.
"S-siapa? ... Baekhee?" Baekhyun tergagp sekaligus terkaget karena.. apa? Chanyeol menyebutnya mirip dengan Baekhee? Oh, Channie, tidak tahukah kau bahwa yang sekarang kau bilang mirip dengan Baekhee adalah Baekhee sendiri?
"Iya! Kau tidak tahu? Dia itu model cantik!" ucap Chanyeol mendeskripsikan Baekhee dengan singkat, tapi dengan nada yang antusias sekali.
"Uhuk!" Kris dan Luhan tiba tiba batuk berbarengan. Merasa.. sesuatu mungkin, Baekhyun dibilang mirip dengan Baekhee oleh Chanyeol.
"Hm.. iya, aku tahu kok! Ah mana mungkin aku mirip dia, Yeol! Aku kan culun begini masa iya disamain sama seorang Baekhee yang cantik sekali itu!" Baekhyun tersenyum, sambil memuji dirinya sendiri? Ckck.
"Uhuk!" Kris batuk lagi, namun, sekarang lebih terkesan seperti tersedak sesuatu.
"Kau kenapa, Kris?" tanya Jongin yang sedari tadi memperhatikan Kris.
"Ehm... tidak apa apa. Lantjutkan!" ucap Kris.
'Dasar pede. Memuji diri sendiri. Mentang mentang dipuji Chanyeol. Makin muji diri sendiri!' batin Kris sambil mendelik ke arah adiknya itu, Baekhyun.
"Ehm.. sebenarnya itu, aku tidak tahu kenapa kalau aku melihat kamu itu sangaaaaaatt cant—"
"Yeollieeeeee~~" tiba tiba saja ada seorang yeoja yang memeluk leher Chanyeol. Membuat semua orang di kantin itu memandang ke arah mereka berdua –lebih tepatnya ke arah seorang yeoja yang bergelayutan di leher Park Chanyeol itu—.
Chanyeol menatap orang itu dengan tatapan horror. Baekhyun menatap keduanya dengan wajah merah padam entah kenapa ia merasa sebal dengan yeoja yang kini sudah duduk di pangkuan Chanyeol itu. Sisanya, menatap mereka berdua –Chanyeol dan Kyungsoo—seperti orang bodoh dan ber 'o' ria.
"Kyungsoo! Apa apaan sih, kau!" Baekhyun yang kesal pun menegur yeoja yang ternyata Kyungsoo itu dengan sedikit membentak. Atau benar benar membentak Kyungsoo karena Kyungsoo sekarang berdiri dari pangkuan Chanyeol sambil menatap Baekhyun, meremehkan.
"Yeollieee~~ apa matamu itu katarak hum? Mana mungkin dia cantik, apalagi mirip dengan Baekhee si model terkenal itu, tidak mungkin kan?" Kyungsoo berkata sambil menatap meremehkan Baekhyun, lalu duduk lagi di pangkuan Chanyeol.
"Kyungsoo, berdiri!" Chanyeol yang sudah geram dengan Kyungsoo menyuruh Kyungsoo berdiri dari pangkuannya.
Kyungsoo berdiri. Namun malah sengaja menyenggol es jeruk milik Baekhyun hingga tumpah ke arah Baekhyun yang duduk di samping Chanyeol, membuat Kyungsoo semakin mudah mengenai sasarannya, es jeruk tumpah ke baju Baekhyun.
"Oops! Maaf sengaja! Hahaha!" Kyungsoo tertawa setelahnya. Baekhyun mengangkat tangannya, berniat menampar Kyungsoo yang sudah keterlaluan ini.
"YAKK! DASAR—"
"Baek—sabar, nde! Jangan terbawa emosi, or you'll become a murderer, not a victim anymore. Tenang, okay?" Soojung yang mengerti situasi segera memeluk Baekhyun, mengunci pergerakannya, menenangkan Baekhyun dengan kata kata yang menenangkan.
"Soojung-ah! Untuk apa kau membela yeoja yang sudah merebut KEKASIH TEMAN LAMA MU INI HUM?! Dia itu merebut Chanyeol-ku, kau harus tau itu, Baekhyun adalah PEREBUT KEKASIH ORANG! Baekhyun is a little bitch! Baekhyun, daughter of bitch!" Kyungsoo berkata sambil menekankan setiap kalimatnya.
"Teman kecilku tidak berlaku seperti ini, Kyungsoo. You're not the real Kyungsoo!" ucap Soojung pada Kyungsoo. Membuat api kemarahan Kyungsoo semakin berkobar.
"YAK! DO KYUNGSOO!" Chanyeol berteriak, sedangkan Baekhyun masih terdiam dengan wajah yang berwarna merah padam.
"Hah, aku benar kan, sayang? Dia itu merebutmu dariku, jadi dia pan—"
"Menjauh dariku, bitch!" geram Chanyeol pada Kyungsoo yang sedang memainkan jarinya di dada Chanyeol. Tujuannya adalah : menggoda Chanyeol.
