Beautiful Roca's Note: ketemu lagi dengan author _ sejagad raya (bebas isi sendiri) yaitu Rocalatte Effe desu yeay ((apasih)) sebagai ganti updatean chapter 2 yang lama diupdate, Roca update kilat kali ini! Beri tepuk tangan yang meriah untuk Roca yeay! ((silahkan tabok saya)) wah wah kayaknya ada yang mengharapkan adegan 'ehem' di chapter ini ya *lirik Aoi Yukari-chwan* ((APA)) ff ini gak bakal panjang-panjang kok, sekitar 2 chapter lagi ff ini end. Ada yang senang? Ada yang sedih? Ada yang biasa-biasa aja? heheheheHIKS. Okelah untuk tidak memperpanjang mukadimah, ini chapter 3 yang ditunggu-tunggu oleh kecoak dan kawan-kawan.

We Got Married

Casts:

Akashi Seijuurou ©Fujimaki Tadatoshi-sensei

Moemiya Chise / Akashi Chise ©Rocalatte Effe

Rating:

T+ (karna otak Roca yang nista, bisa saja sedikit menjorok ke M- /apa)

[ DISCLAIMER : maybe Akashi Seijuro little bit Out of his Character. Because of that, I, Rocalatte apologizing to Minna-sama. Little bit inspired by Manga, High School Bride by Ichikawa Show-sensei. Akashi Seijuro-sama isn't mine, it's Fujoshi-sensei's, but all OC(s) and this story is mine. ]

WARNING: Bad Humor (GARING ABIS), bash sana, bash sini (yang gatau arti bash silahkan Google Translate yes), bahasa yang tidak baku (tidak sesuai EYD *ditonjok guru bahasa indo*), komentar author ditengah-tengah cerita yang mengganggu, too much drama and…. Ugh, fangirl's fantasies.

Rocalatte Effe Present.

©2014 Project

(YANG MAU LIAT GAMBARAN CHISE ITU KIRA-KIRA BEGINILAH. TANPA MATA TAPI HEHEHEHEEH ask . fm/ukeshiseijuro/answer/117412373451/photo/original )

"Mi-Miyuki?! —Siapa?" Chise menatap Akashi penuh tanya. Tapi belum sempat Akashi menjawab, Miyuki sudah berlari dan berhambur kedalam pelukan Akashi. Chise menatap mereka dengan tatapan kosong. A-apa yang terjadi disini?

"Sei-nii! Aku sangat merindukanmu~!"

"H-hah?" Chise yang masih shock melihat pemandangan didepannya hanya terhening(?) Akashi mendesis lalu memisahkan dirinya dari gadis bersurai crimson itu, "Kenapa kau disini?" Miyuki mengembungkan pipinya, kesal terhadap tingkah Akashi yang cuek dan dingin padanya. "Sei-nii, hidoi! Kau tidak merindukanku?! Rindu 'kan?! Iya 'kan?" Akashi kembali mendesis, "Kalau aku bilang iya, kau akan menjauh dariku?" Miyuki mengangguk antusias. Akashi menghela napas, "Hm,"

"KYAAA! Sei-nii merindukanku! Dia suka padaku!" Akashi hanya bisa facepalm melihatnya, "Aku tidak bilang kalau aku menyukaimu," Desisnya.

"T-tunggu dulu— d-dia siapa, Sei?" Tanya Chise, masih dilingkupi oleh kebingungan. Akashi menghela napas, "Akashi Miyuki, adikku."

"Ara, Sei-nii tteba. Aku bukan saudaramu, tapi ke-ka-sih-mu. Kau yang bilang akan menikahiku waktu kita kecil 'kan?!" Chise menyernyit, terganggu dengan sikap Miyuki yang agak berisik. "Adikmu?" Jujur Chise agak terkejut, selama ini dia tak tahu kalau seorang Akashi Seijuro mempunyai seorang adik perempuan. Terlebih lagi adiknya itu... brother complex. Akashi mengangguk, muncul perempatan kesal diwajahnya. Chise menghela napas. Demi apa dia kira gadis kekanak-kanakan itu adalah— ah sudah lupakan. Lalu gadis bersurai dark purple itu tersenyum kearah Miyuki, "Namaku Moe—"

