Hy ^^

Terima kasih sudah mau membaca fic ini... maaf lama.

Warning!

Fic ini ber-pairing NaruFemSasu. Silahkan tekan 'Back' jika keberatan.

Seperti di movie asli, Hinata akan banyak berperan dalam fic ini. No BashingChara, Please. –walau mungkin saya akan sedikit banyak nyindir- *Sorry, I can't help it ^^v*

Siapa yang nge-ship ToneHina? *Angkat Tangan!*

Seperti biasa, fic ini pasaran ^^a

Hope you like it!

Disclaimer : Masashi Kishimoto sensei.

Warning : OOC, Gaje, Typo bertaburan, SemiCanon

DON'T LIKE DON'T READ!

I Don't Own Naruto!

.

.

Suasana dalam tenda kecil di tengah hutan itu terasa tegang. Shikamaru berdiri di sisi samping dengan tangan bersedekap dan wajah berpikir. Sementara Sai berdiri tak jauh darinya dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasa. Meski begitu,iris hitamnya tak henti memandang sosok Naruto yang berjalan mondar-mandir di depannya. Sang Uzumaki itu berulang kali mengerang sambil mengacak rambut pirangnya yang kini sangat pendek.

Di tengah tenda, sosok Hinata dan Sakura terlihat duduk di samping sosok gadis berambut hitam panjang dengan sepasang mata beda warna. Iris kelam dan rinnegan itu tengah memperhatikan Naruto yang lagi-lagi mengerang dan mengacak-acak rambutnya seakan ia sudah gila.

"Bisakah kau berhenti bersikap seperti itu? kau terlihat seperti orang idiot." Kata gadis itu dengan wajah tanpa ekspresi milik Uchiha Sasuke.

"Berisik! Brengsek! Ini semua salahmu!" kata Naruto histeris sambil menatap gadis itu sebelum berpaling pada Shikamaru.

"Lihat, Shika! Sifat brengseknya sama sekali tak berubah!" kata Naruto sambil menunjuk wajah gadis yang balas menatap sosok pirang di depannya dalam diam.

"Siapa yang kau sebut Brengsek, Idiot?" balas gadis itu dalam desisan. Alis hitamnya mengerut tak suka.

Sebelum Naruto membalas, Shikamaru segera berjalan maju dan melerai mereka.

"Maa... bisakah kalian berhenti ber... cengkrama? Kalian membuatku telingaku berdenging," kata Shikamaru sambil mengorek lubang telinganya.

Mendengar itu Naruto dan 'Gadis dengan wajah Sasuke' itu saling lempar deathglare sebelum memalingkan muka secara bersamaan.

Shikamaru hanya menghela nafas dan perlahan mendekati gadis asing itu dan duduk di depannya.

"Sasuke... Kau ingat apa yang terjadi padamu?" tanya Shikamaru serius.

Gadis itu menatap Shikamaru dengan wajah tanpa ekspresi.

"Aku tak mengerti apa yang kau maksud. Siapa Sasuke?" tanya gadis itu masih dengan nada monoton. Jawaban itu membuat Naruto menoleh dengan wajah terkejut.

"Selain tak mengingatku, kau juga tak ingat namamu sendiri?" tanya Naruto pelan. Ia menatap gadis itu dengan wajah berkerut.

Sepasang mata beda warna itu balas menatap Naruto sebelum kembali memalingkan muka dan menggumam 'Hn'.

"Hal apa yang terakhir kau ingat?' tanya Shikamaru serius.

Gadis itu tak menjawab.

"Kau tak ingat apapun?" tanya Naruto ikut duduk di depan sang gadis asing dengan wajah syok.

Mata beda warna itu balas menatap wajah Naruto dengan seksama. Memperhatikan tiga guratan tipis di tiap pipi dan sepasang mata biru yang asing namun familiar. Seperti warna langit di sela awan musim semi.

Sekelebat ingatan muncul di kepalanya. Tentang mata yang sama namun lebih kelam. Memandangnya penuh harapan. Dan kesepian?

Sasuke mengernyit.

"Tidak," jawab Sasuke cepat. Menyadari wajah kecoklatan itu terlalu dekat dengan wajahnya.

"Dan jauhkan wajah idiot itu dari pandanganku," lanjut Sasuke cepat sambil mendorong wajah Naruto dengan telapak tangan. Membuat tiga garis siku-siku muncul di wajah sang Uzumaki yang kini mengerut kesal diantara jemari pucat yang mencengkeramnya.

"SIAPA YANG KAU BILANG IDIOT, DASAR BRENGSEK!?"

.

.

.

### My Last is You ###

By: Ayushina

.

Chapter 2

.

.

Keenam Shinobi Konoha itu kembali melintasi langit dengan burung tinta ciptaan Sai. Sebuah benjolan besar terlihat diantara surai pirang sang Uzumaki yang masih memasang wajah kesal sambil melirik teman satu timnya yang berambut merah muda . Di pelukannya sosok gadis dengan wajah Uchiha Sasuke terlihat tanpa ekspresi sambil menatap kedepan. Disampingnya dengan mengendarai burung yang lain, Sakura masih mengepalkan tangannya yang berhias tiga sudut siku-siku, dengan Hinata yang masih berusaha meredakan amarah Sang Haruno yang ingin kembali menghajar ke-idiotan Naruto. Dua Kunoichi itu mengendarai burung yang sama sementara Shikamaru dan Sai masing-masing mengendarai satu burung tinta. Empat sosok burung itu membentuk formasi dengan Naruto di depan dengan tiga burung lain mengelilinginya.

Selain hilang ingatan, sang Uchiha terakhir yang kini berubah menjadi wanita itu ternyata juga melupakan cara untuk mengendalikan chakra.

"Kita harus segera kembali ke Konoha, Sasuke akan dalam bahaya jika ikut dalam misi kita dalam kondisinya sekarang." Kata Shikamaru sambil memandang telapak tangannya yang masih bersinar dengan bentuk jam yang terus berdetik mundur.

"Kita tak punya banyak waktu dan aku yakin Toneri akan kembali mengincar Sasuke." Lanjut Shikamaru sambil berpaling menatap kedepan.

Mata kelam dan Rinnegan diantara surai hitam itu melirik kebelakang saat merasakan pelukan ninja pirang di sisinya mengerat.

"Bukankah itu berarti kita harus melindungi Sasuke? bagaimana kalau Toneri justru menyerang Konoha setelah kita meninggalkannya disana?" tanya Naruto ragu.

