Mulai saat ini, aku berjanji akan terus menjaganya, jika diperbolehkan untuk egois, aku ingin ia selalu kembali menjadikanku sebagai tiangnya, aku ingin menjadi hal yang selalu membuat ia bangkit dan berdiri dengan begitu angkuh, dan aku juga ingin mengatakan padanya bahwa hanya dengan memejamkan mata dan beristirahat semuanya akan terasa baik- baik saja, selama masih ada kata kami pada hubungan ini.

.

.

.

And I may feel like a fool,
But I'm the only one, dancin' with you.

.

.

.

Si Gadis idamanku itu, tidak lebih dari seorang pecundang di Sekolahnya, ia selalu di tindas karena hal yang menurutku, sangatlah bodoh. Si Gadis yang selalu ceria itu tidak ada jika kau menguntitnya di Sekolah. Ia menajdi gadis yang tertutup, bahkan ia selalu menundukkan kepalanya, tidak ingin memperlihatkan mata birunya. Seperti orang bodoh, aku selalu memperhatikan Zitao saat ia berada di Sekolah, tak ada niatan untuk menghampirinya. Aku hanya diam dan memperhatikan. Tidak ada lengkingan khas Zitao disana, tidak ada tawa besar yang keluar dari bibirnya saat disana, Zitaoku berubah menjadi si tuna wicara.

Aku tidak merasa buruk saat tahu bahwa ia berubah saat disekolah, karena aku bukanlah lelaki yang cukup kasar. Aku masih memiliki hati untuk tidak memutuskan sebuah hubungan karena masalah seperti ini, aku terus menghinanya dalam diam, tapi kembali keawal dari mengapa semua ini terjadi, aku mencintainya.

Dengan wajah terbaikku, aku menghampiri Zitao yang sedang diam menunggu sebuah bis datang dihadapannya, beberapa siswa mengalihkan pandangan mereka padaku, tapi fokusku hanya ku berikan pada Zitao.

"Selamat sore, Zi,"

sapaku lalu duduk disebelahnya, ia tidak menghiraukannya, bahkan ia makin menundukkan kepalanya, akupun menggoyangkan lengannya, hingga tak kurasa kini kepalanya sudah bersandar dibahuku, kedua manik birunya tertutup, bahkan bibirnya sedikit terbuka. Tanpa pikir panjang, akupun menggendong ala pengantin Zitao menuju mobilku, beberapa siswa dan siswi memperhatikan kami dengan wajah idiot mereka, hingga aku merasa pergerakan digendonganku,

"Gege?,"

"Bermimpi dengan indah, ZI?."

Masih dengan pakaian seragamnya dan juga baju seadanya yang kukenakan, aku kembali membawanya menuju pantai yang tidak cukup jauh dari tempat kami tinggal, kini aku mengajaknya untuk berdansa di bibir pantai dengan alunan music yang keluar dari gumaman di bibirku, ia terlihat senang, bahkan mata birunya itu kembali berbinar, dan aku menyukainya.

"Kau Bodoh, Zi,"

Secara perlahan binar di mata biru itu mulai meredup,

"Kau bukan terlalu baik, kau seorang yang sangat amat bodoh, Zi,"

Tak ada perubahan dari manic itu, masih meredup, bahkan hampir berkaca-kaca,

"Kau tidak bisa menjaga dirimu dengan baik,"

"kau lemah,"

"Kau tidak berguna,"

Air mata mulai menganak sungai dipipi gembilnya, bahkan kini ia mulai menurunkan lengannya yang tadi masih bertengger manis di leherku, tapi sebelum kedua lengan itu terlepas sepenuhnya, aku kembali mengertakan pelukanku,

"Tapi, walaupun kau seperti itu, akulah yang paling bodoh jika dibandingkan dengan dirimu," lanjutku sambil menempelkan kedua kening kami,

"Apa maksudmu?,"

tanyanya sambil menatap langsung kedua bola mataku, dengan sedikit menghela nafas, aku kembali menggumamkan sebuah lagu romansa untuk mengiringi kami berdansa, tatapan menuntutnya membuatku terdiam dan mulai mencium bibir merah alaminya. Rasanya begitu aneh, bibirnya begitu lembut dan juga sedikit asin, mungkin efek setelah dia menangis, tapi semakin ku perdalam, rasanya semakin aneh, ya sangat aneh hingga membuatku menemukan nikotinku sendiri.