"Akashi Chise. Dia tunanganku," Ucap Akashi tegas. Chise menghela napasnya berat. Padahal kentara sekali kalau adiknya itu terjangkit syndrom populer bernama brother complex, dan dia masih memperkenalkannya sedemikian rupa. Tapi apa daya, dia tidak bisa membantah kenyataan itu, "—ya begitulah. Salam kenal, Miichan." Miyuki mendengus, tangannya ia lipatkan didepan dadanya. Iris merah darahnya menatap Chise sombong, "Sebaiknya kau jangan besar kepala dulu, gadis penggoda. Kau dan Sei-nii hanya bertunangan. Dan tidak mustahil bagiku untuk membatalkan ikatan kalian. Dan jangan memanggilku begitu," Katanya. Chise tersentak. Ia paham jika gadis yang berdiri dihadapannya ini mempunyai attitude buruk, namun ia tidak menyangka bahwa dia akan mengatakan hal semacam itu.

Akashi terlihat amat geram, "Miyuki!"

Chise tersenyum—paksa. "A-ah. Maafkan aku. Aku sudah terlalu lancang. A-aku kekamar dulu, ya? Dan aku juga akan berbelanja beberapa bahan untuk makan malam. Dah—" Chise berjalan melewati mereka. Entah kenapa dadanya terasa sakit. Padahal dia hanya mendengar kata-kata seperti itu. Ugh— sejak kapan dia jadi linglung begini? Akashi yang melihatnya hanya menghela napas. "Naif,"

Chise meletakkan hidangannya diatas meja makan, lalu menghela napas. Ia menggelengkan kepalanya. Seolah-olah menolak pemikiran-pemikiran negatif yang mengerubunginya untuk masuk kedalam kepalanya. Dia menghirup napas dalam-dalam, selanjutnya mengeluarkannya. "Sei— Mii-Miyuki. Makan malamnya sudah selesai," Serunya. Tak beberapa lama setelah itu Akashi turun, bersama dengan Miyuki yang menggeliat manja dilengannya. Chise menahan napasnya. Sakit itu datang lagi. Tapi cepat-cepat dia menggeleng. Mana mungkin dia cemburu kepada Miyuki yang notabene adalah adik kandung Akashi. Dilihat darimanapun mereka takkan bisa bersama—ya terkecuali kalau Akashi juga pengidap Sister Complex— tapi mustahil 'kan? Kalau Akashi sister complex Roca rela deh jadi adek doi *kemasin lapak*

"Miyuki. Kau akan tidur dikamar Chise," Kata Akashi pada Miyuki. Miyuki mengerucutkan bibirnya kesal, "Tidaaaaaak! Aku tidak mau tidur dengan gadis penggoda itu!" Muncul perempatan didahi Chise. Atas dasar apa gadis itu memanggilnya 'gadis penggoda'?!

"Jadi kalau dia tidak tidur dikamar itu kau mau, 'kan?" Miyuki mengangguk antusias. Kemudian mengalihkan tatapannya pada Chise. Seolah-olah mengatakan 'kau—akan—tidur—diluar—malam—ini' sambil menjulurkan lidahnya. Muncul perempatan untuk kedua kalinya diwajah Chise. Apalagi saat melihat seringaian nakal diwajah Akashi. Apa dia benar-benar menyuruh Chise untuk tidur diluar? Dia tahu persis kekejaman Emperor itu tapi—

"Chise, kau tidur dikamarku. Ini perintah,"

Chise melongo. D-dia tidak salah dengar 'kan? Tidur dikamar Akashi?, "L-lalu kau?"

