Title : Giraffe and Strawberry

Author : chanbucks

Cast : Chanbaek and others

Genre : School romance

warning boyxboy

sorry for typo and anything, review please and dont bash

.

.

.

Chapter 8

.

.

.


Langit senja yang mulai menghitam, melenyapkan sinar matahari yang terang. Gelapnya langit malam semakin membuat Baekhyun enggan kembali kerumah. Ia hanya terus berjalan tanpa tujuan. Baekhyun mengerang. Air mata yang susah payah ia bendung selalu saja berhasil keluar. Wajahnya kini tidak lebih dari tampang yang menyedihkan.

Ia sudah mengatakannya. Baekhyun akan berhenti mencintai Chanyeol. Namun dibalik semua itu, hatinya terasa perih. Bukan hal yang mudah untuk melakukannya. Susah memang berhenti mencintai seseorang yang sudah lama bersarang dihatinya.

Baekhyun tertawa keras-keras, menertawakan dirinya yang bodoh. Terjebak dalam suatu lingkaran perasaan yang susah ia dihentikan. Hidupnya telalu menggelikan untuk ia tangisi.

Langkahnya tersendat saat menemukan sebuah selebaran tergeletak dijalanan. Ia memungutnya dan tersenyum hampa saat membaca kertas itu. Pikirannya yang kalut membuat Baekhyun tertarik dengan hal-hal gila.

Semakin lama ia hidup, semakin Baekhyun sadar, kenyataan hanya akan menciptakan penderitaan dan rasa sakit yang terus-menerus. Kenyataan membuat dirinya perlahan membusuk akan rasa sakit.

"Mungkin aku bisa mati disini."

.

.

Seulas senyum tipis mengembang dibibir Kris. Berusaha membangun keberanian untuk bertemu Baekhyun. Kali ini Kris akan memberi tahu pada Baekhyun tujuannya kembali ke Seoul. Untuk membawanya kembali pada Ibunya.

Saat ini Kris sudah berada didepan pintu apartemen Baekhyun. Kris menyirit ketika sudah beberapa kali mengetuk pintu, tetapi tak ada jawaban. Ia menggaruk tengkuk kepalanya. Lalu mencobanya lagi. Pintunya tetap tidak terbuka.

Kris membungkukkan tubuhnya, matanya menyelidik ke lubang kunci.

"Sepertinya tidak ada orang." Katanya sambil berdecak. "Tapi kemana dia?" tanya Kris lalu merogoh ponsel disakunya dan mencoba menelfon Baekhyun. Ia menunggu beberapa saat sampai akhirnya Baekhyun menjawab panggilannya.

"Hei Baek. Dimana kau? Aku di apartemenmu."

Baekhyun mendesah dibalik telfon. "Aku? Aku akan pergi dari dunia."

"Apa maksudmu?! Berhentilah bencanda. Cepat pulang."

"Aku tidak akan pulang. Anggap saja ini pembicaraan kita yang terakhir." Ucap Baekhyun lalu menutup telfonnya tanpa memperdulikan Kris yang sudah kebingungan dengan ucapannya barusan.

"Apa maksud ucapannya barusan!" erang Kris. Ia terus berpikir, Baekhyun tidak mungkinkan akan berbuat gila? Ucapan Baekhyun barusan membuat Kris berpikir yang tidak-tidak. Apa Baekhyun akan bunuh diri?

Pikiran negatifnya terus meracuni Kris. Segera Kris berlari keluar. Ia harus mencari Baekhyun atau hal bodoh itu akan terjadi.

.

.

Kai menyalakan rokoknya lalu menghisapnya dalam. Yang terlintas dibenaknya sedari tadi hanya Baekhyun. Ia melihat kejadian tadi pagi. Awalnya Kai tidak mempercayai apa yang ia lihat. Baekhyun tidak mungkin mengucapkan kata kasar, apa lagi mendorong sahabatnya dan menghancurkan pesta ulang tahun sahabatnya. Tapi, itu benar Baekhyun. Namun seperti bukan Baekhyun yang dulu Kai kenal.

Baekhyun selalu tersenyum manis dan tatapan matanya penuh sinar. Bukan Baekhyun dengan tatapannya yang kosong dan tanpa senyum yang tidak terukir sama sekali. Ia tidak mengerti perubahan apa yang terjadi pada diri Baekhyun.

Kai membuyarkan lamunannya saat Sehun menyikut lengan kanannya.

"Lihat! Tyler pasti menang lagi!" katanya antusias sambil mengangkat sebelah tangannya dan bersorak. Sontak Kai mengalihkan pandangannya pada arena gulat di depannya.

Kai memang sering datang ke pertarungan gulat yang diadakan dikota Seoul. Ia selalu datang bersama Sehun yang sangat suka menonton acara semacam ini. Sederhana, sebenarnya kita hanya harus membayar uang tahurannya dan bertanding. Tetapi jika kita bisa menghabisi lawan sampai mati akan dapat bayaran lebih dari penyelenggara acara ini.

"Tyler pasti akan membunuh orang ." Ucap Kai tanpa minat.

Sehun berdecak pelan, "Kau pikir Tyler itu kau? Katakan saja kalau kau iri. Kaukan tidak pernah dapat bayaran lebih."

"Karena kau takut untuk membunuh lawanmu." Katanya sambil meremehkan. Kai mendesis, "Dari pada kau hanya mau menonton."

Sehun lalu melirik sengit ke arah Kai, "Baiklah. Kau menang 1-0 dariku Kai." Ucapnya sambil mengerucutkan bibir.

"Haha kau masih bisa bangun?!" kata Tyler dengan nada mengejek sambil menjambak rambut lawannya yang sudah babak belur.

"Tyler Kim! Tyler Kim! Tyler Kim!" sorak penonton dengan bersemangat.

"Bunuh dia Tyler!" tukas seorang penonton.

"Bunuh! Bunuh! Bunuh!"

Tyler semakin bengis, ia lalu melompat dan meniban kuat lawannya hingga muntah darah. Tyler terkekeh dan langsung meraup kepala lawan untuk segera ia patahkan tulang lehernya secara kasar.

"Tyler! Tyler! Tyler!"

