Bunga
2016
Wanda Grenada
Percaya tidak percaya, Rencana memang tidak selalu berjalan dengan mulus. walaupun Sakura sudah memikirkan matang-matang tentang rencananya tapi semuanya tidak sejalan dengan yang ia bayangkan dan ia skenario kan dalam pikirannya. Ia selalu menyiapkan 'Plan B', tapi yang terjadi malah tidak terduga. istilahnya, Ia selalu berpikir- akan mengeluarkan kata-kata ini kalau reaksinya seperti ini. tapi yang terjadi dilapangan adalah sesuatu yang bahkan tak terputar di otaknya.
Sakura tak bilang kalau itu rencana yang Gagal. Hanya saja ia terkejut betapa- walaupun semuanya tak sesuai rencana, tapi Hidup punya caranya sendiri untuk mewujudkan ambisi seorang yang mau berusaha.
Setelah merelakan pulang dengan berjalan kaki dan menolak beberapa temannya, Sakura hampir saja putus asa menerima tanggung jawab ini karena Naruto tidak terlihat sejauh mata memandang. Tidak seperti ia yang biasanya, memang- menyerah akan tanggung jawabnya sebagai relawan. tapi, yang ia pikirkan adalah hanya ini satu-satunya cara agar semua berjalan lancar, dan lagi.. ada perasaan tidak enak hati mengenai rencananya.
Teringat hari itu saat ia duduk bersama Sora dan adik kelas yang bernama Konohamaru, adik kelas itu meminta tolong pada Sakura- ia tidak menyebut itu meminta tolong pada Klub karena yang berada disana hanya ada dirinya seorang. dan Sakura tak berniat memberitahukan Obrolan singkat yang berat itu pada anggota pada Klub. Ia berencana untuk membantu mereka secara pribadi, tanpa atas nama Klub, dan dengan caranya sendiri.
"Silahkan duduk dulu," Melihat keteguhan adik kelas itu meminta tolong pada Sakura membuat Sakura bangkit dan kembali bersemangat. Kedua orang itu duduk dan mulai membicarakan sesuatu yang penting
Sakura maklum melihat tingkah adik kelas yang agak gugup, mungkin ini karena agak canggung meminta bantuan kepada kakak kelas yang terkesan seperti- menyuruh kakak kelas. Ia kemudian menuangkan Ocha ke kedua gelas plastik yang memang dipersiapkan untuk para tamu.
"Begini, jadi.." Melihat kegugupan Konohamaru, Sakura kemudian melirik Sora. Memberinya tatapan yang mengisyaratkan untuk keluar sebentar. bukan bermaksud mengusir- Sora pasti paham akan hal itu.
"Ooh, baiklah.. temui aku di kantin setelah ini" Setelah Sora menutup pintu, barulah si adik kelas memulai lagi pembicaraannya
"Kami menginginkan pergantian ketua Tim." Ujar Konohamaru memulai. kali ini ia mulai bisa mengendalikan dirinya.
"Dengan alasan?"
"kak Yahiko memang tidak membuat kesalahan apapun, hanya saja ia jadi kurang perhatian dengan Tim kami semenjak kelas 3. kami mengerti mungkin itu karena serangkaian pendalaman materi yang harus ia laksanakan menjelang Ujian akhir. tapi ia sama sekali belum mengundurkan diri dan Tim kami jadi terombang-ambing." Jelasnya sebelum menyesap teh nya
"Kami membutuhkan ketua Tim yang bisa diandalkan dan mampu membangkitkan semangat kami yang telah pudar akibat terombang-ambing, kami benar-benar yakin kan hal itu kepada kak Naruto, tapi..."
"Tapi?" Ulang Sakura
"Tapi kak Naruto selalu menolaknya. Kami memang tidak pernah menanyainya secara langsung, tapi Kak Naruto selalu menunjukkan sikap bahwa ia menolak menjadi ketua."
"Apa tidak ada kandidat lain?"