"Ap-apa kau bilang, say—"
"Jangan panggil aku sayang. Aku tidak sudi kau panggil sayang." Ucap Chanyeol dingin pada Kyungsoo. Kyungsoo langsung terdiam di tempatnya.
"Oh! Jadi kau lebih memilih perebut kekasih ora—"
"Dia. Bukan. perebut. Kekasih. Orang." Kris tiba tiba bicara dengan penekanan di setiap kata katanya, membuatnya semakin terlihat menyeramkan. Chanyeol kini sudah beralih memeluk Baekhyun yang masih terdiam. Membuat Kyungsoo semakin sebal dibuatnya.
"Kyungsoo-ya , tenang.. ada Suho-sunbae! Kau mau digeret ke—" bisikan Naeun di belakang Kyungsoo terpotong oleh suara orang yang barusan disebutkan oleh Naeun.
"Kyungsoo. Do Kyungsoo!" orang itu, yang ternyata adalah Junmyeon, yang lebih akrab dikenal sebagai Suho itu memanggil Kyungsoo dengan nama aslinya. Kyungsoo merasa akan ada kasus yang melibatkannya sebagai—
"Ikuti saya. Ruang Badan Konserling. Sekarang" Junmyeon mengambil nafas sebentar, "Yixing, ikut temani aku, Naeun-ssi, ikut dan temani Mrs. Do Kyungsoo ini. SE. KA. RANG"
Junmyeon memang seorang namja yang tegas dan selalu tepat dalam mengambil keputusan. Seperti sekarang ini. Kyungsoo langsung di geret ke Ruang Badan Konserling sekolah.
Mereka ber empat, Junmyeon, Kyungsoo, Yixing, dan Naeun berjalan ke arah Ruang Badan Konserling. Junmyeon menengok ke arah teman temannya sambil tersenyum angelic saat melihat Chanyeol yang masih setia memeluk tubuh mungil milik Baekhyun.
"Chanyeol-ah! Temani Baekhyun sebentar! Kau juga, Yi—Kris." Ucapnya lalu menyusul tiga orang yang sudah duluan pergi.
.
.
I WILL SHOW YOU
CAST : NEXO MEMBER ( + JUNG SOOJUNG, KANG SEULGI, SON NAEUN, ETC )
RATED : T – M
Word(s) : 4382
.
.
Terlihat seorang namja dengan tinggi badan yang melebihi batas normal dengan wajah yang ke bule bule annya, sedang berdiri di depan pintu berwarna abu-abu dengan papan yang tergantung disana, bertuliskan,
'01000010 00100000 01000010 00100000 01001000'
Namja itu hendak mengetuk pintu, namun, niatnya di urungkan setelah melihat tulisan di bawah deretan angka nol dan satu tersebut, yang terdiri dari angka nol dan satu juga.
'01010000 00100000 01000011 00100000 01011001'
'Sejak kapan ini bertambah..' batinnya sambil mengamati deretan angka tersebut.
'Baekki mau buka ga ya..' pikirnya lagi setelah mengingat peraturan yang dibuat oleh sang pemilik kamar beberapa tahun yang lalu, Byun Baekhyun, yang dipanggil Baekki oleh namja ini.
TOK! TOK!
Namja tampan itu mengetuk pintu kamar milik sang adik dua kali. Tidak ada respon.
TOK TOK TOK
Namja itu kini mengetuk tiga kali pintu berwarna abu abu itu. Masih tidak ada respon. Bahkan, kamar itu seperti tidak ada penghuninya.
'Baekki tidur kali, ya..' pikirnya lagi. Namun, ia tetap mengetuk pintu berwarna abu abu itu.
TOK! TOK! TO—
Ketukan namja itu berhenti ketika pintu berwarna abu abu itu dibuka oleh seorang yeoja cantik bertubuh mungil dengan rambut magentanya. Ya, pintu itu dibuka oleh sang pemilik kamar, Byun Baekhyun.
"Mau apa, oppa?" tanya sang pemilik kamar tanpa basa basi lagi.
"Ehm.. anu.." namja itu masih ragu menanyakan niat awalnya mengetuk kamar milik Byun Baekhyun itu. Pasalnya, belum ada yang pernah masuk ke kamarnya sejak lima tahun yang lalu.
"Kenapa, oppa? Ah, aku kembali mas—"
"akuikutdong!" ucap Kris cepat tanpa titik koma, bahkan spasi. Saking cepatnya, Baekhyun sampai—
"Apa?" Baekhyun membeo.
tidak mendengarnya secara jelas.
"Aku.. boleh ikut, tidak, ke dalam kamarmu.." izin Kris ragu ragu.
"NO . WAY !"
'Tuh, kan.. bener.. Baekki gaakan ngizinin siapapun masuk ke kamarnya...' batin Kris setelah menerima penolakan masuk ke kamar Byun Baekhyun ini.
