram.

"Bisa kita perbaiki semuanya?" ucap Kris penuh harap. Kini harapan untuk Baekhyun kembali padanya mulai tumbuh kembali. Mungkin masih ada setetes harapan yang tersisa jika Kris berusaha.

Baekhyun menatap Kris remeh, memangnya memperbaiki hati yang telah terluka semudah membalik telapak tangan? Hati, perlu ditata kembali dengan hati-hati setelah mengalami luka.

"Kau pikir semudah itu? Dangkal sekali sih, pemikiranmu." Kata Baekhyun emosi. "Sudah tidak ada gunanya kalau kancing pertama saja sudah salah dipasang. Semua sudah hancur. Tamat sudah." Sahut Baekhyun sengit.

"Tapi kita bisa melepas kembali kancing itu, dan memasangnya dengan benar." Balas Kris. Baekhyun memincingkan matanya, menatap Kris tajam. "Aku bisa memperbaiki kesalahanku.." kata Kris memohon.

"Sebaiknya kau tidak usah kembali lagi!" tukas Baekhyun. Kris kembali menghela napasnya, mencoba bersabar. Kris sudah tahu pasti akan menghadapi Baekhyun yang seperti ini.

"Kau! Semua tentangmu sudahku buang jauh-jauh!" bentak Baekhyun emosinya sudah sangat meluap sekarang. Kris membiarkan Baekhyun menumpahkan segala amarahnya.

"Tidakkah kau berpikir betapa bodohnya aku dulu percaya pada janji palsumu?!" Baekhyun mengatur napasnya. Emosinya sudah memuncak, beban sedari dulu yang ia simpan rasanya seperti tumpah malam ini kepada Kris.

Kris tersenyum kecut. Ia mencibir dirinya sendiri. Lalu memandang Baekhyun dengan tatapan kosong.

"Aku memang pengecut." Ucap Kris sambil menundukan kepalanya. Perlahan ia bergerak menurun, duduk berlutut di depan Baekhyun.

"Aku..terlalu takut untuk mengakuinya.." tubuhnya mulai gemetar saat mengucapkannya. Memori akan masa lalu terputar dibenak Kris. Kebodohan dan kegilaan yang ia lakukan. Akibat fatal yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya

" Dulu.. Akulah simpanan Ibumu." Jelas Kris. Kepalanya masih tertunduk, ia berlutut di depan Baekhyun. Kris sudah siap jika Baekhyun akan memakinya atau membunuhnya saat itu juga.

"Aku.. penyebab perceraian orangtuamu."

Baekhyun terpaku saat mendengarnya. Air mata mulai menggenang dimatanya. Ia tidak pernah menyangka mendengar sebuah kebenaran ternyata sangat menyakitkan. Seperti menggoreskan kaca pada luka.

Perih. Hatinya terasa sangat pilu.

"Waktu itu aku miskin, aku butuh uang. Dengan mudah aku menyanggupi tawaran Ibumu untuk berkencan. Tapi aku berani sumpah, waktu itu aku tidak tahu jika dia Ibumu."

" Aku memang sangat bodoh!" rintih Kris sambil memukuli kepalanya sendiri.

"Saat aku lulus SMA, aku pergi bersama Ibumu ke Kanada. Itu juga karena uang. Uang membutakan aku yang miskin, aku yang sejak kecil tinggal dipanti asuhan, aku juga ingin memiliki Ibu sepertimu, aku juga ingin hidup penuh uang, aku ingin hidup berkecukupan. Aku tidak pernah tahu jika perbuatan gilaku akan menghancurkan hidupmu." Ucap Kris menyesali segala perbuatannya.

Tubuh Baekhyun merosot. Telinganya sudah lelah mendengar semua kebenaran yang sangat menyakitkan. Air mata sudah membasahi wajah pucatnya. Badannya bergetar hebat.

"Ka-a-u." katanya sesegukan. "Bohongkan?! Kau bohongkan?!" mendadak Baekhyun skeptis. Ia menutup telinganya, berharap tadi ia tidak pernah mendengar apa pun.

"Katakan jika ucapanmu tadi bohong! Katakan!" rintih Baekhyun sambil mengguncang-guncangkan bahu Kris kuat.