"Jika kau lupa, Naruto... Misi kita adalah menyelamatkan Hanabi. Lagi pula, di desa akan ada banyak ninja lain yang akan menjaganya," kata Shikamaru.

"Jika sebelumnya mereka bisa menculik Hanabi di desa, ia pasti bisa menculik Sasuke juga," protes Naruto.

"Naruto... di desa akan ada banyak ninja yang akan menjaganya, sedangkan kita hanya berlima... kita tak akan bisa melindunginya sambil bertarung menyelamatkan Hanabi... itu akan mempengaruhi kesuksesan misi," jawab Shikamaru sambil mengerutkan alis serius.

"Tapi-"

"Setidaknya pikirkan tentang perasaan Hinata, Dasar Bodoh. Sudah berapa lama sejak Hanabi ada di tangan Toneri? jika ia bisa merubah Sasuke jadi seperti ini, Kita tak tahu apa yang akan ia lakukan pada Hanabi," kata Shikamaru.

Iris biru itu melirik kesamping dimana Hinata tengah menunduk sambil menggenggam kunai milik Hanabi yang mereka temukan kemarin.

"Aku mengerti," jawab Naruto akhirnya.

Iris beda warna itu hanya melirik sosok di belakangnya tanpa ikut bicara. Tak ada yang menyadari tangan pucat itu terkepal erat.

###

Naruto tak tahu harus kecewa atau merasa lega saat mereka kembali menuju lubang gua tempat mereka menuju dunia ilusi itu dan mendapati mereka tak bisa lewat. Ada Kekkai pelindung yang menghalangi mereka untuk keluar.

Jadi mau tak mau mereka harus mengambil pilihan untuk membawa Sasuke serta.

Mereka kembali terbang mengelilingi dunia ilusi itu sambil mencari petunjuk dimana Toneri membawa Hanabi.

"Aku melihat kota sekitar 20 Km di depan," kata Hinata setelah beberapa lama.

"Baik, kita menuju ke sana," kata Shikamaru.

Mereka terbang lebih cepat ke arah yang di tunjuk Hinata. Dan tak lama mereka bisa melihat kumpulan bangunan yg berwarna abu-abu diantara hijau hutan.

"Tak ada seorang pun disini," kata Hinata sambil menatap ke bawah dengan Byakugan aktif.

Mereka berputar-putar di atas kota tak berpenghuni itu selama beberapa saat.

"Sepertinya kota ini di bangun beberapa abad yang lalu," kata Shikamaru sambil menatap dinding batu yang menjadi bangunan di seluruh kota itu.

"Kita berpencar dan cari petunjuk. Naruto, kau yang paling kuat di antara kita. Kuserahkan Sasuke padamu," kata Shikamaru.

Naruto mengangguk dengan tatapan serius sebelum mereka berpencar ke empat arah yang berbeda.

Mereka turun dari burung tinta ciptaan Sai dan memeriksa tiap penjuru kota itu.

Kota itu benar-benar kosong. Mereka tak menemukan adanya tanda kehidupan di antara bangunan batu yang sebagian mulai berlumut. Hanya ruangan kosong dan gelap yang penuh sarang laba-laba. Juga sisa-sisa api dan pertempuran. Jelas sekali apapun yang terjadi di kota itu telah membantai habis seluruh penghuninya.

Sasuke perlahan berjalan meniti undakan tangga batu sambil memandang sekeliling kota yang kosong. Mata beda warna miliknya melihat setiap sudut bangunan dengan seksama. Mencoba menemukan sesuatu yang berguna untuk membantunya keluar dari situasinya yang begitu membingungkan. Bangun dengan dikelilingi orang asing yang seolah mengenalnya, tanpa bisa mengingat apapun itu terasa meresahkan. Seharusnya ia selalu bisa mengendalikan situasi, kan?

Sosok Uchiha yang kini menjadi wanita itu mengenakan jaket hitam bergaris oren yang dipinjamkan ninja pirang yang ia tahu bernama Naruto, namun ia masih mengenakan celana hitam yang compang-camping dan tak mengenakan alas kaki. Ia melirik Naruto yang berjalan dengan tegang dan kaku dengan posisi tubuh siap menerima serangan di belakangnya.

"Kau terlihat lebih bodoh dengan pose seperti itu," kata Sasuke.

"APA KATAMU? AKU BERUSAHA MELINDUNGIMU, BRENGSEK!" teriak Naruto dengan wajah kesal dan mata bulat berwarna putih.

"Aku tak butuh perlindunganmu," Kata Sasuke dingin. Rambut hitamnya yang kini sepinggang bergerak pelan saat angin berhembus," Seorang Dobe sepertimu memangnya bisa apa?" liriknya dengan remeh.

Naruto terdiam menatap sosok itu. Ekspresi datar di wajah gadis itu membuatnya teringat kembali pada sosok Sasuke saat ia pertama kali bertemu di tempat persembunyian Orochimaru. 2 tahun setelah meninggalkan Konoha dulu. Hal itu entah kenapa membuat emosinya tersulut.

Sang Uzumaki itu melangkah mendekat sambil menunduk.

Melihat perubahan pada sosok di depannya membuat Sasuke tanpa sadar melangkah mundur, hingga punggungnya membentur dinding batu. Naruto masih mendekat hingga ia sampai di depan Sasuke. Ia meletakkan tangan bersaput perban miliknya di dinding samping wajah Sang gadis Uchiha. Memerangkapnya dan menatapnya tajam.

"Lihat dirimu sekarang, Sasuke. Kau tak bisa apa-apa. Kau bahkan tak bisa menggunakan chakra. Jadi tutup mulutmu dan biarkan aku melindungimu kali ini," desis Naruto serius sambil menatap wajah gadis yang familiar di depannya.

Iris beda warna itu sesaat melebar sebelum mengerutkan alisnya.

"Aku tak membutuhkanmu. Aku bisa menjaga diriku sendiri." Desis Sasuke balik. Ia memang tak ingat apapun saat ini, tapi ia tau, ia bisa menjaga dirinya sendiri. Sikap sosok pirang di depannya yang mengatakan seolah ia tak berguna membuatnya jengkel. Ia pikir ia siapa?

"Aku tak mengenal-mu. Jangan minta aku untuk percaya padamu. Lagipula kau tak terlihat kuat. Kau yakin bisa melindungiku?" lanjut Sasuke lagi dengan nada meremehkan.