"Seandainya ada, tidak mungkin kami sampai seperti ini."
"Apa kau sudah mendiskusikan ini?" Tanya Sakura lagi, mendengar penjelasannya yang menggunakan kata "Kami" jelas sekali menjawab pertanyaan Sakura. hanya saja Sakura tidak yakin, mungkin saja ia hanya mendiskusikan kepada beberapa orang saja. itu tidak masalah kalau menyangkut opini. tapi yang ia tangani adalah Tim Baseball sekolahnya sendiri. maka dari itu tidak ada alasan untuk bermain-main.
"Kami sudah membicarakan ini juga kepada seluruh Tim termasuk kakak kelas 3 yang masih aktif, saat kak Naruto tidak datang sewaktu acara pelantikan klub Pramuka. Semua menaruh harapan pada kak Naruto. Bukan karena kami tidak ingin berusaha, hanya saja sebagai teman satu Tim- kami semua tau bahwa Naruto menolak menjadi ketua Tim. tidak mungkin kita menawarinya sesuatu yang sudah kami tau jawabannya."
Sakura mulai tau kemana arah pembicaraan ini. untuk saat ini ia tau perasaan sang adik kelas, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia ingin menolaknya, tapi hal itu sangat menyimpang dari Klub-nya. semua alasan yang anak ini keluarkan logis dan tidak terkesan menyuruh. Ia juga mengapresiasi tekad anak ini untuk meminta bantuan pada Klub, walalupun Sora berperan sebagai tonggak kepercayaan diri anak ini saat pertama mendatangi ruangan ini.
"Baiklah," Sakura mengehela nafas. Biar tidak ada yang memuji tekadnya untuk menerima permintaan tolong seperti ia memuji tekad adik kelas ini, tapi ia menjanjikan pada dirinya sendiri kepuasan batin yang akan diperolehnya nanti. "Aku akan mengusahakan yang terbaik untuk kalian."
"Mohon kerjasamanya,"
Kemudian orang itu berdiri, sampai di ambang pintu, adik kelas itu menoleh kemudian berkata, "Sebenarnya aku tidak mau bergantung padamu..". Ia kemudian menutup pintu. Sakura menunduk
'Aku juga..'
1. Sabaku Temari - Badminton
2. Sabaku Kankuro - Basket
3. Sabaku Gaara - Shooting
4. Sakura Haruno - Volley
5. Kiba Inuzuka - Soccer
6. Tenten - Tenis meja
7. Ino Yamanaka - Tenis
8. Shikamaru Nara - Catur
9. Jirobo - Judo
10. Rock Lee - Karate
11. Sasuke Uchiha - American Football
12. Shino Aburame - Renang
13. Sai - Anggar
14. Hinata Hyuuga - Hockey
15. Kidomaru - Panahan
16. Yahiko - Baseball
"Kepada 16 orang ketua Tim Olahraga dimohon kehadirannya di Gym segera. Sekali lagi, kepada 16 ketua tim olahraga dimohon kehadirannya di Gym."
Tidak ada yang lebih membanggakan selain menjadi ketua Tim. memimpin dan mengarahkan banyak orang itu sesuatu yang tidak mudah, dan tidak patut di pandang sebelah mata. oleh sebab itu, ketua tim harus benar-benar orang yang bisa diandalkan dan bertanggung jawab.
Pada saat-saat seperti inilah Ketua Tim seperti Sakura harus benar-benar bisa membuat teman-temannya lebih percaya diri. apalagi untuk pemain pengganti seperti anak kelas 10 yang baru saja merasakan yang namanya pertandingan persahabatan di Festival Olahraga. well, Sakura pernah muda.
