Title : Giraffe and Strawberry
Author : chanbucks
Cast : Chanbaek and others
Genre : School romance
warning boyxboy
sorry for typo and anything, review please and dont bash
.
.
.
Chapter 9
.
.
.
Chanyeol mengusap keringat di dahinya. Ini malam yang dingin. Tapi, keringatnya selalu saja membasahi tengkuk kepalanya. Ia menelan ludahnya, lalu membuang napasnya perlahan. Berusaha menetralkan suhu tubuhnya yang dingin.
"Chanyeol, apa kau sedang sakit? mukamu agak pucat." tanya pemilik restoran, Suho. Chanyeol menggelengkan kepalanya. "Eh, tidak aku baik-baik saja." Ucap Chanyeol cepat.
"Baiklah. Kalau begitu, bisa kau antarkan satu pesanan lagi?" pinta Suho. Chanyeol mengangguk. "Ini alamatnya." Kata Suho sambil memberikan secarik kertas berisi alamat.
"Apa setelah ini aku bisa pulang?" tanya Chanyeol penuh harap. Suho mengangguk ramah. "Kupikir kau juga perlu beristirahat." Ucap Suho lalu disambut senyuman dibibir Chanyeol.
Sejak kejadian tadi sorenya bersama Baekhyun, kepalanya menjadi sedikit berat. Ungkapan Baekhyun secara blak-blakan tadi, sukses membuat Chanyeol menjadi sedikit mengacaukan pekerjaannya. Untung saja Bosnya, Suho Kim sangat baik. Padahal Chanyeol baru berkerja disini beberapa bulan yang lalu.
Semenjak Ibu Chanyeol meninggal, ia sadar bahwa berdiam diri saja dirumah dan mengandalkan tabungan yang ditinggalkan Ibunya tidak akan bisa menyambung hidupnya sampai kuliah kelak. Chanyeol pun memutuskan untuk berkerja paruh waktu, selain karena waktunya yang tak banyak untuk berkerja, ia juga hanya seorang pelajar SMA.
Mulai dari menjadi pengantar makanan, pelayan, penjaga toko, sampai penjaga kasir ia pun pernah mencobanya. Jika sebatas hidup di dunia mungkin tidak keras. Yang membuatnya keras adalah segala rintangan yang harus dihadapi.
Chanyeol mengeluarkan kertas alamat yang ia bawa, sambil memastikan kebenarannya. Setelah yakin bahwa itu alamat yang memesan makanan ditempat kerjanya, barulah Chanyeol memencet belnya. Tak beberapa saat, sang pemilik rumah keluar dengan menggunakan kaus hitam v neck dan celana merah selutut, dan jangan lupakan rambut yang awut-awutan khas orang bangun tidur yang kelaparan.
Tunggu, Tunggu. Chanyeol kenal orang ini.
"Kau?!" pekik Chanyeol heran saat menyadari orang itu ternyata Kai.
"Kau sengaja?!" Tuduh Chanyeol seenaknya, masih kesal dengan insiden beberapa hari lalu dirumah sakit. Kai menggaruk tengkuk kepalanya tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan lawan bicaranya. Saat Kai menyempurnakan pandangannya barulah ia sadar bahwa orang didepannya adalah Chanyeol.
"Hei. Aku memesan ayam, kenapa malah kau yang datang?" Tanya Kai sambil mengacak rambutnya malas, ingin segera menutup pagarnya. Kai memang sudah merelakan Baekhyun untuk Chanyeol, tetapi ia malas juga jika harus berhadapan dengan orang itu. Bagaimana pun mereka pernah terlibat pertengkaran yang cukup serius.
"Aku bekerja disana," Ucap Chanyeol mulai kesal. Apa mungkin Kai berlagak bodoh agar bisa menertawainya. Chanyeol tahu, dia dan Kai memang seperti rival. Tapi bila cara menjatuhkannya dengan begini, ia tidak terima.
"Ck. Kau ingin menertawaiku sekarang?" sambung Chanyeol. Kai yang makin dibuat bingung oleh ucapan Chanyeol yang tahu-tahu jadi pedas didengar akhirnya bertanya lagi.
"Maksudmu apa? Aku suka ayam, lalu aku lapar. Dan aku menelfon restoran ayam favoritku. Apa itu salah?" tandas Kai, alisnya bertautan saking bingungnya.
"Dan, oh satu lagi. Aku tidak tahu kau berkerja direstoran langgananku sejak kecil." Ucap Kai tanpa basa-basi kemudian merebut makanannya dari tangan Chanyeol lalu memberinya uang dan segera menghilang begitu saja.
Chanyeol menganga lebar. Jadi, ia salah bicara begitu? "Ck." Desisnya.