"Satu! Dua! Tiga!" hitung seorang wasit. "Tyler pemenangnya lagi!" katanya sambil mengangkat sebelah tangan Tyler.

"Siapa selanjutnya?!" tanya Tyler dengan nada sombong atas kemenangannya.

"Tyler si pemenang! Tyler si pemenang!"

"Aku penantang selanjutnya."

Mendadak seluruh pasang mata tertuju pada asal suara itu. Termasuk Kai dan Sehun. Mata mereka membulat saat melihat Baekhyun berdiri diseberang sana. Mereka terkejut bukan main saat melihat Baekhyun menantang Tyler.

Gila. Baekhyun sudah sangat gila.

"I..Itu..bukankah dia…. Baekhyun?!" Sehun melirik ngeri saat mendapati Baekhyun sudah memasuki arena.

Kai menatapnya penuh tanda tanya, alisnya saling bertautan. "Sehun, apa aku salah lihat?" tanya Kai menyakinkan.

Tyler yang awalnya bingung lalu tertawa terbahak-bahak. "Kau bercanda anak kecil?" tanyanya. "Wajah babak belurmu saja sudah menyedihkan."

"Tidak ada tempat untukmu." Usirnya.

"Aku sudah membayar uang taruhannya." Ucap Baekhyun berani.

"Baiklah.. Jika itu maumu.." gumamnya sambil mendekati Baekhyun. "Kita mulai bocah bodoh!" jawabnya sambil menghantam wajah Baekhyun hingga tubuhnya terlempar.

Semua penonton berjengit ketika melihat Tyler menonjok Baekhyun. Nampak seperti kelinci melawan singa. Tidak akan mungkin menang, padahal pertandingan belum juga dimulai.

"Itu baru pemanasan." Ucapnya sambil melemaskan otot-otot tangannya.

Kai bangkit dari tempat duduk dan menginjak rokoknya. Ia menatap Tyler geram yang seenaknya menyerang Baekhyun tanpa aba-aba.

Sehun menarik tangan Kai, "Mau kemana kau?" potongnya.

"Aku harus menghentikan ini. Terlalu beresiko." Ucap Kai seraya berderap memasuki arena. Lalu, Kai langsung melayangkan tinju ke arah Tyler. Seperti mencoba membuatnya sadar.

"Kau gila? Dia bukan lawanmu!" Tyler memegang pipinya yang tampak memar akibat pukulan keras Kai. Tyler balas menonjok Kai dengan kesal, karena sudah menggangunya.

"Dia yang menantangku! Apa masalahnya denganmu?"

Baekhyun bangkit susah payah. Tulangnya seperti mau remuk. Tapi ia harus mati agar semua rasa sakit yang dialaminya berakhir. Cukup sampai disini.

"Kau mengganggu!" bentak Baekhyun pada Kai.

"Kau lihat Kai? Dia sendiri yang mau melawanku. Dan dia juga mengusirmu."

"Bagaimana pun juga aku tidak akan membiarkan itu terjadi." larang Kai sambil berusaha menuntun Baekhyun. Tapi Baekhyun menepisnya. Ia menolaknya dan membuat Kai sangat terkejut.

"Aku tidak butuh kau."

Kai mematung. Tubuhnya seperti mati rasa ketika Baekhyun mengucapkan kalimat menyakitkan itu. Baekhyun membuatnya tuli seketika.

"Pergi. Kau menghalangiku!" ucap Baekhyun lagi sambil mendorong Kai.

"Baekhyun sadarlah!" ucap Kai sambil mengoyang-goyangkan bahunya. Baekhyun memandang Kai sengit. Menatapnya seakan musuh. Detik selanjutnya, Baekhyun sudah menghajar Kai. Semua anggota tubuhnya sudah dikuasai kegilaan. Semua tujuannya hanya satu. Mengakhiri kenyataan yang selalu menyakitkannya. Dan siapa pun yang berusaha menghalanginya akan menerima akibatnya.

"Mundur kau!" sungut Baekhyun. Kai kembali menatap Baekhyun kecewa. Itu bukan Baekhyun. Berkali-kali Kai berusaha menyakinkan dirinya. Berkali-kali Kai menahannya. Dia memang bukan lagi Baekhyun yang dulu Kai kenal. Amarahnya merubah segalanya.

Kai menarik napas dalam, berusaha meredam emosinya. Sekali lagi, ia menatap Baekhyun dengan penuh kekecewaan. Ia lalu mengalihkan pandangannya dan bermaksud segera pergi dari tempat ini. Baekhyun, tidak membutuhkan pertolongannya. Kai tidak akan membantunya lagi.

"Mulai!"

"Tyler Kim! Tyler Kim!

"Bunuh dia! Bunuh dia!"

Buuk!

Sebuah pukulan keras kembali mendarat ditubuh Baekhyun. Ia membiarkan saja tubuhnyanya dipukuli. Menyerahkan hidupnya tanpa peduli ampun. Sudah tidak ada gunanya hidup kalau hanya merasakan kesedihan yang terus-menerus menerpa.

Kai menghentikan langkahnya. Sekuat apa pun mencoba, hati kecilnya tetap ingin membawa Baekhyun kembali. Mengajaknya pergi dari tempat ini. Menyelamatkannya dari kemungkinan akan mati. Ia menengok ke arah Baekhyun sekilas, lalu kembali dalam posisinya.

Tidak. Kai kembali menepis semua keinginannya. Baekhyun sudah tidak membutuhkan bantuannya lagi. Sekilas terlintas dibenak Kai. Ia tahu siapa yang mungkin bisa membujuk Baekhyun menghentikan kebodohannya. Lalu Kai merogoh ponsel disakunya. Hanya ini yang bisa Kai lakukan untuk menyelamatkan Baekhyun.

"Pertandingan gulat. Baekhyun ada disana."

Pip!

.

.

.

Chanyeol memegang beberapa bagian wajahnya yang terasa nyeri. Ia telah mengompresnya dengan air dingin. Penyesalan memang selalu datang terakhir bukan? Chanyeol telah menyesali segala perbuatannya. Dulu ia terlalu buta untuk mengakui sebuah kenyataan. Terlalu naif untuk mempercayainya.