"Aku permisi,ya.." Sakura yang saat itu sedang melatih adik kelas cara menangkal Smashing lawan kemudian pamit. ia mengelap peluhnya dengan handuk yang ia taruh diatas tas bola voli-nya, kemudian berjalan keluar. "Haku, tolong Handle ya!" katanya sebelum menghilang di pintu
"Beres" Haku menunjukkan ibu jarinya seraya mengedipkan sebelah mata
Ia baru bisa tenang kalau ada yang menggantikan posisinya. pemanggilan 16 ketua Tim olahraga jadi menggemparkan. ia bisa melihat itu saat semuanya jadi hilang konsentrasi dan malah asyik berbincang sendiri. Sakura paham hal itu, dan semoga saja Haku bisa lebih mengerti para adik kelas seperti dirinya.
Horizon Field menjadi tuan rumahnya. Suatu kebanggaan jika bisa menunjukkan kualitas dari Horizon field disamping piala-piala olahraga yang terpajang di etalase sepanjang koridor ruang kepala sekolah. di tunjukkan jika hanya ada event dan kunjungan dari sekolah-sekolah lain untuk memperlihatkan betapa berprestasinya murid-murid disini.
Diperjalanan, Sakura bertemu dengan Ino dan ketua Tim perempuan lainnya. Jarang sekali ada ketua tim perempuan. maka dari itu, ia sangat senang jika bisa berkumpul dengan mereka dan saling berbagi pengalaman mengenai Tim yang mereka pimpin.
"Ya, kalian bisa duduk di tempat yang masih kosong." Ujar Guru Gai yang saat itu sudah ada di Ruangan tersebut. disana juga sudah ada beberapa pengurus OSIS yang bersangkutan dengan Festival olahraga.
Sakura duduk disebelah Hinata yang mana adalah ketua tim dari olahraga Hoki. Ia lumayan dekat dengan Hinata, walaupun kelas mereka semasing berbeda. tadinya ia ingin duduk bersama Ino. tapi melihat Ino yang ingin duduk dekat dengan Senpai incarannya, ia pun akhirnya mawas diri dan lebih baik tidak mengganggu sahabatnya.
"Kau kelihatan buruk, Hinata.." Ujar Sakura yang saat itu memperhatikan Hinata yang kelelahan
"Be-benarkah?" Ia tersentak dan langsung merapi-rapikan rambutnya dengan jari yang berubah menjadi sisir. "Aku tidak menyangka ini bisa sangat melelahkan"
"Jangan berlatih terlalu keras dan memaksakan diri, Hinata. nanti yang ada performamu dan Tim malah menurun karena kelelahan sebelum hari H nya."
Ia menunduk, "Ka-kamu benar.. Mungkin aku yang terlalu memaksakan diri. Terimakasih sarannya."
"Bukan masalah, ini demi sekolah kita juga." Sakura tersenyum. ia kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tersebut. Ia menunggu murid-murid duduk untuk kemudian guru Gai menjelaskan alasan mengumpulkan 16 ketua Tim olahraga.
Dimulai dari basa-basi tentang Akademi yang akan menjadi tamu serta lawan main mereka di lapangan, kemudian beralih menjadi diskusi mengenai perwakilan Tim-tim yang bermain secara individual seperti renang, panahan, catur, karate, judo, anggar, dan shooting.
Setelah pengajuan perwakilan dari tim-tim tersebut, barulah mereka yang mengikuti olahraga individual diperbolehkan keluar ruangan. Tersisa para ketua Tim olahraga yang mengandalkan kerja sama tim.
"Baiklah, kalian akan kuberi waktu 3 hari untuk menyeleksi pemain inti dan juga cadangan. Khusus untuk Tenis, tenis meja dan badminton, kalian tidak akan bermain tunggal melainkan ganda. Jadi kalian bisa memilih partner yang cocok untuk diri kalian sendiri." Murid-murid mengangguk mengerti.
"Mengenai-"
TOK TOK TOK
Semua mata secara otomatis tertuju pada pintu itu. Guru Gai kemudian mengizinkan sang pengetuk yang menginterupsi perihal pemberitahuan penting ini. Seseorang itu adalah Naruto, lengkap dengan setelan baju Pramuka dan perlengkapannya seperti peluit dan tambang.
