Halooooooo. Di chapter sebelumnya terdapat banyak kesalahan ya? Dan juga title ceritanya salah. Jadi saya meminta maaf sedalam-dalamnya *deep bow*. Saya masih baru dalam hal ini, dan juga saya belum pernah mengpost cerita saya dan dibaca banyak orang. Terimakasih untuk teman-teman yang mereview, follow, untuk fav, dan juga untuk silent reader. Saya sangat berterimakasih jika kalian menikmati cerita ini. Roca bales review ya—
Misamine: Iya hehehe. Cerita dikomiknya enak-enak 'kan? ((KENAPA PROMOSI)) makasih misa-chwan ((oke dia mulai sok akrab)) R-Roca siapin mental dulu *taboked* ini udah chapter duanya, semoga gak mengecewakan'-')7
Kumada Chiyu: Ya, Chise segan kasian sama Roca, harusnya kan Roca yang tunangan sama Akashi *dihujad* entar Chise belajar jadi istri yang baik sama Roca tenang aja Chiyu-chwan 3.3 ini sudah terlanjutkan'-')7
: Halo Sheilla, salam kenal! Nama kamu kaya temen pertama aku di SMP deh 3 ((kok curhat)) ini udah kulanjutkan. Semoga tidak mengecewakan ya!'-')7
Aoi Yukari: Eh kenapa guling-guling padahalkan Roca udah susah-susah rapihin kamar kamu!:-((((((( ((KAMU SIAPA)) wah gak bisa asap gomeeeeeeeeeeen gak sempat ngepost kemaren ;;A;; gapapa kan ya gak usah asap soalnya takut mencemari lingkungan ((apa))
Silvia-KI chan: wah silvia-chwaaaan ((gak)) maaf ooc soalnya Roca suka yang OOC-OOC ((APA)) kemaren khilap maap ya ;;A;;
Kanae Miyuchi: eh jangan nuntut-nuntut dong Miyu-chwan aku bukan farhat abbas ((APA)) aduh sequelnya ditungga aja yappppppeu! Aduh aku gak bisa update cepat aaaa gomeeeeen ;;A;; ini chapter 2nya bby'-')7 ((apaanih))
kuroizayoi: wah wah gomen entar Roca coba bikin Akashi x Reader khusus buat kuroizayoi-chwan deh'-')7
GUEST: 'LAKI' GIMANA SIH Guest-CHWAN?! wqwqwqwq. SUDAH DILANJUT BBY'-')7 ((apasih))
RianNoAo: sudah dilanjuttttttt! 3 a-ah yanderenya Akashi ya…. Kayaknya diakhir-akhir chapter baru ada._. gomeeeeeen entar kalo bikin project selanjutnya aku bakal bikin Akashi 99% yandere deh, jadi entar BDSM ((GAK GITU))
MayuraAkashi: sudah ya, Mayura-chwan!'-')7 aku juga suka. Kita sama cieeeee ((APA COBA))
Ps: Akashi itu ceritanya kelas 2, Chisenya kelas 1. Nah mereka sekolahnya di SMA Teiko, mohon maaf kepada Uncrowned Kings dan Mayuzumi Chihiro yang tidak ada dicerita ini /bow/ soalnya kalau castnya anak-anak GoM itu kesannya lebih lucu gitu /halah, dan juga uncrowned kings dan Mayuzumi-senpai masih terlalu misterius dan menyilaukan untuk Roca /disambit/. Ohiya dichapter sebelumnya Roca ada nyebut Kise sekolahnya di Kaijou ya? Maaf Roca harus ralat, KISE SEKOLAH DI TEIKO BARENG AKASHICCHI TERCINTA (?). rada AU ceritanya /gakgitu
We Got Married
Casts:
Akashi Seijuurou ©Fujimaki Tadatoshi-sensei
Moemiya Chise / Akashi Chise ©Rocalatte Effe
Rating:
T+ (karna otak Roca yang nista, bisa saja sedikit menjorok ke M- /apa)
[ DISCLAIMER : maybe Akashi Seijuro little bit Out of his Character. Because of that, I, Rocalatte apologizing to Minna-sama. Little bit inspired by Manga, High School Bride by Ichikawa Schow-sensei. Akashi Seijuro-sama isn't mine, it's Fujoshi-sensei's, but all OC(s) and this story is mine. ]
WARNING: Bad Humor (GARING ABIS), bash sana, bash sini (yang gatau arti bash silahkan Google Translate yes), bahasa yang tidak baku (tidak sesuai EYD *ditonjok guru bahasa indo*), komentar author ditengah-tengah cerita yang mengganggu, too much drama and…. Ugh, fangirl's fantasies.