Rasanya mungkin tak akan sama lagi. Ketika Baekhyun yang dulu berjuang mati-matian untuknya sekarang berbalik seratus delapan puluh derajat untuk berusaha berhenti mencintainya. Nyeri itu masih terus menjalar ke seluruh sistem syaraf ditubuhnya. Ia menghela napas beratnya. Ini semua salahnya, kalau saja Chanyeol menyadari perasaannya dari awal. Semua ini tak akan terjadi. Semakin lama berpikir, semakin gila rasanya.

'Drrtt'

"Ya. Hal—"

"Pertandingan gulat. Baekhyun ada disana."

Pip!

Mata Chanyeol melebar ketika berita tentang Baekhyun barusan. Semua syaraf ditubuhnya menegang. Semua ini sudah kelewatan. Baekhyun sudah tidak bisa dikendalikan. Kenapa seseorang yang selalu bersikap manis bisa berubah menjadi sangat gila seperti ini. Ini salah Chanyeol, dia yang telah merubahnya. Cinta memang gila. Bisa menghancurkan orang kalau dia mau.

Chanyeol segera berlari, entah dimana ia bisa menemukan tempat itu. Ia hanya pernah tahu pertandingan gulat selalu ada disekitar Bar. Hanya dengan sedikit pengetahuan, Chanyeol berlari untuk menyelamatkan Baekhyun. Kalau dia kalah dalam pertandingan itu, dia bisa mati.

Chanyeol harus menghentikannya sebelum hal buruk terjadi. Walaupun kemungkinannya untuk sampai tepat waktu sangat kecil. Tapi, setidaknya ia masih bisa terus berusaha. Berusaha menyelamatkan satu-satunya seseorang yang sangat ia cintai saat ini.

.

.

.

Tyler menahan pukulan Baekhyun dan segera menyikut lehernya hingga Baekhyun ambruk seketika. Kemudian Tyler kembali memperburuk wajah Baekhyun dengan meninjunya lagi dibagian hidung. Ia lalu menarik kerah baju Baekhyun dan menonjoknya lagi. Menghabisinya tanpa ampun.

Membuat Baekhyun tak dapat lagi bergerak. Tulangnya seperti tak mampu lagi menahan bobot tubuhnya. Dan Baekhyun kali ini benar-benar berharap untuk mati. Agar semua rasa sakit itu segera berakhir. Cukup sampai disini. Ia tidak ingin ada lagi kisah menyedihkan dalam hidupnya.

"Bunuh! Bunuh!"

"Tyler habisi dia!"

"Patahkan lehernya!

"Tyler Kim! Tyler Kim! Tyler Kim!"

Saat Tyler baru akan mau mematahkan leher Baekhyun. Seseorang masuk tergesa-gesa dengan wajah yang ketakutan dan berkeringat.

"Kebakaran!" teriak seseorang itu begitu masuk kedalam tempat. Membuat seisi ruangan menjadi gaduh. Seluruh penonton sontak menjadi panik dan berteriak heboh.

"Api merambat dari Bar disebelah!" semua orang serempak berhamburan keluar, melarikan diri ketika sudah mulai terlihat api merambat sampai ke dalam. Tyler yang baru saja akan menghabisi Baekhyun, seketika meninggalkannya dan melarikan diri dari arena.

.

Kai bingung saat beberapa orang berlarian dan menabrak dirinya karena saking terburu-burunya. Ia menengok kebelakang dan mendapati orang-orang yang berlarian keluar dari tempat pertandingan gulat. Kai memiringkan kepalanya. Apa yang barusan terjadi?

Ia lalu menarik tangan salah satu orang yang berlari di dekatnya, untuk bertanya, "Apa yang terjadi didalam?"

"Ada kebakaran didalam!" katanya lalu segera berlari lagi.

Kai terdiam. Pikirannya seperti berperang. Bila ia ingin melepas Baekhyun, Kai tidak harus memberbalik arah dan menolongnya. Baekhyun tidak lagi membutuhkannya. Ada seseorang yang lebih berarti baginya. Chanyeol pasti akan datang memberikan pertolongan.

Tapi, kenyataannya Kai malah berlari berbalik arah. Berlari secepat mungkin yang ia bisa. Menerobos kerumunan orang yang berhamburan keluar. Berlari melawan arus. Baekhyun pasti masih didalam. Ia harus menyelamatkannya sebelum api itu mulai berkobar semakin besar.

Biarkan saja, sekeras apa pun Baekhyun menolak pertolongannya, Kai akan tetap menolongnya. Karena Kai mencintai Baekhyun. Ia tidak bisa menahannya. Hatinya masih dimiliki oleh Baekhyun. Baekhyun yang telah menempati ruang kosong dihatinya. Sehingga sulit untuk Kai untuk meninggalkannya. Sekuat apa pun ia menolaknya, Baekhyun akan tetap berada disana. Baekhyun terlalu penting untuknya hingga tak mudah untuk diabaikan.

Chanyeol telah sampai pada tempat pertandingan gulat. Ia tertegun saat melihat api berkobar didepan matanya. Melahap bangunan yang ada. Orang-orang berhamburan keluar menyelamatkan diri.

Ia menahan seorang wanita yang kebetulan berlari didepannya sambil terbatuk-batuk karena asap. "Kau baik-baik saja?" tanya Chanyeol panik.

"Uhuk.. Aku baik-baik saja. Tapi, seseorang masih didalam.. uhuk.." ucapnya masih dengan terbatuk-batuk. Chanyeol berjengit. Pikirannya langsung tertuju pada Baekhyun. Chanyeol harus menyelamatkannya. Baekhyun harus selamat. Ia harus dalam keadaan baik-baik saja.

Chanyeol berlari masuk ke dalam tanpa memperdulikan dirinya juga dalam bahaya jika menerobos kobaran api. Napasnya terengah-engah. Tubuhnya dibanjiri keringat dan matanya masih terus mencari sosok Baekhyun.

"Baekhyun!" teriak Chanyeol kencang. "Baekhyun dimana kau!"

Brukk!