"Please.. i swear, Baekki, i swear gaakan kasih tau siapapun, tentang apapun, apa aja, dan apa yang terjadi di dalam kamarmu. Si. A. Pa. Pun" Kris menekan setiap kosa kata pada kata 'siapapun' di akhir kalimatnya memohon pada Baekhyun.
"Termasuk Luhan? Eomma? Appa?" tanya Baekhyun. Oh! Sepertinya, yeoja berambut magenta ini sedang menggodakakaknya yang memang sedang dekat dengan seorang yeoja bermata rusa bernama Xi Luhan.
"IYA" Kris berteriak. Entah kenapa, terjadi begitu natural?
"Hm.. kau janji?" Baekhyun mengacungkan kelingkingnya di depan wajah Kris. Mengajak Kris berjanji-dengan-kelingking-yang-ditautkan.
"Janji.. tapi.. kelingking untuk apa?" tanya Kris kelewat datar membuat Baekhyun kesal setengah mati pada kakaknya ini.
"Janji Kelingking oppa. Jika kau menautkan kelingkingmu dengan kelingkingku, kau tidak akan melanggar janjimu, namun, jika kau melanggar janjimu, kelingkingmu akan ku patahkan." Jelas Baekhyun panjang kali lebar kepada Kris.
"OOHH! Janji!" Kris menautkan kelingkingnya pada kelingking mungil milik Baekhyun.
"Ingat oppa, jika kau melanggar janjimu, aku sendiri yang akan mematahkan kelingkingmu, oppa. Remember!" ucap Baekhyun mengancam Kris. Berniat menakut nakuti Kris agar mengurungkan niatnya masuk ke dalam kamarnya.
"Ne, Baekki sayangku" Kris tersenyum lebar, lebih terkesan idiot, sih. Lalu mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada, "Jadi, aku boleh masuk KAAAN?"
"Iya, iya. Tapi jangan teriak atau norak, okay?" Baekhyun memperingati Kris.
"Ne." Kris menjawab SANGAT singkat.
Baekhyun minggir ke sebelah kanan, guna memberi space untuk Kris yang memiliki badan seperti raksasa –menurut Baekhyun—agar bisa masuk ke dalam kamar kecilnya –menurut Baekhyun lagi—.
"Mana mungkin lah, Baekkie, aku bisa norak dan berteri—WAAH! AMAZING BAEK!" awalnya, Kris bertingkah sok cool, tapi..setelah ia melihat keadaan kamar Baekhyun ia langsung teriak. Dasar, Kris.
.
.
"Bagaimana es krim-nya, nona manis?"
"Eumm.. enak sekali!" pipi seorang yeoja yang dipanggil 'nona manis' itu memerah karena dipanggl seperti itu oleh orang yang beberapa hari belakangan ini dekat dengannya, lalu tersenyum pada orang itu, persis seperti anak kecil yang mendapatkan lolipop kesukaannya.
Orang itu tersenyum mengamati gerak gerik yeoja yang baru berumur lima belas tahun di depannya.
"Kapan kapan aku akan mengajak Luhan eonni untuk makan es krim di sini bersamaku!" ujar yeoja cantik itu lagi sambil tersenyum girang. Orang yang kini duduk di sebelahnya, di sebuah taman dekat sungai Han itu mendelik kesal.
"Jadi, aku tidak di ajak? Kau harus ingat aku yang memberitahu mu kalau kedai es krim itu! Kenapa kau tidak mengajakku juga, eoh?" orang itu merajuk rupanya.
"Hihihi. Iya, nanti kalau kita ada waktu, atau jika sedang liburan, kita ke tempat ini lagi bersama, okay?" seru yeoja itu senang sambil tersenyum lebar, membuat mata indahnya melengkung seperti bulan sabit, membuat orang yang duduk disebelahnya itu ikut tersenyum ke arahnya.
Setelah itu, mereka terdiam. Menikmati suasana hening yang entah mengapa terasa nyaman untuk keduanya. Mereka hanyut dalam pikiran masing masing yang tentu saja berbeda, namun memiliki satu kesimpuan yang sama.
Apa pikirannya? Rahasia.
"Ehm.. Sehun" panggil orang yang duduk di samping yeoja bernama Sehun itu. Memecah keheningan yang terjadi selama beberapa menit di antara mereka berdua.
"Ya, Jongin oppa?" sahut Sehun pada orang yang duduk di sampingnya, yang ternyata bernama Jongin.
"Sudah menjelang malam. Kau harus pulang. Aku tidak mau dikira penculik seorang Oh Sehun oleh kakakmu itu" ucapnya dan diakhiri dengan wajah yang di buat seperti sebal sekali. Sehun terkikik melihat wajah orang di sampingnya ini.