Matanya kemudian menangkap bangunan besar yang sedari tadi ia masuki. Sangat megah. Ia tidak menyangka, rivalnya termasuk kandidat yang cukup sulit. Mungkin didalamnya akan lebih keren lagi dan berkelas. Bangunannya terlihat sangat kokoh dan minimalis. Chanyeol baru tahu, Kai tinggal ditempat yang sebegini luas. Singkat kata, Kai anak orang kaya. Lalu otaknya kembali terbayang Baekhyun. Apa pantas ia menyukai Baekhyun? Ia tidak punya apa pun. Apalagi ia sudah membuat Baekhyun sangat terluka.
Ia hanya seorang pengantar makanan, tidak punya apa pun selain rumah yang ditinggalkan ibunya dan yah, barang-barang di dalamnya. Pikirannya kembali berperang dan membuat sakit kepalanya makin menjadi. Lalu Chanyeol mendesah kesal. Karena meragukan perasaan Baekhyun terhadapnya.
.
.
Chanyeol memasukan jari-jarinya ke dalam saku jaket. Mencoba menghangatkan jari-jarinya yang kini mulai terasa beku dengan hot pack. Hari berlalu terasa begitu cepat bagi Chanyeol. Musim dingin sebentar lagi akan datang. Chanyeol mengerang, mengingat kenyataan bahwa ini musim dingin pertamanya tanpa keluarga. Ia menggosok tangannya membuat kehangatan untuknya sendiri. Udara semakin dingin, padahal salju belum turun.
Ia berjalan dalam diam, sampai matanya tertumbuk pada Baekhyun yang berdiri didepannya dalam radius 5 meter. Ia terus berjalan dengan langkah ling-lungnya seperti orang mabuk. Chanyeol segera menangkap tubuh kecil Baekhyun yang akan tumbang. Hidungnya menyirit ketika mencium bau alkohol yang sangat menyengat ditubuh Baekhyun. Hatinya seperti dihantam baja. Begitu sakit melihatnya. Seperti inikah hancurnya Baekhyun karena Chanyeol?
"Hei. Siapa kau?" Tanya Baekhyun dengan gaya mabuknya. "Dasar jelek. Jangan pegang aku." Ucapnya sambil menutupi tubuhnya dari Chanyeol.
"Kau mabuk Baek, aku Chanyeol." Jawab Chanyeol tegas. Baekhyun mengerucutkan bibirnya dan mendaratkan tangannya tepat di wajah Chanyeol.
"Mana mungkin," ucapnya sambil tertawa garing. "Dia pasti sedang sibuk bersama Kyungsoo." Chanyeol tersentak ketika mendengar kalimat itu dari mulut Baekhyun, seperti ada yang menyangkut ditenggorokannya. Ia kembali diam dan menangkap Baekhyun yang akan terjatuh lagi karena mabuk.
"Sudahku bilang jangan menyentuhku, jelek." Pekik Baekhyun berusaha melepaskan diri dari pelukan Chanyeol.
"Baek, ayo pulang. Kau mabuk berat." Ajak Chanyeol akhirnya. "Tidak. Tidak. Tidak." Jawab Baekhyun sekenanya sambil menjulurkan jari telunjuknya.
"Kau jangan mengatur ya, jelek. Aku bisa pulang sendiri, memangnya aku si Kyungsoo itu. Pulang saja diantar. ck." ucapnya sambil kembali berjalan sempoyongan. Chanyeol yang sudah tidak tahan melihat tingkah Baekhyun, akhirnya memutuskan untuk menggendongnya. Baekhyun dalam keadaan mabuk ternyata dua kali lipat lebih menyusahkan.
Chanyeol menghembuskan napasnya lega. Dengkuran Baekhyun terdengar berat ditelinga Chanyeol. Ia tertidur dipunggungnya dengan sesekali mengoceh tak jelas akibat pengaruh alkohol. Chanyeol mengusap keringatnya yang terasa dingin. Napasnya mulai terengah. Ia melupakan bahwa tubuhnya sekarang kurang sehat. Yang dipikirannya hanya membawa pulang Baekhyun dan segera menghangatkan tubuhnya, karena malam ini salju mulai berjatuhan. Rupanya, perkiraan cuaca hari ini meleset.
"Apa kau tahu dimana kamarnya?" Tanya Chanyeol kepada resepsionis sambil mengedikan kepalanya ke arah Baekhyun.
"Oh. Byun Baekhyun-ssi," kata wanita didepannya. Sepertinya resepsionis ini sudah mengenal baik Baekhyun. "Ada apa dengannya? dia tinggal dilantai 5 kamar 106A."
"Dia mabuk berat." Jawab Chanyeol singkat.
"Kau bisa membuka pintunya dengan kunci ini." Katanya sembari memberikan kunci pada Chanyeol. "Dan, kau harus menggunakan tangga." Tambahnya persis seperti pencegahaan. Chanyeol menaikkan sebelah alisnya. Menatap tak percaya resepsionis wanita itu dengan tatapan kau-cuma-ber-canda-kan.