"Tentu saja tidur dikamarku," Miyuki melongo. Muncul kilatan petir sebagai background dibelakangnya. "S-Sei-nii mau tidur dengan gadis jelek ini? Ah, candaanmu pasti akan membuatnya sakit—"

"Siapa yang bercanda? Lagipula selama ini kami belum sempat mengakrabkan diri. Mungkin malam ini adalah saatnya," Ucapnya dengan seringaian dibibir tipisnya. Chise menelan salivanya. Dia ingin membantah perintah menggelikan itu. Namun disatu sisi ia tidak bisa membantah perintah tunangannya ini, "A-aku akan tidur disofa—"

"Sekarang duduk dan makan," Miyuki duduk disebelah Akashi. Wajahnya shock, rada pucat. Ia mengabaikan semangkuk nasi yang diambilkan Chise untuknya. Lalu dia berputar, menatap Akashi dengan iris merahnya, protes, "S-Sei-nii. A-aku mau kok tidur dengannya! Jadi kau tidak perlu memaksakan diri seperti itu!"

"Makan," Miyuki bungkam saat mendengar nada dingin dari bibir pria yang memiliki surai bewarna crimson, persis dengan miliknya. Dia mengigit bibir bawahnya, kesal. Lalu menatap nanar Chise yang salah tingkah karna tatapan itu. "Hmph," Miyuki menyambar mangkuk itu. Kesal rasanya, Aku tidak menyerah begitu saja, Kusso-Onna.

Chise duduk dibangku yang berada dibalkon kamar Akashi. Sesekali melirik Akashi yang bergulat dengan laptop dan kertas-kertas dokumennya. Kamar itu masih bersih, seperti saat Chise baru saja membersihkannya. Dia menghela napas, melemparkan tatapannya pada langit malam bertabur bintang yang luas. Sementara Akashi yang duduk dimeja belajar— atau kerjanya ikut-ikutan menghela napas melihat tingkah Chise yang amat canggung itu. Sebuah selimut putih menutupi tubuh— tidak, bahkan sampai menutupi kepala Chise.

"Kau akan masuk angin jika berlama-lama diluar sana," Chise menyibakkan selimut itu dari wajahnya. Lalu menoleh kebelakang dan menemukan seorang pria bersurai crimson dengan kimono hitam yang ditimpa lagi dengan kain merah maroon (modelnya mirip kimononya Rikuo di Nurarihyon no Mago itu loh) berdiri disana. Akashi kadang memang menggunakan pakaian tradisional untuk tidur, bisa dibilang piyamanya. Wajah Chise memerah. Entah kedinginan atau tersipu. Entahlah. Dia menenggelamkan mulut sampai hidungnya didalam selimut itu, "Hn, terimakasih,"

"Suka dengan langit malam?" Chise menaikkan sebelah alisnya, "Ah— oh itu. Tidak juga," Chise merutuki dirinya yang telah membuat percakapan ini lebih absurd dari biasanya. Akashi menghela napas lagi, "Tidak perlu bersusah payah untuk membuat percakapan," Katanya, lalu berjalan masuk kedalam kamarnya lagi. Chise terpenjat untuk sepersekon, lalu tersenyum, "Aku tidak berusaha untuk menciptakan sebuah percakapan, baaaka!"

Akashi mendengus, "Oh, benarkah?" Akashi mendorong tubuh Chise, membuat gadis bersurai choco truffle itu terbaring diranjang king size itu dengan mimik yang terkejut bukan main. Perasaan tidak enak menyusup kedalam dada Chise. Ketika matanya terfokus pada iris dwiwarna Akashi, ia tertegun. Mata indah itu menguncinya, membuat gadis tak berdaya itu tidak dapat memberontak, "Aka— hmmpft.." Akashi menempelkan bibirnya dibibir Chise. Chise yang otaknya dibekukan oleh iris heterokrom itu tidak merespon ciuman itu. Namun saat ia merasakan tangan Akashi meraba pahanya yang hanya dututupi piyama maroon tipis itu, dia membuka mulutnya. Dan tindakan Chise yang malang itu membuat lidah Akashi dapat menerobos masuk kedalam mulut Chise. Chise akhirnya menyerah, ia mengatupkan matanya rapat. Menikmati ciuman dalam yang diberikan Akashi padanya. Walau beberapa saat kemudian mereka memisahkan diri. Keringat bercucuran dari pelipis Chise, "Ha—hah," Akashi menyeringai puas, "Kau buruk dalam hal ini," Katanya, dan itu sukses membuat pipi Chise dihiasi oleh semburat merah, "M-maaf kalau begitu!" Akashi terkekeh, "Tidak apa," Dia menenggelamkan wajahnya dileher Chise. Menghirup aroma bubble-gum darisana. "Wajahmu yang seperti itu, aku suka,"

