Bunga

2016

Wanda Grenada


Before that day


Sekolah berakhir jam 3 sore. seperti biasanya, hari itu Sakura langsung datang ke ruangan klub. sebagai anggota tertinggi di klub tentu ia harus menghangatkan ruangan tersebut. Selagi menunggu anggota lainnya datang biasanya Sakura sembari mengerjakan PR-nya. ia tidak ingin hal enteng semacam itu bisa membuatnya merasa terbebani oleh aktivitasnya sendiri.

Tapi Sakura tidak yakin akan ada banyak anggota klub yang datang. dari 12 orang anggota klub yang ada, kemungkinan yang datang biasanya tidak lebih dari lima orang. hanya beberapa saja yang benar-benar minat akan hal semacam ini. selebihnya... entahlah. bahkan dari 12 orang ini Sakura tidak pernah benar-benar melihat mereka berkumpul dan melihat masing-masing wajah dari nama-nama tersebut. yang ada hanya Sakura, Utakata, Shikamaru, Shiho, dan Shii.

Menyedihkan? tidak juga. malahan Sakura nyaman dengan jumlah yang sedikit itu. tidak berdebat dengan banyak pemikiran orang adalah salah satu cara agar masalah cepat terselesaikan.

Shikamaru yang paling sering absen, ia lebih memilih tidur, pastinya. satu alasan yang ia baca dari Shikamaru masuk ke klub ini adalah karena klub ini jarang ada kegiatan kecuali pada event tertentu. tapi ia bukan orang yang tidak berguna, ia malahan sangat membantu jika benar-benar dibutuhkan. Kemudian ada Shiho yang memang hobi memecahkan masalah, disamping keinginannya ingin mendekati Shikamaru. Shii orang yang senang mengungkapkan pendapat, biasanya pendapat itu juga mewakili pendapat banyak siswa. Utakata adalah orang yang teliti dan detail, ia sering menjabarkan penjelasan yang diberikan Shikamaru.

Walaupun sedikit, tapi klub ini lengkap. Klub ini tidak ingin jumlah kalau hanya menghambat kinerja

Sakura dan Shiho duduk bersebelahan, dan Shii duduk agak jauh diujung meja. Hari itu hanya 3 orang yang mengisi ruangan klub. Sakura, Shiho, dan Shii. Shikamaru seperti biasa, sedangkan Utakata izin pulang cepat karena suatu alasan. Mereka bertiga sibuk dengan urusannya masing-masing. Sakura dengan tugasnya, Shiho yang berubah menjadi stalker time-line Shikamaru, dan Shii yang sibuk bergulat dengan buku TTS-nya.

Hal itu terjadi sampai ketukan pintu diikuti dengan suara penuh semangat ala Guru Gai. Mereka bertiga langsung mengerahkan atensi dan meninggalkan aktivitas egoisnya masing-masing.

"Masuk" ujar Sakura

Guru kepala di bidang olahraga itu masuk diikuti dengan Ms. Mei terumi selaku kesiswaan. "Selamat sore semua" Dengan cengiran khasnya, Guru bernuansa hijau itu menyapa ketiga orang disana.

"Selamat sore," Sakura berdiri kemudian membungkuk. begitu juga dengan kedua temannya. "Silahkan duduk, Sensei"

Mereka berdua duduk di kursi yang telah dipersiapkan untuk para Tamu yang berada tepat di depan meja mereka.

"Kami datang untuk sebuah permintaan" Tanpa basa-basi Gai-sensei memulai alasan mainstream yang sudah diketahui mereka bertiga. memang apa yang mau dilakukan orang repot-repot datang ke klub Relawan kalau bukan untuk meminta sebuah bantuan?

"Tentu, apa yang bisa kami bantu?"

"Ini tentang Festival olahraga," Jawab Mei-sensei "Bertepatan dengan Classmeeting. Inginnya kami melaksanakan ini sekaligus, tapi rasanya agak sulit, ya?"