"Liftnya rusak?" Tanya Chanyeol sambil menelan salivanya.
"Bukan begitu," tangkas wanita itu cepat. "Setahuku Baekhyun-ssi mengalami Claustrophobia." Chanyeol menyiritkan alisnya bingung. Mengetahui raut wajah Chanyeol yang berubah wanita itu segera melanjutkan kalimatnya.
"Itu ketakutan pada ruangan sempit." Chanyeol kembali menghela napasnya. Melirik Baekhyun yang masih tertidur dipunggungnya. Apa yang pernah terjadi dengannya? Baekhyun pasti pernah mengalami suatu tragedi yang membuatnya trauma. Apa Baekhyun juga menaiki tangga setiap harinya? Astaga.
Chanyeol baru tahu ketakutan Baekhyun. Mulai detik ini, Chanyeol jadi ingin tahu lebih banyak tentang ketakutan-ketakutanya dan semua tentang Baekhyun. Ia ingin mengenal lebih dalam orang yang dulu selalu ia campakan.
Tanpa ragu Chanyeol pun melangkahkan kakinya menuju tangga. Ia tidak mau sesuatu terjadi pada Baekhyun jika ia naik dengan lift. Bagaimana jika Baekhyun tiba-tiba terbangun dan ketakutan? Apalagi sekarang ia dalam posisi mabuk yang luar biasa menyebalkannya. Chanyeol tak mau ambil resiko soal itu.
"Terimakasih." Ucapnya sebelum menghilang dibalik tangga.
.
Chanyeol memejamkan matanya sekaligus mengatur napasnya yang sudah mulai tidak berarturan, detak jantungnya semakin cepat dan tidak teratur. Ini baru lantai tiga, tapi ia sudah luar biasa lelahnya. Tubuhnya basah keringat dingin, wajahnya pun bertambah pucat, bibirnya kering, tangannya yang memegang kaki Baekhyun mulai gemetar. Terutama kakinya, rasanya sudah terlalu berat untuk dapat melangkah lagi. Kalau bisa Chanyeol ingin sekali mencopot kakinya ini. Tiba-tiba saja Chanyeol tersentak ketika Baekhyun memukul pantatnya.
"Yak. Kuda kenapa kau berhenti?" Tanya Baekhyun dengan mata tertutup dan sesekali memukul pantat Chanyeol lagi.
"Hiyaaa! Jalan terus!" teriaknya dengan gaya penunggang kuda. Chanyeol yang kewalahan dengan tingkah Baekhyun dipunggungnya akhirnya melanjutkan jalannya. Chanyeol kemudian berusaha melangkahkan lagi kakinya yang sudah terasa pegal. Ia melirik maklum ke arah Baekhyun yang telah kembali menyandarkan kepalanya dipundak Chanyeol.
Kaki Chanyeol mulai bergetar hebat saat Baekhyun dengan tak terduga, memeluknya. Lalu membalikkan kepalanya menghadap Chanyeol. Membuat deru napasnya terasa hangat dileher Chanyeol yang dingin.
"Kau begitu dingin. Biarku hangatkan." Ucap Baekhyun dengan sedikit menarik sudut bibirnya, tapi masih dengan mata tertutup. Chanyeol bergeming saat merasakan kehangatan tubuh Baekhyun. Sesaat pikirannya kembali terputar ketika Baekhyun memeluknya waktu itu. Pelukannya selalu terasa hangat dan nyaman.
Namun, detik selanjutnya Chanyeol berdesis saat menyadari Baekhyun kembali memukul pantatnya yang tak berdosa ini.
"Disini tidak ada rumput! Jadi jangan coba-coba berhenti." Oceh Baekhyun ngawur dan berhasil membuat Chanyeol menghembuskan napasnya lagi, entah ini sudah yang keberapa kalinya.
Chanyeol tersenyum kecil disela wajahnya yang nampak pucat. Ia kembali melangkahkan kakinya berniat untuk cepat sampai agar Baekhyun dan tubuhnya yang sudah mulai lemah ini bisa beristirahat.
"Dasar mabuk." Gumamnya.
.
.
Setelah Chanyeol berhasil membaringkan tubuh Baekhyun ditempat tidur, ia menatap sendu Baekhyun yang tertidur. Chanyeol menyelimuti tubuh Baekhyun yang tampak resah karena dingin. Tangannya terhenti saat ia menyadari Baekhyun memegang erat tangannya.
"Disini.." katanya mengigau. "Tetaplah disini." Sambungnya pelan. Lalu kembali terlelap dengan tenang. Chanyeol mengangguk dan mengusap rambut Baekhyun lembut. Ia mencintai Baekhyun dan ingin menjaganya semampu yang ia bisa, ingin membuatnya lebih sering tertawa. Hingga tak ada waktu baginya untuk mengeluarkan air mata kembali.