"Ganti ekspresi wajahmu itu, oppa. Sangat jelek kalau kau mau tahu!" ucap Sehun sambil menepuk pelan lengan kiri Jongin. Jongin hanya mendengus sebal, lalu mengubah ekspresi wajahnya dengan wajah datar. Sangat datar seperti milik Kris(?)
"Kau semakin jelek saja, oppa!" Sehun berkata lagi dengan nada meledek yang tentu saja hanya bercanda. Jongin gemas dengan Sehun, kemudian ia mengusak pucuk kepala Sehun. Membuat rambutnya sedikit—oh! Bukan sedikit, tapi memang berantakan sekarang.
"Jadi, kapan kau mau pulang?" tanya Jongin sambil memandang Sehun yang baru saja selesai dengan ice cream nya.
"Kau mengusirku?!" Sehun mendelik tajam pada Jongin. Namun, bukannya takut, Jongin malah tertawa lebar. Membuat Sehun semakin sebal padanya.
"Aniyo, Sehun-ah, aku hanya tidak mau dicap sebagai laki laki tidak benar mengajakmu dari pulang sekolah hingga larut malam" Sehun berujar pada Sehun sambil mengulas senyum tipis di sana.
Sehun tersenyum tipis. Sangat tipis hingga mungkin tidak ada yang melihatnya. Namun, Jongin melihatnya.
"Kau cantik kalau tersenyum" kalimat itu lolos begitu saja dari bibir tebal nan sexy milik Jongin. Jongin yang sadar dengan ucapannya barusan langsung mengutuk dirinya sendiri mengatakan hal itu pada Sehun. Sehun terlihat bingung.
'Semoga saja dia tidak mendengarnya' doa Jongin dalam hati melihat ekspresi Sehun yang seperti terkaget.
"Huh?!" Sehun membeo.
'Syukurlah dia tidak dengar. Dasar mulut bodoh!' Jongin bersyukur dalam hati mengira Sehun tidak mendengarnya. Namun kenyataannya, Sehun mendengarnya jelas. Sangat jelas.
'Katakan sekali lagi, oppa. Aku ingin mendengarnya!' Sehun menjerit dalam hati. Berdoa dalam hati agar Jongin mengatakannya lagi.
"A-Aniyo.. kajja! Hari sudah semakin, sore! Sebaiknya kita pulang, oke?" Jongin mengalihkan pembicaraan. Sehun menurut pada Jongin tapi hati Sehun setengah sebal karena Jongin tidak mengatakannya lagi.
.
Mereka berjalan menyusuri taman dengan beriringan. Namun, tidak menautkan jari jari mereka seperti pasangan kekasih yang lain. Eh? Toh, mereka bukan sepasang kekasih, kan?
Jongin dan Sehun berjalan menuju parkiran motor, dimana motor Jongin terparkir di sana. Setelah sampai, Jongin memberikan helm nya pada Sehun. Ya, Jongin hanya membawa satu helm. Jadi, di sini, akan hanya Sehun yang akan mengenakan helm.
'Kalau terjadi kecelakaan, setidaknya aku yang akan terluka parah, bukan Sehun' itulah yang dipikirkan oleh Jongin saat ia memutuskan untuk tidak memakai helm sama sekali. Namun, Sehun yang memakai helm itu.
Jongin menaiki motornya di bagian depan, sedangkan Sehun masih terus berdiam diri di tempatnya.
"Kenapa, Sehun-ah? Kenapa tidak naik?" tanya Jongin melihat Sehun masih diam di tempatnya.
"Janji kalau kau tidak akan ngebut lagi, oppa! Ini pertama kalinya—"
"Kedua." Potong Jongin.
"Yaya, kedua. Oke. Ini kedua kalinya aku naik motor. Jangan berikan kesan buruk dalam hal ini!" ucap Sehun yang masih trauma dengan benda mematikan –menurut Sehun—itu.
"Oke, Oh Sehun. Aku akan mengendarai dengan kecepatan standar" ucap Jongin tidak ingin membuat Sehun tidak mau naik motor bersamanya lagi.
Setelah itu, Sehun naik ke atas motor Jongin dan memegang ujung samping kemeja sekolah Jongin. Jelas, Sehun takut sekali naik motor. Awalnya, Jongin memang tidak ngebut membawa motornya. Namun, memngingat jalanan Seoul ini sepi, jadi ia sedikit menaikkan kecepatan motornya.
Sehun yang sadar kendaraan yang sedang ia tumpangi ini bertambah kecepatan, pun, refleks memeluk orang di depannya dengan erat. Membuat orang yang dipeluk tersenyum lebar.
Akhirnya, sore itu mereka habiskan dengan perjalanan dari taman dekat sungai Han itu ke arah rumah Sehun yang terletak agak jauh dari taman itu.
Jongin membelah jalanan Seoul sore itu dengan kecepatan yang cukup tinggi menurut Sehun. Sehun terus memeluk Jongin dari belakang karena takut terbang. Terbang? Oh, Sehun kekanakan sekali, bukan? Memang.