"Maaf…" ucap Kris lirih. Hanya kata maaf yang bisa Kris ucapkan saat ini. Tanpa sadar ia menitikan air mata. Menyesali segala perbuatannya.

Baekhyun menyandarkan tubuhnya pada tembok. Merengkuh dirinya. Dan meraung dalam tangis. Ia benci dengan nasibnya. Benci dengan takdir yang kejam. Takdir yang seakan menggrogoti kebahagiaan Baekhyun.

.

.

Flashback on

.

"Eum, selamat atas lukisanmu." Kata Kris menyelamati.

"Lukisanku?" tanya Baekhyun heran.

"Lukisanmu dipajang dipameran sekolahku." Jawab Kris sambil mengacak rambut Baekhyun.

"Dipajang?!" tanya Baekhyun histeris. "Benarkan? Hyung! jadi aku lulus seleksi pameran lukisan disekolahmu?!" tanyanya masih antusias.

"Hyung tolong jangan bangunkan aku!" Kris terkekeh pelan, lalu mencubit pipi Baekhyun.

"Kau tidak bermimpi." Ucapnya sambil menatap geli Baekhyun yang sedang memejamkan matanya. Kris selalu menyukai namja dihadapannya ini. Tingkahnya yang menggemaskan dan wajahnya yang cute. Kris sangat menyukai mata Baekhyun, matanya bersinar. Sinar yang seolah tak akan pernah redup.

Kris mengenal Baekhyun ketika ia melukis disebuah taman didepan gedung. Kris juga sangat menyukai lukisan. Saat itu, anak laki-laki datang menghampirinya. Memuji lukisannya dan mengatakan ingin melukis bersama Kris.

Sejak itu, keduanya menjadi semakin dekat. Mereka sering menghabiskan waktu untuk melukis bersama, berbagi lelucon, dan kegiatan lainnya yang menyenangkan.

Saat Kris menginjak tingkat SMA, perlakuannya berubah kepada Baekhyun. Mereka jarang melukis bersama lagi. Kris lebih menyukai dunianya tanpa kehadiran Baekhyun. Uang merubah sikapnya. Uang membuatnya kehilangan jalan.

Kris berkenalan dengan seorang wanita disebuah Bar. Ia mendapat usulan dari temannya.

"Jika ingin mendapatkan banyak uang, kau harus menjadi simpanan orang kaya." Ucapan temanya itu selalu terputar dibenak Kris.

Awalnya Kris tidak menghiraukan ucapan itu. Namun, ia ingin uang. Ia ingin merubah hidupnya. Kris bosan hidup miskin. Kris pun tergiur dengan ucapan itu. Akhirnya ia memutuskan untuk menjadi simpanan seorang pengusaha wanita yang kaya raya. Jessica Jung.

Kris menjalin hubungan gelapnya dengan Jessica tanpa diketahui siapa pun. Hidup Kris berubah sejak berpacaran dengan Jessica. Kris hidup mewah di apartemen yang disewakan Jessica untuknya.

.

.

.

Sudah lama Kris tidak datang ke taman. Hari ini, ia akan mampir walau sebentar. Ia sudah merindukan Baekhyun, beberapa minggu ini, ia disibukan oleh pacar barunya. Dan melupakan Baekhyun.

Kris tersenyum saat melihat Baekhyun dari kejauhan. Ternyata ia tidak salah memilih hari untuk pergi ke taman. Baekhyun ada disana. Tapi, detik selanjutnya Kris menatap bingung Baekhyun. Tubuhnya bergetar hebat. Seperti sedang menangis.

Dengan cepat Kris menghampiri Baekhyun. Matanya berair, sinar dimatanya hilang. Digantikan air mata kesedihan. Kris memeluk tubuh rapuh itu, mendekapnya dalam pelukannya.

"Apa yang terjadi?" tanya Kris. Baekhyun tidak menjawab hanya menangis sesegukan dalam dekapan Kris.

"Orangtuaku bercerai." Jelas Baekhyun. Kris mengusap rambut Baekhyun pelan dan tersenyum.