Untuk beberapa saat, Chanyeol memandangi Baekhyun dengan lekat. Wajahnya yang terlihat begitu lelah. Tubuhnya yang terlihat agak kurus. Apa dia makan dengan teratur?
"Uhuk.. Uhuk.." Baekhyun terbatuk beberapa saat tapi matanya masih tertutup. Lalu beberapa detik setelahnya ia malah seperti ingin muntah.
"Kau tidak apa-apa Baek?" tanya Chanyeol sambil membuat posisi duduk untuk Baekhyun. Chanyeol sedikit menepuk-nepuk punggung Baekhyun. Berikutnya Baekhyun sudah muntah. Alkohol sialan.
Chanyeol menatap nanar Baekhyun yang sudah penuh muntah dibajunya. Ia pun membopong Baekhyun ke kamar mandi untuk membersihkannya. Pelan-pelan Chanyeol membuka seragam Baekhyun. Chanyeol meneguk ludahnya saat melihat Baekhyun seperti ini, lalu menggelengkan kepalanya pelan dan segera melanjutkan acara bersih-bersihnya. Chanyeol membutuhkan waktu cukup lama sampai akhirnya ia berhasil membuat Baekhyun kembali bersih dan membaringkannya lagi.
Mata Chanyeol kembali menatap Baekhyun. Ia menghela napasnya panjang. Chanyeol tidak bisa memastikan apa yang merubahnya. Dia hanya yakin orang di depannya ini telah merubah dirinya.
Chanyeol keluar dari kamar Baekhyun dan menyadari sesuatu. Dimana orangtuanya? Kenapa Chanyeol baru sadar jika sedari tadi tak ada siapa pun selain dia dan Baekhyun. Apa Baekhyun tinggal sendiri? Dari tanda-tanda rumah ini pun, tak ada satu pun yang menunjukan adanya kamar orangtua Baekhyun. Lantas bagaimana dengan cerita-cerita konyol Baekhyun yang sering ia ceritakan?
Rasa penasaran pun timbul dipikiran Chanyeol untuk menelusuri rumah milik Baekhyun. Memang agak lancang. Tapi, ia sendiri sudah terlanjur penasaran.
Langkah kakinya membawa Chanyeol masuk ke ruang di sebelah dapur. Ia membuka kenop pintu itu dengan perlahan-lahan. Ternyata ini ruang melukis. Sebentar, Chanyeol akan menambahkan satu fakta lagi tentang Baekhyun, dia gemar melukis. Chanyeol mengamati lukisan-lukisan milik Baekhyun yang indah, keren, bagus, menakjubkan. Mungkin Chanyeol akan kehabisan kata-kata jika mendeskripsikan lagi bagaimana lukisan Baekhyun. Berlebihan.
Begitu banyak lukisan yang sudah Baekhyun buat. Ruangan ini dindingnya hampir penuh hanya karena lukisannya. Chanyeol memiringkan sedikit kepalanya saat melihat sebuah lukisan yang tertutup kain putih, ya, mungkin saja lukisan. Hanya lukisan itu yang tergeletak dilantai. Kenapa tidak dipajang? Batin Chanyeol.
Tanpa pikir panjang Chanyeol mengambil lukisan itu dan membuka kain yang menutupinya. Betapa kagetnya Chanyeol ketika melihat dirinya terlukis disana. Matanya terbelalak karena wajahnya terukir diatas kanvas tanpa cacat. Chanyeol berani sumpah. Lukisan itu sangat keren. Tunggu, bukan karena wajahnya yang tergambar disana. Tapi memang itu keren. Satu kata yang juga dapat mendeskripsikannya, tampan. Malah Chanyeol berpikir lukisan itu lebih tampan darinya.
Perlahan Chanyeol mengusap lukisan itu, ketika sadar ada titik air mata diantara cat itu. Batu besar seperti datang menghantam jiwanya. Chanyeol salah lagi? Ia membuat Baekhyun menangis lagi? Sudah berapa kali Baekhyun menangis agar ia kuat patah hati karenanya?
"Maaf, aku benar-benar minta maaf." Ucapnya lirih.
Chanyeol menatap lukisan itu dengan tatapan kosong. Ia menghela napas panjang, lalu kembali menelusuri ruangan itu. Sebenarnya itu ruang pribadi Baekhyun. Mungkin jika Baekhyun tahu, Baekhyun tidak akan mengizinkan Chanyeol memasukinya.
Kemudian pandangan Chanyeol tertuju pada meja disudut ruangan yang cukup berantakan. Ia duduk dikursinya dan mulai membuka loker yang ada. Chanyeol menarik sedikit bibirnya saat melihat album foto yang lumayan besar ukurannya. Lalu ia mulai membukanya.
Pada halaman pertama, terlihat foto Baekhyun kecil sedang digendong oleh Ibunya, kira-kira Baekhyun baru berumur sekitar 3 bulan. Dan dibelakangnya ada Ayah Baekhyun yang memeluk istrinya. Keluarga muda yang bahagia. Disana juga tertulis sebuah kalimat, 'Terimakasih telah lahir. Anak kami, Byun Baekhyun.'