Beberapa kayu terjatuh didepan Chanyeol. Kayu yang penuh api menyala di atasnya memblokir jalan Chanyeol. Membuat matanya terasa panas karena asap yang terlalu banyak. Ia terus melangkahkan kakinya. Melompati api didepan matanya. Pikirannya dipenuhi dengan Baekhyun.

Ini saatnya, saatnya Chanyeol untuk berkorban. Mempertaruhkan nyawanya untuk Baekhyun. Agar Baekhyun tidak berhenti mencintainya. Supaya Baekhyun kembali mencintainya seperti dulu. Karena kali ini Chanyeol mampu membalas cinta Baekhyun.

Baekhyun terbatuk beberapa kali. Dadanya terasa sesak karena asap kebakaran. Tubuhnya tak mampu digerakan. Mungkin Tuhan telah menjawab doanya. Baekhyun memang ditakdirkan untuk mati hari ini. Kisah hidupnya telah usai sekarang. Hidup yang menyedihkan pasti juga diakhiri dengan kematian yang menyedihkan.

Kobaran api semakin besar, beberapa kayu bangunan jatuh didekatnya. Dadanya semakin terasa sesak, perlahan pandangannya kabur. Mungkin Baekhyun sudah tahu bagaimana kisahnya akan berakhir. Kematian akan membawa kedamaian baginya.

"Baekhyun!" Chanyeol dengan cepat berlari ketika matanya menangkap sosok Baekhyun. Sosok itu terbaring dengan penuh luka diwajahnya. Chanyeol sakit melihatnya. Sakit, sampai tak mampu menahan derai air matanya. Ia menghampiri Baekhyun. Membantu tubuhnya berdiri untuk keluar dari tempat ini. Mendekapnya dalam tubuhnya, melindunginya dari kobaran api. Baekhyun, tidak boleh terluka lagi.

Langkah Kai terhenti. Semua seperti menggantung saat seseorang sudah lebih dulu menghampiri Baekhyun. Memegang tubuhnya yang lemah. Membiarkan Baekhyun bersandar disana. Melindunginya dari bahaya. Kini Kai sadar, ia sudah tidak dibutuhkan. Kai melihat wajah khawatir Chanyeol saat membawa Baekhyun keluar. Wajah itu, seperti tak ingin kehilangan Baekhyun. Ekspresinya membuat Kai makin sadar lebih dalam lagi tentang perasaannya. Ia dan Baekhyun memang tidak ditakdirkan untuk berada dalam satu kisah. Baekhyun telah mendapatkan cintanya. Jika Kai terus memaksakannya, ia seperti tengah mencoba membirukan senja yang selalu merah. Tidak mungkin akan terjadi.

Bahunya merosot perlahan, pandangannya berubah sendu. Sesakit apa pun hatinya, Kai harus merelakannya. Memang harusnya Kai tidak pernah kembali lagi. Melangkahkan kakinya kembali untuk Baekhyun adalah sebuah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Kai sudah bertekad untuk merelakannya, namun hatinya masih berharap. Bolehkan Kai berharap? Berharap Baekhyun masih bisa membalasnya. Tapi, membalas semua perasaannya kini menjadi hal mustahil yang akan terjadi.

.

.

.

.

.

.

Baekhyun mengerjapkan matanya beberapa kali hingga pandangannya menjadi jelas. Kepalanya terasa sangat sakit. Tenggorokannya juga terasa begitu kering. Baekhyun kebingungan saat melihat tangannya penuh infus. Matanya lalu menangkap tempat serba putih disekelilingnya. Pertanyaan pertama yang terlintas dalam otaknya adalah, dimana aku?

Saat pintu terbuka, Kris muncul dibalik sana dan tersenyum, "Waah kau sudah sadar." ungkapnya.

Baekhyun mengerutkan dahinya, "Kenapa aku bisa disini Hyung?" tanyanya sambil sesekali memegang kepalanya yang masih terasa sedikit nyeri.

"Ck. Dasar. Kau pura-pura lupa atau memang lupa ingatan?" canda Kris. Baekhyun mendengus lalu tangannya berusaha meraih segelas air dimeja disebelahnya. Ia mengingat kejadian semalam saat dirinya mencoba hal tergila dalam hidupnya, lalu tertawa dalam hatinya. Dirinya begitu bodoh hingga berani melakukan hal semacam itu.

"Tinggal meminta tolong apa susahnya?" tanya Kris sambil mengambil gelasnya lebih dulu dan memberikannya pada Baekhyun.

"Ah iya. Terimakasih Hyung." Kata Baekhyun dengan cengiran andalannya. Kemudian meminum airnya dengan cepat. Karena tenggorokkanya sudah sangat kering.

"Aku tidak menyangka kau senekat itu Baek." Ucap Kris sembari mengupas jeruk yang tadi ia bawa. "Kau gila juga ya." Terang Kris lalu menyuapi jeruknya pada Baekhyun. Wajahnya masih lebam-lebam. Namun, sudah lebih baik dari semalam.

Sesaat kejadian semalam kembali terputar-putar dikepala Baekhyun. Walaupun ia tidak bisa begitu mengingatnya, beberapa potongan kejadian masih terbayang dibenaknya. Ketika ia nekat mengikuti pertandingan gulat, saat ia marah pada Kai, kebakaran, dan saat seseorang datang menyelamatkannya. Semalam pandangannya begitu buram hingga Baekhyun tidak bisa melihat wajahnya secara jelas.

"Kau sudah baikkan?" tanya Kris perhatian.

"Lumayan Hyung. Tapi tubuhku masih terasa sangat sakit." Jelas Baekhyun sambil mencoba menggerakan beberapa sendi-sendinya.

"Inikan salahmu. Aku datang terlambat, sampai polisi menghubungi nomor telfonku. Untung saja temanmu tepat waktu menyelamatkanmu. Jika tidak, aku tidak tahu apa yang harusku katakan pada Ibu." Ucap Kris.

"Temanku?"

Kris mengangguk, "Dia bilang dia teman sekolahmu."

"Kata petugas, dia yang menyelamatkanmu dari kobaran api. Aku salut, dia sangat berani." Komentarnya sambil kembali menyuapi jeruk lagi pada Baekhyun.

"Hyung tahu siapa namanya?"