Chise meringis pelan saat merasakan lidah Akashi bermain dilehernya. Sesekali mengigitnya kecil. "K-kau— apa yang ingin— ughh... kau lakulan?!" Akashi terus mencium leher jenjang gadis itu, "Membuatmu mengelukan namaku," Jawabnya. Keringat mengalir dari pelipis hingga dagu Chise. Wajah cantiknya merah padam. "T-tapi Miyuki—"

"Apa yang kau pikirkan? Jangan sebut namanya disaat seperti ini," Kata Akashi dingin. "Kau membuatku marah, Chise,"

-Sementara di kamar Chise, Miyuki disana ditemani Roca yang bersembunyi dibalik kerupuk-

Miyuki membuka lemari pakaian milik Chise. Didalamnya terdapat banyak sekali pakaian. Mulai dari kaos, celana, rok, dress, kemeja, cardigan, blouse, dan banyak lagi. Dia mendengus. "Selera fashionnya lumayan juga," Lalu dia membuka laci meja belajarnya. Ditengah-tengah acara mengobrak-abrik laci milik Chise, Miyuki mendengar iklan m*stin dengan ekstraknya. Coret. Maksudnya dia mendengar suara-suara aneh dari kamar sebelah—kamar kakaknya, Seijuro—. Dahinya mengernyit, "Apa yang mereka lakukan?" Ternyata sang bocah SMP itu masih belum mengerti arti suara-suara ambigay nan nista tersebut. Hah, yang namanya bocah tetaplah bocah (—huwat?!)

Miyuki meletakkan kembali lembaran foto yang sebelumnya ia pegang—walaupun dia belum melihat gambar difoto itu. Miyuki mendekatkan telinganya didinding pastel itu.

"S-Sei..."

"Chise..."

Miyuki menelengkan kepalanya. "Apa yang tengah mereka lakukan, ya?" Dengan dihantui rasa kepopersnya yang melebihi rasa kpopersnya, Miyuki keluar dari kamar Chise dan berjalan kearah kamar sang kakak tercintanya yang ia cintai bagaikan Roca mencintai Kou (kou yang mana? Coba ditebak)

"Sei-nii? Aku buka ya," Miyuki membuka pintu coklat yang kokoh tersebut. Matanya membulat saat melihat Akashi yang berada diatas Chise. Chise terlonjak kaget, begitupun dengan Akashi. Chise bangkit dan menutupi bagian tubuhnya yang sebelumnya dibalut kemeja putih itu. Kancing-kancing kemejanya sudah dibuka oleh pria bersurai crimson ini. Dia menatap Miyuki panik, "I-ini bukan seperti—"

"Sei-nii... kau..."

"M-Miyuki ini tidak seperti yang kau pikirkan, sungguh!" Kata Chise sekali lagi. Ia melirik Akashi yang malah memasang muka masa bodo dengan kesal. Tangan Miyuki mengepal, "Jadi kalau bukan seperti yang kupikirkan apa?! Kalian mau bilang kalau kalian sedang membicarakan kenapa harus ada kurikulum 2013?! Atau kalian tengah membicarakan kenapa Ahmad D*ni gak jadi sunat?! (coba ditebak siapa yang Roca sensor itu) Chise terdiam. Matanya melebar saat melihat Miyuki yang berlari keluar dari rumah. Chisepun mengejar gadis kelas 8 yang masih cimidh itu.

Akashi menghela napas, "Jangan lupa bajumu, Chise!" Serunya. Chise yang mendengar teriakan tersebut langsung merona dan segera mengancingkan kemejanya sambil terus mengejar Miyuki. "Bakashi! Aku benci kau!" Balasnya. Akashi hanya tersenyum, "Masa?" Lalu Akashi bangkit dan merapihkan jubah suplemennya, maksudnya supermen. Eh bukan jubah ding, cuma kain yang disampirkan gitu doang. Dia berjalan mengikuti dua orang gadis itu. Sebagai calon suami sekaligus kakak yang baik hati, rajin menabung, tapi sombong, suka ngelempar gunting pula, pake acara idup lagi (Akashi: udah lama gak motong orang serius *asah gunting* | Roca: Akashi-sama minal aidin wal faidzin heheheheAAAAAAA)

oke kembali kelaptop.