Sakura mencoba membaca keadaan, "Classmeeting identik dengan Olahraga, sedangkan festival Olahraga juga akan dimulai. Tidak mungkin kita membuat mereka terfokus pada satu hal yang sama dijalan yang berbeda"

"Lagipula, dalam satu kelas ada bermacam ekskul Olahraga, kan? Mereka pasti akan lebih terfokus pada Festival olahraga dan ekskul mereka masing-masing daripada 2 pertandingan olahraga yang disediakan classmeeting. anak perempuan voli, anak laki-laki futsal." Tambah Shiho

"Itu benar. kami ingin mereka tetap ikut dalam festival olahraga namun tidak meninggalkan prinsip kerjasama" Mei-sensei menghela nafas "Maka dari itu kami meminta bantuan kalian"

Alis Shiho menyatu selagi ia berpikir kemudian berucap,"Bagaimana kalau lomba kebersihan kelas?"

"Aku mengharapkan sesuatu yang lebih dari itu," Shii mendebat kata-kata Shiho yang kedengaran membosankan

"Ya, tapi kalau kita membicarakan tentang hal kerjasama, itu pilihan yang tepat." Balas Shiho lagi

"Dibandingkan dengan classmeeting yang biasanya, itu tidak menarik sama sekali."

"Kita sedang membicarakan tentang kerjasama disini."

Melihat perdebatan sengit dari 2 orang berambut pirang itu, Mei-sensei menghela nafas lagi "Sepertinya ini tidak akan selesai dengan cepat, ya? aku dan Gai masih harus rapat hari ini. kuserahkan ini pada kalian" Mereka berdua kemudian berdiri dan menuju pintu keluar. setelah pintu tertutup, barulah mereka melanjutkan obrolan tentang tugas baru mereka.

"Sesuatu yang berhubungan dengan kerja sama, ya?" Shii kemudian menautkan tangannya di dagu

"Kita harus membicarakan ini pada Shikamaru dan Utakata" Ujar Sakura lagi setelah ia berpikir keras dan sama sekali belum menemukan jawabannya. Mungkin ini efek kelelahan yang ia rasakan setelah latihan volly-nya tadi.

"Kenapa kita harus selalu menggantungkan keputusan pada mereka?" Shii sedikit meninggikan suaranya berupaya protes pada Sakura. Ia menatap Sakura tajam seakan menantangnya.

Hening. Tidak ada yang bicara lagi setelah kata-kata tajam yang diiringi tatapan yang sama tajamnya dari Shii. Dalam hati Sakura merasa bersalah juga, Mungkin kata-katanya menyinggung Shii. bukan hanya Shii saja, Shiho bisa jadi tersinggung tapi tidak berani mengungkapkannya seperti yang dilakukan Shii.

Sakura sadar, bicaranya yang seperti itu seakan-akan ia menganggap remeh mereka berdua dan seakan lepas tanggung jawab sebagai seorang ketua. ia menelan ludah sebelum ia bicara. "Tidak, bukan begitu, maksudku.. kita harus memberitahukan hal ini pada mereka juga, iya kan?"

Masih hening. Shiho sebagai teman yang sama-sama perempuan bukannya membantu Sakura keluar dari situasi ini dan membuat Shii terhindar dari salah paham tapi malah lebih memilih bermain dengan Gadgetnya. Ia tau Shiho juga bingung menghadapi situasi ini, tapi Sakura tidak menyukai cara yang diambil olehnya. mungkin ia juga tersinggung dengan kata-kata yang Sakura keluarkan tadi dan ia lebih mendukung Shii dengan cara diam dan cari aman.

Sakura merasa terintimidasi secara verbal sekarang.

"Bukan maksudku meremehkan kalian, tapi aku sendiri juga sedang kalut hari ini.." Ia menunduk sambil melepaskan rasa lelah yang sedaritadi ia sembunyikan.

"Aku tidak merasa begitu." Jawab Shii lagi. kali ini dengan nada yang terdengar lebih dingin. jelas ini dingin, bukan tenang.

Sakura menunduk. rasanya ia ingin membenturkan kepalanya ke ujung meja yang ia lihat sekarang ini. ia tidak tau kalau ternyata kata-kata bisa sangat manipulatif.

Lagi, Sakura sebenarnya tidak mampu menghadapi mata Shii yang tajam setelah kata-katanya tadi tapi ia memberanikan diri untuk menatapnya. untuk membaca perasaannya walaupun pasti tidak akan sepenuhnya benar. Sakura memikirkan kata-kata yang akan dikeluarkan Shii untuk mencecarnya. bisa jadi, 'Kenapa kau tidak bertanya apa pendapat kami?' atau 'kau ketuanya, tapi kau bersikap pasif' dan kritik pedas lain yang semacamnya.