"Maaf aku mengganggu. Aku dengar ada pemanggilan ketua Tim. Kak Yahiko sedang izin dispensasi untuk hal semacam ini, jadi sekarang aku sebagai penggantinya." Ujarnya sopan
"Baiklah tuan..."
"Uzumaki"
"Ya, Uzumaki. Kau boleh duduk dibangku yang kosong."
Setelah interupsi tersebut kemudian guru Gai melanjutkan lagi informasinya. "Mengenai pemain pengganti, siapkan setengah dari jumlah pemain. Kalian sebagai ketua Tim berperan juga sebagai kapten tim. Tanda khususnya berupa Headband."
"Maaf. tapi kalian harus cari tempat tinggal lain." Wanita tua yang terpandang itu kemudian berlalu pergi tanpa pamit.
Dari sofa tempatnya duduk Naruto bisa melihat Ibunya yang berada di depan menunduk. Putus asa dan bingung. Tak tau lagi alasan apa yang akan ia keluarkan agar sang pemilik Apartemen mengizinkannya menetap. Kata yang dia lontarkan barusan seperti sudah mutlak sekaligus menampar.
Ia tidak menyalahkan siapa-siapa disini. Ia tau beberapa bulan belakangan ia telah gagal memenuhi kewajibannya untuk membayar tepat waktu. Tapi Ia merasa kecewa karena Ia sudah tinggal 5 tahun disini dan kenapa orang itu sama sekali tidak mau tau tentang keadaannya sekarang.
Tapi hidup tak kasih pilih-pilih
Naruto tau ini adalah saatnya Ia mencari tempat teduh baru sedang Ibunya mengemasi barang-barang. Ia sudah mengangkat sebagian barang berat yang sudah menimbulkan bekas pada dinding yang ditinggalkannya karena saking lama tak di tata ulang.
Ia merasa seperti kehilangan segalanya. Ia sudah sangat dekat dengan orang-orang sekitar, teman-temannya juga sudah banyak yang mengklaim itu adalah tempat tinggal Naruto. Ia sangat menyayangkan hal itu, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menenangkan ibunya agar tidak menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian ini.
Betapa beruntungnya dia karena teman kerjanya menawarinya tempat kosong yang berada di area belakang bengkel tempatnya bekerja. tempat tinggalnya dulu, kata orang itu. Karena rumah itu sudah dijual, jadi Naruto tetap harus membayar sewa. tapi tak apa, harganya jauh lebih murah dibanding rumahnya yang dulu. walaupun memang tempatnya sedikit lebih kecil dan mengharuskan Naruto membuang beberapa barang yang sudah rusak namun masih bisa dipakai. tak apalah, lain kali kalau ia punya uang lebih ia akan membeli barang baru.
Rasa lelah tentu tak bisa dihindari. karena ia sama sekali tidak menyewa jasa pindah rumah. yang ada hanya beberapa teman-temannya yang secara sukarelawan membantu memindahkan barang-barangnya secara bersamaan.
senangnya punya teman kerja yang bisa diandalkan
Naruto tidak bisa lebih bersyukur daripada melihat teman-temannya yang benar-benar niat bekerjasama membantunya. andai air mata harunya bisa menjadi uang, mereka pasti sudah sangat kaya sekarang.
Ia hanya berharap semoga kediamannya yang baru bisa membawa lebih banyak kenangan baik daripada sebelumnya.
dan pada saat ini Naruto sedang berada di area loker merapikan bukunya bersamaan dengan ia memakan rotinya. Ia hanya enggan ke kantin dan ingin segera duduk di bangku kelas selanjutnya. bangku paling belakang dekat jendela. Ia biasa memandang guguran bunga sakura dan melihat tanaman azalea yang ia tanam di tahun pertamanya saat orientasi tumbuh. sampai sekarang ia masih menyirami tanaman itu, karena ia memang senang menyiram tanaman.
Baru saja ia membayangkan hal-hal baik yang bisa ia lakukan di tempatnya duduk, ia terkejut saat menutup pintu loker dan ditemuinya Sakura Haruno yang sudah berada di belakangnya. Tubrukannya dengan lokernya sendiri saat itu benar benar tidak bisa di tolerir.
"Ma..maaf, aku mengagetkanmu." Kata Sakura panik
"Tidak apa-apa.." Ya, tidak apa-apa karena sudah terlanjur. "Apa ada yang penting?" Ia mengusap-usap kepalanya karena tubrukannya tadi.
"Apa itu sakit? Maaf, aku tidak bermaksud mengagetkanmu.." Sakura kemudian mendekat untuk ikut mengusap, tapi sebelum itu Naruto menghindar, "Tidak, sudah tidak"
ia menghela nafas. ia tau itu pasti sakit dan Naruto terpaksa berbohong untuknya. Ia bersikeras untuk mengusapnya. Kemudian ia menentuh rambut pirang Naruto dan mengusap kepala belakangnya seperti ia mengusap kepala bayi. dengan pelan dan penuh perasaan.
Naruto terbelalak. jantungnya berdegup sangat kencang. bahkan ia ragu Sakura tidak mendengarnya. demi apapun baru kali ini ia disentuh seorang perempuan selain ibunya. pipinya mulai panas dan ia malah merasa nyaman karena parfum yang dipakai Sakura.
"Apa ada yang perlu dibicarakan?" Naruto kemudian menyingkir. Ia menarik dan mengeluarkan nafasnya yang tidak teratur dan berusaha menstabilkannya. untunglah ia masih waras
"Aku ingin meminjam baju olahraga, apa kau punya baju cadangan?"
"Ah, kalau itu aku tidak punya." Jawabnya spontan, ia punya baju satu saja ia jaga dengan baik agar tidak perlu beli-beli lagi. Ia beli seragam 1 ukuran diatasnya 1 tahun lalu dan sekarang baju itu sudah pas dibadannya. sungguh mengejutkan betapa cepat pertumbuhan laki-laki.
"Oh, jadi begitu.." Sakura baru akan berbasa-basi lagi, tapi Naruto sudah membuka Lokernya dan mengambilkannya baju Olahraga miliknya.
"Ini. Kau pakai saja baju punyaku. tenang saja, belum aku pakai."
"Terimakasih banyak telah mau meminjamkanku, aku senang kau mau berbaik hati padaku, tapi aku tidak mau merepotkanmu kalau begitu. Nanti kau tidak bisa ikut latihan." Sakura menolaknya dengan halus, Ia jadi sangat merepotkan kalau ia memaksakan kehendaknya.
"Tidak apa-apa. aku bisa pinjam celananya Kiba, aku juga pakai baju jersey kok, santai saja." Ya, Kiba punya satu celana yang sedikit robek di bagian paha, dan setelah itu ia tidak mau pakai lagi. semoga saja ia masih menyimpannya di loker.
Sakura tersenyum, "Benar tidak apa-apa?" Sekarang giliran Naruto yang tersenyum disaingi anggukannya
"Terimakasih ya, Naruto." Sakura menerima baju itu dan segera membungkuk
"Itu bukan masalah, Haruno."
"Sakura." Ujar Sakura "Aku lebih suka kau memanggilku Sakura." katanya lagi memperjelas.
Naruto merona, Ia tak mengira lagi kalau ia bisa memanggil Sakura dengan nama depannya.
"Ya, S- Sa- Sakura.."
Setelah melewati pelajaran ikatan kovalen yang bagai sebuah dera baginya, ia pun menuju ke loker Kiba sebelum menuju ke ruang ganti laki-laki. Tapi Kiba sudah lebih dulu ke ruang ganti laki-laki, jadi ia langsung saja menyusulnya. Ia bersumpah tidak akan mau meminjam celana ini lagi dikarenakan ia harus sampai meminjam kepada janitor pengharum ruangan untuk disemprotkan ke celana ini.