"Miyuki!" Chise terus berjalan sambil menyerukan nama adik Akashi Seijuro itu. Hujan terus turun membasahi tubuhnya, sekaligus menambah kesan dramatis. Tenang saja mereka lagi gak main film india kok. Kakinya bergetar saat angin menerpa tubuh basahnya. Dia memeluk dirinya sendiri, sedangkan sepasang iris emasnya mencari-cari keberadaan Miyuki. Setelah beberapa lama terus berjalan, Chise menghela napas. Tubuhnya benar-benar menggigil. Namun beberapa saat kemudian matanya melebar saat melihat Miyuki berada disebuah taman. Tidak. Bukan hanya dia, disana juga ada beberapa pria yang tengah memegangi tangannya, "Miyuki!"

"Iyaaaaa! Aku tidak mau ikut dengan om-om mesum!" Miyuki terus berteriak dan meronta. Beberapa pria yang berada didekatnya itu semakin mengencangkan pegangannya pada tangan Miyuki. Bahkan salah satu dari mereka mulai meletakkan tangan mereka di pinggangnya, "Toloong!"

"Jangan menyentuhnya dengan tangan kotormu, mesum!" Chise memukul pria yang memegang pinggang Miyuki dengan kayu yang entah darimana ia dapatkan, lalu memukul pria satu lagi yang mengenggam tangan Miyuki dengan cara dan alat yang sama, "Chise—"

"Ayo Miyuki!" Ajaknya. Miyuki hanya mengangguk. Namun belum sempat ia meraih tangan Chise, gadis itu ditarik oleh salah satu pria yang sebelumnya memegang tubuh Miyuki. Ia memegang kedua tangan Chise dan memutarnya, membuat gadis itu menjerit. Lalu yang satu lagi bangkit dan menatap Chise, "Hey, itu sakit. Woah— dia lebih cantik, bro!(?)"

"Benarkah? Bodynya bagus gak? Dadanya gitu!" (kalau ketemu orang yang nanya beginian sudah dipastikan ia akan melakukan hal yang tidak senonoh pada anda. Waspadalah! Waspadalah!) "Coba saja kau periksa sendiri!" Miyuki menatap horror pemandangan didepannya. Kakinya bergetar. Dia tidak bisa bela diri karna selalu ada butler yang menemaninya. Air mata keluar dari matanya. Teriakkannya diredam oleh hujan.

"Oi oi, kenapa menangis? Kau takut? Kau tidak mau gadis ini dibawa?" Kata pria itu dengan seringaian mengerikannya. Lalu dia mendekat pada Chise dan meletakkan tangannya di dadanya, "Kalau kau tidak mau dia kami bawa, kau yang akan kami perlakukan seperti ini," Lalu dia menggerakkan tangannya, membuat Chise mendesah tertahan. Miyuki menggeleng kuat.

"Kau tidak perlu khawatir, Miyuki. Aku— ah! A-akan baik-baik saja. Aku bisa bela diri kok—!" Kata Chise dengan senyumnya. Miyuki mengigit bibir bawahnya. Dia tidak sejahat itu untuk tega meninggalkan seseorang yang tengah dilecehkan demi dirinya itu. Apalagi saat tangan pria bejad itu turun kearah celana Chise. Ia menggeleng kuat, "SEI-NII!"

Crash.

"Lepaskan tanganmu dari gadisku, dasar sampah masyarakat,"

Chise terbangun pagi harinya. Ia mencium wangi masakan dari luar kamarnya—bukan. Itu kamar Akashi. Saat ia sadar sepenuhnya, ia merasa dingin diseluruh tubuhnya. Kepalanyapun pusing. Ia menoleh kenakas disebelahnya dan menemukan sebuah mangkuk besar berisi air dan sapu tangan. 'Apa aku sakit?' Ia bangkit dari duduknya sambil memegangi kepalanya yang berdenyut. Lalu ia berjalan dengan pelan keluar kamar, hingga dapur. "S-Seijuro?"

