"Orang itu mirip denganmu." Laki-laki itu duduk di samping Sakura. Laki-laki itu teman sekelas tepat duduk di sebelahnya.
Sakura menunjuk foto dan dirinya sendiri, "Aku? Memang seharusnya begitu. Dia Ibuku." Sakura melihat laki-laki di sampingnya hanya diam, "Kau merasa aneh melihatnya Sasuke-kun?" Sasuke menggeleng pelan.
"Tidak. Dia juga terlihat berisik sepertimu." Sakura merengut kesal mendengar ucapan Sasuke, "Kau kesal padaku?" tanya Sasuke.
"Tidak. Aku sudah terbiasa dengan sifat anehmu." Sakura kembali menyimpan foto mendiang Ibunya, "Kaa-san adalah seorang produser acara TV terkenal. Tapi aku tidak akan pernah bisa melihat Kaa-san melakukan pekerjaannya." Sasuke meliriknya.
"Lalu apa impianmu?"
Sakura berpikir sebentar, "Impianku? Reporter." Sakura melambaikan tangannya ketika melihat Naruto. Terdengar jelas jika Naruto meneriakkan nama Sakura.
"Tidak buruk." Gumam Sasuke.
Teman Lama
.
.
.
Teman Lama
Disclimer : Om Masashi Kishimoto
Author : Hanna Hoshiko
Pairing : Sasuke U. Sakura H.
Rated : T+
Genre : Romance/Drama/Friendship
.
.
.
Warning!
Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author
Cerita ini akan update setiap hari Rabu, jika ada keterlambatan harap menunggu karena itu berarti author sedang sibuk di RL.
Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.
.
.
.
Don't Like Don't Read
.
.
.
Mempersembahkan
"Begini. Seminggu lagi kita akan mendapatkan reporter baru, ia pernah menjadi reporter di stasiun TV swasta New York. Kalian mengerti?!" Anko berteriak pada anggota timnya.
"Tunggu Kap!" Deidara mengangkat tangannya tinggi, "Apa dia cantik?" aih, dia selalu menanyakan hal tidak berguna saat rapat meski ia seorang reporter yang tergolong jenius.
Anko memijit dahinya pelan, "Oi Deidara. Apa kau harus bertanya itu saat rapat?!" Anko bukan seorang wanita bertempramen rendah. "Hinata kau bisa membantunya beradaptasi nanti."
"Apa dia kebangsaan Jepang Anko-san?" Anko mengangguk pelan, "Serahkan padaku." Jawab Hinata pelan.
"Kap! Apa dia akan menjadi Juniorku?" semua mata melihat ke arah Konohamaru. Ia orang baru yang berhasil kembali dari masa trainee.
Anko menunjuk Konohamaru dengan telunjuknya, "Dia lebih berpengalaman darimu. Jangan bermimpi!" dan itu mengakhiri semuanya.
.
.
.
Hijau hitam?
.
.
.
"Sayang apa kau perlu minum? Aku akan mengambilkannya!" teriak seorang wanita berambut merah maroon. Lihat ia berjalan dengan hanya memakai jubah mandi.
Pria itu memegang kepalanya, "Ah! Kepalaku sakit sekali. Sara bisa kau mengambilkanku air putih saja." Wanita itu datang dengan segelas air putih di tangannya. Pria itu tersenyum melihat wanita di hapadannya.
"Sasuke-kun kau tidak bisa membiarkanku tidur tenang meski hanya semalam." Pria itu menggeleng pelan kemudian mencium wanita itu singkat.
Sasuke bangkit, "Apa kau memiliki jadwal syuting hari ini?" Sasuke mulai melangkah menuju kamar mandi, membiarkan wanita itu melihat tubuh telanjangnya sekali lagi. Mereka sudah terbiasa seperti ini.
"Tidak. Mungkin hanya syuting iklan dan setelah itu ada pemotretan, aku belum mengecheknya Sasuke-kun. Memangnya ada apa?" Sara mulai memunguti semua pakaian mereka yang berserakan. "Sasuke-kun?" panggil Sara lagi karena merasa tidak ada lagi jawaban.
