Uchihamelia Presents a Story
Kimochi
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
I didn't receive any profits in writing this fanfiction
.
CHAPTER 3
.
Seorang lelaki berambut merah dengan tatto 'Ai' dikeningnya, tersenyum menatap tumpukan berkas dokumen diatas meja kerjanya. Tangannya lalu meraih secangkir kopi yang masih mengepul asap, kemudian menyeruputnya dengan perlahan. Hatinya sedang damai, ia senang dengan kabar yang baru di dapatkannya tiga hari yang lalu. Tak lama kemudian, ia mengangkat gagang telepon yang berada diatas meja kerjanya. "Masuk ke ruanganku sekarang," titahnya dengan intonasi datar.
Bibirnya mengukir senyuman tipis. Ibaratnya, sambil menyelam minum air. Ia bisa meraih keuntungan pribadi dalam kesempatan ini. Bisa. Ia pasti bisa mendapatkannya karena ialah sang penguasa disini. Lagipula, ia tidak akan merugikan dan menyakiti siapapun. Ini hanyalah sebuah kebetulan dari sedikit keberuntungannya dalam proyek ini. Ia hanya sedang beruntung.
Bunyi ketukan yang bersumber dari luar pintu ruangannya membuat ia seketika menegakkan badannya, melunturkan senyum tipisnya, dan memasang mimik serius di wajahnya. "Masuk," sahutnya masih dengan duduk di kursi kebesarannya.
Gadis berhelai merah muda dengan bola emerald di kedua matanya berjalan perlahan memasuki ruangan. Rambutnya dibiarkan tergerai, terurai dengan rapi di balik punggung tegaknya. Pakaiannya simpel, namun trendi. Gaya berjalannya pun elegan sekali. "Apa ada hal yang urgent, Shacho-san?" tanyanya dengan nada sopan. Ia masih berdiri. Ia bertanya seperti itu, karena ia tahu percis presiden direkturnya hanya memanggil karyawannya untuk masuk ke ruangannya, jika ada hal darurat saja yang terjadi. Presiden direkturnya itu sangat dingin dan tertutup sekali.
Presiden direkturnya masih sangat muda. Mayoritas karyawan wanita disini mengaguminya. Karena menurut mereka, sang presdir itu sangat cerdas dan tampan. Tapi menurutnya biasa saja. Gadis ini tidak mengaguminya, seperti kebanyakan karyawati lainnya. Ia hanya menghormatinya, karena lelaki muda ini adalah atasannya— presiden direkturnya.
"Duduklah."
Gadis itu baru mendudukkan dirinya di kursi yang berada didepan meja kerja atasannya, setelah ia di persilahkan. Duduknya pun tegap, seperti puteri-puteri bangsawan kerajaan. Karena memang sudah begitu kebiasaannya. Wajahnya datar, tanpa ekspresi. "Ada apa Shacho-san?" tanya gadis itu lagi.
"Tak usah memanggilku terlalu formal begitu, Haruno-san. Kau boleh memanggilku Gaara," kata sang presdir yang memiliki nama asli Sabaku Gaara tersebut.
Tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya pelan, "Baiklah. Kau juga bisa memanggilku Sakura saja, Gaara-sama," jawab sang gadis masih dengan senyum tipis yang terpatri di bibir indahnya. Gaara pun menganggukkan kepalanya.
Lantas tangan kekar Gaara membuka berkas dokumen yang ada diatas meja kerjanya tersebut. Kemudian bola mata jadenya menatap manik emerald milik gadis yang sedang menjadi lawan bicaranya ini. "SaGa company memenangkan tender proyek besar. Kita akan menjadi supplier untuk pengadaan ratusan mesin-mesin elektronik bertekhnologi robotic. Customer yang akan menjadi mitra kerja kita kali ini, berasal dari Inggris. Perusahaan mereka berlokasi di kota London, lebih tepatnya."
Sakura tidak menyela. Ia hanya mendengarkan apa yang diucapkan Gaara dengan seksama. Mata, telinga, fokus, dan otaknya hanya berkonvergensi pada Gaara— sang presiden direktur. "Aku akan pergi kesana untuk meninjau perusahaan, sekaligus lokasi proyeknya. Kau tidak keberatan untuk melakukan perjalanan bisnis bersamaku ke London?"
Sejujurnya, Sakura sedikit kaget. Pupil matanya membesar sedikit, tapi segera ia sembunyikan. Melakukan perjalanan ke luar negeri? Bukankah untuk membuat keputusan semacam itu harus ia pertimbangkan dengan matang terlebih dahulu? Ia masih mempunyai seorang Ibu yang tinggal bersamanya disini. Tentu ia harus meminta izin pada Ibunya, kan? Tapi sebagai seorang karyawan profesional, dan perempuan dewasa yang sudah menginjak usia 22 tahun. Tentu Sakura juga berhak membuat keputusannya sendiri. "Kurasa... aku siap untuk perjalanan ini."
Bibir Gaara merekah samar. Benar kan, ini adalah moment aji mumpungnya. Ia menyukai Sakura. Tentu ia sangat senang, akhirnya ia bisa mendapatkan moment berduaan bersama Sakura dalam perjalanan bisnis ini nanti. "Bagus. Aku percaya dengan kemampuan analisa dan ketelitian yang kau miliki. Persiapkan dirimu, perjalanannya dua hari lagi."
.
To be continued—
.
A/N : Ada yang tanya, kenapa fict ini pendek-pendek setiap chapternya? Dikarenakan ini FICLET. Jadi setiap chapter hanya berkisar antara 500-600 kata. Terimakasih :)
REVIEW?
Uchihamelia