Aku memanglah manusia terbodoh di dunia ini, karena aku mau berkencan dengan manusia kedua terbodoh didunia, bahkan walaupun dengan pakaian seadanya, si manusia bodoh ini berani mengajak berdansa pada wanitanya di bibir pantai, tanpa alunan musik asli, hanya gumaman sangau dari bibir salah satunya. tapi, bukankah memang harus seperti itu? Si pintar dengan si pintar dan si bodoh dengan si bodoh lainnya, aku memang bodoh, tapi aku satu-satunya lelaki yang akan selalu mengajaknya berdansa pada kondisi apapun.

.

.

.

I drive her home when she can't stand,
I like to think I'm a better man
For not lettin' her do what she's been, known to do.

.

.

.

Kembali kujalani hari dengan sendu, aku tidak memiliki dua kepribadian, tapi merekalah yang membuatku menjadi seperti ini. Dengan terus menundukkan kepala, aku berjalan dengan perlahan menuju sekolahku, tidak bahkan ini seperti bukan sekolah. Ini bagaikan neraka dunia bagiku, aku tidak bisa melawan, karena aku terlalu lemah dan bodoh. Ya, aku mengakui apa yang dikatakan Kris, aku bukan terlalu baik, tapi bodoh.

Aku tidak akan pernah membencinya setelah ia berkata seperti itu, bahkan kini aku merenunginya. Tanpa kusadari kini ada seorang gadis bersurai coeklat mendorongku dari tangga terakhir untuk menuju kelasku, dengan secara tiba-tiba, aku merasa kini aku sudah duduk dilantai, aku merasa berputar, bahkan kupingkupun berdengung, aku seperti kehilangan kesadaranku, hingga suara bel berbunyi membuatku tersadar.

Dengan perlahan aku mencoba untuk berdiri, tapi pandanganku kabur bahkan kaki kananku seperti kebas dan sulit untuk digunakan berjalan, tapi dengan keteguhan aku mulai melangkah, tapi kini rasa lain muncul, aku merasa sangat mual dan juga kepalaku pening, telingaku masih berdengung, hingga akhirnya satu hal yang kuingat adalah gelak tawa Jung Soo Wan didepanku.

Aku kembali mendapati kedua manik birunya tertutup, bahkan kini aku tidak hanya saja mendapatkan maniknya yang tertutup tapi, bengkak yang cukup besar di sisi pergelanagan kaki kanannya, luka lecet di sekitar kakinya, dan juga memar-memar biru dilengannya. Aku tidak tahu siapa yang membuatnya seperti ini, karena saat aku akan menjemputnya makan malam, Sehun dengan wajah kesalnya berkata bahwa ZItao kini sedang berbaring di kasur karena jatuh didorong salah satu temannya.

Aku mengelus surai hitamnya, hingga kedua manik yang kutungu-tunggu terbuka juga, dengan perlahan ia tersenyum saat melihatku berada di hadapannya, selama beberapa menit kami hanya saling memandang dan tersenyum. Ia mencoba untuk merubah posisi tidurnya menjadi duduk, tapi sebelum ia berhasil duduk, dahinya mengernyit sambil mengerang kesakitan,

"Kakimu terkilir, jadi jangan banyak bergerak. Atau tulangmu akan kembali bergeser."

Sederet kalimat itu membuatnya menghela nafas yang dalam,

"Jika kau banyak menghela nafas, kebahagianmupun akan berkurang,"

"Pembohong,"

"Untuk apa aku berbohong pada seorang gadis yang sedang sakit,"

"kau terlalu banyak bermain Media Sosial,"

"Aku tahu. Kau seharusnya juga sepertiku,"

"tidak ada untungnya,"

"tentu ada, setiap hal yang kita lakukan pasti membuahkan hasil."

Kini aku bisa kembali merasakan tawanya, bahkan kedua matanya melengkung indah. Kami menghabiskan waktu kami itu dengan berbincang segala hal, hingga sebuah pangglan alam membuat kami mengehentikan perbincangan kami, dengan penuh keyakinan ZItao mencoba untuk menurunkan kedua kakinya, tapi setelah akan mencoba berdiri, tubuhnya jatuh kembali ke kasur, maka dengan perlahan aku menggendong ala pengantin kembali dirinya menuju tempat yang ia tuju.