Beberapa menit kemudian, mereka mulai memasuki komplek rumah Sehun. Jongin memelankan kecepatannya membuat Sehun merasa lega. Namun, tidak melapaskan pelukannya pada Jongin. Sampai motor itu berhenti tepat di depan sebuah rumah minimalis milik orangtua Sehun.
"Hei! Mau sampai kapan memeluk tubuh orang tampan ini, hm?" Jongin menegur Sehun yang tidak kunjung melepaskan pelukannya. Mendengar Jongin berkata terlalu pede seperti itu membuat Sehun melepaskan pelukannya pada pinggang Jongin.
"Kau terlalu percaya diri, oppa. Itu tidak baik!" ucap Sehun sambil menurunkan dirinya dari atas motor milik Jongin. Lalu melepas helm nya dan mengembalikkan nya kepada yang punya, Jongin.
"Lain kali, kalau kau mau membawaku naik motor, siapkan dua helm! Kau tahu, jika kau tidak memakai helm itu sangat berbahaya! Kalau terjadi hal yang tidak diinginkan seperti kecelakaan lalu lintas, bagaimana? Kau bisa mati! Dan—oh! Jangan lupa untuk turunkan kecepatan mu ketika mengendarai motor, itu juga pemicu kecelakaan lalu lintas! Oke?" Sehun berkata panjang lebar membuat Jongin mengulas senyumnya.
"Iya, Iya, nona Oh. Akan ku ikuti semuanya!" ucap Jongin tenang dan diakhiri dengan senyum super tampannya.
"Baiklah!" Sehun tersenyum riang sampai membuat kedua matanya menyipit, membentuk bulan sabit. Menambah kadar kecantikannya di mata Jongin. "Aku masuk dulu, oke?" Sehun menganggat jempolnya.
"Oke! Selamat sore menjelang malam, Sehun-ah!" ujar Jongin pada calon kekasinya—menurut Jongin—itu.
"Selamat sore menjelang malam juga, oppa! Hati hati di jalan!" ucap Sehun lagi, lalu melambaikan tangannya.
Jongin hanya membalasnya dengan senyuman. Lalu memakai helmnya, dan melajukan motornya, membelaj jalanan sore Seoul. Sedangkan Sehun, ia masih asik tersenyum sendiri. Lalu, memasuki pekarangan rumah orangtuanya, dan masuk ke dalam rumah minimalis itu serta mengucap salam sopan pada kedua orangtuanya.
Lalu setelah itu dia beranjak ke lantai dua, di mana kamarnya –bersama Luhan—ada di sana. Sehun membuka daun pintu kamarnya, terlihat sang kakak perempuan tercintanya sedang tengkurap di atas kasur.
Seperti peka akan keadaan, Luhan mendudukkan tubuhnya di atas kasur, menatap lekat lekat pada Sehun.
"Kau sudah pulang?" tanyanya pada Sehun.
"Sudah, eonni"
"Oh."
"Kau marah padaku, eonni?" tanya Sehun melihat perubahan sifat kakaknya.
"Iya." Luhan menjawab cepat.
"Kenapa?"
"Kau mengacuhkanku! Kau tidak tahu, seberapa bosannya aku ditinggalkan dirimu, eoh? Kau malah asyik jalan jalan dengan kekasih gelapmu—"
"Dia bukan kekasihku, eonni" Sehun memotong perkataan kakaknya.
"Oke. Oke. Jongin. Kau jalan jalan dengannya dan tidak memikirkanku!" Luhan mengakhiri ucapannya sambil mendengus sebal dengan bibir yang mengerucut lucu.
"Kau lucu, eonni!" ucap Sehun pada kakaknya. "Aku mandi dulu" lanjutnya.
"TUNGGU!" Luhan menghentikan langkah Sehun yang sudah berada di depan kamar mandi.
"Kenapa, eonni?"
"Jadi... kau ngapain saja dengan Jongin sampai sore menjelang malam seperti ini? Kau tidak—"
"Kami tidak melakukan apapun eonni. Kami hanya..." Sehun menggantungkan kalimatnya.
.
.
-BAEKHYUN POV-
Aku sedang terbaring di dalam kamarku, di atas kasurku. Aku sangat lelah, kesal, ugh! Semuanya bercampur jadi satu. Asal kalian tahu saja, tadi, saat makan siang di sekolah itu ada yeoja yang sangat sombong!
Kau tahu? Dia mengataiku 'tidak mungkin secantik Baekhee'. Hah! Kentara sekali ia hanya memandang orang dari fisik! Tidak seperti Chanyeol yang bisa melihat persamaan wujudku dengan wujud Baekhee.
Eh? Chanyeol?
Ah, lupakan nama itu, oke?
ARGH! Aku tidak bisa melupakannya! Dasar, Baekhyun bodoh. Untuk apa sekarang malah memikirkannya, sedangkan ia tidak memikirkanku? Melakukan hal yang tidak penting saja.
