Title : Giraffe and Strawberry
Author : chanbucks
Cast : Chanbaek and others
Genre : School romance
warning boyxboy
sorry for typo and anything, review please and dont bash
.
.
.
Chapter 7
.
.
.
Kyungsoo berjalan masuk ke kelasnya. Entah mengapa senyumnya mengembang, ia masih memikirkan kejadian tadi malam. Saat Chanyeol menyentuh lembut bibirnya. Kyungsoo sadar ia pasti melukai hati Baekhyun. Tapi Kyungsoo tidak bisa berbohong, jika kemarin harinya terasa begitu sempurna. Kyungsoo tidak tahu bagaimana mendeskripsikan perasaannya saat Chanyeol menciumnya. Ia juga ingin merasakan cinta seperti kebanyakan remaja-remaja lainnya. Kyungsoo tidak bisa membohongi hatinya untuk tidak menyukai Chanyeol.
"Ya! Kyungsoo sini cepat!" teriak Bobby sambil menarik tangan Kyungsoo ke lapangan tiba-tiba.
"Hei Bobby lepaskan! Kau mau apa?!" berontak Kyungsoo yang kesal karena ditarik paksa.
"Sudah. Ikut aku saja." Kata Bobby tenang.
"Ap—" wajah Kyungsoo yang tadinya ingin marah karena ditarik paksa oleh Bobby, akhirnya melunak dan bahkan tersenyum haru.
"Saenggil Chukka hamnida! Saenggil chukka hamnida!" Teriak teman-teman sekelas Kyungsoo yang sudah menyiapkan kejutan untuk Kyungsoo, sambil menyanyikan lagu selamat ulangtahun. Teriakan terompet terdengar nyaring dan menyenangkan dihari ulang tahun Kyungsoo saat ini. Baiklah, hari ini adalah hari ulangtahun Kyungsoo. Bahkan Kyungsoo sendiri tidak terlalu mengingat hari ulangtahunnya. Ia sangat bahagia teman-temannya mengingat hari ulang tahunnya.
"Terimakasih.. teman-teman…" Ucapnya sesegukan sambil menghapus air mata harunya. Ia tidak menyangka teman-temannya sangat perhatian padanya. Kyungsoo mendekatkan wajahnya pada lilin di kue ulang tahunnya. Dan meniup lilinnya pelan. Suara terompet yang dimainkan Jongdae teman sekelasnya kembali terdengar. Dan di sambut tepuk tangan dari semua siswa yang ada.
"Kyungsoo ayo potong kuenya!" teriak Luhan yang sudah tidak sabar untuk makan kue. Zelo memberikan pisau kue pada Kyungsoo. "Ayo potong." Ucapnya tak sabar juga.
Kyungsoo pun memotong kue pertamanya dengan hati-hati. Setelah meletakkan kue itu di piring kertas, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling lapangan yang sudah cukup ramai akibat kejutan yang dibuat teman sekelasnya untuknya. Ia bingung harus memberikan kue pertamanya pada siapa.
"Aku saja Kyungsoo, aku!" usul Bobby sambil mengacungkan tangannya dan menampakan ekspresi sangat berharap. Semuanya tidak ingin kalah dan berebut mendapatkan kue pertama Kyungsoo.
"Aku saja! aku belum sarapan karena menyiapkan kejutan ini!" kata Luhan dengan cengirannya.
"Hei! Tunggu! Tunggu!" potong Sehun. Tangannya menarik seseorang yang telah membuat senyum Kyungsoo merekah tadi pagi.
"Apa kalian melupakan tiang dari kelas sebelah ini? Kau pacarnyakan?" tanyanya dengan nada mencibir teman-temannya yang sedang berebut mendapatkan potongan kue pertama.
.
.
Kejadian semalam masih terekam jelas dibenak Baekhyun. Air matanya sudah mengering akibat menangis sepanjang malam. Tadi malam Baekhyun menangis sejadinya. Ia menangis sampai kelelahan. Nyeri dihatinya masih terasa sampai saat ini. Kelopak matanya masih membengkak, kantung matanya juga menghitam, bibirnya pucat. Baekhyun kehilangan nafsu makannya sejak tadi malam.