"Heheh, maklum, lama tak dipakai" katanya
Ya, mau bagaimana lagi, daripada ia tidak pakai celana olahraga sama sekali.
Ia berdua kemudian melakukan pemanasan. walaupun mereka masing-masing ada di Tim olahraga yang berbeda, tetapi Guru Gai menyarankan semua murid untuk melakukan pemanasan secara bersamaan di lapangan. kemudian barulah mereka boleh ke tempat olahraganya masing-masing.
Disanalah Naruto melihat Sakura memakai baju Olahraganya. Baju ukurannya ternyata kebesaran untuk seorang Sakura. Padahal kalau dipikir-pikir Sakura itu bertubuh normal, ia pikir ukuran bajunya sama, tapi memang walau terlihat sama, tubuh laki-laki memang selalu lebih besar dari seorang perempuan.
dari sana ia juga bisa melihat kalau Sakura melakukan pemanasannya dengan sangat serius. Naruto berasumsi bahwa Sakura benar benar minat di akademi olahraga seperti ini.
Sayang sekali, selepas pemanasan Naruto harus berpisah dari murid yang lain dikarenakan sekolah belum mempunyai lapangan Bisbol. Lapangan itu masih dalam tahap pembangunan, sama halnya dengan lapangan futbol. Maka dari itu mereka harus menyewa tempat untuk bisa tetap berlatih.
Tapi ia menghentikan langkahnya saat ia melihat Sakura dan Sasuke di seberang sana. duduk dibawah pohon rindang yang sangat cocok untuk menyatakan cinta pada seseorang. asumsi belaka, atau sebuah bentuk kecurigaan untuk Naruto.
Dia seperti roller coaster. Membuat jantungku berdegup kencang, membuatku naik perlahan lalu turun dengan cepat, berputar-putar, takut, panik, gugup, tapi juga senang. Indahnya perasaan ini. tapi juga menyakitkan.
AN: Susah emang kalo nungguin author gembel yang pengen keren. Lama banget updatenya.
ane juga sempet bimbang dengan beberapa scene, karena setiap scene kan akan jadi pertimbangan chapter berikutnya, jadi ane benar-benar hati-hati ya. ya ampun malu banget ane ini sebenarnya. sampe sampe takut buat posting lagi
Ngga ada kata selain maaf ya buat para reader T^T author bukan sok sibuk atau gimana, tapi sekolah sampe sore ditambah peraturan ngga boleh bawa hp itu emang bikin sedih. Sedih banget lah kalo ngga sesuai harapan minna.
Bukannya mau pelit-pelit kasih momen NaruSaku, tapi karena ane bikin mereka ngga deket, ya jadilah interaksi mereka berdua cuma dikit. mungkin chapter depan akan ane bikin mereka lebih deket dari yang ini.
Menurut kalian gimana cerita ini? Apakah terlalu bertele-tele atau kecepetan?. Ya, yg pasti author selalu punya alasannya tersendiri ya.
ara dipa: lanjut kok (y)
ElleoraNS: ane berusaha untuk update cepet loh.. tapi tetep payah ya :(
Ae Hatake: wow tararengkyu. Ini masih kurang ya? Duhh.. gimana ya, susah. Maklum masih belajar. Dibantu ya dibantu. Semoga aku lebih banyak dapet inspiring
myojinmon: alhamdulillah ada yang nungguin :))))))
Guest007: sorry masih ngga bisa ngehipnotis ya? Aku masih nyusun cerita biar nanti nyatu. Biar diusahain makin kesana makin drama. Pengennya sih gitu.
Ren: ya. Karena mereka berdua emang ngga deket, jadi interaksinya masih satu dua. Mungkin ini masih kurang, ya? Semoga ini menjadi awal ya :))
Guest: iya, ane usahain yang the best buat NS
Ayo, baik yang baru mampir atau penghuni lama cerita gembel ini, kasih kesan, pesan, kritik, flame, salam, kenalan, cium tangan, atau apapun lewat review. biar ane ganbatte
-Wanda Grenada