Aku bosan. Sangat bosan.
Sekarang, aku malah mengambil secarik kertas surat yang ada di meja belajarku, yang biasanya kertas itu hanya akan kugunakan untuk menulis sesuatu yang padat singkat dan pendek tentang kejadian hari ini yang penting. Lalu menggantungnya di tali kulit yang memang sudah ku letakkan di kamar ini. Seperti kemarin, aku menulis deretan angka nol dan satu di sana,
'01000011 01101000 01100001 01101110 01111001 01100101 01101111 01101100 00100000 01110100 01100001 01101011 01100101 00100000 01101101 01100101 00100000 01101000 01101111 01101101 01100101 00100000 01110100 01101111 01100100 01100001 01111001 00100001'
Baru aku akan menulis kalimatku di sana, dengan sama, dengan deretan angka satu dan nol itu, namun, tiba tiba ada yang mengetuk pintuku. Aku berusaha mengabaikannya. Toh, selama ini, belum ada yang berani masuk dan melihat keadaan kamarku seperti ini, kan?
Aku mengabaikan ketukan pintu itu. Aku memulai kalimatku dengan angka nol dan satu yang sudah sangat aku hafal itu di kertas surat berwarna putih gading itu.
Satu kali.
Aku masih mengabaikannya.
Dua kali.
Aku mulai jengah dengan ketukan itu. Mengganggu saja.
Tiga kali.
Aku melihat siapa yang ada di depan pintu dengan sebuah lubang kecil yang terdapat lensa di dalamnya, membuatku dapat melihat jelas siapa yang berdiri di depan kamarku dan sekitarnya.
Aku mengintip dari lubang itu dan melihat Kris oppa berdiri di sana. Untuk apa dia kemari? Bukankah dia juga ada saat beberapa tahun lalu aku menyatakan bahwa tidak ada yang boleh masuk ke kamarku? Kenapa sekarang dia ia malah mengetuk pintu kamarku?
Dengan malas dan jengah, aku membuka pintu kamarku. "Mau apa, oppa?" tanyaku langsung pada kakak lelaki ku ini.
"Ehm.. anu.." Kris oppa seperti sedang memikirkan kalimatnya? Sebenarnya mau apa dia mengetuk pintu kamarku ini.
"Kenapa, oppa? Ah, aku kembali mas—"
"akuikutdong!"
Belum selesai berbicara, kalimatku lebih dulu dipotong oleh perkataan Kris oppa yang seperti sedang nge rapp itu. Cepat sekali. Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
"Apa?" aku membeo meminta Kris oppa mengulang kalimatnya tadi lagi.
"Aku.. boleh ikut, tidak, ke dalam kamarmu.." Kris oppa berkata seperti itu yang pasti akan kutolak!
"NO . WAY !"
"Please.. i swear, Baekki, i swear gaakan kasih tau siapapun, tentang apapun, apa aja, dan apa yang terjadi di dalam kamarmu. Si. A. Pa. Pun" aku terkikik geli setelahnya. Pasalnya, wajah Kris oppa sekarang sangat memelas! Sangat jauh dengan kesannya sebagai pria-tampan-berekspresi-satu itu.
"Termasuk Luhan? Eomma? Appa?" aku bertanya. Bermakhsud menggodanya juga dengan membawa bawa nama Luhan. Hihi.
"IYA" Kris oppa kini berteriak. Aku sempat kaget karena dia berteriak seperti itu.
"Hm.. kau janji?" aku mengacungkan kelingkingku, mengajak Kris oppa berjanji kelingking dengan ku.
"Janji.. tapi.. kelingking untuk apa?" Kris oppa bertanya. Entahlah terlihat seperti pertanyaan terbodoh sedunia. Atau memang cara janjiku ini aneh? Persis seperti anak kecil yang berjanji dengan anak kecil lain atau dengan orangtuanya.
"Janji Kelingking oppa. Jika kau menautkan kelingkingmu dengan kelingkingku, kau tidak akan melanggar janjimu, namun, jika kau melanggar janjimu, kelingkingmu akan ku patahkan." Aku menjelaskan kepada Kris oppa. Dan berharap Kris oppa ini mengerti tentang penjelasanku ini.
"OOHH! Janji!" Kris oppa berujar, dan untungnya mengerti penjelasanku itu. Lalu menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingkingku yang masih terankat di udara. Tepat di depan wajahnya.
"Ingat oppa, jika kau melanggar janjimu, aku sendiri yang akan mematahkan kelingkingmu, oppa. Remember!" aku mengingatkan Kris oppa lagi. Siapa tahu nyalinya akan ciut aku bilang akan mematahkan kelingkingnya, kan?
"Ne, Baekki sayangku" Kris oppa tersenyum idiot menggelikan.
"Jadi, aku boleh masuk KAAAN?" lanjutnya lagi dengan mulut mengaga lebar. Ingin sekali aku menyumpalnya dengan bantal.