Semalam ia sudah berusaha keras untuk menghapus air matanya yang terus membasahi pipinya. Namun semua itu selalu bertemu dengan jalan buntu. Air mata Baekhyun tidak bisa dihentikan. Chanyeol meninggalkan sebuah luka sayatan dihatinya. Tidak ada obat apa pun yang bisa menyembuhkan luka itu.
Mencintai Chanyeol sama seperti memakan sebuah racun, mematikan. Hatinya seperti mati rasa. Baekhyun benci harus dibohongi oleh orang-orang disekelilinya. Dibohongi merupakan perasaan yang sangat tidak menyenangkan, apa lagi seseorang tersebut orang yang sangat berarti dihatinya.
Semalam Baekhyun bertanya dan meraung dalam tangisnya. Kalau memang mencintai Chanyeol akan membuat hatinya terluka seperti ini, mengapa Tuhan mempertemukannya dengan Chanyeol?
Baekhyun berharap tak bertemu dengan Chanyeol. Supaya tak perlu lagi menginginkannya, memikirkan Chanyeol dalam lamunannya, dan tidak merasakan luka sesakit ini. Tapi, Baekhyun tahu luka akan mendewasakannya. Luka akan mengajarkannya bagaimana rasanya mencintai seseorang dengan tulus.
Baekhyun berjalan dengan malas melewati lapangan. Samar-samar ia mendengar teriakan ucapan selamat ulang tahun untuk Kyungsoo. Sebenarnya Baekhyun tahu dan ingin sekali memberikan ucapan selamat untuk sahabatnya itu. Tapi karena kejadian semalam, sebisa mungkin Baekhyun harus menghindari Kyungsoo. Ia tidak ingin luka dihatinya memburuk akibat bertemu dengan Kyungsoo. Baekhyun mengendus sebal saat kejadian semalam kembali tebayang dibenaknya. Kejadian itu benar-benar sudah membuat Baekhyun gila.
Baekhyun menengok ke arah lapangan, menatap malas kerumunan itu.
"Bukan..dia bukan pacarku.." jawab Kyungsoo lalu disambut anggukan dari Chanyeol. Saat ini Baekhyun sudah tidak peduli dengan kisah cintanya. Tidak peduli jika Chanyeol dan Kyungsoo saling mencintai. Walau pun bayangan semu Chanyeol selalu hadir dibenaknya.
Seketika pandangan Baekhyun dan Kyungsoo bertemu. Senyum Kyungsoo melebar saat pandangan mereka bertemu. Baekhyun berusaha memutus kontak itu. Ia tidak ingin bertemu Kyungsoo untuk saat ini.
"Baekhyun!" teriak Kyungsoo lalu berlari kecil menuju Baekhyun. Baekhyun yang malas melihatnya pun segera berjalan menjauh, tapi terlambat. Kini Kyungsoo telah membawanya ikut dalam kejutan pesta ulangtahun Kyungsoo. Ikut masuk dalam kerumunan siswa. Ikut dalam suasanan yang paling Baekhyun tidak inginkan, bertemu dengan Chanyeol.
"Kyungsoo ini kado untukmu…" ucap Luhan sambil memberikan kotak berwarna merah muda yang ia bawa. "Aku harap kau menyukainya." Ujarnya lagi sambil tersenyum. Kyungsoo mengangguk dan berterimakasih.
"Gomawo Lu~" Ucap Kyungsoo sambil memeluk Luhan senang.
"Aku juga ada kado untukmu Soo.." timpal Minseok. Ia menyerahkan sebuah kotak berbentuk hati berwarna merah menyala.
"Ahh.. gomawo~" kata Kyungsoo. "Aku juga pasti akan suka semua kado kalian." Ucapnya bahagia.
"Ini kadoku, semoga kau suka." Kata Daehyun sambil memberikan kotak berwarna biru muda. Kyungsoo tersenyum dan tak henti-hentinya berterimakasih pada temannya yang telah membuat kejutan untuknya. Ia sangat bahagia hari ini. Tidak ada hari yang paling menyenangkan sebelum hari ini.
Daehyun menatap bingung Baekhyun disamping Kyungsoo yang sedari tadi hanya diam mematung dan tidak mengeluarkan sepatah kata apa pun.
