Sakura mengeratkan mantelnya, "Kau akan pergi Sakura?" Sakura hanya bisa terdiam. Terlalu sulit untuk Sakura menjawabnya. Taman kota juga terasa sangat sepi.
"Sepertinya begitu Sasuke-kun. Kami semua akan pindah ke New York." Sakura melihat laki-laki itu kecewa, "Maaf." Hanya kata itu yang bisa ia ucapkan dari dalam hatinya.
"Tidak bisakah kau tetap tinggal." Ingin sekali Sakura menangis saat ini. Tapi ia tidak bisa menunjukkannya pada Sasuke.
Sakura menggeleng pelan, "Maaf. Aku tidak bisa tinggal di sini sendirian. Aku dan Sora-nii akan kuliah di sana," Sakura melepaskan syal rajutnya, "Kau pasti bisa sukses. Kau jenius bukan." Melilitkan syal rajutnya tersebut pada Sasuke.
"Apa..." Sasuke menggenggam tangan Sakura. "Apa jika Naruto yang menghentikanmu. Kau tetap tinggal?" Sakura tersenyum lemah.
"Tidak. Aku tetap akan pergi." Sakura melepaskan genggaman Sasuke, "Itu pilihanku Sasuke-kun. Maafkan aku." Sakura memeluk Sasuke.
Sasuke membalas pelukan Sakura padanya, "Jaga dirimu."
Teman Lama
.
.
.
Teman Lama
Disclimer : Om Masashi Kishimoto
Author : Hanna Hoshiko
Pairing : Sasuke U. Sakura H.
Rated : T+
Genre : Romance/Drama/Friendship
.
.
.
Warning!
Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author
Cerita ini akan update setiap hari Rabu, jika ada keterlambatan harap menunggu karena itu berarti author sedang sibuk di RL.
Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.
.
.
.
Don't Like Don't Read
.
.
.
Mempersembahkan
Sakura menguncir rambutnya tinggi-tinggi, "Perkenalkan namaku Sakura Haruno. Aku pernah menjadi reporter di New York karena alasan keluarga aku memutuskan kembali ke Jepang. Kuharap semuanya bisa menerimaku dan mengajariku, salam kenal!" Deidara masih tidak percaya dengan perempuan di depannya.
"Tunggu Haruno? Margamu Haruno. Kau kenal Mebuki Haruno?" Sakura terkekeh pelan mendengar pertanyaan seniornya. Kemudian mengangguk pelan.
"Dia Ibuku Deidara-senpai. Apa ada yang aneh?" terlihat seniornya itu semakin terkejut mendengarnya.
Deidara menunjuk Sakura, "Kau anaknya?! Wow mengejutkan. Ini hebat." Deidara memperhatikan wajah Sakura dari dekat, "Hei! Dia cantik. Panggil saja aku Deidara manis."
Buk! Dengan kejam Anko memukul kepala Deidara dengan majalah yang digulung, "Perhatikan ucapanmu Deidara." Anko tersenyum manis pada Sakura, "Salam kenal Sakura. Panggil saja aku Anko. Aku kapten di sini. Tapi bukankah rambutmu merah muda?" Sakura melihat ke arah rambutnya.
"Saat di New York aku sedikit tidak nyaman dengan warna itu." ia tertawa pelan melihat Deidara yang masih mengelus kepalanya, "Senang berkenalan dengan anda Anko-san." Sakura berojigi.
Anko mengangguk, "Aku juga. Kuperkenalkan dia Hinata," Anko menunjuk Hinata yang sedang terfokus pada laptop di depannya. "Dan dia kau sudah mengenalnya tadi. Deidara. Kuharap kau berhati-hati dengannya Sakura, pada timku kita mempunyai sembilan orang reporter termasuk aku. Ada Konan, Konohamaru, Hinata, Deidara, Nagato, Sasori, Ten-ten, aku dan kau. Mengerti?" Sakura mengangguk mengerti.
"Jadi siapa yang akan menjadi pembimbingku?" dengan wajah berseri-seri Deidara menatap ke arah Anko.
"Tentu saja akukan Kap!" ucap Deidara dengan girang.
"Yang pasti bukan dia," menunjuk ke arah Deidara, "Hinata yang akan membimbingmu selama seminggu ke depan. Kurasa kau sudah paham betul tugasmu."
Sakura merapikan pakaiannya, "Percayakan padaku."
.
.
.
Rival
.
.
.
Sasuke melihat lagi isi foto di dalam kameranya, "Tidak buruk. Kupikir Ino lumayan." Ia terus saja melihat tubuh Ino yang terpampang dengan gaya seksi. Ia seorang pria normal jadi wajar saja.
"Deidara bisa kau tidak berteriak kepadaku. Aku sedang menenangkan pikiranku untuk menyusun laporan berita hari ini." Sasuke mengalihkan perhatiannya pada perempuan yang duduk di sebrangnya. Perempuan yang sama. Dan di tempat yang sama. Taman kota.