Rocalatte Effe Present.
©2014 Project
(YANG MAU LIAT GAMBARAN CHISE ITU KIRA-KIRA BEGINILAH. TANPA MATA TAPI HEHEHEHEEH /ukeshiseijuro/answer/117412373451/photo/original )
Diluar sana matahari mulai menampakkan dirinya, menorehkan cahaya indahnya dilangit cerah pagi hari. Aku sudah berdiri didapur. Menutup bekal yang sudah selesai kubuat. Aku menghela napas, lalu mengigit jariku. Entah kenapa aku merasa tidak yakin memberikan bekal itu padanya. Dan sialnya sekarang aku malah mengingat apa yang ia perbuat padaku…. (ada yang tau apa yang Akashi lakukan? Tanyakan pada rumput yang joget oplosan.)
Saat aku kembali berjalan kekamarku untuk mandi, tiba-tiba saja dia keluar dari kamarnya. Aku terdiam sambil menatapnya. Diapun seperti itu. Tampaknya dia masih setengah tidur, "Apa… aku membangunkanmu?" Tanyaku.
Dia menggeleng, dan ugh— dia sangat imut. Apalagi dengan rambut acak-acakannya alias bed hair. Tiba-tiba aku ingin tertawa. Yang berdiri didepanku saat ini sangat tidak mirip dengan Akashi Seijuro yang kukenal. Coba saja aku membawa ponselku sekarang, aku pasti akan memotretnya. Tapi tiba-tiba saja wajahnya berubah, pupilnya kembali dingin seperti sedia kala. "Kenapa kau disini?"
Aku menelan salivaku gugup. Rasanya agak malu jika menyebutkan bahwa aku ada diluar karena membuatkan bekal untuknya. tapi sebelum aku menjawab dia sudah tersenyum. Bulu kudukku rada merinding melihatnya, biasalah dia titisan set— (silahkan lanjutkan sendiri /apa)
"Oh. Kau menepati janjimu, ya? Gadis baik," Ucapnya. Pipiku memanas. Aku menatapnya tidak suka, "H-huh. Mau bagaimana lagi. T-tapi aku tidak membuatnya karna aku mau ya!" Ah sial! kenapa aku malah gugup begini?! "K-kalau begitu aku mau mandi dahulu," Ucapku sembari mengambil ancang-ancang (buat apa nak?). tapi baru selangkah aku berjalan, aku mendengar suaranya,
"Ayo mandi bersama," Katanya tiba-tiba. Aku menatapnya dengan pipi yang memerah, "Mati saja sana!"
"Jadi x itu bla bla bla bla bla,"
Aku tidak menaruh sedikitpun perhatian pada guru didepan. Jemariku mengganggam bolpoin dan mengetuk-ngetuknya pelan diatas mejaku. Buku catatan yang terbaring dimejaku belum bernoda sedikitpun. Diluar sana terdapat beberapa murid yang tengah berolahraga, alias jam PE. Mataku tertuju kepada seorang pria bersurai merah yang berada diantara manusia-manusia tersebut. Tiba-tiba aku tersadar. Aku menggeleng dan kembali fokus kepada guru didepan.
"Nah, jika ini dikali ini akan jadi bla bla bla bla bla," Mataku kembali sayu. Aku tidak mengerti apapun yang diucapkan guru itu. Dipapan tulis terdapat coret-coretan angka tak jelas. aku menghela napas, lalu melirik kepadanya lagi. Dan sialnya dia tengah melihat kearah kelasku. Seketika pipiku merona, aku menutup wajahku dengan buku matematika tebal yang ada dimejaku, "Baka,"
Dan tak terasa pelajaran jahanam itu telah berakhir. (Aku mohon maaf kepada seluruh guru matematika yang tidak berdosa. Kalian luar biasa! /halahmuna *dihajar masa*)
"Chise ikut ketempat biasa?" (Roca: wah ngeri nih Chise punya tempat nongkrong | Chise: Kan Roca yang bikin…. | Roca: …..ah ciyus? Enelan? | Chise: yang kaya gitu udah gak jaman lagi | Roca: …..sumimasen) Tanya Nanami, temanku. Aku menatap gadis bersurai burgundy itu, lalu menggeleng, "Tidak. Aku mau ketempat lain," Tolakku. Dia hanya menaikkan sebelah alisnya, seolah-olah menanyakan kemana aku akan pergi, "Rahasia~" Ucapku dengan nada usil. Dia menghela napas lalu terkekeh kecil. Setelah itu dia pergi bersama yang lainnya untuk tawuran, maksudnya untuk makan siang. Aku menghela napasku dan mengambil bekalku. 'tempat lain' yang aku maksud adalah atap. Kenapa aku bisa kesana? Karna aku punya kuncinya. Aku diberi kunci atap itu oleh guru bahasa Inggrisku, entah kenapa dia memberinya padaku (ini inspired by Isshuukan Friends. Ada yang nonton animenya? Mengharukan banget 'kan?! Roca suka banget loh! /kok jadi promosi/). Aku memutar knop pintu yang menghubungkan lantai 3 dengan atap, dan anehnya itu tidak terkunci. Awalnya aku bingung, namun aku hanya mengidikkan bahu. Siapa tahu cleaning service lupa menutup pintunya (yakali.)