"Baekhyun apa kau tidak membawa kado untuk Kyungsoo? Inikan hari ulang tahunnya." Tukas Daehyun setelah memberikan kado pada Kyungsoo.
"Memangnya harus ada kado untuk penghianat?" Tanya Baekhyun ketus sambil menatap kosong ke sampingnya. Malas menatap orang-orang disekitarnya.
Kyungsoo terkejut saat kata itu terucap dari mulut Baekhyun. Begitu juga dengan Chanyeol. Ia tidak pernah menyangka Baekhyun akan berkata seperti itu.
"Kenapa kau bekata seperti itu? Kenapa kau bilang Kyungsoo penghianat? Kalian bertengkar? Atau ada masalah lain?" Tanya Daehyun bertubi-tubi.
"Chanyeol kau juga tidak memberikannya hadiah? Wah…apa kalian bersekutu untuk mengerjai Kyungsoo yang sedang berulangtahun?" tebak Jieun antusias, langsung tanpa memberi kesempatan untuk Daehyun. Baekhyun memutar bola matanya malas. Siapa juga yang ingin mengerjai Kyungsoo saat ulang tahunnya.
"Tebakkanku benarkan Yeol?" tanya Jieun girang.
Chanyeol hanya tersenyum simpul, "Aku sudah memberikannya semalam." Ucapnya misterius.
Kyungsoo bingung sesaat. Beberapa detik kemudian, ia kembali teringat saat Chanyeol memberikannya sebuah ciuman hangat. Pipinya memanas saat mengetahui ciuman itu adalah hadiah ulang tahunnya.
Sedangkan Baekhyun, tersentak saat mendengarnya. Lukanya kembali mengeluarkan darah. Dadanya kembali terasa sesak saat mengetahui bahwa ciuman yang ia lihat semalam adalah hadiah istimewa untuk Kyungsoo. Baekhyun meremas kemeja bagian bawahnya mencoba menahan tangis. Ia tidak ingin menangis lagi. Air matanya sudah mengering.
"Aish! Kau berikan apa pada Kyungsoo sampai membuat wajahnya seperti ini sekarang?" goda Bobby sambil melirik Chanyeol dan Kyungsoo bergantian. Chanyeol hanya tersenyum sambil menatap Kyungsoo yang sudah mulai salah tingkah.
Baekhyun mencoba melangkahkan kakinya pergi dari situasi ini. Ia muak berada dalam situasi yang membuatnya semakin hancur. Baekhyun memang akan berhenti mencintai Chanyeol. Tapi tidak begini caranya, melihat Chanyeol bersama Kyungsoo dengan mata kepalanya sendiri membuatnya hancur.
"Baek.." panggil Kyungsoo saat Baekhyun hendak pergi. Ia membawa satu iris kue ulang tahun pertamanya pada Baekhyun.
"Apa?" jawab Baekhyun dingin. Kyungsoo masih saja tersenyum. Sebenarnya Kyungsoo ingin bertanya tentang keadaan Baekhyun pagi ini. Kulitnya yang putih tampak pucat, bibirnya pun tidak segar. Kelopak matanya bengkak dan berkantung.
Tapi, Kyungsoo mengurungkan niatnya untuk bertanya. Keadaan Baekhyun pagi ini tidak memungkinkan Kyungsoo untuk bertanya. Sikap Baekhyun pada Kyungsoo juga pagi ini sedikit berubah. Rasanya pagi ini Baekhyun tidak seceria sebelumnya. Senyum yang penuh kegembiraan dan matanya yang bersinar pagi ini tidak terlihat. Seolah sinarnya terkalahkan oleh cahaya matahari dan membuatnya sinarnya menjadi redup. Sinarnya memudar. Digantikan aura gelap yang penuh kesedihan.
"Ini potongan pertama, dan aku akan memberikannya padamu." Ujar Kyungsoo riang.
"Tidak perlu." Jawab Baekhyun cepat. "Aku tidak suka makanan manis."
"Ah..benarkah?" desah Kyungsoo. "Makanan kesukaanmukan yang berhubungan dengan gula."
Baekhyun mencibir, "Kalau aku bilang tidak, ya, tidak!" ucapnya sedikit membentak.