Iris safir itu menajam. Entah kenapa Sasuke melihat sedikit kesedihan di langit itu. Sebelum tiba-tiba Naruto menepuk dada dengan tangan terkepal.

"Uzumaki Naruto. 19 tahun. Ninja Konoha. Anggota tim Tujuh Kakashi. Aku suka ramen, Iruka-Sensei, warna orange, dan semua orang yang kuanggap berharga! Aku benci tiga menit saat menunggu ramen instanku matang, Ular brengsek yang mencuri teman berhargaku, dan orang brengsek yang mencoba memikul beban sendirian. Hobiku berlatih dan cita-citaku adalah menjadi Hokage!" Naruto berkata dengan lantang. Ia memandang sosok gadis didepannya.

"Aku akan melindungimu." Lanjutnya serius, "Dan aku tak pernah menarik kata-kataku!".

Ucapan sosok pirang itu membuat Sasuke membeku. Menatap safir di depannya yang penuh keyakinan.

"Kau dengar, Sasuke? Aku akan melindungimu. Itu adalah janji seumur hidupku," kata Naruto.

Mereka berdua saling tatap.

Bersamaan itu angin berhembus pelan. Membuat sebuah daun menari diantara mereka.

Tak ada suara apapun yang bisa keluar dari mulut Sasuke saat memandang biru itu. Biru yang seakan memancarkan tekad tak tergoyahkan.

###

"Bagaimana perasaanmu, S-sasuke-kun?" tanya sosok berambut merah muda yang kini duduk di depannya dengan sedikit terbata. Tangannya yang bersinar hijau menempel di dahi dan dada Sasuke.

Sasuke hanya diam sambil menatap sosok di depannya. Naruto memanggil wanita itu 'Sakura'. Ia menahan diri untuk tidak mendengus, bisa menebak nama itu diambil darimana.

"Sasuke-kun?" wanita itu bertanya lagi.

"Aku merasa baik," jawab Sasuke datar. Jika ia tak menghitung rasa pusing yang mulai berdenyut tiap ia berusaha mengingat apapun.

"Begitu? Tapi aku masih belum bisa merasakan chakramu." Kata Sakura dengan alis berkerut.

"Apa kau bisa menjelaskan kenapa itu bisa terjadi?" tanya Shikamaru yang menatap Sasuke dalam. Membuat gadis Uchiha itu menatapnya balik dengan dingin. Kata-kata gadis rambut pink di depannya sedikit banyak berhasil membuat Sasuke menahan diri untuk tidak menendang si Rambut Nanas.

"Menurutku apapun yang dilakukan Toneri pasti menyegel ingatan dan chakranya. Atau sesuatu yang dilakukan Toneri membuat tubuhnya syok dan tanpa sadar melupakannya untuk perlindungan diri," kata Sakura.

"Dua kemungkinan itu memang sangat mungkin terjadi," kata Shikamaru sambil menatap perawakan Sasuke yang kini memang jauh berbeda dengan sebelumnya. Ninja pucat itu terlihat lebih kurus. Dan rapuh? Refleks gerakannya pun terlihat lambat seolah tanpa sadar ia mencoba membiasakan diri dengan kondisi tubuhnya.

"Siapa Toneri?" tanya Sasuke dengan nada datar seolah tak peduli.

"Dia orang aneh pemain boneka yang suka menculik orang," Jawab Naruto kesal.

Sasuke mengabaikannya.

"Apa yang ia inginkan dariku?" tanya Sasuke sambil memandang Shikamaru.

"Kami tidak tahu. Dia telah menculik Hanabi, adik Hinata. Kami disini dalam misi untuk menyelamatkannya. Dan kami menemukanmu. Sudah dalam kondisi seperti itu," jawab Shikamaru.

"Apa maksudmu 'seperti itu'?" tanya Sasuke sambil mengerutkan alis.

"Dia... mengubahmu," jawab Sakura enggan, "Kau jadi berbeda dari sebelumnya,".

"Berbeda?" tanya Sasuke lagi. Namun tak ada jawaban yang ia dengar.

Sepasang alis hitam itu berkerut semakin dalam. Ia menunduk, menatap helaian hitam yang menjuntai dari bahunya. Lalu memandangi telapak tangannya. Oniksnya menatap lama tangan kiri yang terbungkus perban. Tanpa sadar ia sudah membuka kain putih itu sebelum tangan berbalut perban lain menghentikannya.

"Kau tak jauh berbeda dari yang kukenal," kata Naruto sambil menunduk menatap tangan mereka yang bersentuhan. Ia mendongak sesaat sebelum memalingkan muka.

"Setidaknya kau masih sama brengseknya," lanjut sosok pirang itu sambil berdiri dan bersedekap.

Sasuke mengabaikannya. Lagi.

"Apa yang terjadi?" tanya Shikamaru dengan sebelah alis berkerut. Ia menatap Sasuke yang selalu memalingkan muka dari Naruto meski mereka berdiri kini berdampingan.

"Bukan apa-apa," jawab Naruto pendek. Ia melirik sekilas sosok Sasuke di sisinya sebelum ikut memalingkan muka.

'Dasar merepotkan,' batin Shikamaru sambil menghela napas melihat tingkah mereka berdua.

"Untuk malam ini, sepertinya kita bisa bermalam disini." kata Shikamaru sambil memandang bangunan besar di depannya. Bangunan berdinding batu itu masih kokoh dan menjulang lebih besar dari bangunan di sekitarnya. Di belakangnya, langit mulai memerah oren karena matahari kembali tenggelam.

Para ninja Konoha itu segera menyalakan lentera dan memasuki bangunan yang kini gelap. Di dalamnya berisi beberapa petak ruangan yang kosong. Dengan runtuhan kayu keropos yang sebelumnya adalah perabotan. Mereka membersihkan ruangan seperlunya sebelum membagi ruangan dan giliran tugas jaga.

"Kau bisa memakai kantong tidurku," kata Naruto sambil menggelar kantong tebal di salah satu ruangan dan menyiapkannya untuk Sasuke. Sementara gadis Uchiha itu hanya berdiri di pintu ruangan. Di ruangan belakangnya Hinata dan Sakura juga terlihat menyiapkan kantong tidur serupa.

"Bagaimana denganmu?" tanya Sasuke akhirnya.

"Nah aku bisa tidur dimana saja, lagipula aku akan bergantian jaga dengan Sai dan Shikamaru. Jadi tak akan ada bedanya," kata Naruto sambil menepuk-nepuk kantong tebal itu sebelum berdiri dan menatap Sasuke.