Kris menggeleng pelan, "Aku lupa bertanya. Tapi aku yakin dia dekat denganmu. Karena dia rela berkorban." Jelas Kris membuat kesimpulan sendiri.

Baekhyun terdiam sebentar. Berusaha memutar kembali ingatannya. Apa Kai yang menyelamatkannya? Karena yang Baekhyun tahu teman sekolahnya yang berada disana hanya Kai. Untuk sekali lagi, Kai telah berkorban untuknya. Menyelamatkan hidupnya. Baekhyun telah salah mengusir Kai, ia terlalu baik untuknya. Kai terlalu banyak berkorban untuk dirinya. Kai sudah dua kali menyelamatkannya.

Mungkin ini saatnya untuk melupakan Chanyeol yang tidak pernah membutuhkannya. Ada seseorang yang lebih menganggapnya berharga. Ada seseorang yang melihatnya. Mungkin Chanyeol memang seperti bintang. Jauh di atas sana. Dengan begitu, susah bagi Baekhyun untuk menggapainya. Cahayanya terlalu terang, mata Baekhyun tak mampu memandang sinarnya yang silau.

.

.

.

Chanyeol melirik ke bangku disebelahnya yang kosong. Menatapnya penuh rindu. Ia merindukan saat-saat Baekhyun tersenyum disebrang sana. Tawanya menghiasi hari-harinya. Chanyeol tahu, ia terlambat untuk sadar bahwa Baekhyun sangat berarti untuknya. Namun apa salahnya berusaha. Chanyeol akan terus membuat Baekhyun kembali padanya.

Setelah pulang sekolah ini Chanyeol berniat akan menjenguk Baekhyun dan membawakannya buah dan susu strawberry. Seperti yang dulu Baekhyun pernah lakukan padanya. Ngomong-ngomong Chanyeol tiba-tiba ingin merasakan sup buatan Baekhyun yang kemanisan itu. Rasa manis yang sekarang ia rindukan. Chanyeol mendengus pelan ketika mengingat perbuatannya dulu. Memuntahkan sup itu. Ia tidak tahu bagaimana perasaan Baekhyun, tapi Chanyeol tahu dari matanya yang hampir meneteskan air mata. Chanyeol tahu Baekhyun pasti sedih, ia pasti kecewa. Chanyeol telah banyak melukai hatinya.

.

.

Hari ini Kai akan menjenguk Baekhyun. Ia hanya ingin memastikan bagaimana keadaan Baekhyun. Hanya itu. Ia sudah tak banyak berharap Baekhyun dapat membalas perasaannya setelah kejadian kemarin. Ia sadar, cinta, tak akan mungkin bisa dipaksakan. Karena cinta adalah keikhlasan bukan sebuah paksaan. Kai hanya akan berada di sisi Baekhyun sebagai temannya. Cukup hanya sebatas teman, tak apa, asalkan ia bisa terus berada disisi Baekhyun.

"Hei." Sapa Kai saat memasuki kamar Baekhyun. Baekhyun dengan gugup membetulkan posisi duduknya. Bagaimana pun juga, kemarin ia sedikit bertengkar dengan Kai. Dan belum bertemu lagi setelah itu.

"Eum, Hai." Jawabnya pelan. Kai membalasnya dengan tersenyum ramah.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Kai.

"Sedikit membaik." Kai mengangguk lalu mengusap rambut Baekhyun lembut. Sebuah aktifitas yang disukainya. Ia kemudian mengambil kotak makan dari tasnya.

Kai membukanya dan memperlihatkannya pada Baekhyun, "Mau memakannya?" tawarnya.

Baekhyun sedikit terkejut, "Sup jagung?" tak lama ia mengangguk dan tersenyum, "Aku mau."

"Baiklah, aaaaaa." Ucap Kai sambil menyuapi Baekhyun dengan sup yang ia bawa.

"Eum, ini sangat enak!" pekik Baekhyun ketika sup itu sampai dilidahnya.

"Kau pandai memasak?" tanya Baekhyun antusias. Kai hanya mengangkat kedua bahunya sok misterius.

"Ck." Decak Baekhyun saat melihat ekspresi Kai.

Baru saja akan membuka pintu, tangan Chanyeol terhenti diudara begitu melihat Kai dari balik kaca dipintu kamar Baekhyun. Matanya melebar ketika menangkap sup yang Baekhyun makan. Kai sudah lebih dulu darinya. Ia terlambat.

"Sial." Batin Chanyeol sambil mengepalkan tangannya.

"Kai.." panggil Baekhyun pelan. Kepalanya tertunduk, tidak memiliki keberanian untuk menatap Kai.

"Ya?"

"Maafkan aku." Ucapnya takut-takut. Kai menaikkan sebelah alisnya tak mengerti ucapan Baekhyun.

Chanyeol yang awalnya hendak segera pergi akhirnya tertarik menguping pembicaraan Baekhyun dan Kai. Ia harus tau apa yang sedang terjadi di dalam.

"Aku tidak mengerti." Jawab Kai bingung. "Sepertinya kau tidak salah apa pun padaku."

Baekhyun menggeleng cepat, "Aku telah mengusirmu malam itu, tapi kau malah menolongku dari kebakaran. Tolong maafkan aku yang tak tahu diri ini. Aku harusnya berterimakasih padamu." Ucapnya masih dengan menundukan kepalanya. Kai berdeham pelan, sekarang ia mengerti apa yang diucapkan Baekhyun. Ia mengangkat dagu Baekhyun, tidak ingin membiarkan wajahnya menunduk.

Chanyeol mendengus kasar. "Bodoh. Apa dia tidak menyadari itu aku?" gerutu Chanyeol kesal. Ia lalu menghentikan acara mengupingnya. Tak ingin mendengar apa pun lagi. Chanyeol lalu mengamati kotak bekal dan susu strawberry yang ia bawa. Menatapnya tak minat dan kemudian membuangnya ke tempat sampah.

Kai tersenyum lembut, lalu berdeham pelan. "Bukan padaku kau harusnya berterimakasih." Ucapnya.

"Ha? Apa maksudnya?" tanya Baekhyun bingung.

"Kau salah." Sela Kai, "Aku tidak menyelamatkanmu." Tambahnya lagi.

"Lalu siapa kalau bukan kau?"