"Berhenti mengajakku kencan. baiklah. Aku akan mentraktirmu ramen bagaimana? Un aku tutup." Perempuan itu menatap ponselnya dengan kesal, Sasuke hanya terus memandanginya, "Dasar. Aku harus mulai menyusun laporannya. Aish kenapa hari ini begitu dingin." Perempuan yang Sasuke tidak tahu namanya itu mengeluarkan sebuah syal dari dalam ranselnya.
Perempuan itu melirik ke arahnya, "Oh! Tuan Stalker kau ada di sini juga. Senang bisa bertemu denganmu lagi." Sapa perempuan itu dengan ceria. Tapi Sasuke bahkan tidak menggubrisnya. Ia tengah menatap syal yang tengah dipakai perempuan itu. "Ada yang salah padaku Tuan Stalker?"
"Syal itu darimana kau mendapatkannya?" tanya Sasuke dengan suara datar.
"Syalku?" perempuan itu menunjuk syal yang dipakainya, "Aku merajutnya sendiri. Aku dulu mempunyai dua tapi yang satu kuberikan orang lain." Sasuke terdiam sesaat sedangkan perempuan itu melanjutkan pekerjaanya.
"Boleh aku bertanya Nona?" tanpa menjawab perempuan berambut hitam itu mengangguk pelan dengan terus menatap layar laptopnya. "Kau tinggal di Tokyo?"
Perempuan itu melihat Sasuke, "Sekarang aku tinggal di Tokyo tapi beberapa tahun lalu aku menetap di Amerika. Kau terlihat seorang yang terpelajar tuan Stalker, kau masuk fakultas apa?"
"Bisnis. Apa pekerjaanmu? Kau terlihat lumayan sibuk." Sasuke terus saja melihat ke arah depan, memandang semua gerak-gerik perempuan di depannya.
"Kau sama seperti kakakku. Dia juga masuk fakultas bisnis, kurasa fakultas itu sedikit membosankan. Aku seorang reporter, jadi apa pekerjaanmu?" perempuan itu terus mengajukan pertanyaan balik pada Sasuke.
Sasuke memasukkan kameranya ke dalam tas, "Fotografer. Apa itu benar warna rambutmu?" perempuan itu berhenti mengetik kemudian tersenyum padanya.
"Tunggu sebentar." Perempuan itu melihat ponselnya, "Kubilang jangan menelponku lagi bodoh! Kau tidak mendengarkanku?! Apa?! Kau ada di mana? Baiklah aku segera ke sana." Perempuan itu menutup telponnya dan tergesa-gesa merapikan semua berkas dengan memasukkannya ke dalam ransel. Sasuke terus terdiam melihatnya, perempuan itu melangkah pergi tapi setelah empat langkah perempuan itu berhenti dan menoleh ke arah Sasuke, "Tuan Stalker kau bertanya warna rambutku bukan? Jawabannya tidak." Perempuan itu mengedipkan sebelah matanya ke arah Sasuke.
.
.
.
Rival
.
.
.
Sakura menghembuskan nafas lega, "Akhirnya selesai. Liputan ini akan menjadi penampilan perdanaku di Jepang, kau yakin aku tampak cantik di sana Yahiko?" Sakura mengeluarkan syal kesayangannya. Ia juga menguncir rambutnya yang semula ia biarkan terurai.
"Sakura kau terlihat hebat. Apa kau seorang profesional di Amerika?" Yahiko melihat hasil liputan yang dibawakan Sakura tadi. Memang bukan sebuah laporan berita berat hanya laporan berita pembukaan jalan tol.
"Sakura-chan kau terlihat cantik. Kenapa kau menguncir rambutmu lagi?" Hinata berjalan ke arah Sakura yang masih tetap berdiri di tempatnya. Sudah hampir seminggu Hinata melakukan semua kegiatan bersama Sakura.
Sakura tersenyum ke arah Hinata, "Dulu rambutku pendek karena sekarang panjang aku lebih suka menguncirnya. Semua bagaimana jika kita makan dulu? Aku akan mentraktir kalian semua untuk on screen pertamaku." Yahiko langsung memandang Sakura takjub.
"Kau tidak berbohongkan Sakura?" Sakura mengangguk pelan, "Wah! Aku sangat beruntung hari ini." Ucap Yahiko membuat Hinata tertawa pelan.
Sakura membawa mereka masuk ke restoran ternama. Sebenarnya itu restoran milik Naruto, Yahiko terlihat sangat bersemangat terutama saat menatap harga makanan yang tertera. "Sakura-chan kau sering mengajakku ke sini. Apa alasanmu aku ingin tahu?" tanya Hinata dengan memandang Sakura ceria.
"Ini restoran milik teman lamaku. Mungkin jika aku ke sini aku dapat bertemu dengannya, dia tampan." Gurau Sakura pada Hinata. Sakura mengambil ponselnya kemudian menunjukkannya pada Hinata.