Ia terlihat bersemu, mungkin malu, maka dengan perlahan kududukan tubuh itu diatas kloset, dengan menunggu didepan pintu aku terus membayangkan senyum dan tawa indahnya. Dan juga, menggendongnya seperti tadi membuatku merasa seperti lelaki terbaik sepanjang masa. Setelah beres dengan kegiatannya, kini kami sedang duduk berhadapan dimeja belajar Zitao, akupun mengambil sebuah spidol dari alat tulis yang ZItao sediakan dimejanya, ia terlihat bingung hingga ia memekik saat aku mulai melingkari memar-memar biru di lengannya, kini memar-memar itu terlihat dengan jelas, karna aku mempertegasnya dengan spidol. Ia terlihat meringis lalu tertawa, ia terus tertawa hingga akupun ikut tertawa, dengan diselingi tawanya ia berkata hal yang tidak akan pernah terbayang olehku,

"Aku seperti anjing Dalmatian."

.

.

.

She wears heels and she always falls,
So I let her think she's a know-it-all.

.

.

.

Penderitaannya akan berakhir malam ini, tidak bermaksud untuk membual, kini dengan balutan little black dress, Zitao terlihat anggun dan cantik. Dari kepala hingga lutut Ia terlihat begitu menakjubkan, tetapi tidak dengan kakinya. Satu hal yang akan selalu aku ingat tentang gadis didepanku ini.

High Heels.

Gadis ini tidak akan pernah bisa memakai sepatu tinggi itu, bahkan walaupun ia memaksanya ia terus menerus jatuh, bahkan ia berhasil membuat luka gores di lengan kirinya. Tapi dengan penuh kepercayaan diri yang entah dari mana ia dapatkan malam ini, ia tetap bersikukuh untuk mengenakan heels. Saat tiba diacara perpisahannya itu, ia seketika menjadi pusat perhatian, dengan perlahan ia menarik lenganku dan mengajakku untuk berjalan lebih masuk ke pesta itu. Beberapa temannya terlihat terkejut saat melihat wajah berseri dari Zitaoku, dan bahkan ada yang memuji manik birunya.

Tanpa memperdulikan sekitar, kami menikmati pesta ini dengan suka cita, bahkan Zitao terus tersenyum dan tertawa. Kami makan, minum, dan juga berdansa. Tidak peduli bahwa keesokan harinya, ia akan menjadi bahan pembicaraan. Kembali dengan inti permasalahan, kini kaki jenjangnya itu sudah terbebas dari sepatu berhak tinggi bernama High Heels, sesat setelah ia hampir jatuh didepan kolam renang, ia mencabut sepatu dan membuangnya kesembarang arah.

Kami terus berdansa bersama, hingga seorang Disc Jokey memutar lagu pesta sesungguhnya.

Kini biarlah ia melakukan apapun yang ingin ia lakukan didepan teman-temannya yang bahkan tidak pantas disebut teman, biarkan Zitao merasakan bagaimana bebasnya menjadi diri sendiri tanpa perlu memikirkan akan ada yang mencibirnya.

Hingga tarian kami berhenti, saat ia kembali membuat kaki kanannya terkilir.

.

.

.

But whatever she does wrong, it seems so right.
My eyes don't believe her,
But my heart, swears by her.

.

.

.

Menikah.

Kata yang terus terucap dari bibir kedua orang tuaku, mereka bilang bahwa aku harus segera menikah, jika tidak aku akan menjadi bujangan tua selamanya. Hell, bukankah mereka tahu bahwa aku memiliki kekasih manis bernama Zitao?

Sebenarnya mereka tidak tahu, hanya saja aku sering mengatakan pada mereka bahwa aku memang benar memiliki kekasih, tapi mereka tidak pernah mempercayainya karena, mereka butuh bukti, yaitu dengan cara membawa ZItao didepan mereka, saat itu juga.

Hubunganku dengan Zitao memang selalu baik, bahkan kemarin kami baru kembali mengadakan kencan di pantai, terdengar seperti tidak memiliki modal, tapi yang sudah kukatakan selagi masih ada kata kita di hubungan ini, kami akan sangat bersyukur. Dan kata 'kami' itu masih terus ada hingga saat ini, saat dimana aku terus dihantui pertanyaan,

"kapan menikah?."