Mereka berdua berdiri berhadapan tanpa ada yang bicara. Hingga tangan berbalut perban itu terarah ke wajah sang Uchiha.

"Ada jaring laba-laba di rambutmu," kata Naruto sambil perlahan membersihkan untaian benang tipis itu dari rambut hitam yang kini panjang. Dan menyadari surai hitam itu terasa lembut, tak seperti yang ia duga mengingat biasanya rambut Sasuke selalu mencuat ke atas dan terlihat kasar. Dua pasang mata itu saling tatap dengan tangan kiri Naruto yang masih memegang sejumput surai hitam.

Suara bising di seberang ruangan membuat mereka berdua tersentak dan Naruto segera melangkah mundur.

"A-aaah... Aku akan berjaga di luar," kata Naruto akhirnya. Ia mengusap belakang kepalanya sambil berbalik dan berjalan menuju jendela. Ia melompat cepat dan duduk di balkon sambil menyandarkan punggungnya di dinding batu. Sang Uzumaki itu tanpa sadar menghela napas dan menatap kedua telapak tangannya.

Cahaya pucat dari purnama di atasnya membuat bayangan gelap di mata yang harusnya sewarna langit siang.

###

Sasuke tak bisa tidur.

Seluruh tubuhnya terasa aneh, dan ia tak bisa berhenti gemetaran. Sesuatu terasa sangat salah. Sasuke akhirnya bangun setelah berulang kali berguling tak nyaman di atas kantong tidur yang hanya ia jadikan alas. Ia menolak untuk tidur di dalam kantong yang walau pastinya lebih hangat mengingat siapa pemilik kantong tidur itu.

Siapa yang tahu apa saja yang sudah dilakukan pirang idiot itu didalamnya.

Jadi sambil menghela nafas, gadis Uchiha itu bangkit dan berjalan keluar. Meninggalkan lentera yang masih menyala redup di dalam ruangan. Kaki telanjangnya melangkah di atas lantai batu tanpa suara, melewati dua sosok kunoichi yang terlihat masih tertidur di dalam kantong tidur mereka. Ia tak melihat tiga ninja lain yang seharusnya tengah berjaga.

Angin malam yang dingin menyambut Sasuke saat ia melangkah keluar dari bangunan. Ia berjalan ke samping menuju sebuah sumber air tak jauh dari bangunan tempat mereka bermalam. Suara air yang mengalir dan gemericik saat cairan itu tertampung di dalam sebuah baskom batu membuatnya sedikit tenang. Sasuke terhenti di di sampingnya, permukaan air yang terus beriak itu memantulkan cahaya bulan menjadi pendar-pendar cahaya yang berkilau di wajah pucatnya. Ia memasukkan kedua tangannya dan mengambil setangkup air dan meminumnya. Merasakan rasa segar yang membuatnya tiba-tiba ingin membasuh wajahnya yang lengket.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya sebuah suara yang langsung membuat gadis Uchiha itu berbalik. Menatap ninja berambut hitam yang kini memandangnya dengan wajah tanpa ekspresi.

"Bukan urusanmu," jawab Sasuke sambil menyeka tetesan air di dagunya.

Ninja berwajah pucat itu menatapnya lama.

Sasuke sudah berbalik dan melangkah pergi untuk mengabaikan sosok asing itu.

"Naruto benar, Sifatmu memang sama sekali tak berubah." gumam Sai membuat Sasuke menghentikan langkah dan menoleh kebelakang. Mata beda warna itu menatap wajah pucat yang tersenyum dengan mata menyipit. Sasuke sama sekali tek menyukai senyum itu.

"Jangan sampai tersesat, aku tak mau Naruto kalap dan mengejarmu seperti orang gila lagi," kata ninja itu sebelum menghilang dalam pusaran angin.

Ya. Sasuke membenci ninja dengan senyum palsu itu. Itu sudah pasti.

Dengan aura hitam disekelilingnya, Sasuke akhirnya kembali ke ruangan yang menjadi 'kamarnya' dan berbaring. Dari jendela tempat Naruto menghilang sebelumnya, ia bisa melihat gumpalan awan yang berarak menutupi rembulan yang terlihat kusam.

'-mengejarmu seperti orang gila-'

Kata-kata ninja itu kembali terngiang di kepala Sasuke.

Apa maksudnya itu?

Apa selain idiot, si pirang itu juga punya gangguan jiwa?

Sepasang alis hitam itu mengernyit.

Dan semalaman itu Sasuke tak bisa berhenti membayangkan ninja pirang dan anjing gila. Dan stalker.

.

.

.

Pagi datang lebih cepat sementara Sasuke yang sama sekali tak bisa memejamkan mata. Meski begitu, ia tak bangun dari tempatnya berbaring hingga Sakura memanggilnya untuk sarapan dan memeriksa kondisinya.

Tak ada yang berubah. Hal itu membuat wajah bermata hijau itu meredup.

Sasuke tak peduli. Setidaknya tubuhnya sudah berhenti gemetaran. Ia tak mau si Idiot itu melihat kondisinya dan kembali mengatakan hal-hal yang membuatnya tak nyaman.

Di ruangan itu hanya ada dua ninja wanita itu, dan si rambut nanas. Ia tak melihat Naruto dan dan si senyum mengerikan.

Hingga mereka mengemasi barang-barang –mau tak mau Sasuke harus membereskan kantong tidur Naruto juga- dua ninja itu masih tak terlihat.

"Dimana Naruto dan Sai?" tanya Sakura pada Shikamaru.

"Mereka masih berjaga dari semalam." Kata Shikamaru sambil mengernyitkan alis.

Hingga ninja berwajah pucat itu muncul di luar jendela.

"Kami menemukan sesuatu," kata Sai memanggil.

Mereka segera mengikuti ninja pucat itu dan sampai di sebuah bangunan di tengah kota. Salah satu sisi bangunan itu sudah hancur dengan berbagai retakan di dinding yang tersisa. Mereka mendapati Naruto juga berada di tempat itu dan terlihat mengamati sesuatu. Mereka semua mengikuti arah pandang Naruto. Menatap ukiran patung batu yang menghiasi dinding bangunan yang seperti kuil. Ukiran patung itu terlihat tak terawat, dengan separuh wajah dan sisi tubuh patung yang sudah hancur.

"Ini sebuah tulisan kuno," kata Shikamaru sambil menatap deretan ukiran yang berada di sisi dinding.