Itu semua terbaca jelas dari tatapannya. tapi kalimat yang ia keluarkan pada akhirnya adalah kalimat yang juga menyelesaikan perang kata-kata ini dengan cara menghela nafas berhias raut wajah sedikit kecewa, entah karena apa Sakura tidak mengerti. "Aku ingin sesuatu yang menghibur. jika satu Tim olahraga kalah, kita bisa sebut itu sebagai penghibur. namun jika satu tim olahraga menang, katakanlah itu adalah perayaan."

"Ide yang bagus! Aku suka caramu berpikir, Shii!" Ujar Shiho kemudian setelah diam seribu bahasa saat Shii mencecar Sakura, betapa cepat orang ini berubah. Itu yang membuat Sakura jengkel saat itu juga. "Tapi mungkin Sakura benar, kita harus mendiskusikan ini dengan Shikamaru dan Utakata"

Kata-kata dari Shiho yang mengubah kalimat 'Membicarakan' menjadi 'Mendiskusikan' membuat Sakura sadar seharusnya ia meralat kata-katanya tadi.

"Oh iya, aku harus pulang untuk berbelanja. Aku izin pulang lebih awal" Shii kemudian mendorong bangkunya kebelakang untuk memberinya ruang agar bisa berdiri. Kemudian ia berjalan kearah pintu keluar

"Shii, kau tidak keberatan kan kalau aku ikut? Fuu sudah pulang duluan." Kemudian Shiho ikut berdiri dan menghampiri Shii.

"Apa boleh buat..." Shii menghela nafasnya

"Ya sudah. Sakura, kami pulang duluan, ya... tidak apa-apa kan?"

"iya, tidak apa-apa. Terimakasih atas kerjasamanya" Sakura tersenyum. Sebenarnya ia sakit hati dengan perlakuan mereka berdua hari ini. setelah kejadian barusan, Sakura berpikir mereka berdua pasti akan membicarakan sesuatu tentangnya.

Tapi apa boleh buat. Ia menaruh setitik kesalahan berupa kata-kata yang tidak bisa ia tarik lagi.

biasanya ia akan pulang saat jarum jam menunjuk angka 5, tapi saat ia melirik jam yang ada di seberangnya, jarum jam itu masih menunjuk angka 4 lebih 12 menit. Ia merasa ini saatnya ia pulang lebih awal. walaupun ia menikmati kesendiriannya di dalam ruangan ini, namun ia merasa sudah tidak bergairah lagi mengingat betapa klub ini sangat rentan bubar. banyak sekali penyebabnya terutama anggota yang hanya hitungan jari, kurang diperhatikan, permasalahan internal, dan tanpa tujuan. Sakura bersumpah tidak pernah mengharapkan hal itu mengesampingkan fakta bahwa ia adalah ketuanya.

Tapi kejadian barusan membuatnya terpikirkan oleh hal yang seperti itu. permasalahan internal antar sesama anggota adalah hal yang sangat amat paling harus dihindari. tapi ia gagal. apanya yang ketua?!

Ketukan pintu kemudian menginterupsi Sakura. Ia dengan segera menggumamkan kata masuk yang entah bisa di dengar oleh sang pengetuk atau tidak. Kejadian barusan benar-benar melibas mood Sakura.

"Hai Sakura..." Pemuda berambut kelabu itu ber-"Hai" tapi Sakura sedang tidak ingin menjawabnya

Sakura hanya menatapnya tanpa memberi sambutan hangat, yang jelas kursi yang ada di depannya setidaknya bisa memberi isyarat.

"Wah, tumben kau sendirian. mana yang lain?" Ia datang bersama satu temannya yang Sakura tau adalah seorang adik kelas. Jadi.. pelanggan baru kah?

"Sudah cukup basa-basinya, Sora. Ada apa?" Ketus. tapi ia mati-matian menahannya agar tidak memberi citra yang buruk bagi Klub-nya. Tidak, ia tidak boleh membawa urusan pribadinya dalam hal ini.