"Ah, kau akhirnya bangun juga," Pria bersurai crimson itu berkata tanpa menoleh pada Chise. Chise mengangkat sebelah alisnya, "Akhirnya?"

"Kau pingsan selama 2 hari," Katanya sambil terus berkutat pada masakannya, "2 hari?! Lalu sekolah—"

"Aku sudah minta izin," Potongnya. Lalu dia menuangkan masakannya disebuah mangkuk dan meletakkannya dimeja makan, "Makanlah," Katanya. Chise melihat sup tofu itu sebelum melihat tempat sampah yang dipenuhi bungkusan tofu. Dia tersenyum, "Bukankah aku sudah pernah mengatakan bahwa aku tidak suka tofu?" "Mau kusuapkan lagi?" Chise menelan salivanya, "Tidak usah," Lalu setelah menggosok gigi dengan pepsod*nt biar giginya kembali bersih bersinar layaknya sunl*ght, Chise duduk dimeja makan dan memakan masakan Akashi. Dia makan dengan khidmat, mau bagaimanapun sup itu enak, walau isinya tofu semua. Ketika sadar bahwa ia tengah diperhatikan oleh Akashi, ia menoleh dengan muka memerah, "Apa yang kau liat?" Akashi menghela napas, "Apa itu penting?" Tanyanya balik. Chise mendesis. Lalu ia teringat dengan Miyuki, "Dimana Miyuki?"

"Pulang. Katanya dia ingin berbicara denganmu," Jawab Akashi, "Oh? Ah. Beri aku nomornya, ya," Katanya. Akashi kembali menghela napas, "Lihat saja didaftar panggilan masuk ponselmu, ia menelponmu berkali-kali," Mata Chise melebar, lalu ia terkekeh, "Baiklah," Hening beberapa saat. Iris heterokrom Akashi tak juga lepas memandangi Chise yang pipinya sudah memerah bak kepiting rebus. Sampai saat Akashi mengeluarkan suaranya, "Kau memakai teknik kendo pada orang-orang itu?" Chise berhenti menyeruput kuah sup itu. Ia tersenyum tipis, "Iya."

"Apa punggungmu baik-baik saja?" Chise kembali terdiam. Ia menatap mangkuk yang sudah separuh dari isinya habis, "Iya, mungkin. " Akashi menghela napas untuk ketigakalinya dipagi ini. Pasalnya Chise yang semasa SMPnya adalah atlet kendo itu sudah tidak boleh lagi menggunakan teknik kendo akibat kecelakaan yang pernah ia alami.

"Baguslah kalau begitu," Katanya sembari bangkit dari duduknya. Chise menatap Akashi bingung, "Mau kemana?" Akashi menoleh kembali padanya. Lalu ia tersenyum jahil, "Mandi. Mau ikut?" Tanyanya. Wajah Chise kembali memerah.

"M-mati saja sana!"

Nomor yang anda tuju sedang sibuk—

Chise menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. Bukannya Miyuki ingin berbicara padanya? Kenapa panggilannya ditolak sedari tadi? Yang terdengar olehnya hanyalah suara mbak-mbak operator yang ngeselin minta dijejelin kepik. "Hah..." Ia menghela napas sambil menatap layar ponsel bewarna putihnya. Chise merebahkan tubuhnya diranjangnya, "Apa dia malu?" Gumamnya.

Klik

Chise melirik pintu kamarnya yang dibuka oleh seseorang. Akashi berdiri disana dengan tangan terlipat, "Ah, Sei. Ada apa?"

"Hari ini—"

You've Got Mail, Baby.

...

...

Hening.

...

...

"Suara apa itu, Chise?" Chise merasakan pipinya memanas. Cepat-cepat ia bangkit dari tidurnya dengan wajah yang memerah sempurna, bahkan hingga telinganya. Melihat reaksi itu, Akashi semakin curiga. Akashi mendekat. Chise menjauh. Akashi mendekat. Chise menjauh. Begitu seterusnya. (BGM: Semakin kukejar, semakin menjauh)

"?"