"Apa artinya?" tanya Naruto sambil menoleh.

"Kutukan kuno," Shikamaru membaca.

"Menyimpangi jalan umat manusia. Seperti semua hal yang lain. Genggaman dari 'Tenseigan' –Mata Reinkarnasi-, bulan yang terlahir kembali. Akan menghancurkan umat manusia." Lanjut Shikamaru.

"Apa artinya itu?" tanya Naruto lagi.

"Mungkin yang disebut 'Tenseigan' ini yang membuat bulan bergerak dan akan mengancurkan bumi." Jawab Shikamaru.

"Maksudnya... Kasus penculikan Hanabi dengan peristiwa jatuhnya bulan berhubungan seperti yang Kakashi-sensei katakan," jelas Sakura.

"Yah, sayang sekali firasatnya memang selalu tepat," gerutu Shikamaru.

'Putri Byakugan.'

Sebuah bisikan di dengar Hinata sebelum sekeliling mereka bergetar. Mereka melompat mundur sebelum tiba-tiba sebuah jalan menuju bawah tanah terbuka.

Dengan penuh waspada mereka menuruni tangga itu dan mendapati sebuah ruangan yang gelap. Shikamaru mengangkat lentera yang ia bawa.

"Ini terlihat seperti area pemakaman," kata Shikamaru sambil memandang sekeliling yang di penuhi gundukan batu dan patung.

"Ada seseorang!" kata Hinata memperingatkan.

Shikamaru mengalihkan lenteranya dan mendapati seseorang berjalan mendekati mereka.

" merasakan Byakugannya." Kata sosok itu membuat mereka memasang posisi defensif. Mereka terkesiap saat melihat sosok tua itu membuka mata dan mendapati rongga mata yang kosong.

"Oh~ aku yakin sekali. Putri Byakugan." Kata sosok itu sambil mendekati Hinata sebelum terduduk dan mengerang. Sosok tua itu membuka mulut dan perlahan sebuah cahaya muncul dari mulutnya. Melayang dan terhenti di depan para ninja Konoha. Sebelum bersinar menyilaukan.

Sekejap itu, Hinata melihat kilasan balik masa lalu.

Sebuah perang. Dengan mayat berserakan di satu sisi. Dan sepasukan yang berdiri di sisi lainnya. Sebuah mata berukirkan matahari di atas mereka.

Cahaya itu meredup bersamaan dengan Hinata yang ambruk. Sebelum kembali pada sosok tua yang kini perlahan bangkit.

"Tenseigan telah dibangkitkan kembali." Kata sosok itu sebelum kembali ambruk dan tubuh itu hancur.

"Harus di hentikan... Otsutsuki..." bisik sosok itu lagi sebelum terdiam.

Mereka semua membeku dalam posisi mereka. Memandang sekeliling yang sekejap sunyi. Hanya tempat pemakaman yang gelap. Setelah memastikan tak ada apapun yang bisa kembali dijadikan petunjuk, mereka segera keluar, dengan Hinata yang tiba-tiba lemas dan ditopang oleh Sakura.

"Hinata, kau baik-baik saja?" tanya Sakura setelah mereka keluar dari ruangan itu.

"Hm m," jawab Hinata pelan sambil perlahan bangun.

"Pria itu berkata tentang Otsutsuki. Nama asli dari Rikudo sennin sebelum ia menjadi pertapa adalah Hagoromo Otsutsuki. Ia juga memanggil Hinata sebagai Putri Byakugan. Sepertinya penculikan Hanabi dan Toneri saling berhubungan." Kata Shikamaru menyimpulkan.

"Aku melihatnya," kata Hinata pelan.

"Apa?" tanya Shikamaru sambil menatap sang Hyuuga.

"Tenseigan. Itu adalah benda yang ditinggalkan Otsutsuki untuk menggerakkan bulan." Kata Hinata sambil perlahan duduk.

"Ada sebuah perang. Salah satu sisinya menggunakan Tenseigan sebagai senjata perang." kata Hinata sambil mengingat ingatan yang ia dapat dari cahaya itu.

Para prajurit yang mati itu. ia seolah melihat mereka semua berdiri di depannya. Sosok yang sebelumnya mereka temui berdiri mendekatinya dengan mata yang terpejam.

"Kami adalah keturunan Hamura. Adik dari Hagoromo Otsutsuki yang bertugas menjaga tubuh Juubi di termasuk keluarga utama Klan Otsutsuki. Kami telah dimusnahkan oleh 'Cabang' klan Hamura* yang salah pengertian mengenai Wasiat Suci Hamura. Toneri sebagai keturunan dari keluarga 'Cabang', berupaya membuat bulan runtuh ke bumi dengan menggunakan Tenseigan. Hanya Byakugan Utama yang bisa menghancurkan Tenseigan."

"Cahaya itu memberitahukanku semuanya," kata Hinata sambil menceritakan ulang apa yang di lihatnya.

"Hamura Otsutsuki-sama meminta agar kita menghentikan Toneri. Dan mencegahnya menghancurkan dunia yang di sebelumnya dilindungi Rikudo Sennin." Lanjut Hinata dengan wajah serius.

###

"Jadi kita berada di Bulan sekarang," kata Shikamaru sambil meminum tehnya dengan wajah berpikir.

Mereka kembali mendirikan tenda di sisi hutan yang lain saat matahari tenggelam. Tak jauh dari kota tua yang mereka temukan sebelumnya.

"Pasti ada sebuah jutsu yang bisa menghubungkan kita ke dunia ini saat kita melewati gua," komentar Sai sambil menatap api unggun di depannya.

"Jika mereka bisa membuat dunia ini di bulan. Mereka pasti juga bisa membangun jutsu untuk menghubungkan tempat ini dengan bumi," gumam Shikamaru.

Naruto ikut mendengarkan dengan seksama sementara mereka memakan roti yang menjadi bekal mereka. Ia melirik sosok Sasuke yang ikut duduk tak jauh darinya. Sosok gadis itu hanya diam seolah tak peduli. Naruto akhirnya bangkit dan mendekati sosok itu.

"Ini, makanlah. Kau pasti lebih lapar." Kata Naruto sambil menyodorkan roti miliknya. Ia menatap sosok yang terlihat pucat itu. Sasuke tak bergeming.

Sebelum sebuah suara perut yang kelaparan terdengar di antara mereka. Membuat rona merah muncul di wajah pucat sang Uchiha.