"Jangan menangis." Kata Kris sambil mengacungkan jari kelingkinya di depan wajah Baekhyun, seperti ingin membuat janji.

"Baiklah ayo berjanji." Baekhyun tersenyum lemah melihat kelingking itu didepan matanya. Ia lalu mengusap air matanya.

"Aku akan bersamamu selalu." Katanya yakin. Dengan ragu Baekhyun mengaitkan jari kelingkingnya dan mengangguk lemah.

Kris telah membangun kembali semangat hidupnya.

.

.

.

"Kris.." panggil Jessica dalam keadaan mabuk. "Setelah perceraianku selesai. Kita bisa pergi ke manapun yang kau mau. Aku tidak sudi berada dalam satu Negara dengan mantan suamiku." Ucapnya sebal.

"Kita pergi berdua?" tanya Kris antusias sambil meneguk segelas winenya.

"Ya. Memangnya kau mau anakku ikut? Itu akan mengganggu." Jawab Jessica sambil menjatuhkan kepalanya ke meja Bar. Ia sudah sangat mabuk sekarang.

"Semoga anakmu tidak menangis seperti bayi Nuna." Timpal Kris sempoyongan. Jessica mendesah sebal.

"Anakku menangis tadi." Ucapnya sambil berdecak. "Dia seperti bayi. Mendengar aku bercerai saja menangis. Huh. Padahal dia tidak pernah merasakan bagaimana kejamnya perjodohan." Katanya gila. Kepalanya mulai berkunang karena terlalu banyak menghabiskan wine.

"Bagaimana bisa kau punya anak jika tidak mencintai suamimu?" tanya Kris. Jessica hanya tertawa miris.

"Nafsu." Lalu terjatuh dalam tidurnya karena mabuk berat.

'Drrrt'

"Nuna ponselmu bergetar." Ucap Kris kemudian meneguk minumannya lagi. Jessica tidak kunjung menjawab, bahkan merespon sekalipun karena sudah terlalu mabuk.

Lalu Kris menyambar ponsel itu. Dan mematikan panggilannya. Matanya yang tadinya sudah hampir mengantuk mendadak melebar saat melihat wallpaper ponsel yang ia pegang. Foto selca Jessica dengan seorang anak laki-laki.

Kris mencoba mengucek matanya, berharap yang ia lihat hanyalah sebuah halusinasi. Namun nihil.

Kris kenal dengan anak itu. Bahkan sangat mengenalnya. Sinar dimatanya membuat Kris yakin jika itu adalah Baekhyun. Kris menggelengkan kepalanya pelan. Berusaha menyadarkan dirinya.

'Tidak mungkin aku berkencan dengan Ibumu Baekhyun. Tidak' batin Kris lalu memijat sedikit dahinya.

"Aku pasti mabuk." Ucapnya tidak peduli dengan apa yang ia ketahui barusan.

.

.

Flashback off

.

"Sejak itu, aku takut bertemu denganmu. Aku takut semua yang aku takutkan adalah kenyataan." Sesal Kris.

"Aku memutuskan pergi dan menikah di Kanada dengan Ibumu. Arrrgh. Aku benci diriku yang pengecut!" Ucapnya frustasi. Baekhyun hanya diam. Tangisannya sudah reda. Tapi wajahnya pucat. Mereka duduk menyandar pada tembok. Sudah terlalu lelah dengan semua kebenaran yang terkuak.

"Bukan salahmu.." akhirnya Baekhyun membuka mulutnya setelah mendengar penjelasan dari Kris. Baekhyun sudah bisa mengendalikan amarahnya. "Nasib yang membuat kita menjadi seperti ini." Kata Baekhyun lirih.

"Kau harus tahu satu hal." Ucap Kris seolah ingin memberitahukan sebuah rahasia lagi. "Aku tidak pernah mencintai Ibumu sebagai seorang kekasih. Aku hanya mencintainya bagaikan Ibuku." Jelas Kris dengan tatapannya yang kosong.