"Hei Baekhyun ada apa denganmu?" Tanya Zelo dengan tatapannya yang bingung.
"Kita semua berebut potongan kue pertama. Tapi kau malah menolaknya. Sahabat macam apa kau ini!" gerutu Luhan yang masih menginginkan potongan kue pertama.
"Sudahlah.. aku tidak ingin masalah seperti ini menjadi besar." Ucap Kyungsoo sambil melerai teman-temannya yang mulai tampak emosi dengan sikap Baekhyun.
Baekhyun melipat tangannya di dada, lalu mengendus sambil membuang muka saat melihat Kyungsoo menjadi pahlawannya. Baekhyun tidak butuh dibela. Tidak butuh bantuan Kyungsoo. Ia benci melihat sikap sahabatnya yang seperti malaikat itu. Sikapnya yang manis dan disukai banyak orang. Baekhyun sebenarnya terkadang merasa iri dengan Kyungsoo, ia memiliki semua yang Baekhyun inginkan. Kyungsoo memiliki keluarga yang utuh dan harmonis, memiliki daya tarik bagi setiap orang yang disekelilingnya. Dan satu kenyataan pahit yang harus Baekhyun akui, Kyungsoo juga memiliki hati Chanyeol.
"Baekhyun makanlah." Katanya sambil berusaha memberikannya pada Baekhyun.
"Tidak."
"Ayolah.." ucapnya masih membujuk Baekhyun. Ia hanya menggeleng menolak.
"Kau suka kuekan? Ayolah terima ini." rayu Kyungsoo. "Baiklah aku akan menyuapimu."
Saat suapan pertama Baekhyun masih menggelengkan dan menutup mulutnya. Namun, kesabarannya mulai habis ketika menghadapi Kyungsoo yang sangat kepala batu ini. Tanpa sadar, Baekhyun menangkis tangan Kyungsoo kasar. Kuenya jatuh berserakan, dan sebagian terjatuh dikemeja putih Kyungsoo. Semua siswa terkejut, termasuk Baekhyun. Beberapa pasang mata menatap tajam Baekhyun yang sudah membuat pesta kejutannya menjadi berantakan. Ia sungguh tidak berniat melakukannya. Semua yang ia lakukan tadi dibawah alam bawah sadar.
"Apa kau berniat mengacaukan ulangtahun Kyungsoo?" sungut Zelo kesal melihat tingkah Baekhyun.
"Lebih baik kau pergi. Jangan kacaukan ini." Sahut Sehun. Baekhyun yang merasa terusir akhirnya segera melangkahkan kaki meninggalkan lapangan itu. Sebenarnya, tanpa diusir pun Baekhyun akan pergi. Ia tidak tahan dengan situasi yang membuatnya tercekat.
"Baekhyun." Cegah Kyungsoo mencengkram pergelangan tangan Baekhyun. Ia tidak sama sekali menatap Kyungsoo. Harga dirinya sudah diinjak. Baekhyun diusir dari ulang tahun Kyungsoo. Membuatnya sangat muak. Terlebih, saat Baekhyun mengetahui hadiah istimewa yang di berikan Chanyeol.
Baekhyun mendorong kasar Kyungsoo. Menatapnya dengan penuh kilatan kemarahan. Kemarahan akan penghianatan yang telah dilakukan sahabatnya sendiri.
"Berhentilah menjadi sahabatku!" umpatnya dingin.
Kyungsoo melebarkan matanya saat mendengar itu. Ia terkejut, tidak mengerti dengan perubahan sikap Baekhyun. Baekhyun memutar tubuhnya tidak menyadari mata Kyungsoo yang sudah mulai berkaca-kaca. Tidak akan peduli lagi bagaimana perasaan Kyungsoo dibuatnya. Kyungsoo telah menghancurkan perasaannya terlebih dahulu. Menghancurkan segala keinginannya. Merebut semua yang Baekhyun inginkan. Baekhyun anggap ini balasan yang pantas. Membiarkan Kyungsoo merasakan apa yang ia rasakan.
"Ta..pi..kena..pa?" tanya Kyungsoo mulai terisak. Masih tidak mengerti dengan sikap kasar Baekhyun yang barusan.