"Yang jelas orang itu sangat mencintaimu." Ucap Kai yang membuat Baekhyun semakin bertambah bingung.

"Siapa?" Kai mengacak rambut Baekhyun saat melihat wajah kebingungannya yang baginya terlihat lucu.

"Kau pasti tahu jawabannya." Kai mengecek jam tangannya, "Astaga. Aku masih ada urusan. Baiklah aku pergi dulu, cepat sembuh Baekhyun." Katanya tergesa-gesa dan segera keluar.

Baekhyun menggembungkan pipinya. "Apasih maksudnya?" keluhnya.

.

.

.

.

.

Beberapa minggu telah berlalu, Baekhyun kembali pulih dan diizinkan pulang dari rumah sakit oleh dokter. Sebenarnya Kris sudah membelikan beberapa novel untuk Baekhyun baca dirumah sakit agar ia tidak merasa bosan. Tapi, malah sudah diizinkan pulang.

Baekhyun menarik tali ranselnya. Ia memandangi sekolahnya, sudah lama Baekhyun tak melihatnya. Ia menghembuskan napasnya pelan. Mencoba mengembalikan lagi semangatnya. Semuanya telah berlalu, kisah cintanya, persahabatannya, dan semua kesedihannya. Baekhyun tak ingin kembali masuk ke sana.

Ia harus memulai semuanya dari awal. Melupakan Chanyeol adalah langkah awal untuk memulai semuanya dari nol. Karena semua telah berlalu, Baekhyun telah menutup kisahnya dan menguncinya rapat-rapat.

Semua terdiam ketika melihat Baekhyun membuka pintu kelas. Mereka memandangi Baekhyun dengan saksama seperti sedang menelitinya.

"Si pengacau pesta ulangtahun sudah masuk." Tukas teman Baekhyun menyindirnya. Langkah Baekhyun terhenti sejenak, lalu melirik ke asal suara. Ia tidak boleh terpancing emosi. Ia harus meredamnya. Baekhyun kembali menghembuskan napasnya mencoba bersabar dan tidak memperdulikannya.

Baekhyun menarik kursinya, dan kemudian duduk dengan diam. Dengan sendirinya orang-orang yang tadi memerhatikannya, kembali pada aktifitasnya. Kelasnnya kembali seperti semula. Walaupun Baekhyun merasa asing dengan kelasnya. Ia sudah tak seperti dulu. Orang bisa berubah.

Chanyeol sudah beberapa kali melirik ke arah Baekhyun. Sebetulnya Chanyeol ingin sekali menyapanya. Atau sekedar melihat senyumnya yang selalu menghiasi bibir tipis namja itu. Dan yang sejak lama Chanyeol rindukan adalah ocehannya. Bibir tipis itu selalu menceritakan kesehariannya yang jujur saja bagi Chanyeol pun itu memang tidak lucu. Tapi, lumayan menghibur.

Tapi kali ini namja disampingnya tidak sama sekali membuka mulut. Sedekar menengok pun tidak sama sekali. Senyumnya tidak terlihat sama sekali. Bahkan tadi ketika pelajaran sejarah berlangsung, Baekhyun tidak bercerita lagi seperti dulu. Chanyeol kini merindukan Baekhyun bercerita disampingnya. Saat ini, lebih baik mendengar cerita Baekhyun dibanding sejarah. Karena sekarang bagi Chanyeol, Baekhyun tidak seperti sejarah, membosankan.

Tidak terasa bel istirahat berbunyi, berhubung perut Chanyeol ikut-ikutan berbunyi, ia berpikir untuk segera pergi ke kantin. Chanyeol mendorong kursinya pelan, lalu melirik lagi pada Baekhyun. Entah ini sudah yang ke berapa kalinya.

Ia menunggu Baekhyun akan berdiri dan bertanya kemana ia akan pergi. Tapi, sepertinya itu tidak akan terjadi, Baekhyun baru saja pergi melewatinya tanpa sedikit pun menengok. Chanyeol mengerutkan dahinya. Berpikir sejenak tentang sikap Baekhyun. Namun, kemudian mengabaikan pemikirannya.

"Yeol kemana penguntitmu?" Tanya Yongguk sambil menyumpit mienya. Chanyeol diam sambil memainkan sumpitnya. "Biasanya ia mengekor.." ucapnya lagi. Chanyeol lalu mengedarkan pandangannya. Menengok ke semua sisi. Baekhyun tidak ada dikantin. Chanyeol pikir, Baekhyun akan mengikutinya ke kantin.

"Aku tidak tahu." Katanya lalu segera meneguk segelas air dan bangkit meninggalkan kursi, "Aku duluan." Ucap Chanyeol mengakhiri pembicaraannya.

Hari ini ada yang berubah pada Baekhyun. Tak biasanya ia bungkam, tak biasanya Baekhyun tidak mengikutinya, tidak biasanya Baekhyun tak memberinya sekaleng susu lagi. Apakah ini caranya berhenti mencintai Chanyeol?

Kebiasaan yang telah lama terjadi dan tiba-tiba saja menghilang membuat Chanyeol gusar sendiri. Ada perasaan aneh yang mengganjal dihatinya.

Kini Chanyeol sedang berusaha mencari Baekhyun. Berusaha menemukannya. Ia ingin Baekhyun kembali seperti dulu. Selalu ada didekatnya. Yang memang terkadang Baekhyun adalah orang yang sedikit merepotkan. Tapi Chanyeol kini merindukannya.

Chanyeol meraih strap strawberry yang masih terpasang diponselnya. Lalu menarik sebelah sudut bibirnya. Waktu itu, Chanyeol tak suka Baekhyun memasangnya. Chanyeol tidak suka Baekhyun merebut strap yang seharusnya ia berikan pada Kyungsoo. Chanyeol juga tak suka Ibu-Ibu penjual itu mengatakan Baekhyun kekasihnya. Tapi semua telah berbalik. Chanyeol malah menginginkan itu sungguhan terjadi. Ia hanya terus memegang strap itu. Memandanginya seperti melihat Baekhyun disana. Memegangnya membuat Chanyeol tersenyum, seolah dapat merasakan kehadiran Baekhyun.