"Dia menceraikan aku, karena perasaannya tak jauh berbeda denganku. Kini, aku, anak angkatnya. Aku mencari kebenaran, aku berusaha membuktikan dan meyakinkan diriku bahwa kau bukan anak dari wanita yang kini menjadi Ibuku. Tapi lambat laun aku sadar, aku memang hanya menolak kebenaran bahwa kau memang anaknya. Aku sudah menceritakan semuanya yang terjadi padamu pada Ibu." Kris tertawa pelan saat mengucapkan kata Ibu. Tawa mirisnya terdengar menyedihkan ditelinga Baekhyun.

"Aku saudara tiri mu sekarang. Saudara yang merebut semua kebahagianmu." Keluh Kris sambil menghirup oksigen dan menghembuskannya kasar. Ia butuh bernapas sampai Baekhyun bisa memaafkan semua kesalahannya. Baekhyun mendarkan kepalanya pada bahu Kris.

"Ibumu merindukanmu." Kata Kris lemah. Ia menatap sendu Baekhyun yang menyandar dibahunya. Setetes air mata mengalir tanpa sadar dipipi Baekhyun. Air mata bahagia. Ia belum pernah mendengar Ibunya merindukannya. Walau bukan terucap dari bibir Ibunya langsung, Baekhyun sudah bahagia.

Kris menghapus air mata dipipi Baekhyun lembut. "Berhentilah menangis." Ucapnya. Baekhyun sedikit menyinggungkan senyumnya dan mengangguk patuh.

.

.

.

Kris tersenyum sambil mengacak rambut Baekhyun. Baekhyun mengerucutkan bibirnya tak suka. "Rambutku sudah rapi Hyung!" gerutu Baekhyun sebal.

Kris hanya tersenyum jahil, "Sudah turun nanti kau telat." Perintah Kris. Hari ini Kris mengantarnya dengan menaiki taxi. Semalam Kris menginap di Apartemen Baekhyun, setelah argumentasi yang terjadi antara Kris dan Baekhyun kini mereka sudah kembali seperti semula. Tidak ada lagi janji, tidak ada lagi kebodohan yang terjadi diantara mereka. Sebenarnya, Baekhyun menawari Kris untuk terus menginap, tapi ia menolak. Katanya tidak ingin mengganggu Baekhyun. Padahalkan Baekhyun kesepian.

"Ne." angguknya dan melesat. Kris menghembuskan nafas lega. Masalahnya telah selesai dengan Baekhyun. Ia tidak menyangka semua terasa menjadi lebih damai. Tinggal satu hal lagi yang Kris harus lakukan. Membawa Baekhyun pergi meninggalkan Seoul.

.

.

Chanyeol mengetuk-ketukan pensilnya pada meja. Entah mengapa ia kesal dengan Baekhyun. Ia kesal melihat Baekhyun berciuman dengan Kai. Chanyeol tidak tahu apa yang membuatnya kesal. Chanyeol sudah bertekad untuk mengunci mulut jika Baekhyun mendekatinya hari ini. Anggap saja sebagai ganjaran atas berbuatannya membuat kesal Chanyeol. Karena Chanyeol pantang sekali dengan kata cemburu.

"Hei jerapah!" sapa Baekhyun riang.

"Chanyeol?" Ia melayangkan tangannya di depan wajah Chanyeol yang terlihat seperti melamun.

"Kau memikirkanku?" bisik Baekhyun dengan cengirannya. Chanyeol sontak terkejut dan mendorong bangkunya kasar.

Chanyeol mencibir Baekhyun yang terlihat bodoh didepannya. Sudah Chanyeol tetapkan ia akan mengunci mulut. Setelah Chanyeol meneguhkan tekadnya ia pun pergi keluar kelas tanpa menghiraukan Baekhyun.

Baekhyun mengendus sebal sambil menatap punggung tegap Chanyeol. Kemudian ia teringat sesuatu saat pagi tadi.

"Hei! Indah sekali ini. Siapa dia?" tanya Kris sambil mengosok-gosokan rambut basahnya dengan handuk. Baekhyun hanya tersenyum disamping Kris sambil menutupi rona dipipinya.

"Pacarmu?" goda Kris sambil menyenggol bahu Baekhyun. Ia menggeleng dan mempoutkan bibirnya.

"Tapi, doakan aku ya!" kata Baekhyun memohon sambil membuat kepalan tangan didepannya. Kris terkekeh melihat tingkah adik tirinya.