"Kau marah padaku?!" Baekhyun hanya diam tidak ingin membalik tubuhnya. Ia tidak ingin melihat Kyungsoo yang seolah bodoh. Baekhyun mengendus saat Kyungsoo mengatakannya.
"Aku tidak marah. Tapi aku tidak ingin menjadi temanmu lagi."
Ia tidak bisa menerima Kyungsoo sebagai sahabatnya lagi. Pintu hatinya tidak akan terbuka untuk Kyungsoo. Penghianat, akan selamanya menjadi penghianat. Penghianatan adalah perbuatan yang tidak akan bisa termaafkan dalam sebuah persahabatan.
Chanyeol dengan cepat memeluk Kyungsoo yang terisak saat Baekhyun berjalan pergi meninggalkan lapangan. Seketika suasana lapangan menjadi gaduh. Para siswa yang menyaksikan mulai berbisik-bisik. Membicarakan apa yang barusan terjadi antara Kyungsoo dan Baekhyun. Pesta kejutan untuk Kyungsoo gagal. Semua yang berada dilapangan membubarkan diri setelah melihat pertengkaran Baekhyun dan Kyungsoo. Menyisakan Chanyeol yang masih memeluk tubuh Kyungsoo yang bergetar. Membenamkannya dalam dadanya. Kyungsoo mencabut kembali kata-katanya. Mungkin ini bukan hari terbaiknya, melainkan akan menjadi awal hari terburuknya tanpa Baekhyun. Mantan sahabatnya.
.
Chanyeol mengepalkan tangannya geram. Kesal melihat sikap Baekhyun yang tiba-tiba menjadi kasar. Chanyeol tidak suka perlakuan kasar Baekhyun terhadap Kyungsoo. Bagaimana pun juga Baekhyun telah mengecewakan Kyungsoo dihari ulang tahunnya.
Chanyeol menatap Baekhyun dari belakang dengan tatapan tajam. Siap menerjangnya kapan saja. Baekhyun diam, tidak menyadari kehadiran Chanyeol. Ia hanya menatap kolam dibelakang sekolah dengan tatapan kosong. Menerka-nerka perbuatan kasarnya tadi. Baekhyun tidak menyangka bisa menjadi sekasar itu kepada sahabatnya sendiri.
Baekhyun melempar batu kerikil ke dalam kolam, entah sudah berapa kali ia melemparnya. Pikirannya berkecamuk. Hatinya terasa campur aduk. Saat Baekhyun akan melemparkan batu kerikil ke dalam kolam lagi, tiba-tiba saja seseorang menarik kerahnya, dan mendaratkan sebuah pukulan hingga Baekhyun terjatuh. Baekhyun menatapnya sengit saat mengetahui bahwa Chanyeol memukulnya.
"Maksudmu apa mengacaukan acara tadi?!" tanya Chanyeol emosi.
"Kau membuatnya menangis bodoh! Harusnya Kyungsoo tidak pernah berteman dengan manusia sepertimu!" ucap Chanyeol marah sambil memukul Baekhyun lagi.
"Aku bisa lebih kasar darimu!" hardiknya geram. Chanyeol menguatkan cengkraman tangannya pada kerah baju Baekhyun, lalu memukulnya lagi hingga terjatuh.
Baekhyun bangun, ia menatap Chanyeol sengit. Baekhyun mengusap darah disudut bibirnya. Ia mendekati Chanyeol dan melayangkan satu pukulan keras untuk Chanyeol.
"Pukul aku lagi." Pancing Baekhyun menantang.
Sudah tidak ada gunanya mementingkan perasaannya saat ini. Hatinya sudah mengeluarkan banyak darah. Sudah mustahil untuk memiliki hati Chanyeol. Ia bagaikan bintang yang bersinar bersama bulan. Dan Baekhyun bukanlah bulan yang datang bersama bintang. Baekhyun, hanya awan gelap yang tak akan terlihat.