Saat kepalanya mendongak, dan mengalihkan pandangannya dari strap. Chanyeol menangkap sosok Baekhyun didepannya. Bersandar dipohon yang berada di taman sekolah. Tetapi, poin terpentingnya adalah, Baekhyun juga sedang memandangi strapnya. Sedikit kegembiraan mengalir didarah Chanyeol. Ternyata ia memiliki ikatan dengan Baekhyun.

Namun, ketika Chanyeol akan memanggil Baekhyun. Ia malah membuang strapnya. Chanyeol baru saja akan terbang. Tapi sudah terjatuh lagi. Chanyeol melongo. Terkejut dengan apa yang dilakukan Baekhyun. Chanyeol kira ia memiliki sebuah ikatan dengan Baekhyun. Tetapi, Baekhyun memandang strap itu bukan karena senang mengingatnya. Pasti karena benci dengannya. Begitulah kira-kira perkiraan Chanyeol.

"Baekhyun!" teriak Chanyeol. Baekhyun membulatkan matanya, tersentak saat melihat Chanyeol menuju ke arahnya. Ia segera pergi dari situ, mengabaikan Chanyeol yang memanggilnya.

"Baekhyun!" teriak Chanyeol lagi ketika sampai ditempat tadi Baekhyun berdiri. Ia meninggalkan strap strawberrynya. Chanyeol memungutnya, lalu menatapnya nanar. Kemudian ia memasangkannya ke ponsel miliknya. Bersebelahan dengan strap miliknya. Chanyeol dan Baekhyun harus bicara. Ia harus menyelesaikan ini, ia harus memberitahu pada Baekhyun tentang perasaannya.

.

.

Hembusan angin terdengar begitu jelas, sekolah kini sudah sangat sepi. Beberapa menit yang lalu sudah waktunya untuk pulang. Tapi Baekhyun masih setia berdiri dijendela sambil memandangi langit orange kemerahan. Ia menopang dagunya, menikmati indahnya langit senja dengan matanya.

"Baekhyun.." Baekhyun berjengit ketika seseorang memanggil namanya. Yang Baekhyun tahu, sekarang di sekolah sudah tidak ada orang selain dia. Baekhyun sedikit bergidik ngeri ketika mengingat cerita-cerita seram yang pernah ia baca di internet. Tapi, detik selanjutnya, ia sadar pemilik suara itu. Ia mengenali suara berat itu.

Baekhyun memutar kepalanya, kemudian ia membuang wajahnya ketika melihat Chanyeol berdiri diambang pintu. Baekhyun kira dia sudah pulang. Baiklah jika begitu, Baekhyun yang akan pulang. Baekhyun mengambil tasnya dan beranjak pergi dari tempat tanpa peduli sedikit pun pada Chanyeol.

"Baekhyun.." panggil Chanyeol lagi dengan sedikit nada meminta Baekhyun menanggapinya. Tapi Baekhyun tetap bersikap dingin dan tidak mau menjawab panggilan Chanyeol. Ia menabrak bahu Chanyeol saat akan keluar kelas. Dengan cepat Chanyeol menarik lengan Baekhyun dan menggenggamnya kuat.

"Byun Baekhyun.." ulang Chanyeol. "Kita harus bicara." Ucap Chanyeol mantap.

Baekhyun berdecak, "Memangnya ada yang harus kita bicarakan?" Tanya Baekhyun tak acuh. Chanyeol menarik paksa Baekhyun, membawanya kembali ke dalam. Berdiri sambil memandangi sinar jingga matahari yang hampir hilang.

Angin bertiup kencang dan bergaung. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Suasana terlalu sepi hingga detik jam pun ikut terdengar. Baekhyun hanya bungkam. Menunggu apa yang akan dibicarakan Chanyeol. Tapi Chanyeol sama diamnya dengan Baekhyun mendadak ia bingung apa yang harus dikatakan pada Baekhyun. Tak lama, Chanyeol akhirnya mengakhiri kesunyian diantara mereka dan memulai pembicaraannya.

"Ada yang berbeda denganmu." Kata Chanyeol akhirnya. Baekhyun masih diam tak ingin berkata apa pun. "Apa yang merubah dirimu?" Tanya Chanyeol sambil menatap Baekhyun yang masih mengkerutkan alisnya.

"Baekhyun tolong jangan hanya diam." Ucap Chanyeol dengan nada yang sedikit lebih tinggi. Kesabarannya perlahan menghilang menghadapi Baekhyun yang keras kepala tetap membungkam.

"Kau ingin aku jawab apa?" balas Baekhyun. "Kau pikir enak diabaikan?" mendadak suaranya meninggi. Chanyeol tertegun saat Baekhyun mengucapkan kata itu. Ia tahu kata itu bermaksud menyindirnya.

"Hei. Baekhyun." Chanyeol berusaha menenangkan hatinya, "Aku ingin kita bicara baik-baik." Ajaknya sambil berusaha tersenyum tipis.

Chanyeol menatap Baekhyun sendu, "Aku tidak tahu apa yang telah terjadi denganmu." Baekhyun mencoba mencerna ucapan Chanyeol barusan. Orang ini bodoh atau apa?

Lalu Chanyeol berusaha meraih jari tangan Baekhyun dan menggenggamnya. Tapi Baekhyun menolaknya, ia tidak ingin Chanyeol menggenggam tangannya.

"Lepaskan tanganku!" Berontak Baekhyun sambil berusaha melepaskan genggaman Chanyeol dari tangannya.

"Apa kau tidak ingin mencintaiku lagi, Baekhyun?" tanya Chanyeol yang membuat Baekhyun terpaku. Apa Chanyeol sedang mengerjainya?

Tak ada tempat lagi untuk Baekhyun didalam kisah Chanyeol. Baekhyun sudah menghapus semua keinginannya. Matanya menatap kosong ke arah senja. Perlahan dadanya terasa sesak. Air matanya mendesak keluar. Tapi, sebisa mungkin Baekhyun menahannya. Semuanya sudah berakhir. Baekhyun tidak ingin memulai lagi. Ia telah menguncinya rapat. Chanyeol tak boleh membuka lagi segalanya. Mengatakan hal-hal yang sulit untuk Baekhyun dapat percaya lagi.