Ngomong-ngomong Baekhyun kecil ternyata sangat menggemaskan. Chanyeol kembali membukanya pada halaman kedua. Nampak Baekhyun yang sudah cukup besar untuk dapat berjalan. Ia tertawa disamping Ibunya sambil memegang balon berwarna biru muda. Dia tersenyum dengan lebar ke arah kamera. Benar-benar lucu. Dan selanjutnya ada Baekhyun yang sedang berenang, piknik keluarga, lalu fotonya ketika wajahnya tercoret-coret lip stick dan bedak. Chanyeol tertawa kecil melihatnya, terlebih karena tulisan disampingnya. 'Mianhae Eomma Baekkie merusak lipstick kkk~'
Kemudian sampailah Chanyeol pada halaman ke enam. Ia mengkerutkan alisnya. Membalik lagi halaman selanjutnya. Membalik lagi. Lagi. Jawabannya tetap sama, kosong. Chanyeol lalu membuka halaman paling belakang album itu. Ia menemukan post-it berwarna kuning yang tertempel dibelakang album. 'Ayah, Ibu, bisa kita berfoto lagi?'. Chanyeol menaikkan sebelah alisnya. Bingung terhadap post-it yang baru saja ia baca. Album Baekhyun mengingatkannya pada kenangannya bersama orangtua. Tiba-tiba saja Chanyeol jadi merindukan Ayah dan Ibunya.
Saat Chanyeol akan menaruh lagi album itu, ia baru sadar ada note dengan title diary di covernya. Ia lalu mengambil diary itu. Biasanya, diary termasuk dalam jajaran hal yang sangat privasi. Tapi tahu sendirikan, mulai sekarang Chanyeol ingin mengenal Baekhyun. Pasti di dalam diary ini banyak hal-hal yang Chanyeol belum tahu, atau bahkan tak pernah tahu.
05-06-2011
Sendirian. Aku, ingin bersama kalian lagi. Sangat.
23-09-2011
Aku tidak ingin kata itu lagi. Perceraian. Tolong jangan buat aku mendengarnya.
Chanyeol terdiam ketika membaca kalimat yang Baekhyun tulis. Dia menutup matanya dan mendesah kasar. Ia tahu sekarang. Harusnya ia sudah menyadarinya sejak awal. Cerita konyol, rumahnya yang sepi, album foto yang kosong dan post-it itu. Harusnya Chanyeol juga sadar kenapa Baekhyun selalu mengikutinya sejak awal. Satu kata lagi yang akan Chanyeol tambahkan ke daftar fakta Baekhyun, kesepian. Baekhyun kesepian.
16-04-2012
Hyung, bisa aku genggam janjimu?
Sambil mengelus dagunya, Chanyeol mengangguk-angukan kepalanya pelan. Ia juga baru tahu Baekhyun punya Hyung. Astaga, benar bukan dugaan Chanyeol? Ia bisa mengenal Baekhyun lebih dalam lewat diarynya.
08-01-2013
Pembohong! kau sama. Meninggalkan aku. Pembohong!
21-05-2013
Dia menerima strawberryku, dan apa ini? kenapa jantungku berdetak lebih cepat?
Chanyeol berpikir sejenak. Apa Baekhyun menulis tentang dirinya? Chanyeol mencoba menggali memori yang ia punya. Lalu tersenyum lagi. Kali ini Chanyeol sering sekali tersenyum untuk Baekhyun, walaupun itu hanya dalam bentuk hal-hal kecil. Ia ingat, ketika itu, Baekhyun dengan malu-malu memberikan bekalnya karena Chanyeol tidak membawa bekal saat masa orientasi. Namun, Chanyeol segera berdecak, ia juga ingat kalau hanya menyimpan strawberry itu dan membuangnya ketika Baekhyun sudah pergi.
30-08-2014
Apakah aku tadi benar-benar memeluknya? Bagaikan mimpi!.
Mungkin ini juga dirinya. Karena Chanyeol ingat Baekhyun memeluknya ketika di toilet saat ia muntah karena strawberry.
Chanyeol sedikit terdiam saat melihat halaman dengan tanggal 11-01-2015. Bukan seperti halaman sebelum-sebelumnya, halaman itu hanya berisikan coretan keriting dan meninggalkan sepatah kata, 'hatiku'.
Chanyeol terus melanjutkan acara membacanya. Tanpa ia sadar hatinya sedikit terluka. Tangannya perlahan terkepal. Sedikit demi sedikit Chanyeol mulai menyesal telah membaca diary itu. Cukup sudah. Ia menutup diary dan meninggalkan ruangan itu.