"I-itu bukan apa-apa! S-sungguh!" Elak Chise. Tapi bukan Akashi Seijuro namanya kalau nggak pendek—bukan. Maksudnya bukan Akashi Seijuro namanya kalau tidak tahu gadis bersurai dark purple itu tengah berbohong. Dengan senyum setannya yang membuat hati Roca cenat-cenut—bukan. Dengan senyum setannya ia berjalan kearah Chise.

"Suara apa itu?"

Mendengar pertanyaan yang sama dari sebelumnya serta wajah mengerikan bak cover depan buku berjudul siksa api neraka ((APA)) itu, Chise menelan salivanya. Apa salahnya? Apa salah teman-temannya? Apa salah— hmph *Roca dibekep Nijimura senpie tersayang heheheheh—uhuk!uhuk!*

"Itu hanya—"

Make us free na Splash! kasaneta

hikari no KONTORASUTO abite

Feel so free na kyou tobikomu

OREtachi no Brand new blue, yeah.

Chise langsung membeku dengan wajah pucat. Kenapa aku menukar nada deringku tadi?!—itulah yang ia pikirkan. Kini terungkap sudah bahwa Chise merupakan ikemen freak. Hah, padahal itu aib terbesarnya yang tidak seorangpun tau. Namun sekarang—

Orang pertama yang mengetahui aibnya itu adalah Akashi Seijuro. Si cebol absolut kurang ajar ini.

"N-nanti akan kujelaskan, oke? Sekarang biarkan aku mengangkat teleponnya dulu, ya?" Mohonnya. Akashi terdiam sebentar lalu menghela napas. Sebenarnya ia tau apa suara-suara itu. Yang pertama adalah suara Ichinose Tokiya—jangan tanyakan Roca gimana dia bisa dapet suara macem itu— dan yang kedua dalah soundtrack anime humu—salah. Maksudnya anime tentang renang yang suka buka-bukaan da ada kekasih gelap Roca disana. Namanya Matsuoka—hmph! *kali ini Roca dibekep Gasai Yuno dengan kapak* Kenapa Akashi bisa tau? Tentu saja karena dia absolut. (Roca: sebenarnya Akashi suka nonton anime yang rada-rada maho gitu emang— A-akashi….samaAAAAAAAAAAAA!)

"Moshi moshi?"

"A-apa itu kau tunangan Sei-nii?"

"Ah, Miyuki! Iya ini aku. Jadi ada apa?"

Hening beberapa saat. Mumpung Miyuki adeknya Akashi jadi pulsanya banyak.

"A-a-a-kuhanyainginmengucapkanterimakasihkarenatelahmenyelamatkanku!"

Chise terdiam sebentar sebelum tertawa. Darimana gadis ini belajar berbicara tanpa jeda seperti itu? Ya, walaupun Chise tetap menangkap apa yang ia katakan, "Douitashimashita." Ucapnya.

"H-hmph! D-dan satu lagi….."

Chise mengangkat sebelah alisnya, "Apa?"

"B-boleh juga! A-aku akui kau lumayan pantas dengan Sei-nii! Aku j-juga tidak keberatan dipanggil Miichan. T-tapi ini bukan berarti aku mau ya! Aku hanya kasian padamu!"

Chise kembali terkekeh. Kalau abangnya yandere, maka adiknya tsundere. Benar-benar sifat yang merepotkan Roca—maksudnya buat semua orang.

"Baiklah terimakasih kalau begitu, Miichan," Kata Chise dengan senyum.

"H-hmph! D-dan satu lagi….."

Chise kembali menaikkan sebelah alisnya, "Apa?"

"I-itu—"

"Miyuki kau sedang apa?! Astagamasih sempat menelpon padahal sudah ibu bilang untuk pergi keruangan ayah untuk hukumanmu karena lancang menganggu hubungan kakakmu dan Chise-chan 'kan?!"

Chise menautkan alisnya, "I-itu bukannya suara Ibumu, Miichan?"

Terdengar oleh Chise Miyuki mendesis pelan, "Iya itu ibu. Aku memang pantas untuk mendapatkan hukuman, omong-omong. Baiklah kututup ya,"

Sesudah mengatakannya Miyuki benar-benar memutuskan sambungannya. Chise terkekeh, "Miyuki lumayan dewasa juga, ya," Gumamnya.