"Aku akan mendoakanmu, anak kecil." Ucapnya lalu tertawa.

"Aish! Aku bukan anak kecil Hyung!" pekik Baekhyun sambil memukuli Hyungnya.

Rencananya Baekhyun akan memberikan lukisannya pada Chanyeol. Ia akan mengatur semuanya agar berjalan lancar sesuai dengan apa yang ia harapkan.

.

.

Cuaca hari ini lumayan dingin bagi Chanyeol. Karena ia memutuskan keluar kelas, lebih baik ia pergi ke kantin dan membeli secangkir kopi untuk menghangatkan tubuhnya yang terasa sedikit kedinginan.

"Satu americano." Pesan Chanyeol pada pelayan kantin.

"Satu juga." Sambar Kyungsoo yang berdiri dibelakang Chanyeol. Ia tersenyum manis saat Chanyeol menatapnya sedikit kaget.

"Hei." Sapa Kyungsoo menyadarkan Chanyeol. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat Chanyeol yang lebih tinggi darinya.

"Err.. Hei." Jawab Chanyeol canggung sambil menggaruk tengkuk kepalanya. Sejak Chanyeol mengusir Kyungsoo dirumah sakit, ia belum bertemu lagi dengan Kyungsoo. Pertemuan ini membuatnya sedikit gugup. Namja dengan bibir berbentuk hati didepannya membuat Chanyeol jatuh lagi dalam pesonanya, membuat Chanyeol berhenti memikirkan Baekhyun.

"Bagaimana kabarmu?" tanya Kyungsoo membuka pembicaraan.

"Aku?" tanya Chanyeol balik sambil menunjuk wajahnya tak percaya. Lalu terkekeh pelan. "Em, hanya ada sedikit masalah yang mengusik. Tapi aku baik." Jawab Chanyeol. Kyungsoo hanya mengangguk sambil menyeruput kopinya perlahan. Lalu meniupnya.

"Kau?"

"Tentu saja baik." Ucap Kyungsoo.

Chanyeol memandang Kyungsoo lekat. Seperti mencoba mengingat sesuatu. Ia mengecek kalender di ponselnya, lalu kembali menatap Kyungsoo sedikit berbinar.

"Ada apa?" ucap Kyungsoo tidak mengerti dengan sikap Chanyeol.

"Apa kau ada acara nanti malam?" Kyungsoo sedikit berpikir, kemudian menggeleng pelan.

"Tidak." Jawabnya singkat. Chanyeol mengulum senyumnya dan mengangguk seperti menyimpan rahasia.

"Temui aku di taman kota pukul tujuh." Kata Chanyeol lalu berjingkat pergi membawa kopinya. Ia harus menyusun rencananya sekarang.

.

.

.

Chanyeol menatap pantulan dirinya dicermin. Menata kembali rambut hitamnya. Ia harus terlihat tampan malam ini. Chanyeol membetulkan kemejanya, lalu membalutnya dengan jaket. Kemudian menyambar sekaleng susu strawberry didepannya. Ia sudah membelinya tadi untuk Kyungsoo. Mungkin untuk malam spesial ini.

.

Angin berhembus kencang, udara malam semakin dingin. Gemerlap cahaya lampu menghiasi gelapnya malam. Sinar bulan membuat semuanya lengkap. Chanyeol menggengam tangan Kyungsoo yang dingin. Menghangatkan tangan Kyungsoo disaku jaketnya. Ia berhembus pelan, membuat kepulan udara didepannya.

"Masih dingin?" tanya Chanyeol lembut. Kyungsoo menggeleng pelan. Wajahnya yang seputih salju dan bibirnya yang merona ditengah dinginnya malam, membuat hati Chanyeol terus berdetak tidak jelas.

Wajah Kyungsoo sudah memanas akibat perlakuan Chanyeol terhadapnya. "Sebenarnya apa yang akan kita lakukan?" tanya Kyungsoo sambil mendongak menatap Chanyeol.

.

.