Hanya bunyi air turun ke lantai, "Tidak ada." Sara sudah memakai pakaiannya lengkap, memoles wajahnya dengan berbagai kosmetik andalannya. "Apa gosipmu dengan Kabuto belum reda?" tanya Sasuke lagi.
"Apa kau tidak melihat TV Sasuke-kun? Para reporter itu menyebalkan. Tapi kupikir gosip itu sudah terlupakan." Sasuke keluar dengan hanya mengenakan handuk di pinggangnya. "Kau tidak berpikir mengakhiri hubungan ini 'kan?" tanya Sara dengan sedikit ragu.
Sasuke memakai pakaiannya, "Belum." Ia mulai memakai sepatunya, "Aku mendapatkan jadwal pemotretan di Hokkaido. Modelnya Ino." Sara melirik tajam ke arah Sasuke.
"Ino bukan pesaingku Sasuke-kun."
.
.
.
Hijau hitam?
.
.
.
"Apa kencan butamu minggu lalu sukses Naruto? Ceritakan padaku bagaimana gadis itu. apa dia menarik? Apa dia seperti Ino? Apa dia tomboy? Apa dia sepertiku? Hei ketika kau membalas suratku kau harus menceritakannya. Ingat jangan sampai lupa. Aku begitu sibuk di sini begitu banyak berita yang harus kuliput, setiap hari harus di kejar deadline tapi aku menikmatinya. Jika aku kembali ke Tokyo berikan aku makanan terenak di restauranmu hm? – Sakura Haruno."
Naruto tersenyum melihat kiriman surat dari bisa dibilang cinta pertamanya. Sudah berapa tahun mereka terpisah dan hanya berkirim surat seperti ini, tapi ia tidak bisa melupakan perempuan itu, tiap kali mengingatnya ia selalu ingat tentang bagaimana Sakura membantunya lari dari kejaran preman, "Naruto ini laporan akhir bulan ini." Naruto melihat sekretarisnya dengan wajah ceriah.
"Tidak buruk." Gumam Naruto. Ia kembali terfokus pada surat di tangannya.
"Sakura? Apa yang dia katakan." Naruto memberikan juluran lidah pada sekretarisnya. Tidak ada yang boleh tahu isi surat Sakura padanya karena itu adalah rahasia yang akan ia simpan sendiri.
"Temari-nee ini rahasia. Kau tahu rahasia?" wanita itu merengut kesal, "Jika kau tidak tahu aku akan meminta Shikamaru untuk mengajarimu. Dia pintar bukan?" Naruto terkekeh pelan setelah mendengar pintu ruangannya terbanting.
Naruto melihat ponselnya, "Sakura-chan kau tahu aku selalu pensaran dengan wajahmu saat ini." Ia mengambil kertas serta pulpen. "Kuharap ini surat terakhir yang ku kirim padamu. Aku ingin bertemu denganmu bukan tulisanmu."
.
.
.
Hijau Hitam
.
.
.
Sakura membalik majalah di tangannya, ia tersenyum melihat profil seseorang di sana. "Sasuke Uchiha." Gumamnya pelan.
"Sa-kura?" ia menutup majalahnya ketika melihat salah satu teman lamanya. Lebih tepatnya sahabat perempuannya, "Kau benar-benar Sakuraku?" ia terkekeh melihat reaksi sahabatnya. Terutama saat melihat rambutnya.
"Apa sepuluh tahun merubahku menjadi orang lain Pig?" tanpa kata apapun lagi Sakura mendapatkan pelukan gratis di hari pertamanya berada di Tokyo.
"Forehead aku merindukanmu." Ino melepaskan pelukannya, "Hei di mana rambut pinkmu? Aku tidak bisa mengenalimu tahu." Sakura melihat Ino, sahabatnya itu sudah menjadi model terkenal yang wajahnya selalu masuk dan keluar majalah berkelas.