Aku disambut oleh semilir angin yang menerbangkan rambutku dan menyibakkan rokku seidkit (Chise: Roca-san, apa maksudmu…? | Roca: biar kerasa kalau fict ini ongoing to rate M-nya *diinjek Chise*). Mataku melebar tatkala belihat 6 pria warna-warni yang duduk disana, menatapku dengan mata yang melebar karna terkejut. Akupun begitu, "K-kalian…."
"Ah, doumo, Moemi— Akashi-san." Bulu kudukku meremang saat mendengar suara, namun tidak melihat siapapun yang berbicara. Kemudian aku terlompat kaget saat menemukan seorang pria bersurai baby blue yang duduk sambil mengesap vanilla milkshakenya dengan khidmat, "K-kau.. A-ah…"
"Kau kenal dia, Tetsu? Dan, apa maksudmu Akashi-san?" Seorang pria berkulit hitam dekil. Maksudnya seorang pria berkulit tan itu berbicara.
"Akashi-san? Maksudmu dia tunangannya Akashi yang itu, ya? Diakan satu sekolah dengan kita waktu SMP, nanodayo." Kali ini si tsundere yang merupakan oha-asa addict membuka mulut.
"Gadis secantik ini adalah tunangannya Akashicchi ssu?! Dan juga dia satu smp sama kita?!" ayo tebak siapa yang ngomong karna Roca malas buat ngedeskripsikan orang yang satu ini *dijambak fans k*se* /kenapadisensor/
"Eeh~? Dia tunangannya Aka-chin? Kenapa cantik sekali~ aku tidak pernah melihat gadis cantik di smp dulu~" Aku mundur satu langkah saat melihat seorang pria bersurai violet tengah memakan mom*gi. Aku menelan salivaku, dia besar!
"Kalau dia tidak cantik dia tidak akan menjadi tunanganku," Aku membelalakkan mataku saat menyadari bahwa orang itu ada diantara pria-pria absurd ini. "S-Sei?!"
"S-S-S-S-SEI?!"
Setelah mendengar panggilan sayang itu /ditabok/ masing-masing pria gak jelas itu membatin sambil menatap nanar Chise;
Apa-apaan nama panggilannya. Sei? Itu terlalu imut untuknya. Mungkin aku akan menyuruh gadis ini untuk memanggilku Dai nanti. Eh tapi aku masih sayang nyawa, ugh. (baca: terlalu muda untuk mati dicium gunting keramat) –Aomine
D-dia bilang Sei? Ugh sepertinya Akashi sangat menyayanginya. Jika orang lain memanggilnya dengan nama kekanak-kanakkan seperti itu dia pasti sudah menjadi sasaran gunting terbang nanodayo. T-tapi ini tidak seperti aku ingin dia memanggilku Shin ya. –Midorima
Eh~ Akachin nama panggilannya imut sekali. Mungkin aku akan meminta Chisechin untuk memanggilku Atchan nanti~ –Murasakibara
Vanilla milkshake ini enak. –Kuroko (kamu keren nak:'))
"SEI?! Imut sekali! Ne ne, Chisecchi. Coba panggil aku Ryou ssu," Kata pria bersurai kuning bak *** semangat. Aku menatapnya gugup. Dia pasti Kise Ryouta. Aku sering melihatnya dimajalah dan dia sangat popular sejak masih di bangku smp dan sampai sekarangpun dia masih menjadi pusat perhatian. Dan dia— ugh, sangat tampan. "E-eh?! R-R-R-Ry….ou," Gumamku,
Crash—
Mataku melebar saat melihat sesuatu melesat didekat Kise. Saat aku menoleh untuk melihat apa yang barusan terbang itu, aku menemukan sebuah gunting menancap didinding. Aku menelan salivaku, pasti dia yang melakukannya.