Ia menghembuskan napasnya kasar berulang kali. Lalu sejenak melirik kamar Baekhyun. Dan pergi keluar dari apartemennya. Chanyeol menyandarkan tubuhnya pada dinding di sebelah pintu Baekhyun. Ia menatap kosong karpet koridor. Tidak mungkin. Yang ia baca tadi pasti salah. Baekhyun tidak harus mencintai Kai. Ia bisa membalasnya. Sudah berapa kali Chanyeol bilang. Dia bisa membalas perasaan Baekhyun terhadapnya.
Chanyeol memukul dinding dibelakangnya kesal, marah. Ia tidak tahu jika begini jadinya. Mungkin patah hati bisa merubah cara pandang seseorang tentang cinta. Tapi Chanyeol tidak ingin melihat Baekhyun mulai mencitai Kai.
"Jangan.." bisiknya parau. "Jangan lupakan aku." Sambungnya.
"Aku mohon.." pinta Chanyeol pelan.
Tangannya mulai bergetar hebat. Bibirnya tak mampu mengucap satu patah kata pun. Hari ini, begitu banyak informasi yang baru ia ketahui. Terlalu banyak. Sangat banyak. Seperti rasanya semua informasi yang bersarang dikepalanya mau tumpah. Chanyeol tak mampu lagi berdiri. Chanyeol menyandarkan tubuhnya yang makin merosot. Ia ingin marah pada dirinya sendiri, tapi tak punya daya. Napasnya tersenggal-senggal. Ia terus menangis dengan kesedihan yang bertumpuk di dada. Sedangkan air mata kesedihannya masih tumpah membasahi pipinya.
Ia tahu tak ada satu pun manusia yang tidak penah melakukan kesalahan. Namun, ia sadar. Kesalahannya sudah kelewat batas. Air mata yang senantiasa jatuh mulai menghalangi pandangannya. Bulir-bulir air mata penyesalan yang ia tumpahkan tak akan pernah bisa merubah segalanya. Kali ini, tubuhnya mulai menggigil. Giginya bertabrakan mengeluarkan bunyi.
Tak peduli hawa malam semakin dingin Chanyeol terus menyandarkan tubuhnya disamping pintu Baekhyun. Masih menyesali perbuatannya. Entah kenapa mengingat kesalahannya kepada Baekhyun membuat tubuhnya semakin kedinginnan. Ia tak punya banyak kuasa untuk mengendalikan tubuhnya yang mulai lemas. Ia tak mampu lagi menahan semuanya. Tidak, Chanyeol tetap tidak bisa membiarkan Baekhyun bersama Kai.
Egois. Memang sudah melekat pada diri Chanyeol. Tapi, ia yakin Baekhyun belum sepenuhnya melupakan dirinya. Tidak secepat itu. Pasti masih ada kesempatan untuk Chanyeol memperbaiki segalanya. Semuanya mungkin tidak akan sama lagi. Tetapi, Chanyeol butuh kesempatan. Sekarang ia tidak akan membohongi perasaannya lagi. Dan pada akhirnya pandangannya mulai menghitam.
.
.
.
Perlahan Baekhyun membuka matanya, kemudian menatap bingung sebentar tubuhnya yang berada diatas ranjang. Lalu mengabaikannya. Ia bangkit dan sedikit melenturkan otot-ototnya.
"Ah, kepalaku pusing sekali." Rintihnya sambil memegangi kepalanya yang agak sakit. Ia melirik ke arah penghangat ruangan. Baekhyun mengangkat sebelah alisnya. Lalu ia membuka gordennya dan bergumam 'oh'. Salju sudah turun.
Lalu Baekhyun menyadari sesuatu. Bajunya. Bukannya tadi ia memakai seragam? Tapi sekarang malah ia sudah menggunakan sweater. Baekhyun memegang kepalanya lagi karena terasa sedikit sakit. Dasar alkohol. Padahal semalam dia cuma minum 2 botol. Cuma-2-botol? tolong kau pikirkan kembali Byun Baekhyun.
Beberapa potong kejadian semalam sedikit terngiang dikepalanya. Dan membuat kepalanya bertambah nyeri.
"Siapa yang membawaku pulang?" tanyanya sambil memanyunkan bibirnya. Kemudian menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.
"Sudahlah. Aku lapar." Katanya tak peduli.
.
Baekhyun merapatkan jaket hangatnya. Ia lupa persediaan makanannya sudah habis. Padahal perutnya sangat lapar. Apa boleh buat, ia harus pergi ke supermarket dulu untuk membeli bahan makanan.
Ia membuka pintunya dan menggosokkan tangannya agar terasa hangat. Baekhyun terlonjak saat melihat Chanyeol di depannya. Astaga, sedang apa orang ini?
Wajahnya tampak pucat, bibirnya kering, wajahnya juga berkeringat. Baekhyun berjongkok dan memegang kening Chanyeol. Tubuhnya sangat panas. Dengan gesit Baekhyun mengangkat tubuh Chanyeol yang lebih besar darinya. Susah payah Baekhyun membawanya untuk berbaring di ranjang miliknya. Ia tidak ingin Chanyeol sakit. Jujur saja, melupakan tidak semudah kata orang. Jauh di lubuk hatinya, masih tersimpan sejuta perasaan untuk Chanyeol.