"Iya, iya. Tapi jangan teriak atau norak, okay?" aku memperingatinya kali. Berantisipasi karena memang kamarku bentuknya seperti itu(?)
"Ne." Kris oppa menjawab SANGAT singkat.
Aku minggir beberapa langkah ke kanan, memberi space untuk Kris oppa yang memiliki badan seperti raksasa, agar dia bisa masuk ke wilayah-sangat-pribadi ku yang kecil ini.
-BAEKHYUN POV END-
-KRIS POV-
Baekhyun seperti minggir beberapa centi ke sebelah kanan. Maka dari itu aku langsung masuk dengan wajah cool dan tidak akan, apa? Norak? Haha tidak ak—
"Mana mungkin lah, Baekkie, aku bisa norak dan berteri—WAAH! AMAZING BAEK!"
Oh tuhan. Demi tuhan dan demi Luhan, aku tidak mengerti kenapa kamar Baekhyun bisa menjadi seperti ini. Kalian tahu, ini sangat... bagus? Ya, memang bagus se ka li. Kalian jika memasuki kamar ini juga akan terbengong.
Aku masuk ke dalam dan melihat sekeliling kamar Baekhyun yang bernuansa warna putih, pink, ungu, dan ada sedikit warna hitam di sana. Baekhyun sendiri dulu yang bilang akan mendekorasi kamarnya sendiri.
Dan kalian akan lebih terkejut lagi karena kalian akan menemukan kertas kertas warna warni tergantung dengan seutas tali kulit yang ada di atas kepala kalian.
Dan apa lagi jika kalian melihat apa isi kertas itu! Oh, kalian akan menganggap Baekhyun yang agak ... bolot(?) ini adalah orang yang sangat sangat super genius! Bagaimana tidak? Di kertas itu, berisi beberapa huruf yang berbeda.
Makhsudku, itu, seperti ada huruf korea, abjad biasa(?), chinese tradisional dan simple, rusia, jepang, dan banyak lagi! Belum lagi kalian akan melihat deretan angka satu dan nol yang lumayan panjang di sana.
Di atas kepala kasurnya, disana tergantung bingkai foto keluarga yang cukup besar. Di sana, ada aku, eomma, appa, dan Baekhyun di sana. Di sampingnya, ada foto, yang kuyakin jepret-an pertama Baekhyun saat menjadi model. Di sisi lain, ada fotoku dan Baekhyun yang sedang melakukan photoshot keluarga saat itu.
Mungkin, jika bukan tepukan seseorang –yang pasti itu adalah Baekhyun—tepat di pundakku, aku tidak akan sadar atas kekagumanku pada seisi kamar milik Byun Baekhyun ini.
"Terpesona dengan kamarku? Tidak norak dan tidak berteriak? Hahaha" Baekhyun mengatakannya lalu tertawa buat di hadapanku.
"Tertawalah sepuas yang kau mau Baekhyun!" entah kenapa Baekhyun malah berhenti tertawa, lalu duduk di tepian ranjang king size miliknya.
Aku berfikir, untuk apa Baekhyun memiliki kasur king size tapi, toh, dia hanya memakainya sendirian.
"Darimana kau belajar semua ini, Baek?" tanyaku masih memandangi seisi kamarnya.
"Otodidak*! Kan aku pintar" ucapnya bangga.
"Cih. Kepedean!" aku mendengus kesal pada adikku ini. "Darimana belajarnya? Kau menguasai semua bahasaya? Daebak!"
"Hahaha" dia tertawa dengan sangat tidak anggun nan elit sekali. Mulutnya terbuka lebar lebar. "Belajar dari internet. Aku hanya tahu dan hafal huruf hurufnya saja, tapi, untuk bahasa, aku belum berniat untuk mempelajari. Hehe"
Hah?! Ku kira Baekhyun menguasai bahasanya juga ternyata tidak. Dasar, Byun Baekhyun. Gajadi bilang dia genius, deh? Eh, dia juga masih dibilang genius deh. Buktinya dia bisa mengingat segitu banyaknya huruf di sana.
"Ku kira kau benar menguasai bahasanya. Dasar!" ucapku lalu bejjalan ke arah meja belajar Baekhyun.
"Hehehe" Baekhyun hanya cengir cengir saja.
"Oppa" panggilnya lagi padaku. Aku menoleh malas dan hanya bergumam.
"Kau kan pandai berbahasa China, mau tidak membantuku?" tanyanya dengan puppy eyes nya yang mematikan itu.
"Kau mau buat apa memangnya, hm?" tanyaku. Menjauh lagi dari meja belajarnya.
"Bantu aku membuat surat" jawabnya pendek. Aku tertawa keras.
"Kenapa kau tertawa, eoh? Apa salah aku mengirimi pria yang sedang kusukai dengan sebuah surat?" tanyanya. Aku mengendalikan aaku hingga berhenti.