"Maaf ya, sebenarnya aku tidak mau melibatkanmu tapi-" Omongan Sora terpotong oleh kata-kata adik kelas yang keringatnya mengucur deras untuk memberanikan diri bicara langsung pada sang ketua Klub

"-Ini tentang Tim kami..."


Naruto mengambil kunci inggris kemudian mengencangkan baut di mobil terakhir yang ia dandani. Ia biasanya hanya menerima pesanan bongkar mobil dan menyerahkan jasa pemasangannya kepada temannya. tapi kali ini ia ingin lebih rajin dalam pekerjaannya.

Setelah menyelesaikan ini rencananya ia akan mengambil Part time. Prestasi di sekolahnya harus ia tingkatkan dan ia harus memenangkan pertandingan di festival olahraga yang akan diadakan kurang dari 1 bulan lagi. Hasil ujiannya tidak mengecewakan, tapi itu tidak akan pernah cukup.

Di sekolah Horizon Field ini adalah sekolah yang mendidik peserta didiknya untuk berprestasi dalam bidang Olahraga dan Akademik. maka dari itu Ekskul disini sudah menjadi hal yang wajib dan dilakukan 3 kali dalam seminggu setelah jam pelajaran usai. maka dari itu, agar ia bisa memenangkan perlombaan, ia rela memangkas waktu kerjanya untuk bisa berprestasi dalam bidang Olahraga.

Menjadi Atlet profesional. Taruhannya banyak terutama cidera. tapi bukan itu tujuan utamanya. Ia sebenarnya tidak ingin bersekolah disini kalau saja bukan karena Beasiswa.

Sekolah ini menyediakan Beasiswa bagi siswanya yang mampu berprestasi dalam hal Olahraga. dan itu adalah alasan kenapa Naruto berada disini. Ia bukan orang yang pintar dalam hal Akademik, Ini karena wawasannya yang luas karena membaca buku, dan untuk pelajaran yang memerlukan otak yang ekstra, seperti Matematika, Naruto bisa, hanya saja ia tidak ahli. dan Olahraga, adalah Prestasi yang tak memerlukan otak melainkan fisik. cocok sekali untuk Naruto.

Saatnya hampir tiba dimana Matahari menenggelamkan dirinya sendiri. dan saat itulah Naruto harus bergegas merapikan alat-alatnya dan membersihkan segala macam jejak kotor yang ia tinggalkan. 15 menit setelah ia mengobrol dan bercanda ria dengan teman seperjuangannya, ia kemudian berpamitan untuk pulang.

Hari sudah gelap. seharusnya ia bergegas pulang kalau masih ingin menikmati masakan ibunya yang masih hangat. tapi selama microwave dirumahnya masih berfungsi, ia bisa menunda hal itu. lagipula, ia memang sudah lama tidak memakan masakan hangat dari ibunya. sejak kepergian ayahnya.

Ia menghela nafas, entah harus berapa lama lagi kehidupan monoton ini berlanjut. Ia bingung harus bagaimana agar ia bisa memulai semuanya kembali seperti dulu. dimana ia bisa bercanda dengan Ibunya dan menikmati makan malam tanpa rasa canggung diantara keduanya.

Mungkin hanya Naruto yang merasa canggung karena ibunya pasti selalu mengobrol. Obrolan satu arah, tepatnya. Karena Naruto selalu menjadi bingung bagaimana caranya menanggapi obrolan ibunya. Ibunya berusaha menjadi ceria, Naruto tau itu. Ibunya selalu berusaha agar Naruto bisa kembali seperti dulu dan mengalihkan Naruto agar tidak terlalu memikirkan ayahnya.

Tapi semua itu sia-sia,

Naruto selalu saja bersikap sebaliknya karena ia tidak mau kata-katanya nanti malah menyakiti hati ibunya. Ia tidak ingin menjadi seperti ayahnya. Ia tidak ingin menyakiti hati siapapun, terutama Ibunya. Ia tau bagaimana rasanya sakit hati dan itu tidak meng-enakkan. Karena ia sangat menyayangi Ibunya. Ia adalah satu-satunya Orang yang Naruto miliki saat ini.

Tapi ia tidak bisa selamanya menghindari makan malam dengan cara duduk di Cafeteria yang sudah tutup sedari sore itu dan menyesap kopi kemasan kalengnya. Ia harus segera pulang. setidaknya ia harus menghargai apa yang telah Ibunya usahakan. Ia membuka pintu rumah dan menyalakan saklar lampu. Lampu mati seperti ini biasanya menandakan ibunya yang sudah tertidur. tapi...

"Selamat Ulang tahun, Naruto!"

Ibunya tersenyum di meja makan dan membawa semangkuk Ramen. diatas piring untuk tatakan mangkuk itu ditaruh lilin yang bertuliskan 17.

"Naruto, kemarilah. Ini ramen yang ibu buat sendiri untukmu. aku berhasil mendapatkan resep dari paman Teuchi. semoga rasanya tidak mengecewakan." Ibunya bertepuk-tepuk tangan sendiri karena gemas.

Naruto menghampiri ibunya. Ia duduk disebelah Ibunya yang sangat amat bersemangat. Melihat tingkah Ibunya, ia tidak bisa menghindari dirinya ikut tersenyum

"Terimakasih, Ibu. sudah mau repot-repot."

"Ah, sudahlah, sudahlah. ini tidak merepotkan, kok. Biar aku nyalakan lilinnya. Aku sengaja tidak menyalakannya karena aku tau kau pasti pulang malam.."

Naruto jadi merasa tidak enak hati, Ibunya rela menunggunya selarut ini hanya untuk dirinya, tapi ia sendiri malah mati-matian untuk menghindari ibunya

Ibunya memantikkan api kemudian menyulutnya ke sumbu lilin. "Nah, sekarang buat harapan dan tiup lilinnya.."

Agak kekanakan, memang. tapi sesekali menuruti perintah ibunya tak akan merubah dunia juga. ia menutup matanya dan mengucapkan harapannya dalam hati. setelah selesai ia kembali membuka matanya lalu meniup lilin itu dengan sekali hembusan nafas.


"Tunggu! Oh, tidak! Shit!" Sakura mengumpat. setelah berusaha dengan cara berlari dari ujung jalan ke pintu gerbang tapi hasilnya nihil. pintu gerbang tetap bergeser dan ditutup oleh Security. Ia menyebutkan nama dan kelas untuk kemudian diperbolehkan masuk dengan bersyarat. Ia harus membersihkan ruangan yang desas-desusnya menjadi ruangan Klub baru. Memang bukan hanya ia yang terlambat hari ini, tapi anak laki-laki lebih mendominasi. hanya ada 3 orang anak perempuan salah satunya adalah Sakura. Anak laki-laki mungkin akan diberi hukuman yang berbeda dari perempuan. Sakura jadi memikirkan lagi tentang Emansipasi.

Ia menaruh sepatu dan tasnya sebagai barang jaminan di pos Security begitu juga dengan yang lain. Hari ini ia sedang tidak membawa mobil, tapi ia sudah memperkirakan waktu perjalanannya tepat kalau saja ia tidak lupa membawa gitar dan harus mengulangi seperempat perjalanannya untuk pulang kerumah. padahal kondisinya sedang tidak terlalu fit, tapi ia harus melakukannya. Lagipula berjalan kaki juga menyehatkan.

Sakura bagian membersihkan lantai. Ini pekerjaan yang tidak terlalu memberatkan baginya. ruangan ini juga tidak terlalu luas. bahkan ia tidak masalah jika harus mengerjakannya sendiri. tapi ia bersyukur pekerjaannya bisa selesai dengan cepat karena bantuan 2 orang lainnya. Ia setidaknya masih bisa mengikuti jam pelajaran pertama.

Ia kemudian masuk ke kelasnya dan langsung diinterogasi oleh Ino perihal keterlambatannya.

"Aku sedang tidak membawa mobil. Tadi aku juga sempat kembali lagi ke rumah untuk mengambil gitar" Ujarnya malas. Hukuman tadi sedikit menguras tenaganya.

"Mobilmu di bengkel? kenapa tidak meneleponku?" sebenarnya Sakura tidak suka di interogasi seperti ini. Tapi bukankah itu karena Ino adalah sahabat yang baik? jadi Sakura bisa mentolerir hal ini

"Sudahlah, Ino. Lagipula Orochimaru-sensei belum datang" Sakura meringsek menempelkan dagunya di meja. Banyak sekali yang ia pikirkan hari ini. Walau ia sudah membuat banyak rencana, tapi ia masih bimbang dengan keputusannya sendiri. tapi, we never know until we try, isn't it?

"Oh, Sakura yang malang kau pasti kelelahan ya?" Ino membangunkan tubuh Sakura kemudian memegang kedua rahang Sakura sambil menggoyang-goyangkan kepala Sakura.. Pipi Sakura jadi agak mengembung dibuatnya.

"Just one thing, Honey." Ino melepas tangannya "Orochimaru-sensei tidak datang hari ini"

Oh, bagus. Orochimaru-Sensei tidak datang hari ini.


Tepat sepuluh menit sebelum bel terakhir berbunyi, karena jam pelajaran terakhir Sakura kosong dan setelah menghabiskan waktunya di perpustakaan, Sakura memutuskan untuk tidak datang ke Klub. tapi ia tetap menyempatkan diri untuk datang dan berbincang sebentar dengan temannya yang secara mengejutkan lengkap disana.

Sangat disayangkan ketika teman-temannya lengkap tapi ia sendiri malah yang tidak bisa datang. Setelah menggeser pintu dan berhasil menginterupsi teman-temannya yang sedang membicarakan festival olahraga, yang mana menjadi trending topic minggu-minggu ini, Ia pamit pulang duluan dan izin mungkin untuk beberapa hari kedepan ia tidak akan terlalu aktif di ruangan ini. Ia bahkan tidak duduk dulu sewaktu memberitahukan hal itu.

Setelah dirasa sudah tidak ada lagi hal yang perlu disampaikan, Sakura berbalik dan menggeser pintu. tapi sebelum sempat ia keluar dan menutupnya kembali, Suara Shiho menginterupsinya

"Sakura,"

Sakura menoleh tanpa mengeluarkan kata respon. ia hanya mengeluarkan wajah bertanya kepada Shiho.

"...A-Apa karena kemarin?"

Hening. walaupun ini adalah obrolannya dengan Shiho, tapi Sakura lebih memilih mengalihkan pandangan matanya kearah jendela. dari ekor matanya ia dapat melihat Shii yang tadinya sedang mengisi buku TTS-nya sekarang matanya berpindah pada objek yang ada didepan pintu. sedangkan Shikamaru dan Utakata saling melirik satu sama lain, tidak mengerti apa yang terjadi.

Mata Sakura menangkap lantai sejenak sebelum ia berkata, "Ya, Karena kemarin..". Kemudian ia menutup pintu itu tanpa berkata apa-apa lagi.


AN: Inspirasi datang dari mana saja dan itu benar. kali ini gara-gara terlambat masuk sekolah. menjelaskan kenapa ada scene Sakura terlambat dan disuruh bersih bersih, itu kisah nyata yang diterapkan di cerita ini :v Scene-nya bukan bermaksud untuk filler, tapi itu malah yang paling menunjukkan jalan ceritanya (*Omegat keceplosan spoiler) yaudahlah ya, mungkin biar pada bisa ngerti maksud chapter yang ini. mumpungan idenya masih seger jadi mending update cepet. (*cepet?)

Mungkin kalo ada yang pernah liat anime yang seperti ini, ya.. ane sedikit banyak terinspirasi dari itu. (*Lupa karena judul yang kepanjangan)

Liliannelily: Entah ya untuk ending :3 semoga saja

Guest: Romance and hurt/comfort ya? tapi ini juga ngga tau juntrungannya. untuk sementara boleh deh ane pasang. Jeli ya matamu. itu memang diperuntukkan untuk itu (*pansi!)

Guest007: terinspirasi dari lagu Bondan yang judulnya Bunga? mmmm... yupp Benar! itu lagu yang inspiring banget buat fic ini :3

aura-uran: NaruSaku yaa, karena kemarin lupa kasih karakternya :( (*payah!)

dolisiregar0212: Yup NaruSaku

judulnya Bunga sesuai dengan judul lagu itu yekan? Dan lagipula, Sakura itu adalah nama bunga, jadi itu alasan kenapa karakternya itu Sakura.

Tararengkyu buat yang udah mau review. kalian baik banget deh. Review lagi dong, biar ane semangaaaaat. koreksi jika ada yang salah. saran kritik flame semua accepted :3

-Wanda Grenada