Segera Baekhyun mengambil kompres supaya menurunkan suhu tubuh Chanyeol. Ia menyelimuti Chanyeol. Lalu mengusap pipinya perlahan. Baekhyun tersadar sesuatu. Mungkin Chanyeol yang membawanya pulang. Kejadian semalam terputar lagi dibenaknya.
"Hei. Siapa kau?"
"Dasar jelek. Jangan pegang aku."
"Kau mabuk Baek, aku Chanyeol."
"Kau begitu dingin. Biarku hangatkan."
"Disini tidak ada rumput! Jadi jangan coba-coba berhenti."
Baekhyun meraih tangan Chanyeol, menggenggam erat jarinya. Perlahan air matanya kembali menetes. Dengan cepat Baekhyun mengusapnya dan segera bergegas untuk pergi.
"Tunggu disini, aku akan segera kembali." Ucap Baekhyun sebelum pergi.
.
.
Setelah hari cukup siang, Chanyeol sudah membaik. Walaupun sedikit terkejut saat menemukan tubuhnya tertidur dikasur Baekhyun. Sekarang, Chanyeol dalam posisi duduk tapi masih dikasur Baekhyun, karena Baekhyun memaksanya untuk istirahat lagi sebentar. Ah, bukan-bukan. Maksudnya tubuhnya masih agak lemah untuk pergi.
"Apa?" semprot Baekhyun ketika melihat tatapan Chanyeol yang ia tidak mengerti apa arti tatapannya. Chanyeol hanya diam dan mengusap tengkuk kepalanya dengan sesekali berdeham pelan. Rupanya Chanyeol salah tingkah. Ia memikirkan beberapa kemungkinan Baekhyun membawanya masuk. Malah sampai memperbolehkannya tidur dikasur miliknya.
"Makan ini." Ucap Baekhyun seraya menyerahkan semangkuk bubur buatannya. Chanyeol melirik tak meyangka. Takut Chanyeol salah mengartikan perbuatannya, Baekhyun cepat-cepat menambahkan, "Ini hanya karena kau sakit." Katanya sambil melipat tangan didada. Tapi Chanyeol malah menarik sudut bibirnya ke arah Baekhyun. Dia tahu Baekhyun masih memperhatikannya.
"Kalau tidak enak muntahkan saja." Ucap Baekhyun sok jaim sambil menutup pintu. Seulas senyum tipis kembali mengembang dibibir Chanyeol.
Baekhyun mengelus dadanya dan perlahan menghembuskan napasnya. Tadi Chanyeol tersenyum ke arahnya. Yah, walaupun bisa diartikan menarik sudut bibir juga termasuk terseyum meskipun tidak sepenuhnya tersenyum. Tapikan tetap saja Chanyeol tersenyum.
Penasaran, Baekhyun mengintip Chanyeol melalui lubang pintu. Selanjutnya Baekhyun melah menganga, tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Baekhyun kira Chanyeol akan memuntahkan masakannya lagi. Karena waktu itukan Chanyeol memuntahkannya. Untuk itu Baekhyun masih sedikit kesal. Tapi kali ini, Chanyeol hanya makan dalam diam tanpa sedikit pun berkomentar. Malah ia mengunyah sambil tersenyum-senyum. Baekhyun membalik tubuhnya, ia menggaruk kepalanya dengan kedua tangan.
"Orang itu kerasukan apa sih?" tanya Baekhyun masih tak habis pikir. Baekhyun kemudian kembali membalik tubuhnya dan menyipitkan matanya untuk kembali mengintip. Baekhyun mengucek matanya kasar. Lubang kunci ini jadi gelap.
"Loh, loh, kemana perginya Chan—"
Bruuk!
Baekhyun terjatuh tepat setelah Chanyeol membuka pintu. Ia mengusap hidungnya yang baru saja mencium lantai. Baekhyun menggigit bibirnya ngeri. Ia tertangkap basah. Mau ditaruh dimana wajahnya ini. Pasti wajahnya sekarang sudah berubah jadi merah.
"Sedang apa?" tanya Chanyeol lempeng. Baekhyun memberanikan diri mengangkat wajahnya. "A-a-aku.." ucapnya gelagapan. Belum lagi ditambah wajah datar Chanyeol itu. Baekhyun semakin gelagapan saja karena ketahuan mengintip.
"Ingin mengambil mangkuk kotor!" ucap Baekhyun kelewat kencang setelah berhasil menemukan alasan. "Ya. Mangkuk kotor." Tandasnya.