"Iya, iya. Mau di kalimat yang mana yang akan aku translate ke bahasa China?" tanyaku mendekatinya.
Dia menyodorkan secarik kertas padaku. Aku mendengus geli. Pasalnya, orang sedang adikku sukai ini menurutku adalah orang idiot yang sedang menyukainya juga.
Aku pun mengambil pensil dan menuliskannya di di bawah tulisan berbahasa korea itu,
早上好燦烈!祝你今天愉快!(( good morning Chanyeol! Have a nice day! ))
Setidaknya, itulah yang ku translate-kan. Lalu meledek Baekhyun.
"Jadi kau suka dengannya?" aku berkata lalu memberikan kertas itu pada Baekhyun kembali.
"Tulisanmu berantakan sekali, oppa. Untung kau menulisnya dengan pensil!"
"Masih bagus ku translate kan. Masih protes lagi" ucapku kesal padanya.
"Yaya." ucapnya pendek.
Lalu, aku berjalan ke arah meja belajat Baekhyun, lalu merunduk di depan meja belajar Baekhyun, merunduk untuk mengambil sesuatu di sana. Buku tebal dengan cover bertuliskan 'My Happy Family'. Aku sudah tau isinya. Pasti itu adalah fotoku di masa kecil bersama keluarga baruku ini.
Aku membawa buku itu lali duduk di samping Baekhyun, di tepian kasur king size miliknya.
Aku membuka lembar pertama buku itu. Di sana, ada aku yang sedang bermain dengan Baekhyun di ruang keluarga. Lalu, ada foto kami satu keluarga sedang berpiknik di taman di musim semi.
Aku dan Baekhyun terus melihat lihat isi album foto itu. Sesekali kami saling meledek, karena wajah kai di sana terlihat sangat lucu, atau aib, atau menggelikan.
Lalu, di paling pelakang album foto ini, aku menemukan foto keluarga –super lengkap—kami. Di sana, ada empat orang dewasa, satu orang anak kecil, dan satu bayi yang ada di dalam gendongan seorang wanita dewasa bermata sipit.
Aku hampir menangis melihat wajah dua orang dewasa lain di belakang dua orang dewasa yang duduk di sampingnya.
Di sana, aku duduk di tengah tengah, di antara keluarga Byun dan dua orang dewasa, yang sepasang suami istri lainnya di sana.
Di paling ujung sebelah kiri, ada seorang pria dewasa dengan wajah ke barat baratan, ia adalah ayahku. Ayah biologisku.
Di sampingnya, ada ibuku yang duduk bersebelahan dengan ku.
Di sampingku, ada eomma yang sedang menggendong Baekhyun. Dan di samping eomma, ada appa yang tersenyum di sana.
"Aku tidak pernah tau siapa mereka berdua" Baekhyun menunjuk kedua orangtuaku bergantian dengan telunjuknya. "Sepertinya, kau tahu siapa mereka"
.
.
.
=TBC=
.
.
.
;; otodidak atau autodidak (dari bahasa Yunani autodídaktos = "belajar sendiri") merupakan orang yang tanpa bantuan guru bisa mendapatkan banyak pengetahuan dan dasar empiris yang besar dalam bidang tertentu. Mereka mendapatkan pengetahuan tersebut dengan belajar sendiri. ( sumber : : / / id. wikipedia wiki / Otodidak ) hilangkan spasi dan tambahkan http di depannya
Ehehe. Maaf ya, guys sebelumnya, atas keterlambatan update ff ini '-' karena sesuatu yang buruk menimpa saya. /abaikan.
Flashdisk ku ke format dan disitu ff ini tinggal di publish doang T_T terus, aku lagi banyak banget acara ._.
GIMANA?! Udah banyak belom kaihunnya? Terus ChanBaeknya malah sedikit huhu. Maaf ya, mungkin chapt depan juga bakalan sedikit doang chanbaeknya ._.
Terus, sekedar promosi aja, aku ada satu ff yang baru di publish semacem teasernya aja(?) judulnya gang bang. Kalian pasti tau apa itu gang bang kan._. nah. Di sana, itu ff Chanbaek slight Hunkai. Baekhyun ketua club malam yang isinya kebanyakan adalah kaum gay, punya tradisi kalau setiap namja yang statusnya adalah SEME atau DOMINAN itu harus di masukin dulu. Dan begonya, Chanyeol yang polos teramat polos sangat sekali(?), dan gatau soal tradisi itu, mau mau aja di ajak seorang Sehun kesana. Jadi kalian tau kan, apa yang terjadi sama Sehun pas bergabung di club itu? :)) terus, pas tradisi dimulai, dan Chanyeol hampir dimasukin ahjussi mesum, Baekhyun datang. Buat semua orang diam. Dan Baekhyun bilang kalau Chanyeol gaboleh disentuh, apalagi dimasukin :)) baca nde^_^
Kamshahamnida chingu-deul^_^