"Sasuke, jangan mulai bertingkah seperti orang brengsek –walau aku tau kau memang brengsek-," kata Naruto kesal dengan gerutuan di akhir.

"Tubuhmu belum pulih benar, jadi makanlah atau aku akan memaksamu memakannya," kata Naruto dengan sedikit nada khawatir.

Sasuke memandangnya selama beberapa saat sebelum menerima roti itu dan memakannya perlahan dalam diam. Ia memalingkan wajah dari senyuman lebar di wajah sosok pirang di depannya. Dan mengabaikannya saat Naruto ikut duduk tak jauh darinya. Di luar dugaan, ternyata ia memang sangat lapar. Dan tak butuh waktu lama baginya untuk menghabiskan makanan itu.

Sasuke membersihkan remah-remah di tangannya sebelum kembali menyandarkan tubuhnya di batang pohon dan mendongak. Menatap bulan penuh yang bersinar di langit. Cahaya perak yang redup itu menyusup di antara dedaunan dan meninggalkan jejak bayangan di atas wajah pucatnya.

Ia merasa kosong.

Siapa dia?

Sasuke. Sosok pirang itu terus memanggilnya begitu.

Apa itu benar-benar namanya?

Apalagi yang ia lupakan?

Ia tak menyadari sepasang safir yang tak mengalihkan perhatian darinya hingga angin dingin berhembus pelan. Membuat tubuhnya sekejap menggigil.

Sasuke mengerjap saat wajah itu menutupi pandangannya dan merasakan sesuatu yang hangat di lehernya. Ia tak bergerak saat sosok berambut pirang itu perlahan mengalungkan sebuah syal bergaris hijau putih ke lehernya.

"Kau pasti kedinginan," kata Naruto sambil mengusap belakang kepalanya.

"Maaf, aku tak bisa memberimu pakaian lebih dan sepatu. Kami berangkat dengan tergesa kemarin. Oh... atau kau mau menggunakan sepatuku, aku tak keberatan bertelanjang kaki. Walau mungkin agak kebesaran di kakimu sekarang," lanjut Naruto sambil berusaha melepas sepatunya.

Sasuke kembali memandang sosok itu. Mencoba mencari kilasan di ingatannya yang kosong.

'Apa artiku untukmu?'

Pertanyaan itu tiba-tiba terlintas di benak sang Uchiha, dan ia buru-buru mengabaikannya.

'Apa pentingnya orang idiot seperti itu?' batin Sasuke.

'Aku akan melindungimu,"

Wajah dan kata-kata itu kembali teringat. Dan membuat Sasuke kembali berpikir. Dan entah kenapa tiba-tiba ia merasa hangat.

"Ini pakailah," sepasang sepatu yang penuh tanah di sodorkan di depan wajahnya. Membuat alis gelap itu mengerut.

"Aku tak butuh sepatu bau milikmu," kata Sasuke sambil berdiri dan berbalik pergi.

"BRENGSEK! AKU SUDAH BERBAIK HATI!" Teriak Naruto kesal. Sasuke mengabaikannya.

"Eh... kau mau kemana?" tanya Naruto saat melihat Sasuke berjalan menjauhi tenda. Ia bergegas memakai sepatu dan mengikutinya.

"Aku mau buang air. Kenapa? Kau mau ikut?" tanya gadis itu dengan wajah tanpa ekspresi.

Sosok itu membeku dengan wajah yang dengan cepat berubah merah.

"A-aku tak peduli kau mau kemana, asal jangan jauh-jauh." Kata Naruto cepat sambil balik badan, "OOIIII! KAU DENGAR TEME?"

Sasuke tak mau repot-repot menjawab dan terus melangkah pergi. Ia hanya ingin menjauh sementara dari sosok menyilaukan itu. Benar-benar ada yang tidak beres dengannya, bagaimana Si Pirang itu bisa bicara dengan mudah seperti itu sementara ia bahkan sama sekali tak mengingatnya. Yang lain bahkan hanya bicara dengannya dengan nada yang kaku.

Gadis Uchiha itu berjalan beberapa lama hingga irisnya teralih oleh cahaya-cahaya yang beterbangan di sekelilingnya. Kunang-kunang? Atau Kupu-kupu?

Diantara pepohonan itu ia melihat sosok lain diantara kilauan cahaya dan deretan pohon.

Gadis bermata pucat itu tengah duduk sambil... merajut?

Alis hitam itu berkerut.

Serius? Merajut di tengah hutan yang gelap seperti ini? Bukankah mereka seorang ninja yang sedang menjalankan tugas atau apapun itu?

Gadis –yang ia tak ingat namanya- itu menoleh saat menyadari keberadaannya.

"S-Sasuke-san? B-bagaimana kondisimu?" tanya gadis itu tergagap dan menghentikan kegiatannya. Iris mata pucat gadis itu menatap syal yang ia pakai sebelum menunduk. Menyembunyikan wajahnya.

Sasuke tak menjawab dan hanya menatap untaian benang merah yang terajut dalam genggaman sang Gadis. Hinata-chan. Ia ingat Naruto memanggilnya begitu.

Huh.

"A-ah... ini..." kata Hinata sambil menunduk dengan rona merah di wajahnya. Menyadari Sasuke memandang apa yang ia lakukan.

Selama beberapa saat tak ada yang bicara, sementara Hinata kembali menggerakkan benang merah dan jarum di tangannya. Kupu-kupu cahaya itu masih terbang di sekeliling mereka, sebagian hinggap di daun gelap, sebagian di atas permukaan air danau di depannya. Membuat pantulan purnama pucat itu beriak sesaat.

"Kau pasti berpikir aku kakak yang payah," Hinata berkata pelan tanpa menghentikan kegiatannya.

"Adikku sedang dalam bahaya dan aku disini malah merajut," lanjut gadis itu dengan nada sedih.

Sasuke tak menjawab.

"A-aku hanya ingin memberikan ini untuk N-naruto-kun." Bisik Hinata pelan.

"Aku tahu ini terlihat sia-sia," kata Hinata sambil melirik Sasuke, "Tapi hanya hal ini yang bisa membuatku untuk terus berjuang," lanjutnya.

Sasuke menatap keteguhan di mata pucat itu sebelum akhirnya ia berbalik. Tak mengatakan apapun pada gadis bermata pucat yang seolah berusaha mengatakan sesuatu yang tak ia pahami. Tanpa sadar, ia menggengam syal hijau-putih yang melingkar di lehernya lebih erat. Rasa hangat yang sebelumnya ia rasakan tiba-tiba menghilang.