Secara perlahan aku mulai menjelaskan maksud dari keinginan kedua orang tuaku pada Zitao, dan juga Sehun. Aku tidak tahu Sehun ambil bagian apa dalam percakapanku dengan Zitao ini,

"Sehun, kenapa kau disini?," tanyaku lalu memandang sinis si lelaki bersurai hitam ini,

"tentu aku menjadi wali ZItao," jawabnya lalu menarik bahu ZItao hingga kini bahunya dan bahu Ztao menempel,

"yaya terserahmu, tapi aku kali ini serius," lanjutku sambil memasang wajah serius andalanku, seketika kami semua diam, larut dalam pikiran kami masing-masing, hingga rentetan kata yang terucap dari bibir Zitao menjadi jalan masalah kami.

Dengan badan tegap dan langkah yang pasti, kini disebelahku ada seorang agdis cantik berdandan sopan nan manis sambil menggandeng lenganku, sedangkan aku hanya memakai pakaian kebangsaanku dan ya sedikit pomade dikepalaku. Jika kalian pikir kami akan menikah, tentu saja bukan, kini kami sedang dalam perjalanan bertemu kedua orang tuaku, aku bisa merasakan betapa gugupnya Zitao dengan tangannya yang berkeringat. Skin ship yang kami lakukan hanya semata-mata agar kami bisa menguatkan diri masing- masing, tidak bermaksud lebih, karena Zitao masihlah terlalu muda untuk urusan seperti itu.

Ketukkan pintupun berbunyi, kini terlihat kedua orang tuaku yang juga sudah berpakaian rapih dan sopan, dengan menggunakan tatakrama negara kami, kini kami berempat sudah berada di ruang tamu. Kedua orang tuaku mulai bertanya hal-hal yang sangatlah tidak terlalu penting; siapa namamu, berapa usiamu, kau bersal dari mana dan keluarga siapa, dimana kau sekolah sekarang, kau tinggal dengan siapa disini, dan berbelas-belas pertanyaan lainnya. Tak terasa, kami berbincang hingga waktu akan siang, dengan semangat Ibu meminta Zitao untuk membantunya memasak, dengan gugup Zitao menerima permintaan itu. Aku yang tidak menahu tentang bakat memasak Zitao hanya bisa berdoa, semoga Zitao tidak terlalu bodoh dengan urusan dapur.

Entah sudah beberapa kali aku mendnegar tawa Ibu dari dapur, saat aku ingin , melihat kondisi didalam sana, Ayah dengan sigap menahanku, hingga kini aku dibuat mati penasaran. Setelah beberapa jam bertarung di dapur kini makan siang kami sudah bertata rapih di meja makan, tapi tidak dengan pakaian yang dikenakan Zitao. Tepung, telur, atau apapaun entahlah aku apa menyebutnya banyak hinggap diseluruh badan Zitao, wajahnya pun terlihat nelangsa, manik birunya berkaca- kaca. Tetapi kedua orangtuaku malah tertawa terbahak.

Makan siang kami berjalan dengan lancar, ditambah dengan Ibu yang bersemangat menceritakan apa saja yang telah terjadi di Dapur tadi, bahkan Zitao yang tadi menangispun tertawa, tepatnya menertawai kebodohan yang dilakukannya. Hari itu berjalan dengan baik, hingga di malam hari, aku melihat ZItao yang memakai baju tidur dengan kostum Dinosaurus, ia terlihat seperti anak kecil dimataku. Sampai pemikiran, menyesal berkencan dengannya muncul dikepalaku, tapi setelah merasakan debaran di dadaku yang begitu cepat, aku membuang pemikiran itu, dengan debaran didada ini, aku meyakini bahwa aku memang telah jatuh pada diri seorang Huang ZItao.

.

.

.

I swear, I've been there.
I swear, I've done that.
I'll do whatever it takes, just to see those

.

.

.

Beruntung.

Kembali kudapatkan makna dari kata itu, kini dengan toksedo hitam dan rambut yang ditata rapih, aku bisa merasakan tegangnya menjadi seorang mempelai pengantin pria. Aku merasa baru kemarin aku berkenalan dan menjali kasih dengan ZItao, tapi entah mengapa mereka bilang bahwa kami sudah terlalu lama berkencan. Lagipula, apakah 5 tahun itu waktu yang lama untuk berkencan? Bagiku, tidak, bahkan itu terlalu cepat, sepeti kataku tadi seperti baru kemarin. Tapi kini, aku, tidak masih ada kata kita dihubunganku dengan ZItao, kami berada disalah satu tempat suci dimana kami bisa mengucapkan janji suci kami.