Baekhyun memeluk lukisannya yang ditutupi kain putih, menyembunyikan goresan wajah Chanyeol didalamnya. Ia akan memberikan lukisannya malam ini. Baekhyun sangat menggebu-gebu untuk hal yang satu ini. Ia berjalan dengan cepat agar sampai ke rumah Chanyeol lebih awal.

Baekhyun sudah beberapa kali memanggil Chanyeol dari luar rumahnya. Tapi pemilik rumah belum juga membukakan pintunya. Baekhyun mendesah. "Ah..apa dia marah padaku?" gumam Baekhyun. Baekhyun kembali mencoba memanggil Chanyeol dengan suara yang lebih keras. Namun tetap tidak ada tanda-tanda pintu akan terbuka.

Ternyata perbuatan Baekhyun tadi lumayan beresiko. Tetangga Chanyeol ada yang terganggu dengan teriakan Baekhyun yang cukup keras tadi.

"Pelankan suaramu!" maki seorang pria dengan kaos oblongnya. Tapi Baekhyun bukannya meminta maaf malah tersenyum girang.

"Baekhyun?!" ucap Kyu dengan wajah bodohnya. Seolah terkejut Baekhyun ada dihadapannya. Baekhyun terbahak melihat wajah Kyu yang terlihat sangat menggelikan dengan ekspresi bodoh khasnya.

"Hei." Sapa Baekhyun, "kau tetangga Chanyeol?" tanya Baekhyun sambil berjalan ke rumah Kyu yang berada beberapa meter dari rumah Chanyeol.

"Ya begitulah." Jawabnya asal. "Pasti kau mau menemui Chanyeol?" tebak Kyu langsung. Baekhyun mengangguk cepat.

"Dia tidak ada dirumah. Tapi tadi aku sempat melihatnya berbelok kesana." Ucap Kyu sambil menunjuk jalan yang berbelok ke arah kiri.

"Barangkali kau mau mengikutinya." Ucap Kyu sambil mengedikan bahunya. Baekhyun kembali mengangguk gembira.

"Itu sudah cukup. Aku pergi dulu." Kata Baekhyun sambil membungkukan badannya.

Baekhyun menarik jaketnya, menambah kehangatan untuk tubuhnya. Udara dingin semakin menusuk tubuhnya. Baekhyun tidak tahu harus kemana untuk mendapatkan Chanyeol, ia hanya berbelok dan mengikuti jalan sambil melihat kesekeliling mencari tubuh jangkung itu.

Langkah ringannya terhenti saat melihat Chanyeol berdiri dibelakang ayunan sambil mendorong seorang namja. Ia terlihat bahagia dengan seorang namja yang duduk diayunan itu. Baekhyun berdiri dibalik mobil yang terparkir disana, ia berusaha mengintip apa yang dilakukan Chanyeol sambil terus mendekap lukisan miliknya.

Mata Baekhyun menangkap sosok yang tidak asing lagi baginya. Seorang namja yang terduduk di ayunan adalah Kyungsoo, sahabatnya. Ia tidak dapat bergerak selangkah pun. Baekhyun tak dapat mengalihkan pandangannya sama sekali. Suasana taman yang sepi membuat suara Chanyeol dan Kyungsoo terdengar begitu jelas.

Chanyeol merogoh saku jaketnya, mengambil susu strawberry yang sudah ia bawa tadi. Lalu menangkap rantai ayunan yang dimainkan Kyungsoo.

"Aku membelikan ini untukmu." Ujar Chanyeol sambil berjongkok didepan Kyungsoo. "Ini bukan susu pemberian Baekhyun." Katanya lagi lalu mengusap rambut Kyungsoo lembut.

Baekhyun terkejut saat mendengar apa yang tadi diucapkan Chanyeol. Ia benci mendengar sebuah kenyataan. Ia baru mengetahui satu fakta bahwa Chanyeol tidak pernah meminum susu pemberiannya melainkan memberikannya pada Kyungsoo. Baekhyun membuka kain yang menutupi lukisan wajah Chanyeol yang masih ia pegang. Kemudian Baekhyun menggelengkan kepalanya.

"Tidak. Tidak. Mimpikan?" ucapnya menenangkan diri sendiri. Pasti tadi ia hanya salah dengar.