###

Sasuke tak kembali ke tenda.

Ia berjalan memutar menuju sisi danau yang lain. Menjauh dimana ia tak akan bisa melihat gadis dengan rajutan benang merah di tangannya.

Kaki telanjangnya menapaki tanah lembab dan terhenti di tepian danau. Kupu-kupu cahaya beterbangan pelan di sekelilingnya. Menciptakan cahaya lain dari sinar bulan pucat. Ia menunduk di atas cerminan air. Menatap bayangan gelap seorang gadis terpantul di atasnya. Bayangan itu terlihat sangat asing.

Ia sadar dengan tatapan aneh semua orang setiap kali melihatnya. Seperti ia seharusnya tak seperti ini. Seperti ia harusnya orang yang berbeda.

Aneh.

Lalu seharusnya aku bagaimana?

"Sasuke! apa yang kau lakukan disini?"

Suara itu membuat Sasuke membeku.

"Sudah kubilang jangan jauh-jauh, Brengsek. Aku mencari-"

"APA?" bentak Sasuke tanpa sadar, "Jika kau mencari gadis itu, ia ada di sebelah sana," desis Sasuke sambil menunjuk arah berlawanan tanpa menoleh.

"Heh? Apa maksudmu? Dari tadi aku mencarimu, Brengsek," kata Naruto sambil meraih lengan Sasuke dan menariknya. Membuat mereka berhadapan muka.

Dua sosok itu berdiri berhadapan. Dengan purnama yang terpantul di atas danau dan kupu-kupu cahaya yang menari di sekelilingnya. Safir itu menatap lekat wajah pucat yang tak mau balas memandangnya.

"Apa terjadi sesuatu?" tanya Naruto khawatir.

Sasuke menampik sentuhan itu.

"Masalahnya adalah itu! Aku tak tahu apa yang terjadi!" bentak Sasuke kesal.

"Itu karena Toneri melakukan sesuatu padamu kan! Kita hanya harus menemukannya, menghajarnya, lalu membawa kembali Hanabi dan kau akan kembali seperti semula!" balas Naruto. Ia menatap sosok gadis di depannya sebelum menghela napas.

"Sasuke, Aku tahu ini berat untukmu. Tapi semua akan baik-baik saja." Kata Naruto mencoba menenangkan.

Alis kelam itu masih mengerut kesal.

"Bagaimana mungkin semua akan baik-baik saja jika aku bahkan tak mengingat diriku sendiri?" Kata Sasuke dalam desisan, "Aku bahkan tak tahu apapun tentang diriku selain nama dan margaku!".

Sosok pirang di depannya membeku.

"Aku ingin tahu... seperti apa aku sebelumnya... keluargaku... atau adakah orang yang akan mencariku saat aku menghilang!" lanjut Sasuke dengan nada tinggi.

Safir itu perlahan melembut. Ia berjalan mendekati Sasuke dan meraih tangan pucat yang kini tergenggam erat.

"Namamu Uchiha Sasuke. Umurmu 19 tahun. Ninja Konoha. Anggota Tim tujuh Kakashi. Kita teman satu tim. Kita adalah rival. Ayahmu adalah Uchiha Fugaku dan Ibumu Uchiha Mikoto. Kau memiliki seorang kakak bernama Uchiha Itachi yang sangat menyayangimu. Dan ya... aku yakin mereka akan khawatir dan mencarimu jika kau menghilang. Tapi aku sudah menemukanmu. Semua akan baik-baik saja jika kita tetap bersama." Kata Naruto pelan, "Apa kau percaya padaku?" tanyanya.

Sasuke terdiam. Mencerna tiap kata yang diucapkan sosok menyilaukan di depannya.

"Aku seorang ninja?" tanya Sasuke akhirnya.

"Ya."

"Siapa yang lebih hebat dari kita?"

"Kau ingin aku menjawab itu?" tanya Naruto tak percaya. Yang dijawab kerutan alis dan tatapan tajam.

"Jika itu bisa membuatmu lega... terakhir kali kita bertarung kau membuatku kehilangan sebelah lengan," jawab Naruto sambil memperlihatkan lengan kanannya yang berbalut perban.

"Jadi aku lebih hebat darimu," kata Sasuke dengan sudut bibir yang terangkat.

Naruto menggeram kesal.

"Kau juga kehilangan lenganmu, Brengsek!" kata Naruto sambil menunjuk lengan kiri Sasuke yang kini utuh dan berbalut perban. Membuat gadis Uchiha itu ikut menunduk dan menatap balutan kain putih di lengannya.

Ia tidak ingat.

Bagaimana ia bisa tak mengingatnya?

"Huh, jadi kau ninja pengecut yang bahkan tak bisa mengalahkan seorang wanita?" kata Sasuke dengan senyuman sinis. Mencoba menyalurkan kekesalannya pada ninja pirang di depannya.

Tiga sudut siku-siku muncul di dahi Naruto.

"Teme! Kau benar-benar membuat kesabaranku habis!" kata Naruto dengan wajah kesal dan mata bulat putih.

Sebuah senyuman tergurat di wajah pucat itu. Senang karena bisa membuat sosok di depannya itu kesal.

Ia ingin mengingatnya.

Senyum itu memudar, Sasuke berbalik dan melangkah ke air danau. Merasakan dinginnya air melingkupi kakinya yang telanjang.

Ia ingin mengingatnya.

Atmosfir itu tiba-tiba berubah saat bayangan gelap tiba-tiba menyelimuti mereka. Mereka berdua mendongak dan mendapati sesuatu menutupi rembulan di atas mereka.

Naruto refleks melangkah mendekat sebelum sosok Toneri sudah muncul di depannya. Melayang dengan panggung bulat di bawah kakinya. Kupu-kupu cahaya di sekeliling mereka menyebar pergi.

Naruto segera memposisikan dirinya di depan Sasuke.

"Toneri, apa kau juga Boneka?" Bentak Naruto marah, "Dimana Hanabi?".

"Kau berisik. Aku datang untuk menjemputnya," kata Toneri sambil perlahan membuka mata. Menampakkan sepasang mata pucat dengan pendar biru di dalamnya. Terlihat seperti Byakugan namun berbeda. Mata aneh itu menatap sosok gadis yang kini berada di balik punggung Naruto.

"Apa? Aku tak akan membiarkanmu menyentuhnya!" geram Naruto sambil memasang posisi siaga.