Bagaikan disebuah layar lebar, Aku yang sudah berada didepan, menunggu seseorang yang menjadi pilihanku untuk mengisi kekosongan itu, bagaikan terdapa tombol slow motion, ZItao berjalan dengan anggun kehadapanku dengan Ayahnya yang berada disebelahnya dan menggenggam erat lengannya. Seperti acara ppengucapan janji suci lainnya, kami melakukannya sesuai dengan ketentuan, bahkan penyatuan bibirpun sudah terjadi. Kini kami sedang berada di acara resepsi pernikahan, kami menggelarnya di pantai, sudah kubilang pantai adalah tempat terbaik untuk berkencan dan juga untuk menikah. Melakukan hubungan suami-istri di pantaipun terdengar sexy, bukan?

Diiringi dengan musik yang nyata dan debaran ombak yang menghadang karang, kini Aku dan Zitao kembali berdansa dibibir pantai dengan pakian yang lebih layak dan indah, kami mengulang apa yang pernah kami lakukan disini walaupun dengan status hubungan kami yang baru. Aku selalu terhipnotis dengan warna mata Zitao, warna mata yang selalu membuatku terpana dan mabuk kepayang.

Aku bersumpah, aku tidak akan pernah menyakiti wanita dihapanku, aku bersumpah akan selalu menjaga wanita dihadapanku, aku bersumpah akan selalu menjadi tiangnya. Aku kembali bersumpah bahwa aku akan melakukan apapun untuk selalu bisa melihat dan menjaga manik birunya,

Zitao, My Baby Blue Eyes.

I Love You.

Forever.

END

.

.

.


Akun in awalnya 'BabboYeoja' tapi karena Saya udah gak bego lagi dan yeah I just woke up from daydreaming, saya ganti penname dengan pake nama asli, so jan pada bingung yoo~


(balesan review,yo~!)

LVenge : Yep, Tao juga pake lens biru waktu di 'London's fashion week', makasih udah di 'welcome'in, aku merasa terharu u,u. Ini udah dilanjut sekalian end hehe

anhexolsasa : Udah dilanjut nih, ya semoga aja mereka ngode- ngode jadi /lah

Yasota : Ommo dibilang bagus ceritanya *-*, makasiiih, semoga bisa dan ada banyak waktu buat buanyakin ff Kristao, amin

wuziperr: ternyata kita samaaa, lagian Terkahir kodean mereka yang helicopter masa TT, makasih udah di semangatin~

celindazifan: Kris bisa romantis ko, soalnya Authornya terlalu lelah dengan ff yang kris dingin kek es batu terus Taonya tersakiti (walaupun muka dia nelangsa hehe) /?, makasih udah ditungguin ceritanya..

Rhy TaemZi : Mereka emang sweet *-* ; YEAAH *KIBAR-KIBAR BENDERA KTHS* ; xiexie udah di semangatin

Rina271 : yep boneka serigala itu, yang semoga aja sampe sekarang masih di keep sama Kristao TT ; kenapa two shoot? Karena ini Songfict u,u, jadi aku ngikutin lirik lagunya, maaf yaa; ini udah di next sekalian end, makasih udah nyemangatin

Skylar Otsu : Semoga bisa dan ada banyaak waktu, amiiiiin

buian princess syahrini : sebenernya pangeran sekolah itu ga dibuatin cast-nya, jadi bebas mau siapa aja, tapi kalau selintas aku ngebayanginnya Bobby iKON hehe; tao muka nelangsa sih walaupun sekarang sok-sokan mau jadi bad-boy /? aku buat dia kaya krakternya Kim SoHyun di school2015, di bully hayu dan diem (kalau buat school lifenya)

ZITAO00: makasih udah mau dibaca, ommo ffnya dipuji banget sama kamu *terharu* ; btw aku aja yang nulis ff-nya geli sendiri bacanya /lah. Semoga di chap ini suka juga yaa


Shock moment saat lagi baca review; 'senpai' ngereview *-* kyaaa gak nyangka bisa direview sama 'Skylar Otsu' sama 'Yasota'. Dan ternyata 'Yasota' juga ngereview ff-ku yang lain TT.

Terakhir,

Terima kasih buat semuanya, yang udah Review; Follow; Favorit; semoga kalian semua suka sama Chapt terakhir ini, semoga gangebosenin dan kecepetan yaaa TT

Okeh, Bye~

#zwolftazha