"Ryouta, latihanmu ditambah 5 kali lipat," Katanya dingin. Kise mendadak sweatdrop. Dia lupa kalau Akashi ada disini. Namun aku menatap Akashi protes, "Itu terlalu kejam!" Protesku, namun dia tidak mengubris. Hanya tersenyum mengerikan. Akupun ikut-ikutan sweatdrop. Mungkin moodnya sedang tidak baik sekarang.
Entah kenapa aku malah jadi makan bersama mereka. Ya, kebetulan mereka lagi ngerujak disini jadi aku ikutan saja. Walau aku dan Akashi memakan bekal, sedangkan mereka menikmati rujak buatan mereka dengan khidmat.
"Apa Akashi-san yang membuat bekal ini? Punyamu dan punya Akashi-kun sama," Ucap ehemukenyaehem Akashi itu tiba-tiba. Aku terkejut untuk kedua kalinya, namun tidak terlalu berlebihan seperti pertama kali melihatnya tadi. "I-iya," ucapku. Dia masih menatap bekalku, melihatnya akupun ikut-ikutan menatap bekalku, "Ada apa?"
"Ah, mungkin Kurokocchi ingin telur gulungnya," Kata Kise. Aku menatap telur gulung dibekalku lalu menatapnya, "Benarkah?" Semburat merah menghiasi pipinya tipis. Aku tersenyum. Wajahnya sangat imut! (OOC NAK OOC!)
Aku mengambil satu buah telur gulung dengan sumpitku dan mengarahkannya kearah mulutnya. Dia menatap telur itu lalu memakannya. Aku tersenyum, "Enak?"
Ci-ciuman tidak langsung?! Mampus aja si kuroko. –Batin anak Kisedai lainnya kecuali Kuroko dan si cebol (tau 'kan siapa maksudnya? Ituloh yang suka bawa-bawa gunting /tergunting/)
Suara gunting yang digesekkan dengan lantai tiba-tiba terdengar. Aku terlonjak kaget saat melihat Akashi menatapku dengan senyum horror diwajahnya. Sial aku lupa kalau dia ada disini (Roca: wah wah Chise sama aja kaya Kise nih, ngelupain Akashi. Malah namanya mirip lagi | Chise: …..makanya bikin Chise x Kise aja besok-besok | Roca: …..Chise ingat sama Aka— KYAAA KENAPA SAYA YANG DIGUNTINGIN?!)
"S-Sei?" Panggilku padanya. Dia masih tersenyum horror, "Ya?" Sweatdropped. Sekarang dia benar-benar tampak seperti seorang psycho kehausan darah. "K-kau tidak akan menambah latihan Kuroko-kun….. kan?" Tanyaku pelan. "Ah, tidak hanya dia kok. Aku juga akan menambah latihanmu nanti," Katanya. Aku menelan salivaku, apa maksudnya?
"Aw~ Aku tidak pandai mengupas mangganya~" Kata Murasakibara. Aku menoleh padanya dan terkejut saat melihat jarinya yang berdarah. "K-kau tidak apa-apa?!" Kataku panik. Dia menggeleng, "Padahal aku ingin makan rujak~" Lanjutnya. Aku facepalm mendadak. Jari udah kepotong gitu juga masih mikirin rujak.
Aku berjalan kearahnya dan duduk disebelahnya. "Coba kulihat ya," Aku meraih jarinya. Lukanya tidak terlalu dalam namun cukup mengeluarkan banyak darah. Aku merogoh saku rokku, mencari sesuatu disana. Aku mengeluarkan sebuah pocket tissue dan membersihkan darah dari jarinya pelan, "Sakit?"
Dia menggeleng sambil sweetdropped. Aku menyernyitkan dahiku bingung, dia kenapa?
"Chise, apa kau yakin tidak akan menghabiskan bekalmu sekarang?" Aku menolehkan kepalaku kepada Akashi yang menatapku. Aku baru sadar dan segera melepaskan tanganku dari tangan besar Murasakibara, "O-oh. Iya. Aku lupa,"
Lalu sesudah itu aku hanya diam dan memperhatikan keenam pria itu bercanda gurau (walau tak semuanya yang menampakkan ekspresi bahagia.) Tak lama setelah itu bel kembali berbunyi. Akupun pamit untuk kembali kekelas dan mengikuti pelajaran berikutnya.
.
.
.
"Chise, kau ikut karaoke?"
Aku mengalihkan tatapanku dari barang-barang yang akan kumasukkan dalam tasku pada teman-temanku yang tengah berkumpul, "Karaoke?"