Berkali-kali Chanyeol melayangkan pukulannya. Pikirannya seperti berperang. Chanyeol melihat wajah Baekhyun dibawahnya yang sudah babak belur akibat pukulannya. Ia tidak bisa mengontrol dirinya yang menjadi buas. Saat melihat wajah Baekhyun, Chanyeol terus terbayang bagaimana ketika hatinya terasa sesak saat melihat Kai mencium Baekhyun. Gengsinya masih terlalu tinggi untuk mengakui Baekhyun adalah pemilik hatinya. Chanyeol terus saja beranggapan bahwa Kyungsoolah seseorang yang dicintainya.
Chanyeol menghentikan pukulannya. Membuang pandangannya dari Baekhyun. Ia menjambak rambutnya frustasi. Bingung terhadap perasaannya yang tidak jelas. Kesal dengan pikiran aneh yang selalu mengusiknya. Baekhyun yang selalu hadir dalam lamunanya, yang selalu menghantui pikirannya yang kosong.
Baekhyun bangkit dengan semua tenaga yang tersisa. Ia menarik kerah baju Chanyeol saat Chanyeol ingin meninggalkannya. Chanyeol tidak boleh pergi dulu, Baekhyun harus membalasnya, menumpahkan segala amarahnya. Ia ingin Chanyeol juga merasakan sakit apa yang ia rasakan. Baekhyun memukul hidung Chanyeol hingga berdarah.
"Kau harus merasakannya! Bajingan!" pukul Baekhyun lagi. Sudah tidak peduli bahwa ia memukul Chanyeol, seseorang yang sangat ia cintai.
"Cih. Aku tidak akan kalah darimu!"
"Biarku bunuh kau sekarang!"
Baekhyun sekuat tenaga memukul Chanyeol. Pikirannya menjadi menggila. Ia sudah muak dengan segalanya. Baekhyun mendaratkan pukulannya lagi ke wajah Chanyeol tanpa ragu.
Baekhyun menumpahkan segala amarah dan kesedihan yang selama ini ia pendam. Rasa sakit yang selalu menguasai hatinya. Chanyeol tidak melawan pukulan Baekhyun. Ia pantas mendapatkannya, ia juga pantas merasakannya.
Kali ini Chanyeol sadar. Pukulan Baekhyun menyadarkannya. Pukulan penuh amarah yang membuatnya sadar akan perasaannya yang sesungguhnya.
Bukan Kyungsoo yang ia butuhkan. Bukan Kyungsoo yang selalu menarik perhatiannya. Bukan Kyungsoo penyebab ia memukul Baekhyun tadi. Bukan Kyungsoo yang membuat debaran hatinya tak karuan. Bukan Kyungsoo yang membuatnya ingin merasakan debaran yang berbeda. Bukan Kyungsoo yang dapat menenangkannya saat sedih. Bukan Kyungsoo yang memiliki tatapan yang berbeda. Chanyeol telah menemukan jawabannya.
Saat ia menemukan jawabannya, seseorang itu telah balik membencinya. Memukulnya dengan amarah yang membara. Melayangkan pukulan-pukulan tanpa bisa ia hentikan, seolah akan membunuh mangsanya dengan liar.
Baekhyun, seseorang yang selalu tersenyum saat Chanyeol menatapnya masam. Baekhyun yang selalu berjalan dibelakangnya. Baekhyun yang terlihat gembira dengan perlakuan kasar Chanyeol, ia yang selalu memperhatikannya. Yang selalu berkorban apa pun.
Baekhyun, seseorang yang mencintainya. Bukan seseorang yang dicintainya, telah membuat Chanyeol sadar bahwa kali ini ia telah jatuh cinta pada Baekhyun.
Samar-samar Chanyeol melihat Baekhyun menangis dari sudut matanya yang sudah lebam. Baekhyun memukulnya dengan menangis. Baekhyun masih punya perasaan. Ia hanya sedang marah. Atau mungkin sedang membuang segala kekesalannya.
Baekhyun masih saja memukul Chanyeol tanpa ampun. Tidak peduli dengan wajah Chanyeol yang sudah sama lebamnya dengan wajahnya sendiri.
Chanyeol berusaha membuka mulutnya, mencoba menyebut nama Baekhyun untuk pertama kalinya.
"Baekhyun.." panggil Chanyeol sambil tersenyum lemah. Lidahnya terasa kaku ketika memanggil Baekhyun untuk yang pertama kalinya.