Hinata mengedipkan matanya beberapa kali, "Sakura kau tidak lihat dia terpesona dengan temanmu itu?" ucap Yahiko membuat Hinata menatapnya kesal.
"Jika aku bertemu dengannya aku akan mengenalkannya padamu Hinata. Ayo kita makan aku lapar!" membeli makanan untuk mereka bertiga bukan hal yang besar untuk Sakura. Ia bersyukur mereka bisa berteman baik dengannya.
Hinata memasukkan ponselnya, "Kita harus segera pergi. Kapten akan segera mengadakan rapat." Sakura mengangguk dengan mengenakan syalnya lagi. Yahiko? Terlihat kecewa melepas makanannya yang masih tersisah banyak.
"Aku membencimu Anko." Gerutu Yahiko. Ia mengelap mulutnya dengan tisu. Mereka pergi dengan tergesa-gesa.
Laki-laki itu terdiam setelah melangkah masuk ke dalam restoran, "Sakura?" laki-laki berambut kuning itu menoleh ke belakang tapi perempuan yang berpapasan dengannya berambut hitam. "Apa aku begitu merindukannya. Dasar bodoh."
.
.
.
Rival
.
.
.
TV masih tetap menyala akan tetapi dua manusia itu sibuk berciuman, "Saya, Sakura Haruno dari HTC News." Ia berhenti melumat bibir wanita di pelukannya. Dengan wajah kaget ia melihat ke arah TV.
"Kenapa berhenti tiba-tiba Sasuke-kun?" ia tetap melihat TV yang menayangkan siaran berita tersebut. Di sana ia mendengar nama perempuan itu.
"Dia... sudah kembali." Sakura sudah kembali. Perempuan yang selama ini ia tunggu.
Sara melihat Sasuke yang masih terkaget, "Siapa? Kembali dari mana? Jelaskan padaku Sasuke-kun!" Sara mengapit lengan Sasuke. Tapi tidak ada reaksi berarti dari Sasuke. Pria itu tetap memandang TV.
Tok tok!
"Biar aku yang membuka." Sebelum Sara bergerak dari tempatnya dengan cepat Sasuke mencegahnya.
Orang yang mengetuk pintunya tadi adalah tukang pos yang selalu mengirim suratnya, "Sasuke-san ini suratmu. Semoga kau menikmati harimu." Pos berbaju biru itu pergi setelah mengucap salam padanya.
"Sasuke-kun bagaimana harimu? Apa kekasihmu cantik? Hei! Aku iri dengannya bisa mendapatkanmu. Tapi aku berharap kalian akan terus bersama, namanya Sara bukan? Dia model terkenal. Wajar bagimu mendapatkannya, dia model yang cantik. Sasuke-kun aku merindukanmu."
Sasuke meremas amplop surat yang berada di tangan kirinya, "Apa yang membuatmu takut memberitahuku jika kau telah kembali Sakura." Gumam Sasuke pelan, "Bahkan dia iri pada dirinya sendiri."
.
.
.
Rival
.
.
.
"Yo! Teme apa yang membuatmu ingin menemuiku?" Naruto mengakat satu tangannya ke atas. Mereka sudah bersahabat sejak lama, "Kau masih tetap bersama Sara?" mereka duduk berhadapan.
"Senang bisa bertemu denganmu Dobe." Sasuke terlihat tengah memikirkan sesuatu, "Kau merasakannya?" pertanyaan yang begitu ambigu keluar dari mulut Sasuke.
Naruto tertawa, "Merasakan apa? Kau selalu tidak jelas." Mata hitam Sasuke melihat tumpukan surat pada sisi meja kerja Naruto. Surat bercap bunga sakura.
"Sakura. Aku merasakan dia telah kembali." Naruto terdiam kemudian melirik surat yang berada di sisi mejanya.
Sasuke menaruh kedua tangannya di atas meja, "Sakura-chan tidak memberitahuku." Naruto terlihat kecewa, "Beberapa waktu lalu aku seperti bertemu seseorang yang mirip dengan Sakura-chan."
"Sepertinya dia sengaja tidak memberitahu kita. Aku selalu merasakannya berada di sekitarku." Sasuke memandang ke arah Naruto yang masih saja menatap surat-suratnya.
"Aku juga penasaran akan hal itu. dia pasti mempunyai alasan untuk itu Teme, mungkin saja Saku-" ucapan Naruto terhenti karena suara kursi yang terdorong. Sasuke berdiri dengan menatap Naruto sombong.
Sasuke mendekatkan wajahnya ke arah Naruto, "Kira-kira siapa yang akan menemukannya?" tanya Sasuke pelan, "Kita rival bukan?"
.
.
.
To be continued
A/N :
Melelahkan. Akhirnya selesai, mind to review minna-san?
Balasan Review :
Guest : okeh. Terima kasih udah review
Floral White : Salam kenal juga. Terima kasih udah review