Chanyeol tersenyum sambil menyerahkan mangkuk yang sudah ada ditangannya. Cepat-cepat Baekhyun mengambil mangkuk itu dan bergegas menuju bak cuci. Tidak ingin berada di depan Chanyeol. Baekhyun mengigit bibirnya gelisah. Melihat Chanyeol yang terus menerus tersenyum ke arahnya membuat Baekhyun jadi merinding. Bukannya dulu Chanyeol sangat dingin padanya?
Baekhyun mengibas-kibaskan wajahnya yang terasa panas. Lalu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Kali ini Chanyeol terus membuatnya harus latihan pernapasan. Benar-benar bocah itu.
Kemudian Baekhyun mencuci mangkuk bekas makan Chanyeol. Pikirannya masih dipenuhi senyum Chanyeol. Baekhyun benar-benar tidak bisa menghilangkan Chanyeol dari kepalanya. Bibir itu tersenyum untuknya. Dengan tingkahnya yang seperti itu, hampir dipastikan itu adalah hal yang mustahil. Tapi, kenyataannya Chanyeol terus saja menebar senyumnya.
Baekhyun mendesah berat karena mendadak terkena sindrom jantungan. Chanyeol tiba-tiba saja sudah disebelahnya.
"Ponselmu." Ucapnya santai masih dengan senyum. Baekhyun pun merebutnya buru-buru. Ia tidak ingin Chanyeol tahu, hatinya sekarang seperti kembang api.
"Apa?!" pekik Baekhyun saat mengangkat telfon. Chanyeol melirik curgia Baekhyun yang sedang berbicara lewat telfon.
"Hyung! kau tidak bisa melakukan ini padaku!" rengek Baekhyun tak terima.
"Keputusanku sudah bulat."
"Jangan pindahkan aku ke Kanada!"
Senyum Chanyeol luntur. Ia membeku. Kalimat yang baru saja ia dengar sukses membuat hatinya sakit lagi.
Untuk kali ini, mungkin Chanyeol yang harus tersakiti. Karma itu berlaku, Park Chanyeol.
.
.
.
.
.
TBC
Halo? wkwk /plak/
sujud syukur banget bisa lanjutin ini ff. aku pasti minta maaf dulu sama kalian berhubung late update. Yah bukan sepenuhnya salah aku [bilang aja gamau disalahin]
Aku kan udah bilang 10 mei itu tanggal aku nulis lagi dan bukan berarti aku update tanggal itu. Tapi, dibalik itu juga banyak problematika yang bikin late sih. Mulai dari ujian tahfidz btw btw aku remed [tolong diblur...] jadi tanggal 17 mei ulang deh ujiannya dan seminggu itu mesti ngafal lagi. stlh remed mulailah aku ngetik lagi, nah, tumben juga aku ngetik itu lamaaaaaaa abis. Mungkin berhubung sindrom liburan dan banyak godaan seperti game, youtube, naruto dll. wkwk. gara-gara itu aku ga jadi ngetik, kalian bisa salahin perkembangan teknologi sih/? Oke deh lanjut. jd wkt ff udh siap kan tinggal post. waktu mau di post jeng.. jeng. Aku gabisa buka ffn. sempet bingung dan ngira sinyal aku jelek, berhubung diluar hujan. Tapi ternyata ffn tetep ga ke buka pdhl udh ngga hujan. dan aku jadi males ngepost grgr tahu gabisa. tapi aku tetep cari tahu penyebabnya. taunya gara-gara aku pindah pake wifi bolt. -_- setan emang kkkkkk. ternyata ada beberapa provider macem telkomsel, tri, xl gtu ngeblokir ffn duh. syedih. aku udah tahu lama sbnrnya ffn diblokir. dulu aku ga peduli soalnya toh aku masih bisa buka [btw aku pake smartfren] tapi akhirnya bisa kebuka juga setelah browsing2 gimana biar ffn bisa kebuka lagi dan akhirnya aku bisa post lagi haha. oke.
mungkin chap ini bosenin ya? ide lagi mampet banget masih ke inget rumus/halah. tapi serius. aku udh jarang baca-bacadan tau tentang hal-hal yang berbau romance lagi jadi kurang ngefeel ngetiknya. keseringan baca buku pelajaran wetseh. Yang abis UN gimana kabarnya? sehat? wkwk.[mtk mabok. bener ga?/taunya gue doang yg bego] berhubung nem sma udh keluar, jadi doanya semoga nem smp dan sd/?nya memuaskan. amiin.
Dan untuk mengakhir author note yang panjang ini, mau kasih info dan sekaligus nanya. sepertinya 2 chapter lagi atau chapter depan ff ini bakal aku buat end. tapi kalo ternyata blm bisa end yah aku gabisa berbuat apa-apa.-.
terus Kai kan jomblo nih ekekek. enaknya dipasangin siapa ya? atau dibiarin aja jomblo ampe lapuk?/duh jahad.
Thanks yang udah baca dan nungguin ff ini. Aku minta maaf sekali lagi kalau mengecewakan.