Chanyeol mengambil ponselnya dan melepas satu strap yang terpasang disana. "Kau membuangnya. Kau ingat? Strap couple." Ucap Chanyeol sambil menyerahkan strap strawberry itu lagi.

"Itu bukan milikku." Jawab Baekhyun akhirnya. "Strap itu tidak ditunjukan padaku." Katanya menolak menerima lagi strap yang dulu menghiasi ponsel Baekhyun. Ia sadar. Dulu, Chanyeol memberikannya untuk Kyungsoo. Baekhyun memang tak pantas mendapatkan apa pun dari Chanyeol walaupun sekedar strap ponsel. Bagi Baekhyun, sekarang peran yang tersisa untuknya hanyalah peran untuk dikenang. Chanyeol hanya pantas mengenangnya.

"Apa kau tak pernah merasakan mencintai seseorang yang mustahil kau gapai namun kau terus menggapainya?" Tanya Baekhyun matanya menerawang ke langit.

"Apa kau tahu rintangan terberat ketika aku mencintaimu?" tanya Baekhyun lagi. Chanyeol hanya diam, ia tidak tahu harus berkata apa. Begitu banyak kesalahan yang telah ia perbuat pada Baekhyun. Ia tidak pernah menyangka Baekhyun akan menjadi seperti ini. Semua salahnya. Benar-benar salahnya.

"Melihat kau mencintai sahabatku sendiri." Mata Chanyeol melebar. Tidak menyangka Baekhyun mengetahuinya. Chanyeol sudah merahasiakannya dari Baekhyun.

"Apakah aku sebuah musibah hingga kau sangat membenciku?" Chanyeol masih bungkam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

"Aku tahu kesalahanku. Aku telah mencintaimu, lalu kau semakin membenciku. Kau semakin jauh disana, keluar dari jangkauanku."

"Tapi semua cukup sampai disini. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku yang salah telah membiarkan diriku jatuh dalam pesonamu."

Chanyeol menatap Baekhyun tak mengerti, "Apa maksdumu Baekhyun? Jangan katakan hal semacam itu." Larangnya.

"Kenapa?" tanya Baekhyun tanpa sama sekali melihat ke arah Chanyeol. Matanya lurus menatap langit yang kini sudah gelap. Ekspresinya berubah menjadi dingin.

"Bukankah kau tidak ingin aku mengganggumu? Sekarang kau terbebas dari manusia yang kau anggap virus ini. Kau bisa bersama orang yang kau cintai sesukamu." Ucap Baekhyun sinis. Ia membalik tubuhnya enggan melihat gelapnya malam lagi dan bermaksud untuk pergi sesegera mungkin.

"Maaf… aku sudah mencintaimu." Ucap Baekhyun untuk yang terakhir kali sebelum akhirnya pergi meninggalkan Chanyeol yang diam terpaku. Pikirannya campur aduk, semua kata-kata yang telah ia siapakan untuk menghadapi Baekhyun mendadak hilang dari otaknya. Chanyeol mengacak rambutnya frustasi. Tidak menyangka akan seperti ini kejadiannya. Ini terlalu menyakitkan. Hingga Chanyeol tak punya kuasa untuk berdiri kembali. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding. Lalu memijat kepalanya yang terasa begitu berat. Percintaannya begitu melelahkan dan merepotkan.

.

.

.

.

.

.

TBC


Aduhh maaf banget updatenya bener-bener late. Aku udah sibuk banget, trs ide juga makin mentok, makin mumet. Mungkin ini Chapter juga jadinya gajee-_-. Sebenernya aku mau update minggu kemaren tapi waktu diedit lagi ternyata ceritanya rumit banget. Jadilah aku tulis dari ulang he he. Aduh parah deh pokoknya. Intinya aku minta maaf kalo chapter yang kalian tunggu lama banget ini malah mengecewakan. Tapi aku udh nyoba panjangin chapter ini.

Aku juga minta maaf kalo chapter depan mungkin bakal lama lagi. Kalian tahulah kerasnya kelas sembilan/? Dan makasih banyak buat yang udah nunggu ff gaje ini, apa lagi yang mau review fav follow. Aku selalu terhura. Wkwk. Dan buat new readers? Halo^^ makasih udah baca! Jangan lupa review yaa! Kalo mau kasih masukan juga boleh, atau yang mau tanya-tanya bisa langsung pm saja atau line aku aja hanifhhm. Soalnya kemaren ada yang email aku, tapi aku bacanya telat banget, 5 hari setelah dia ngirim baru aku bales duh_-_. jadi mending line aja. Biar nambah temen juga/wht. Buat silent reader keluar dong haha. Gak gigit kok rawr..

Bigthanks to:

ByunAud,Chika love baby baekhyun, parklili, byungirl, .94, YOONA, followbaek, KT CB, CussonsBaekby, Song Jiseok, , jongkai, ebellfiks, nbla, babyboybyun, Baby Crong, dugunchao, elxhun, devrina, kyuxiuijo, , KYJaeeee, Taman Coklat, ByunnieKou, elshatami, fabxdae, orang cantik, ChanBaekLuv, baeqtpie, Yuznita356, BLUEFIRE0805, chanlove, Acha Kim, Tania3424, Misaki Yumi, neli amelia, VampireDPS, sarymaryani48, Yeollbaekk, kjung355, 48BemyLight, baekkievj, yunatif, narsih556, melizwufan, guest123, fida, Sniaanggrn, , lidyachanbaek, baekchanbaek92, suhoelfirda, 96, KyungsungChanbaek, Baekyeollie25, sarah, Anabelle, 12, , SFA30, panyje, baekhyunina, anaals, Re-Panda68, DLajeng, azurradeva, Rapp-I, exoghotic, princes23, nurul cynkeomma, indrisaputri, Ndowclow, ocha, chanbaek15, AnonymousParadise, ArikaNisaXO2606, Byeol56, Babyexotics, Baekhyun, EXO Love EXO, Fazamy, Myllexotics, peterbyeol0627, awexome, baekggu, , baekxian ree dan buat guest guest yang muncul.

Yang belum kesebut bisa bilang..

Kamsahamnida