"Jadi kau yang bernama Toneri," kata Sasuke sambil menatap sosok berambut putih di depannya. Mencoba mengenali sosok berjubah putih itu dalam ingatannya yang kosong.

"Ya, aku datang untukmu," kata Toneri sambil mengulurkan tangannya.

'Aku akan memberikan semua yang kau mau.' Suara itu berbisik di kepala Sasuke. Tanpa menampakkan emosi , ia balas menatap mata pucat yang tiba-tiba sangat ia benci.

'Apapun?' tanya Sasuke balik di dalam pikirannya.

'Apapun.'

'Kau bisa memberiku kekuatan dan ingatanku?'

'Ya. Jika itu yang kau mau.'

Sasuke menatap sosok itu lama sebelum melirik sosok pirang di depannya yang kini menggeram.

Ia bisa mengingat-nya?

"Sasuke tak akan mengikutimu!" kata Naruto. Tangannya segera membentuk segel, namun gerakannya terdiam saat melihat Sasuke berjalan kearah Toneri.

"Apa kau bisa memberikanku jawabannya?" tanya Sasuke.

"SASUKE! APA-"

"Ya," kata Toneri sambil menerima uluran tangan Sasuke dan membantunya naik ke atas panggung yang ia naiki dan menariknya dalam pelukan. Tubuh gadis Uchiha itu membeku sebelum mendekatkan wajahnya ke telingan Toneri.

"Jangan. Sentuh. Aku." Desis Sasuke.

"Aku tak ingin kau jatuh," kata Toneri sambil menunduk. Panggung kecil itu dengan cepat melayang tinggi.

"SASUKE!" Teriak Naruto diikuti Kagebunshin yang muncul di sekelilingnya. Membantunya melompat dan mengejar. Ia kembali melompat tinggi menuju Toneri dengan Rasengan di tangan. sebelum terhalang oleh sosok berwajah perban yang kini menyerangnya dengan bola-bola chakra kuning. Naruto mengelak dan jatuh sebelum kembali melayang di atas burung tinta ciptaan Sai.

Shikamaru, Sai dan yang lainnya ikut muncul dan menghalau boneka milik Toneri itu. membiarkan Naruto tetap mengejar.

"Kembalikan Sasuke!" Teriak Naruto dengan Rasengan di tangan.

Mata putih Toneri menatap geli.

"Kembalikan? Sasuke datang padaku dengan suka rela," kata Toneri sambil menunduk menatap Sasuke yang hanya diam.

Iris beda warnanya menatap safir yang menampakkan sakit. Biru itu terasa sangat familiar. Apa ia sering melukai sosok pirang itu? mengkhianatinya seperti ini?

Naruto mengerut marah.

"Ini sudah di takdirkan. Ia akan menjadi pengantinku yang berharga," kata Toneri tenang. Alis Sasuke berkerut mendengarnya.

"Pengantin? Apa kau gila? Sasuke itu laki-laki," Bantah Naruto.

Dahi Sasuke berkedut mendengarnya. Selain idiot, si pirang itu ternyata juga buta.

"Karena itu aku mengubahnya," kata Toneri dalam senyuman.

Sasuke tersentak dan mendongak menatap sosok disisinya.

Apa dia bilang?

"Bersama, kami akan membangun kembali klan Otsutsuki setelah bumi itu hancur," kata Toneri sambil mengulurkan tangannya yang kini bersaput chakra hijau.

Menatap cahaya itu, sesuatu berkelebat di ingatan Sasuke. ia hanya terdiam saat melihat chakra putih hijau itu membentuk bola dan dengan cepat meluncur ke arah Naruto.

Ninja pirang itu berusaha menahan dengan Rasengan miliknya sebelum –ingatan itu terputar kembali di mata Sasuke- chakra itu berbaur dengan Rasengan dan dengan cepat menembus tubuh Naruto. Menghisap chakranya hingga membentuk sebuah bola chakra besar berwarna kuning oren. Ia bisa melihat rasa sakit di wajah berhias tiga goresan itu. Rasa sakit yang sama kembali teringat olehnya.

Sasuke hanya membeku saat sosok itu menghilang dalam ledakan besar di bawahnya.

Rinnegan dan oniks itu melebar sebelum perlahan salah satunya memerah sekejap.

Rasa sakit yang sama kembali ia rasakan.

Ia ingat semua sekarang.

.

.

.

To be Continue...

.

.

*seperti klan Hyuuga. Klan Hamura juga terbagi menjadi dua golongan. Golongan keluarga 'utama' dan golongan keluarga 'cabang'. Tak seperti klan hyuuga yang menggunakan segel untuk para keluarga cabang. Dalam klan Homura, mereka mengambil mata byakugan dari para anggota cabang dan menggunakannya untuk Tenseingan agar tetap berfungsi dan bulan tetap berada di orbitnya –setidaknya itu yang saya simpulkan dari filmnya, saya menerima koreksi ^^v- jadi secara teknis, semua anggota klan cabang hamura itu buta –karena itu di awal mata Toneri kosong dan mencuri byakugan Hanabi- Toneri berasal dari keluarga cabang Hamura. Dan yang ditemui Hinata dalam area makam adalah jiwa dari para golongan keluarga utama yang kalah dalam perang.

.

.

Maaf pendek ^^a cuma ngerasa pas berhenti disini aja *gaplok* saya usahakan chap depan lebih panjang ^^v.

Makasih yang udah review di chap sebelumnya. Maaf scene NaruSasu-nya dikit. Next saya usahain lebih banyak ^^. Mohon pendapatnya juga untuk chap ini.

Oh ya... saya mau tanya pada reader disini.

Kalian sudah nonton Naruto movie : The Last?

Apa saya perlu menjelaskan detil film yang menurut saya sudah jelas seperti jika kalian sudah nonton filmnya ? seperti... adakah yang tidak tau di chap sebelumnya kalau Naruto dkk. sedang berada di bulan? Maksudnya dunia palsu tempat mereka sekarang itu dimensi di bulan? Serius?

Atau yang dimaksud kiamat itu memang bulan sedang bergerak mendekat ke bumi? *ya, dan saya merasa memang tidak perlu mencantumkan pertemuan lima kage yang membahas tentang ini =.=a*

Jika memang banyak yang belum atau tidak ada niatan untuk menonton filmnya, akan saya usahakan menuliskan detil yang gak akan membuat bingung ^^a

Review?