Beberapa detik kemudian, pemandangan itu membuat Baekhyun tercekat. Chanyeol bergerak mendekat ke arah Kyungsoo. Membuat jarak mereka semakin dekat. Chanyeol memiringkan kepalanya.

Air mata Baekhyun tiba-tiba saja jatuh. Baekhyun tidak memiliki kekuatan untuk mengapusnya, ia hanya membiarkan air mata itu mengalir. Tubuhnya mematung saat bibir Chanyeol menyentuh lembut bibir Kyungsoo. Baekhyun kini jatuh pada satu kesimpulan. Chanyeol tidak pernah mencintainya, Chanyeol memang membencinya. Kenyataan itu membuat dadanya terasa begitu sesak. Melihatnya mencium sahabatnya sendiri membuat Baekhyun menjadi gila.

Baekhyun memutus pengelihatannya, ia sudah tidak mampu melihat pemandangan yang begitu menyayat hatinya. Baekhyun ingin pulang, dadanya terlalu sakit untuk terus melihat Chanyeol dan sahabatnya. Ia berlari sekencang yang ia bisa dan menangis, tak peduli dengan orang disekitarnya. Sahabatnya menghianatinya, menghancurkan semua angan-angannya, menghancurkan semua keinginan bahagianya. Sahabatnya menusuknya sendiri. Ada hal yang tidak bisa dibeli dengan uang, pengorbanan dan kesetiaan. Namun sahabatnya menghancurkan semuanya. Mengubur dalam semuanya. Sahabat yang terlalu baik untuknya membuat Baekhyun terluka karena semua kebusukannya. Sahabatnya seperti menggenggam jiwanya dan menghancurkannya berkeping-keping.

Baekhyun menyandarkan punggungnya pada pintu apartemen. Meringkuk tubuhnya dan menangis keras. Ia tak dapat menahannya lagi. Baekhyun benci mengetahui kebenaran. Orang-orang disekitarnya bagaikan lingkaran setan yang tak pernah terputus untuk mempermainkan hatinya. Baekhyun tak dapat lagi menahan rasa perih yang terus merambat ke dadanya. Ia tak dapat lagi menahan rasa sakit yang mulai menguasai seluruh tubuhnya. Baekhyun ingin menangis sekeras mungkin. Bayangan Chanyeol terus terputar dalam pikiran Baekhyun. Ia menjambak rambutnya frustasi. Berusaha menghilangkan bayangan Chanyeol yang membuatnya semakin gila. Ia hanya anak kecil yang sudah lelah dengan semua air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya. Ia hanya anak kecil yang tak siap menghadapi semua ini. Baekhyun ingin menangis sekencang-kencangnya, ingin semua orang tahu bahwa ia sedang terluka.

.

.

.

Malam itu, Baekhyun memutuskan untuk berhenti. Berhenti mencintai Chanyeol dan mengakhiri segala pengorbanannya yang sia-sia.

.

.

.

.

.

.


Wihi aku update lagi nih seminggu sekali. Tapi, kayanya ini minggu terakhir aku update seminggu sekali. aku punya banyak tugas sekolah, terus juga aku harus menghadapi UN SMP beberapa bulan mendatang. jadi, mungkin aku ga bisa pastiin chapter depan bakal update fast. hehe. sedih juga. sebenernya mau cepet2 lanjutin ff ini sampe akhir.

Oh iya aku mau jawab sedikit review. buat followbaek mianmiannn aku gatau harus gimana, aku juga suka kaibek tapi dari awal aku buatnya udah chanbaek. jadi aku gatau mau ganti pairingnya apa ngga/?huhu:'(

buat yang minta dipanjangin, ini udah aku panjangin dikit loh/? aku susah buat panjangin yang panjang buangget. soalnya mata aku capek depan laptop. hehe.

btw aku mau minta pendapat buat pen name yang bagus. mendingan tetep ini apa diganti chanbucks ya? mohon sarannya^^/

Eum, makasih yang udah follow, fav , review. Aku suka banget baca review kalian berulang-ulang. itu bisa nambah semangat buat aku lanjutin ff ini.

Buat review yang belum dibalas maafkan saya. Kalau mau tanya-tanya bisa langsung pm saja. thankyaaaa.