Akashi berdeham. Chise tersentak kaget. Ohiya, jika ia sudah selesai menelepon maka ada sesuatu yang harus ia jelaskan pada Akashi.

"Sudah siap untuk hukumanmu, Chise?"

TBC

Roca: ah bokong Roca sakit nih karna nulis ini!

Chise: Roca-san kau terlalu vulgar!

Kuroko: Rocalatte-san mungkin saja ada anak dibawah umur yang membaca ini.

Midorima: kau kenak-kanakkan sekali nanodayo.

Aomine: Roca kau menjijikkan.

Kise: Rocacchi masa semuanya harus ditulis ssu.

Murasakibara: nyom nyom nyom *jejelin mom*gi*

Akashi: …

Kise: Akashicchi masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Chisecchi otaku ya?

Roca: udahlah Akashi, relain aja— JANGAN GUNTING BAJU LEBARANKU TIDAQUE!

Murasakibara: Eh~ Bukannya Rocachin mau membuat omake ya?

Roca: …..saya tak punya ide la. Mending nonton boboiboy aja *nyalain kaset boboiboy*

Midorima: Rocalatte, ini tidak ada previewnya nanodayo?

Roca: *mengalihkan pandangan dari boboiboy penyelamat bumi* eh preview? Tunggu dulu eaps *buka laptop* oh iya ini dia. Akashi-sama tolong bacakan previewnya *kedip kedip*

Akashi: ….*seketika mual* aku tidak bisa diper—

Chise: sesekali t-tidak apa 'kan, S-Sei?

Akashi: *sigh* baiklah.

Preview Chapter 4:

"Sei, aku harus ke London sekarang,"

"Tidak bisa. Sebentar lagi acara tunangan kita akan dilaksanakan, kau tahu itu 'kan?"

"Aku tahu, t-tapi….."

"S-sekarat?!"

Aomine: siapa yang berkarat?

Kuroko: Sekarat, Ahomine-kun.

Kise: AHAHAHAHAHA Ahominecchi aho sekali!

Roca: sudah sudah *ala nunung* ((GAK)) ayo kita masuk sesi balas review.

Murasakibara: untuk Juvia Hanaka-chin, ini ff-nya udah dilanjut~ 'ganbatte' katanya, Rocachin.

Roca: aku akan ganbatte sampai titik darah penghabisan *apus air mata*

Midorima: untuk Nakashima Aya nanodayo. B-bukan berarti aku peduli dengan reviewmu ya! I-ini udah dilanjut sama Rocalatte tapi gak pake kilat, berbahaya nanodayo. Katanya ffmu bagus banget, Rocalatte.

Roca: hehe, makasih Aya-chwan *lap ingus pake baju aomine*

Aomine: eh baju gua beli di luar nih!

Chise: luar apa Aomine-kun?

Aomine: l-l-l-luar rumah.

Akashi: …..untuk Aoi Yukari. Mesum? *smirk* akan kubuat cerita ini semesum mungkin, Yukari.

Chise: S-Sei?!

Roca: kyaaaaa! *lap nosblit pake tissue yang dikasih kuroko* denger sendiri 'kan Yukari-chwan dari Akashi-sama? Hhhehe, ini sudah diupdate'-')7

Kuroko: untuk Silvia-Ki chan desu. *baca previewnya* *lalu hening*

Roca: Ah, kok gak dibaca Tetchan?! OH karna ini. TENANG AJA SILVIA-CHWAN GoM EMANG DITAKDIRKAN UNTUK DINISTAKAN desu. jadi— AAA! JANGAN NGEDEMO DIDEPAN LAPAK GUA DONG!

Chise: U-uh… Baiklah akhir kata mohon review ya, minna-san! *senyum*

Kuroko: kamu bisa sampaikan pertanyaan-pertanyaan serta saran kamu di PM atau askfm Rocalatte-san. Apa usernamenya, Kise-kun?

Kise: usernamenya

Aomine: username askfmnya ukeshiseijuro yo!

Kise: TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKZ.