Sora mengijinkan rumah mereka tetap dengan keadaan lusuh, "Aku belum mendengar tentang objek penelitianmu selama dua bulan." Kolam air di dekat pohon sakura mereka membeku, beruntung di sana tidak ada ikan.
"Maksudmu tur mencari berita di Okinawa bersama Hinata?" ini bukan bulan desember yang begitu indah, hanya sebuah bulan desember yang penuh kebohongan Sakura. Sora meliriknya tajam, Sakura tahu pertanyaan kakaknya tadi. Dia hanya bercanda.
"Kau menyerah?" Sakura menghentikan ketikannya pada keyboard.
"Jika aku bisa. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka rencanakan, tapi aku tahu apa yang seharusnya kulakukan." Sora tersenyum, "Itu adil bukan?" tanya Sakura.
Sora menggeleng, "Mungkin kau benar jika mereka berdua telah memiliki kehidupannya sendiri, tapi Sakuraku adalah bagian hidup untuk mereka berdua. Ingatlah itu Saki. Mereka menganggapmu ada dalam bagian kenangan mereka begitu juga denganmu," Sora meminum coklat hangatnya. "Itu adil bukan?"
"Pasti ada orang yang akan tersakiti olehku nanti Sora-nii." Gumam Sakura.
"Bodoh. Kau manusia bukan tokoh anime, persetan dengan orang lain. Pikirkan dirimu sendiri sebelum orang lain." Suara keyboard milik Sakura kembali terdengar. Sakura memang selalu seperti itu maka sudah menjadi tugas Sora membalikkan pikiran stress Sakura pada kenyataan.
Sakura dehem pelan, "Ah~ aku mengerti. mungkin karena itu juga kau masih betah sendiri hehehe."
Teman Lama
.
.
.
Teman Lama
Disclimer : Om Masashi Kishimoto
Author : Hanna Hoshiko
Pairing : Sasuke U. Sakura H.
Rated : T+
Genre : Romance/Drama/Friendship
.
.
.
Warning!
Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author
Cerita ini akan update setiap hari Rabu, jika ada keterlambatan harap menunggu karena itu berarti author sedang sibuk di RL.
Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.
.
.
.
Don't Like Don't Read
.
.
.
Mempersembahkan
Sakura memakaikan topi yang ia rajut pada kakaknya, "Kau terlihat seumuran denganku. Ayo! Ada seseorang yang sudah menunggu kita." Tangan Sora gemetar. "Ada apa denganmu?" tanya Sakura heran.
"Aku a-aku harus ke kamar mandi sebentar." Sakura menghela nafas, itu adalah kebiasaan Sora ketika ia ajak untuk pergi menemui perempuan yang sudah Sakura pilihkan. Kali ini pun begitu.
"Cih. Dasar, dia selalu begitu padahal aku tidak ingin telat berkencan." Sakura tertawa pelan, "Tidak. Aku hanya akan memantau mereka dari jauh hihi." Ia melihat kakaknya berwajah lega. Sakura menggandeng lengan kakaknya.
"Katakan padaku Sakura siapa yang ingin kau kencan butakan denganku kali ini?" Sakura merapikan penampilan kakaknya lagi.
Sora membenarkan tutup telinga Sakura, "Ini adalah kejutan dariku. Semoga kau menikmatinya hm." Sakura mengecup pelan pipi kakaknya.
"Apa dia cantik? Model misalnya." Sakura mengunci pintu gerbang rumah mereka, "Jawab aku Saki." Rajuk kakaknya.
"Dia model terkenal. Seksi." Kakanya terlihat begitu senang, "Jadi ayo kita temui dia di Taman bermain. Aku sangat bersemangat hari ini!" teriak Sakura. Ia kembali menggandeng tangan kakaknya. Mereka sengaja berjalan kaki kemudian naik bus, mereka persis anak SMA bukan?
Sasuke memasukkan permen karet ke dalam mulutnya, "Siapa laki-laki itu? apa dia Sora. Tidak mungkin." Sasuke melajukan mobilnya dan melewati Sakura begitu saja, "Sora tidak akan mau Sakura menciumnya di depan umum. Dasar bocah." Dari kaca spion mobil Sasuke terlihat Sakura yang berambut hitam tertawa lepas.
.
.
.
Surat tak beralamat
.
.
.
"Hinata berita tentang kasus bunuh diri artis itu akan di tayangkan pada siang nanti 'kan?" Sakura meletakkan syalnya, melihat Hinata yang tengah serius pada notenya. Akhirnya mereka berdua menjadi patner yang sempurna.
Ino datang dengan tergesa, "Maaf teman. Aku harus melarikan diri dulu dari managerku, apa kalian sudah memesan?" Hinata memasukkan notenya.
"Kami menunggumu Ino-chan." Ino mengangguk mengerti, "Fujikaze Yukie. Aku merasa kasihan padanya, apa Ino-chan mengenalnya?" Hinata dan Ino sudah berteman akrab sekarang. Sakuralah yang menjadi penghubung mereka berdua.
Sakura menutup buku menunya, "Mohon tunggu sebentar. Direktur kamilah yang akan mengantarkan makanan untuk anda." Ucap pelayan tersebut. Sakura mengangguk mengerti.
"Apa kau mengenalnya Pig? Yukie-san adalah artis yang berbakat." Sakura menatap keluar kaca, keping salju yang kecil membuatnya tersenyum. "Yukie-san juga orang yang menyenangkan. Aku pernah berbicara sekali dengannya dulu."
"Dia orang yang baik. Kudengar keluarganya yang membuatnya frustasi, aku turut sedih mendengar jika Yukie bunuh diri." Ino menatap ke arah Sakura, "Tapi Forehead apa kau sudah memberitahu mereka?"
Hinata tertawa pelan, "Sakura-chan tidak akan mau memberitahu Naruto-kun atau Uchiha-san." Ino terlihat sangat kaget.
"Apa kau gila Forehead! Mereka sudah menunggumu bertahun-tahun." Sakura meringis pelan mendengar suara Ino yang begitu keras. Hinata tersenyum kepada pengunjung lainnya, berharap maklum dengan sahabat mereka.
"Kecilkan suaramu bodoh." Sakura meliaht ponselnya, "Aku sudah memutuskannya Pig. Mereka sudah memiliki kehidupannya sendiri, begitu pun aku. Jika aku masuk begitu saja mungkin pasti ada orang yang..."
"Yang apa? Jika mereka berdua memang benar-benar mencintainya, mereka tidak akan meninggalkannya. Kenapa kau harus takut bahkan kau belum mencobanya." Hinata mengangguk membenarkan pernyataan Ino.
Tiba-tiba wajah Hinata memerah melihat orang mengantar makanan mereka, "Oh! Hinata-chan senang bisa bertemu denganmu lagi. Hai Ino." Semua mata melihat ke arah sumber suara. Sakura tersenyum melihat Naruto berbalut seragam pelayan.
"Na-Naruto-kun senang bisa bertemu denganmu. Kau bekerja di sini?" Naruto meletakkan semua yang berada di nampannya sambil tertawa. Sakura hanya tersenyum lembut, lagi pula Naruto juga tidak akan mengenalinya.
"Dia kekasihmu Hinata?" Sakura melihat Naruto membuat laki-laki itu terdiam melihat dirinya, dengan wajah merah Hinata menggeleng.
Ino tersenyum rubah ke arah Hinata, "Naruto apa Hinata kekasihmu hm?" Naruto hanya menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Tidak. Kami hanya pernah kencan buta." Mata Naruto terus saja mengamati Sakura, "Apa dia teman kalian?" Ino tertawa pelan.
Sakura menatap Naruto, "Ah! Pasangan kencan butamu. Ternyata dia yang kau ceritakan." Kalimat itu sebenarnya untuk Naruto. Sakura bersyukur perempuan yang kencan bersama Naruto adalah Hinata, setidaknya Hinata perempuan baik.
.
.
.
Surat tak beralamat
.
.
.
Sudah dua jam Sasuke berada di luar dengan hawa dingin, "Dia belum pulang." Setiap sore dia akan berada di depan rumah Sakura menanti perempuan itu pulang. Terkadang ia juga mengikutinya ke supermarket.
"Apa ini darimu." Ia melihat surat yang berada di tangannya, sudah dua hari surat itu ia terima tapi masih belum ia baca. Matanya bergerak ke atas melihat ada sepasang sepatu.
Perempuan itu tersenyum lebar, "Apa yang sedang kau lakukan di depan rumahku beberapa hari ini. Kau tidak berpikir menculikku 'kan tuan Stalker?" Sasuke terdiam. Ia belum mampu berkata-kata, melihat Sakura berbicara padanya.
"Aku hanya menunggu saat yang tepat." Sakura tertawa lepas. Sasuke membuka suratnya dengan sebuah senyum tipis di wajahnya. Sasuke tidak tahu apa ini surat dari Sakura atau bukan, dan ia juga tidak tahu sekarang Sakura berlagak tidak tahu atau tidak. Ia memang tidak tahu apa-apa.
"Arigatou ne, Sasuke-kun." Hanya satu kalimat berupa ucapan terima kasih. Tidak ada nama. Tidak ada alamat. Jadi ini surat milik siapa?
Kepala Sakura mendekat, "Dari siapa? Kekasihmu?" Sakura terlihat sangat penasaran membuat Sasuke terkekeh pelan. "Apa yang lucu?" tanya Sakura kesal.
"Kau." Sakura terdiam, "Ini mungkin surat terakhir dari orang yang kucintai." Sasuke berjalan, dengan cepat Sakura mengikutinya dari samping.
"Wah! Kalian masih berkirim surat? Itu keren." Sakura menguncir rambutnya tinggi, "Apa dia cantik?" hei! Pertanyaan itu bagi Sasuke terdengar seperti apa aku cantik? Dia memang lucu.
Sasuke menggeleng pelan, "Tidak. Dia sangat sangat jelek." Sakura hanya ber-oh ria, "Apa yang berada di dalam ranselmu itu nona reporter?"
"Laptop, pakaian, note, dan makanan. Aku akan ke Hokkaido bersama Sasori," Sasuke melirik Sakura, "Kami di tugaskan mencari berita di sana selama tiga hari."
Sasuke berhenti berjalan dengan menggengam tangan Sakura, "Apa kau akan kembali lagi?" Sakura tertawa keras.
"Tuan Stalker tentu aku akan kembali. Aku hanya tiga hari, kau tidak serius akan menculikku 'kan?" Sasuke melepaskan genggamannya.
.
.
.
Surat tak beralamat
.
.
.
"Arigatou ne, Naruto." Lima hari yang lalu surat ini berada di depan gerbang rumahnya. Menggunakan batu untuk membuat surat itu tetap berada di sana. Naruto juga tidak habis fikir orang macam apa yang menggunakan cara kuno seperti itu.
Naruto merapikan bajunya bersiap untuk pulang, "Apa Teme sudah menemukan Sakura-chan ya? Aku penasaran." Ia mengunci pintu ruangannya, terlihat pegawainya tengah sibuk melayani pelanggan.
"Naruto-kun!" gerak tubuh Naruto sedikit tersentak ke belakang, melihat Shion berlari ke arahnya mengabaikan pembeli yang akan membayar. Ini tidak sedikit lagi tapi sangat memalukan.
"Dimana Shizune-san?" secara tidak langsung Naruto meminta maaf pada pelanggannya, "Kenapa justru kau yang berada di sini Shion?" Naruto terlihat sedikit kewalahan mendapat pelukkan Shion.
Shion melepaskan pelukannya, "Shizune-san memintaku untuk bertukar sift. Ia akan bekerja nanti malam, apa kau tidak senang melihatku Naruto-kun?" helaan nafas keluar dari mulut Naruto melihat Shion tengah merajuk padanya.
"Permisi Nona. Aku meninggalkan bon serta uangku di meja kasir, kau harus segera mengecheknya. Aku sedang terburu-buru. Ada berita yang sedang kukejar, aku harus pergi." Naruto terdiam melihat perempuan yang tengah berbicara dengan Shion.
"Maaf sudah membuat waktu anda terbuang karenaku." Shion menundukkan badannya. Perempuan itu tertawa pelan maklum dengan keadaan yang tengah terjadi.
Perempuan berambut hitam itu mengambil sesuatu dari bawah, "Tidak apa. Kau sedang bertemu dengan kekasihmu bukan? Aku mengerti." dan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku coatnya, "Ini milikmu bukan tuan?" Naruto melihat beberapa lembar kertas. Suratnya berada di paling atas.
"Terima kasih." Perempuan itu kembali tertawa dan memberikan kertas-kertas itu pada Naruto.
"Tidak usah berterima kasih aku tidak sebaik itu. aku harus segera pergi, Jaa ne." Perempuan itu pergi. Naruto memperhatikan suratnya sekali lagi.
Shion menatapnya, "Naruto-kun. Aku harus kembali bekerja, Jaa ne Naruto-kun." Naruto masih terdiam menatap suratnya, membiarkan Shion mengecup pipinya sekilas.
"Dia!" Naruto tersentak, "Dia pasti Sakura-chan!" ia tidak percaya melihat lembaran-lembaran di bawah suratnya. Itu semua adalah surat yang ia kirim untuk Sakura, "Sial! Kenapa aku tidak menyadarinya. Teme aku mengalahkanmu kali ini." Naruto berlari keluar dari restorannya.
.
.
.
Surat tak beralamat
.
.
.
Sakura memegang pundaknya yang terasa sangat sakit, "Sialan. Pundakku sangat sakit, awas kau Sasori." Ia begadang semalaman untuk menyusun time line berita bersama Sasori. Sialnya Sasori meninggalkannya untuk berkencan.
"Tunggu!" dengan wajah kesal Sakura menoleh ke belakang. "Saki senang bisa melihatmu." Sakura terdiam, orang itu mengenalinya. Ia merasa sangat senang.
Sakura tertawa pelan, "Kau mengenaliku." Ucapnya. Ia berjalan mendekat, "Senang bisa bertemu denganmu." Perlahan Sakura memeluknya. Laki-laki itu juga membalas pelukannya.
"Kau belum berubah. Aku merindukanmu." Sakura melepaskan pelukannya.
"Aku juga merindukanmu Itachi-nii. Bagaimana bisa kau mengenaliku?" Itachi tertawa pelan mendengar pertanyaannya. Mungkin Sakura akan lebih senang jika Sasuke yang mengenalinya, tapi untuk apa? sudah ada orang lain yang harus Sasuke jaga.
Itachi mengacak rambut Sakura, "Hei. Warna rambutmu tidak akan mengecohku adik ipar, kau tahu kenapa bisa aku mengenalimu?" Sakura pura-pura menggeleng pelan, "Ekspresimu, gestur tubuhmu, terutama matamu itu meski warna rambutmu berubah aku mengenalinya Saki." Ia senang mendengarnya. Panggilan Saki adalah panggilan akrabnya, yang selalu memanggilnya seperti itu hanya Sora dan Itachi. Ia senang Itachi masih mengingatnya.
"Aku senang kau masih mengingat panggilan itu Itachi-nii." Sakura tersenyum lembut.
"Hanya aku dan Sora yang bisa memanggilmu dengan nama itu. apa Sora juga ikut kembali?"
Sakura mengangguk, "Ya. Kupikir akan ada satu lagi yang memanggilku seperti itu." Sakura tertawa pelan.
"Siapa? Sasuke? Naruto? Atau kekasihmu?"
Sakura menggeleng, "Mikota ba-san. dia tidak mengenaliku." Itachi tertawa pelan. "Tidak. Semua orang tidak mengenaliku, hanya kau dan Ino yang mengenaliku."
"Apa Sasuke juga?" Sakura mengangguk, "Aku akan memberitahunya, bagaimana?" tawar Itachi.
Sakura tertawa pelan, "Ssttt." Ia menaruh jari telunjuk di atas bibirnya tidak lupa ia mengedipankan sebelah mata pada Itachi. Seorang Uchiha tidak bodoh dan Itachi tahu maksud Sakura, "Aku harus pergi."
"Baiklah aku ikut permainanmu. Aku akan menemuimu lagi." Itachi berbalik menuju rumahnya.
Perempuan itu kembali apa Sasuke sudah menyadarinya? Itachi harap adik bengalnya itu cepat sadar. Mungkin jika saja Sakura mengijinkannya ia bisa mempertemukan mereka berdua dengan itu ia berharap Sasuke dapat mengakhir sikap playboy-nya, "Ah! Sasuke. Tebak siapa yang baru kutemui." Ah lihat wajah menyebalkan adiknya itu. membuat Itachi enggan memberi kesempatan.
"Siapa?"
Dengan mengatakan ini bukan berarti ia mengacau semua permainan Sakura, ia hanya memberikan Sasuke kesempatan, "Sakura."
.
.
.
To be Continued
A/N:
Diantara mereka bertiga masih belum ada yang tahu sama lainnya! Aw! Nantikan ya. Mind to review guys?
Balasan Review:
Ikalutfi97 : saya juga pikir kayak gitu terima kasih udah review
Suket alang alang : karena dia nggak tahu apa-apa 'kan? Terima kasih udah review
Rahillah r5 : ndak apa-apa itu wajar aja kok, karena alurnya di bikin santai aja biar greget hehehe terima kasih udah review