Sakura menyimpan majalahnya, "Aku mengecatnya. Ini tidak permanen mungkin dua bulan lagi akan hilang. Aku sering melihatmu di majalah." Meminum jusnya sebentar, "Kau pasti tahulah Sora-nii menjadi Manager di salah satu majalah terkenal."
"Aku pernah mendengar itu dari managerku. Apa dia semakin tampan?" Ino tidak terlihat berubah. Perempuan itu masih saja sama seperti dulu.
"Kau masih mengidolakannya? Bahkan sudah sepuluh tahun berlalu." Sakura kembali terkekeh pelan melihat Ino tersenyum malu-malu.
"Aku tidak mengidolakannya. Aku menyukainya sekarang." Ino terkekeh pelan, "Terkedang di sela pemotretanku aku sering mencoba menghubunginya. Dia selalu membalas pesanku. Itu membuatku senang, sayangnya aku masih belum sempat bertemu dengan Sora-kun. Dia ikut pulang bersamamu 'kan?"
Sakura menggeleng pelan, "Sora-nii pulang bulan depan. Dia harus menunggu semua suratku." Ino terlihat kecewa.
"Kau masih berkirim surat? Padahal kau mempunyai ponsel. Sudah bertemu dengan Naruto?" raut kecewa Ino menghilang dengan cepat terganti dengan raut penasaran.
Lagi-lagi Sakura menggeleng, "Restoran ini miliknya bukan? Aku berharap bisa bertemu dengannya tapi kurasa saat ini bukan waktu yang tepat. Aku lebih berharap bertemu denganmu."
"Kau yakin?" Sakura mengangguk, "Kau tidak ingin bertemu dengan Sasuke?"
.
.
.
Hijau hitam?
.
.
.
Sasuke membuka amplop itu, "Kau penasaran dengan wajahku Sasuke-kun? Hei sekarang aku lebih cantik. Kau tidak akan bisa mengejekku lagi. Apa kau menikmati pekerjaanmu? Kuharap iya. aku selalu melihatmu masuk majalah. Meski bukan artis atau model kau cukup terkenal di Jepang, dan satu hal lagi aku ingin bertemu denganmu – Sakura Haruno." Sasuke memandang amplop tersebut.
"Aku juga Sakura." Ia tidak memiliki jadwal seharian ini. Jadi ia memilih untuk jalan-jalan sebentar, mungkin duduk di taman ada bagusnya juga pikir Sasuke.
Ada berjuta pertanyaan yang ingin Sasuke tanyakan pada perempuan itu, "Bagaimana kabarmu Sakura?" ia melihat ponselnya yang bergetar, terdapat satu pesan di sana. Itu kekasihnya.
"Sasuke-kun kau ada di mana? Apartemenmu kosong. Bukankah kau kosong seharian! – Sara." Tanpa berniat membalas Sasuke menutup pesan tersebut. Ia bukan lagi Sasuke yang dulu. Nyatanya dunianya berubah.
"Sakura?" ia menatap pada perempuan yang sedang membaca majalah tepat persis duduk di sebrangnya. Tapi itu bukan Sakura, rambut Sakura tidak akan hitam pekat seperti itu. rambut gadis itu selalu mengingatkannya akan pohon sakura berjalan.
Dalam diam Sasuke masih saja melihat perempuan itu, diam dan terus membolak-balikkan halaman majalah yang tengah perempuan di sebrangnya baca. Tidak ada niat untuk Sasuke mengalihkan perhatiannya. Ia begitu penasaran akan orang tersebut, tiba-tiba saja perempuan itu mendongak. Melihatnya dengan mata emerald-nya. Persis sama dengan milik Sakura. "Apa anda seorang stalker tuan?" perempuan yang ia rindukan.
.
.
.
To be Continued
A/N :
Akhirnya akhirnya! Sudah selesai. Untung bisa tepat waktu aku hahahaha XD mind to review?
Balasan Review :
Suket alang alang : maklumlah prolog ye. Terima kasih udah review
Sayaka haruchan : Yup! Betul sekale. Terima kasih udah review