"Uhm. Ulang tahun Yuri," Jelasnya. Aku menggenggam erat tempat alat tulis yang tengah kupegang. Rasanya aku ingin ikut tapi…. "—Aku tidak bisa. Mungkin lain kali,"
"E~~Eh? Akhir-akhir ini Chise sangat sibuk ya," Sindir mereka. Aku hanya tersenyum hambar, "Ya, begitulah." Jawabku. Yuri tersenyum jahil sambil menatapku, "Mau bagaimana lagi. Seorang istri yang baik harus sampai dirumah terlebih dahulu sebelum suami, ya?" Godanya. Pipiku tiba-tiba memanas, "Urusai!"
Lalu setelah tertawa bersama, mereka pamit pergi. Aku menghela napas. Dan menyandang tasku lalu pergi kebawah untuk pulang. Saat melewati tangga dilantai dua, aku mendengar suara pantulan bola dan gesekan sepatu dengan lantai licin dari arah gymnasium. Dan itu menandakan bahwa Akashi belum selesai dengan kegiatannya. Ya, memang seharusnya seperti itu.
Aku menghela napas dan kembali berjalan.
.
.
.
"S-siapa?!"
Mataku membulat sempurna saat melihat seorang gadis duduk santai disofa ruang keluarga rumahku dengan wajah sombongnya. Dia menatapku dengan tatapan merendahkan, "Oh? Onee-chan ini tunangannya Sei-nii? Ugh— sangat dibawah standar," Katanya. Timbul tanda sepermpat diwajahku, menandakan bahwa aku tengah kesal dengan sikapnya. Sabar, diriku! "M-maaf?"
"Dengar ya," Dia melipat kakinya lalu melipat tangannya didepan dadanya. Wajahnya sedikit diangkat, kentara sekali aura sombong dari sikapnya itu, "Jangan berani mendekati Sei-nii-ku. Jika kau meletakkan seujung jarimu padanya, aku takkan segan-segan memotong rambut jelekmu itu!"
Mataku semakin melebar mendengar ancamannya. Memangnya dia ini siapa?
"Maaf tapi—"
Cklek—
"Miyuki?"
TBC
Roca: Wah chapter dua selesai nih *lap keringat* /apa. Pendek ya? Makin absurd ya ceritanya? Roca buntu ide nih, sumimasen.
Akashi: Roca… kenapa ada Miyuki disini?
Chise: E-eh, M-Miyuki? Dia siapa?
Roca: Biar greget mas Akashi. Ah Chise penasaran? Nanti aja pasti tau sendiri.
Kuroko: ada satu hal yang ingin kutanyakan sedari tadi….
Roca/Chise: EH KUROKO-KUN?!
Kuroko: kalau kau ingin menanyakan sejak kapan aku ada disini, aku daritadi berdiri disini.
Roca/Chise: …..sumimasen.
Akashi: Abaikan saja orang idiot berdua itu. Jadi apa yang ingin kau tanyakan, Tetsuya?
Kuroko: kenapa kita ngerujak di atap?
Chise: Oh iya! Aku juga mau bertanya soal itu!
Akashi: Hmph, benar juga.
Roca: iya, aku juga mau bertanya soal itu! Siapasih orang bodoh yang bikin kalian ngerujak diatap? Oon banget dia.
Kuroko: Roca-san, tolong serius sedikit desu.
Roca: s-sumimasen. *sweetdropped* A-ah, biar keren gitu. Biar terasa indonesianya.
Kuroko/Chise/Akashi: ….. (gaje nih orang)
Roca: Baiklah, Midorima bacakan preview chapter selanjutnya!
Midorima: ehem, b-berikut ini adalah preview untuk chapter selanjutnya, nanodayo.
Preview Chapter 3:
"Akashi Miyuki. Adikku,"
"Kyaaa! Sei-nii menyukaiku!"
"M-maaf. A-aku akan pergi dulu,"
"Tidur dikamarku. Ini perintah,"
"S-Sei…"
"Chise…"
Roca: HOW HOW?! /ketawa nista/.
Chise: Roca-san tidak berencana menistakanku…kan?
Roca: Enggak kok! Roca cuma nistain anak-anak GoM aja disini kok *innocent smile*
GoM: …
Midorima: Itu dialog yang "S-Sei…" sama "Chise…" kok rada a-a-a-ambigu ya, nanodayo?
Murasakibara: Midochin memerah~
Roca: ….a-akhir kata, mohon review dan fav cerita absurd ini, ya! Roca akan berusaha untuk membuat chapter 3-nya lebih baik dari chapter ini.
GoM+Chise: KALAU BISA SIH GAUSAH DIREVIEW YA, APALAGI DI FAV YA!
Kise/Aomine: tunggu ssu, ini kok aku gak ngomong ssuuuuuuu?! / tunggu oi. Ini kok gua gaada ngomong?!