Seketika Baekhyun menghentikan pukulannya. Ia tertegun, napasnya berhenti sejenak. Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan. Hanya dalam angan-angannya saja Chanyeol akan memanggil namanya. Sibodoh hanya akan tetap dipanggil sibodoh. Chanyeol tidak akan memanggil namanya walau sekali.
Baekhyun tidak mempercayai pendengarannya sendiri. Lalu, ia kembali melayangkan pukulannya pada pipi Chanyeol. Semua itu tak akan terjadi, Baekhyun sudah lelah dengan kebohongannya yang selalu mencoba menyeret dirinya.
"Byun.. Baekhyun.."" Chanyeol memperjelas ucapannya. Dibalik matanya yang telah lebam, terlihat pandangannya yang sendu.
Kali ini Baekhyun benar-benar menghentikan pukulannya. Ia melepaskan cengkraman tangannya kasar dari kerah baju Chanyeol. Pandangannya kosong.
Ia membalik badan berusaha tidak membuat kontak dengan Chanyeol. Napasnya terengah-engah. Ia telah menguras semua tenaganya barusan.
"Jangan sebut namaku." Ucap Baekhyun ketus.
"Baekhyun.." ulang Chanyeol lagi. Ia menyandarkan tubuhnya pada tembok, termangu menatap tubuh mungil di depannya yang sudah mulai berubah karena ulahnya. Ia tidak pernah mengenal Baekhyun yang seperti membenci dirinya. Seperti bukan Baekhyun.
"Ada apa denganmu?" Tanya Chanyeol pelan. Emosinya yang tadi sudah reda.
Baekhyun masih berisi keras tidak membalik tubuhnya, ia tidak ingin melihat Chanyeol. Selamanya Chanyeol akan membencinya. Jadi percuma.
Mencintai Chanyeol sama dengan membuang-buang waktu.
Ia menggigit bibirnya, berusaha keras meyakinkan dirinya.
"Aku..akan berhenti.." tubuhnya bergetar hebat. Air matanya masih mengalir dari pelupuk matanya.
"Mencintamu…" dadanya terasa sesak saat mengucapkannya. Perih dihatinya mulai menjalar kembali. Baekhyun tidak bisa berlama-lama. Ia harus pergi sebelum tangisnya tidak bisa dihentikan.
Baekhyun tidak bisa menahannya. Tangisannya kembali membasahi pipinya. Ia mengusap air mata yang senantiasa jatuh dari matanya. Ia tidak boleh lagi menangis. Saat ini, Baekhyun tidak boleh lagi terjebak dalam bayangan semu Chanyeol. Ia harus melupakannya. Harus.
Bahu Chanyeol merosot. Kakinya terpaku ditempatnya berdiri. Ia pasti salah dengar. Baekhyun tidak boleh berhenti mencintainya. Chanyeol sudah bisa membalasnya sekarang. Ia sudah mampu melawan gengsinya. Ia sudah bisa menemukan jawaban untuk hatinya.
Air mata Chanyeol keluar mewakili perasaannya. Matanya basah. Chanyeol tidak perlu apa-apa lagi. Cukup Baekhyun bersamanya. Baekhyun yang menyempurnakan harinya. Hangat peluknya kembali menjalar ditubuh Chanyeol. Ia ingin merasakannya lagi. Lalu, perasaan khawatir mulai menyergapnya.
Chanyeol harus membuat Baekhyun kembali padanya.
.
.
.
.
.
TBC
cie baru update/plak/ ini gak lama-lama bangetkan? '-' cuma 2 minggu kok. ehehe. sebenernya sih mau update minggu kemaren tapi ternyata ada try out. eh ternyata try outnya batal dan malah ada lomba mading di sekolah yang nyita waktu banget. nah trs kemaren jumat sama sabtu aku juga baru ada to eksternal. jadi aku harap kalian bisa ngerti ya hehee. oiya buat yang udah ngasih saran pen name dan semangat un :") makasih yaaa, terhura wkwk coba gak ada un ya langsung ngacir ke sma beuhh. dan maaf yang reviewnya belum terbalas, bisa pm aja atau email aku, luhanbaekhyunxoxo- gmail-com (garisnya dihapus)
